Anda di halaman 1dari 39

BAB III

PEMBAHASAN

A. DEFINISI BATUAN SEDIMEN

1. Secara umum

Batuan sedimen diartikan sebagai batuan yang terbentuk dari hasil


lithifikasi bahan rombakan batuan asal, hasil reaksi kimia, maupun hasil
kegiatan organisme.

2. Menurut Raymond

 Batuan sedimen diartikan sebagai batuan yang terbentuk dipermukaan bumi


dengan kondisi bertemperatur rendah dan bertekanan rendah.
 Batuan sedimen merupakan hasil dari akumulasi dan solidifikasi sedimen,
yakni material yang terangkut ( transported ) melalui media air, angin dan es.
Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan
ketebalan dari beberapa cm sampai beberapa km, ukuran butirnya dari sangat
halus sampai sangat besar. Dibandingkan dengan batuan beku, batuan sedimen
hanya merupakan bagian kecil dari kerak bumi. Batuan sedimen hanya
merupakan 5% dari seluruh batuan yang terdapat dikerak bumi. Dari jumlah 5%
ini batu lempung adalah 80%, batu pasir 5%, dan gamping kira-kira 5%.
Butiran-butiran yang menyusun batuan sedimen berasal dari batuan asal ( batuan
beku, batuan metamorf ataupun batuan sedimen itu sendiri ) yang terurai karena
mengalami pelapukan.
B. MACAM – MACAM PELAPUKAN

1. Pelapukan fisika / mekanik


Pelapukan fisika atau mekanik merupakan pelapukan massa batuan yang
diakibatkan oleh gaya eksogen berupa air, angin, dan es, dimana batuan masif
mengalami penghancuran fisik ( desintegrasi ) tanpa perubahan komposisi
kimia.
2. Pelapukan kimiawi
Pelapukan kimiawi sama halnya dengan pelapukan fisik dalam hal merubah fisik
suatu massa batuan dari massa batuan besar terberai menjadi ukuran butir yang
kecil dan halus namun pada pelapukan kimiawi tidak hanya perubahan fisik
tetapi juga diikuti oleh perubahan komposisi kimiawi ( dekomposisi ) karena
proses pelarutan, evaporasi dan presipitasi.
3. Penguapan ( evaporasi )
Air yang mengisi porositas suatu massa batuan mengalami penguapan
sehingga ruang antar butir dalam batuan tersebut menjadi kosong sehingga
batuan tersebut mudah terabrasi.
4. Pelarutan
Pelapukan secara pelarutan juga terjadi karena adanya fluida yang melarut
butiran batuan sehingga porositas batuan menjadi besar dan akan
mengalami abrasi.
5. Presipitasi
Presipitasi diartikan sebagai perubahan fase zat dari fasa gas menjadi cair
atau dari cair menjadi gas.
3. Pelapukan organik
Pelapukan organik merupakan pelapukan pada batuan yang disebabkan oleh
aktivitas organik ( lumut, bakteri, dll ) atau organisme itu sendiri lapuk ( mati ),
terawetkan kemudian membatu.
C. PROSES TERBENTUKNYA BATUAN SEDIMEN

Proses terbentuknya batuan sedimen :

1. Pelapukan (wheathering), batuan besar lapuk menjadi batuan-batuan dengan

ukuran lebih kecil.

2. Erosi

3. Transportasi, batuan terbawa arus sungai menuju ke hilir.

4. Deposisi, batuan mengendap pada suatu tempat.

5. Proses lithifikasi

· Burial, materi batuan ditumpangi material lain

· Kompaksi, pemadatan material-material batuan

· Sementasi, perekatan material-material batuan

· Lithifikasi, material-material batuan menjadi kesatuan batuan sedimen


D. KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN

1. Menurut Ahli Geologi, Koesoemadinata (1979), ada 5 golongan :

a. Golongan Silika
Umumnya bersifat monomineralik dan tersusun oleh mineral – mineral
silika yang terbentuk secara organik dan kimia. Tersebar hanya sedikit dan
terbatas sekali.
Contoh : Rijang ( Chert ) : sedimen kimia
Radiolaria dan Tanah Diatomea : sedimen organik
b. Golongan Evaporite
Umumnya bersifat monomineralik dan terjadi karena proses evaporasi (
penguapan ). Penamaan batuan sama dengan mineralnya pembentuknya.
Contoh : Gypsum, Anhidrit, Halit
c. Golongan Detritus
Sebagai akibat dari pelapukan fisik/mekanik. Berdasarkan ukuran butirnya,
ada 2 detritus :
 Golongan Detritus Kasar
Butiran penyusun batuannya berukuran kasar (˃ 1/16 mm)
Contoh : Breksi, Konglomerat, Sandstone
 Golongan Detritus Halus
Butiran penyusun batuannya berukuran halus (˂ 1/16 mm)
Contoh : Lempung, Lanau, dan Serpih

d. Golongan Organik / Batubara


Golongan ini terjadi karena adanya akumulasi zat-zat organik yang kaya
akan unsur karbon (C).
Contoh : Bituminus dan Antrasit.
e. Golongan Karbonat
Disusun oleh mineral – mineral karbonat, seperti kalsit atau cangkang
binatang karang. Golongan ini dapat terbentuk sebagai hasil sedimentasi :
 Mekanik
Contoh : Batu lempung bioklastik, Batu gamping oolitik
 Kimia
Contoh : Dolomit, Batu gamping kristalin
 Organik
Contoh : Batu gamping terumbu

2. Berdasarkan asal sumber materialnya, ada 2 golongan :

a. Allochtonous ; merupakan batuan sedimen yang asal sumber materialnya (


sedimen ) berasal dari luar cekungan, kemudian ditransport dan diendapkan
di dalam cekungan pengendapan.
Contoh : - Terrigenous Deposits / Golongan Detrital
Contoh : Clay, Konglomerat, dan Breksi
- Pyroclastic Deposits
Contoh : Aglomerat, Tuff, Ash
b. Autochtonous ; merupakan batuan sedimen yang asal sumber materialnya
berasal dari dalam cekungan ( sedimen tidak mengalami transportasi ).
Contoh : - Chemical Precipitates / Golongan Evaporite
Contoh : Gypsum, Halit
- Organic Deposits
Contoh : Coal, Limestone
- Residual Deposits
Contoh : Laterite, Bauksit

3. Menurut Pettijohn ( 1975 ) dan Walter T Huang ( 1962 ), ada 2 golongan :

a. Klastik ; merupakan batuan sedimen yang terbentuk akibat proses


pengendapan detritus atau pecahan batuan asal secara mekanik. Mengandung
Allogenic Mineral ( mineral – mineral yang terbentuk di luar lingkungan
sedimentasi ), seperti kwarsa, plagioklas, hornblende, kaolinit, hematite, dll.
Contoh : Konglomerat, Breksi, Sandstone, Claystone
b. Non-Klastik ; merupakan batuan sedimen yang terbentuk akibat proses kimia
baik dari larutan maupun aktivitas organik. Mengandung Authigenic
Minerals ( mineral – mineral yang terbentuk di cekungan atau lingkunagn
sedimentasi ), seperti gypsum, anhydrite, kalsit dan halit.
Contoh : Limestone, Dolomit, Halit, Fosil

4. Berdasarkan tenaga yang mengendapkannya, ada 3 golongan :

a. Aquatis ; material sedimennya tertransportasi oleh air sungai, danau atau air
hujan.
b. Aeolis ; material sedimen yang tertransportasi oleh angin
c. Glacial ; material sedimen yang tertransportasi oleh gletser atau es

5. Berdasarkan tempat pengendapannya, ada 5 golongan :

a. Teristic ; material sedimen terendapkan di darat


b. Marine ; material sedimen terendapkan di laut
c. Fluvial ; material sedimen terendapkan di sungai
d. Glacial ; material sedimen terendapkan di gletser/di daerah es
e. Limnis ; material sedimen terendapkan di danau.

6. Menurut Raymond (1995), ada 3 kelompok :

a. Kelompok S ( Silikaklastik )
Batuan silikaklastik, terdiri dari silicate fragments atau associated grains (
detrital / terrigenious materials ).
Contoh : Konglomerat, Breksi, Sandstone
b. Kelompok P ( Presipitasi )
Batuan presipitasi, mengandung mineral authigenic ( terbentuk di tempat
pengendapan dan bukan tertransport ), crystalline texture, butiran halus.
Contoh : Limestone, Dolostone, Chert, Halite
c. Kelompok A ( Allochems )
Allochems adalah pecahan dari batuan asal kelompok presipitasi yang
terbentuk terlebih dahulu.
Contoh : Fosil, Pecahan batuan presipitasi.

E. PERGERAKAN MATERIAL SEDIMEN

1. Suspension
Material sedimen melayang-layang dalam air. Ada yang terapung di
permukaan air dan ada yang melayang-layang di tengah-tengah air. Biasanya
terjadi pada material sedimen yang sangat halus. Partikel bergerak dengan cara
terus mengambang dalam fluida. Hal ini disebabkan oleh aliran turbulen yang
mendorong partikel ke arah atas. Mekanisme ini disebut sebagai mekanisme
suspension.

2. Bed Load
a. Rolling
Partikel bergerak dengan cara menggelinding sepanjang dasar dari fluida.
Partikel ini terus-menerus mengalami kontak dengan permukaan dasar.
Mekanisme seperti ini disebut sebagai mekanisme menggelinding (rolling).
b. Saltation
Partikel bergerak dengan cara melompat-lompat, secara periodik partikel
meninggalkan dasar dan kemudian kembali jatuh ke dasar. Mekanisme ini
disebu saltation. Yang menyebabkan partikel terangkat ke atas adalah efek
Bernaulli.
GAMBAR 4.1
PERGERAKKAN PARTIKEL DALAM FLUIDA

Mekanisme Rolling dan Saltation termasuk ke dalam mekanisme bedload.


Sedangkan mekanisme Suspension sering disebut mekanisme Suspended Load.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan partikel dalam fluida,
yaitu :
1. Dengan bertambahnya kelajuan, energei kinetik yang lebih besar akan
menyebabkan partikel-partikel meninggalkan dasar dan bergerak secara
saltation.
2. Peningkatan turbulensi juga menyebabkan energi ke atas yang menyebabkan
partikel dalam keadaan suspension.
3. Partikel dengan massa yang lebih besar membutuhkan energi lebih besar pula
untuk mengangkatnya ke kondisi saltation dan suspension.
4. Partikel dengan permukaan lebih besar dibandingkan dengan massanya akan
membutuhkan waktu lebih lama untuk tenggelam. Partikel ini akan lebih mudah
tersuspensi.
F. PENGENALAN STRUKTUR PERLAPISAN

1. Adanya perbedaan warna


2. Adanya perbedaan ukuran butir
3. Adanya perbedaan komposisi mineral
4. Adanya perubahan macam batuan
5. Adanya perubahan struktur sedimen
6. Adanya perbedaan kekompakkan

G. DIAGRAM HJULSTROM

Diagram ini di tunjukkan oleh Hjulstrom pada tahun 1939. Ada dua garis utama
dalam diagram ini. Garis yang lebih rendah menunjukkan hubungan antara
kecepatan aliran dan partikel yang siap akan bergerak. Ini menunjukkan bahwa
kerakal ( Pebbles ) akan berhenti di sekitar 20-30 cm/s, butirpasir sedang pada 2-3
cm/s, dan partikel lempung ketika kecepatan aliran adalah secara efektif nol. Garis
kurva bagian atas menunjukkan kecepatan aliran yang diperlukan untuk
mengerakkan partikel dari kondisi diam.
GAMBAR 4.2
DIAGRAM HJULSTROM

Pada setengah bagian kanan grafik, garis ini sejajar dengan garis yang pertama
tapi untuk ukuran butir tertentu diperlukan kecepatan yang lebih besar untuk
memulai pergerakan daripada untuk menjaga partikel tetap bergerak. Pada sisi kiri
diagram terdapat garis divergen yang tajam, dimana partikel lanau yang lebih kecil
dan lempung memerlukan kecepatan yang lebih besar untuk menggerakkannya
daripada pasir. Hal ini disebabkan oleh mineral lempung bersifat kohesif dan sekali
terendapkan akan cenderung merekat bersama, membuatnya lebih sulit untuk naik
ke dalam aliran daripada butir-butir pasir ( Dari Earth, edisi kedua oleh Frank Press
dan Raymond Siever, 1974, 1978, dan 1986 oleh W.H. Freeman and Company ).
H. STRUKTUR BATUAN SEDIMEN

1. Struktur Batuan Sedimen Klastik :


a. Stratified, adalah struktur yang menunjukkan adanya perlapisan pada
batuan sedimen klastik.
b. Unstratified, adalah struktur yang menunjukkan tidak adanya perlapisan
pada batuan sedimen klastik.

2. Struktur Batuan Sedimen Non Klastik


a. Fosiliferous, ditunjukkan oleh adanya fosil atau komposisi yang terdiri dari
fosil.
b. Oolitik, dimana matriks non klastik mengelilingi fragmen klastik dengan
ukuran butir lebih kecil dari 2 mm.
c. Pisolitik, dimana matriks non klastik mengelilingi fragmen klastik dengan
ukuran butir lebih besar dari 2 mm.
d. Cone in cone, struktur gamping kristalin yang menunjukkan pertumbuhan
kerucut per kerucut.
e. Bioherin, struktur sedimen yang tersusun oleh organisme murni dan bersifat
insitu.
I. TEKSTUR BATUAN SEDIMEN

1. Tekstur Batuan Sedimen Klastik


a. Ukuran Butir ( Grain Size )
Dilihat dengan menggunakan Skala Udden - Wentworth.
SKALA WENTWORTH

Wentworth
Size Sediment Rock Name
Grain Size Name
Scale,1922 Name
( mm )

> 256 Boulder ( Bongkahan ) Rock :


64 - 256 Cobble ( Berangkal ) RUDITES
4 - 64 Pebble ( Kerakal ) Conglomerat
2-4 Granule ( Butiran ) ( Rounded
GRAVEL Fragments )
and Breksi (
Angular
Fragments )

1-2 Very course sand


½- 1 Course sand Rock :
1/4 – 1/2 Medium sand SANDSTONES
1/8 – 1/4 Fine sand SAND ( Arenites dan
1/16 – 1/8 Very fine sand Wackes )
Rock :
1/256 – 1/16 Silt ( Lanau ) LUTITES
<1/256 Clay ( Lempung ) Siltstone
Shale
MUD (Laminated),
Mudstone (
Non laminated )
dan Claystone

b. Derajat Pemilahan ( Sorting ), yaitu tingkat keseragaman dari butiran


mineral pembentuk batuan sedimen. Tingkatannya adalah:

1. Terpilah baik ( well sorted ), jika ukuran butir sama besar


2. Terpilah sedang ( moderately sorted )
3. Terpilah buruk ( poorly sorted ), jika ukuran butir tidak merata, terdapat
fragments dan matriks
Sorting adalah deskripsi distribusi ukuran klastik yang ada; sedimen
terpilah baik tersusun oleh klastik yang dominan pada satu kelas skala
Wentworth ( contoh pasir sedang ); endapan terpilah buruk mengandung
besar rentang ukuran butir yang bermacam-macam. Pemilahan adalah fungsi
dari asal dan sejarah transportasi detritus. Dengan bertambahnya jarak
transport atau gerakan (agitation) sedimen yang berulang-ulang menyebabkan
ukuran yang berbeda cenderung untuk terpisah.
Marshall ( 1927 ) menyatakan ada tiga proses yang dapat menyebabkan
penurunan ukuran butir sedimen, yaitu :
1. Abrasi
Abrasi yaitu efek pengeratan yang dilakukan oleh suatu partikel terhadap
partikel yang lain. Abrasi merupakan proses penghancuran yang
berlangsung paling lambat.
2. Tumbukan ( Impact )
Tumbukan yaitu pukulan suatu partikel berukuran relative besar terhadap
partikel lain yang ukurannya lebih kecil. Oleh karena itu, tumbukan
hanya memegang peranan penting jika ada perbedaan ukuran yang
berarti antara partikel yang menumbuk dengan partikel yang tertumbuk.
Jika perbedaan ukuran itu cukup jauh dan jika suatu sistem didominasi
oleh partikel besar maka partikel kecil akan mengalami penghancuran
dalam waktu relatif singkat.
3. Grinding
Grinding yaitu crushing partikel kecil sewaktu berhubungan terus
menerus dengan partikel yang lebih besar daripadanya dan dikenai oleh
tekanan partikel-partikel besar itu. Grinding merupakan proses
penghancuran yang paling efektif bahkan lebih efektif dibanding
tumbukan sekalipun.
Contohnya : Partikel pasir yang bercampur dengan gravel dalam
beberapa jam akan terubah menjadi partikel lanau atau lempung.

Derajat Pembundaran ( Roundness ), adalah tingkat kelengkungan dari setiap


fragmen atau butiran batuan.Tingkatannya yatu:
1. Angular ( menyudut )
2. Sub angular ( menyudut tanggung )
3. Sub rounded ( membulat tanggung )
4. Rounded ( membulat )
5. Well rounded ( membulat baik )
GAMBAR 4.3
PERBANDINGAN PERKIRAAN KEBUNDARAN DAN KEBOLAAN
MENURUT PETTIJOHN, 1987
Butiran dari mineral – mineral yang resisten (ex : kuarsa, zircon) akan
berbentuk kurang bundar dibandingkan dengan butiran dengan mineral –
mineral yang kurang resisten (ex : feldspar, pyroxene). Selama transportasi
sedimen, klastik individu akan berulang kali mengalami kontak dengan
klastik yang lain dan dengan obyek yang diam, menyebabkan abrasi. Tepi
yang tajam akan tergerus lebih dahulu, permukaan klastik semakin halus.
Semakin jauh jarak transportasi, kebundaran semakin baik, kebundaran
adalah fungsi sejarah transportasi material. Dan laju pembundaran partikel
pada mulanya tinggi, namun kemudian menurun.
Pembundaran pasir merupakan proses yang sangat lambat. DAUBREE (
1879 ) menemukan bahwa butiran – butiran pasir hanya kehilangan 0,0001
bagian per kilometer jarak angkut. Sedangkan kuarsa hanya kehilangan 1 %
berat setelah terangkut 10.000 km ( KUENEN, 1958 ). Karena sebagian besar
sungai memiliki panjang kurang dari 1000 km maka dapat disimpulkan
bahwa satu kali pengangkutan oleh sungai tidak akan menyebabkan
terjadinya pembundaran pada partikel pasir.

b.Fabric ( Kemas )
Kemas adalah hubungan antar butir dalam massa dasar. Kemas ada dua jenis ,
yaitu :
1. Kemas tertutup, jika butiran tidak saling bersentuhan (
mengambang dalam matriks )
2. Kemas terbuka, jika butiran saling bersentuhan satu sama lain

2. Tekstur Batuan Sedimen Non-Klastik


a. Kristalin
Terdiri atas kristal – kristal yang interlocking satu sama lain.
b. Amorf
Tidak memiliki tekstur yang beraturan, umumnya partikel – partikel
berukuran lempung, non-kristalin.
c. Glassy
Tekstur batuan yang tidak mengkristal dan halus seperti kaca.
d. Fibrous
Tekstur yang berserat-serat
e. Porous
Tekstur yang berpori-pori

J. PENAMAAN BATUAN SEDIMEN


1. Batuan Sedimen Klastik
a.Untuk butiran yang sama atau lebih kecil dari pasir :
Batu pasir : Butiran berukuran pasir
Batu lempung : Butiran berukuran lempung
Serpih : Batu lempung yang menunjukkan struktur fisility (
sifat belah )
b.Untuk butiran yang lebih besar dari pasir :
Konglomerat : Jika butirannya membulat
Breksi : Jika butirannya runcing-runcing
NB : Bila ada percampuran butiran dengan ukuran yang berbeda maka nama
sedimen klastik tersebut disesuaikan dengan klasifikasi GILBERT (
1982 ).
GAMBAR 4.4
KLASIFIKASI GILBERT ( 1982 )

2. Batuan Sedimen Non-Klastik


Penamaannya sangat tergantung oleh jenis mineral penyusunnya, dan karena
pembentukkannya disebabkan oleh larutan kimia atau aktivitas organis maka
bersifat monomineral.
Example : Batu Gips : Jika tersusun oleh mineral gypsum
Rijang : Jika tersusun oleh mineral kalsedon
Batubara : Jika tersusun oleh mineral karbon (organik)

K. NOMENCLATUR KONGLOMERAT
1. Tekstur
a.Ortho-conglomerate
Merupakan batuan konglomerat dimana massa dasar batuannya terdiri atas
butiran yang bersentuhan satu dengan yang lainnya ( grain supported ).
b.Para-conglomerate
Merupakan batuan konglomerat dimana massa dasar batuannya terdiri atas
mud ( mud supported ).
2. Komposisi
a. Polymictic Conglomerate
Fragmen ( pebble ) nya terdiri dari beberapa batuan ( pebble lebih dari satu
tipe ). Umumnya produk aggradasi dari daerah yang aktif secara tektonik.
b. Oligomictic Conglomerate
Fragmen ( pebble ) nya terdiri dari satu macam batuan ( pebble hanya satu
tipe ). Umumnya produk degradasi dimana daerah stabil secara tektonik.

3. Sumber Pebblenya
a.Extraformational
Pebblesnya berasal dari luar lingkungan/cekungan pengendapan
b.Intraformational
Pebblesnya berasal dari lingkungan/cekungan pengendapan

L. KLASIFIKASI BATUAN KARBONAT MENURUT DUNHAM ( 1962 )


Klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham ( 1962 ) lebih cenderung
berdasarkan fabric batuan, misalnya mud supported atau grain supported bila
dibandingkan dengan komposisi batuannya. Apabila batuan bertekstur mud
supported diinterpretasikan terbentuk pada energi rendah karena Dunham
beranggapan lumpur karbonat hanya terbentuk pada lingkungan yang berarus
tenang. Sebaliknya Dunham beranggapan bahwa batuan dengan fabric grain
supported terbentuk pada energi gelombang kuat sehingga komponen butiran saja
yang dapat mengendap.
Klasifikasi batuan karbonat menurut DUNHAM ( 1962 ), yaitu :
1. Mudstone ( mud supported )
Batu gamping dengan kandungan butiran ( fragmen ) kurang dari 10 % di dalam
matriks lumpur karbonat ( lebih dari 90 % ) . Ukuran butirannya sampai dengan
0,0625 mm.
2. Wackestone ( mud supported )
Batu gamping dengan kandungan butiran ( fragmen ) lebih dari 10 % dan butiran
tidak saling bersinggungan ( mengambang dalam matriks lumpur karbonat ).
3. Packstone ( grain supported )
Batu gamping dengan kandungan butiran ( fragmen ) lebih banyak dari
wackestone artinya grain supported lebih banyak daripada mud supported dan
butirannya saling bersinggungan. Butirannya berukuran pasir, lumpur terdapat
diantaranya.
4. Grainstone ( grain supported )
Grainstone hampir sama dengan packstone, hanya saja pada grainstone
kandungan matriks lumpur karbonatnya sangat sedikit sekali atau bahkan tidak
ada ( lebih dari 90 % grain ).
5. Boundstone
Boundstone merupakan batuan karbonat dimana komposisi mineralnya tersusun
atas sedimen asli berupa organisme seperti karang dan bryozoan dan
mengandung mud ( ada mud supported ).
6. Crystalline Carbonate
Batuan karbonat yang tersusun atas kristal-kristal karbonat, tidak tersusun dari
mud supported maupun grain supported.

M. PEMERIAN BATU GAMPING KLASTIK

Nama Butir Ukuran Butir ( mm ) Nama Batuan


Rudite >1 Kalsirudit
Arenite 0,062 - 1 Kalkarenit
Lutite <0,062 Kalsilutit
BATUAN KARBONAT
KLASTIK NON KLASTIK
Dominan detritus Dominan detritus Pertumbuhan fosil Kristalin
karbonat fosil
Kalsirudit Batu gamping Batu gamping Batu gamping
( ukuran rudit ) bioklastik kerangka koral kristalin
Kalkarenit
( ukuran arenit )
Kalsilutit
( ukuran lutite )

N. BATUAN SEDIMEN BERNILAI EKONOMIS


Batuan sedimen bernilai ekonomis karena :
 Mengandung / terdapat batubara
 Sebagai batuan reservoir, sebagai cebakan minyak dan gas bumi
 Merupakan bahan galian industri
Ex : Batu kapur, Pasir besi, Tanah liat

O. SEDIMENTOLOGI DAN SEDIMENTASI


Sedimentologi : adalah cabang ilmu Geologi yang mempelajari mengenai Batuan
sedimen,cara terbentuknya,lingkungan terbentuknya,proses dan faktor-faktor yang
berperan dan komponen-komponen pada batuan sedimen.

Sedimentasi : adalah proses penimbunan atau terakumulasinya partikel atau


komponen sedimen dalam suatu tempat yang biasanya berbentuk cekungan dengan
mengalami beberapa proses terlebih dahulu.

pembagian batuan sedimen:


- Terrigenous Clastic Sedimentary Rock

KONGLOMERAT

Chemical Sedimentary Rock


Rijang

- Bio-Chemical Sedimentary Rock

Coquina
- Precipitate Sedimentary Rock

Iron stone

- Volcanoclastic Sedimentary Rock


Tuffa

adapun lingkungan pengendapan dibagi menjadi tiga wilayah:


1. Lingkungan pengendapan Continental
yaitu lingkungan pengendapan yang berada di daratan atau benua
2. Lingkungan pengendapan Transitional
yaitu lingkungan pengendapan yang berada di batas antara daratan dan laut
3. Lingkungan pengendapan Marine
yaitu lingkungan pengendapan yang berada di laut

proses-proses yang berperan dalam sedimentasi


1. Pelapukan

Batuan asal atau Source rock yang dapat berupa batuan Beku,Sedimen,Metamorf
yang mengalami pelapukan yang di sebabkan oleh beberapa faktor, antara lain,faktor
fisik,faktor kimia dan faktor biologi.
- faktor fisik : suhu(baik panas maupun dingin),tekanan dan kelembaban
- faktor kimia : kadar keasaman/pH,hidrolisis,oksidasi dll
- faktor biologi : pelapukan akibat adanya aktifitas makhluk hidup seperti akar
tanaman yang masuk kedalam batuan dan pembuatan lubang oleh binatang.

2. Erosi
Setelah batuan asal melapuk,kemudian sedikit demi sedikit terjadi
penggerusan atau erosi pada surface.

3. Transportasi
Batuan yang telah tergerus dan menghasilkan butiran atau partikel,
kemudian partikel tersebut di bawa/di transportkan menuju lingkungan
pengendapan oleh beberapa faktor, yaitu air,angin dan es.

4. Sedimentasi

Yaitu peristiwa terakumulasinya partikel-partikel pada suatu tempat.

5. Litifikasi
Peristiwa pembatuan atau pemadatan sedimen yang di pengaruhi oleh
tekanan.

LINGgkungan Pengendapan Sedimen

I. Konsep Tentang Lingkungan Pengendapan

Lingkungan pengendapan adalah tempat mengendapnya material sedimen


beserta kondisi fisik, kimia, dan biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme
pengendapan tertentu (Gould, 1972). Interpretasi lingkungan pengendapan dapat
ditentukan dari struktur sedimen yang terbentuk. Struktur sedimen tersebut digunakan
secara meluas dalam memecahkan beberapa macam masalah geologi, karena struktur ini
terbentuk pada tempat dan waktu pengendapan, sehingga struktur ini merupakan kriteria
yang sangat berguna untuk interpretasi lingkungan pengendapan. Terjadinya struktur-
struktur sedimen tersebut disebabkan oleh mekanisme pengendapan dan kondisi serta
lingkungan pengendapan tertentu.
Beberapa aspek lingkungan sedimentasi purba yang dapat dievaluasi dari data
struktur sedimen di antaranya adalah mekanisme transportasi sedimen, arah aliran arus
purba, kedalaman air relatif, dan kecepatan arus relatif. Selain itu beberapa struktur
sedimen dapat juga digunakan untuk menentukan atas dan bawah suatu lapisan.
Didalam sedimen umumnya turut terendapkan sisa-sisa organisme atau
tumbuhan, yang karena tertimbun,terawetkan. Dan selama proses Diagenesis tidak rusak
dan turut menjadi bagian dari batuan sedimen atau membentuk lapisan batuan sedimen.
Sisa-sia organisme atau tumbuhan yang terawetkan ini dinamakan fossil. Jadi fosill
adalah bukti atau sisa-sisa kehidupan zaman lampau. Dapat berupa sisa organisme atau
tumbuhan, seperti cangkang kerang, tulang atau gigi maupun jejak ataupun cetakan.
Dari studi lingkungan pengendapan dapat digambarkan atau direkontruksi geografi
purba dimana pengendapan terjadi.
Lingkungan pengendapan merupakan keseluruhan dari kondisi fisik, kimia dan
biologi pada tempat dimana material sedimen terakumulasi. (Krumbein dan Sloss, 1963)
Jadi, lingkungan pengendapan merupakan suatu lingkungan tempat terkumpulnya
material sedimen yang dipengaruhi oleh aspek fisik, kimia dan biologi yang dapat
mempengaruhi karakteristik sedimen yang dihasilkannya.
Secara umum dikenal 3 lingkungan pengendapan, lingkungan darat transisi, dan
laut. Beberapa contoh lingkungan darat misalnya endapan sungai dan endapan danau,
ditransport oleh air, juga dikenal dengan endapan gurun dan glestsyer yang diendapkan
oleh angin yang dinamakan eolian. Endapan transisi merupakan endapan yang terdapat
di daerah antara darat dan laut seperti delta,lagoon, dan litorial. Sedangkan yang
termasuk endapan laut adalah endapan-endapan neritik, batial, dan abisal.
Contoh Lingkungan Pengendapan Pantai : Proses Fisik : ombak dan akifitas gelombang
laut, Proses Kimia : pelarutan dan pengendapan dan Proses Biologi : Burrowing. Ketiga
proses tersebut berasosiasi dan membentuk karakteristik pasir pantai, sebagai material
sedimen yang meliputi geometri, tekstur sedimen, struktur dan mineralogy.

II. Parameter Lingkungan Pengendapan


Parameter fisik meliputi elemen static dan dinamik dari lingkungan
pengendapan.
1. Elemen fisik
- Elemen fisik statis meliputi geometri cekungan(Basin); material yang diendapkan
seperti kerakal silisiklastik, pasir, dan lumpur; kedalaman air; suhu; dan kelembapan.
- Elemen fisik dinamik adalah faktor seperti energy dan arah aliran dari angin, air dan
es; air hujan; dan hujan salju.
2. Parameter kimia termasuk salinitas, pH, Eh, dan karbondioksida dan oksigen yang
merupakan bagian dari air yang terdapat pada lingkungan pengendapan.
3. Parameter biologi dari lingkungan pengendapan dapat dipertimbangkan untuk
meliputi kedua-duanya dari aktifitas organism, seperti pertumbuhan tanaman,
penggalian, pengeboran, sedimen hasil pencernaan, dan pengambilan dari silica dan
kalsium karbonat yang berbentuk material rangka. Dan kehadiran dari sisa organism
disebut sebagai material pengendapan.

III. Proses Sedimentasi dan Produknya


Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika, kimia,
dan biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik sedimen
oleh tekstur khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal tersebut biasa disebut sebagai
fasies. Istilah fasies sendiri akan mengarah kepada perbedaan unit stratigrafi akibat
pengaruh litologi, struktur, dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies
sedimen merupakan suatu unit batuan yang memperlihatkan suatu pengendapan pada
lingkungan.

Proses Pengendapan Di Air Dan Darat


Proses pengendapan di air, terbentuknya berupa timbunan di laut dan akan
berakhir di air hangat. Namun pada kenyataan yang sering dijumpai, beberapa
dikarenakan oleh aliran sungai. Ini juga termasuk timbunan di danau dan delta.
Keseluruhan proses pengendapan hingga saat ini dapat diamati dalam berbagai bentuk
walaupun ada beberapa aspek pengendapan yang tidak sempurna. Kemungkinan ini
digunakan untuk mengklasifikasikan cara utama dimana material mengendap karena
perpindahan air.
Proses pengendapan di daratan, sebagai tempat awal, tertransportasikan oleh arus sungai
yang deras. Batuan yang terpisah / tanah yang tererosi akan dibawa oleh aliran sungai,
mulai dari dasar hingga menuju puncaknya. Selama arus bergerak membelok dan
memasuki area, kecepatannya akan menurun dan semakin banyaknya muatan yang
dibawa akan terendap pada kerucut aluvial atau kipas aluvial. Endapan akan dapat
dibedakan disekitar pegunungan dan sering dijumpai pada derah yang luas dan dalam.
Banyak material sedimen ditemukan di daratan pesisir di Amerika dan kemungkinan
terbentuk di daerah tersebut. Timbunan menunjukkan stratigrafi yang berasal dari
formasi alaminya, dan karena perubahan volume aliran sungai yang deras, lapisan yang
ada di dekatnya akan menjadi sangat berubah. Timbunan kerucut aluvial selalu
menunjukkan perbedaan utama dari endapan kasar [termasuk bongkahan] di puncak
dengan lempung di luarnya. Jika proses erosi terus berlanjut tanpa adanya pergerakan
bumi, material yang ada di kerucut alivisl akan tererosi sendirinya.
Tingkat akhir dalam proses pertumbuhan sungai juga menjadi faktor proses
pengendapan. Setelah sungai mencapai tingkat dewasa, akan bertambah volume
pengangkatan material sedimennya. Natural leeves akan terbentuk pada saluran sungai
dan pada saat itu juga air meluap, mengisi area lain disetiap sampingnya dimana proses
pengendapannya lambat. Area ini lebih dikenal sebagai alluvial / plain. Timbunan
material di area tersebut juga akan terstratigrafikan.
Didaerah padang pasir, sungai mengalir menuju ke cekungan dalam yang kering / terisi
air yang dangkal. Pengendapannya terjadi di bebrapa daerah dimana ketika air meluap
membawa banyak material. Jika pergerakan bumi mendukung proses pengendapan,
dalamnya timbunan akan menjadi seimbang dan kejadian ini ternyata sudah berlangsung
dari waktu yang cukup lama. Material akan terstratigrafikan, namun banyak juga yang
hilang. Material tersebut bervariasi, biasanya mencakup lapisan garam dan gypsum.
Sungai mengalir menuju danau dan membawa timbunan kemudian menuju delta dan
laut.
Pengendapan di laut biasanya terbentuk dalam 3 daerah, yaitu :
1. Zona pantai
2. Zona dangkalan
3. Zona laut dalam
Material pada zona pantai memiliki keadaan alami secara sementara, sejak timbul di
garis pantai dan akan berubah secara tetap. Material ini didominasi oleh materioal kasar
[pasir dan kerikil].
Transportasi
Proses transprtasi adalah proses perpindahan / pengangkutan material yang
diakibatkan oleh tenaga kinetis yang ada pada sungai sebagai efek dari gaya gravitasi.
Sungai mengangkut material hasil erosinya dengan berbagai cara, yaitu
a. Traksi, yaitu material yang diangkut akan terseret pada dasar sungai.
b. Rolling, yaitu material akan terangkut dengan cara menggelinding pada dasar sungai.
c. Saltasi, yaitu material akan terangkut dengan cara meloncat pada dasar sungai.
d. Suspensi, yaitu proses pengangkutan material secara mengambang dan bercampur
dengan air sehingga menyebabkan air sungai menjadi keruh.
e. Solution, yaitu pengangkutan material larut dalam air dan membentuk larutan kimia.
Sedimentasi
Proses sedimentasi adalah proses pengendapan material karena aliran sungai
tidak mampu lagi mengangkut material yang dibawanya. Apabila tenaga angkut
semakin berkurang, maka material yang berukuran besar dan lebih berat akan
terendapkan terlebih dahulu, baru kemudian material yang lebih halus dan ringan.
Bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan ini adalah bagian hilir atau
pada bagian slip of slope pada kelokan sungai, karena biasanya pada bagian kelokan ini
terjadi pengurangan energi yang cukup besar. Ukuran material yang diendapkan
berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke arah hilir,
energi semakin kecil, material yang diendapkanpun semakin halus.
Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh air,
angin atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian diendapkan. Semua batuan hasil
pelapukan dan pengikisan yang diendapkan lama kelamaan akan menjadi batuan
sedimen. Hasil proses sedimentasi di suatu tempat dengan tempat lain akan berbeda.
Pengendapan oleh air laut
Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine. Pengendapan
oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air
laut, antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai. Pesisir merupakan
wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya terdiri dari material pasir. Ukuran
dan komposisi material di pantai sangat bervariasi tergantung pada perubahan kondisi
cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang ada di
sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut
material material ke laut yang dalam. Ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi
pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di
atas permukaan laut. Akumulasi material itu disebut spit. Jika arus pantai terus
berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan
membetuk penghalang pantai (barrier beach).
Pengendapan oleh angin
Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang alam hasil
pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune). Gumuk pantai dapat
terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir terjadi bila terjadi akumulasi pasir
yang cukup banyak dan tiupan angin yang kuat. Angin mengangkut dan mengedapkan
pasir di suatu tempat secara bertahap sehingga terbentuk timbunan pasir yang disebut
gumuk pasir.
Pengendapan oleh gletser
Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang alam hasil
pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula berbentuk V menjadi U.
Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh gletser yang meluncur menuruni
lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan juga menuruni lereng dan mengendap di
lembah. Akibatnya, lembah yang semula berbentuk V menjadi berbentuk U.
1. Deposisi
Pengendapan – Terjadi saat pengangkutan partikel yang membutuhkan energi dan
terjadi pada waktu yang relatif singkat. Endapan tersusun atas butiran – butiran mineral.
Dapat juga menghasilkan endapan kimia pada kondisi yang berbeda.
2. Litifikasi
Terjadi dalam beberapa tahap, All taken together are termed Diagenesis.
a. Kompaksi - Squeezing out of water.
b. Sementasi - Precipitation of chemical cement from trapped water and circulating water.
c. Rekristalisasi-Growth of grains in response to new equilibrium conditions

IV. Hubungan Lingkungan Sedimentasi dan Fasies Sedimentasi


Walaupun para ahli geologi setuju pada hasil pengertian dari lingkungan pengendapan,
mereka ternyata menemukan kesulitan dalam penyusunan pengertian yang tepat dari
lingkungan pengendapan ini. Sebagai ilustrasinya, lingkungan sedimen telah
digambarkan dalam beberapa variasi yaitu :
1.Tempat pengendapan dan kondisi fisika, kimia, dan biologi yang menunjukkan sifat khas
dari setting pengendapan [Gould, 1972].
2. Kompleks dari kondisi fisika, kimia, dan biologi yang tertimbun [Krumbein dan Sloss,
1963].
3. Bagian dari permukaan bumi dimana menerangkan kondisi fisika, kimia, dan biologi
dari daerah yang berdekatan [Selley, 1978].
4. Unit spasial pada kondisi fisika, kimia, dan biologi scara eksternal dan mempengaruhi
pertumbuhan sedimen secara konstan untuk membentuk pengendapan yang khas
[Shepard dan Moore, 1955].
Definisi tersebut memang berbeda, tetapi pada umumnya memberikan tekanan pada
kondisi fisika, kimia, dan biologi. Pada konteks ini, lingkungan pengendapan mengarah
pada unit geomorfik dimana terjadi pengendapan. Lingkungan ini dibentuk dari
parameter khusus fisika, kimia, dan biologi yang sesuai terhadap unit geomorfik dari
geometri dan ukuran partikular. Proses ini akan mengoperasikan tingkat dan ntensitas
yang menghasilkan tekstur khas, struktur, dan sifat lainnya, sehingga pengendapan yang
khusus akhirnya terbentuk. Sebagai contohnya, pantai akan mempertimbangkan unit
geomorfik dari ukuran dan bentuk tertentu, proses fisika tertentu [gelombang dan
aktivitas arus], proses kimia [solusi dan presipitasi], dan proses biologi [penggalian,
sedimen ingestion, dan aktivitas serupa] yang terjadi untuk menghasilkan badan pasir
pantai yang khas oleh partikular geometri, tekstur dan struktur sedimen, dan mineralogi.
Fasies menunjukkan unit stratigrafi yang mengacu pada aspek litologi, struktural, dan
karakter organisme yang dapat dikenali di lapangan.
Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika, kimia, dan
biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik sedimen oleh
tekstur khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal tersebut biasa disebut sebagai fasies.
Istilah fasies sendiri akan mengarah kepada perbedaan unit stratigrafi akibat pengaruh
litologi, struktur, dan karakteristik organik yang terdeteksi di lapangan. Fasies sedimen
merupakan suatu unit batuan yang memperlihatkan suatu pengendapan pada lingkungan
Interpretasi lingkungan umumnya menghambat karena adanya suatu kenyataan
mengenai kecenderungan fasies yang sama yang dihasilkan pada setting lingkungan
yang berbeda. Hal tersebut sering terjadi sehingga akan membuat suatu penyajian
lingkungan yang khas pada suatu dasar fasies pengendapan tunggal. Sebagai contohnya,
perlapisan silang siur dari batupasir dapat dibentuk karena transportasi angin dan air.
Jika terendap pada air, mereka akan terbentuk pada suatu pantai, sungai, pada saluran
pasang surut, pada dangkalan samudera, atau pada lingkungan yang lain dimana proses
traksi dapat berlangsung. Interpretasi lingkungan akan dapat kita kuasai jika kita mampu
mempelajari hubungan fasies dengan urutan yang benar dibandingkan dengan fasies
tunggal. Hubungan suatu fasies dapat digagaskan dalam pembagian grup fasies yang
terjadi secara bersama – sama yang selanjutnya akan berkaitan dengan lingkungan.
Sebagai contohnya, jika pada perlapisan silang siur batupasir asosiasi terdekatnya
adalah dengan terkandungnya tanah, batubara, atau serpih lanauan yang mengandung
akar, daun, dan batang, kita bisa membuat interpretasi pengendapannya pada sistem
sungai. Dalam mempelajari hubungan fasies dan urutannya, kita harus benar – benar
memperhatikan keadaan alami dari kontak hubungan antara fasies dan derajat urutan
baik acak maupun tidak. Dengan adanya aplikasi dari prinsip stratigrafi, kita dapat
menduga hubungan dari dua fasies karena kontak derajat atau penggambaran batas dari
pendekatan lateral. Sementara itu, hubungan fasies karena kenaikan atau akibat erosi
perbatasan yang mungkin dapat menggambarkan lingkungannya ataupun tidak, pada
pendekatan lateral. Pada kenyataannya, fasies karena kontak erosi umumnya
menandakan perubahan dari kondisi pengendapan dan menjadi permulaan siklus
sedimentasi yang baru. Fasies di dalam hubungan partikular akan tersebar vertikal pada
suatu cara pengacakan yang nyata atau mungkin menunjukkan pola tertentu dari
perubahan vertikal. Dua tipe umum dari perubahan fasies vertikal yaitu Coarsening
Upward Sequence dan Fining Upward Sequence.
• Coarsening-upward sequences menunjukkan adanya penambahan kenaikan ukuran
butir dari dasar erosi atau kenaikannya. Hal ini menunjukkan peningkatan energi arus
pengendapan.
• fining-upward sequences sendiri merupakan kebalikannya, yaitu ukuran butir akan
semakin halus dari puncak erosinya. Menunjukkan penurunan energi arus pengendapan
V. Dasar-dasar Analisis Lingkungan
Pengenalan lingkungan sedimen didasarkan pada dua kriteria pokok:
1. Kriteria berdasarkan komponen pengendapan primer
a. Kriteria fisik
- Geometri unit fasies, menunjukkan bentuk 3 dimensi dari tubuh sedimen, antara lain:
• bentuk equidimensional, seperti lembaran atau selimut, prisma
• bentuk elongate, seperti pods, rebbon atau shoestring, dendroids (Potter, 1962).
- litologi, unit sedimen gross litologi merupakan indicator lingkungan pengendapan yang
sangat umum. Contohnya, tend batugamping menjadi deposit karena suhu hangat.
shelves laut dangkal.
- asosiasi fasies menyamping dan vertikal, hubungannya dengan pengamatan outcrop atau
penentuan data bagian permukaan, sangat penting untuk membedakan lingkungan
- struktur sedimen, penting untuk indikator lingkungan karena dibentuk oleh proses
pengendapan, terutama yang terbentuk di lingkungan pengendapan.

b. Kriteria geokimia
Komposisi unsur utama batuan sedimen silisiklastik berfungsi sebagai komposisi kimia
partikel silisiklastik yang membentuk batuan.
c. Kriteria biologi
Digunakan untuk rekonstruksi paleoenvironmental, fosil adalah salah satu yang sangat
berguna.
2. Kriteria berdasarkan kenampakan sedimen
a. Kenampakan ukuran dari log sumur mekanik, meliputi resistivity, sonic velocity, dan
radioaktivity.
b. Kenampakan interpretasi dari pengukuran sumur log meliputi density/porosity,
ukuran butir, litologi, dip perlapisan.
3. Karakteristik dari interpretasi darai reakaman refleksi seismic, antara lain hubungan
kontak utama (uniformity, comformity), strata kontinuitas, dip strata, identifikasi unit
fasies seismik.
VI. Klasifikasi Lingkungan Pengendapan
Klasifikasi lingkungan pengendapan dapat dibedakan menjadi:
a. kontinetal, antara lain gurun atau eolian, fluvial termasuk braided river dan point bar
river, dan limnic
b. peralihan, termasuk delta. lobate, esturine, litoral (pantai, laguna, dan barrier islands,
offshore bar, tidal flat.
c. marine, meliputi neritis atau laut dangkal, deep neiritis, batial, abisal.

MINERAL DEPOSIT DALAM LINGKUNGAN SEDIMEN


B. Lingkungan Sedimen
Proses sedimentasi merupakan perpaduan dari interaksi atmosfer dan hidrosfer terhadap
lapisan kerak bumi. Dalam proses sedimentasi terdapat fase pelapukan, yang dapat
menyebabkan mineral berubah menjadi mineral-mineral baru yang bersifat lebih stabil
daripada sebelumnya.

Pada kebanyakan lingkungan pengendapan, proses yang berlangsung adalah oksidasi


karena terkena pengaruh dari atmosfer. Namun, di beberapa tempat ada yang tidak
terkena kontak atmosfer, sehingga proses yang berlangsung adalah reduksi.

Berdasarkan stabilitas mineralnya, lingkungan sedimen dibagi menjadi 6 klasifikasi:

1. Resistat
Merupakan endapan yang tersusun atas mineral yang tahan terhadap pelapukan,
sehingga tidak mengalami perubahan. Salah satu mineral yang dikenal paling tahan
terhadap pelapukan adalah Kuarsa [SiO2]. Kadar silika dalam sedimen-sedimen resistat
dapat mencapai 90%, sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai sumber dalam
perindustrian.
Mineral-mineral lainnya yang tahan terhadap pelapukan adalah Zirkon [ZrSiO4],
Andalusit [Al2SiO5], Topaz [Al2SiO4(OH,F)2]. Endapan resistat disebut juga sebagai
“placer deposit” karena bernilai ekonomi.
2. Hidrolisat
Terbentuk dari mineral-mineral silikat yang mengalami proses dekomposisi kimia.
Mineral yang paling umum terdapat di endapan ini adalah mineral lempung, berupa
aluminosilikat hidrat yang bertekstur filosilikat dengan ukuran butir yang sangat halus.
Di daerah tropis, tempat dimana perbedaan basah dan kering sangat kontras, proses
pelapukan akan terjadi lebih baik, dan dapat menghasilkan endapan aluminosilikat yang
sangat bagus. Yaitu, dengan hilangnya kandungan silika, dan meninggalkan residu
berupa oksida alumunium hidrat, seperti Gibsit [Al(OH)3]. Residu ini dikenal dengan
“endapan bauksit”, merupakan endapan komersial yang menghasilkan bijih alumunium.
3. Oksidat
Merupakan endapan hidroksida feri, yang merupakan hasil oksidasi senyawa besi
dalam suatu larutan, dan mengendap. Contohnya adalah Gutit [HFeO2] yang
memberikan warna coklat, dan Hematit [Fe2O3] yang memberikan warna merah. Bila
kedua mineral ini terdapat dalam jumlah yang besar, maka dapat menjadi sangat bernilai
karena bijih besinya.
Mineral lainnya yang terdapat pada endapan oksidat adalah mangan. Contohnya
adalah Manganit [MnO(OH)], dan Psilomelane [(Ba,H2O)2Mn5O10], yang sebagian
besar tersusun atas MnO2.
4. Reduzat
Terbentuk karena proses reduksi, dikarenakan tempat terbentuknya yang terisolir dari
atmosfer, sehingga kekurangan oksigen. Endapan jenis ini jarang sekali dijumpai.

Di laut, biasanya endapan ini terdapat pada daerah palung. Dengan kondisi yang tenang,
pengendapan material-material organik, akan menyebabkan berkurangnya oksigen, dan
terbentuk H2S. Contoh mineral yang terbentuk adalah Pirit (pada keadaan asam), dan
Markasit (pada keadaan yang lebih asam).
Di darat, pengendapan dari bahan rombakan tumbuhan-tumbuhan akhirnya akan
berubah menjadi lapisan-lapisan batubara. Dengan keadaan reduksi yang tinggi,
memungkinkan terjadinya pengendapan karbonat fero berupa Siderit, yang dapat
digunakan menjadi deposit bijih besi.
Mineral lain yang terbentuk dalam suasana reduksi adalah Sulfur [Cu], yang biasanya
dijumpai berasosiasi dengan kubah garam dan minyak bumi.
5. Presipitat
Endapan ini berhubungan dengan berbagai aktivitas organisme yang mensekresi
gamping, maka dari itu tempat yang paling baik bagi pengendapan jenis ini
(karbonatan) adalah di bawah laut.

Bentuk kalsium karbonat yang paling stabil adalahKalsit, namun dapat juga
terbentuk Aragonit. Araganit dapat berubah menjadi kalsit, ataupun tetap menjadi
aragonit, hal itu dapat terjadi apabila strukturnya berubah menjadi lebih stabil, karena
kandungan ion-ion asing. Selain itu, kalsit dan aragonit dapat diendapkan di lingkungan
terestrial, seperti di dalam gua batugamping, yang di sekelilingnya terdapat mata air
yang jenuh akan kandungan CaCO3.
Salah satu presipitat laut yang jarang ditemukan, namun sangat bernilai dari segi
ekonomi adalah Fosforit yang digunakan sebagai sumber pupuk fosfat.Seperti yang kita
ketahui, air laut di bagian dasar samudera sangat jenuh oleh fosfat kalsium, dan karena
terjadi perubahan pada kondisi fisik-kimianya, walaupun hanya sedikit akan
menyebabkan fosforit terpresipitasi. Bila sedimentasi dari bahan-bahan lainnya lebih
sedikit, maka akan terbentuk lapisan fosforit yang lebih murni.
6. Evaporit
Proses penting dalam pembentukan sedimen evaporit adalah penguapan. Endapan ini
mempunyai fungsi khusus, yaitu untuk menginterpretasi sejarah geologi daerah itu,
sebagai indikator untuk keadaan yang kering. Berdasarkan asal mula pengendapannya,
sedimen evaporit dibagi menjadi 2, yaitu:

Endapan evaporit marin terbentuk di laut yang disebabkan oleh air laut yang menguap.
Apabila air laut menguap pada keadaan yang alami, maka yang pertama kali akan
mengendap adalah kalsium karbonat, diikuti oleh dolomit. Dengan berlanjutnya
evaporasi, terendapkanlah kalsium sulfat, yang dapat berupa gipsum, yang bergantung
kepada temperatur dan salinitas air laut, dan pada giliran berikutnya akan terbentuk
halit. Kebanyakan endapan evaporit terdiri atas kalsium karbonat, namun pada keadaan
tertentu dapat juga terendapkan garam kalsium dan magnesium.

Endapan evaporit non marin relatif jarang ditemui, atau sangat terbatas, baik dalam
penyebarannya maupun besarnya, tetapi sangat penting dalam arti ekonomi, karena
endapan ini menghasilkan senyawa Boron [B] dan Yodium[I]. Endapan ini terbentuk di
darat karena menguapnya suatu danau garam. Disamping kedua senyawa tadi,
terkandung pula nitrat-nitrat, sejumlah garam kalsium, bromida, dan gipsum