Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

PENGUJIAN ZAT DISINFEKTAN (LARUTAN ALKOHOL) DENGAN


KERTAS CAKRAM
Diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Mikrobiologi

Dosen Pengampu:
Dosen 1 : Milla Listiawati, M.Pd
Dosen 2 : Ukit, M.Si
Dosen 3 : Tri Wahyu Agustina, M.Pd

Asisten Praktikum :
Wiwin Widarti

Oleh :
Shenny Arianthy 1152060097
Siti Rohmah Fadilah 1152060107
Yuli Sopianti 1152060130

KELOMPOK 7
PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI SEMESTER 5C
JURUSAN MIPA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2017
Judul Praktikum : Pengujian Zat Disinfektan (Larutan Alkohol) dengan Kertas Cakram

Tanggal Praktikum : Rabu, 6 Desember 2017

Tujuan Praktikum :

1. Mampu membuat pernyataan penelitian (rumusan masalah) mengenai perbedaan


penggunaan berbagai larutan alkohol terhadap zona hambat bakteri
2. Mampu menjawab pertanyaan penelitian (hipotesis) mengenai perbedaan penggunaan
berbagai larutan alkohol terhadap zona hambat bakteri
3. Mampu menentukan variabel bebas dan variabel terikat mengenai berbagai larutan
alkohol terhadap zona hambat bakteri
4. Mampu melakukan pengujian berbagai larutan alkohol
5. Mampu mengkomunikasikan dalam bentuk gambar cara-cara pengujian berbagai larutan
alkohol dan hasil praktikum dengan tabel pengamatan
6. Mampu mengukur diameter zona hambat bakteri menggunakan kertas hambat dan
mengkomunikasikan dalam bentuk diagram
7. Mampu mencari dua persamaan dan dua perbedaan berdasarkan cara-cara kerja pengujian
berbagai larutan alkohol dan hasil pengamatan
8. Mampu menginterpretasi (membuat kesimpulan) dari data pengamatan

Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh berbagai kadar larutan alkohol terhadap zona hambat bakteri ?

Hipotesis
H0 = Tidak terdapat pengaruh larutan alkohol terhadap zona hambat bakteri
H1 = Terdapat pengaruh larutan alkohol terhadap zona hambat bakteri

Variabel Penelitian
a. Variabel bebas : alkohol 30% , alkohol 50 %, alkohol 70% dan alkohol 95%
b. Variabel terikat : disinfektan menghambat pertumbuhan bakteri
A. LATAR BELAKANG

Disinfektan merupakan proses yang mematikan semua mikroorganisme patogen dengan


cara kimiawi atau fisik. Disinfeksi mempunyai daya kerja terhadap vegetatif dari
mikroorganisme, tetapi belum tentu mematikan sporanya, sedangkan antiseptik merupakan
proses yang mencakup inakvikasi atau mematikan mikroorganisme dengan cara kimiawi
(Lay 1990: 246).

Komponen-komponen disinfektan terdiri dari garam atau basa yang kuat dengan
komponen-komponen ammonium yang terdiri dari empat bagian, adanya unsur radikal dalam
gram atau basa tersebut, radikal merupakan golongan alifat dan asam sulfat. Bakteri yang
lebih muda kurang daya tahannya terhadap disinfektan jika dibandingkan bakteri yang luar
yang memberikan hasil zona hambat yang terbentuk. Hal ini juga sesuai dengan sifat dari
dinding sel dari bakteri (Dwidjoseputro 2008: 183).

Struktur dinding bakteri gram positif adalah tebal dan berlapis tunggal dengan kandungan
peptidoglikan yang tinggi serta lebih resisten terhadap gangguan fisik maupun kimia
dibandingkan dengan struktur dinding sel dari kedua jenis bakteri ini jelas berbeda karena
bakteri Gram negatif. Permeabilitas dinding sel dari jenis bakteri ini jelas berbeda karena
bakteri Gram negatif mengandung peptidoglikan lebih sedikit sehingga memiliki pori-pori
yang besar dibanding Gram positif sehingga bakteri gram positif lebih rentan terhadap
antibiotik. (Lehninger, 1982 : 93).

Pernyataan Zuhud et al. (2001) bahwa bakteri Gram negatif mempunyai ketahanan yang
lebih baik terhadap senyawa antimikroba dibandingkan bakteri gram positif. Campbell et al.
(1996) menyatakan bahwa dinding sel gram negatif mengandung lipopolisakarida yang
membantu melindungi bakteri dari antibiotik dengan cara menghalangi masuknya antibiotik.
Dalam jurnal (Fitri, 2013 :6).

Kelompok utama desinfektan adalah fenol, alkohol, aldehid, halogen, logam berat,
detergen, dan kemosterilisator gas. Cara kerja zat-zat kimia dalam mematikan atau
menghambat pertumbuhan mikroorganisme berbeda-beda antara lain dengan: merusak
dinding sel, mengubah permeabilitas sel, mengubah molekul protein dan asam amino yang
dimiliki mikroorganisme, menghambat kerja enzim, menghambat sintesis asam nukleat dan
protein, serta sebagai antimetabolit (Waluyo,2005: 79).

Alkohol 70% merupakan cairan yang mengandung 70% etil alkohol (CH3CH2OH) dan
30% air. Etil alkohol (etanol) membunuh bakteri melalui 2 cara, yakni denaturasi protein dan
pelarutan membran lemak dan juga etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk
mendesinfeksi kulit (Susastyo, 2017 : 178).

Alkohol beraksi dengan cara mendenaturasi protein dengan cara dehidrasi dan
melarutkan lemak sehingga membran sel rusak dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh
alkohol. Dengan cara mengoleskan alkohol, mungkin belum didapatkan hasil yang efektif
untuk membunuh kuman. Alkohol berfungsi sebagai disinfektan dengan cara melarutkan
lipid pada membran sel mikroorganisme dan juga mendenaturasi protein yang dimiliki oleh
mikroorganisme tersebut (Pratiwi, 2008 : 89).

Daya bunuh bakteri dalam suatu desinfektan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
konsentrasi, waktu, suhu, dan keadaan medium sekeliling. Konsentrasi kadar yang digunakan
akan bergantung kepada bahan yang akan didesinfeksi dan pada organisme yang akan
dihancurkan, waktu yang diperlukan mungkin dipengaruhi oleh banyak variabel, Suhu yang
semakin tinggi akan mempercepat laju reaksi kimia, dan keadaan medium sekeliling dimana
pH medium dan adanya benda asing mungkin sangat mempengaruhi proses disinfeksi
(Aidilfiet,1994 : 80).

Metode difusi cakram prinsip kerjanya adalah bahan uji dijenuhkan ke dalam kertas
cakram (cakram kertas). Cakram kertas yang mengandung bahan tertentu ditanam pada
media perbenihan agar padat yang telah dicampur dengan mikroba yang diuji, kemudian
diinkubasikan 350C selama 18-24 jam. Area (zona) jernih disekitar cakram kertas diamati
untuk menunjukkan ada tidaknya pertumbuhan mikroba. Selama inkubasi, bahan uji berdifusi
dari kertas cakram ke dalam agar-agar itu, sebuah zona inhibisi dengan demikian akan
terbentuk. Diameter zona sebanding dengan jumlah bahan uji yang ditambahkan ke kertas
cakram. Metode ini secara rutin digunakan untuk menguji sensitivitas antibiotik untuk bakteri
patogen (Novillia, 2008: 67).
Kelebihan metode difusi cakram adalah mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan
relatif khusus dan mudah dilakukan. Sedangkan kekurangannya ukuran zona bening yang
terbentuk tergantung oleh kondisi inkubasi, inoculum, fredifusi, dan freinkubasi serta
keteblan medium (Pelczar dan Chan 1996: 140).

B. ALAT DAN BAHAN

No. Alat Jumlah Bahan Jumlah


1. Pipet 1 Inokulasi bakteri 1
Sarcina lutea
(metode gores)
2. Pingset 1 Inokulasi bakteri 1
Bacillus subtilis
(metode tuang)
3. Cawan petri 2 Kertas cakram 8
4. Silk (perekat) secukupnya Kertas label 8
5. Alkohol 30 % Secukupnya
6. Alkohol 50% Secukupnya
7. Alkohol 70% Secukupnya
8. Alkohol 95 % secukupnya
C. LANGKAH KERJA

Siapkan inokulasi bakteri Sarcina lutea dan Bacillus subtilis pada NA cawan dengan
streak kontinyu

Kertas cakram steril ditetesi dengan alkohol yang berbeda yaitu kadar 30%, 50%, 70%
dan 95% dengan menggunakan pipet

Kertas cakram langsung diletakan di atas medium agar pada cawan petri yang sudah
berisi bakteri hasil inokulasi

Tekan kertas cakram dengan pinset agar kertas cakram benar-benar menempel pada
medium agar

Tutup kembali cawan petri dan beri label pada tiap kertas cakram yang telah diberi
alkoholdiatas penutup cawan petri

Gunakan silk untuk menutup sisi dari cawan petri agar tidak ada udara yang masuk

Bungkus cawan putri dengan menggunakan kertas dengan lipatan penutup agar cawan
etri benar-benar tertutupi

Inkubasi selama 48 jam pada suhu 37˚C untuk bakter iSarcina lutea dengan metode gores

Zona hambat yang terbentuk diukur diameternya, dan bandingkan daya kerja berbagai
desinfektan
D. Tabel Hasil Pengamatan

Tabel 1. Pengujian Zat Disinfektan

No Nama Gambar Gambar Literatur Metode Alkohol Keterangan


Bakteri Dokumentasi
30% 50% 70% 95%

1. Sarcina Gores -    Klasifikasi


lutea
Kingdom : Bakteri
Phylum : Firmicutes
Class : Clostridia
Ordo : Clostridiales
Famili : Clostridiaceae
https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q Genus : Sarcina
Spesies : Sarcina sp
Sumber :
http://septiguswara.blogs
pot.co.id/2012/02/pembia
kkanserratia-marcescens-
dan.html?=1
https://upload.wikimedia.org/wi Diakses: 16 Desember
kipedia/commons/thumb/c/c2Ba
2017 pukul pukul 18.30
cterial_lawn_01.jpg
diakses : 17 Desember 2017 WIB
pukul 11:08 WIB
2. Bacillus Tuang - -   Klasifikasi
subtilis
Kingdom :Bacteria
Phylum :Firmicutes
Class :Bacilli
Ordo :Bacillales
Family :Bacillaceae
https://encrypted-
tbn0.gstatic.com/images?q= Genus :Bacillus
Species : Bacillus
subtilis
Sumber :
https://googleweblight.co
m/?lite_ur=https://id.m.w
ikipedia.org/wiki
https://i2- Diakses: 16 Desember
proud.mirror.co.uk/incoming/ 2017 pukul pukul 18.30
article4937482.ece/ALTERN WIB
ATES/s615/Petri-dish-with-a-
bacterial-culture-and-
numerous-antibiotic-disks-
with-zones-of-inhibiton.jpg
Diakses : 17 Desember 2017
pukul 11:22 WIB
Tabel 2. Hasil Pengaruh Disinfektan (Alkohol) terhadap Bakteri Sarcina lutea

No. Nama Bakteri Diameter Zona Luas Zona Parameter Zona


Hambat Bening Hambat
1. Sarcina lutea 7,8 cm 4,89 cm² 50%
9,8 cm 7,7 cm² 70%
14,78 cm 16,6 cm² 95%

Tabel 3. Hasil Pengaruh Disinfektan (Alkohol) terhadap Bakteri Bacillus subtilis

No. Nama Bakteri Diameter Zona Luas Zona Parameter Zona


Hambat Bening Hambat
1. Bacillus 6,90 cm 3,79 cm2 70%
subtilis 7,8 cm 4,89 cm2 95%

Diagram 1. Diameter zona hambat dan luas zona bening bakteri Sarcina lutea

Diagram Diameter Diagram Luas Zona


Zona Hambat pada Bening Bakteri
Bakteri Sarcina lutea Sarcina lutea

30% 30%

50% 50%

70% 70%

95% 95%
Diagram 2. Diameter zona hambat dan luas zona bening bakteri Bacillus subtilis

Diagram Diameter Diagram Luas Zona


Zona Hambat pada Bening bakteri Bacillus
Bakteri Bacillus subtilis subtilis

30%
30%
50%
50%
70%
70%
90%
95%

E. PEMBAHASAN

Penentuan kepekaan bakteri patogen terhadap antimikroba dapat dilakukan dengan


salah satu dari dua metode pokok yakni dilusi atau difusi. Penting sekali untuk menggunakan
metode standar untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi aktivitas antimikroba
(Jawetz et al., 2005). Praktikum ini menggunakan metode difusi agar , dimana kertas cakram
(kertas saring) berisi sejumlah obat tertentu ditempatkan pada medium padat NA yang
sebelumnya telah diinokulasi. Obat yang dimaksud adalah desinfektan yang memiliki
pengaruh pada pertumbuhan bakteri di sekitar kertas cakram tersebut.
Adapun ciri-ciri disinfektan yang ideal adalah harus bersifat mikrobial, stabil, mudah
homogen, tidak beracun pada manusia, aktif pada suhu kamar, tidak menimbulkan karat,
dapat menghilangkan bau, bersifat sebagai detergen, tidak mudah bereaksi dengan tanah
organik, harganya harus lebih murah dan terjangkau, serta kemampuan untuk menembus
kelarutan. Jenis disinfektan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu alkohol.
Alkohol sendiri merupakan suatu senyawa organik-organik yang tersusun dari atom C, H
dan O dengan rumus CnH2 + OH. Ciri khas alkohol yaitu terdapatnya gugus –OH pada rantai
karbon. Rantai karbon dapat berupa gugus alkil jenuh maupun tidak jenuh, gugus alkil
tersubtitusi dan dapat pula terikat pada rantai siklik. Selain alkohol dengan satu gugus –OH
pada rantai karbon. Rantai karbon dapat berupa gugus alkil jenuh maupun tidak jenuh, gugus
alkil tersubtitusi dan dapat pula terikat pada rantai siklik. Selain alkohol dengan satu gugus –
OH dikenal pula alkohol yang memiliki gugus –OH lebih dari satu. Alkohol yang memiliki
satu gugus-OH disebut alkohol monohodroksi, alkohol dengan dua gugus –OH disebut
alkohol dihidroksi dan seterusnya (Fitri, 2013 : 7).

Dalam kinerjanya alkohol merupakan suatu bahan yang dapat merusak membran sel
bakteri serta dapat bertindak pada protein sel atau pada gen yang khas yang berakibat pada
kematian atau mutasi pada bakteri tersebut. Menurut Jawetz et all (2005: 78) menyatakan
bahwa setelah diinkubasi, diameter zona hambat sekitar cakram yang dipergunakan mengukur
kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi beberapa faktor fisik
dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya sifat medium dan kemampuan
difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat). Meskipun demikian, standardisasi faktor-faktor
tersebut memungkinkan melakukan uji kepekaan dengan baik. Praktikum desinfektan ini
menggunakan dua bakteri yaitu Sarcina lutea dan bakteri Bacillus sp.

1. Sarcina lutea
Sarcina lutea merupakan bakteri coccus yang bergerombol membentuk kubus.
Terdapat dalam bentuk tunggal atau berpasangan dalam rantai paket atau bergerombol.
Sarcina adalah genus dari bakteri Gram-positif cocci bakteri dalam keluarga Clostridiaceae.
Sarcina berbentuk bulat terdiri dari 8 sel yang tersusun dalam bentuk kubus sebagai hasil
pembelahan sel ke 3 arah. Berbagai anggota dari genus ini terdapat pada tubuh manusia dan
dapat ditemukan di kulit dan usus besar (Gerrard, 1931 : 87). Adapun sifat dari bakteri
Sarcina lutea ini adalah :
a. Bersifat nonmotil
b. Bersifat heterotrofik
c. Habitat di tanah, air tawar , kulit, dan selaput lendir pada binatang berdarah panas
termasuk manusia
d. Bersifat patogen
Berikut adalah klasifikasi dari bakteri Sarcina lutea :
Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Kelas : Clostridia
Ordo : Clostridiales
Famili : Clostridiaceae
Genus : Sarcina
Spesies : Sarcina lutea

Pengujian zona hambat pada bakteri Sarcina lutea dilakukan dengan menggunakan
metode gores, dimana inokulasi yang sebelumnya dilakukan dengan menggunakan jarum
ose sebagai alat bantu penanaman bakterinya. Proses pengamatan zona hambat yang
dihasilkan dilakukan setelah 48 jam , dan zona hambat yang terbentuk ditandai dengan
adanya zona bening disekitar kertas cakram yang ditempelkan pada medium agar.

Zona hambat yang terbentuk di sekitar kertas cakram adalah dengan kadar alkohol
50%, 70% dan 95%. Bakteri Sarcina lutea, pada persen penghambatan 50% didapat
diameter zona hambat 7,8 cm serta luas zona beningnya 4,89 cm2. Hal ini menunjukkan
bahwa dengan alkohol 50% aktivitas bakteri masih bisa dikatakan belum begitu terhambat
karena bakteri Sarcina lutea ini memiliki konsentrasi antimikroba yang tinggi untuk
menghambat pertumbuhannya, jadi wajar saja apabila tidak terbentuknya zona bening di
persen penghambatan 30%. Selanjutnya pada persen penghambatan 50% didapat diameter
zona hambat sebesar 9,8 cm dan luas zona beningnya 7,7 cm2. Untuk persentase
penghambatan 95% didapat diameter 14,78 cm dan luas zona beningnya sebesar 16,6 cm2.
Hal tersebut menunjukkan dengan alkohol 95% aktivitas bakteri sudah mulai terhambat
dengan terbentuknya zona bening yang lebih besar dari persen penghambat yang lain, jadi
konsentrasi antimikroba dalam alkohol 95% dapat dikatakan efektif dalam menghambat
pertumbuhan bakteri.
Zona hambat yang terbentuk baik itu di persen penghambatan 50%, 70% dan 95%
dapat dikatakan memberikan efek yang cukup baik apabila dilihat dari diameter zona bening
yang terbentuk . Hal ini dikarenakan bakteri bersifat sensitif atau rentan terhadap alkohol,
sehingga alkohol efektif membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dan aktivitas
bakteri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Waluyo (2004: 76) yang menyatakan bahwa
alkohol sering digunakan sebagai zat kimia yang efektif dalam membasmi mikroba
terkecuali pada jenis mikroba yang memiliki spora sehingga ia dapat bertahan dan dapat
digunakan untuk sterilisasi dan desinfeksi. Selain itu alkohol dapat mendenaturasi protein
dengan jalan dehidrasi dan juga sebagai pelarut lemak yang dapat mendegradasi bagian
lemak pada membran sel sehingga mengalami kerusakan dan enzim akan dimatikan oleh
alkohol. Menurut Gerrad (1971 : 88) menyatakan bahwa kemampuan alkohol mendenaturasi
protein terjadi karena alkohol dapat memutus ikatan hidrogen antar gugus hidroksil.
Pelipatan-pelipatan denaturasi protein menyebabkan enzim-enzim dan protein fungsional
tidak dapat bekerja, sehingga metabolisme tidak terjadi dan bakteri mati.

2. Bacillus sp
Bacillus adalah salah satu genus bakteri yang berbentuk batang dan merupakan anggota
dari divisi Firmicutes. Bacillus sp merupakan bakteri yang bersifat aerob obligat atau
fakultatif, dan positif terhadap uji enzim katalase (Novilia, 2008: 68) . Bakteri
Bacillus subtilis mempunyai sifat:
a. Mampu tumbuh pada suhu lebih dari 50 oC dan suhu kurang dari 5 oC,
b. Mampu bertahan terhadap pasteurisasi,
c. Mampu tumbuh pada konsentrasi garam tinggi (>10%),
d. Mampu menghasilkan spora dan
e. Mempunyai daya proteolitik yang tinggi dibandingkan mikroba lainnya.
Bacillus sp secara alami terdapat dimana-mana, dan termasuk spesies yang hidup bebas
atau bersifat patogen. Beberapa spesies Bacillus sp menghasilkan enzim ekstraseluler
seperti protease, lipase, amilase, dan selulase yang bisa membantu pencernaan dalam tubuh
hewan (Lay, 1994 : 56). Berikut adalah klasifikasi dari bakteri Bacillus subtilis :

Kingdom : Bacteria
Phylum : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Order :Bacillales
Family : Bacillaceae
Genus : Bacillus
Species : Bacillus subtilis

Pengujian zona hambat pada bakteri Bacillus subtilis dilakukan dengan


menggunakan metode tuang , dimana inokulasi yang sebelumnya dilakukan tidak dengan
menggunakan jarum ose sebagai alat bantu penanaman bakterinya. Proses pengamatan zona
hambat yang dihasilkan dapat diidentifikasi pada hari ke-5 setelah proses penempelan kertas
cakram. Hal ini dikarenakan zona hambat yang terbentuk baru terlihat pada hari kelima dan
zona hambat yang dihasilkannya pun tidak begitu besar. Zona hambat yang ada terlihat di
sekitar kertas cakram dengan kadar alkohol 70% dan 95%. Bakteri Bacillus subtilis, pada
persen penghambatan 70% didapat diameter zona hambat 6,90 cm serta luas zona beningnya
3,79 cm2. Selanjutnya pada persen penghambatan 95% didapat diameter zona hambat 7,8
cm dan luas zona beningnya sebesar 4,89 cm2. Dari hasil uji hambat terhadap bakteri
Bacillus subtilis ini dapat dikatakan kurang efektif bila dilihat dari zona bening yang
dihasilkan dari hasil reaksi alkohol terhadap pertumbuhan bakteri. Padahal seharusnya
dengan disinfektan alkohol ini dapat membentuk zona bening yang besar sebagai media
penghambat bakteri Bacillus subtilis pada persen penghambatan 70% dan 95%.

Alasan dari kecilnya zona hambat yang terbentuk dikarenakan beberapa faktor yang
mempengaruhinya diantaranya:

a. Pada saat pemberian desinfektan berupa alkohol tidak langsung dimasukan ke cawan
petri melainkan terdapat jeda waktu dimana kertas cakram didiamkan di area terbuka
sehingga menyebabkan menguapnya alkohol ke udara, karena pada dasarnya alkohol itu
memiliki sifat mudah menguap.
b. Bakteri Bacillus subtilis ini termasuk pada bakteri yang dapat membentuk endospora.
Kaitannya dengan desinfektan yang digunakan yaitu menurut Waluyo (2004 :77)
menyatakan bahwa desinfektan golongan alkohol umumnya tidak berfungsi efektif untuk
mematikan bakteri berspora serta kurang berfungsi efektif bagi virus non-lipid.
c. Setelah cawan petri ditutup dengan penutupnya, cawan tidak langsung dibalut oleh silk
(perekat) yang dapat meminimalisir stabilnya temperature untuk terus meningkat. Karena
pada dasarnya untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri oleh bahan kimia
akan meningkat dengan suatu peningkatan temperature.

F. PERTANYAAN DISKUSI
1. Berdasarkan hasil pengamatan, perubahan apakah yang terjadi pada sekitar kertas cakram
? Jelaskan!
Jawab :
Terjadi suatu perubahan seperti terjadinya pembentukan zona bening yang
membentuk suatu lingkaran disekitar kertas cakram. Zona bening tersebut diidentifikasi
sebagai hasil reaksi alkohol yang terkandung di dalam kertas cakram yang dapat
menghambat pertumbuhanan bakteri.
2. Menurut saudara, apakah yang dimaksud dengan desinfektan ?
Jawab :
Desinfektan adalah suatu unsur kimia yang digunakan untuk memastikan jasad
renik (bakteri) di permukaan tidak memasuki zona hambat atau zona beracun karena
pertumbuhan dan aktivitasnya terhambat.
3. Berdasarkan hasil pengamatan dan gambar diagram, beberapa laturan alkohol yang
digunakan dalam penelitian tersebut mankaah yang paling baik kemampuan
desinfektannya ? Apakah indikator variabelnya ? Jelaskan!
Jawab :
Berdasarkan hasil pengamatan alkohol yang paling baik digunakan yaitu alkohol
dengan kadar 95%. Hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya diameter zona hambat yang
paling besar bila dibandingkan dengan zona hambat yang terbentuk pada kertas cakram
dengan kadar alkohol yang lain. Untuk indikator variabelnya yaitu dengan kafar alkohol
yang tinggi akan menghasilkan zona hambat yang baik.
4. Berikan 2 persamaan dan 2 perbedaan berdasarkan cara-cara kerja pengujian desinfektan
dan hasil pengamatannya !
Jawab :
Untuk persamaanya yaitu sama-sama menggunakan medium agar NA dan sama-
sama menggunakan kertas cakram yang terkandung alkohol dengan kadar yang berbeda.
Adapun perbedaanya yaitu perbedaan bakteri untuk cawan 1 menggunakan bakteri
Sarcina lutea dan cawan 2 menggunakan bakteri Bacillus sp serta perbedaanya terletak
pada pembentukan zona bening pada sekitap kertas cakram

G. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh kadar alkohol terhadap zona hambat bakteri. Persen penghambatan yang
paling efektif yaitu pada alkohol 95%, persen penghambat yang kurang efektif yaitu pada
alkohol 50% serta persen penghambat yang tidak berpengaruh dalam menghambat
pertumbuhan bakteri yaitu pada alkohol 30%. Keefektifan suatu disinfektan dilihat dari reaksi
yang dihasilkan yaitu berupa zona bening yang terbentuk dari diameter zona hambat maupun
dari luas zona bening. Untuk membandingkan kekuatan disinfektan dalam menghambat
pertumbuhan bakteri dapat digunakan kertas cakram.

H. DAFTAR PUSTAKA
Aidilfiet, Chatim dan Suharto, 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta:
Binarupa Aksara

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Malang: Penerbit Djambatan


Fitri, Lenni. 2013. Kemampuan Daya Hambat Beberapa Macam Sabun Antiseptik
terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Jurnal
Farmasi. Vol.1 No.1
Gerrard , R.W dan Falk SI .1931. Observations On The Metabolism Of Sarcina Lutea.
Chicago: Penerbit Departments of Physiology and of Hygiene and Bacteriology.

Jawetz, G., Melnick, J. L., dan Adelberg, E. A. 1991, Mikrobiologi untuk Profesi
Kesehatan, Jakarta, EGC.
Lay, Bibiana. W.1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta : Rajawali Pers.
Novilia, 2008. Artikel Ilmiah Penelitian Mikroba dan Uji Resistensi. Gramedi: Jakarta.
Pelczar, Michael J, 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI-Press : Jakarta.

Pratiwi, Sylvia. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Bandung : Erlangga

Susastyo, jojok. 2016. Perbedaan Pengaruh Pengolesan Dan Perendaman Alkohol 70%
Terhadap Penurunan Angka Hitung Kuman Pada Alat Kedokteran Gigi. Junal
Vokasi Kesehatan. Vol 2 No 2 hal 160-164.

Waluyo, Lud. 2005. Mikrobiologi Lingkungan. Universitas Muhammadiyah Malang :


Malang