Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Adanya pengaruh dari ruang, batas, dan kesesuaian isi dan volume ruang
menjadikan adanya pengaruh sifat dan prilaku manusia. Timbulnya ruang privasi diantara
ruang publik yang bisa ditandai dengan adanya batasan batasan yang jelas seperti tanda dan
penanda. Ruang privasi yang dimaksudkan adalah ruang privasi untuk seseorang atau lebih
dari 1 orang dalam melakukan aktivitasnya. Di era sekarang, dengan seiring globalisasi
manusia membutuhkan personal space saat bertemu dengan seseorang yang penting. Selain
itu, seorang individu memerlukan dalam penyendiriannya di sela sela akttivitasnya untuk
menenangkan diri dari kesehariannya. Dari personal space timbul adanya interaksi antara
manusia dengan manusia yang dimana kedekatan ini timbul adanya rasa saling memiliki
rasa kedekatan antar individu. Personal space adalah dimana kondisi manusia yang ingin
menjauh dari keramaian dan tidak berkecimpung di kerumunan orang karena seorang
individu memerlukan waktu untuk menyendiri. Privasi di era sekarang sangatlah penting
untuk kehidupan pribadi atau kelompok seseorang karena banyak hal yang tidak harus di
perlihatkan di muka umum. Terbentuknya batas batas terlihat sebagai penanda dan pemisah
antara privat, semi, dan public. Ini sangat berkaitan dengan batasan dalam ruang privasi
yang dimana adanya batasan area teritorialitsas dalam ruang privasi yang terlihat jelas. Dan
batasan tidak hanya sebagai batas ruang privasi namum batasan teritorialitas juga terjadi dan
membedakan adanya bentuk benda yang di batasi oleh teritotialitas. Di era sekarang
semakin banyak pertumbuhan penduduk yang membludak yang melebihi kapasitas yang
ada. Akibat dari kelahiran yang tidak terkontrol, kesesakan (crowding) dan kepadatan
(densitiy) merupakan fenomena yang akan menimbulkan permasalahan bagi setiap negara di
dunia di masa yang akan datang. Hal ini dikarenakan terbatasnya luas bumi dan potensi
sumber daya alam yang dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia, sementara
perkembangan jumlah manusia didunia tidak terbatas.Kesesakan dan kepadatan yang timbul
dari perkembangan jumlah manusia di dunia pada masa kini telah menimbulkan berbagai
masalah sosial di banyak negara.

Maka akan diambil studi kasus pada Pasar Buleleng, dimana pasar ini terletak di
Kecamatan Buleleng. Pasar Buleleng ini merupakan salah satu pasar di Buleleng yang
banyak terjadi gejala keprivasian, batasan teritori, kepadatan, dan kesesakan.

1| A rs i te kt u r P r i l a ku
1.2 Rumusan Masalah
 Bagaimana pengaruh personal space terhadap prilaku manusia di Pasar Buleleng?
 Bagaimana batasan teritorialitas pada Pasar Buleleng?
 Bagaimana kegiatan yang berhubungan dengan kepadatan dan kesesakan pada Pasar
Buleleng?
 Bagaimana kaitan antara personal space, teritorialitas, kesesakan dan kepadatan di
Pasar Buleleng ?

1.3 Tujuan
 Untuk mengetahui adanya personal space dalam Pasar Buleleng
 Untuk mengetahui batasan teritorialitas di Pasar Buleleng
 Untuk mengetahui adanya kepadatan dan kesesakan pada Pasar Buleleng
 Untuk mengetahui kaitan antara personal space, teritorialitas, kepadatan dan
kesesakan.

1.4 Manfaat
 Untuk seorang arsitek adalah menentukan besaran ruang sebelum mendesain.
 Memberikan penandaan pada suatu daerah kepemilikan
 Menentukan kapasitas ruang terbuka dan ruang ruang di dalam.

2| A rs i te kt u r P r i l a ku
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Personal Space


1. Pengertian Personal Space

Personal space mengatur seberapa dekat kita berinteraksi dengan orang lain, berpindah,
bergerak bersama kita dan meluas serta menyempit sesuai dengan situasi dimana kita
berada. Individu tersebut selalu menjadi pusat dari personal spacenya. Personal space
adalah teritori yang ditandai secara fisikal, teritorialitas merupakan suatu proses
berdasarkan kelompok, sedangkan personal space lebih kepada proses individual.

Robert Sommer (Halim, 2005) mengemukakan bawha Personal space itu seperti
gelembung atau bulatan yang tak terlihat, mengelilingi dan dibawa-bawa oleh suatu
organisme dan ada di antara dirinya dan orang lain, yaitu bufer zone atau jarak individu
dengan yang lain yang tidak terbagi.

Scott (Halim, 2005) menyatakan bahwa terlalu dekat jarak kita dengan orang lain akan
menyebabkan kita terlalu banyak dihujani oleh stimulan sosial ataupun fisikal. Kita
mempertahankan personal space untuk menghindari berbagai macam penyebab stres yang
diasosiasikan dengan jarak yang terlalu dekat. Teori behavior-constraint menyarankan personal
space seseorang harus dijaga untuk mencegah kebebasan perilaku seseorang yang terlalu dekat
dengan kita. Seorang antropolog Edward T. Hall (Halim, 2005) mengkonsepkan personal space
sebagai bentuk dari komunikasi nonverbal. Menurutnya jarak antarindividu menentukan
kualitas dan kuantittas stimulasi yang dipertukarkan. Jarak tersebut juga menentukan jenis
hubungan antar individu dan jenis aktivasi yang dilakukan. Altman (Halim, 2005)
mengemukakan bahwa melihat personal space sebagai mekanisme pengaturan batasan untuk
mencapai tingkat privasi pribadi yang diinginkan, privasi ialah proses batasan interpersonal
dimana orang mengatur interaksi dengan orang lain. Dengan variasi luas ruang personalnya,
Individu memastikan tingkat privasi yang mereka inginkan, agar menjadi konsisten, Jika gagal
mengatur pembatasan tersebut efek negatif dapat muncul.

Jika semua konsep tersebut digabungkan personal space dapat dianggap sebagai
mekanisme pengaturan batasan interpersonal yang mempunyai dua fungsi utama. pertama,
fungsi protektif sebagai penahan terhadap ancaman emosi dan fisik yang potensial dan kedua

3| A rs i te kt u r P r i l a ku
menyangkut komunikasi. Jarak yang kita pertahankan dengan orang lain menentukan saluran
sensor komunikasi mana yang paling penting dan akan dipakai dalam interaksi kita.

2. Penelitian Ruang Personal

Pada bagian ini akan diuraikan beberapa hasil penelitian, yang dimulai dari penelitian
yang melihat hubungan antara kondisi situasional dengan ruang personal.

a. Faktor Situasional
Faktor Situasional adalah Penelitian eksperimental mengenai variabel situasional
telah mengeksplorasi pengaruh ketertarikan antarindividu dengan karakteristik
interpersonal yang sama pada beragam dimensi. Selain itu ada juga faktor ketertarikan
dimna individu yang tertarik dengan individu lain maka akan ada kedekatan secara fisik.
Adapun juga faktor kesamaan berupa kesamaan tujuan agama ras dan kebiasaan. Jenis
interaksi juga berpengaruh terhadap jarak interpersonal terhadap individu yang
berinteraksi.
b. Faktor Perbedaan Individual
Pada kondisi situasional, perbedaan antar individu yang mencerminkan pengalaman
belajar juga menentukan ruang personal, misalnya budaya, norma dan nilai seseorang
akan mempengaruhi apakan individu menganggap penting berkomunikasi dengan
melakukan kontak indera, pada fungsi protektif akan mempengaruhi individual dalam
nilai-nilai yang dianut berkaitan dengan besar ruang yang diperlukan untuk melindungi
diri dari ancaman.

Faktor Budaya dan Ras


Individu yang dibesarkan dalam budaya yang berbeda akan memiliki
pengalaman belajar yang berbeda, perbedaan antar budaya dalam jarak interpersonal
termasuk didalamnya ketidaksamaan yang ada di antara kelompok sub budaya dalam
sebuah budaya besar. Perbedaan Jenis Kelamin. Laki-laki dan perempuan
menunjukkan perilaku spasial yang berbeda terhadap orang yang disukai dan tidak
disukainya, perempuan berinetraksi pada jarak yang lebih dekat dengan orang yang
disukainya, sedangkan laki-laki tidak membedakan spasial sebagai fungsi dari
ketertarikan. Faktor Kepribadian. Duke dan Nowicki memperlihatkan perbedaan
ruang personal berdasarkan konsep internal dan eksternal, dan mengatakan bahwa
perilaku spasial dapat merefleksikan pengalaman belajar.

c. Faktor Fisikal Ruangan


Penelitian menunjukkan beberapa faktor fisik untuk penentuan ruang antar personal, pertama,
bebrapa fitur arsitektur mempengaruhi ruang personal, Savinar menemukan bahwa laki-laki lebih
4| A rs i te kt u r P r i l a ku
banyak membutuhkan ruang bila tinggi plafon ruangan rendah daripada palfon yang tinggi.
White (Halim, 2005) mengemukakan bahwa ruang personal meningkat seiring dengan
berkurangnya ukuran ruang.
Gergen dan Bartong (Halim, 2005) mengemukakan bahwa kita cenderung menyentuh
orang lain, yang membuat kita merasa tidak nyaman ketika gelap daripada dalam kondisi
pencahayaan yang lebih terang.
3. Zona Personal Space

5| A rs i te kt u r P r i l a ku
4. BATASAN RUANG PERSONAL
Menurut Sommer (dalam Alt man, 1975) ruang personal adalah daerah di sekeliling
seseorang dengan batasan-batasan yang tidak jelas dimana seseoramg tidak boleh
memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak /
daerah di sekitar individu dimana dengan memasuki daerah orang lain, menyebabkn orang lain
tersebut merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang-kadang menarik diri.

Beberapa definisi ruang personal secara implisit berdasarkan hasil-hasil penelitian, antara lain

 Ruang personal adalah batasan-batasan yang tidak jelas antara seseorang dengan
orang lain.
 Ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
 Pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita
keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
 Ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat
kecemasan, stress, dan bahkan perkelahian.
 Ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak-jarak antar manusia,
walaupun ada tiga orientasi dari orang lain : berhadapan, saling membelakangi, dan
searah.

Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi sosial terdapat 4
zona spasial yang meliputi : jarak intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik.
Kajian ini kemudian dikenal dengan istilah Proksemik (kedekatan) atau cara seseorang
menggunakan ruang dalam berkomunikasi (dalam Altman, 1975).

2.2 Teritorialitas

Teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat tempat
yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan ciri pemilikannyadan pertahanan dari
serangan orang lain. Manusia berakal mendudukkan teritory sebagai wilayah kekuasaan dan
pemilikan yang merupakan organisasi informasi yang berkaitan dengan identitas kelompok.
( sebagai contoh adalah pernyataan ‘apa yang kita punya’ dan ‘apa yang mereka punya’).
Irwin Altman (1975) membagi teritori menjadi tiga kategori dikaitkan dengan keterlibatan
personal, involvement, kedekatan dengan kehidupan sehari hari individu atau kelompok dan
frekuensi penggunaan.

Pembentukan kawasan teritotial adalah mekanisme perilaku untuk mencapai privasi


tertentu. Kalau mekanisme ruang personal tidak memperlihatkan dengan jelas batas-batasan

6| A rs i te kt u r P r i l a ku
antar diri dengan orang lain, maka pada teritorialitas batas-batas tersebut nyata dengan
tempat yang relative tetap.

Karakter Teritorial

Menurut Lang (1987), terdapat 4 karakter dari territorial tersebut yaitu meliputi:

 Kepemilikan atu hak dari suatu tempat

 Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu

 Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar

 Pengatur dari berbagai fungsi , mulai dari bertemunya kebutuhan dasar


psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhan – kebutuhan
estetika

Territorial dapat di bagi menjadi beberapa bagian yang meliputi:

 Teritorial Primer Territorial yang dipergunakan untuk secara khusus dari


kepemilikannya.

 Teritorial Sekunder Territorial yang dipergunakan untuk setiap orang


dengan pemakaian dan pengontrolan oleh perorangan.

 Teritorial Umum Territorial yang dipergunakan oleh setiap orang dengan


mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana territorial
umum itu berada.

Altman membagi teritorialitas berdasarkan derajat privasi, afiliasi, dan


kemungkinan pencapaian menjadi tiga; teritori primer, teritori sekunder, dan
teritori publik:

Teritori primer, adalah tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya,


hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab atau yang
sudah mendapatkan izin khusus. Jenis teritori ini dimiliki serta
dipewrgunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritori
utama ini akan mengakibatkan timbulnya perlawanan dari pemiliknya dan
ketidakmampuan untuk mempertahankan teritori ini akan mengakibatkan
masalah yang serius terhadap aspek psikologis pemiliknya, yaitu dalam hal
harga diri dan identitasnya. Contoh : pekarangan, ruang tidur, ruang kerja.

7| A rs i te kt u r P r i l a ku
Teritori sekunder, adalah tempat-tempat yang dimiliki bersama oleh
sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Jenis teritori ini lebih
longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Sifat territorial
sejunder adalah semi-publik. Contoh : toilet, sirkulasi lalu intas di dalam
kantor

Teritori publik, adalah tempat-tempat yang terbuka untuk umum.


teritorial umum dapat digunakan secara sementara dalam jangka waktu lama
maupun singkat. Pada prinsipnya setiap orang diperkenankan untuk berada di
tempat tersebut. Contoh : gednung bioskop, ruang kuliah, pusat perbelanjaan
dll

Teritorialitas berfungsi sebagai proses sentral dalam personalisasi, agresi,


dominasi, koordinasi dan kontrol.

 Personalisasi dan penandaan.

Personalisasi dan penandaan seperti memberi nama, tanda atau menempatkan di


lokasi strategis, bisa terjadi tanpa kesadaran teritorialitas. Seperti membuat pagar batas,
memberi nama kepemilikan. Penandaan juga dipakai untuk mempertahankan haknya di
teritori publik, seperti kursi di ruang publik atau naungan.

 Agresi.

Pertahanan dengan kekerasan yang dilakukan seseorang akan semakin keras bila
terjadi pelanggaran di teritori primernya dibandingkan dengan pelanggaran yang terjadi
diruang publik. Agresi bisa terjadi disebabkan karena batas teritori tidak jelas.

 Dominasi dan Kontrol.

Dominasi dan kontrol umumnya banyak terjadi di teritori primer. Kemampuan suatu
tatanan ruang untuk menawarkan privasi melalui kontrol teritori menjadi penting.
2.3 Kesesakan Dan Kepadatan
1. Kepadatan

Kepadatan atau density ternyata mendapat perhatian yang serius dari para ahli
psikologi lingkungan. Menurut Sundstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam
setiap unit ruangan (dalam Wrightsman & Deaux, 1981). Atau sejumlah individu yang
berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982;
Heimstradan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978). Suatu keadaan

8| A rs i te kt u r P r i l a ku
akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin
banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).

Penelitian terhadap manusia yang pernah dilakukan oleh Bell (dalam Setiadi, 1991)
mencoba memerinci: bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang
terjadi; bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku sosial; dan bagaimana dampaknya
terhadap task performance (kinerja tugas)? Hasilnya memperlihatkan ternyata banyak hal-
hal yang negatif akibat dari kepadatan

Pertama, ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan


tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok
manusia tertentu.

Kedua, peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa (mengikuti


kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi
sekali (high spatial density). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan
tolong- rnenolong sesama anggota kelompok.

Ketiga, terjadi penurunan ketekuuan dalam pemecahan persoalan atau


pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil
kerja yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut diketahui pula bahwa dampak negatif kepadatan lebih
berpengaruh terhadap pria atau dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki perasaan negatif
pada kepadatan tinggi bila dibandingkan wanita.

2. Kesesakan

Menurut Altman (1975), kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu
tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil,
Perbedaan pengertian antara crowding (kesesakan) dengan density (kepadatan) sebagaimana
yang telah dibahas terdahulu tidaklah jelas benar, bahkan kadang-kadang keduanya
memiliki pengertian yang sama dalam merefleksikan pemikiran secara fisik dari sejumlah
manusia dalam suatu kesatuan ruang.
Menurut Altman (1975), Heimstra dan McFarling (1978) antara kepadatan dan
kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang
dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan
kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu (Heimstra
dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

3. Pengaruh Kepadatan dan Kesesakan terhadap Prilaku Manusia


9| A rs i te kt u r P r i l a ku
Kepadatan tinggi merupakan stressor lingkungan yang dapat menimbulkan
kesesakan bagi individu yang berada di dalamnya. Stresor lingkungan, menurut Stokols
(dalam Prabowo, 1990), merupakan salah satu aspek lingkungan yang dapat menyebabkan
stres, penyakit, atau akibat-akibat negatif pada perilaku masyarakat.
Menurut Heimstra dan Mc Farling (dalam Prabowo, ) kepadatang memberikan akibat bagi
manusia baik secara fisik, sosial maupun psikis.
a. Akibat fisik

Reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan
darah, dan penyakit fisik lain.
b. Akibat sosial
Adanya masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya
kriminalitas dan kenakalan remaja.
c. Akibat psikis
 Stres, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negatif, rasa cemas,
stres dan perubahan suasana hati.
 Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung untuk
menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.
 Perilaku menolong (perilaku prososial), kepadatan tinggi juga menurunkan
keinginan individu untuk menolong atau meberi bantuan pada orang lain
yang membutuhkan, terutama orang yang tidak dikenal.
 Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan
individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu.
 Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu dapat menumbuhkan
frustasi dan kemarahan, serta pada akhirnya akan terbentuk perilaku agresi.

4. Hubungan Antara Kepadatan dan Kesesakan

Menurut Sarwono (dalam Sarwono, 1995), hubungan antara kepadatan dan


kesesakan mempunyai dua ciri, antara lain:

1. Kesesakan adalah persepsi terhadap kepadatan dalam artian jumlah manusia.


Kesesakan berhubungan dengan kepadatan (density), yaitu banyaknya jumlah
manusia dalam suatu batas ruang tertentu. Makin banyak jumlah manusia
berbanding luasnya ruangan, makin padatlah keadaannya.
2. Kesesakan adalah persepsi maka sifatnya subjektif. Individu yang sudah biasa
naik bus yang padat penumpangnya, mungkin sudah tidak merasa sesak lagi
(density tinggi tetapi crowding rendah). Sebaliknya, individu yang biasa
10 | A r s i t e k t u r P r i l a k u
menggunakan kendaraan pribadi, bisa merasa sesak dalam bus yang setengah
kosong (density rendah tapi crowding tinggi).
Gifford
terlalu
yang (dalam
banyaknya
tinggi,
kepadatan Zuhriyah,
tetapi
adalah orang di2007),
kepadatan
perkiraan menyatakan
sekitar individu.
bukanlah
individu tentang bahwa
mutlak kesesakan
syaratKesesakan mungkin
untuk
kepadatan adalah perasaan
berhubungan
suatumenimbulkan
ruang, subjektif
dengan
kesesakan. akan
kepadatan
Persepsi
tetapi korelasi antara persepsi kepadatan yang dirasakan individu dengan ukuran kepadatan
yang sesungguhnya sangat rendah. Kesesakan dipengaruhi oleh karakteristik individu dan
situasi sosial. Individu mungkin merasa sesak dalam sebuah ruang luas yang hanya diisi oleh
dua orang tetapi tidak merasa sesak ketika berada di antara ribuan orang lain dalam sebuah
konser musik.
Beberapa pakar membedakan antara kepadatan dengan kesesakan secara teoritis
(dalam Zuhriyah, 2007). Heimstra menyatakan bahwa pada dasarnya kepadatan merupakan
konsep fisik, sedangkan kesesakan adalah konsep psikologis. Stokols & Altman, membatasi
kepadatan dalam arti fisik, yakni jumlah orang atau hewan per unit ruang. Dalam pandangan
pakar tersebut, kepadatan tidak memiliki arti psikologis yang melekat. Di sisi lain kesesakan
adalah keadaan psikologis (bukan variabel fisik), bersifat pribadi atau merupakan reaksi
subjektif yang didasari oleh perasaan akan terlalu sedikitnya ruang yang tersedia. Suatu
situasi yang diterima sebagai rasa sesak bergantung tidak hanya pada jumlah orang yang
hadir (yaitu kepadatan) tetapi juga pada bermacam- macam kepribadian, sosial dan variabel-
variabel lingkungan (dalam Zuhriyah, 2007

2.4 Ambient Enviroment


Menurut Rahardjani (1987) dan Ancok (1989) ambient environment adalah kualitas
fisik dari keadaan yang mengelilingi individu dan mempengaruhi perilaku. Kualitas fisik
yang dimaksud yaitu: kebisingan, temperatur, kualitas udara, pencahayaan dan warna.
Menurut Ancok (1989), keadaan bising dan temperatur yang tinggi akan mempengaruhi
emosi para penghuni. Emosi yang sernakin tidak terkontrol akan mempengaruhi hubungan
sosial di dalam maupun di luar rumah. Sementara itu, kebisingan rnenurut Rahardjani (1987)
juga akan berakibat menurunnya kemampuan untuk mendengar dan turunnya konsentrasi
belajar pada anak.
2.2.1 Suhu dan Polusi Udara
Menurut Holahan (1982) tingginya suhu dan polusi udara paling tidak dapat
menimbulkan dua efek yaitu efek kesehatan dan efek perilaku. Beberapa studi
korelasional di beberapa kota di Amerika Serikat menunjukkan adanya hubungan
yang signifikan antara musim panas dengan tingkat mortalitas. Bahkan pada tahun
1976 terjadi peningkatan angka mortalitas yang tajam sampai dengan 50 % di
beberapa area (Schuman dalam Holahan, 1982). Studi lain menunjukkan adanya
hubungan antara meningkatnya tingkat polusi udara dengan munculnya penyakit-

11 | A r s i t e k t u r P r i l a k u
penyakit pernapasan seperti asma, infeksi saluran pernapasan, dan flu di beberapa
kota di Amerika Serikat.
Pada efek perilaku, riset laboratorium menunjukkan bahwa temperatur yang
terlalu tinggi teryata memengaruhi perilaku sosial. Dua buah studi membuktikan
bahwa seseorang dalam keadaan temperatur tinggi (lebih dari 100 derajat F) ternyata
memiliki penilaian yang tidak jelas pada kuisioner yang diberikan bila dibandingkan
dengan yang dalam kondisi nyaman.
2.2.2 Kebisingan
Menurut Sarwono ( 1992) terdapat tiga faktor yang menyebabkan suara secara
psikologis dianggap bising, yaitu: volume, perkiraan, dan pengendalian.
Dari faktor volume dikatakan bahwa suara yang makin kerasakan dirasakan
mengganggu. Suara kendaraan di jalan raya dari jarak 17 meter (70dB) sudah
mulai mengganggu pembicaraan melalui telepon dan suara truk pengaduk semen,
sementara dari jarak yang sama (90dB) tentunya akan lebih mengganggu.
Jikalau kebisingan dapat diperkirakan datangnya atau berbunyi secara teratur,
kesan gangguan yang ditimbulkan akan lebih kecil dibandingkan jika suara tersebut
datangnya tiba- tiba atau tidak teratur.
Faktor kendali berkaitan erat dengan faktor perkiraan. Jika kita menyetel
musik cadas atau rnenyalakan gergaji mesin, kita tidak merasakannya sebagai
kebisingan karena kita dapat rnengaturnya sekehendak kita kapan suara itu kita
perlukan. Akan tetapi bagi orang lain yang tidak menginginkannya, hal itu merupakan
kebisingan yang amat mengganggu.
2.2.3 Angin
Udara sendiri tersusun oleh berbagai macam unsur. Mulai dari seberapa
banyak uap air yang terkandung dalam udara yang biasa kita sebut sebagai
kelembaban, hingga kandungan ion-ion dalam udara. Selain itu ada juga tekanan
udara. Semua ini memiliki pengaruh masing-masing terhadap perilaku kita.
Komposisi dan keadaan udara ini sendiri tentunya memiliki pengaruh terhadap
perilaku kerja (Gifford, 1987). Angin misalnya memiliki pengaruh langsung dalam
kehidupan kita. Teknologi kita banyak menggunakan angin dalam aktivitasnya
misalnya untuk melaut, pembangkit listrik, penerbangan, dsb. Efek yang secara
langsung dapat kita lihat adalah manusia cenderung enggan melaut atau terbang
apabila kondisi angin sedang tidak bersahabat.
Angin yang kencang dapat menurunkan kondisi afektif seseorang dan
performa kerja (Veitch & Arkkelin, 1995). Misalnya dalam olahraga voli atau tenis.

12 | A r s i t e k t u r P r i l a k u
Tentu orang akan cenderung enggan melakukan aktivitas tersebut dalam kondisi
cuaca yang berangin karena angin dapat berpengaruh dalam permainan mereka.
2.2.4 Warna dan Pencahayaan
Psikologi warna banyak sekali diterapkan pada interior. Terutama interior
dengan kebutuhan khusus karena warna sangat mempengaruhi kesan dari ruangan itu
sendiri. Setiap warna memiliki potensi untuk memberikan kesan positif maupun
negatif kepada pengguna ruang
• Warna Merah : warna merah merupakan warna yang dominan, warna merah
dapat menaikan denyut jantung, laju pernafasan, dan dapat meningkatkan
agresivitas, memicu emosi, serta dapat bersifat menekan serta sering
diasosiasikan dengan darah, merah, berani, bahaya, dan kebahagiaan.
• Warna Biru : warna biru memiliki karakteristik sejuk , pasif. melambangkan
ketenangan, dapat memberikan rasa damai dan tenang. Dan dapat juga
memberikan kesan dingin dan tidak bersahabat, atau bahkan dapat
menyebabkan depresi.
• Warna Kuning : warna kuning memiliki kesan ceria dapat meningkatkan rasa
percaya diri, dan memberikan kesan bersahabat.
• Warna Hijau : memiliki karakter yang hampir sama dengan warna biru,warna
hijau juga memberi kesan tenang dan damai relative lebih netral dibandingkan
warna lain. Karena merupakan warna alam dapat membuat perasaan menjadi
rileks.
• Warna Putih : Warna putih memberi kesan suci, bersih, steril, dan netral dan
memiliki karakter yang positif dan sederhana.
• Warna Hitam : Warna hitam dapat membuat takut, depresi sedih, murung,
dan juga menekan. Selain daripada itu warna hitam juga dapat memberi kesan
positif yakni sifat formal , tegas dan kukuh serta kuat.
• Warna Ungu : memberikan kesan mewah, spiritual, dapat juga meningkatkan
percaya diri.

2.5 Antopometri Dan Ergonomi


Antropometri merupakan kumpulan data numerik yang berhubungan dengan
karakteristik fisik tubuh manusia (ukuran, volume, dan berat) serta penerapan dari data
tersebut untuk perancangan fasilitas atau produk. Sedangkan Ergonomi merupakan ilmu yang
menitikberatkan pada pembahasan mengenai manusia sebagai elemen utama dalam suatu
sistem kerja.
2.6.1 Jenis-Jenis Antopometri

13 | A r s i t e k t u r P r i l a k u
Menurut dalam buku Panero dan Zelnik (2003:16), jenis-jenis antropometri
dapat dilihat dari dimensi tubh manusia yang memepengaruhi perancnaan ruang
interior yang terdiri dari dua jenis, yaitu :
a. Antropometri Struktur / Statis.
Dimensi struktural, kadangkala disebut sebagai dimensi “statis”, yang
mencakup pengukuran atas bagian-bagian tubuh seperti kepala, batang tubuh
dan anggota badan lainnya pada posisi-posisi standar.
b. Antropometri Fungsional / Dinamik.
Sesuai dengan yang digunakan meliputi pengukuran-pengukuran yang
diambil pada posisi-posisi kerja atau selama pergerakan yang dibutuhkan oleh
suatu pekerjaan.
2.6.2 Jenis-Jenis Ergonomi
a. Ergonomi fisik : berkaitan dengan anatomi tubuh manusia,
antropometri, karakteristik fisiolgi dan biomekanika yang berhubungan dnegan
aktivitas fisik. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi fisik antara lain :
postur kerja, pemindahan material, gerakan berulan-ulang, MSD, tata letak
tempat kerja, keselamatan dan kesehatan.
b. Ergonomi kognitif : berkaitan dengan proses mental manusia,
termasuk di dalamnya; persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari
interaksi manusia terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang
relevan dalam ergonomi kognitif antara lain; beban kerja, pengambilan
keputusan, performance, human-computer interaction, keandalan manusia, dan
stres kerja.
c. Ergonomi organisasi : berkaitan dengan optimasi sistem sosioleknik,
termasuk sturktur organisasi, kebijakan dan proses. Topik-topik yang relevan
dalam ergonomi organisasi antara lain; komunikasi, MSDM, perancangan
kerja, perancangan waktu kerja, timwork, perancangan partisipasi, komunitas
ergonomi, cultur organisasi, organisasi virtual, dan lain-lain.
d. Ergonomi lingkungan : berkaitan dengan pencahayaan, temperatur,
kebisingan, dan getaran. Topik-topik yang relevan dengan ergonomi
lingkungan antara lain; perancangan ruang kerja, sistem akustik, dan lain-lain.

14 | A r s i t e k t u r P r i l a k u
BAB III

TINJAUAN OBJEK DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Objek

Nama Objek : Pasar Buleleng


Alamat : Jln. Mayor Metra No. 176, Kecamatan Buleleng, Kabupaten
Buleleng, Bali
Jenis Bangunan : Publik
Fungsi : Pasar Tradisional
Waktu Observasi : 3 Desember 2017

15 | A r s i t e k t u r P r i l a k u
Pasar Buleleng sudah ada sejak zaman Kerajaan Buleleng. Pada zaman kerajaan
Buleleng, Pasar Buleleng menjadi pusat kegiatan jual-beli. Dahulu, Pasar Buleleng berada di
sebelah barat Puri Kanginan namun dipindah ke sebelah selatan Puri Kanginan. Pasar
Buleleng berada di sebelah timur patung Catus Pata. Pada sebalah barat Pasar Buleleng
tedapat Sasana Budaya dan pura Melanting. Di sebelah utara terdapat Taman Gajah dan Puri
Kanginan.
Sampai saat ini fungsi dari Pasar Buleleng masih sebagai tempat bertemunya penjual
dan pembeli untuk masyarakat di Kecamatan Buleleng dan sekitarnya. Sebagai titik
pertemuan antara penjual dan pembeli menyebabkan terjadinya interaksi antar individu.

Gambar 3.1 : Sketsa peta lokasi Pasar Buleleng


Sumber : Dokumenstasi pribadi
Gambar 3.2 Sketsa site plan Pasar Buleleng
Sumber : Dokumenstasi pribadi

3.2 Personal Space dan Privasi pada Pasar Buleleng

Salah satu contoh personal space adalah

kedekatan ibu dengan anaknya saat


berbelanja di Pasar Buleleng. Terlihat
seorang ibu sedang duduk bersama
anaknya sambil menjual dagangannya.
Kedekatan antara ibu dan anak ini
merupakan contoh dari intimidate distance
dimana kedekatan intim karena hubungan
keluarga antara anak dan ibu yang sedang
berjualan. Ibu dan anak tersebut, tidak
merasa personal space masing masing
terganggu karena hubungan yang sangat
dekat.

Gambar 3.3 : Intimidate distance


Sumber : dokumenstasi pribadi
Salah satu contoh dari personal distance adalah hubungan
antara penjual dan pembeli. Pada Pasar Buleleng terjadi
interaksi antara pembeli dan penjual. Interaksi antara pembeli
dan penjual merupakan salah satu contoh dari personal distance
karena adanya sentuhan kontak fisik antara pembeli dan penjual
dalam interaksinya. Hubungan ini bisa dipengaruhi karena
faktor kebudayaan dan daerah asal yang sama.
Gambar 3.4 : Personal distance
Sumber : dokumenstasi pribadi

Hubungan sosial antara tukang parkir


dengan pengunjung pasar merupakan hubungan
sosial dari jarak jauh. Pada interaksi antara
tukang parker dan pengunjung merupakan
contoh dari social distance. Walaupun terjadi
kontak fisik antara tukang parkir dan
pengunjung namun tidak memiliki hubungan
yang dekat.

Gambar 3.5 : Sosial distance


Sumber : dokumenstasi pribadi

Studi kasus privasi pada Pasar Buleleng


Privasi adalah keadaan dimana individu
ingin menyendiri dan tidak terlalu mengekspose
diri ke luar. Seperti contoh ini seorang penjual
yang hanya melayani pembeli dari balik meja
saja karena ada rahasia atau privasi yang ingin
dijaga agar orang lain tidak mengetahui.

Gambar 3.6 : Privasi dari seorang pedagang


Sumber : Dokumenstasi pribadi
Contoh lain dari privasi di dalam
Pasar Buleleng adalah seorang bapak
berjalan sendiri dengan memegang
ponselnya dan sesekali memainkan
ponselnya dan sambil mencari dagangan
yang mau dibelinya. Bapak ini ingin
menjauh dari keramaian dengan sesekali
memainkan ponselnya agar tidak bosan.

Gambar 3.7 privacy


Sumber : dokumenstasi
3.3 Teritorialitas pada Pasar Buleleng

Gambar
disamping adalah
salah satu area
teritorial berupa
area publik tempat
bertemunya
penjual dan
pedagang Pasar
Buleleng. Area ini
merupakan teritori publik dimana pada Pasar Buleleng
terjadi interaksi antara penjual dan pembeli yang tidak
saling mengenal. Walaupun tidak saling mengenal,
tetapi pedagang tidak merasa terganggu akan kehadiran
orang lain.

Gambar 3.8 : Area teritori publik


Sumber : Dokumenstasi pribadi

Selain area pedagan dan penjual, teritori juga terdapat pada area
parkir. Teritori yang terjadi adalah teritori publik. Area ini di
khususkan untuk parkir kendaraan dari pengunjung. Hanya
kendaraan roda 2 yang diperbolehkan parkir area ini. Jika
terdapat mobil yang parkir pada area ini, maka akan terjadi
pelanggaran teritori.

Gambar 3.8 : Area teritori publik


Sumber : Dokumenstasi pribadi

3.4 Kepadatan Dan Kesesakan pada Pasar Buleleng

Salah satu dari kesesakan dan kepadatan, dimana


terlihat parkir yang sesak sekali, namum jika diperhatikan lebih
jelas parkir ini padat, dimana padat yang artinya volume
pengisi dengan wadahnya pas namum kesesakan adalah
dimana overload dari pengisi terhadap wadahnya. Disini
terlihat sesak karena penataan parkir yang tidak baik dan parkir
yang sembarangan.
Gambar 3.9 : Kepadatan pada parkir
Sumber : Dokumentasi pribadi
Selain pada parkir, kesesakan dan kepadatan terjadi
pada area penjual. Para pembeli yang memenuhi area penjual
pada pasar sampai bersentuhan fisik karena terlalu sesaknya
sirkulasi pada area tersebut. Kesesakan dan kepadatan ini
berpengaruh terhadap psikis seseorang. Dalam keadaan sesak
seperti gambar disamping, seseorang akan gampang stres dan
mudah marah sehingga rentan terjadinya keributan.

Gambar 3.10 : Kesesakan pada area penjual


Sumber : Dokumentasi pribadi

3.5 Ambient Environment


Pada beberapa titik di Pasar Buleleng merupakan area
terbuka dan tidak tertutup atap sehingga angin dan kebisingan
berdampak langsung kepada orang yang beraktivitas pada
area tersebut. Kebisingan dapat berasal dari interaksi antara
pedagang dan pembeli atau dari jalan raya. Kebisingan ini
berdampak kepada psikis seseorang. Dengan kebisingan yang
tinggi seseorang akan mudah merasa stres.
Pada area yang tertutupi atap, suhu di area pasar
menjadi sangat panas. Panas ini berasal dari panas matahari
dan panas yang dikeluarkan oleh masing-masing individu.
Gambar 3.11 : Kesesakan Dengan berkumpulnya individu dengan ruang yang
pada area yang menyebabkan
panas tidak memadai akan menyebabkan ruangan akan terasa
Sumber : Dokumentasi
pribadi panas. Panas ini dapat berpengaruh terhadap psikis
individu seperti pusing dan stress.
3.6 Antopometri Dan Ergonomi
Penjual pada Pasar Buleleng meletakan barang yang dijual
terlalu rendah sehingga pembeli dan pembeli harus membungkuk
untuk mengambil barang yang ingin dibeli. Dengan tinggi dari meja yang sangat rendah ini
menimbulkan ketidaknyamanan baik dari penjual maupun pembeli.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Ambient Environment, Ruang Personal dan Privasi, Teritorialitas, Kesesakan dan


Kepadatan serta Ergonomi dan Antropometri memiliki keterkaitan yang sangat erat
dilihat dari kajian objek yang dilakukan pada Pasar Buleleng, ruang personal dan privasi
yang tercampur antara pedangan dan penjual. Teritorial yang terjadi di Pasar Buleleng
adalah territorial public dimana pedagang tidak merasa terganggu ketika penjual masuk
ke area teritorinya. Dengan tidak adanya rasa terganggu pedagang ketika pembeli masuk
keteritorinya, menyebabkan terjadinya kepadatan dan kesesakan. Kemudian dari kondisi
tersebut menyebabkan terjadinya Ambient Environment yang kurang nyaman seperti suhu
udara yang panas dan kebisingan dengan tingkat sedang sampah tinggi. Ditambah
kondisi tempat meletakan barang yang dijual tidak ergonomis dan tidak sesuai dengan
antropometri akan semakin menambah ketidaknyamanan pada Pasar Buleleng
4.2 Saran

Dari pembahasan di atas dapat disarankan sebagai berikut, sebaiknya dalam


membuat suatu ruangan dengan civitas berjumlah besar tentu harus memperhatikan
besaran ruang dan besaran sirkulasi sehingga tidak terjadi kesesakan dan kepadatan yang
berlebih. Perlunya pemberian batas-batas teritori dari penjual pada Pasar Buleleng. Meja
untuk meletakan barang yang dijual harusnya lebih tinggi agar pembeli tidak
membungkuk ketika mengambil barang.
DAFTAR PUSTAKA

Austin, Daniel; Cross, Robin M; Hayes, Tamara; Kaye, Jeffrey. (2014). Regularity and
Predictability of Human Mobility in Personal Space. Scholarly Journals. 9(2).

Bell, P.A., Greene, T.C., Fisher, J.D., & Baum, A. (1996). Environmental Psychology 4ed.
USA: Harcourt College Publishers.

Gifford, R., Steg, L., Reser, J.P. (2010). Handbook of Applied Psychology. IAAP.
Halim, D. (2005). Psikologi Arsitektur. Pengantar Kajian Lintas Disiplin. Jakarta: PT
Grasindo.
Anonim. 1994. Hidup di Kota Semakin Sulit : Bagaimana Strategi Adaptasi dalam
Situasi Kepadatan Sosial?.
http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/hidupdikota_avin.pdf. Diakses tanggal 23
Maret 2011.

Hasnida. 2002. Crowding (Kesesakan) Dan Density (Kepadatan). Sumatera Utara :


Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Prabowo, Hendro. 1998. Pengantar Psikologi Lingkungan. Depok : Universitas Gunadarma