Anda di halaman 1dari 5

I.

PENGERTIAN ISLAM BERKEMAJUAN


Dari segi bahasa (etimologis), semua sekte telah meng-iya-kan bahwa Islam
memunyai arti selamat, damai, sejahtera, dan berserah diri. Berasal dari kata (bahasa)
Arab aslama – yuslimu – aslim – islaman - taslimatan), Dalam bentuk lain disebut
Silmun atau salam dan taslim, artinya keselamatan, kedamaian, kesejahteraan,
kepatuhan, dan penyerahan diri kepada yang di-Tuhankan. Sedangkan dari segi
terminologis (disiplin ilmu), para Ulama dari berbagai ormas dan latar belakang
keilmuannya berbeda-beda dalam merumuskan arti dan atau definisi Islam tersebut.
Namun, dapat diyakini tidak ada perbedaan dalam dan dari segi fungsi Islam, yaitu
sebagai agama yang menyelamatkan siapa saja yang memeluknya secara taslim dan
taslimatan yakni Islam yang se-Islam-Islamnya.
Secara terminologis (ta’rif Islam menurut Muhammadiyah) yaitu seperti yang tertera
dalam buku atau kitab Himpunan Putusan Tarjih (selanjutnya disebut HPT): Agama
yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. ialah apa yang diturunkan
Allah di dalam al-Qur’an dan yang tersebut dalam Sunnah yang shahih, berupa
perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di
dunia dan akhirat. Ta’rif atau definisi ini merupakan definisi khusus, dalam arti definisi
(Islam) yang tertera dalam HPT yang berfungsi sebagai panduan dalam beribadah bagi
keluarga Muhammadiyah.
Sedangkan istilah berkemajuan, dalam khazanah Kemuhammadiyahan dipetik dari
ungkapan K.H. Ahmad Dahlan begini: Dadijo Kjahi sing kemadjoean, lan odjo kesel-
kesel anggonmoe njamboet gawe kanggo Moehammadijah. Saat ini, tepatnya sejak pada
penghujung abad ke-1 hinga awal abad ke-2 Muhammadiyah, istilah berkemajuan yang
bermakna pembaharuan atau tajdid itu digemakan kembali. Para elite Muhammadiyah,
mulai dari M. Amien Rais, A. Syafii Maarif, M. Din Syamsuddin, Haedar Natsir, Abdul
Mu’ti, Yunahar Ilyas, Agung Danarto, dan lainnya, termasuk para penulis muda
Muhammadiyah yang terpantau penulis, banyak sekali, tak pernah lupa menyebut istilah
itu dalam berbagai kesempatan. Ini menunjukkan, bahwa sesungguhnya istilah
berkemajuan, bukan saja harus terus diungkap secara verbal melainkan juga secara
aksional di muka bumi dalam segala tempat, waktu dan keadaan.
Semua pengertian tadi jika ditelaah secara seksama, terdapat dua hal yang perlu
diketahui, yaitu ada Islam yang dipandangnya sebagai agama (ad-Din) dan ada Islam
yang dipandang-pahami sebagai ajaran (syariat).
a. Islam sebagai agama, berarti Islam adalah konsep untuk Rahmatun li al-‘alamin, atau
hudan li an-nas; meliputi pemikiran, rumusan, dan amal untuk membuat dunia ini
menjadi damai, menjadi milik semua keluarga, semua wilayah, semua negara, dan
semua-muanya, intinya untuk dan atau milik makhluk Allah SwT Dari manapun
datangnya pemikiran dan rumusan tersebut, apakah dari umat Kristen (Katholik dan
Protestan), dari Hindu, Budha, Kong Huchu, atau lebih utama dari umat Islam sendiri,
Muhammadiyah akan menerimanya dengan terbuka, dengan senang hati, selama
untuk tadi itu (Rahmatun li al-‘alamiin), Jadi, dalam menempatkan Islam sebagai
agama, Muhammadiyah bersikap inklusif atau terbuka, toleran, demokratis, moderat,
multikulturalis, dan bahkan liberalis; tidak membedakan suku, tidak membedakan
budaya, tidak membedakan aliran, dan tidak membedakan agama berikut para Nabi
dan kitab-kitab suci yang dibawanya. Inilah sebabnya, bahwa Agama Islam menurut
Muhammadiyah adalah agama yang diwahyukan Allah SwT sejak Nabi Adam a.s.
hingga Nabi pamungkas, Muhammad Rasulullah Saw. Dengan kata lain, semua umat
manusia sejak Nabi Adam dan kerabatnya hingga Muhammad Saw. dalam konteks
Islam sebagai agama, adalah sebagai ummat Islam (umat Nabi Isa a.s. misalnya,
umatnya bukan umat Kristen Protestan atau Katholik, tetapi umat Islam juga). Hanya
saja, ajaran Islam yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul-Nya belum dilengkapi,
belum disempurnakan seperti Islam yang diwahyukan kepada dan dibawa oleh Nabi
dan Rasul terakhir, Muhammad Saw.
b. Di samping sebagai agama, Islam menurut Muhammadiyah adalah juga sebagai
ajaran. Sebagai ajaran atau syari’at, Muhammadiyah meyakini bahwa Islam adalah
sebuah ajaran yang kaffah (lengkap), mudah dan menyenangkan; berkonten tuntunan
hidup, arahan hidup, bimbingan hidup, dan petunjuk kehidupan yang dapat dan wajib
diamalkan untuk penyelamatan hidup di dunia dan akhirat kelak. Islam sebagai ajaran,
berarti Islam membutuhkan pengajar atau dosen yang bertugas sebagai pengajar,
pembimbing, pengarah, dan petunjuk atau penasehat. Tokoh sentral yang
berkedudukan demikian – yang pertama dan utama – yaitu Nabi Muhammad Saw.
yang diyakini Muhammadiyah sebagai Rasulullah yang terakhir dan tiada duanya.

II. CIRI-CIRI ISLAM BERKEMAJUAN


Menurut Haedar Nashir ada 6 ciri yaitu :
1. Punya jiwa keagamaan yang kokoh
2. Bangsa tersebut memiliki akhlak atau tingkah laku yang baik
3. Bangsa yang berilmu
4. Islah bil muammalah atau kecemerlangan membangun dimensi muammalah
5. ukhuwah islamiyah
6. selalu bersyukur kepada allah

III. PRINSIP ISLAM BERKEMAJUAN


Berikut beberapa prinsip saat Muhammadiyah berdialektika dengan realitas sosial,
apakah itu realitas keberagamaan, realitas kebudayaan, ekonomi, dan politik. Adapun
prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pengakuan akan kesatuan organik antara pengetahuan dan aksi atau praksis, adanya
relasi komplementer antara teori dan praksis. Praksis membutuhkan teori sebagai
usaha awal untuk memetakan medan aksi bagi Muhammadiyah, untuk menjelaskan
terma-terma kunci bagi sebuah persoalan, menentukan prioritas-prioritas bagi
pengambilan keputusan. Sebaliknya pula pengetahuan , atau teori, berkembang seiring
dengan pengalaman eksistensial yang dihadapi Muhammadiyah saat bergulat dengan
realitas social. Ada aksi dan refleksi yang bergulir secara terus menerus yang
seharusnya inhern dalam gerakan Muhammadiyah. Dalam bahasa yang lebih
sempurna adanya persenyawaan antara ilmu dan amal , tetapi dalam artian yang luas.
Setiap refleksi yang dilakukan Muhmmadiyah terhadap realitas sosial, menuntut
tanggung jawab untuk mengubahnya menjadi tatanan yang labih baik dan adil.
2. Pengetahuan bukanlah refleksi semata terhadap realitas. Tetapi pengetahuan adalah
hasil konstruksi manusia. Prinsip ini sangat signifikan pada saat Muhammadiyah
berhadapan dengan wacana-wacana, diskursus-diskursus yang berkembang. Wacana
tidaklah netral begitu pula dengan diskursus-diskursus pengetahuan, tetapi mereka
adalah sesuatu yang sangat rentan akan intervensi kekuasaan. Hal ini juga membuat
Muhammadiyah lebih arif dalam menghadapi perbedaan pendapat mengenai sesuatu
hal atau persoalan, sebab setiap tawaran wacana atau pendapat atau pengetahuan akan
sesuatu hal, tidak ada yang merupakan refleksi transparan atau apa adanya akan
realitas, setiap wacana atau pengetahuan merupakan usaha memandang sesatu dari
perspektif tertentu.
3. Optimisme terhadap masa depan yang lebih baik dibanding masa kini dan masa lalu
yang penuh dengan dominasi dan ketidak adilan. Masa depan memiliki potensi-
potensi kebaikan yang harus diaktualisaikan melalui aksi-aksi politik dan sosial.
Muhammadiyah harus menjadi agen dan pendorong perubahan sosial demi
merengkuh masa depan yang lebih baik.
4. Persoalan sosial bukanlah persoalan individu an-sich, tetapi lebih banyak disebabkan
oleh sebab-sebab struktural. Artinya peranan institusi sosial yang besar semisal
politik, ekonomi, politik,bahasa, ras serta gender memiliki andil politik yang lebih
besar. Muhammadiyah semestinya melakukan analisis secara kritis terhadap struktur-
struktur sosial tersebut agar bisa mengungkap akar rasional dan global, segala bentuk
problem, dan penindasn yang terjadi.
5. Struktur sosial yang dominatif, dipelihara atau dilanggengkan atau direproduksi
melalui kesadaran palsu, reifikasi , ideologi tertutup, al-Turats yang jumud atau
habitus tertentu. Sturuktur sosial yang dominatif direproduksi melalui pengetahuan,
wacana-wacana, teks-teks ataupun diskursus-diskursus yang mengelilingi kita.
Sehingga yang didominasi berpikir bahwa satu-satunya jalan adalah menyesuaikan
diri dengan struktur sosial yang ada. Muhammadiyah seharus percaya terhadap
subjektivitas manusia dan potensi kreatifnya sebagai agen atau khalifah dalam
mematahkan dominasi.
6. Perubahan sosial dimulai dari hal-hal yang kecil, dari rumah, dari interaksi kita
dengan pasangan, dengan anak-anak, saudara-sudara, dari hal-hal sepele semisal
selera belanja kita, selera tontonan TV kita dan sebagainya. Hal ini untuk mendukung
voluntorisme secara kritis dan menghindari determinisme mekanis. Perubahan sosial
yang diawali dari hal-hal kecil menjadi signifikan sebab dominasi dan hegemoni
merasuk hingga ke hal-hal subtil semacam pembagian kerja, relasi seksualitas, gaya
hidup dan hal-hal remeh lainnya.
7. Adanya hubungan yang dialektis antara agen dan struktur sosial. Walaupun struktur
sosial dapat mengkondisikan perilaku sosial kita, tetapi pengetahuan mengenai
struktur sosial dapat menjadi potensi kreatif dalam mematahkan dominasi.
8. Dengan mengakui hubungan yang kompleks dan dialektis antara kehidupan sehari-
hari dengan struktur sosial skala besar, Muhammadiyah meyakini bahwa jalan untuk
mecapai tujuan akhir yakni “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” tidaklah linear
dan merupakan proses tiada henti. “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”
merupakan utopia yang dibangun oleh Muhammaiyah, setiap langkah yang dilakukan
menuju utopia tersebut, akan direfleksikan ulang secara kritis agar lahir langkah yang
lebih baik dan efektif. Usaha menuju utopia juga tidak boleh sama sekali membuka
peluang sedikit pun mengorbankan hak-hak, kebebasan mendasar ,fitrah ataupun
hidup manusia. Muhammadiyah harus meyakini bahwa setiap manusia adalah
khalifah, bertanggung jawab atas kebebasannya sendiri dan tidak melakukan
penindasan ataupun penaklukan bagaimanapun bentuknya terhadap sesama atas nama
tujuan, utopia atau kebebasan jangka panjang- kebebasan adalah kondisi yang optimal
yang paling fitrah dimana manusia mampu mengaktualisasikan secara maksimal
segala bentuk potensi kemanusiaannya menuju kemuliaan ilahiah. Muhammadiyah
dalam menuntun umat dan menjadi tauladan bagi umat manusia, tidak membenarkan
adanya kediktatoran elit terhadap orang banyak, ini juga terlihat jelas dalam sejarah
Muhammad SAW dimana beliau tidak pernah menjadi Nabi dengan tangan besi.