Anda di halaman 1dari 10

p-ISSN : 2407 – 1846

TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416


Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

PENERAPAN METODE FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS


(FMEA) DAN EXPERT SYSTEM (SISTEM PAKAR)

Nurlailah Badariah1*, Dedy Sugiarto2, Chani Anugerah3


Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti
Jl. Kyai Tapa No. 1, Grogol, Jakarta 11440, Indonesia
*
E-mail : nurlailahms@gmail.com,

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis kegagalan yang sering terjadi pada
produk Link PC 400 Strong R, penyebab terjadinya kegagalan proses tersebut, jenis efek yang
ditimbulkan akibat kegagalan proses, dan kontrol yang dilakukan perusahaan dalam menangani
kegagalan proses yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Failure Mode and
Effect Analysis (FMEA) dan Expert System. Dari hasil penelitian menggunakan metode FMEA
diketahui yang memiliki nilai RPN tertinggi terdapat pada proses IQT dengan jenis kegagalan berupa
case depth dan nilai RPN sebesar 448. Berdasarkan hal tersebut peneliti membuat Fishbone diagram
untuk menentukan akar penyebab dari jenis kegagalan berupa case depth. Hasil dari tabel FMEA ini
digunakan untuk merancang Expert System. Perancangan Expert System dalam penelitian ini
menggunakan software PHP dan MySQL. Pada sistem pakar ini akan diajukan beberapa pertanyaan.
Setelah semua pertanyaan terjawab, maka akan muncul upaya penanggulangan agar kegagalan pada
proses tidak terjadi lagi.

Kata kunci : Failure Mode Effect and Analysis (FMEA), RPN, Fishbone Diagram, Expert System,
Forward Chaining, PHP dan MySQL

ABSTRACT
This study was conducted to identify the types of failures that often occur in products Link PC
400 Strong R, the cause of the failure of the process, the types of effects caused by the failure of the
process, and control of the company in dealing with the failure of the process. The method used in this
study is a Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) and Expert System. From the results of research
using FMEA method known which have the highest RPN value contained in the IQT process with this
type of failure in the form of case depth and RPN value is 448. Based on that, researchers made a
fishbone diagram to determine the root cause of this type of failure in the form of case depth. Results
of FMEA table is used to design expert systems. The design of expert systems in this study using PHP
and MySQL software. This expert system will be submitted several questions. After all the questions
are answered, it would appear that the response to the failure of the process does not happen again.

Keywords: Failure Mode Effect and Analysis (FMEA), RPN, Fishbone Diagram, Expert System,
Forward Chaining, PHP dan MySQL

PENDAHULUAN sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada


Dalam upaya mempertahankan kemampuan memenuhi kebutuhan yang
eksistensi dan mengembangkan usaha di dinyatakan maupun yang tersirat (Kotler,
tengah persaingan yang semakin ketat, setiap 2009).
perusahaan harus memperhatikan kualitas Seperti perusahaan manufaktur pada
produk yang dihasilkannya. Kualitas produk umumnya, PT. KUI masih dihadapkan dengan
ditentukan oleh keinginan pelanggan. Kualitas permasalahan kualitas dari produk Link PC
didefinisikan sebagai keseluruhan ciri serta 400 Strong R yang dihasilkan berupa

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 1


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

komponen pembentuk Undercarriage alat tidak mampu bertahan dalam situasi ini, maka
berat yaitu Bulldozer dan Excavator. Sebelum harus berhenti dalam persaingan. Hal ini
produk diserahkan kepada konsumen, bagian didukung dengan penerapan kualitas produk
Quality Control akan memeriksa kualitas atau jasa secara berkesinambungan. Kualitas
produknya disetiap proses. Mulai dari dapat diartikan sebagai karakteristik sebuah
Incoming inspection sampai final inspection. produk atau jasa yang didesain untuk
Dari hasil pemeriksaan kualitas oleh bagian kebutuhan tertentu pada kondisi tertentu.
Quality Control diketahui bahwa terjadi
kecacatan pada proses Induction Quenching Failure Modes and Effects Analysis (FMEA)
Tempering (IQT) seperti Kizu, Coil Touch, FMEA adalah suatu prosedur
HRC Low, ML Scratch dan Case Depth. Jenis terstruktur untuk mengidentifikasi dan
kecacatan case depth adalah jenis kecacatan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan
tertinggi diantara jenis kecacatan lainnya. (Casadai, 2007). Suatu mode kegagalan adalah
Produk cacat ini akan di-repair. Kondisi ini apa saja yang termasuk dalam kecacatan atau
sangat merugikan perusahaan karena biaya kegagalan dalam desain, kondisi di luar batas
produksi akan meningkat. Jika biaya produksi spesifikasi yang telah ditetapkan atau
meningkat maka harga jual juga meningkat, perubahan pada produk yang menyebabkan
sehingga daya saing produk berkurang. terganggunya fungsi fungsi dari produk
Upaya untuk memperbaiki kualitas tersebut. Melalui menghilangnya mode
produk Link PC 400 Strong R dapat dilakukan kegagalan, diman FMEA akan meningkatkan
dengan menggunakan metode FMEA, yang keandalan dari produk dan pelayanan sehingga
diharapkan dapat mengidentifikasi kegagalan meningkatkan kepuasan konsumen akan
proses produksi yang sering terjadi. Langkah- produk atau pelayanan tersebut. FMEA
langkah dalam menerapkan metode FMEA digunakan untuk mengidentifikasi potensi
adalah mengidentifikasi jenis kegagalan proses kegagalan, efek yang ditimbulkan pada operasi
yang terjadi, jenis penyebab kegagalan, jenis dari produk dan mengidentifikasi aksi untuk
efek yang ditimbulkan, kontrol yang mengatasi masalah tersebut.
dilakukan. Selanjutnya memberikan usulan
penanggulangannya sehingga tidak terjadi lagi Expert System (Sistem Pakar)
kegagalan proses pada proses produksi produk Sistem pakar adalah salah satu cabang
Link PC 400 Strong R. dari Artificial Intelligence (AI) yang membuat
Permasalahan lain yang terjadi adalah penggunaan secara luas knowledge yang
keterlambatan pengambilan keputusan dalam khusus untuk penyelesaian masalah tingkat
menanggulangi kegagalan proses yang terjadi. manusia yang pakar. Seorang pakar adalah
Hal ini disebabkan para operator seringkali orang yang mempunyai keahlian dalam bidang
menunggu kehadiran para manajer dalam tertentu, yaitu pakar yang mempunyai
mengidentifikasi kegagalan proses yang terjadi knowledge atau kemampuan khusus yang
sehingga banyak waktu yang terbuang. Oleh orang lain tidak mengetahui atau mampu
karena itu, penggunaan Expert System atau dalam bidang yang dimilikinya.
sistem pakar diharapkan dapat memberikan Gambar 1. menggambarkan konsep
penanggulangan masalah secara tepat dan dasar suatu knowledge base dari sebuah sistem
cepat tanpa harus berkonsultasi secara pakar. Pengguna menyampaikan fakta atau
langsung dengan para manajer atau para pakar. informasi untuk sistem pakar dan kemudian
menerima saran dari pakar atau jawaban
ahlinya. Bagian dalam sistem pakar terdiri dari
METODE 2 komponen utama, yaitu knowledge base dan
Kualitas mesin inferensi yang menggambarkan
Dalam (Chen, 1993), Ishikawa kesimpulan. Kesimpulan tersebut merupakan
menjelaskan bahwa sejak tahun 1980 kualitas respons dari sistem pakar atas permintaan
telah menjadi salah satu dimensi persaingan pengguna.
yang sangat penting sampai saat ini. Pada
pertengahan tahun 1990 kualitas telah menjadi
kebutuhan yang harus dipenuhi untuk dapat
bertahan dalam persaingan. Perusahaan yang

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 2


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

Gambar 1. Konsep Dasar Fungsi Sistem Pakar


Gambar 3. Forward Chaining
Arsitektur Sistem Pakar
Sistem pakar disusun oleh dua bagian 2. Backward Chaining
utama, yaitu lingkungan pengembangan Proses ini dimulai dari pencarian solusi
(development environment) dan lingkungan dari kesimpulan kemudian menelusuri fakta-
konsultasi (consultation environment). fakta yang ada hingga menemukan solusi yang
Komponen-komponen sistem pakar dalam dua sesuai dengan fakta-fakta yang diberikan oleh
bagian tersebut ada pada Gambar 2.3 sebagai user. Backward chaining merupakan proses
berikut: penalaran dengan pendekatan goal_driven.
Pendekatan goal_driven memulai titik
pendekatannya dari goal yang akan dicari
nilainya kemudian bergerak untuk mencari
informasi yang mendukung goal tersebut.

Gambar 4. Backward Chaining


Gambar 2. Arsitektur Sistem Pakar
MySQL
Inferensi Berbasis Aturan MySQL dipublikasikan sejak tahun
Aturan diekspresikan dalam bentuk 1996, tetapi sebenarnya dikembangkan sejak
kondisi IF-THEN. IF adalah kondisi yang telah tahun 1979. MySQL telah memenangkan
ada, THEN adalah aksi atau tanggapan lain penghargaan Linux Journal Reader’s Choice
yang akan timbul. Aturan IF-THEN lebih Award selama tiga tahun. MySQL dilepaskan
dekat dengan cara manusia memecahkan dengan suatu lisensi open-source dan tersedia
masalahnya sehari-hari, daripada program secara cuma-cuma. MySQL adalah software
yang menyatakan pengetahuannya dalam kode yang termasuk dalam sistem manajemen basis
komputer tingkat rendah (low level). Terdapat data SQL (Database Management System) atau
dua pendekatan dalam menyusun mekanisme dikenal juga dengan DBMS yang multithread
inferensi berbasis aturan, yaitu : dan multi-user. MySQL merupakan turunan
1. Forward Chaining dari salah satu konsep utama dalam database
Forward chaining merupakan metode yang ada sejak lama, yaitu SQL (Structured
inferensi yang melakukan penalaran dari suatu Query Languange).
masalah kepada solusinya. Jika klausa premis SQL adalah sebuah konsep
sesuai dengan situasi (bernilai TRUE), maka pengoperasian database terutama untuk
proses akan menyatakan konklusi. pemilihan, seleksi dan pemasukan data. Dan

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 3


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

dengan itu memungkinkan Gambar 5. Data Jenis Kecacatan pada Proses


pengoperasian data dikerjakan dengan mudah Induction Quenching Tempering (IQT)
secara otomatis. Kehandalan suatu sistem
database (DBMS) dapat diketahui dari cara Standarisasi yang ditetapkan perusahaan untuk
kerja optimizer-nya dalam menjalankan proses Hardness (HRC) pada proses IQT adalah 14,5
perintah-perintah SQL yang dibuat oleh user mm (batas bawah) dan 16 mm (batas atas).
maupun program-program aplikasinya.
Sebagai database server, MySQL dapat Pembuatan Tabel Failure Mode and Effect
dikatakan lebih unggul dibandingkan database Analysis (FMEA)
server lainnya dalam query data. Hal ini
terbukti untuk query yang dilakukan oleh FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)
single user, kecepatan query MySQL bisa digunakan untuk mengidentifikasi sumber-
sepuluh kali lebih cepat dari PostgreSQL dan sumber dan akar penyebab dari suatu masalah
lima kali lebih cepat dibandingkan Interbase. kualitas. Pembuatan tabel FMEA dimulai dari
penentuan jenis kegagalan, efek dari kegagalan
HASIL DAN PEMBAHASAN tersebut, penyebab dari kegagalan yang terjadi,
kontrol yang akan dilakukan, dan upaya
Pada penelitian ini, data historis yang penanggulangannya. Nilai Severity, Occurance
digunakan adalah data jenis kecacatan yang dan Detection diperoleh dari hasil branstorming
terjadi pada proses Induction Quenching dengan Production Manager dan Inspection
Tempering (IQT) dimulai dari bulan Januari Manager. Selanjutnya dilakukan perhitungan
2015 sampai dengan bulan Maret 2015. nilai RPN yang diperoleh dari hasil perkalian
Kemudian data jenis kecacatan tersebut nilai Severity, Occurance dan Detection. Tabel
terangkum dalam diagram yang dapat dilihat FMEA dapat dilihat pada Tabel 1.
pada Gambar 5.

Tabel 1. FMEA dengan Kelas Prioritas Penanganan Masalah


K
Efek yang
Jenis R e
N ditimbulkan dari Penyebab dari Kontrol yang Upaya
Jenis Kegagalan pada S O D P l
o Kegagalan pada Kegagalan Proses dilakukan penanggulangan
Proses N a
Proses
s
Raw Material Terdapat bagian Inspeksi yang
Incoming Melakukan Memperketat
tidak sesuai yang somplak, dilakukan pada
1 Raw 7 3 pengawasan pada 4 inspeksi pada Raw 84 E
spesifikasi dan retak dan Raw Material
Material Raw Material Material
rusak tergores tidak ketat
Cutting: Hasil Cutting Produk tidak Melakukan
Pisau potong yang Segera menggati
Pemotongan tidak rata dan dapat masuk preventive
2 4 digunakan tidak 6 pisau potong saat 4 96 E
Raw panjang tidak kedalam cetakan maintenance
tajam mendekati life time
Material sesuai standard (dies) secara berkala
Memperketat
Heating: Setting mesin Meningkatkan
Terjadi pengawasan operator
Perlakuan Produk mudah tidak sesuai interval
3 overheat 8 4 dan Setting awal pada 2 64 E
pemanasan retak dengan standar pengecekan mesin
(terlalu panas) mesin tidak sesuai
Material yang ditentukan Heating
dengan standar
Menentukan
Operator kurang Melakukan
jumlah minimal
Ketsuniku melakukan 4 pengawasan terhadap 2 56 E
Hammer: Tidak dapat pemukulan yang
(kontur produk pemukulan operator
4 Percetakan dilanjutkan pada 7 harus dilakukan
tidak sesuai
material proses berikutnya Material dari hasil Melakukan setting
standar)
Heating kurang 3 Dilakukan re-heating 2 awal pada mesin 42 E
panas heating sesuai

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 4


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

Tabel 1. FMEA dengan Kelas Prioritas Penanganan Masalah (Lanjutan)

Efek yang
N Jenis Kegagalan ditimbulkan Penyebab dari Kontrol yang Upaya Ke
Jenis S O D RPN
o pada Proses dari Kegagalan Kegagalan Proses dilakukan penanggulangan las
pada Proses
dengan standar
Melakukan
Posisi penempatan Melakukan
pengawasan
material pada dies 4 2 pengecekan pada 56 E
terhadap
tidak tepat posisi penempatan
operator
pada dies
Setting dies
Trimming: Menggati dies Melakukan
Nokizure (Hasil Pemangkasan trimming mesin
Pres produk trimming saat preventive
5 produk Trimming body tidak 8 tidak sesuai 5 2 80 E
dari hasil mendekati life maintenance
tidak center) sempurna dengan standar
Hammer time secara berkala
yang ditentukan
Heat Kekerasan produk
Produk mudah Kesalahan Memperketat
Treatment pada hasil HT 7 Melakukan
berkarat operator dalam pengawasan
6 perlakuan terlalu rendah 7 6 pengecekan 252 C
setting mesin Heat terhadap
pemanasan Produk hasil HT Produk mudah sebelum mesin on
7 Treatment operator
produk terlalu keras retak
Short Blazt:
Produk cepat Melakukan
proses Produk hasil Short Memperketat
berkarat dan Kelalaian operator pengecekan
menghilang Blazt tidak bersih pengawasan
7 memerlukan 2 dalam melakukan 4 1 inpoler,fan dan 8 E
kan kerak dan masih terhadap
waktu tambahan Short Blazt steel short blast
dari hasil terdapat kerak operator
untuk SB ulang secara berkala
proses HT
Magna: Operator tidak Memperketat
Produk mudah Memberikan
pengecekan Terdapat Crack teliti dalam pengawasan
8 patah pada saat 7 3 4 training pada 84 E
crack pada pada produk melakukan terhadap
proses Milling perator
produk pengecekan crack operator
Terdapat
penggumpalan Melakukan
Milling: Memastikan
cat setelah Insert milling mengawasan
proses Terdapat Scratch 5 5 Insert milling 2 50 E
dilakukan gompal terhadap life time
pemangkas tidak gompal
9 pencelupan ke tools
an body
dalam cat
besar dan
Produk mudah Segera Melakukan
body kecil Hasil milling tidak Terjadi perubahan
lepas pada saat 8 3 menggatikan jig 3 pengecekan jig 72 E
center dalam setting jig
asembly yang rusak secara berkala
Induction
Memerlukan Melakukan
Quenching Kesalahan Memastikan
waktu tambahan pengecekan mesin
Tempering operator dalam coil tidak rusak,
untuk me repair secara berkala (
(IQT): Case Dept tidak setting parameter cooling jacket
10 produk dan 8 7 8 cooling jacket, 448 A
perlakuan stabil mesin dan tidak kotor, dan
menghentikan selubel), dan
pemanasan terdapat coil yang solubel sesuai
proses memperpendek
pada bagian rusak standar
selanjutnya life time coil
tertentu
Pengecekan
dilakukan lebih
Tidak dapat Menentukan
Jarak antar hole Best Plate tidak ketat dan Best
dilanjutkan jumlah minimal
tidak sesuai 7 rata dan produk 5 Plate 3 105 D
pada proses pemukulan yang
standar terganjal dibersihkan
berikutnya harus dilakukan
setiap memulai
Horizontal proses
Boling: Melakukan Melakukan setting
11 Tidak bisa
Pembolong Terdapat hole Insert boring pengecekan awal pada mesin
dipasang shoe 4 5 2 40 E
an produk scratch terdapat gompal lebih ketat pada heating sesuai
plate
hasil boring dengan standar
Setelah
Melakukan Melakukan
dilakukan
Diameter hole Setting diameter pengecekan pengecekan pada
perakitan 8 5 3 120 D
terlalu besar hole terlalu besar lebih ketat pada posisi penempatan
produk, pin bisa
hasil boring pada dies
dilepas
Melakukan
Pemasangan pengecekan Mengganti drill
Diameter hole Terdapat gompal
baut menjadi 8 6 lebih ketat pada 3 jika mudah 144 D
terlalu besar pada drill
Drilling: kendur hasil diameter gompal
12 Pembolong drilling
an Produk Melakukan Melakukan total
Jarak antar hole Tidak bisa
Holder menjadi pengecekan jig (Melakukan
tidak sesuai dipasang shoe 7 5 3 105 D
kendur baut secara pengecekan
standar plate
berkala apakah antara

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 5


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

diameter drilling
sesuai standar)
Boaching:
Mur tidak dapat Melakukan
Proses Kesenteran hasil Melakukan
terpasang Jig bergeser dari pengecekan
13 pembuatan broaching tidak 5 3 pengecekan jig 2 30 E
dengan letak seharusnya kesenteran dengan
dudukan sesuai standar secara berkala
sempurna menggunakan mal
mur

Nilai RPN yang diperoleh untuk proses IQT setelah proses milling. Faktor lingkungan yang
adalah 448. Nilai RPN ini merupakan nilai RPN menyebabkan cacat case depth adalah lantai
tertinggi dan berada dalam interval kelas A produksi terlalu bising.
sehingga menjadi prioritas utama untuk
dilakukan penanganan. Perancangan Modeling Expert System
Perancangan Modeling Expert System
Fishbone Diagram dibutuhkan untuk menentukan lingkup expert
Fishbone Diagram merupakan konsep system (sistem pakar). Salah satu alat bantu
analisis sebab akibat yang dikembangkan oleh yang digunakan dalam perancangan modeling
Dr. Kaoru Ishikawa untuk mendeskripsikan sistem adalah diagram konteks, yaitu sebuah
suatu permasalahan dan penyebabnya dalam diagram sederhana yang menggambarkan
sebuah kerangka tulang ikan. Dari hasil hubungan antara entity luar, masukan dan
perhitungan RPN diketahui nilai RPN tertinggi keluaran dari sistem. Diagram konteks ini
terdapat pada proses IQT dengan jenis hanya menunjukkan antar muka utama sistem
kegagalan case depth. Nilai RPN pada jenis dengan lingkungannya. Pada diagram konteks
kegagalan proses tersebut sebesar 448 dengan digambarkan penjelasan mengenai sistem
interval kelas A. Berikut merupakan fishbone secara general, entitas-entitas yang merupakan
diagram untuk jenis kegagalan proses case bagian dari sistem dan proses atau aliran data
depth : yang mengalir dalam sistem dapat dilihat pada
Gambar 7 di bawah ini.

Gambar 6. Fishbone Diagram dengan Jenis


Kegagalan Case Depth

Berdasarkan Gambar 6. terlihat bahwa


faktor-faktor yang menyebabkan cacat case
depth adalah faktor manusia yang menyebabkan
cacat case depth adalah operator tidak teliti,
operator salah setting mesin dan operator kurang
Gambar 7. Diagram Konteks Sistem Pakar
dalam pengetahuan. Faktor mesin yang
Link PC 400 STR R
menyebabkan cacat case depth adalah terjadi
kerusakan pada coil, cooling jacket kotor dan
Expert System (Sistem Pakar)
solubel tidak sesuai standar. Faktor material
Sistem pakar adalah salah satu cabang
yang menyebabkan cacat case depth adalah
dari Artificial Intelligence (AI) yang membuat
terjadi cacat produk akibat penumpukan produk
penggunaan secara luas knowledge yang khusus

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 6


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

untuk penyelesaian masalah tingkat manusia Tahap akuisisi pengetahuan ini


yang pakar. Seorang pakar adalah orang yang dilakukan proses brainstorming dengan pakar
mempunyai keahlian dalam bidang tertentu, yang telah ditentukan. Pengetahuan-
yaitu pakar yang mempunyai knowledge atau pengetahuan yang telah diperoleh, kemudian
kemampuan khusus yang orang lain tidak akan disimpan ke dalam basis pengetahuan,
mengetahui atau mampu dalam bidang yang yang meliputi data pada Tabel 1. Untuk
dimilikinya. memudahkan dalam melakukan representasi
Suatu sistem dikatakan sistem pakar apabila pengetahuan, maka dilakukan pengkodean
memiliki ciri-ciri sebagai berikut pada Tabel 1 terhadap kegagalan proses, efek
(Kusumadewi, 2003): yang ditimbulkan, penyebab kegagalan proses
a. Terbatas pada domain keahlian tertentu. dan usulan penanggulangan. Pengkodean
b. Dapat memberikan penalaran untuk data- Tabel FMEA dapat dijelaskan sebagai berikut:
data yang tidak pasti. a. X1-X18 merupakan kode untuk jenis
c. Dapat mengemukakan rangkaian alasan- kegagalan pada proses.
alasan yang diberikannya dengan cara yang b. E1-E18 merupakan kode untuk efek yang
dapat dipahami. ditimbulkan dari kegagalan pada proses.
d. Berdasarkan pada kaidah atau rule tertentu c. Y1-Y19 merupakan kode untuk penyebab
e. Dirancang untuk dikembangkan sacara dari kegagalan pada proses.
bertahap. d. Z1-Z19 merupakan kode untuk upaya
f. Keluarannya atau output bersifat anjuran. penanggulangan yang dapat dilakukan
untuk mengatasi kegagalan proses.
Adapun banyak manfaat yang dapat diperoleh
dengan mengembangkan sistem pakar, antara 3. Representasi Pengetahuan
lain (Kusumadewi, 2003): Pengetahuan yang diperoleh dari
a. Masyarakat awam non-pakar dapat proses akuisisi sebelumnya harus
memanfaatkan keahlian di dalam bidang direpresentasikan dalam suatu format tertentu.
tertentu tanpa kesadaran langsung seorang Kaidah yang digunakan dalam
pakar. merepresentasikan pengetahuan dalam
b. Meningkatkan produktivitas kerja, yaitu penelitian ini adalah “IF” (premis) dan
bertambahnya efisiensi pekerjaan tertentu “THEN” (konklusi). Pada bagian IF dalam
serta hasil solusi kerja. sistem pakar untuk mengidentifikasikan
c. Penghematan waktu dalam menyelesaikan kegagalan proses produksi Link PC 400 Strong
masalah yang kompleks. R dikatakan sebagai efek, kegagalan, dan
d. Memberikan penyederhanaan solusi untuk penyebab, sedangkan THEN merupakan solusi
kasus-kasus yang kompleks dan berulang- upaya penanggulangan permasalahan pada
ulang. proses kegagalan.
e. Pengetahuan dari seorang pakar dapat
dikombinasikan tanpa ada batas waktu. 4. Mekanisme Inferensi
f. Memungkinkan penggabungan berbagai Mekanisme inferensi dilakukan untuk
bidang pengetahuan dari berbagai pakar mengarahkan kaidah, model dan fakta yang
untuk dikombinasikan. disimpan dalam basis pengetahuan sehingga
diperoleh suatu kesimpulan. Metode dalam
1. Identifikasi Masalah dan Pemilihan Pakar mekanisme inferensi yang digunakan adalah
Permasalahan pada proses pembuatan Forward Chaining, yang merupakan metode
Link PC 400 Strong R adalah pada proses inferensi yang melakukan penalaran dari suatu
Induction Quenching Tempering (IQT). Pakar masalah kepada solusinya. Jika klausa premis
yang dipilih pada penelitian ini adalah sesuai dengan situasi (bernilai TRUE), maka
Production Manager dan Inspection Manager. proses akan menyatakan konklusi. Forward
Sistem pakar ini ditujukan untuk admin quality Chaining mencari bagian IF terlebih dahulu.
control atau operator yang bertanggung jawab Setelah semua kondisi IF terpenuhi, aturan
atas setiap inpeksi dan proses produksi di lantai dipilih untuk mendapatkan kesimpulan.
produksi. Penelusuran pertama dilakukan pada efek yang
ditimbulkan dari kegagalan proses. Kemudian
2. Akuisisi Pengetahuan jenis kegagalan yang terjadi dan mencari

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 7


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

penyebab dari kegagalan yang terjadi sehingga Expert System dengan menggunakan software
didapat kesimpulan yang dicapai yaitu upaya PHP dan MySQL. Pada tahapan pembuatan
penanggulangan untuk mengatasi sistem pakar menggunakan software tersebut
permasalahan agar tidak terjadi lagi. pertama-tama dilakukan pembuatan database
Teknik pelacakan yang digunakan pada MySQL, kemudian membuat logika
dalam penelitian ini adalah Depth-first search pemrograman untuk membuat sistem pada
yaitu melakukan penelusuran kaidah secara software PHP dan MySQL tersebut bekerja.
mendalam dari simpul akar bergerak ke tingkat Database yang diperlukan adalah database
dalam yang berurutan. Teknik pelacakan ini efek yang ditimbulkan dari kegagalan pada
dapat dijelaskan pada Decision Tree. proses yang terjadi, database jenis kegagalan
Pelacakan dimulai dari node awal sampai yang terjadi pada proses, database penyebab
dengan pilihan pertanyaan berupa Yes dan No. dari kegagalan proses yang terjadi, dan
Jika memilih Yes, maka akan ditelusuri ke database upaya penanggulangan terhadap
semua cabang turunan sampai didapat kegagalan yang terjadi. Logika pemrograman
kesimpulan yang merupakan upaya yang dibuat pada software PHP dan MySQL
penanggulangan. Sedangkan jika memilih No, tersebut bertujuan untuk menyambungkan
maka akan beralih ke cabang berikutnya yang perintah pemrograman sehingga software PHP
juga akan ditelusuri semua cabang turunan dan MySQL dapat dijalankan.
sampai didapatkan kesimpulan upaya Dari keempat database yang telah
penanggulangan. Berikut dijelaskan Decision dibuat akan terbentuk keterkaitan antara
Tree untuk efek kegagalan pada proses database satu dengan database lainnya,
Induction Quenching Tempering. sehingga nantinya coding program akan
bekerja berdasarkan keterkaitan database-
IF (E12) AND (X12) AND (Y13) THEN (Z13) database tersebut. Keterkaitan antar database
IF produk memerlukan waktu tambahan untuk dapat dilihat pada Gambar 9.
me-repair produk dan menghentikan proses
Horizontal Boling, AND case depth tidak stabil
AND operator melakukan kesalahan dalam
setting parameter mesin dan terdapat koil yang
rusak THEN upaya penanggulangan yang
dilakukan adalah melakukan pengecekkan
mesin secara berkala dan memperpendek life
time coil. Jika terdapat jawaban NO maka akan
muncul belum ditemukan upaya
penanggulangan untuk jenis kegagalan proses
yang dialami.

Gambar 9. Keterkaitan Antar Database Pada


Sistem Pakar Link PC 400 Strong R

Setelah databse dibuat, dibutuhkan


pembuatan coding program untuk menjalankan
sistem pakar. Coding program dibuat dengan
menghubungkan data dari database ke koneksi
MySQL menggunakan software Notepad++.
Coding program yang pertama kali dibuat
adalah koneksi.php, kode tersebut berguna
Gambar 8. Decision Tree untuk Efek untuk menghubungkan database dengan server.
Kegagalan pada proses IQT Selanjutnya dilakukan pembuatan coding
program index, yaitu coding program yang
Pengolahan data yang terakhir digunakan untuk halaman utama dari sistem
dilakukan yaitu implementasi rancangan pakar yang dirancang. Saat coding program

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 8


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

index dan koneksi telah selesai, maka


selanjutnya membuat coding program untuk
tabel database.
Dalam proses pencarian dibutuhkan
Rule yang berguna sebagai representasi
pengetahuan. Aturan rule yang digunakan
adalah IF-THEN. Rule IF pada sistem pakar
Link PC 400 Strong R adalah tabel efek
kegagalan, tabel kegagalan jenis proses, dan
tabel penyebab, rule ini diubah menjadi bentuk
pertanyaan. Pada saat memasukan jenis
kegagalan dan penyebab, apabila seluruh
jawaban YES, maka upaya penanggulangan
akan keluar dan dapat memberikan solusi
kepada permasalahaan yang ada. Apabila jenis
kegagalan maupun penyebab memiliki
jawaban NO, maka belum terdapat upaya Gambar 11. Tampilan Pilihan Efek
penanggulangannya, dikarenakan kegagalan
tersebut belum teridentifikasi.
Tahap selanjutnya yang dilakukan
adalah menentukan upaya penanggulangan
dari permasalahan yang terjadi. Tahap awal
yang dilakukan sama seperti pembuatan coding
program efek, kegagalan, dan penyebab, yaitu
menentukan tabel yang dipilih untuk
dimasukan kedalam program upaya
penanggulangan. Input yang dibutuhkan untuk
menentukan solusi upaya penanggulangan
berasal dari tabel efek, tabel kegagalan, dan
tabel penyebab. Output dari program ini adalah Gambar 12. Tampilan Kegagalan Proses
solusi upaya penanggulangan terhadap
kegagalan yang terjadi.

Gambar 13. Tampilan Penyebab Kegagalan

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil pengolahan data
yang telah dilakukan, kesimpulan yang
diperoleh dari hasil penelitian adalah :
Gambar 10. Tampilan Awal Program Berdasarkan hasil tabel FMEA jenis kegagalan
pada proses yang memiliki nilai tertinggi
adalah proses IQT dengan nilai RPN sebesar
448. Jenis kegagalan pada proses ini

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 9


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016
p-ISSN : 2407 – 1846
TI - 007 e-ISSN : 2460 – 8416
Website : jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek

diakibatkan oleh case depth yang tidak stabil Polomarto, Derry Satrio. Setyawan, Budhiman.
dan penyebab dari kegagalan pada proses ini Widjaja, Stefanus Budy. 2013.
adalah kesalahan operator dalam setting Implementasi Pengendalian Kualitas
parameter mesin dan terdapat koil yang rusak. pada Proses Produksi Karton Kotak
Metode dalam mekanisme inferensi Expert Makan Duplex 22X22X8 cm UD Wing
System yang digunakan adalah Forward On Surabaya. Surabaya, Jurnal Ilmiah
Chaining. Teknik pelacakan yang digunakan Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.
adalah Depth-first search yaitu melakukan 2 No.1.
penelusuran kaidah secara mendalam dari .Rusmiati, Emi. 2011. Penerapan Fuzzy FMEA
simpul akar bergerak ke tingkat dalam yang dalam Mengidentifikasi Kegagalan
berurutan. Teknik pelacakan ini dijelaskan pada Proses Produksi di PT. Daesol
pada Decision Tree. Pembuatan Expert System Indonesia. Jakarta, Program Studi
menggunakan bantuan software PHP dan Teknik dan Manajemen Industri,
MySQL. Expert system yang dibuat belum Sekolah Tinggi Manajemen Industri.
diterapkan oleh perusahaan. Santoso, Leo Wilyanto. Noertjahyana,
Agustinus. Leonard, Ivan. 2012.
DAFTAR PUSTAKA Aplikasi Sistem Pakar Berbasis Web
Ahmad. Soenandi, Iwan. Dwiantoro, Yudo. untuk Mendiagnosa Awal Penyakit
2014. Perbaikan Kualitas Fuel Tank Jantung. Surabaya, Laporan penelitian
pada Divisi Welding dengan Metode No. 132/Pen/Informatika/II/2012
Six Sigma pada PT. XYZ. Jakarta, Fakultas Teknologi Industri,
Jurnal Ilmiah Teknik Industri Vol. 2 Universitas Kristen Petra.
No. 3 174-183, Program Studi Teknik Widodo, Arsani. Al’amin, Adil. Artina,
Industri Universitas Kristen Krida Nyimas. Mardiani. 2013. Penerapan
Wacana Jakarta. Metode Forward Chaining pada
D. Casadei, G. Serra, K. Tani. 2007. Aplikasi Sistem Pakar Berbasis Web
Implementation of a direct control untuk Diagnosa Gangguan
algorithm for induction motors based Ketidakseimbangan Asam/Basa pada
on discrete space vector modulation. Manusia. Jakarta, Teknik Informatika,
IEEE Transactions on Power STMIK GI MDP.
Electronics, 15(4), hlm. 769-777,. W.K. Chen. 1993. Linear Networks and
Kusumadewi, S. 2003. Artificial Intelligence Systems. Belmont, CA: Wadsworth, ,
(Teknik dan Aplikasinya). Yogyakarta: hlm. 123-135
Graha Ilmu. Yudhanto, Yudha. Purbayu, Agus. 2014. Toko
Nugroho, Bunafit. 2014. Aplikasi Sistem Pakar Online dengan PHP dan MySQL.
dengan PHP dan Editor Jakarta : PT Elex Media Komputindo
Dreamweaver. Yogyakarta : Gava
Media

Seminar Nasional Sains dan Teknologi 2016 10


Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta , 8 November 2016