Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan merupakan suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial

yang memungkinkan seseorang hidup produktif baik secara sosial maupun

ekonomi (Shivers, 20121). Kesehatan jiwa dapat menjadi investasi dalam

meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga kesehatan harus dilihat

secara keseluruhan dimana kesehatan jiwa menjadi salah satu bagian yang sangat

penting sebagai suatu kondisi sehat emosional, psikologis, dan juga sosial yang

ditunjukkan dalam hubungan interpersonal yang memuaskan antara individu

dengan individu lainnya, memiliki koping yang efektif, konsep diri positif dan

emosi yang stabil (Videbeck, 2010). Tidak berkembangnya koping individu secara

baik dapat menyebabkan terjadinya gangguan jiwa.

Banyak masyarakat yang masih bingung dalam melakukan perawatan saat

dirumah jika mendapati pasien dengan gangguan jiwa, kenyataannya pemasungan

dan pengucilan masih marak terjadi di dalam masyarakat kita. ketika

permasalahan ini terjadi maka masyarakat secara tidak langsung mengalami

defisit pengetahuan tentang perawatan pasien yang mengidap gangguan jiwa saat

dirumah. Tenaga kesehatan yang merupakan ujung tombak untuk peningkatan

derajat kesehatan seharusnya lebih meningkatkan pengetahuan untuk menunjang

perilaku dalam melakukan pelayanan terutama dalam kesehatan jiwa. Salah satu

faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang yaitu tingkat pengetahuan terutama

pengetahuan masyarakat dalam memperlakukan pasien dengan gangguan jiwa.


Pengetahuan adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Kejadian gangguan jiwa bisa terjadi

di mana saja. Langkah terbaik untuk solusi ini adalah waspada dan melakukan

upaya kongkrit untuk mengantisipasinya. Harus dipikirkan suatu mekanisme

untuk cara memperlakukan pasien dengan gangguan jiwa terutama cara perawatan

saat di rumah (keliat 2010).

Bagi masyarakat atau keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan

masalah kesehatan jiwa sendiri, mereka ingin mendapatkan pengetahuan atau

keterampilan mengenai tindakan untuk perawatan pasien dengan gangguan jiwa di

masyarakat. Seharusnya sebagai petugas kesehatan dalam mengatasi masalah

tersebut dapat mengupayakan berbagai hal, salah satunya yaitu dengan

memberikan penyuluhan tentang bagaimana cara perawatan pasien dengan

masalah kejiwaan saat dirumah.

Menurut Badan Kesehatan Dunia/ WHO (world health organization),

jumlah penderita gangguan jiwa di dunia adalah 450 juta jiwa (Mujiyono 2008).

Berdasarkan departemen Kesehatan menyebutkan jumlah penderita gangguan jiwa

berat sebesar 2,5 juta jiwa, yang diambil dari data RSJ se-indonesia. Pada studi

terbaru WHO (world health organization) di 14 negara menunjukan bahwa pada

negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa parah atau tidak kasus

gangguan jiwa parah tidak dapat pengobatan apapun pada tahun utama

(Hardian,2008). Prevalensi gangguan mental emosional pada umur 15 tahun ke

atas adalah 11,6% dengan prevalensi tertinggi menurut tingkat provinsi jawa

barat, yaitu sbesar 20% dan di papua barat sbesar 13,2%. Sedangkan dijawa timur
sebanyak 37 juta jiwa maka penderita gangguan jiwa adalah sebanyak 333.000

jiwa (Wiwin, 2013).

Peningkatan peran keluarga pada pelayanan terapi rehabilitasi klien

gangguan jiwa dapat ditingkatkan oleh petugas kesehatan yang bersangkutan salah

satunya melalui Home visite atau kunjungan rumah berarti mengunjungi tempat

tinggal klien dan bertemu dengan keluarga untuk mendapatkan berbagai informasi

penting yang diperlukan dalam rangka membantu klien dalam proses terapi

maupun untuk melakukan pendidikan kesehatan terkait dengan kebutuhan pasien

selama dirawat jalan (Hussain HAA, Tarada M, Redha M, & Seguera, 2009).

Peran dan partisipasi keluarga dalam proses terapi merupakan alat yang sangat

penting dalam membantu proses kesembuhan pasien, karena rumah sakit jiwa

sebagai tempat pelayanan kesehatan jiwa tidak berarti menjadi pelayanan utama

seumur hidup, tetapi rumah sakit hanya merupakan fasilitas yang membawa klien

dan keluarga mengembangkan kemampuan dalam mencegah terjadinya masalah,

menanggulangi berbagai masalah dan mempersatukan keadaan adaptif. Salah satu

peran perawat adalah sebagai Educator, yaitu orang yang memberikan informasi

kesehatan dan antisipasi dan perencanaan yang dibutuhkan pasien dan keluarga

setelah kembali ke rumah, yang merupakan bagian penting dalam perawatan

kesehatan secara komprehensif dan harus dilakukan pada setiap perencanaan

perawatan pasien (Kozier et al., 1995).

Salah satu hal yang bisa dilakukan oleh keluarga dalam membantu anggota

keluarga yang mengalami halusinasi adalah dengan ikut berperan serta membantu

klien untuk bisa mengontrol halusinasi, dan hal ini yang membuat keluarga juga

perlu untuk mengetahui dan memahami dengan benar strategi Pelaknaan (SP)
halusinasi, dan untuk bisa membantu meningkatkan peran keluarga tersebut, peran

perawat juga diperlukan, salah satunya adalah memberikan Health Education atau

pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang strategi pelaksanaan halusinasi

yang benar yang bisa dilakukan oleh keluarga dirumah. (Nufianto, 2011).

Berdasarkan masalah diatas, maka peneliti tertarik untuk membuat karya

tulis ilmiah dengan judul “Studi Kasus Pelaksanaan Home Visite Pada Keluarga

Pasien Skizofrenia Dengan Halusinasi Di Puskesmas Medokan Ayu”, penelitian

ini akan dilakukan di komunitas Puskesmas medoan ayu.

1.2 Pertanyaan Peneliti

1. Bagaimana kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan pada anggota

keluarga yang mengalami halusinasi sebelum dilaksanakan home visite ?


2. Bagaimana respon Keluarga dan pasien pada saat proses pelaksanaan home

visite ?
3. Bagaimana kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan pada anggota

keluarga yang mengalami halusinasi sesudah dilaksanakan home visite ?

1.3 Objektif

1. Mengidentifikasi kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan pada

anggota keluarga yang mengalami halusinasi sebelum dilaksanakan home

visite.
2. Menjelaskan respon Keluarga dan pasien pada saat proses pelaksanaan home

visite.
3. Mengidentifikasi kemampuan keluarga dalam memberikan perawatan pada

anggota keluarga yang mengalami halusinasi sesudah dilaksanakan home

visite.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan/wawasan

bagi anggota keluarga kususnya mengenai kepatuhan dalam minum obat dalam

memberikan perawatan di rumah.

1.4.2 Manfaat Praktisi


1 Pelayanan Keperawatan
Memberi masukan bagi dunia keperawatan terutama keperawatan jiwa

komunitas dalam memberikan perawatan di rumah.


2 Peneliti
Menambah dan meningkatkan pengetahuan dalam melakukan

penelitian serta memperoleh data terkait keperawatan jiwa selama

perawatan di rumah.
3 Bagi Masyarakat
Memberikan manfaat dan pengetahuan kepada masyarakat agar

mengerti dan memahami bagaimana cara melakukan perawatan pada

orang gangguan jiwa.