Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Likuidasi bank merupakan tindakan penyelesaian seluruh hak dan kewajiban bank
sebagai akibat pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank. Jadi likuidasi bank
bukanlah sekedar pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank, tetapi berkaitan
dengan proses penyelesaian segala hak dan kewajiban dari suatu bank yang dicabut izin
usahanya. Setelah suatu bank dicabut izin usahanya, dilanjutkan lagi dengan proses pembubaran
badan hukum bank yang bersangkutan, dan seterusnya dilakukan proses pemberesan berupa
penyelesaian seluruh hak dan kewajiban (piutang dan utang) bank sebagai akibat dari pencabutan
izin usaha dan pembubaran badan hukum bank.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang diatas, sebagai berikut :
1. Bagaimana pengertian dari likuidasi bank ?
2. Bagaimana dasar hukum likuidasi bank ?
3. Bagaimana faktor penyebab likuidasi bank ?
4. Bagaimana proses likuidasi bank ?

1.3 Tujuan
Makalah ini dibuat untuk meamenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Hukum
Perbankan dan ingin lebih mengetahui dan mengkaji tentang ilmu Hukum Perbankan serta
untuk mengetahui Likuidasi Bank.

Likuidasi Bank| 1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Likuidasi Bank
Pengertian Likuidasi Bank menurut Pasal 1 angka 13 Peraturan Lembaga Penjamin
Simpanan Nomor 1/PLPS/2011 adalah tindakan penyelesaian seluruh asset dan kewajiban bank
sebagai akibat pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank.
Likuidasi adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban hutang-hutangnya, dapat
membayar kembali semua deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan
para debitur tanpa terjadi penangguhan.” Menurut pengertian ini bank dikatakan likuid apabila:1
1. Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang akan digunakan untuk
memenuhi likuiditasnya;
2. Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari yang tersebut diatas, tetapi
yang bersangkutan juga memiliki asset lainnya (khususnya surat-surat berharga) yang
dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya;
3. Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash assets baru melalui
berbagai bentuk hutang.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor
7 Tahun 1992 tentang Perbankan tidak memberikan rumusan pengertian dari istilah Likuidasi
Bank sebagaimana yang disebutkan dalam ketentuan Pasal 37 ayat (2) dan ayat (3). Namun jika
diteliti secara cermat ketentuan Pasal 37 ayat (2) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan maka
pengertian dari Likuidasi Bank ini tidak terbatas pada pencabutan izin usaha bank saja, tetapi
lebih luas lagi, termasuk tindakan pembubaran (outbinding).

2.2 Dasar Hukum Likuidasi Bank


Ketentuan peraturan perundang-undangan yang merupakan dasar hukum yang dipakai
sebagai landasan bagi likuidasi suatu bank yang bermasalah dalam sistem perekonomian
nasional adalah sebagai berikut:

1
Hotma Sautma Ronny, 2005, Hubungan Bank Dengan Nasabah Produk Tabungan dan Deposito: Suatu Tinjauan
Hukum Terhadap Perlindungan Deposan di Indonesia, Citra Aditya Bandung, Hal. 7

Likuidasi Bank| 2
1. Ketentuan likuidasi menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan, yaitu terdapat
dalam :
a. Pasal 37 ayat (1) menyatakan bahwa “Dalam hal suatu bank mengalami kesulitan
yang membahayakan kelangsungan usahanya, Bank Indonesia dapat melakukan
tindakan agar:
1) pemegang saham menambah modal;
2) pemegang saham mengganti .Dewan Komisaris dan atau Direksi bank;
3) bank menghapusbukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah
yang macet dan memperhitungkan kerugian bank dengan modalnya;
4) bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;
5) bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban;
6) bank menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada
pihak lain;
7) bank menjual sebagian atau seluruh harta dan atau kewajiban bank kepada
bank atau pihak lain.
b. Pasal 37 ayat (2) yang menyatakan bahwa dalam hal suatu bank mengalami
kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, apabila:
1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) belum cukup untuk mengatasi
kesulitan yang dihadapi bank, dan/atau,
2) Menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan
sistem perbankan, pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha bank
dan memerintahkan direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum
Pemegang Saham guna membubarkan badan hukum bank dan membentuk tim
likuidasi.
c. Pasal 37 ayat (3) yang menyatakan bahwa dalam hal direksi bank tidak
menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham sebagaimana dimaksud dalam
ayat (2), Pimpinan Bank Indonesia meminta kepada pengadilan untuk
mengeluarkan penetapan yang berisi pembubaran badan hukum bank, penunjukan
tim likuidasi, dan perintah pelaksanaan likuidasi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Likuidasi Bank| 3
2. Ketentuan likuidasi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999, tanggal 3
Mei 1999 tentang Pencabutan izin usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank, Berdasarkan
Peraturan Pemerintah tersebut, pencabutan izin usaha bank dilakukan oleh Pimpinan
Bank Indonesia apabila :
a. Pasal 3 ayat (2) huruf b dan Pasal 4 ayat (1) Pasal 3 ayat (2) huruf b menyatakan
bahwa apabila :
1) tindakan sebagaimana dimaksud ayat (1) belum cukup untuk mengatasi
kesulitan yang dihadapi bank, dan/atau,
2) menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan
sistem perbankan, Pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha bank
dan memerintahkan direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum
Pemegang Saham. Pasal 4 ayat (1) menyatakan bahwa pencabutan izin usaha
bank dilakukan oleh Pimpinan Bank Indonesia.
b. Pasal 25 ayat (1) menyatakan bahwa pelaksanaan likuidasi bank oleh Bank
Indonesia ditetapkan dan diserahkan kepada Badan Khusus yang bersifat
sementara dalam rangka penyehatan perbankan berdasarkan ketentuan Pasal 37 A
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, tetap mengikuti ketentuan
dalam Peraturan Pemerintah ini.
c. Pasal 26 ayat (1) menyatakan bahwa dalam hal para pemegang saham akan
membubarkan badan hukum bank atas keinginan sendiri, pembubaran tersebut
hanya dapat dilakukan setelah pencabutan izin usaha oleh Bank Indonesia.
3. Ketentuan likuidasi menurut Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor
32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Tata Cara Pencabutan Izin Usaha,
Pembubaran dan Likuidasi Bank umum dan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia
Nomor 32/54/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Tata Cara Pencabutan Izin Usaha,
Pembubaran dan Likuidasi Bank Perkreditan Rakyat :
a. Pasal 2 dari kedua Surat Keputusan tersebut menyatakan bahwa pencabutan izin
usaha Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat dilakukan oleh Direksi Bank
Indonesia apabila:

Likuidasi Bank| 4
1) Tindakan penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1)
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 belum cukup untuk mengatasi
kesulitan yang dihadapi Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat; dan/atau
2) Menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu Bank Umum atau Bank
Perkreditan Rakyat dapat membahayakan sistem perbankan; atau
3) Terdapat permintaan dari pemilik atau pemegang saham Bank Umum atau
Bank Perkreditan Rakyat.
b. Pasal 3 dari surat keputusan tersebut di atas menyebutkan bahwa pencabutan izin
usaha kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri dilakukan oleh
direksi Bank Indonesia berdasarkan alasan tindakan penyelamatan belum cukup
mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh Bank atau membahayakan sistem
perbankan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a atau huruf b:
1) Terdapat permintaan kantor pusat bank yang berkedudukan di luar negeri;
atau
2) Izin usaha kantor pusat bank yang berkedudukan di luar negeri dicabut
dan/atau kantor pusat dimaksud dilikuidasi oleh otoritas yang berwenang di
negara setempat.
Dalam perkembangannya, sebagai tindak lanjut pengaturan mengenai penjaminan dana
masyarakat khususnya dalam rangka mewujudkan apa yang telah diamanatkan dalam ketentuan
Pasal 37 B Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yaitu tentang perlunya pembentukan Lembaga
Penjaminan Simpanan, pada tahun 2004 pemerintah membentuk suatu badan khusus yang
disebut Lembaga Penjamin Simpanan. Dengan telah dibentuknya Lembaga Penjamin Simpanan
tersebut, ketentuan mengenai likuidasi diatur pula di dalam :
1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Sentral sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008
sebagaimana telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009;
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang
Nomor 3 Tahun 2008 sebagaimana telah ditetapkan dengan Undang- Undang Nomor 7
Tahun 2009;

Likuidasi Bank| 5
3. Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/9/PBI/2004 tentang Tindak Lanjut Pengawasan dan
Penetapan Status Bank sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia
Nomor 7/38/PBI/2005;
4. Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan Nomor 2/PLPS/2005 tentang Likuidasi Bank,
yang kemudian diganti dan disempurnakan dengan Peraturan Lembaga Penjamin
Simpanan Nomor 2/PLPS/2008 tentang Likuidasi Bank;
Walaupun telah terbentuk Lembaga Penjamin Simpanan, dalam ketentuan Pasal 98
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, menyebutkan
bahwa proses likuidasi yang dimulai sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan, tetap dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
mengenai likuidasi bank sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999
tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank. Selain memperhatikan
peraturan khusus dalam pencabutan izin usaha, pembubaran dan likuidasi bank dalam proses
tersebut, maka sepanjang tidak diatur secara khusus dalam ketentuan perbankan perlu juga
memperhatikan peraturan yang bersifat umum seperti:
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang terakhir diubah
dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007, bagi pembubaran bank yang berbentuk
hukum perseroan terbatas;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian, bagi pembubaran bank
yang berbentuk hukum koperasi;
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, bagi pembubaran
bank yang berbentuk hukum perusahaan daerah.

2.3 Faktor Penyebab Likuidasi Bank


Pada saat suatu perusahaan mengalami resiko likuidasi ada beberapa sebab yang
melatarbelakanginya, yaitu :
1. Utang perusahaan yang berada pada posisi extreme leverage. Extreme leverage artinya
utang perusahaan sudah berada dalam kategori yang membahayakan perusahaan itu
sendiri.
2. Jumlah utang dan berbagai tagihan yang datang disaat jatuh tempo sudah begitu besar,
baik utang di perbankan,leasing, mitra bisnis, utang dagang,termasuk utang dalam

Likuidasi Bank| 6
bentuk bunga obligasiyang sudah jauh tempo yang secepatnya dibayar, dan berbagai
bentuk tagihan lainnya.
3. Perusahaan telah melakukan kebijakan strategi yang salah sehingga memberi pengaruh
pada kerugian yang bersifat jangka pendek dan jangka panjang.
4. Kepemilikan aset perusahaan tidak lagi mencukupi untuk menstabilkan perusahaan,
yaitu sudah terlalu banyak asset yang dijual sehingga jika asset yang tersisa tersebut
masih ingin dijual maka itu juga tidak mencukupi untuk menstabilkan perusahaan.
5. Perusahaan sering melakukan kebijakan gali lubang dan tutup lubang pada kewajiban
atau menyelesaikan persoalan likuidasi di pakai dari dana untuk membayar utang,
sehingga pada dana yang harusnya dialokasikan untuk membayar utang yang sudah
jatuh tempo namun dipakai untuk membayar gaji karyawan, listrik, dan sejenisnya yang
termasuk kategori short term liquidity.
Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 tentang
Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional terdapat 3 kategori
bank bermasalah yaitu bank yang masuk dalam kategori bank dalam pengawasan normal, bank
dalam pengawasan intensif dan bank dalam pengawasan khusus. Berdasarkan Pasal 3 ayat (1)
Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut
Pengawasan Bank Umum Konvensional menyatakan bahwa “Dalam hal bank dalam pengawasan
normal namun dinilai memiliki permasalahan yang signifikan maka direksi, dewan komisaris,
dan/atau pemegang saham pengendali Bank wajib menyampaikan rencana tindak (action plan)
kepada Bank Indonesia.”
Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 tentang
Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional yang mengatur
mengenai kategori bank dalam pengawasan intensif menyatakan bahwa “Bank dinilai memiliki
potensi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) jika memenuhi satu atau lebih kriteria sebagai berikut:
1. rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sama dengan atau lebih besar
dari 8% (delapan persen) namun kurang dari rasio KPMM sesuai profil risiko Bank
yang wajib dipenuhi oleh Bank;
2. rasio modal inti (tier 1) kurang dari persentase tertentu yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia;

Likuidasi Bank| 7
3. rasio Giro Wajib Minimum (GWM) dalam rupiah sama dengan atau lebih besar dari 5%
(lima persen) namun kurang dari rasio yang ditetapkan untuk GWM rupiah yang wajib
dipenuhi oleh Bank, dan berdasarkan penilaian Bank Indonesia, Bank memiliki
permasalahan likuiditas mendasar;
4. rasio kredit bermasalah (non performing loan) secara neto lebih dari 5% (lima persen)
dari total kredit;
5. tingkat kesehatan Bank dengan peringkat komposit 4 (empat)atau 5 (lima);
6. tingkat kesehatan Bank dengan peringkat komposit 3 (tiga) dan Good Corporate
Governance (GCG) dengan peringkat 4 (empat).
Kemudian dalam Pasal 14 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013
tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional yang
mengatur kategori bank dalam pengawasan khusus menyatakan bahwa Bank dinilai mengalami
kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
apabila memenuhi satu atau lebih kriteria sebagai berikut:
1. rasio KPMM kurang dari 8% (delapan persen);
2. rasio GWM dalam rupiah kurang dari 5% (lima persen) dan berdasarkan penilaian Bank
Indonesia:
a. Bank mengalami permasalahan likuiditas mendasar; atau
b. Bank mengalami perkembangan yang memburuk dalam waktu singkat.
Selain itu dalam Pasal Pasal 17 ayat (1) Bank dalam pengawasan khusus wajib
melakukan penambahan modal untuk memenuhi kewajiban pemenuhan modal minimum
dan/atau kewajiban pemenuhan giro wajib minimum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam ketentuan Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menetapkan 2 (dua)
alasan hukum yang memungkinkan suatu bank dicabut izin usahanya oleh Bank Indonesia, yaitu
apabila menurut penilaian Bank Indonesia:
1. Keadaan suatu bank membahayakan sistem perbankan,; atau
2. Suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya dan
tindakan untuk mengatasinya belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi
bank.
Seperti diketahui Pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha suatu bank

Likuidasi Bank| 8
berdasarkan alasan apabila menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat
membahayakan sistem perbankan, sebagaimana kriterianya dijelaskan dalam penjelasan atas
Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan sebagai berikut:
1. Kriteria yang membahayakan sistem perbankan adalah apabila tingkat kesulitan yang
dialami dalam melakukan kegiatan usaha, suatu bank tidak mampu memenuhi
kewajiban-kewajibannya kepada bank lain, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan
dampak berantai kepada bank-bank lainnya (Penjelasan atas Pasal 37 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan).
2. Suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya adalah
apabila berdasarkan penilaian dari Bank Indonesia, kondisi usaha bank semakin
memburuk, antara lain ditandai dengan menurunnya permodalan, kualitas aset,
likuiditas dan rentabilitas, serta pengelolaan bank yang tidak dilakukan berdasarkan
prinsip kehati-hatian (Prudential banking) dan asas perbankan yang sehat. (Penjelasan
atas Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan).
Selain itu, salah satu cara untuk mengukur kesehatan suatu lembaga perbankan adalah
dengan mempergunakan metode CAMEL. CAMEL atau Capital Assets Management Earning
Liquidity merupakan salah satu metode penilaian kesehatan perbankan. Metode CAMEL
berisikan langkah-langkah yang dimulai dengan menghitung besarnya masing-masing rasio pada
komponen-komponen berikut:2
1. C : Capital (Untuk Rasio Kecukupan Modal)
2. A : Assets (Untuk rasio-rasio kualitas aktiva)
3. M : Management (Untuk menilai kualitas manajemen)
4. E : Earning (Untuk rasio-rasio rentabilitas bank)
5. L : Liquidity (Untuk rasio-rasio likuiditas bank).
Dalam Pasal 29 ayat (2) Undag-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan
menyatakan bahwa “Bank Indonesia menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan

2
Lukman Dendawijaya, 2009, Manjemen Perbankan, Edisi Kedua, Ghalia Indonesia, Jakarta, Hal. 142

Likuidasi Bank| 9
memperhatikan aspek permodalan, kualitas asset, kuaitas manajemen, rentabilitas, likuiditas,
solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank.”
Penilaian kesehatan bank dinilai berdasarkan pada peringkatnya, dan setiap peringkat itu
menjelaskan posisi setiap bank. Termasuk ketika sebuah bank dari posisi tidak sehat menjadi
sehat menjadi sehat maka disini ada acuannya yang harus dipahami. Dalam tata cara penilaian
tingkat kesehatan bank umum (Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/11/kep/Dir
Tanggal 30 April 1997) Direksi Bank Indonesia di Pasal 6 disebutkan, yaitu :
Predikat tingkat kesehatan bank yng sehat atau cukup sehat atau kurang sehat akan
diturunkan menjadi sehat apabila terdapat ;
1. Perselisihan intern yang diperkirakan akan menimbulkan kesulitan dalam bank yang
bersangkutan;
2. Campur tangan pihak-pihak di luar bank dalm kepengurusan (manajemen) bank,
termasuk di dalamnya kerja sama yang tidak wajar yang mengakibatkan salah satu atau
beberapa kantornya berdiri sendiri;
3. “window dressing” dalam pembukuan dan atau laporan bank yang secara materiil dapat
berpengaruh terhadap kadaan keuangan bank sehingga mengakibatkan penilaian yang
keliru terhadap bank;
4. Praktik “bank dalam bank” atau melakukan usaha bank di luar pembukuan bank;
5. Kesulitan keuangan yang mengakibatkan penghentian sementara atau pengunduran diri
dari keikutsertaan dalam kliring; atau
6. Praktik perbankan lain yang dapat membayangkan kelangsungan usaha bank dan/atau
menurunkan kesehatan bank.

2.4 Proses Likuidasi Bank


Saat terjadinya krisis perbankan di Indonesia pada pertengahan tahun 1997, Undang-
undang perbankan yang berlaku pada saat itu adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
tentang Perbankan. Menurut ketentuan undang-undang tersebut, pembinaan dan pengawasan
bank dilakukan oleh Bank Indonesia. Dalam rangka melaksanakan tugas pembinaan dan
pengawasan ini, Bank Indonesia menetapkan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh Bank
Indonesia terhadap bank yang mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya
sebelum dilakukan pencabutan izin usahanya dan/atau tindakan likuidasi. Dalam hal ini, Bank

Likuidasi Bank| 10
Indonesia melaporkan suatu bank yang diperkirakan mengalami kesulitan yang membahayakan
kelangsungan usahanya kepada Menteri Keuangan untuk menetapkan langkah-langkah
penyelamatan yang dianggap perlu atau pencabutan izin usaha bank.
Selain itu, terkait dengan pelaksanaan fungsi pembinaan dan pengawasan bank tersebut,
dalam hal suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan usahanya, Bank
Indonesia dapat mengusulkan kepada Menteri Keuangan untuk melakukan pencabutan izin usaha
bank yang bersangkutan. Menghadapi krisis tersebut, salah satu kebijakan yang akhirnya di
ambil oleh Pemerintah adalah mencabut izin usaha dan melikuidasi 16 bank swasta. Landasan
hukum yang digunakan oleh Pemerintah dalam pencabutan izin usaha dan likuidasi bank pada
saat itu adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Dan peraturan
pelaksanaan dari ketentuan likuidasi dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 adalah
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan Tata Cara Pencabutan Izin
Usaha, Pembubaran Dan Likuidasi Bank. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1996 tersebut
kemudian diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan Dan Tata Cara Pencabutan Izin
Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank.
Alasan likuidasi (pembubaran) yang terdapat dalam Undang-Undang Perbankan tersebut
diatas sangatlah erat kaitannya dengan kepentingan umum. Likuidasi dalam hal ini merupakan
sanksi administratif/publik terhadap bank, sebagai akibat pelanggaran yang dilakukan oleh
perseroan terhadap Undang-Undang Perbankan (Pasal 29-36), yang berkaitan dengan
kepentingan umum. Pelanggaran itu dilakukan sedemikian rupa sehingga membahayakan bagi
kelangsungan usahanya, dan membahayakan sistem perbankan. Mencermati ketentuan Pasal 37
Undang-Undang Perbankan jo. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 jo. SK Direksi BI
No. 32/53/KEP/DIR tersebut, maka likuidasi bank dapat dipilah dalam 2 (dua) besaran pokok :
1. Pertama, likuidasi bank karena upaya penyelamatan tidak cukup mengatasi masalah
atau bank tersebut dinilai oleh Bank Indonesia membahayakan sistem perbankan,
dimana hal ini sering disebut juga dengan compulsory liquidation. Pada likuidasi ini,
Otoritas Pengawas Bank (Bank Indonesia) mencabut izin usaha bank menggunakan
kekuatan Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang Perbankan.
2. Kedua, likuidasi bank karena adanya permintaan sendiri dari pemegang saham atau
pemilik bank, termasuk dalam kategori ini adanya permintaan dari kantor pusat bank di

Likuidasi Bank| 11
luar negeri yang akan menutup kantor cabangnya di Indonesia (self liquidation atau
sering disebut juga dengan voluntary liquidation). Secara proses, likuidasi jenis ini
relatif sederhana karena memang dikehendaki sendiri oleh pemilik atau pemegang
saham, sehingga pada dasarnya tidak mengandung unsur “dipaksa” oleh otoritas
sebagaimana tipe pertama karena keadaan yang memburuk dari bank yang
bersangkutan. Sebabnya dapat beraneka ragam, antara lain mungkin dari segi bisnis
oleh pemilik dipandang tidak prospektif lagi. Hal yang paling harus dicermati oleh
otoritas pada proses self liquidation adalah seluruh kewajiban kepada kreditur termasuk
nasabah penyimpan dana harus terbayarkan secara lunas, tidak boleh ada yang dirugikan
guna melindungi kepentingan masyarakat, utamanya penyimpan dana. Peraturan
Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 memungkinkan proses self liquidation ini, namun
harus mendapat izin dari Bank Indonesia. Terkait hal tersebut, di dalam Pasal 26
Peraturan Pemerintah dimaksud mengatur :
a. Dalam hal pada pemegang saham akan membubarkan badan hukum bank atas
keinginannya sendiri, pembubaran tersebut hanya dapat dilakukan setelah
pencabutan izin usaha oleh Bank Indonesia.
b. Pencabutan izin usaha hanya dapat dilakukan oleh Bank Indonesia apabila bank
yang bersangkutan telah menyelesaikan kewajibannya kepada seluruh kreditor.
c. Pembubaran badan hukum bank wajib didaftarkan dalam Berita Negara
Republik Indonesia.
Dalam hal ini, bank yang bersangkutan wajib terlebih dahulu menyelesaikan semua
kewajiban kepada seluruh kreditur termasuk nasabah penyimpan dana dan kemudian
dilakukan pencabutan izin usaha oleh Bank Indonesia.
Dari uraian di atas, memberi suatu pengertian bahwa likuidasi yang terjadi pada suatu
bank tidak sama halnya dengan likuidasi perusahaan, dalam likuidasi perusahaan biasanya yang
melakukan likuidasi didasarkan pada usul kreditur yang menyatakan perusahaan itu pailit
maupun oleh kehendak para pemegang saham. Sedangkan dalam likuidasi bank lebih bersifat
dipaksakan, Bank Indonesia yang menilai ketidakmampuan bank berhak untuk menjaga
keselamatan usaha perbankan nasional dengan jalan melikuidasi bank-bank yang tidak dapat
disehatkan lagi.

Likuidasi Bank| 12
Tindakan pencabutan izin usaha bank merupakan suatu langkah akhir dari usaha untuk
menyehatkan bank yang terkena kesulitan tersebut. Sebelum dilakukan tindakan pencabutan izin
usaha bank, Bank Indonesia telah menempuh tindakantindakan atau langkah-langkah permulaan.
Usaha penyelamatan bank melalui tindakan-tindakan permulaan tersebut merupakan salah satu
bentuk dari tugas Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan pengawas serta pembina bank-bank
di Indonesia.
Pelaksanaan pengawasan bank oleh Bank Indonesia dilakukan sesuai dengan peraturan
perbankan yang berlaku. Berdasarkan ketentuan pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan,
Bank Indonesia dapat melakukan tindakan-tindakan permulaan baik secara langsung maupun
tidak langsung, juga tidak dapat dilakukan secara alternatif maupun kumulatif sesuai dengan
kondisi bank yang bersangkutan, yang meliputi langkah-langkah saran dan langkah-langkah
yang lebih aktif, berupa :
1. Langkah-langkah saran, yang ditujukan kepada pemegang saham dan pengurus, yaitu
agar :
a. pemegang saham menambah modal;
b. pemegang saham mengganti dewan komisaris dan/atau direksi bank;
c. bank menghapusbukukan kredit yang macet, dan memperhitungkan kerugian bank
dengan modalnya;
d. bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;
e. bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban.
2. Langkah aktif dengan tindakan lain yang sesuai dengan peraturan perundangundangan
yang berlaku, seperti :
a. menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain;
b. menjual sebagian harta atau seluruh harta dan atau kewajiban bank kepadabank lain
Khusus terkait dengan kewenangan melakukan pencabutan izin usaha suatu bank, dalam
perkembangan sistem perbankan Indonesia, cakupan dan ruang lingkup kewenangan serta
peranan Bank Indonesia mengalami dua fase yang berbeda. Tahap pertama, yaitu pada saat
sebelum terjadinya krisis perbankan, kewenangan yang dimiliki oleh Bank Indonesia dalam
rangka pencabutan izin suatu bank hanya merupakan kewenangan relatif karena kewenangan
Bank Indonesia hanya terbatas melaporkan suatu bank yang diperkirakan mengalami kesulitan

Likuidasi Bank| 13
yang membahayakan kelangsungan usahanya kepada Menteri Keuangan dan mengusulkan
kepada Menteri Keuangan untuk melakukan pencabutan izin usaha bank yang bersangkutan.
Pada fase kedua, yaitu sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Amandemen Undang-Undang No. 7 Tahun 1992, pencabutan izin usaha bank sepenuhnya
menjadi kewenangan Bank Indonesia.
Pemberian kewenangan yang penuh kepada Bank Indonesia tersebut, selain lebih
memberikan kepastian hukum sebagai alternatif solusi yang cukup efektif dalam penanganan
bank-bank bermasalah yang tidak mungkin untuk dipertahankan lagi keberadaannya; juga
mencegah terjadinya duplikasi dan tumpang tindih pengambilan kebijakan, secara khusus dalam
konteks pencabutan izin dan likuidasi bank-bank milik pemerintah, dapat meminimalkan
terjadinya conflict of interest.
Tindakan-tindakan permulaan Bank Indonesia tersebut diatur dalam Surat Keputusan
Direksi Bank Indonesia Nomor 28/76/KEP/DIR tertanggal 3 Oktober 1995 tentang Tindakan
Penguasaan Sementara Terhadap Bank oleh Bank Indonesia, dan diatur pula dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi
Bank. Tindakan Bank Indonesia tidak dimaksudkan untuk dan tidak dapat diartikan sebagai
pengambilalihan tanggung jawab perbuatan-perbuatan menyimpang atau pelanggaran yang
dilakukan oleh dewan komisaris dan atau direksi lama dan juga bukan berarti mengambil alih
hak dan kewajiban bank.
Menurut Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo. UndangUndang
Nomor 10 Tahun 1998, apabila tindakan-tindakan permulaan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh bank, dan atau menurut penilaian
Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan sistem perbankan, Pimpinan Bank
Indonesia dapat mencabut izin usaha bank dan memerintahkan Direksi Bank untuk segera
menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham guna membubarkan badan hukum bank dan
membentuk tim likuidasi. Pasal 37 ayat (3) menyatakan bahwa dalam hal Direksi bank tidak
menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham sebagaimana dimaksud dalam ayat (2),
Pimpinan Bank Indonesia meminta kepada pengadilan untuk mengeluarkan penetapan yang
berisi pembubaran badan hukum bank, penunjukan tim likuidasi, dan perintah pelaksanaan
likuidasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Likuidasi Bank| 14
Ketentuan senada diatur dalam Pasal 5 dan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25
Tahun 1999 Tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank. Pasal 5 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 menyatakan bahwa Direksi Bank yang dicabut izin
usahanya wajib menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham untuk memutuskan
pembubaran badan hukum bank dan pembentukan Tim Likuidasi, selambat-lambatnya dalam
waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pencabutan izin usaha. Adapun calon dari Tim
Likuidasi wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan Bank Indonesia. Kemudian pasal 6
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999 menyatakan bahwa apabila Rapat Umum
Pemegang Saham tidak dapat diselenggarakan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak
tanggal pencabutan izin usaha, atau dapat diselenggarakan namun tidak berhasil memutuskan
pembubaran badan hukum bank dan pembentukan Tim Likuidasi, Pimpinan Bank Indonesia
meminta kepada Pengadilan untuk mengeluarkan penetapan yang berisi :
1. pembubaran badan hukum bank;
2. penunjukan Tim Likuidasi;
3. perintah pelaksanaan likuidasi sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini;
4. perintah agar Tim Likuidasi mempertanggungjawabkan pelaksanaan likuidasi kepada
Bank Indonesia.
Dari ketentuan Pasal 37 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 serta Pasal 5 dan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor
25 Tahun 1999 tersebut, dapat dikemukakan bahwa pembubaran badan hukum bank terjadi
setelah adanya pencabutan izin usaha bank tersebut oleh Pimpinan Bank Indonesia, dan likuidasi
bank yang dicabut izin usahanya dilakukan setelah badan hukum bank dibubarkan. Dalam hal ini
dapat dikatakan bahwa likuidasi suatu bank merupakan kelanjutan dari pelaksanaan pencabutan
izin usaha dari bank tersebut. Likuidasi bank juga bisa dikatakan sebagai akibat dari adanya
pencabutan izin usaha bank yang karena salah satu atau keduanya dari alasan yang tercantum
dalam Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo. Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 telah terpenuhi.
Likuidasi bank sesuai dengan Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999
dilakukan dengan cara pencairan harta dan atau penagihan piutang kepada para debitur, diikuti
dengan pembayaran kewajiban bank kepada para kreditur dari hasil pencairan dan atau

Likuidasi Bank| 15
penagihan tersebut atau pengalihan seluruh harta dan kewajiban bank kepada pihak lain yang
disetujui Bank Indonesia.
Pencairan harta kekayaan BDL dapat dilakukan dengan penjualan di bawah tangan atau
lelang biasa tanpa melalui Kantor Lelang Negara. Hal ini dimaksudkan agar dapat diperoleh
harga jual yang relatif baik sesuai dengan harga yang wajar. Setelah dilakukannya pencairan
harta kekayaan BDL, hasil pencairan disetorkan ke bank yang ditunjuk oleh Tim Likuidasi
dengan sepengetahuan Bank Indonesia. Hasil pencairan aset bank inilah yang digunakan untuk
membayar kewajiban Bank Dalam Likuidasi kepada para nasabah dan kreditur. Pelaksana dari
likuidasi adalah Tim Likuidasi. Dengan telah dibentuknya Tim Likuidasi sesuai dengan
ketentuan yang berlaku, maka seluruh beban tanggung jawab atas kepengurusan bank dalam
likuidasi berada di tangan Tim Likuidasi.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999, Tim likuidasi mempunyai
kewenangan:
1. Mewakili bank dalam likuidasi dalam segala hal yang berkaitan dengan penyelesaian
hak dan kewajiban bank tersebut (Pasal 19 ayat (3)
2. Dapat meminta pembatalan kepada pengadilan mengenai segala perbuatan hukum yang
merugikan harta bank apabila perbuatan hukum tersebut dilakukan dalam kurun waktu 1
(satu) tahun sebelum pencabutan izin usaha (Pasal 14 ayat (1).
Sedangkan yang menjadi tugas atau kewajiban dari Tim Likuidasi di antaranya adalah :
1. Mendaftarkan dalam Daftar Perusahaan dan di Panitera Pengadilan Negeri yang
meliputi tempat kedudukan bank yang bersangkutan mengenai pembubaran badan
hukum bank dan pembubaran badan hukum ini diumumkan dalam Berita Negara
Republik Indonesia dan 2 (dua) surat kabar harian yang mempunyai peredaran luas dan
diberitahukan kepada instansi yang berwenang dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari
terhitung sejak tanggal pembentukan Tim Likuidasi;
2. Melakukan kepengurusan bank;
3. Melakukan inventarisasi kekayaan dan kewajiban bank dalam likuidasi serta
bertanggung jawab terhadap kekayaan bank tersebut;
4. Melakukan likuidasi aset melalui pencairan harta dan atau penagihan piutang kepada
para debitur;

Likuidasi Bank| 16
5. Membuat perencanaan serta melakukan pembayaran ataupun pemenuhan kewajiban
bank kepada kreditur maupun pihak ketiga lainnya dari hasil pencairan dan atau
penagihan piutang bank tersebut;
6. Meminta akuntan publik independen untuk melakukan audit atas neraca penutupan
pertanggal pencabutan izin usaha yang belum diaudit;
7. Menyusun neraca verifikasi;
8. Melakukan pengalihan seluruh harta dan kewajiban bank kepada pihak lain apabila
disetujui oleh Bank Indonesia;
9. Menyusun Neraca Akhir Likuidasi;
10. Membagikan sisa harta kepada para pemegang saham;
11. Menitipkan bagian yang belum diambil oleh kreditur kepada bank yang disetujui oleh
Bank Indonesia;
12. Menyelenggarakan dan melaporkan Neraca Akhir Likuidasi kepada Bank Indonesia
serta mempertanggungjawabkannya kepada Rapat Umum Pemegang Saham
13. Mengumumkan berakhirnya likuidasi dan menempatkannya pada Berita Negara
Republik Indonesia, memberitahukan kepada instansi berwenang, dan memberitahukan
kepada Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) agar nama badan
hukum bank tersebut dicoret dari Daftar Perusahaan apabila Neraca Akhir Likuidasi
telah disetujui oleh Bank Indonesia dan pertanggungjawabannya telah diterima oleh
Rapat Umum Pemegang Saham;
14. Melakukan tugas-tugas lain yang dianggap perlu dalam pelaksanaan likuidasi bank;
15. Membubarkan Tim Likuidasi apabila telah selesai menjalankan tugasnya.
Selain kewenangan dan tugas/kewajiban dari Tim Likuidasi, terdapat juga larangan bagi
mereka, yaitu di dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Tim Likuidasi dilarang
memperoleh keuntungan untuk diri sendiri, apabila melanggar larangan tersebut mereka secara
pribadi bertanggung jawab atas perbuatannya tersebut (Pasal 13) Untuk susunan dari anggota
Tim Likuidasi terdiri atas :
1. Pihak lain yang bukan anggota direksi, dewan komisaris atau pemegang saham; atau
2. Campuran antara pihak lain yang bukan anggota direksi, dewan komisaris atau
pemegang saham dengan satu atau beberapa anggota direksi, dewan komisaris atau

Likuidasi Bank| 17
pemegang saham sepanjang jumlah anggota direksi, dewan komisaris atau pemegang
saham tersebut tidak melebihi 1/3 (satu pertiga) dari jumlah anggota Tim Likuidasi.
Pihak lain yang dapat ditunjuk sebagai anggota Tim Likuidasi dapat merupakan akuntan,
ahli hukum, ahli komputer dan atau ahli di bidang lainnya yang erat kaitannya dengan
pelaksanaan likuidasi bank. Pembatasan jumlah anggota direksi, dewan komisaris dan pemegang
saham yang boleh menjadi anggota Tim Likuidasi, dimaksudkan untuk menjaga obyektifitas
dalam pelaksanaan likuidasi. Sejak tanggal pencabutan izin usaha, direksi dan dewan komisaris
dilarang melakukan perbuatan hukum berkaitan dengan aset dan kewajiban bank, kecuali atas
persetujuan bank dan atau penugasan Bank Indonesia dan untuk :
1. pembayaran gaji karyawan yang terutang;
2. pembayaran biaya kantor;
3. pembayaran kewajiban bank kepada nasabah penyimpan dana dengan menggunakan
dana lembaga pinjaman simpanan.
Sementara untuk direksi dan dewan komisaris BDL, sejak terbentuknya Tim Likuidasi
menjadi non aktif, akan tetapi mempunyai kewajiban untuk setiap saat membantu memberikan
segala data dan informasi yang diperlukan oleh Tim Likuidasi. Dan dalam menjalankan tugas
dan wewenangnya, Tim Likuidasi diawasi oleh Bank Indonesia selaku otoritas pengawas
perbankan. Bank Indonesia mempunyai kewenangan untuk menilai pelaksanaan tugas dan
wewenang dari Tim Likuidasi, memberhentikan dan mengganti anggota Tim Likuidasi. Dan
sebelum likuidasi selesai, anggota direksi dan anggota dewan komisaris bank yang bersangkutan
tidak diperkenankan mengundurkan diri, kecuali dengan persetujuan Bank Indonesia dan
dilarang melakukan perbuatan hukum yang berkaitan dengan aset dan kewajiban bank, kecuali
atas persetujuan dan atau penugasan dari Bank Indonesia.
Dalam rangka memberi kepastian hukum mengenai kewajiban bank dan kejelasan
tanggung jawab Tim Likuidasi, maka ditetapkan bahwa pelaksanaan likuidasi bank wajib
diselesaikan dalam jangka waktu paling lambat 5 (lima) tahun terhitung sejak tanggal
dibentuknya tim likuidasi. Dalam hal likuidasi bank tidak dapat diselesaikan dalam jangka waktu
yang telah ditentukan, penjualan harta bank dalam likuidasi dilakukan secara lelang dalam waktu
180 (seratus delapan puluh) hari sejak berakhirnya jangka waktu likuidasi tersebut. Mengenai
status badan hukum bank yang dilikuidasi hapus sejak tanggal pengumuman berakhirnya
likuidasi dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Likuidasi Bank| 18
Pengaturan mengenai pencabutan izin usaha, pembubaran dan likuidasi bank menganut
beberapa prinsip :3
1. Bersifat lex specialis, Undang-Undang Perbankan yang mendasari segala ketentuan
tentang perbankan, tidak membahas mengenai pencabutan izin usaha, pembubaran dan
likuidasi bank secara khusus. Hal ini menyebabkan perlunya pengaturan mengenai
pencabutan izin usaha, pembubaran dan likuidasi bank secara khusus.
2. Memperkuat kedudukan nasabah penyimpan dana sebagai kreditur Usaha bank amat
terkait dengan masyarakat, terutama dengan dana masyarakat yang menjadi penyimpan
dana. Karena itu, dalam hal dilakukannya pencabutan izin usaha yang diikuti dengan
likuidasi pada suatu bank menyebabkan kewajiban pembayaran terhadap nasabah
penyimpan dana lebih diutamakan dibanding kreditur-kreditur lainnya. Namun tanpa
mengabaikan kewajiban kepada kreditur-kreditur yang memiliki hak istimewa
berdasarkan peraturan perundang-udangan yang berlaku seperti kreditur dengan hak
tanggungan.
3. Pencabutan Izin Usaha dan Likuidasi merupakan usaha terakhir Pencabutan izin usaha,
pembubaran dan likuidasi bank dapat mempengaruhi kepercayaan masyarakat pada
perbankan. Oleh karena itu, sebelum melakukan pencabutan izin usaha, pembubaran
dan likuidasi terhadap bank, maka Bank Indonesia terlebih dahulu akan melakukan
upaya-upaya penyelamatan terhadap bank tersebut. Akan tetapi, jika upaya-upaya
penyelamatan yang dilakukan ternyata tidak dapat mengatasi masalah yang dihadapi
bank tersebut, dan keadaan bank tersebut membahayakan sistem perbankan maka Bank
Indonesia dapat melakukan pencabutan izin usaha, pembubaran dan likuidasi terhadap
bank tersebut.
4. Status, Kewajiban dan Tanggung Jawab Direksi, Dewan Komisaris dan Pemegang
Saham. Dengan dibentuknya tim likuidasi, status direksi dan dewan komisaris menjadi
non aktif, dan direksi serta komisaris berkewajiban untuk setiap saat membantu
memberikan segala data dan informasi yang dapat diperlukan oleh Tim Likuidasi.
Sebelum likuidasi selesai dilakukan, anggota direksi dan anggota dewan komisaris bank
yang bersangkutan tidak diperkenankan untuk mengundurkan diri, kecuali dengan

3
Viola Fenty, Pemberian Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Dalam Likuidasi, (Jakarta : Skripsi pada
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2000), hlm. 30

Likuidasi Bank| 19
persetujuan Bank Indonesia. Dalam hal harta kekayaan bank dalam likuidasi tidak
cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban bank dalam likuidasi tersebut maka
kekurangannya wajib dipenuhi oleh anggota direksi dan anggota dewan komisaris serta
pemegang saham yang turut serta menjadi penyebab kegagalan bank, dalam hal ini
merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh Direksi, Dewan Komisaris dan
pemegang saham.
5. Pengawasan Likuidasi dilakukan oleh Bank Indonesia. Dengan demikian selain
pelaksanaan likuidasi dilakukan oleh lembaga yang benar-benar memahami tentang
kegiatan usaha perbankan juga adanya kesinambungan pengawasan dari lahirnya suatu
bank tersebut sampai pembubaran dan likuidasi bank.
Status hukum badan yang dilikuidasi hapus sejak tanggal pengumuman berakhirnya
likuidasi dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana hal ini di atur pada Pasal 21
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1999. Mengacu pada ketentuan ini, maka status hukum
dari BDL adalah masih tetap berbadan hukum hingga berakhirnya likuidasi. Namun meskipun
masih berbadan hukum, akan tetapi BDL sudah tidak dapat lagi menjalankan kegiatan usahanya
sebagai bank.

Likuidasi Bank| 20
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Pengertian Likuidasi Bank menurut Pasal 1 angka 13 Peraturan Lembaga Penjamin
Simpanan Nomor 1/PLPS/2011 adalah tindakan penyelesaian seluruh asset dan
kewajiban bank sebagai akibat pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum
bank.

2. Dasar Hukum Likuidasi Bank :


 Undang-Undang N0.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang N0. 7
Tahun 1992 tentang Perbankan
 Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 yg mengatur pencabutan ijin usaha,
pembubaran dan likuidasi bank
 Peraturan yang lebih bersifat umum yaitu :
 UU No. 1 Tahun 1995 tentang PT
 UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
 UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
 Peraturan lainnya yang berkaitan

3. Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013 tentang
Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional terdapat 3
kategori bank bermasalah yaitu bank yang masuk dalam kategori bank dalam
pengawasan normal, bank dalam pengawasan intensif dan bank dalam pengawasan
khusus. Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/2/PBI/2013
tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum Konvensional
menyatakan bahwa “Dalam hal bank dalam pengawasan normal namun dinilai memiliki
permasalahan yang signifikan maka direksi, dewan komisaris, dan/atau pemegang saham
pengendali Bank wajib menyampaikan rencana tindak (action plan) kepada Bank
Indonesia.” Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia Nomor
15/2/PBI/2013 tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum
Konvensional yang mengatur mengenai kategori bank dalam pengawasan intensif

Likuidasi Bank| 21
menyatakan bahwa “Bank dinilai memiliki potensi kesulitan yang membahayakan
kelangsungan usahanya.” Pasal Pasal 17 ayat (1) Bank dalam pengawasan khusus wajib
melakukan penambahan modal untuk memenuhi kewajiban pemenuhan modal minimum
dan/atau kewajiban pemenuhan giro wajib minimum sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.

4. Landasan hukum yang digunakan oleh Pemerintah dalam pencabutan izin usaha dan
likuidasi bank pada saat itu adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang
Perbankan. Dan peraturan pelaksanaan dari ketentuan likuidasi dalam Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 adalah Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1996 Tentang
Ketentuan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran Dan Likuidasi Bank. Peraturan
Pemerintah Nomor 68 Tahun 1996 tersebut kemudian diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 40 Tahun 1997 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor
68 Tahun 1996 Tentang Ketentuan Dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran
dan Likuidasi Bank.

Likuidasi Bank| 22
DAFTAR PUSTAKA

Hotma Sautma Ronny, 2005, Hubungan Bank Dengan Nasabah Produk Tabungan dan
Deposito: Suatu Tinjauan Hukum Terhadap Perlindungan Deposan di Indonesia, Citra Aditya
Bandung

Lukman Dendawijaya, 2009, Manjemen Perbankan, Edisi Kedua, Ghalia Indonesia, Jakarta

Viola Fenty, Pemberian Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Dalam Likuidasi,
(Jakarta : Skripsi pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2000)

Undang-Undang N0.10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang N0. 7 Tahun 1992
tentang Perbankan

Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 yg mengatur pencabutan ijin usaha, pembubaran dan
likuidasi bank

Zulkarnain Sitompul. 2007. Lembaga Penjamin Simpanan : Substansi dan Permasalahan. Book
Terrance & Library, Jakarta.

Likuidasi Bank| 23
MAKALAH
“LIKUIDASI BANK”
MAKALAH DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH :
HUKUM PERBANKAN
DOSEN PENGAMPU: DEWI ASMAWARDHANI, SH., MH

Oleh :
KELOMPOK 3

1. HERY KURNIAWAN 2016174201058 B


2. BAIQ RIKA SEPTINA WARDANI 2016174201065 B
3. FARIZAL PRANATA BAHRI 2016174201068 B
4. WAHONO BRURIE CAHYONO 2016174201070 B
5. LALU RIZAL MAHTOPANI 2016174201071 B
6. IDA FAUZI 2016174201072 B
7. MUSTAAN 2016174201086 B
8. RIRI CUNDA GIRINATA 2016174201092 B
9. SIS NANDA KUS ANDRIANTO 2016174201007 A
10. ABDUL HADY 2016174201030 A
11. I GUSTI NGURAH WIDHIASTU 2016174201036 A
12. FATHUL ARIFIN 2016174201041 A
13. KHAIRUL UMAM 2016174201047 A
14. DEWI HERAWATI 2017274201082

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS 45 MATARAM
2017
Likuidasi Bank| 24
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, segala puji syukur kami ucapkan atas Rahmat, taufik, dan karunia Allah
SWT, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan penuh rasa tanggung jawab.
Shalawat serta salam tidak lupa kami curahkan kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad
SAW, yang telah membawa umat manusia dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang
benderang.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada dosen mata kuliah Hukum Perbankan
yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini tepat pada
waktunya. Semoga para mahasiswa dapat menambah wawasan dari makalah kami ini.

Kami sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu
kami sangat mengharapkan kritik, saran, dan masukan dari semua pihak demi kesempurnaan
makalah ini.

Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya, dan bagi para
mahasiswa pada umumnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Mataram, 19 Desember 2017

Penyusun

Likuidasi Bank| 25i


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………….. i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………………….. 1
1.3 Tujuan ………………………………………………………………………………… 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Likuidasi Bank ……………………………………………………………. 2
2.2 Dasar Hukum Likuidasi Bank ………………………………………………………… 2
2.3 Faktor Penyebab Likuidasi Bank ……………………………………………………… 6
2.4 Proses Likuidasi Bank ………………………………………………………………… 10

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan …………………………………………………………………………… 21

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………… 23

ii
Likuidasi Bank| 26