Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PRAKTIKUM PENGENDALIAN MUTU

TAHAPAN PROSEDUR ELISA


PADA PEMERIKSAAN VIDAS HIV DUO ULTRA (HIV5)

Tugas Praktikum Ini Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pengendalian Mutu

Disusun oleh:
1. Desy Ratmawati P07134214012
2. Dyah Yulianita H P07134214013
3. Elynda Putri Kusuma P07134214014
4. Fadhila Annashuha P07134214015
5. Farida Mutamassikin P07134214016

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV
2017
TAHAPAN PROSEDUR ELISA
PADA PEMERIKSAAN VIDAS HIV DUO ULTRA (HIV5)

A. TAHAP PRA ANALITIK


1. Ketatausahaan
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen pada saat pengisian surat
pengantar/formulir permintaan pemeriksaan, pendaftaran, pengisian label wadah
spesimen.
a. Pada surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya
memuat secara lengkap:
1) Tanggal permintaan
2) Tanggal dan jam pengambilan spesimen
3) Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat/ruang) termasuk rekam
medik.
4) Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)
5) Nomor laboratorium
6) Diagnosis/keterangan klinik
7) Obat-obatan yang telah diberikan dan lama pemberian
8) Pemeriksaan laboratorium yang diminta
9) Jenis spesimen
10) Lokasi pengambilan spesimen
11) Volume spesimen
12) Transpor media/pengawet yang digunakan
13) Nama pengambil spesimen
14) Informed concent
b. Label wadah spesimen yang akan dikirim atau diambil ke laboratorium harus
memuat:
1) Tanggal pengambilan spesimen
2) Nama dan nomor pasien
3) Jenis spesimen

2. Persiapan Pasien
a. Pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 -09.00.
b. Menghindari obat-obatan sebelum spesimen diambil dengan tidak minum obat 24
jam sebelum pengambilan spesimen. Apabila pemberian pengobatan tidak
memungkinkan untuk dihentikan, harus diinformasikan kepada petugas
laboratorium.
c. Menghindari aktifitas fisik/olah raga sebelum spesimen diambil.
d. Memperhatikan posisi tubuh
Untuk menormalkan keseimbangan cairan tubuh dari perubahan posisi,
dianjurkan pasien duduk tenang sekurang-kurangnya 15 menit sebelum diambil
darah.

3. Pengumpulan Spesimen (berupa serum)


a. Pengambilan
1) Peralatan
Seacara umum peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat:
a) Bersih
b) Kering
c) Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen
d) Terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat yang ada pada spesimen
e) Mudah dicuci dari bekas spesimen sebelumnya
f) Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan biakan harus menggunakan
peralatan yang steril. Pengambilan spesimen yang bersifat invasif harus
menggunakan peralatan yang steril dan sekali pakai buang
2) Wadah
Wadah spesimen untuk pemeriksaan Vidas HIV Duo Ultra sebaiknya
menggunakan bahan yang berupa plastik (polietilen dan sejenis) atau gelas
Wadah spesimen harus memenuhi syarat :
a) Terbuat dari gelas atau plastik
b) Tidak bocor atau tidak merembes
c) Harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir
d) Besar wadah disesuaikan dengan volume spesimen
e) Bersih
f) Kering
g) Tidak mempengaruhi sifat zat-zat dalam spesimen
h) Tidak mengandung bahan kimia atau deterjen
i) Untuk pemeriksaan zat dalam spesimen yang mudah rusak atau terurai karena
pengaruh sinar matahari, maka perlu digunakan botol berwarna coklat
(inaktinis)
j) Untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan kuman, wadah harus steril
3) Antikoagulan dan pengawet
Untuk pemeriksaan Vidas HIV Duo Ultra tidak menggunakan antikoagulan
karena sampel yang diuji berupa serum
4) Lokasi pengambilan spesimen
Spesimen untuk pemeriksaan Vidas HIV Duo Ultra biasanya menggunakan
darah vena yang diambil dari vena cubiti daerah siku. Tempat yang dipilih
tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti "cyanosis" atau
pucat dan pengambilan tidak boleh di lengan yang sedang terpasang infus.
5) Volume
Volume spesimen yang diambil harus mencukupi kebutuhan pemeriksaan
laboratorium yang diminta atau dapat mewakili objek yang diperiksa. Untuk
pemeriksaan Vidas HIV Duo Ultra membutuhkan darah ± 2 ml
6) Teknik pengambilan spesimen
Pengambilan harus dilaksanakan dengan cara yang benar agar spesimen
tersebut mewakili keadaan yang sebenarnya.
Teknik pengambilan spesimen untuk darah vena :
a) Posisi pasien duduk atau berbaring dengan posisi lengan pasien harus lurus,
jangan membengkokkan siku. Pilih lengan yang banyak melakukan
aktivitas
b) Pasien diminta untuk mengepalkan tangannya
c) Pasang torniquet ± 10 cm di atas lipat siku
d) Pilih bagian vena mediana cubiti
e) Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil darahnya dengan alkohol
70% dan biarkan kering untuk mencegah terjadinya hemolisis dan rasa
terbakar. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi
f) Tusuk bagian vena yang telah didesinfektan dengan jarum, lubang jarum
menghadap ke atas dengan sudut kemiringan antara jarum dan kulit 15
derajat. Bila jarum berhasil masuk vena, akan terlihat darah masuk dalam
semprit dan hisap hingga memperoleh ± 2 ml darah. Selanjutnya lepas
torniquet dan pasien diminta lepaskan kepalan tangan
g) Tarik jarum dan letakkan kapas alkohol 70 % pada bekas tusukan untuk
menekan bagian tersebut selama ± 2 menit. Setelah darah berhenti, plester
bagian bekas tusukan

4. Penanganan Sampel dan Reagen


a. Pengolahan Serum
1) Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 20-30 menit,
kemudian disentrifus 3000 rpm selama 5-15 menit.
2) Pemisahan serum dilakukan paling lambat dalam waktu 2 jam setelah
pengambilan spesimen.
3) Serum yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh (lipemik).
b. Stabilitas Spesimen
Sampel disimpan pada suhu 2-8oC dalam wadah yang tertutup sampai dua hari.
Jika dibutuhkan penyimpanan lebih lama, bekukan serum pada suhu -25±6oC.
Hindari berkali-kali membekukan dan mencairkan serum.
c. Kondisi Penyimpanan
1) Simpan kotak VIDAS HIV DUOS Ultra pada suhu 2 – 8ᵒ C.
2) Jangan menyimpan reagen dalam freezer.
3) Simpan reagen pada suhu 2 – 8ᵒ C.
4) Setelah membuka kotak, cek kantong SPR dengan tepat, disegel, tidak cacat.
jika rusak, jangan menggunakan SPRs.
5) Untuk memelihara stabilitas sisa SPRs, segel kembali kantong secara hati-hati
setelah menggunakan dessicant dengan segel klip dan kembalikan kotak pada
suhu 2 – 8ᵒ C.
6) Jika disimpan menurut kondisi-kondisi yang dianjurkan, semua komponen
akan utuh dan stabil sampai tanggal waktu kadaluwarsa.

B. ANALITIK
1. Pereaksi
a. Kontrol C1 positif
Tambahkan 2 ml aquades (air destilasi). Biarkan selama 5-10 menit dan
campurkan. Stabil selama 2 bulan pada 2-80C.
b. Kontrol C3 positif
Tambahkan 2 ml aquades (air destilasi). Biarkan selama 5-10 menit dan
campurkan. Stabil selama 2 bulan pada 2-80C.
c. Standar (S1) RFV
Tambahkan 2 ml aquades (air destilasi). Biarkan selama 5-10 menit dan
campurkan. Stabil selama 2 bulan pada 2-80C.
d. Standar (S2) RFV
Tambahkan 2 ml aquades (air destilasi). Biarkan selama 5-10 menit dan
campurkan. Stabil selama 2 bulan pada 2-80C.
e. Larutan Buffer

2. Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan terdiri dari:
a. Sentrifuse
b. Inkubator
c. Strip Mikro-ELISA
d. ELISA Reader
e. Pipet dengan tip untuk mengambil 2 ml dan 200 ɥl.
f. Sarung tangan tanpa bedak.
g. Untuk material khusus lainnya dan yang diperlukan, Silahkan melihat Instrument
User’s Manual.
h. Instrument VIDAS

3. Kontrol Kualitas
Kontrol positif diidentifikasi dengan “C1 (antibodi)” dan “C3 (antigen)”.
Kontrol negatif diidentifikasi dengan “C2”.
Kontrol positif antibodi (C1), kontrol positif antigen (C3), dan kontrol negatif (C2)
sudah ada dalam setiap VIDAS HIV DUO ultra-kit. Kontrol ini harus segera
digunakan setelah kit terbuka untuk memastikan bahwa kinerja reagen belum berubah.
Setiap kalibrasi juga harus diperiksa dengan menggunakan kontrol ini. Instrumen
hanya akan dapat memeriksa nilai kontrol suatu sampel jika mereka diidentifikasi oleh
C1, C2, dan C3. Apapun nilai hasil antibodi untuk kontrol antigen positif C3. Hanya
hasil Ag yang memvalidasi kontrol ini. Hasil tidak dapat divalidasi jika nilai kontrol
menyimpang dari nilai-nilai yang diharapkan.
4. Metode Pemeriksaan
Metode yang digunakan untuk pemeriksaan Vidas HIV Duo Ultra adalah metode
ELISA dengan mendeteksi antibodi anti-HIV yang terdapat dalam serum.

5. Langkah Kerja
Langkah-langkah pemeriksaan Vidas HIV Duo Ultra menggunakan metode ELISA:
a. Menjernihkan sampel dengan sentrifuse
b. Memipet 200 µl standar, kontrol dan sampel uji dan masukkan kedalam sumuran
c. Melakukan inkubasi awal pada standar, kontrol maupun sampel uji menggunakan
alat uji
d. Melakukan pencucian untuk menghapus komponen tidak terikat menggunakan
larutan buffer
e. Melakukan inkubasi kedua dengan antigen biotinlated didalam strip
f. Menghilangkan kelebihan reagen dengan cara mencuci menggunakan larutan
buffer
g. Melakukan inkubasi ketiga dengan alkali fosfatase berlabel streptavidin
h. Menghilangkan kelebihan reagen dengan cara mencuci menggunakan larutan
buffer
i. Menghilangkan kelebihan reagen dengan cara mencuci menggunakan larutan
buffer
j. Menambahkan substrat 4-methyl-umbelliferyl phosphate kemudian inkubasi
k. Mengukur intensitas fluoresensi menggunakan alat uji otomatis

6. Kompetensi Pelaksana (Prosedur)


Pemeriksaan Vidas HIV Duo Ultra dilakukan oleh tenaga ahli laboratorium medik
(ATLM) yang telah menyelesaikan pendidikan dan memiliki Surat Tanda Registrasi
(STR) yang diakui oleh profesi.

C. PASCA ANALITIK
1. Ketatausahaan
Merupakan pelaporan hasil, yang terdiri dari:
a. Kebersihan form hasil pemeriksaan
b. Kebenaran/ validasi transkrip
c. Kejelasan penulisan
d. Kecenderungan hasil pemeriksaan atau hasil abnormal.

2. Perhitungan
- Saat pengujian selesai, hasil dianalisis secara otomatis oleh komputer. Flouresensi
diukur dua kali pada setiap pembacaan kuvet reagen strip untuk masing-masing
sampel yang diujikan. Pembacan pertama merupakan dasar pembacaan dari kuvet
substrat sebelum SPR dimasukkan ke dalam substrat. Pembacaan kedua dilakukan
untuk deteksi antibodi HIV setelah substrat telah diinkubasi dengan enzim pada
bagian yang lebih rendah dari SPR. Pembacaan ketiga dilakukan untuk deteksi
HIV-1 antigen p24 setelah substrat telah diinkubasi dengan enzim menutupi bagian
dalam dari SPR. RFVs terlihat pada layar hasil.
- Nilai Tes/uji dihitung untuk masing-masing hasil : antibodi (AB pada layar hasil)
dan antigen (AG pada layar hasil), dengan sistem VIDAS sebagai berikut:

Nilai tes/uji = RFV pasien dari hasil spesifik / standar RFV spesifik

- RFVs yang tinggi didapatkan karena mendeteksi antibodi yang mungkin menutupi
hasil antigen, dan sebaliknya. Nilai hasil tidak akan munculdengan hasil yang
tertutupi. Dan pesan N.D. “Not Determinable” (Tidak Ditetapkan) muncul sebagai
gantinya. Pada kasus ini intepretasinya valid.
- Jika ada pesan “Invalid” yang dihasilkan oleh sampel, maka hasilnya menunjukan
tidak valid. Pada kasus ini, sampel harus di tes ulang.
- Sampel yang menunjukan hasil negatif dianggap negatif, dengan keterbatasan kerja
dari reagen. Pada kasus yang diduga infeksi primer, nilai 0,25 harus di
intepretasikan sebagai suatu peringatan.
- Sampel dengan hasil yang positif harus di tes ulang secara duplikat :
a) Sampel positif tanpa tes pengulangan (dua reaksi negatif dari tiga tes ) dianggap
negatif. Dengan keterbatasan kerja dari reagen.
b) Pengulangan sampel positif (Kurang lebih 2 reaksi positif dari 3 test) harus
dikonfirmasi dengan menggunakan metode tambahan.
3. Penanganan Informasi
Intepretasi hasil untuk masing-masing sampel (HIV5 pada lembar hasil) diukur
berdasarkan dari nilai hasil dari antigen dan antibodi yang mengikuti :
No Hasil Test Interpretasi Hasil

1. < 0.25 (untuk deteksi antigen dan antibodi) Negatif

2. > 0.25 (untuk deteksi antigen dan antibodi) Positif

Jika satu dari dua hasil adalah positif, pilihan metode tambahan lain yang digunakan :
a) Jika hasil tes untuk mendeteksi antibodi adalah ≥ 0.25, metode lain yang dapat
digunakan adalah Western Blot dan/atau test skrining yang kedua untuk
mendeteksi antibodi anti-HIV.
b) Jika semua tes tambahan hasilnya negatif, sangat di sarankan untuk mengetes
sampel untuk kedua kalinya beberapa hari kemudian. Khususnya jika ada gejala-
gejala klinis dan/ atau faktor resiko.
c) Jika hasil tes deteksi antigen adalah ≥ 0.25, metode lain yang dapat digunakan harus
sesuai dengan p24 deteksi antigen dan/atau faktor utama dari virus.
Catatan : Persyaratan negara yang spesifik untuk diagnosa HIV harus
diperhitungkan jika diperlukan. Interpretasi hasil tes harus dibuat dengan
mempertimbangkan riwayat pasien, dan hasil tes lainnya.

D. PEMBUANGAN LIMBAH
Buang reagen yang telah digunakan atau tidak digunakan serta bahan pakai yang
terkontaminasi lainnya sesuai prosedur untuk produk sekali pakai yang infeksius atau
produk yang berpotensi menjadi infeksius. Limbah yang dihasilkan sesuai dengan jenis
dan derajat bahaya limbah dan dibuang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

E. KEAMANAN DIRI
Semua bahan berasal dari manusia harus ditangani seolah-olah mengandung agen
yang berpotensi menular (infeksius). Hal-hal yang dapat dilakukan oleh petugas
laboratorium yaitu:
1. Memakai jas lab, sarung tangan sekali pakai dan kacamata pelindung saat menangani
reagen kit dan spesimen. Benar-benar mencuci tangan sesudahnya.
2. Menangani semua bahan yang digunakan dalam uji termasuk sarung tangan sekali
pakai, sampel, larutan limbah, nampan reaksi dan pipet secara hati-hati seolah-olah
mampu mentransmisikan agen infeksi; misalnya menurut NCCLSM29-A2 *. Segera
kunjungi dokter jika terkontaminasi, tertelan atau kontak bahan dengan luka terbuka,
luka, atau terkena di bagian kulit lainnya.
*NCCLSM29-A2 Perlindungan Tenaga Kerja Laboratorium dari infeksi
occupationally Acquired (edisi kedua, menyetujui pedoman).
Penanganan Keselamatan diri untuk petugas laboratorium jika terjadi hal – hal sebagai
berikut :
1. Tumpahan dan dekontaminasi
Tumpahan bahan yang berpotensi infeksius harus segera dihapus misalnya
dengan penyerap kertas tisu dan area yang terkontaminasi harus didekontaminasi
dengan misalnya, 0,5% sodiumhipoklorit yang baru disiapkan (1: 10 dilusidari5%
sodium hipoklorit[pemutih rumah tangga] sebelum bekerja secara terus menerus).
Sodium hipoklorit tidak boleh digunakan pada tumpahan yang mengandung asam
kecuali daerah tumpahan pertama menyeka kering.
Bahan yang digunakan untuk membersihkan tumpahan, termasuk sarung
tangan, harus dibuang sebagai limbah berbahaya yang berpotensi misalnya dalam
wadah residu yang terkontaminasi.
2. Bahan kimia iritasi yang berbahaya
Untuk menghentikan sifat korosif pada asam sulfat dan harus ditangani dengan
perawatan yang tepat. Dalam kasus contack dengan mata, segera bilas dengan banyak
air dan cepat dapatkan bantuan medis.
Jangan pernah : menambahkan air untuk asam sulfat pekat.