Anda di halaman 1dari 34

TUGAS

MATERI HUKUM DADANG


SURAT SURAT BERHARGA

OLEH
NAMA : AGUS TRIYANTO
NIM : H1A116911
KELAS : F

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
SURAT SURAT BERHARGA

A. Pengertian dan Fungsi Surat Berharga


Penggunaan surat berharga dalam praktek dan kaitannya dengan
kegiatan perbankan, antara lain:
a. dari aspek lalu lintas bisnis, penggunaan surat berharga lebih praktis,
aman dan lancar sistem pembayaran;
b. dari aspek usaha perbankan, maka kegiatan pembelian, penjualan,
penyimpanan (custodion), memberikan jaminan surat berharga dan
warkat-warkat perbankan, merupakan produk bisnis perbankan dewasa
ini, hal ini berkaitan dengan usaha menghimpun dana, baik untuk
kepentingan masyarakat mau-pun untuk kepentingan pembangunan.

Dalam Pasal 1 angka 10 UU No.10 tahun 1998 tentang Perubahan UU


NO.7 tahun 1992 tentang Perbankan, difinisi surat berharga berbeda dengan
lazimnya pengertian “ Surat berharga adalah surat pengakuan hutang, wesel,
saham, obligasi, sekuritas kredit, atau setiap derivatifnya, atau kepentingan
dari penerbit, dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal
dan pasar uang.
HMN. Purwosutjipto: Surat berharga adalah surat bukti tuntutan utang,
pembawa hak dan mudah dijualbelikan. Abdulkadir Muhammad, surat
berharga adalah suatu surat yang oleh penerbitnya sengaja diterbitkan
sebagai pelaksana-an pemenuhan suatu prestasi yang berupa pembayaran
sejumlah uang.
CST. Kansil, menggunakan istilah surat berharga dengan Surat
Perniagaan, Surat perniagaan adalah surat-surat berharga yang dapat
diperdagangkan dalam dunia perniaga-an, guna untuk memudahkan
pemakaian uang yang akan diterima dari pihak ketiga dan untuk
mempermudah penagihan piutang dari pihak ketiga.
H. Boerhanoeddin Soetan Batoeah, Surat berharga adalah suatu alat
bukti dari suatu tagihan atas orang yang menanda-tangani surat itu, tagihan
mana dipindahtangankan dengan penyerahan surat itu dan akan dilunasi
sesudah surat itu diunjukkan.
Dari beberapa pengertian surat berharga di atas, secara ringkas dapat
disimpulkan surat berharga mempunyai beberapa fungsi yaitu:
a. Sebagai surat bukti hak tagih (surat legitimasi), artinya pemegang (holder)
surat berharga berhak atas jumlah uang tertentu yang ter-cantum dalam
surat berharga itu.
b. Alat memindahkan hak tagih, artinya pemegang dapat mengalihkan surat
berharga kepada orang lain, baik dengan alasan jual beli mau-pun alasan
lain yang sah menurut hukum peralihan surat berharga.
c. Alat pembayaran, artinya untuk kemudahan alat pembayaran, aman,
praktis, lancar, dan mudah dalam lalu lintas bisnis.
d. Pembawa hak (legitimasi formal), artinya siapa saja pembawa surat
berharga itu adalah berhak untuk menguangkan, tanpa dibuktikan lebih
dahulu keabsahan perikatan dasar, maupun tanpa bukti itikad baik
pemegangnya artinya hak atas surat berharga itu, kecuali dapat dibuktikan
sebaliknya.
Fungsi surat berharga sangat erat kaitannya dengan klausula yang
terdapat dalam surat berharga. Dalam hukum surat berharga dikenal
beberapa macam klausula yaitu:
a. Atas Tunjuk (aan toonder, to bearer)
b. Atas Pengganti (aan order, to order)
c. Atas nama (aan naam)
Untuk surat berharga yang berklausula "atas tunjuk", pengalihannya
cukup dengan menyerahkan surat itu saja, dari tangan ke tangan, seperti
menyerahkan uang, sedangkan surat berharga yang berklausula "atas
pengganti" peralihannya dengan “ Endosemen dan penyerahan surat
sebagaimana diatur dalam pasal 613 ayat 3 KUH Perdata). Kemudian dalam
Pasal 110 ayat 1 KUHD, khusus surat wesel ditentukan bahwa Setiap surat
wesel, juga yang tidak dengan tegas berbunyi atas penggantin, dapat
diperalihkan dengan jalan andosmen. Lebih lanjut Pasal 10 ayar 2
menentukan bilamana dalam surat wesel menempatkan kata-kata "tidak atas
penganti atau ketentuan sejenis", maka surat wesel ini hanya dapat
diperalihkan dalam bentuk dan dengan akibat-akibat dari sessi biasa. Kalau
Surat berharga atas nama peralihan lebih sulit, karena harus dengan balik
nama terlebih dahulu dan membuat akta autentik atau akte dibawah tangan.
Untuk memenuhi fungsi tersebut surat tersebut harus memenuhi
beberapa syarat umum surat berharga, yaitu:
a. Nama Surat Berharga seperti : Wesel, Cek, dll.
b. Jumlah tertentu.
c. Perintah tak bersyarat
d. Nama orang yang harus membayar
e. Penetapan hari bayar
f. Tanggal dan tempat penerbitan
g. Tanda tanda tangan Penerbit
B. Bentuk-Bentuk Surat Berharga.
1. Surat Sanggup
a. Pengertian
Dalam bahasa Belanda surat sanggup disebut Orderbriefje, Billet a
order dalam bahasa (Prancis), dan Promissory dalam Inggris, Surat
Aksep/Sanggup (Indonesia).
Pengertian surat sanggup dapat disimpulkan dari ketentuan pasal 174
KUHD, bahwa surat sanggup adalah sebagai surat yang memuat kata
sanggup/ promesse aan order, yang ditanda tangani pada tanggal dan tempat
tertentu, dengan mana penandatangan menyanggupi tanpa syarat untuk
membayar sejumlah uang tertentu kepada pemegang/ pengganti pada
tanggal dan tempat tertentu.
Dkl. Surat sanggup adalah surat tanda sanggup atau setuju membayar
sejumlah uang kepada pemegang atau penggantinya pada hari tertentu.
Dengan diterbitkan Surat Sanggup oleh penerbit, maka si penerbit harus
bertanggungjawab dan menjamin bahwa surat sanggung tersebut dapat
diuangkan dan sah menurut hukum.
Sah menurut hukum maksudnya bahwa surat sanggup memenuhi
persyarat formal sebagaimana akan dijelaskan pada penjelasan berikut.
b. Syarat Formal Surat Sanggup
Menurut pasal 174 KUHD suatu surat sanggup harus berisikan
a. Kata-kata “Surat Promes atau Surat Sanggup” dan klausula “ kepada
order” yang dimuat di dalam teksnya dan diistilahkan dalam bahasa
yang dipakai surat;
b. Kesanggupan tanpa syarat untuk membayar sejumlah uang tertentu;
c. Penetapan hari bayar;
d. Penetapan tempat pembayaran dilakukan;
e. Nama pihak atau pihak lain yang ditunjuk oleh surat tersebut untuk
mendapat pembayaran;
f. Tanggal dan tempat surat sanggup itu ditandatangani;
g. Tanda tangan orang yang mengerluarkan atau yang menerbitkan.

c. Pengaturan
Pengaturan surat sanggup diunjukan pada pengaturan surat wesel,
namun tidak semua ketentuan surat wesel berlaku pada surat sanggup,
kedua surat tersebut berbeda. Surat wesel merupakan “surat perintah
untuk membayar”, sedangkan surat sanggup “Kesanggupan atau janji
untuk membayar”. Ketentuan surat wesel yang dapat diberlakukan pada
surat sanggup adalah mengenai:
a. Endosemen (Pasal 110-119),
b. Hari gugur (Pasal 132-136),
c. Pembayaran (Pasal 137-141),
d. Hak regres dalam hal non pembayaran (Pasal 142-149, 151-153),
e. Pembayaran pada perantaraan (Pasal 154, 158-162),
f. Turunan-turunan wesel (Pasa 166 dan 167),
g. Surat Wesel yang hilang (Pasal 167a), k
h. Kadaluarsa (Pasal 168),
i. Dan lain sebagainya sebagaimana diatur dalam pasal .

Mengenai proses penerbitan KUHD tidak mengatur secara rinci


mengenai hal ini, namun dalam praktek penerbitan surat sanggup selalu
dilatabelakangi oleh perikatan dasar,

2. Surat Wesel
a. Pengertian
Surat wesel dalam bahasa Belanda “Wissel”, Wechsel (Jerman), Letre
de Change (Prancis), Bill of Exchang/Draft (Inggris) Dalam KUHD tidak
disebutkan secara tegas apa pengertian wesel, hanya saja dari ketentuan
Pasal 100 KUHD dapat disimpulkan pengertian “Surat Wesel adalah surat
berharga yang memuat kata “Wesel” di dalam surat wesel dan ditandatangani
di suatu tempat, dalam mana penerbit (Trekker) memberikan perintah tak
bersyarat kepada tersangkut (betrokene) untuk membayar sejumlah uang
pada hari bayar (Vervaldag) kepada orang yang ditunjuk oleh penerbit yang
disebut penerima (nemer) atau peng-gantinya di suatu tempat tertentu. Dari
pengertian diatas, dalam penerbitan wesel terlibat beberapa pihak, yaitu:
a. Penerbit (trekker),
b. Tersangkut (Betrokkene),
c. Penerima (nemer),
d. Pemegang (holder),
e. Andosan (Andossant)

Penerbit adalah orang yang bertanggungjawab dan menjamin bahwa


wesel yang diterbitkan ada dananya. Oleh karena kewajiban penerbit adalah
menyediakan dana pada bank tersangkut. Untuk itu terlebih dahulu adanya
hubungan hukum antara bank dengan penerbit, biasanya si penerbit
menyimpan uang pada bank tersebut dengan membuka rekening giro.
Setelah itu baru si calon penerbit berhak menerbitkan surat wesel.
Perjanjian
Perjanjian Pemegan
Penerbit Pemegan g berikut
g

Pencairan
Hub.Hukum
Simp-pinj

Tersangkut

Bank
b. Syarat Formal Surat Wesel
Menurut pasal 100 KUHD setiap surat wesel memuat syarat-syarat
formil sebagai berikut:
a. Nama surat wesel yang dimuat dalam teksnya sendiri;
b. Perintah tak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu;
c. Nama orang yang harus membayar (Tertarik)
d. Penetapan hari bayar;
e. Penetapan tempat dimana pembayaran harus dilakukan;
f. Nama orang yang kepadanya atau kepada orang lain;
g. Tanggal dan tempat surat wesel ditarik (diterbitkan);
h. Tanda tangan orang yang mengeluarkan (yang menerbitkan)

Apabila surat wesel tidak memenuhi ketentuan di atas, maka surat


wesel tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai surat wesel menurut UU,
kecuali dalam hal:(Pasal 101 KUHD)
a. Tidak ditetapkan hari bayar, dianggap harus dibayar pada hari
diperlihatkan;
b. Jika tidak ada penetapan khusus, maka tepat yang ditulis di samping
nama tersangkut di anggap sebagai tempat pembayar-an dan tempat
dimana tersangkut berdomisili;
c. Jika tidak menerangkan tempat diterbitkan, dianggap ditanda-tangani
di tempat yang tertulis disamping nama penerbit.
c. Bentuk Surat Wesel
Dalam Praktek terdapat banyak ragam bentuk Surat Wesel seperti :
1. Bentuk Surat Wesel Biasa,
2. Bentuk Surat Wesel Bank dalam Negeri, dan
3. Bentuk Surat Wesel Bank Luar Negeri.

Berdasarkan Penetapan Hari Bayar: Wesel atas Penglihat-an, Wesel


Sesudah Penglihatan, Wesel Sesudah Penaggalan, dan Wesel
Penanggalan. Disamping itu Surat Wesel ada berbentuk Umum dan Khusus:
Bentuk umum terdiri dari : Wesel atas nama,.Wesel Atas Pengganti, Wesel
Tidak Kepada Pengganti, sedangkan bentuk khusus adalah:
1. Wesel Atas Pengganti Penerbit (Ps.102 ayat 1 KUHD)
2. Wesel atas Penerbit Sendiri (Ps.102 ayat 2 KUHD)
3. Wesel Perhitungan Orang Ketiga (Ps.102 ayat 3 KUHD)
4. Wesel Incasso (Ps.102a ayat 1 KUHD)
5. Wesel Berdomisili (Ps.100 ayat 5)
6. Wesel Domisili Dalam Blangko (Ps. 126 ayat 2 KUHD )

d. Akseptasi Surat Wesel


Akseptasi berasal dari kata bahasa Perancis “Accep” artinya
menyanggupi dan bahasa Belanda ditulis “Acceptatie”, dalam bahasa Inggris
“Acceptance” yang berarti pernyataan sanggup untuk membayar. Jadi
akseptasi adalah suatu pernyataan dari seorang tersangkut atau tertarik
bahwa ia menyetujui untuk membayar atas surat wesel pada hari pembayaran
(vervaldag). Akseptasi harus dilakukan dengan cara menuliskannya dalam
surat wesel dengan kata“ SANGGUP” atau” ,MENYETUJUI” atau kata lain
yang sama maksudnya dan disertai tanda tangan si tertarik atau tersangkut
(betrokkene).Akseptasi dapat ditawarkan setiap saat oleh pemegangnya
dalam tenggang waktu sampai pada hari bayarnya tidak ada kewajiban
meminta akseptasi.
Tenggang waktu permintaan akseptasi berdasarkan Pasal 120 KUHD
“ sebelum hari gugur” dan berdasarkan Pasal 122 ayat 1 KUHD “Tenggang
waktu 1 tahun dari tanggal penarikan wesel. Si penarik dapat
memperpanjang atau memperpendek tenggang waktu satu tahun, sedang
endosan dapat memperpendek tenggang waktu. (Pasal 122 ayat 2 KUHD).
Setiap akseptasi harus dilakukan dengan tanpa syarat, tetapi si tertarik diberi
hak untuk membatasi sampai jumlah tertentu dari uang yang disebutkan di
dalam surat wesel. (Ps. 125 ayat 1 KUHD)
e. Aval Dalam Surat Wesel
Aval adalah suatu lembaga jaminan dalam hukum wesel, dengan
mana pihak ketiga mengikatkan diri untuk menjamin pembayaran surat wesel
pada hari bayar. (Ps. 129, 130, dan 131 KUHD). Aval harus dituliskan pada
surat wesel yang dijamin atau pada kertas sambungan (Verlengstuk/allonge)
dengan menyebut-kan kata-kata untuk aval atau kata-kata lain : “Untuk
menjamin”dan harus disertai dengan pemberian tanda tangan oleh si pemberi
aval. (Ps. 130 ayat 1 dan 2 KUHD). Akibat hukum pemberi aval terikat sama
seperti yang diberi aval (avalirde), artinya jika avalis yang tidak membayar
surat wesel itu pada hari bayar, avalis yang akan membayarnya. Apabila
Avalis telah membayar, maka ia memperoleh hak yang menurut hukum wesel
bisa dilaksanakan kepada avalirde itu akseptan, Avalis berhak atas dana
penerbitan wesel tersebut.

f. Hak Regres Dalam Surat Wesel


Hak Regres adalah hak yang diberikan oleh Undang-undang kepada
pemegang surat wesel, baik karena terjadi non akseptasi maupun non
pembayaran. Hak Regres ialah hak untuk menagih kepada debitur wesel
yang berwajib dengan regres berhubung karena tersangkut tidak mau
mengakseptasi atau membayar pada hari bayar. Para debitur wajib regres
adalah semua orang yang berkewajiban menjamin pem-bayaran surat wesel
tersebut, yang tanda tangannya terdapat pada surat wesel tersebut (seperti
penerbit, endosan, avalis) Untuk melaksanakan hak regres harus dilakukan
“PROTES” kepada tersangkut terlebih dahulu. Menurut Ps.143 ayat 1 KUHD:
Tindakan protes harus dibuktikan dengan akta autentik yang disebut
“PROTES NON-AKSEPTASI atau NON-PEMBAYARAN”. Ada dua macam
protes, yaitu:
1. Protes Otentik
Yaitu dibuat oleh Notaris atau Juru Sita dan disertai dua orang Saksi.
Isi akta protes ini adalah :
a).Turunan lengkap kata demi kata dari surat wesel ....dst.
b).Keterangan tentang penolakan;
c).Keterangan tentang alasan penolakan;
d).Tegoran atau surat peringkatan bagi si tertarik;
e).Keterangan atau pernyataan bahwa oleh karena penolakan tsb, maka
Notaris atau Juru sita secara resmi telah melakukan protes.
2. Protes Sederhana
Protes ini tidak harus dibuat dalam bentuk akta tersendiri dan tidak
bersifat resmi. Protes sederhana ini dapat dilakukan dengan syarat-syarat:
1. Pemegang surat wesel tidak ingin mengajukan protes otentik;
2. Pihak yang diprotes itu bersedia memberikan bantuannya;
3. Tidak ada pernyataan tegas penerbit bahwa protes yang dilakukan itu
harus dengan akta otentik.
Protes sederhana dapat dibuat atau dilakukan dengan cara
menempatkan pernyataan pada surat wesel bahwa akseptasi atau
pembayaran itu ditolak, dan ditanggapi serta ditanda tangani oleh pihak yang
berwajib.
Dalam pelaksanaannya, diperkenan regres tanpa protes, sebagai-
mana ditentukan dalam Ps. 145 ayat 1 KUHD : Penerbit atau pemberi aval
dengan membubuhkan dan menandatangani di dalam surat wesel suatu
klausula “tanpa biaya” atau tanpa protes” atau klausula lain yang sama
maksudnya, dapat membebaskan pemegang dari kewajiban membuat protes
non akseptasi atau non pembayaran untuk melaksanakan hak
regresnya. Akibat hukumnya adalah pemegang dapat secara langsung
melakukan hak regresnya, akan tetapi ia perlu melakukan “NOTIFIKASI”
terbih dahulu dalam tenggang waktu yang ditentukan Undang-undang.
Yang dapat dituntut dengan Hak Regres, menurut ketentuan pasal 174
ayat 1 KUHD adalah:
a. Jumlah nominal dari wesel ditambah bunga jika diperjanjikan;
b. Bunga sebesar 6% setahun dihitung dari hari pembayaran, bunga
dihitung dari uang pokok setelah ditambah bunga yang diperjanjikan;
c. Biaya protes, biaya pemberitahuan dan biaya lain.

3. Surat Cek
a. Pengertian
Istilah cek berasal dari bahasa Prancis “Cheque” yang kemudian
istilah ini diikuti oleh Belanda dan Inggris.
ketentuan pasal 178 KUHD bahwa, Cek adalah surat yang membuat kata
cek yang diterbitkan pada tanggal dan tempat tertentu, dengan mana
perintah tanpa syarat kepada bankir untuk membayar sejumlah uang
tertentu kepada pemegang atau pembawa di tempat tertentu. Dari definisi
tersebut terdapat beberapa pihak yang yang terlibat dalam penerbitan surat
cek, yaitu: Penerbit (Trekker, drawer) yaitu orang menerbitkan surat cek,
Tersangkut (Betrokkene, Drawee) yaitu bankir yang diberi perintah tanpa
syarat untuk membayar sejumlah uang tertentu, Pemegang (Nemer, holder)
yaitu orang yang diberi hak untuk memperoleh pembayaran, yang namanya
tercantum dalam surat, Pembawa (Toonder, bearer), cek orang yang
ditunjuk untuk menerima pembayaran tanpa menyebutkan namanya dalam
surat cek dan Pengganti (order) yaitu orang yang menggantikan kedudukan
pemegang surat cek dengan jalan endosmen.

b. Tanggungjawab dan Kewajiban Penerbit


Menurut ketentuan Pasal 189 bahwa Penerbit menjamin akan
pembayaran dan setiap kalausula, dimana ia meniadakan kewajiban ini
dianggap tidak ada, dengan kata lain bahwa si Penerbit ada dana pada si
tersangkut, oleh karena itu sebelum si penerbit menerbit surat ia harus
menyimpan dana yang cukup pada tersangkut.
Lebih pasal 190a menekankan bahwa " Penerbit, atau orang untuk
tanggungan siapa diterbitkan cek diwajibkan mengusahakan supaya dana
yang diperlukan untuk pembayaran pada hari penawaran ada pada si
tersangkut, bahkan bilaman cek ditentukan dapat dibayar pada orang
ketiga, dengan tidak mengurangi kewajiban di penerbit sesuai dengan
Pasal 189 KUHD. Kalau pada saat akan diuang surat cek tersebut tidak ada
dana, maka surat cek titu dapat dikata surat cek kosong, pembayaran
dengan menggunakan cek pada dasarnya adalah pembayaran tunai.

c. Syarat-syarat formal surat cek


Menurut Pasal 178 KUHD setiap surat cek harus memuat syarat-
syarat formil sebagai berikut:
1).Nama surat cek yang dimuat dalam teksnya sendiri;
2).Perintah tak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu;
3).Nama orang yang harus membayar (Tertarik)
4).Penetapan tempat dimana pembayaran harus dilakukan;
5).Tanggal dan tempat surat cek diterbitkan;
6).Tanda tangan orang yang menerbitkan
Apabila surat cek tersebut tidak memenuhi ketentuan di atas, maka
surat wesel tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai surat wesel menurut
UU, kecuali dalam hal:
a. Surat cek yang tidak menetapkan tempat bayar secara khusus, maka
tempat tertulis di samping nama tersangkut (bankir) dianggap sebagai
tempat pembayaran. Jika di samping nama tersangkut itu terdapat
lebih dari satu tempat yang disebutkan surat cek itu harus dibayar di
tempat yang tersebut pertama.
b. Dalam hal tidak ada penunjuk tersebut, surat cek harus dibayar di
tempat kantor pusat tersangkut (bankir)
c. Tiap-tiap surat cek yang menerangkan tempat diterbitkan, dianggap
ditandatangani di tempat yang tertulis di samping sama penerbit.

d. Bentuk-bentuk surat cek


Seperti halnya pada surat wesel, surat cek juga ada bentuk-bentuk
khusus. Bentuk-bentu tersebut adalah: (Abulkadir M, 1993:143)
1. Surat cek atas pengganti penerbit
Bentuk surat cek ini diatur dalam pasal 183 ayat 1 KUHD, yang
menyatakan bahwa surat cek dapat diterbiytkan atas pengganti penerbit
(aan de order van de trekker). Kekhususan bentuk ini adalah nama
penegang pertama (penerima) tidak disebutkan sehingga penerbit sama
dengan pemegang pertama. Surat cek bentuk ini berklausula atas
pengganti, jika diperalihkan dengan endosmen,
2. Surat cek atas penerbit sendiri
bahwa surat cek dapat ditarik kepada penarik sendiri (op de trekker zelf).
Kekhususan bentuk ini ialah penerbit sama dengan tersangkut.
3. Surat cek untuk perhitungan orang ketiga
Menurut pasa; 182 ayat 2 KUHD bahwa surat cek dapat diterbit-kan atas
perhitungan orang ketiga, tetapi jika dari surat cek itu atau dari surat
advisnya tidak ternyata untuk perhitungan siapa surat itu diterbitkan,
maka penerbit dianggap telah menerbitkan surat cek atas perhitungan
dirinya sendiri.
4. Surat cek incasso
Jika di dalam surat cek tersebut penarik telah memuat kata-kata harga
untuk incasso atau dalam pemberian kuasa atau kata lain-nya yang
berarti memberi perintah untuk menangih semata-mata penerima boleh
melaksanakan segala hak yang timbul dari surat cek tersebut, tetapi bisa
mengendosmen-kannya kepada orang lain, kecuali dengan cara
memberi kuasa.
5. Surat cek berdomisili
Bentuk surat cek ini diatur dalam pasal 185 KUHD, yang me-nyebutkan
bahwa tiap-tiap cek bisa dinyatakan dapat dibayarkan ditempat tinggal
orang ketiga, baik di tempat tertarik berdomisili maupun di tempat lain.

e. Endosmen pada surat cek


Endosmen adalah lembaga pemindahan hak milik atas tagihan pada
surat berharga yang berklausula atas pengganti (aan order). Surat cek
dapat diterbitkan atas pengganti, pemindahannya kepada pemegang
berikutnya harus dilakukan dengan endosmen. Endosmen pada surat cek
atas pengganti pada dasarnya adalah sama dengan endosmen pada surat
wesel, yang membedakannya adalah karena sifat surat cek sebagai alat
pembayaran tunai, sehingga ada ketentuan endosmen pada surat wesel
yang berlainan dengan surat cek. Menurut pasal 191 KUHD, setiap surat
yang dinyatakan harus dibayar kepada orang yang disebutkan namanya
dengan atau tanpa klausula kepada pengganti dapat dipindahkan kepada
orang lain dengan jalan endosmen.

f. Penawaran dan pembayaran surat cek


Surat cek adalah alat pembayaran tunai. Menurut pasal 205 KUHD,
setiap cek yang diperlihatkan untuk pembayarannya sebelum hari yang
disebut sebagai hasil tanggal diterbitkan, surat cek itu harus dibayar pada
hari dipelihatkan.
Dalam praktek surat cek semacam ini disebut surat cek “Bertanggal
mundur (post-dated cheque). Menurut pasal 206 KUHD surat cek yang
diterbitkan harus dibayar di Indonesia, harus diperlihatkan untuk
pembayaran dalam tenggang waktu 70 hari (mulai hari tanggal penerbitan).
Akan tetapi ada juga cek beredar lebih dari 70 hari (cek mundur), hal ini
disebabkan :
1. Kepentingan penyediaan dana, dimana kemungkinan pada
70 hari dana belum cukup;
2. Untuk menyakinkan penerimaan;
3. Telah disepakati oleh para pihak.
g. Cek kosong
Cek kosong adalah cek yang diajukan kepada bank, namun dana
nasabah yang menerbitkan tidak cukup atau tidak ada untuk membayar
surat cek tersebut.
Saat ini mengenai cek kosong diatur bersamaan dengan Bilyet Giro
kosong yaitu SK Rireksi Bank Indonesia No.28/122/KEP/DIR/1996 tentang
Cek/Bilyet Giro Kosong dan SEBI No.28/137/UPG tanggal 5 Januari 1996.
Menurut ketentuan Pasal 1 hurp (i) SK BI No.28/122/1996, Cek kosong
adalah Cek yang ditolak dalam tenggang waktu adanya kewjiban
penyediaan dana oleh penarik karena dananya tidak cukup. Sebenar UU
tentang Cek Kosong telah diterbitkan pada tahun 1964, yaitu UU No.17
tahun 1964, namun, UU tersebut dicabut kembali, karena sanksi yang
dikenakan kepada pelaku cek kosong terlalu berat, sehingga pelaku bisnis
takut menggunakan alat bayar cek, sehingga UU Cek kosong tersebut
dianggap menghambat perkembangan bisnis.
Kalau kita cermati, ada beberapa masalah yang menyebabkan
sehingga terbitnya surat cek kosong, yaitu (A Muhammad, 1993:151)
1. Kelemahan Pasal 180 KUHD yang berhubungan dengan penerbitan
surat cek dan penyediaan dana pada bankir.
2. Adanya rahasia bank sperti yang diatur dalam Pasal 40 UU No7 tahun
1992 jo UU No.10 tahun 1998.
3. Ada unsur spekulasi dari pemilik rekening giro, yaitu penerbit surat cek.
4. Administrasi bank yang kurang waspada, karena tidak menjalankan
prinsip kehati-hatian

Untuk mengatasi permasalahan cek kosng ini ada beberapa usaha


yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Bersifat Preventif
Yaitu berupa penyempurnaan pasal-pasal dalam KUHD dan peningkatan
efektifitas administrasi bank serta pengawasan yang rapih;
2. Bersifat Refresif
Yaitu penyelesaian cek kosong secara damai menurut peraturan yang
berlaku dan kesepakatan pihak-pihak dan penyelesaian lewat
pengadilan secara perdata.
g. Traveller Cheque
Traveller chaque adalah salah satu peralatan bank untuk melayani
nasabah dalam perjalanan, guna membiayai perjalanan, ongkos
penginapan, perbelanjaan dan sebagainya. Cek perjalanan ini sebagai
penganti uang tunai yang lebih aman dibandingkan dengan uang tunai. Cek
perjalanan dapat diterbitkan atas unjuk, dapat pula atas pengganti, dan
dapat pula tidak atas pengganti. Jika diterbitkan atas tunjuk, setiap orang
dapat menguangkan dengan menunjukan dan penyerahkan surat cek
tersebut.

4. Surat Promes untuk Pembawa. (Promesse aan Toonder)


Istilah promes berasal dari bahasa Perancis “Promesse”, artinya
sanggup atau janji membayar sejumlah uang. Sifat dari surat promes atas
tunjuk adalah atas tunjuk (aan toonder) artinya siapa saja yang memegang
surat itu dan setiap saat memperlihat-kannya kepada yang bertandatangan,
ia akan memperoleh pembayaran. Jadi promes atas tunjuk adalah suatu
surat yang ditanggali dimana penandatangannya sendiri berjanji akan
membayar sejumlah uang yang ditentukan didalamnya kepada tertunjuk,
pada waktu diperlihatkan pada suatu waktu tertentu. Jadi isi surat promes
atas tunjuk berupa ketentuan sebagai berikut:
1. Surat yang mengandung tanda tangan dari orang yang menerbitkannya.
2. Suatu janji untuk membayar sejumlah uang.
3. Penanggalan (Pasal 229e KUHD)
Prome atas tunjuk dapat diterbitkan atas penglihatan (op zicht, at
sight, on demand) dan dapat pula atas sesudah penglihatan (after sight,
nazicht). Promes atas tunjuk yang diterbitkan atas penglihatan tidak
memuat sutau tanggal pembayaran tertentu dan mirip dengan uang kertas
bank (bank bilyet) artinya berlaku sebagai alat pembayaran seperti uang
kertas bank.
Promes atas tunjuk yang diterbitkan sesudah penglihatan memuat
suatu tanggal pembayaran tertentu. Hal ini mirip dengan bilyet giro, karena
tanggal pembayaran tertentu itu merupakan tanggal efektif untuk
penawarannya dan juga sama dengan surat sanggup.

5. Bilyet Giro
a. Pengertian
Bilyet giro adalah jenis surat berharga yang tidak mendapat
pengaturan dalam KUHD, karena Bilyet Giro adalah surat berharga yang
tumbuh dalam praktek karena kebutuhan dalam lalu lintas pem-bayaran
secara giral. Bilyet giro diatur dalam SEBI No.4/670/ UPPB/PBB, tanggal
24 Januari 1972 jo SK Direktur BI No.28/32/KEP/DIR, tanggal 4 Juli 1995
Bilyet giro berasal dari kata “Bilyet” yaitu bahasa Belanda yang
artinya “surat” dan kata giro berarti simpanan pada bank yang
pengambilannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek
atau dengan pemindahbukuan. Jadi yang dimaksud dengan bilyet giro
adalah surat pemindahan sejumlah dana, pemindahan mana berfungsi
sebagai pembayaran. Dalam Pasal 1 hurup d SK BI
No.28/32/KEP/DIR/1995 dengan tegas, Bilyet Giro diartikan adalah surat
perintah dari nasabah kepada bank penyimpan dana untuk
memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan
kepada rekening pemegang yang disebutkan namanya.

b. Syarat-syarat Formil Bilyet Giro.


Sama halnya dengan surat berharga lain, surat berharga Bilyet giro
harus memenuhi persyaratan formil. Menurut Pasal 2 SKBI
No.28/32/KEP/DIR/1995 ada beberapa syarat formil yang harus dipenuhi
dalam penerbitan surat bilyet giro, yaitu:
1. Nama bilyet giro dan nomor bilyet giro yang bersangkutan;
2. Nama tertarik;
3. Perintah yang jelas tanpa syarat untuk memindahbukukan dana atas
beban rekening penarik;
4. Nama dan nomor rekening pemegang;
5. Nama bank penerima;
6. Jumlah dana yang dipindahbukuan baik dalam angka maupun dalam
huruf selengkap-lengkapnya;
7. Tempat dan tanggal penarikan;
8. Tanda tangan, nama jelas dan atau dilengkapi dengan cap/ stempel
sesuai dengan persyaratan pembukuan rekening;
9. Dalam bilyet giro dapat dicamtumkan tanggal efektif dengan ketentuan
harus dalam tenggang waktu penawaran.
Syarat-syarat formal di atas merupakan syarat wajib yang harus dipenuhi,
apabila Bilyet Giro tersebut yang tidak memenuhi syarat formal tersebut,
maka tidak berlaku sebagai bilyet giro. Dan apabila syarat no.9 tidak
dipenuhi, maka tanggal penarikan Bilyet Giro berlaku sebagai tanggal
efektif.
c. Kewajiban dan Tanggungjawab Penerbit
Kewajiban pokok penerbit Bilyet Giro adalah menyediakan dana
pada bank tersangkut. Dana yang tersedia harus cukup dalam rekeningnya
pada tertarik sejak tanggal efektif sampai dengan tanggal mulainya
daluwarsa (Pasal 5). Oleh karena itu, dalam penerbitan Bilyet giro terlebih
dahulu adanya hubungan hukum antara Penerbit/Penarik dengan Pihak
Bank. Hubungan hukum ini berbentuk perjanjian penyimpanan dana
penerbit pada bank dengan membuka rekening giro, sedangkan antara
penerbit dengan pemegang didahulu terjadinya perikatan dasar, misalnya
perjanjian jual beli atau sewa-menyewa, dan lain-lain. Untuk itu dalam
perbitan Bilyet Giro Penerbit harus bertanggungjawab terhadap pemegang
bahwa Bilyet Giro yang ia terbitkan dapat dipindahbukukan pada tanggal
efektif. Selain itu Penerbit juga wajib membuat catatan-catatan mengenai
keadaan keuangan dalam rekeningnya sehingga dapat diketahui
kemampuan untuk memenuhi kewajiban sehubungan dengan penarik bilyet
giro.

d. Tenggang waktu penawaran Bilyet Giro


Tenggang waktu penawaran bilyet giro adalah 70 hari yaitu terhitung
sejak tanggal penerbitan (Pasal 6 ayat 1. Tenggang waktu tersebut adalah
antara tanggal penerbitan dan tanggal efektif, penerbit diberikan
kesempatan untuk mengusaha-kan dana guna membayar dengan
pemindahbukuan, makin lambat tanggal efektif ditentukan makin lambat
tanggal efektif ditentukan, maka makin banyak waktu bagi penerbit untuk
mengusahakan dana. Bilyet giro yang ditawarkan kepada bank sebelum
tanggal efektif atau sebelum tanggal penarikan harus ditolak oleh bank,
tanpa memperhatikan tersedia atau tidaknya dana dalam rekening penarik.
Sedangkan Bilyet Giro yang diterima oleh bank setelah tanggal berakhirnya
tenggang waktu penawaran dapat dilaksanakan perintahnya sepanjang
dananya tersedia dan tidak dibatalkan oleh penarik. (Pasal 6 ayat 2 dan 3)

e. Penolakan dan Pembatalan Bilyet Giro


Surat Bilyet Giro dapat saja dilakukan penolakan oleh pihak bank.
Menurut SEBI No.28/32/UPG tanggal 4 Juli 1995:
1. Bank penerima wajib menolak Bilyet Giro dalam hal:
a. Tidak berlaku sebagai Bilyet Giro bila tidak memenuhi syarat formal
(sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat 1);
b. Ditawarkan kepada bank sebelum tanggal penarikan atau sebelum
tanggal efektif (Pasal 6 ayat 2);
c. Tanggal efektif dicamtumkan tidak dalam tenggang waktu penawaran
(Pasal 2 ayat 2);
d. Terdapat perubahan tetapi tidak tidak ditandatangani oleh penarik di
tempat kosong yang terdekat dengan perubahan (Pasal 9);
e. Telah daluwarsa.
f. Saldo rekening penarik tidak cukup
g. Ditawarkan kepada tertarik setelah penawaran dan telah diterima surat
pembatalan Bilyet Giro oleh bank yang bersangkutan dari penarik (Pasal
7 ayat 2).

Bilyet Giro yang ditolak bank penerima dikembalikan kepada


pemegang dengan Surat Keterangan Penolakan dalam rangka 3 masing-
masing untuk pemegang, penarik dan arsip bank yang bersangkutan.
Kapan suatu Bilyet Giro dapat dibatalkan. Menurut Pasal 7 ayat 1,
bahwa Penarik tidak boleh membatalkan Bilyet Giro selama dalam
tenggang waktu penawaran 70 hari (sebagaimana yang dimaksud dalam
Pasal 6 ayat 1). Pembatalan hanya dapat dilakukan setelah tanggal
berakhirnya tenggang waktu penawaran dengan surat pembatalan, yang
ditujukan kepada tertarik dengan menyebutkan:
1. Nomor Bilyet Giro;
2. Tanggal penarikan;
3. Jumlah dana yang dipindahhbukukan.

f. Bilyet Giro Kosong


Sama halnya dengan cek kosong, Bilyet Giro Kosong sering terjadi
dalam lalu lintas pembayaran. Bilyet Giro Kosong adalah bilyet giro yang
diajukan kepada bank, namun dananya pada bank tidak mencukupi untuk
membayar atau memenuhi amanat pada bilyet giro yang bersangkutan atau
Bilyet Giro yang ditolak dalam tenggang waktu adanya kewajiban
penyediaan dana oleh penarik karena dananya tidak cukup (Pasal hurup i
SKBI No.28/122/KEP/DIR/1996).
Menurut SEBI No.28/137/UPG/1966, penatausahaan Bilyet Giro
Kosong adalah:
1. Penolakan pembayaran terhadap tiap-tiap Bilyet Giro kosong oleh bank,
baik karena dananya tidak cukup maupun karan alasan lain, harus
disertai dengan Surat Keterangan penolakan (SKP).
2. SKP harus memuat nama, alamat, Nomor rekening dan NPWP nasabah
penarik Bilyet Giro yang bersangkutan. Apabila nasabah termaksud
suatu Fa, CV, PT, Koperasi, Yayasan, Perkumpulan, maka disamping
nama perusahaan yang bersangkutan dicantumkan pula nama penarik.
4. Bank harus memberikan: (Pasal 6 ayat 1)
a. Surat Peringatan I (SP-I), untuk penolakan Bilyet Giro Kosong Pertama;
b. Surat Peringatan II (SP-II) untuk penolakan Bilyet Giro Kosong Kedua;
c. Surat Pemberitahuan Penutupan Rekening (SPPR) untuk nasabah :
(Pasal 7)
 Menarik Bilyet Giro Kosong 3 lembar atau lebih dalam jangka waktu
6 bulan;
 Menarik Bilyet Giro Kosong 1 lembar dengan nominal
1.000.000.000,00 (satu miliyar rupiah)
 Namanya tercantum dalam daftar hitam yang masih berlaku.
d. Setiap bank yang mengirim SP-I, SP-II, SP-III atau SPPR kepada
nasabah, satu tembusan disampaikan kepada Bank Indonesia Bagian
Lalu Lintas Pembayaran Giral bangi bank-bank di Jakarta, atau Kantor
Bank Indonesia setempat bagi bank-bank di luar jakarta.
e. Permohonan pembatalan atas penolakan Bilyet Giro dengan alasan
kosong diajukan oleh bank secara tertulis kepada Bank Indonesia
setempat dengan melampirkan bukti-bukti tertulis yang mendukung
adanya kesalahan adminsitrasi bank.
f. Permohonan tersebut di atas harus diajukan paling lambat 1 bulan sejak
tanggal penolaka, pelampauan tertahap batas waktu tersebut
diselesaikan secara kasus per kasus.
Bagi penerbit yang menerbitkan Bilyet Giro kosong akan mendapat
sanksi adminsitrasi berupa pencantuman nama nasabah ke dalam Daftar
Hitam Penarikan Bilyet Giro Kosong, serta nasabah tersebut wajib
mengembalikan sisa blanko Bilyet Giro yang belum digunakan. Nama
nasabah yang tercantum dalam daftar hitam penarik bilyet giro kosong akan
hapus dengan sendirinya setelah masa berlakuknya daftar hitam tersebut
berakhir, dan kemudian dapat diterima kembali sebagai nasabah bank.
Akan tetapi apabila si penerbit Bilyet Giro kosong ada indikasi dan patut
diduga setelah proses penyelidikan ternyata ada unsur penipuan dapat
dijatuhkan sanksi pidana sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana.

6. Sertifikat Deposito
a. Pengertian
Sertifikat Deposito diatur dalam SK Direksi BI No.21/48/ KEP/DIR,
dan SEBI No.21/27/UPG, tanggal 27 Oktober 1988. Menurut ketentuan
Pasal 1 hurup c, SK Direksi BI No.21/48/ KEP/DIR , Sertifikat Deposito
adalah Surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang merupakan surat
pengakuan hutang dari bank dan LKBB yang dapat diperjual belikan dalam
pasar uang. Sertifikat Deposito tidak sama dengan Deposito berjangka,
Deposito berjangka bukan merupakan surat berharga, tetapi surat yang
mempunyai harga yang tidak dapat diperjuabelikan atau tidak dapat
digunakan sebagai alat bayar. Sertifikat Deposito hanya dapat diterbitkan
dalam rupiah dengan nilai nimonal sekurang-kurangnya Rp.1.000.000,-
(satu juta rupiah), dengan jangka waktu sekurang-kurangnya 30 hari dan
selama-lamanya 24 bulan.
Semenjak dikeluarkannya Surat Keputusan tersebut di atas
penerbitan Sertifikat Deposito tidak perlu minta persetujuan bank Indonesia,
seperti diatur dalam ketentuan lama, yaitu: SK BI No.17/44/KEP/DIR dan
SEBI No.17/2/UPUM, tanggal 22 Oktober 1984. Dengan demikian setiap
bank dan KLBB yang telah memenuhi syarat dapat dengan mudah
menerbitkan sertifikat deposito sesuai dengan persyaratan yang ditentukan
Bank Indonesia.

b. Persyaratan Penerbitan Sertifikat Deposito


Berdasarkan SEBI No.21/27/UPG, tanggal 27 Oktober 1988,
persyaratan yang harus dipenuhi dalam penerbitan Sertipikat Deposito
adalah:
1. Pada halaman depan sekurang-kurangnya dicantumkan:
a. Kata-kata “SERTIFIKAT DEPOSITO” dan “DAPAT
DIPERDAGANGKAN” dalam ukuran besar sehingga mudah terlihat.
b. Nomor seri dan nomor urut.
c. Nama dan tempat kedudukan penerbit.
d. Nilai nominal dalam rupiah.
e. Tanggal dan tempat penerbitan rupiah.
f. Tingkat bunga atau diskonto.
g. Pernyataan bahwa penerbit mengikat diri untuk membayar sejumlah
uang tertentu dalam rupiah pada tanggal dan tempat tertentu.
h. Tanda tangan direksi atau pejabat yang berwenang dari penerbit.
i. Tanda tangan pejabat dari kantor cabang di tempat sertifikat deposito
diterbitkan.

2. Pada halaman belakang dicantumkan klausula yang sekurang-


kurangnya menyatakan bahwa:
a. Penerbit menjamin sertifikat deposito dengan seluruh harta dan
piutangnya.
b. Sertifikat deposito dapat diperjualbelikan dan dapat dipindah-
tangankan dengan cara penyerahan.
c. Pelunasan dilakukan pada tanggal jatuh waktu atau sesudahnya
dengan menyerahkan kembali warkat sertifikat deposito yang
bersangkutan oleh pembayar.
Selain persyaratan di atas bahan baku yaitu kertas yang
dipergunakan sebagai bahan blanko sertifikat deposito sekurang-
kurangnya sama dengan mutu kertas untuk mencetak blanko cek yaitu
sesuai dengan yang ditentukan untuk “the London Clearing bank’s Paper
Specification No.1 (96 gsm). Kemudian dalam men-cetak blanko sertifikat
deposito dimaksudkan hendaknya di-perhatikan unsur-unsur
pengamanannya, sehingga perlu dicipta-kan ciri-ciri pengaman, misalnya
bentuk tulisan, gambar dasar, tanda air dan garis guiloche.

7. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)


SBI telah dikenal di Indonesia sejak tahun 1970, tetapi kemudian
dihapus kembali pada tahun 1971. Sejalan dengan per-ubahan di dalam
pelaksanaan kebijaksanaan moneter maka diperkenalkan kembali SBI
tahun 1984 dan Surat berharga Pasar Uang 1985. Saat ini ketentuan SBI
di atur dalam:
1. Keputusan Presiden RI No.5 tahun 1984 tentang penerbitan SBI.
2. SKBI No.21/52/KEP/DIR dan SEBI No.21/30/UPG masing-masing
tanggal 27 Oktober 1988 perihal Penerbitan dan Per-dagangan
Sertifikat Bank Indonesia.
3. SEBI No.22/75/UPG tanggal 16 September 1989 perihal Lelang SBI
dan Surat Berharga Pasar Uang.
SBI berfungsi sebagai piranti Operasi Pasar terbuka (OPT) dalam
rangka pelaksanaan kebijaksanaan moneter oleh BI sebagai Bank Sentral,
dan piranti pasar uang yaitu piranti dalam rangka pengelolaan likuiditas
jangka pendek baik oleh bank maupun oleh masyarakat lainnya.
Penerbitan SBI dilakukan secara lelang yang terdiri dari 2 jenis yaitu:
1. Lelang tetap mingguan yang dilakukan setiap hari rabu atau hari
kerja berikutnya. Jangka waktu SBI yang ditawarkan melalui lelang
tetap mingguan berkisar dari 1 bulan sampai dengan 12 bulan yang
dinyatakan dalam hari dengan penyelesaian pada hari kerja berikut
atau 2 hari kerja berikutnya.
2. Lelang harian yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan
pengendalian moneter dan dilaksanakan setiap hari Senin sampai
dengan Sabtu. Jangka waktu SBI ini berkisar 7 hari sampai 12 bulan
dengan penyelesaian pada hari kerja yang sama.
Bukti pemilikan SBI bagi pembeli dapat berupa: nota debet SBI 7
hari, warkat SBI yang diterbitkan secara fisik, Bilyet Depot simpanan (BDS)
apabila warkat SBI disimpan di Khasanah Bagian PUM, Bank Indonesia.
Demi untuk keamanan. pada umumnya para pemilik/pembeli SBI
dianjurkan untuk mengguna-kan BDS. Dominasi SBI terdiri dari pecahan
Rp.25 juta, Rp.50 juta, Rp.100 juta, Rp.200 juta, Rp.500 juta, Rp.1 miliyar,
Rp.5 miliyar dan Rp.10 miliyar.

8. Surat Berharga Komersial


a. Pengertian
Surat berharga komersial atau dikenal dengan istilah Commercial
Paper disingkat “CP” merupakan salah satu bentuk surat berharga yang
relatif baru berkembang di Indonesia. Surat berharga komersial ini hampir
sama dengan Surat Sanggup, oleh karena itu pengaturannya berlandaskan
Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD), khusus mengenai
ketentuan Surat Sanggup, ketentuan hak pemegang, ketentuan Andosmen,
dan cara penulisan nominal. Hal ini secara tegas disebutkan dalam SK
Direksi BI No.28/52/KEP/DIR dan SEBI No.28/49/UPG, tanggal 11 Agustus
1995 tentang Persyaratan Penerbitan dan Perdagangan Surat Berharga
Komersial (Commercial Paper/CP) melalui Bank Umum di Indonesia.
Menurut “Pasal 1 SKBI tersebut, Surat Berharga Komersial adalah:"Surat
Sanggup tanpa jaminan spesifik yang diterbitkan oleh perusahaan bukan
bank dan diperdagangkan melalui bank atau perusahaan efek, berjangka
waktu pendek dan diperdagangakan dengan sistem diskonto”.
Dari ketentuan diatas, Surat berharga komersial adalah se-jenis
surat sanggup yang diatur dalam KUHD yang diterbitkan oleh Perusahaan
bukan bank. Bank dan perusahaan efek hanya sebagai sarana jual beli
Surat Berharga Komersial, namun demikian tidak semua perusahaan
bukan bank dapat menerbitkan Surat Berharga Komersial kecuali telah
memenuhi persyaratan yang ditentukan BI, umpanya kelayakan
perusahaan calon penerbit.

b. Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Penerbitan Surat Berharga


Komersial dan peranannya
Dalam penerbitan Surat Berharga Komersial ada beberapa pihak
terlibat, yang sebagian besar adalah pihak bank, masing-masing bank
tersebut memilik peran dan kewajiban yang berbeda, yaitu:
1. Pengatur Penerbitan (Aranger)
Adalah Bank atau Perusahaan Efek yang berdasarkan perjanjian ertulis
dengan calon penerbit Surat Berharga Komersial mengatur rencana
penerbitan Surat Berharga Komersial
Bank sebagai Pengatur Penerbitan mempunyai kewajiban yaitu:
1).Menyiapkan dan menyebarluaskan memorandum informasi yang
objektif tentang calon penerbit:
- Laporan keuangan Perusahaan Penerbit
- Anggaran Dasar Perusahaan Penerbit
- Tanggung jawab hukum dari semua pihak yang terlibat dalam
transaksi Surat Berharga Komersial
- Peringkat Surat Berharga Komersial
2).Penyebaran informasi media cetak
3).Laporan kepada Bagian Penelitian dan Pengembangan Dana Urusan
Pasar Uang dan Giralisasi Bank Indonesia :
- -Formulir laporan kegiatan dalam rangka penerbitan SBK.
- Setiap program penerbitan Surat Berharga Komersial.
- Selambat-lambatnya akhir bulan penerbitan.
4).Kegiatan lain dalam rangka pengaturan penerbitan:
a.memberikan data keuangan calon penerbit yang ada baik di bank ybs.,
termasuk kolektibilitas pinjaman, kepada lembaga peringkat efek
yang akan melakukan peringkatan sepanjang ada surat kuasa dari
calon penerbit
b.Meminta informasi antar bank dalam rangka penerbitan Surat
Berharga Komersial.
2. Agen Penerbit (Issuing Agent)
Adalah bank atau Perusahaan Efek yang berdasarkan perjanjian tertulis
dengan calon penerbit CP melakukan pengabsahan CP. Sebelum Agen
Penerbit melakukan pengesahan, maka Agen Penerbit berkewajiban
melakukan penelitian atas kebenaran prosedur pe-nerbitan CP, baik dari
segi administrasi maupun yuridis, misalnya : kebenaran dan keaslian tanda
tangan penerbit CP, keaslian kertas CP, memperhatikan pemenuan UU
dan ketentuan yang berlaku dll.
3. Agen Pembayar (Paying Agent)
Adalah Bank yang berdasarkan perjanjian tertulis dengan calon penerbit
melakukan pembayaran sejak CP tersebut jatuh waktu. Se-menjak CP
tersebut sah terbit, Agen Pembayar mempunyai kewajib-an melakukan
pembayaran setiap CP yang diujukan oleh pemegang.
4. Pedagang Efek (Dealer)
Adalah Bank atau Perusahaan Efek yang ditunjuk oleh calon penerbit
untuk mengusahakan penjualan dan atau pembelian CP baik untuk
kepentingan sendiri maupun kepentingan nasabahnya.
5. Pemodal (Investor)
Adalah Perorangan atau badan Hukum Domestik maupun asing yang
membeli CP.
6. Perigkat (Rating)
Adalah Kode yang dibakukan untuk menunjukan kualitas dari suatu CP
yang penetapanya dilakukan oleh lembaga peme-ringkat efek di dalam
negeri yang mendapatkan izin dari Bapepam.
Kualitas invesment (investment grade) adalah peringkat yang
diberikan oleh lembaga peringkat efek saai adalah PT.Pemeringkat Efek
Indonesia (PEFINDO), CP yang didukung oleh tingkat kesanggupan
membayar kembali minimal secara memadai. Tingkat kesanggupan tersebut
dimulai dari urutan yaitu:
1. MEMADAI : (PA4)
2. MEMUASkAN : (PA3)
3. KUAT : (PA2)
4. PALING TINGGI : (PA1)
Dalam penerbitan Surat Berharga Komersial banyak pihak terkait,
setiap pihak memilik peranan dan tanggungjawab masing-masing, sehingga
boleh dikatakan penerbitan Surat Berharga Komersial lebih rumit atau lebih
komplek bila dibandingkan dengan penerbitan surat berharga lain.
Mekanisme mulai rencana penerbit hingga penjualan terdapat syarat-syarat
yang sangat ketat sekali, untuk lebi jelaskan perhatikan bagan mekanisme
penerbitan Surat Berharga Komersial.

c. Syarat Formal CP
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi Surat Berharga Komersial,
yaitu:
1). PADA HALAMAN MUKA TERCANTUM :
1. Klausula sanggup dan kata "surat sanggup"
2. Janji tanpa syarat untuk membayar
3. Penetapan hari bayar
4. Penetapan tempat pembayaran
5. Pihak penerima/pembayar atau pengganti
6. Tempat dan tanggal penerbitan
7. Tanda tangan penerbit
8. Kata-kata "Surat Berharga Komersial"
9. Klausula "dapat diperdagangkan"
10. Pengatur penerbit "Tanpa protes dan tanpa biaya".
11. Nama bank/perusahaan efek sebagai agen penerbit.
12. Nama dan alamat bank sebagai agen/pembayar.
13. Nomor seri CP.
14. Keterangan mengenai cara penguangan CP

2). PADA HALAMAN BELAKANG:


1. Endosmen blanko dengan klausula tanpa hak regres
2. Cara perhitungan nilai tunai.
3). Syarat lain:
1. Jangka waktu paling lama 270 hari
2. Penerbit perusahaan bukan bank
3. Telah memperoleh peringkat
Syarat-syarat yang ditetapkan tersebut dapat terlihat pada ujud Surat
Berharga Komersial, apabila ada syarat yang tidak terpenuhi, maka dapat
saja surat berharga komersial tersebut catat bentuk. Oleh karena itu setiap
penerbitan Surat Berharga Komersial sangat ketat sekali, karena kalau tidak
resikonya tinggi. Untuk memperjelas lihat contoh surat berharga komersial
pada lampiran.
d. Persyaratan dan KewajibanBank
Berdasarkan Pasal SK BI No.28/49/UPG, tanggal 11 Agustus 1995.
Bahwa persyaratan dan kewajiban bank adalah:
1. Bank yang bertindak sebagai pengatur penerbit, agen penerbit, agen
pembayar, pemegang efek atau pemodal dalam kegiatan perdagangan
CP adalah bank yang dalam 12 bulan terakhir tingkat kesehatannya dan
pemodalannya tergolong sehat.
2. Bank hanya diperbolehkan bertindak sebagi pengatur penerbit-an, agen
penerbit, agen pembayar, pedagang efek atau pe-modal terhadap CP
yang termasuk dalam kualitas investasi sebagaimana ditetapkan oleh
lembaga pemeringkat efek.
3. Kegiatan usaha bank sebagai pengatur penerbitkan. Agen penerbit, agen
pembayar atau pemegang efek tidak memerlu-kan ijin dari Bank
Indonesia.
Selain itu Bank yang bertindak sebagai pengatur penerbit wajib
menyiapkan dan menyebarluaskan memorandum informasi yang obyektif
mengenai calon penerbit, sekurang-kurangnya me-muat: (Pasal 7)
a. Laporan keuangan tahunan buku terakhir yang telah diaudit oleh akuntan
publik yang telah terdaftar di Bapepam dengan kualifikasi wajar tanpa
syarat.
b. Laporan keuangan kuartalan terbaru.
c. Anggaran dasar perusahaan penerbit.
d. Tanggungjawab hukum dari semua pihak yang terlibat dalam transaksi
CP.
e. Peringkat CP.
Penyebarluasan informasi tersebut harus dilakukan dengan media cetak dan
demikian juga kegiatan bank sebagai penerbit wajib dilaporkan oleh bank
yang besangkutan kepada bank Indonesia. Sedangkan kewajiban Agen
Penerbit adalah melakukan penelitian atas kebenaran prosedur penerbitan
CP baik dari segi administratif maupun yuridis.(Pasal 8)

e. Penguangan CP
Berdasarkan SK Direksi BI No.28/52/KEP/DIR, tanggal 11 Agustus
1995 ada dua cara penguangan CP yaitu:
1. CP yang jatuh waktu dapat ditagihkan sejumlah nilai nominal pada agen
pembayar selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan sejak saat
jatuh waktu.
a. 2.Setelah jangka waktu tersebut, CP hanya dapat ditagih langsung
kepada penerbit.
Kadang kala dalam penulisan surat berharga antara jumlah tulisan
nomimal dengan hurup berbeda, mengenai hal ini menurut SKBI
tersebut adalah sebagai berikut:
2. 1.CP yang jumlah uangnya terdapat perbedaan antara yang ditulis dalam
hurup dan dalam angka, yang berlaku adalah jumlah dalam hurup
selengkap-lengkapnya.
3. 2.Dalam jumlah uang tertulis ditulis berulang-ulang dan dapat selish,
maka yang berlaku adalah jumlah yang terkecil.
4. 3.Setiap perubahan amanat yang telah tertulis dalam CP harus di-
tandatangani oleh penerbit di tempat kosong yang terdekat dengan
perubahan dan ditandatangani serta oleh pengatur penerbit dengan
mencantumkan tanggal perubahan tersebut.

f. Larangan Bagi Bank:


Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa bank tidak diper-bolehkan
menerbitkan Surat berharga komersial, selain itu ada beberapa larangan lain
yang harus diiuti oleh pihak bank dalam penerbitan CP, yaitu:
1. Untuk bertindak sebagai pengatur penerbitan, agen penerbit, agen
pembayar atau pemodal atas penerbitan CP dari :
a. Perusahaan yang merupakan anggota group bank ybs.
b. Perusahaan yang pada saat merencanakan penerbitan CP mempunyai
pinjaman yang digolongkan diragukan dan macet.
2. Menjamin penerbitan CP
3. Memperhitungkan pembelian CP sebagai " angsuran atau pe-lunasan
kredit" baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah
diberikannya kepada penerbit CP

g. Sanksi
Bank yang melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam SK BI No.
28/52.KEP/DIR tanggal11 Agustus 1995 dikenakan “Sanksi Administrasi”.
Sanksi administrasi tersebut . diatur dalam pasal 52 UU No.10 tahun 1998.
(1) “Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 47, pasal 48, dan Pasal 49 Bank Indonesia dapat
menetapkan sanksi administrasi kepada bank yang tidak memenuhi
kewajiban sebagaimana ditentukan dalam UU ini atau Pimpinan BI
dapat mencabut izin usaha bank yang besangkutan.
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 antara lain adalah:
a. Denda Penyampaian teguran-teguran tertulis.
b. Teguran tertulis
c. Penurunan tingkat kesehatan bank.
d. Larangan turut serta dalam kegiatan kliring.
e. Pembekuan kegiatan usaha baik untuk beberapa cabang tertentu maupun
untuk bank secara keseluruhan.
f. Pemberhentian pengurus bank dan selanjutnya menunjuka dan
mengangkat pengganti sementara sampai Rapat Umum Pemegang
Saham atau rapat anggota Koperasi menggangkat pengganti yang tetap
dengan persetujuan Bank Indonesia.
g. Pencantuman anggota pengurus, pegawai bank, pemegang saham dalam
daftar orang tercela di bidang perbankan.
Disamping surat-surat berharga yang dijadi alat bayar dalam
transaksi bisnis di atas, ada juga beberapa surat yang berfungsi sebagai
alat bayar, namun surat-surat tersebut bukanlah surat berharga murni,
karena surat-surat tersebut tidak dapat berfungsi penuh seperti surat
berharga: Surat Cek, Wesel, Surat Sanggup, Bilyet Giro. Bentuk alat bayar
tersebut adalah Kartu Kredit, Anjungan Tunai mandiri (ATM).
1. Kartu Kredit
Hingga saat ini belum ada kesepakatan tentang definisi dari kartu kredit
dikalangan ahli, oleh karena itu, pengertian kartu kredit diambil dari hal-hal
yang umum.
O.P. Simorangkir, kartu kredit adalah uang tunai atau cek.
Encyclopedia of Banking law, credit card diartikan sebagai berikut: "The
term credit card is ageneric once to describe a plastic card enabling the
holder to when it is issued ti obtain cash stow over for present perpool they
are two main catagories of credit card, which involve night and obligations
between the parties concern".
Munir Fuady, Kartu kredit merupakan suatu kartu yang umumnya dibuat
dari bahan plastik, dengan dibubuhi identitas dari pemegang dan
penerbitnya, yang memberikan hak terhadap siapa kartu kredit diisukan
untuk menamdatangani tanda pelunasan pembayaran harga dari jasa atau
barang yang dibeli ditempat-tempat tertentu, seperti toko, hotel, restoren,
penjualan tiket pengangkutan, dll.... (1996:216-217).
Dari beberapa pengertian kartu kredit di atas, pada dasarnya kartu kredit
adalah kartu kepercayaan atau sebagai alat yang terbuat dari bahan kertas
atau plastik tebal yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang berbentuk empat
persegi panjang, diterbitkan oleh sebuah perusahaan atau bank, yang
mempunyai fungsi-funsi atau kegunaan dan kepercayaan dalam
pelaksanaan transaksi sebagai pengganti uang tunai atau cek. Dalam hal
ini ada pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu mengapa alat tersebut
disebut kartu kredit? Dikatakan alat tersebut kartu kredit karena dengan
kartu itu seseorang dapat melakukan transaksi tanpa harus membayar saat
itu juga dengan uang tunai atau cek, tetapi cukup hanya dengan
memperlihatkan kartu kredit itu saja dan menandatangani bukti pembelian,
sedangkan pembayarannya dilaksanakan melalui pihak yang menerbitkan
kartu kredit setelah ada tagihan dari pedaganga. Dengan demikian ada
pembayaran yang ditunda dan terhadap penundaan itu yang telah dibuat.
Pada umumnya anggapan masyarakat Indonesia saat ini, bahwa
setiap katu yang disebut di atas dikeluarkan oleh sebuah perusahaan
adalah kartu kredit, sehingga bagi orang yang belum mengerti akan
beranggapan bahwa kartu itu dapat digunakan untuktransaksi dengan
sistem kredit. Pada hal kenyataannya kartu yang diterbitkan oleh
perusahaan atau bank tidak semua dapat memenuhi unsur kredit, sehingga
dalam penggunaannya juga berbeda. Kartu yang tidak mempunyai unsur-
unsur kredit itu disebut "Charge Card" atau "kartu pembayaran", yang
saat banyak diterbitkan oleh berbagai bank. Fungsi kartu pembayaran sama
dengan kartu kredit yait sebagai alat pembayaran sementara pengganti
uang tunai atau cek dapat dibayar kemudian. Perbedaan kedua kartu ini
terletak pada saat pembayaran setelah ada tagihan dari bank atau
perusahaan. Kalau orang berbelanja dengan kartu kredit, maka semua
pembayaran atas nama transaksi yang pernah dilakukan oleh card holder
dapat dicicil dan sisanya dikenakan bunga, sedangkan orang yang
menggunakan kartu pembayaran dilakukan secara kontan kepada pihak
yang mengeluarkan kartu pembayaran sebanyak jumlah tagihan, tidak
dapat dicicil dan tidak dikenakan bunga.
Sejarah asal usul timbulnya kartu kredit setelah Perang Dunia ke-II,
pada saat itu perdagangan antar pulan berkembang dengan pesatn
terutama di negara-negara Eropa dan Amerika. Sejalan dengan
perkembangan perdagangan, berkembang pula dunia perbankan, karena
perbankan merupakan sarana yang utama dalam menyediakan fasilitas
modal. Untuk memperlancar arus perdagangan, selain uang tunai
digunakan sebagai alat pembayaran dipergunakan pula alat pembayaran
lain yaitu Surat Cek, karena dirasakan lebih praktis dan aman.
Penggunaan alat pembayaran dalam bentuk cek berkembang
dengan pesat, sehingga timbullah bermacam-macam manipulasi atau
spekulasi termasuk cek kosong. Karena kekhawatiran dikalangan
pedagang di Amerika dan Eropa dan juga keenganan untuk
mempergunakan uang tunai dan cek, timbullah gagasan dari kalangan
pengusaha bank yaitu Bank of America Overseas, menciptakan suatu alat
pembayaran yang dirasakan lebih praktis yaitu America Card atau dapat
disebut juga sebagai credit card.
Ternyata penggunaan kartu kredit sebagai alat pembayar-an
mendapat sambutan yang luas, baik oleh kalangan pedagang maupun
konsumen. Sehingga tidak heran seorang pedagangan yang boanfit
memiliki bermacam-macam kartu kredit untuk kepentingan yang berlain-
lainan. Bahkan ada tempat-tempat tertentu yang hanya menerima
pembayaran dengan kartu kredit, karena demi kepraktisan dan keamanan.
Bank of America tidak saja mengeluarkan kartu kredit tetapi juga
mengeluarkan alat pembayaran lain yaitu Traveler's Cek, melainkan dalam
kenyataan Traveler Cek murang sekali peminatnya dibandingkan kartu
kredit. Kartu kredit tidak saja berkembang di Amerika, tetapi juga di Inggris
dan negara-negara Eropa lainnya yaitu yang diterbitkan oleh Eurocheqe
dan Chargex. Di Indonesia kartu kredit mendapat pasaran yang luas
disamping pembayaran menggunakan cek. Perusahaan pertama yang
menerbitkan kartu kredit dalam jumlah yang cukup banyak yaitu MNDC,
meskipun perusahaan-perusahaan atau bank-bank asing membuka
cabang di Indonesia, seperti america Express, PT. Diners Indonesia Club,
Americard oleh Bank of America.
Dalam penerbitan dan penggunaan kartu kredit ada beberapa pihak
yang terkait secara langsung, seperti:
1. Pemegang kartu (Cardholder)
2. Pengusaha, pedagang ( Merchant)
3. Bank atau pihak yang mengeluarkan kartu kredit (Card Essuer)
1. Pemegang Kartu
Cardholder atau card member diartikan Pemegang kartu yang
namanya tercetak dikartu dan yang berhak menggunakan kartu pada
Merchant/pedagang. Card holder adalah orang yang memegang kartu
kredit secara sah. Kartu kredit tidak dapat dipindahtangankan dan harus
ditandatangani oleh pemegang kartu kredit tersebut, disinilah letak
perbedaan secara prinsip dengan surat berharga lain, yang dapat
dipindahkan sesuai dengan klausula yang terkandung dalam surat tersebut.
Seorang yang memperoleh kartu kredit disebut pemegang kartu kredit,
tetapi bukan pemilik kartu kredit.
Keuntungan-keuntungan yang diperoleh pemegang jartu kredit,
antara lain:
1. Keamanan;
2. Praktis;
3. Prestise;
4. Penggunaan internasional;
5. Kartu kredit dapat dipakai untuk menarik uang tunai;
6. Mendapatkan asuransi perjalanan;
7. Pembayaran yang flexibel;
8. Pembayatan PIN (Personal indentification number)

2. Merchant
Penggunaan istilah merchant diberikan kepada tempat-tempat
dimana kartu kredit dapat digunakan, seperti hotel, restoran, tempat
hiburan, dan lain-lain. Menurut Iman Prayogo dan Djoko Prakoso, merchant
adalah pihak-pihak yang menerima pembayaran dengan kartu kredit dari
pemegangnya. Tempat-tempat yang menerima kartu kredit sebagai alat
memberikan tanda atau menempelkan logo dari kartu kredit yang diterima.
Tidak semua tempat dapat menjadi merchant dari kartu kredit. Untuk dapat
menjadi Merchant bagi salah satu kartu kredit, ada dua cara yang dapat
ditempuh:
 Permohonan dari pengusaha kepada pihak bank agar ditunjuk sebagai
merchant;
 Penawaran atau permintaan dari pihak bank kepada pengusaha yang
bersangkutan, agar tempatnya bersedia menjadi merchant.
Untuk memperlancar para Merchant dalam melayani transaksi
dengan kredit, maka pihak bank memberikan penjelas-an-penjelasan
kepada merchant tentang mekanisme pelayanan transaksinya. Disamping
itu kepada merchant diberikan alat-alat yang dapat mendukung transaksi,
yaitu:
1. Alat printer untuk mencetak huru-hurup timbul yang ada pada kartu
kredit pada lembaran bukti transaksi;
2. Sale draft, yaitu formulir yang disediakan bank sebagai sarana merchant
mencatat transaksi, dan sebagai bukti pendukung pada saat menangih
kepada bank;
3. Daftar hitam (black list atau Cancellation Biletin, atau sering disebut car
recovery buletin) yang memuat nomor karti kredit yang sudah dibatalkan
dan tidak berlaku lagi. Daftar ini selalu diperbaharuhi setip 7 hati;
4. Logo atau labang kartu kredit yang diterima untuk ditempel di meja kasir
atau pintu.
Seperti halnya cardholder, terhadap setiap merchantpun ditentukan
pula batas atau biasanya disebut "Floor Limit". Maksud floor limit adalah
batas jumlah harga pembelian yang bisa dilayani langsung tanpa memintah
persetujuan dari pihak bank.
3. Card Issuer
Bank yang mengeluarkan kartu kredit meripakan pihak yang harus
dmedahului membayar kepada merchant, atas semua biaya akibat
penggunaan kartu kredit oleh para pemmegang kartu.selath jatuh tempo,
pihak bank baru menangih kepada pemegang kartu dengan mengirimkan
tagihan penggunaan kartu kredit atau Billing Statement. Dalam mekanisme
transaksi pembelian barang atau jasa maupun pengambilan uang tunai,
dengan menggunakan kartu kredit dikenal suatu bagian yang ada pada
bank, yaitu bagian Otorisasi. Istilah otorisasi itusendiri berarti mekanisme
pemberian persetujuan bank untuk setiap transaksi kartu yang nilai
melampaui floor limit yang ditetapkan bank kepada mercahant.
Bagian otorisasi ini merupakan alat kontrol dari mekanisme transaksi
yang menentukan disetujui atau tidak semua transaksi. Mengingat bagian
otorisasi harus melayani permintaan otorisasi dari semua transaksi di dalam
maupun diluar negeri, maka bagian otorisasi harus bekerja 24 jam secara
terus menerus.
Pada dasarnya ada tiga hubungan hukum yang terjadi dalam
kegiatan pemakaian kartu kredit, yaitu pertama antara Bank/Perusahaan
dengan Pemegang Kartu, kedua antara Bank/Perusahaan dengan
Merchant, yang ketiga adalah per-janjian antara Pemegang kartu dengan
Merchent. Dengan demikian para pihak terikat dengan perjanjian yang
mereka buat tersebut.

4. Bentuk Formal dan Syarat Penerbitan Kartu Kredit.


a. Bentuk Formal
Secara umum surat berharga harus memenuhi syarat formal. Kalau
dalam Pasal 100 KUHD adalah syarat-syarat agar suatu surat
dinamakan wesel, pasal 178 KUHD memuat pula persyaratan tentang
surat cek. Pada hakekatnya bentuk formal yang tersebut di dalam Pasal
178 KUHD juga terdapat dalam kartu kredit. Meskipun bentuk formal
kartu kredit perusahaan yang satu dengan yang lain kadang-kadang
terdapat sedikit perbedaan, namun perbedaan yang ada tersebut adalah
tidak prinsip. Berikut di bawah ini adalah sebuah contoh dri skema kartu
kredit yang lazim:

NAMA BANK1 CLAUSULA CARD2

------------------------------------------------------------------

TANDA TANGAN

NOMOR

CREDIT CARD5

Keterangan:
1. yaitu keterangan tentang badan hukum (perusahaan/bank yang
NAMA PEMEGANG3 JATUH TEMPO6
mengeluarkan kartu kredit.
2. Keterangan yang berbunyi card atau dalam istilah Indonesia-nya kartu.
3. Keterangan tentang nama pemegang/indentitas pemegang.
4. Petunjuk mengenai tanda tangan.
5. Keterangan tentang nomor urut kartu kredit.
6. Keterangan tentang jatuh tempo atau lamanya berlaku kartu kredit.

5. Syarat Penerbitan
Ada dua syarat yang harus ditempuh dalam penerbitan kartu kredit, yaitu:
a). Syarat-syarat Umum
Yaitu syarat yang umu ditetapkan oleh perusahaan/bank dalam
mengeluarkan kartu kredit, yang terdiri dari:
1. Mengisi surat permohonan. Surat permohonan diisi berdasarkan
formulir yang diediakan oleh bank/ perusahaan, dimana kartu
kredit dikeluarkan. Adapun isinya adalah sebagai berikut:
 Pas photo dari pemohon;
 Identitas dari pemohon:
 nama lengkap
 Alamat rumah
 Alamat untuk penagihan
 Kewarganegaraan
 Jika mempunyai perusahaan, maka dicantum-kan nama
perusahaan, bidang usahanya, pangkatnya, alamat
perusahaan.
 Pendapatan sebulan,
 Bila menjadi nasaah bank maka tulis nama dan alamat
bank, jenis rekeningnya.
 Bila sudah mempunyai kartu kredit yang lain, maka tulis
nama kartu kredit, nama bank yang mengeluarkan.
 Kemudian ditanda tangani pemohon dan dibubuhi materei
Rp,6.000,-
2. Mengisi formulir perjanjian.
3. Membayar uang muka
4. Menunjukan bukti rekening di bank atau mempunyai simpanan
deposito di bank.

b. Syarat khusus
yaitu syarat yang dipunyai oleh bank tertentu, mislnya Bank of america
memberikan peraturan bahwa calon pemohon setidak-tidaknya
mempunyai rekening di bank US$ 250 dan angka pendapatan tiap
bulan US$1.000,-. Kemudian BCA menentukan bahwa harus
mempunyai rekening di bank yang cukup kurang lebih Rp.250.000,-
dan tidak memberi-kan batasan tentang pendapatan seseorang.
Selain syarat-syarat di atas, ada penilaian yang dilakukan oleh pihak
perusahaan yaitu sejarah kejujuran seseorang dalam melunasi utang-
utangnya termasuk penganalisaan tentang pengeluaran belanda dari si
pemohon itu. Atau dengan kata lain bank mencari pertimbangan umum
untuk adanya kepercayaan adalah 5C of credit:
1. Caracter yaitu watak dari orang yang akan diberi kartu kredit, kejujuran,
kesungguhan dalam memenuhi janji dan keinginan untuk memenuhi
janji.
2. Capasity adalah ukuran kecakapan managerial.
3. Collateral adalah jaminan dari pemegang bila tidak mau membayar,
maka dapat menjual barang-barang yang menjadi angunan.
4. Capital yaitu ukuran tentang sumber-sumber modal yang dimiliki.
5. Condition of economic yaitu kondisi ekonomi pada saat minta menjadi
anggota, dalam keadaan stabil atau tidak.
Setelah semua syarat terpenuhi dan menurt penilaian
bank/perusahaan calon pemohon dianggap cukup menjadi anggota dan
selanjutnya menerima kartu kredit, maka oleh bank ditentukan:
- Nomor urut dari kartu kredit;
- Tanggal jatuh temponya dari kartu kredit kalau BCA biasanya
berlaku 1 tahun;
- Batas pembelian per transaksi untuk tokoh-tokoh, umum dan juga
batas untuk hotel, restoran.
Kemudian setelah pemegang menerima kartu kredit dengan lengkap, maka
pemegang menerima juga tanda terima yang berfungsi sebagai kuitansi.

6. macam-Macam Kartu Kredit.


Bila dilihat dari bentuknya maka kartu kredit terdapat dalam
beberapa macam, antara lain:
a. American express card.
b. America Card (Visa).
c. MDMDC.
d. Diners Club International Card.
e. BCA Card.
f. Master Charge atau Maste Card.
Dari keenam macam kartu kredit di atas dibagi ke dalam dua macam
yaitu America Express bank (Kartu kredit Internasional) dan Bank Central
Asia (Kartu kredit lokal):
1. American Express bank dengan Amex Card dan Gold Card.
2. Bank Central Asia dengan BCA dan Master Card/Charge.
Amex Card adalah suatu kartu kredit biasa, sedangkan Gold Card
adalah kartu kredit luar biasa. Yang dimaksud dengan kartu kredit biasa
adalah jumlah pengeluaran dalam pem-belanjaan sebesar dana US$1000
(dalam 200 dollar mata uang setempat sisanya dalam american express
Traveler's Cheque, menurut persediaan kas dan ketentuan setempat),
brosur Amex Card. Sedangkan yang dimaksud dengan kartu kredit luar
biasa adalah jumlah pengeluaran dananya di atas seribu dollah amerika
(10.000,-dollar US maximum). Untuk BCA Card termasuk kartu kredit biasa,
karena hanya berlaku dalam negeri Indonesia saja dan jumlah
pengeluarannya dibatasi setinggi-tingginya 50% dari jumlah dana yang
tersedia. Master Charge termasuk luar biasa, karena selain dipergunakan
di luar negeri juga jumlah pengeluar-an dibatasi sebesar nilai maksimum
yang telah ditentukan dalam perjanjian.