Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Pernyataan Masalah
Biomassa sejak dahulu telah digunakan orang-orang sebagai sumber energi,
seperti kayu bakar yang digunakan untuk memasak dan menghangatkan tubuh.
Indonesia sebagai negara agraris memiliki lahan yang besar sebagai sumber
biomassa. Biaik berupa hasil utama maupun limbah dari hasil pertanian. Biomassa
merupakan sumber energi yang dapat diperbarui, sehingga sumber energi dari
biomassa perlu didororng agar masyarakat tidak bergantung pada bahan bakar
fosil.
Selain sebagai sumber energi biomassa dapat digunakan sebagai bahan baku
di industri, selulosa yang dihasilkan dari hasil pemilahan biomassa dapat
digunakan di industri pulp and papper, serat, polimer dan lain-lain, kemudian
hemiselulosa dapat digunakan pada pembuatan gliserol, furfural, etanol dan lain-
lain, hasil lain dari pemilahan biomassa adalah lignin dapat digunakan sebagai
bahan baku prekat, bahan bakar, dispersan dan lain-lain. Fraksionasi biomassa
merupakan salah satu konsep pengolahan biomassa yang dianggap mampu
memberikan hasil / produk maksimal serta mampu meminimalkan dampak negatif
terhadap lingkungan.
Tandan kosong sawit merupakan biomassa dari limbah industri kelapa sawit
yang memiliki potensi. Menurut Hermiati, dkk (2010) kandungan biomassa dalam
tandan kosong sawit terdiri dari 41,30-46,50 % selulosa; 25,30-33,80 %
hemiselulosa dan 27,60-32,50 % lignin. Oleh karena itu pada percobaan ini
dilakukan proses organosolv untuk memisahkan fraksi biomassa pada tandan
kosong sawit.
1.2 Tujuan Percobaan
1. Menjelaskan pengaruh variabel terhadap produk fraksionasi biomassa.
2. Menghitung neraca massa pada sistem fraksionasi biomassa.
3. Menghitung yield sistem fraksionasi biomassa.
4. Mernghitung persentase recovery komponen utama biomassa.
5. Berkerja sama dalam tim secara profesional.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Biomassa
Senyawa lignoselulosa terdiri atas tiga komponen utama, yaitu selulosa,
hemiselulosa, dan lignin yang merupakan bahan utama penyusun dinding sel
tumbuhan. Komponen utama dalam bahan lignoselulosa adalah selulosa
hemiselulosa, dan lignin. Ketiganya membentuk suatu ikatan kimia yang
kompleks yang menjadi bahan dasar dinding sel tumbuhan. Selulosa merupakan
polimer linier glukan dengan struktur rantai yang seragam. Unit-unit glukosa
terikat dengan ikatan glikosidik. Dua unit glukosa yang berdekatan bersatu
dengan mengeliminasi satu molekul air di antara gugus hidroksil pada karbon.
Kedudukan dari gugus –OH pada C1 membutuhkan pemutaran unit glukosa
berikutnya melalui sumbu C1- C4 cincin piranosa. Unit ulang terkecil dari rantai
selulosa adalah unit selobiosa dengan panjang 1,03 nm dan terdiri atas dua unit
glukosa (Hermiati dkk, 2010).
2.1.1 Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan istilah umum bagi polisakarida yang larut dalam
alkali. Hemiselulosa sangat dekat asosiasinya dengan selulosa dalam dinding sel
tanaman (Fengel dan Wegener 1984; Howard etal. 2003). Lima gula netral, yaitu
glukosa, mannosa, dan galaktosa (heksosan) serta xilosa dan arabinosa (pentosan)
merupakan konstituen utama hemiselulosa (Fengel dan Wegener 1984). Berbeda
dari selulosa yang merupakan homo polisakarida dengan monomer glukosa dan
derajat polimerisasi yang tinggi (10.000–14.000 unit), rantai utama hemiselulosa
dapat terdiri atas hanya satu jenis monomer (homo polimer), seperti xilan, atau
terdiri atas dua jenis atau lebih monomer (hetero polimer), seperti glukomannan.
Rantai molekul hemiselulosa pun lebih pendek dari pada selulosa (Hermiati dkk,
2010).
2.1.2 Lignin
Lignin mempunyai struktur molekul yang sangat berbeda dengan
polisakarida karena terdiri atas sistem aromatik yang tersusun atas unit-unit fenil
propana. Kandungan lignin dalam kayu daun jarum lebih tinggi dari pada dalam
kayu daun lebar. Di samping itu, terdapat beberapa perbedaan struktur lignin

2
dalam kayu daun jarum dan dalam kayu daun lebar (Fengel dan Wegener 1984).
Fujita dan Harada (1991) menjelaskan selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang
berada dalam kayu yang merupakan salah satu bahan lignoselulosa (Hermiati dkk,
2010).
2.1.3 Selulosa
Selulosa adalah senyawa kerangka yang menyusun 40-50% bagian kayu
dalam bentuk selulosa mikrofibril, di mana hemiselulosa adalah senyawa matriks
yang berada di antara mikrofibril-mikrofibril selulosa (Hermiati dkk, 2010).
Berdasarkan derajat polimerisasi (DP) dan kelarutan dalam senyawa natrium
hidroksida (NaOH) 17,5%, selulosa dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu :
a. α - Selulosa (Alpha Cellulose) adalah selulosa berantai panjang, tidak larut
dalam larutan NaOH 17,5% atau larutan basa kuat dengan DP (Derajat
Polimerisasi)600 – 15000. α - selulosa dipakai sebagai penduga danatau
tingkat kemurnian selulosa. Selulosa denganderajat kemurnian α > 92 %
memenuhi syarat untukbahan baku utama pembuatan propelan atau
bahanpeledak. Sedangkan selulosa kualitas dibawahnyadigunakan sebagai
bahan baku pada industri kertasdan industri kain (serat rayon). Semakin
tinggi kadaralfa selulosa, maka semakin baik mutu bahannya. Rumus
struktur alfa selulosa sebagai berikut (Nuringtyas, 2010)

Gambar 2.1. Rumus struktur α – selulosa (Sumanda, 2011)

3
b. Selulosa β (Betha Cellulose) adalah selulosa berantaipendek, larut dalam
larutan NaOH 17,5% atau basakuat dengan DP (Derajat Polimerisasi) 15 –
90, dapatmengendap bila dinetralkan.

Gambar 2.2. Rumus struktur beta selulosa selulosa (Sumanda, 2011)

Peran ketiga komponen kimia ini dalam dinding sel dapat dianalogkan
seperti bahan konstruksi yang terbuat dari reinforced concrete, di mana selulosa,
lignin, dan hemiselulosa berperan sebagai rangka besi, semen, dan bahan penguat
yang memperbaiki ikatan di antara mereka. Kandungan ketiga senyawa utama
dalam bahan lignoselulosa berbeda-beda, bergantung pada sumbernya. Tabel 1
menunjukkan kandungan selulosa, hemiselulosa, dan lignin pada beberapa
biomassa limbah pertanian dan hasil hutan, sedangkan Tabel 2 menyajikan
kandungan karbohidrat pada beberapa limbah biomassa. Dengan mengetahui
kandungan karbohidrat yang terdapatdalam bahan lignoselulosa, dapat
diperkirakanberapa banyak etanol yang dapat dihasilkan dari bahan tersebut
dengan asumsi semua komponen karbohidrat tersebut dapat dikonversi secara
sempurna menjadi etanol. Dari data jumlah karbohidrat yang ada juga dapat
dihitung atau dinilai seberapa besar efektivitas proses konversi yang dilakukan
(Hermiati dkk, 2010).

4
Tabel 2.1. Kandungan selulosa, hemiselulosa, dan lignin pada beberapa limbah
pertanian dan hasil hutan.
Jenis limbah Selulosa Hemiselulosa Lignin
(%) (%) (%)
Batang kayu daun lebar 40-55 24-40 18-25
Batang kayu daun jarum 45-50 25-35 25-35
Daun 15-20 80-85 0
Tongkol jagung 45 35 15
Kulit kacang 25-30 25-30 30-40
Jerami gandum 30 50 15
Ampas tebu 50 25 25
Tandan kosong kelapa 41,30-46,50 25,30-33,80 27,60-32,50
sawit
Sumber: (Hermiati dkk, 2010).
Tabel 2.2 Kandungan karbohidrat pada beberapa limbah biomassa (persentase
berdasarkan berat kering oven bahan)
Jenis Limbah Glukan Xilan Mannan Arabinan
(%) (%) (%) (%)
Kayu (Pinus radiata) 41,1 3,2 9,7 0,1
Tongkol jagung 35,8 20,8 1,7 14,4
Kulit kedelai 34,2 7,5 2,0 3,2
Jerami gandum 36,5 18,4 0,0 2,2
Ampas tebu 42,7 21,0 - 0,6
Tandan kosong kelapa 31,0 17,3 - 0,5
sawit
Sumber: (Hermiati dkk, 2010).
2.2 Tandan Kosong Sawit
Tandan kosong sawit (TKS) merupakan limbah padat berlignoselulosa yang
memiliki kadar selulosa, lignin dan hemiselulosa. Limbah ini berasal dari
pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO Setiap
pengolahan. 1 ton TBS akan menghasilkan limbah padat berupa TKS sebanyak
200-250 kg. Jumlah biomassa yang dikeluarkan cukup besar sehingga jika tidak

5
dimanfaatkan berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Selama
ini, penanganan limbah TKS dilakukan dengan cara membakar TKS pada
incenerator sehingga dihasilkan abu yang bisa dijadikan pupuk kalium.
Penanganan dengan cara tersebut selain tidak ekonomis juga berdampak negatif
terhadap lingkungan yaitu terjadinya pencemaran udara olehasap hasil proses
pembakaran TKS. Pemrosesan biomassa dengan metode fraksionasi menjadi
alternatif yang menarik untuk dikembangkan. Metode ini menggunakan pelarut
organik yang mampu memilah biomassa secara selektif menjadi selulosa,
hemiselulosa danlignin, sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku sejumlah
produk. Metoda fraksionasi juga memiliki beberapa keunggulan seperti proses
yang relatif lebihmurah, ramah lingkungan dan membutuhkan energi lebih sedikit
dibandingkandengan proses konvensional. Upaya pemanfaatan TKS dengan
metode fraksionasi tidak hanya akan memberikan nilai tambah bagi limbah
tersebuttetapi juga mampu meminimalkan dampak negatif pada lingkungan
(Mariana dkk, 2010).
2.3 Organosolv
Selama ini proses konvensional banyak digunakan dalam pembuatan pulp,
dimana proses tersebut terdiri dari tiga metode, yaitu metode mekanis, metode
semi kimia, dan metode kimia. Diantara ketiga metode tersebut yang paling
banyak digunakan adalah metode kimia dengan menggunkan proses kraft tetapi
karena rendaman pulp masih rendah maka dikembangkan proses lain, proses
tersebut adalah proses organosolv, yaitu pemprosesan menggunakan pelarut
organik. Prinsipnya adalah melakukan fraksional biomassa menjadi komponen
utama penyusunnya (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) tanpa banyak merusak
ataupun mengubahnya dan dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang dapat
dipasarkan. Kelebihan dari proses organosolv dibandingkan proses konvensional
adalah : berdampak kecil bagi lingkungan yaitu tidak menimbulkann pencemaran
seperti gas-gas yang disebabkan oleh belerang, cairan pemasak (pelarut organik
) bekas yang dapat digunakan kembali, setelah dimurnikan terlebih dahulu, dan
produk samping mempunyai daya jual seperti glukosa, heksosa, fulfural, adhesive,
serta bahan-bahan kimia (Jalaluddin dan Rizal, 2005).

6
2.4 Proses Delignifikasi
Proses delignifikasi merupakan proses penyisihan lignin dari biomassa
dengan memprosesnya dalam media pelarut organik yang diharapkan lignin larut
dalam pelarut. Selama proses delignifikasi berlangsung, terjadi reaksi pemutusan
ikatan makromolekul lignin oleh ion H+ dari pelarut dimana ikatan lignin lepas
membentuk fraksi lignin kemudian larut dalam pelarut, selanjutnya lignin dengan
mudah disisihkan. Jika tujuan utama fraksionasi menghasilkan pulp maka
diperlukan delignifikasi maksimal oleh media pelarut sehingga diperoleh pulp
dengan kadar selulosa tinggi. Selama ini, delignifikasi biomassa dalam media
asam organik dipengaruhi oleh beberapa kondisi operasi seperti konsentrasi
pelarut, konsentrasi katalis dan waktu reaksi. Selain itu, delignifikasi bergantung
pada jenis biomassa dan pelarut organik yang digunakan [Parajo dkk. 1993,
Vazquez 1995 dan Villaverde dkk. 2009]. Penelitian ini bertujuan untuk
mempelajari proses delignifikasi TKS dalam media asam formiat, sebagai kajian
lanjut fraksionasi TKS dalam media asam formiat [Dewi 2007]. Selain itu,
penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji perilaku delignifikasi TKS yang
terjadi selama proses delignifikasi berlangsung. Upaya ini dilakukan untuk
mengetahui kehandalan dan kemampuan asam formiat dalam menyisihkan lignin
TKS. Kemudian peningkatan konsentrasi asam formiat dan waktu reaksi
diharapkan mampu memperbesar jumlah lignin yang dapat disisihkan (Mariana
dkk, 2010).

7
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Alat yang Digunakan
1. Erlenmeyer
2. Hot Plate
3. Aluminium foil
4. Gelas ukur
5. Gelas piala
6. Pipet tetes
7. Corong
8. Saringan
9. Corong buchner
10. Kertas saring
11. Oven
12. Neraca analitik
3.2 Bahan yang Digunakan
1. Tandan kosong sawit
2. HCl 32%
3. Asam formiat 98%
4. Asam Asetat 96%
5. Akuades
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Pemrosesan Bahan Baku dan Perhitungan Kadar Air
1. Tandan kosong sawit diambil dari limbah pabrik kelapa sawit di Sungai
Galuh, Riau.
2. Tandan kosong kemudian dipotong dengan panjang kurang lebih 1,5 cm
dan dijemur selama beberapa hari hingga kering.
3. Perhitungan kadar air dilakukan dengan menghaluskan sampel tandan
kosong sawit yang sudah dijemur hingga lolos dengan penyaringan 18
mesh.
4. Botol timbang yang digunakan dioven hingga beratnya konstan.

8
5. Sebanyak 2 gram sampel dimasukkan ke dalam botol timbang dan
dimasukkan oven selama 3 jam pada suhu 105 ˚C.
6. Sampel yang telah dipanaskan dalam oven dibiarkan dalam desikator
selama 10 menit untuk mendinginkan.
7. Sampel ditimbang dan dipanaskan kembali dalam oven selama 10 menit
hingga berat konstan.
3.3.2 Proses Organosolv
1. Percobaan dilakukan dengan 3 variabel yaitu perbandingan katalis dengan
berat biomassa, sebesar 1,5%; 2% dan 2,5%.
2. Sebanyak 25 gram biomassa dimasukkan ke dalam reaktor dan
ditambahkan larutan pemasak (asam formiat dan asam asetat) dengan
perbandingan 1:25.
3. Erlenmeyer 250 ml digunakan sebagai penutup reaktor dipasang.
4. Kemudian hot plate dioperasikan, setelah cairan mulai mendidih
(menghasilkan refluks), katalis HCl 32% dimasukkan ke dalam reaktor.
5. Setelah 3 jam, pemanas dimatikan dan reaktor didinginkan.
6. Setelah reaktor dingin, hasil dari farksionasi biomassa disaring dengan
menggunakan saringan kain kasa, diusahakan semua black liquor turun.
Volume filtrat yang dihasilkan dicatat.
7. Padatan yang diperoleh dicuci dengan asam formiat dan filtratnya
ditampung.
8. Black liquor yang diperoleh digunakan untuk recovery lignin.
9. Padatan yang telah dicuci, dibilas kembali dengan aquadest sampai filtrat
kelihatan jernih, dan air bekas cuci dibuang.
10. Padatan yang telah dicuci bersih, kemudian dikeringkan diudara terbuka
selama 24 jam lalu ditimbang.
11. Percobaan diulangi dengan perbandingan jumlah katalis berbeda, yaitu
1,5%; 2% dan 2,5% dari berat biomassa.
3.3.3 Recovery Lignin
1. Sejumlah black liquor dimasukkan ke dalam kuvet dengan perbandingan
black liquor dan akuades 1:3.

9
2. Campuran cairan dalam kuvet disentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpm
selama 45 menit.
3. Setelah selesai supernatan yang terbentuk dipisahkan, dan padatan yang
terbentuk dikeluarkan dari tabung (kuvet) dengan cara disaring dengan
kertas saring.
4. Padatan yang diperoleh dikeringkan dalam oven sampai beratnya konstan,
dan diperoleh berat lignin yang direcovery dari sampel black liquor.

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 4.1 Pengaruh katalis terhadap yield pulp yang dihasilkan
Run Berat Katalis (%Biomassa) Yield Pulp (%)
1 1,5 44,165
2 2 45,488
3 2,5 44,915

Tabel 4.2 Pengaruh katalis terhadap liginin yang dihasilkan


Run Berat Katalis (% Biomassa) Yield Lignin (%)
1 1,5 9,08
2 2 12,045
3 2,5 7,62%

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh katalis terhadap yield pulp yang dihasilkan

Grafik Konsentrasi katalis VS Yield Pulp


45.6
45.4
45.2
Yield Pulp (%)

45
0.025, 44.915
44.8
44.6
44.4
44.2
44
0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025 0.03
Konsentrasi katalis berat biomassa

Gambar 4.1 Grafik pengaruh katalis terhadap yield pulp yang dihasilkan
Konsentrasi katalis memberikan pengaruh yang bervariasi terhadap yield
pulp tandan kosong sawit. Dapat dilihat dari Tabel 4.1 yield pulp 1,5% katalis
berat biomassa menghasilkan yield pulp sebesar 44,165%. Pada kondisi dan

11
waktu reaksi yang sama dengan berat katalis 2% biomassa mengalami
peningkatan yield pulp menjadi 45,488%. Hal ini disebabkan karena katalis
berfungsi untuk mempercepat proses delignifikasi. Peningkatan konsentrasi
katalis menyebabkan penambahan ion H+ yang dapat bereaksi dengan lignin
sehingga dapat mempercepat laju delignifikasi. Namun pada kondisi dan waktu
reaksi yang sama pada berat katalis 2,5% berat biomassa mengalami penurunan
yield pulp menjadi 44, 915%. Yield pulp yang menurun disebabkan oleh
meningkatnya konsentrasi katalis yang menyebabkan ion H+ mendegredasi
polisakarida menjadi monomernya sehingga mengakibatkan yield pulp yang
dihasilkan menjadi menurun.
4.2.2 Pengaruh katalis terhadap kadar lignin yang dihasilkan

Grafik Konsentrasi katalis VS Yield Lignin


14

12

10
Yield Lignin

8 0.025, 7.62
6

0
0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025 0.03
Konsentrasi Katalis

Gambar 4.2 Grafik pengaruh katalis terhadap yield lignin yang dihasilkan
Pengaruh konsentrasi katalis terhadap yield lignin yang dihasilkan dari
tandan kosong sawit dapat dilihat pada tabel 4.2, dari data tersebut terlihat bahwa
nilai yield lignin yang mengalami fluktuatif. Pada konsentrasi katalis 1,5% berat
biomassa yield lignin sebesar 9,08%, dan mengalami peningkatan pada
konsentrasi katalis 2% berat biomassa dari 9,08% menjadi 12,045%. Pada
konsentrasi katalis 2,5% berat biomassa mengalami penurunan menjadi 7,62%.
Penurunan yield lignin yang terjadi disebabkan karena terjadinya pemutusan
ikatan lignin dalam makromolekul lignoselulosa akibat banyaknya H+ yang
disumbangkan oleh katalis sehingga mengakibatkan terjadi penurunan yield
lignin.

12
BAB V
KESMIPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Berat biomasaa yang dihasilkan pada percobaan ini untuk variabel katalis
1,5%; 2% dan 2,5% secara berturut-turut adalah 10,02 gram; 10,32 gram
dan 10,19 gram
2. Black liquor yang dihasilkan pada percobaan ini untuk variabel katalis
1,5%; 2% dan 2,5% secara berturut-turut sebesar 412 ml; 433 ml dan 432
ml.
3. Yield lignin yang dihasilkan pada percobaan ini untuk variabel katalis 1,5%;
2% dan 2,5% secara berturut-turut sebesar 9,08%; 12,045% dan 7,62% dari
black liquor.
4. Pengaruh katalis pada percobaan ini bersifat fluktuatif dengan kondisi
optimum terjadi pada penambahan katalis sebanyak 2% dari berat biomassa.

5.2 Saran
1. Praktikan harus menggunakan alat pelindung diri dengan benar.
2. Praktikan harus berhati-hati bekerja dengan larutan berkonsentrasi tinggi.
3. Penambahan katalis sebanyak 2% dari berat biomassa merupakan kondisi
optimum pada fraksionasi biomassa tandan kosong sawit.

13
DAFTAR PUSTAKA
Dewi S.K.2007. Pembuatan Pulp Tandan Kosong Sawit Dengan Proses Milox
Tahap Tunggal. Laporan Peneltian [Tidak Dipublikasikan], Sarjana
Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Fengel, D., dan G, Wegener. 1984. Wood: Chemistry, ultrastructure, reactions.
Walter de Gruyter & Co., Berlin.
Fujita, M. and H. Harada. 1991. Ultrastructure and formation of wood cell wall. p.
3–57. In D.N.S. Hon and N. Shiraishi (Ed.). Wood and Cellulosic
Chemistry. Marcel Dekker, Inc., New York.
Hemicellulose During Acetosolv Processing, Bioresource Technology,
46:233-240.
Hermiati, E., Mangunwigjaya, D., Sunarti, T.C., Suparno, O., dan Prasetya, B.
2010. Pemanfaatan Biomassa Lignoselulosa Ampas Tebu Untuk
Produksi Bioetanol. Jurnal Litbang Pertanian, 29(4): 121-130.
Howard, R.L., Abotsi, J.E.L., Rensburg, V., dan S, Howard. 2003. Lignocellulose
biotechnology: Issues of bioconversion and enzyme production. Afr. J.
Biotechnol 2(12): 602- 619.
Jalaluddin., dan Rizal, S. 2005. Pembuatan Pulp Dari Jerami Padi Dengan
Menggunakan Natrium Hidroksida. Jurnal Sistem Teknik Industri, 6(5):
53-56.
Mariana, F.L., Zulfansyah., dan Fermi, M.I. 2010. Delignifikasi tandan kosong
sawit dalam media asam formiat. Seminar Nasional & teknologi. 218-
225.
Nuringtyas, Tri Rini. 2010. Karbohidrat. Gajah MadaUniversity Press,
Yogyakarta.
Parajo, J.C., Alonso, J.L , and Vazquez D. 1993. On The Behavior of Lignin And
Sumanda, K., Tamara, P.E., dan Algani. 2011. Kajian Proses Isolasi α-Selulosa
Dari Limbah Batang Tanaman Manihot Esculenta Crants Yang Efisien.
Jurnal teknik kimia,. 5 (2), 434-438.
Vazquez, G., Antorrena, G., Gonzales, J. 1995. Acetosolv Pulping of Eucalyptus
Globulus Wood by Acetic. Part I. The Effect of Operational Variable on
Pulp Yield , Pulp Lignin Content and Pulp Potential Glucose Content,
Wood Science and Technology, 28:387-402.

14
Villaverde, J. J., Ligero, P., Vega, A. 2009. Formic And Acetic Acid as Agent for
a Cleaner Fractionation of Miscanthus x gigantus, Journal of Cleaner
Production, 18: 395-401.

15