Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS PENGARUH GETARAN TANAH HASIL OPERASI PELEDAKAN

TRIM BLASTING TERHADAP KEMANTAPAN LERENG DI TAMBANG


“X”

PROPOSAL TUGAS AKHIR


Diajukan Untuk Penelitian Tugas Akhir Mahasiswa Pada Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
2017
A. JUDUL
Analisis Pengaruh Getaran Tanah Hasil Operasi Peledakan Trim Blasting
Terhadap Kemantapan Lereng Di Tambang “X” PT. Thiess Indonesia Kutai
Barat Kalimantan Timur

B. BIDANG ILMU
Teknik Pertambangan.

C. LATAR BELAKANG
Dalam operasi penambangan dan pekerjaan sipil, teknik pemboran dan
peledakan merupakan metode yang paling sering digunakan untuk memberai
suatu massa batuan. Pada praktiknya, aktivitas peledakan memberikan dampak
negatif berupa getaran tanah, kebisingan suara, batu terbang (fly rock), ledakan
udara (air blast), dan polusi udara. Dari semua efek negatif tersebut, getaran
tanah menjadi topik utama yang akan dibahas dalam penelitian ini tugas akhir
ini. Getaran tanah yang melebihi ambang batas akan mempengaruhi
ketidakmantapan lereng. Oleh karena itu, metode prediksi getaran yang akurat
sangat dibutuhkan dalam perencanakan peledakan.
Getaran tanah tersebut akan mempengaruhi tingkat kemantapan lereng
karena getaran tanah akan menambah gaya pendorong batuan untuk longsor.
Apabila getaran tanah yang dihasilkan oleh aktivitas peledakan melebihi
kekuatan massa batuan untuk menahannya, maka longsoran akan terjadi pada
lereng. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian untuk mengetahui seberapa
besar getaran tanah hasil aktivitas peledakan tersebut mempengaruhi
kemantapan lereng.

D. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan ini memiliki beberapa tujuan, yaitu:
1. Menentukan hubungan nilai percepatan partikel puncak (PPA) dengan nilai
percepatan sebagai faktor seismik (percepatan pada saat nilai perpindahan
puncak).
2. Menentukan hubungan nilai percepatan puncak (PPA) terhadap tingkat
penurunan kemantapan lereng pada masing-masing penampang lerang.
3. Menentukan nilai percepatan kritis sebagai faktor seismik yang
mempengaruhi kestabilan lereng pada masing-masing penampang lereng.

E. PERMASALAHAN
Getaran yang dihasilkan dari operasi peledakan akan mempengaruhi
tingkat kemantapan lereng. Hasil pemantauan yang diperoleh berupa nilai
kecepatan partikel puncak (PPV), percepatan partikel puncak (PPA),
perpindahan partikel puncak (PPD), dan kecepatan puncak sum (PVS).
Percepatan partikel puncak (PPA) yang dihasilkan akibat operasi peledakan
tidak dapat langsung digunakan sebagai faktor seismik dalam analisis
kemantapan lereng. Penggunaan percepatan puncak sebagai factor seismik
akan menghasilkan faktor keamanan yang kecil dan tidak sesuai dengan
kenyataan dilapangan (Wong, H. N dan Pang, P. L.R, 1995).
Penggunaan nilai percepatan mempertimbangkan frekuensi dominan
getaran peledakan yang berada pada interval 5-200 Hz, sedangkan frekuensi
dominan getaran gempa berada pada interval 0,1-2 Hz (Scott et. Al, 1996).
Oleh karena itu, dalam penelitian ini nilai percepatan yang digunakan sebagai
factor seismic difilter pada frequensi 0,1-2 Hz atau dengan kata lain nilai
percepatan sebagai faktor seismik diperoleh dari nilai percepatan partikel
puncak pada saat perpindahan partikel puncak.

F. PEMBATASAN MASALAH
Ruang lingkup pembatasan masalah dalam penelitian tugas akhir ini
adalah studi mengenai pengaruh getaran tanah hasil operasi peledakan terhadap
kemantapan lereng DI Tambang PT. Thiess Indonesia. Oleh karena itu
penelitian ini hanya fokus pada pengamatan terhadap aktivitas peledakan,
pengukuran getaran, dan pengamatan terhadap faktor yang mempengaruhi
kemantapan lereng seperti sifat fisik dan mekanik batuan serta faktor seismik.
Dari perumusan masalah diatas, maka penelitian ini dibatasi untuk
beberapa hal berikut ini yaitu:
a. Lokasi penelitian di Tambang PT. Thiess Indonesia.
b. Nilai getaran peledakan yang diteliti berjarak 50-150 m dari lokasi
lereng Highwall terhadap titik pemntauan getaran.
c. Nilai getaran tanah akibat operasi peledakan yang dikaji adalah
percepatan partikel puncak (PPA) dan perpindahan partikel puncak
(PPD).
d. Faktor yang mempengaruhi kemantapan lereng adalah sifat fisik dan
mekanik batuan serta faktor seismik.

G. MANFAAT
Manfaat dari penelitian ini yaitu dapat menambah pengetahuan dalam
kegiatan peledakan yang aman bagi kemantapan lereng di terbuka batubara.
Selain itu, nantinya penelitian ini dapat menjadi sebuah metode atau cara yang
dapat ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan khususnya dibidang
pertambangan untuk dapat diterapkan pada proses prediksi longsoran lereng.
Jika nilai percepatan partikel puncak (PPA) yang didapatkan dari proses
pemantauan operasi peledakan melebihi batas percepatan kritis, maka
kemungkinan terjadinya longsoran akan semakin tinggi. Oleh karena itu,
penerapan hasil penelitian ini di perusahaan tambang akan sangat membantu
dalam memberikan keamanan dalam kegiatan produksi dan menghindari
kecelakaan tambang.

H. METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian yang dilakukan meliputi:
1. Studi Literatur
Studi literature bertujuan untuk mencapai bahan-bahan yang
berhubungan dengan penelitian berupa buku-buku dan laporan
penelitian yang telah ada.
2. Perumusan Masalah
Dalam penelitian ini, permasalahan yang dikemukakan adalah
kemantapan lereng akibat pembebanan luar (getaran tanah akibat
operasi peledakan)
3. Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan berupa data primer dan data sekunder.
Beriku ini data-data yang diperlukan dalam penelitian tugas akhir ini.
Data primer yaitu:
a. Lereng Highwall actual dan rencana di PT. Thiess Indonesia.
b. Data sifat fisik dan mekanik batuan pembentuk lereng.
c. Geometri lereng dan kondisi perlapisan batuan.
d. Desain peledakan, geometri peledakan, dan rangkaian
peledakan.
e. Lokasi peledakan dan pemantauan getaran tanah.
f. Hasil pemantauan getaran tanah akibat peledakan.
Data sekunder yaitu:
a. Data geometri rencana lereng
b. Data bahan peledak
c. Data litilogi, geologi, dan stratigrafi
d. Data curah hujan
e. Data spesifikasi alat
f. Data peta lokasi
Selanjutnya dari data-data diatas akan dilakukan proses pengolahan
data yang dilakukan dengan beberapa perhitungan yang menuju pada
perumusan dan pembahasan sehingga diperoleh penyelesaian masalah.
Setelah itu dilakukan penarikan kesimpulan yang merupakan hasil akhir dari
korelasi antara hasil pengolahan data yang dilakukan dengan permasalahan
yang diteliti.

Analisis Pengaruh Getaran Peledakan Terhadap Kemantapan


Lereng Highwall Di Tambang “X” PT. Thiess Indonesia Kutai
Barat Kalimantan Timur
Orientasi Lapangan

Permasalahan
1. Percepatan partikel puncak (PPA) yang dihasilkan akibat
operasi peledakan tidak dapat langsung digunakan sebagai
faktor seismik dalam analisis kemantapan lereng.
2. penelitian ini nilai percepatan yang digunakan sebagai factor
seismic difilter pada frequensi 0,1-2 Hz

Studi Literatur

Pengambilan Data

Desain Pemantauan Kondisi lereng Sifat Fisik &


peledakan Getaran aktual Mekanik Batuan

PPV PPD PPA Analisis Kemantapan


DD Lereng
D
Integrasi & Differensiasi
Nilai Kecepatan Percepatan Kritis

Percepatan sebagai
faktor seismik

Hubungan percepatan sebagai factor


seismic terhadap percepatan kritis

PPA kritis

Kesimpulan dan saran


I. TINJAUAN PUSTAKA
I.1 Peledakan
Bahan peledak kimia adalah senyawa kimia atau campuran senyawa
kimia yang apabila dikenakan panas, benturan, gesekan, atau kejutan (shock)
secara cepat dengan sendirinya akan terurai (exothermic decomposition).
Penguraian ini menghasilkan produk yang lebih stabil umumnya berupa
gas-gas yang bertekanan tinggi karena gas-gas tersebut mengembang pada suhu
yang tinggi akibat panas yang dihasilkan dari penguraian eksotermis.

I.2 Getaran Tanah


Pelepasan energy kimia menyebabkan medan tegangan dinamik pada
batuan sekitar. Medan tegangan menghasilkan deformasi elastic yang
merambat menjauh dari sumber ledakan (dalam bentuk gelombang seismic,
Jaeger & Cook, 1979). Getaran tanah terjadi pada daerah elastic. Didaerah ini
tegangan yang diterima material lebuh kecil dari kekuatan material sehingga
hanya menyebabkan perubahan bentuk dan volume. Sesuai dengan sifat elastic
material maka bentuk dan volumenya akan kembali ke keadaan semula setelah
tidak adanya tegangan yang bekerja. Perambatan tegangan pada daerah elastic
akan menimbulkan gelombang elastic yang dikenal juga sebagai gelombang
seismic.
Gelombang seismic dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Gelombang badan (body wave) adalah gelombang yang merambat melalui
massa batuan, menembus kebagian dalam dari massa batuan.
Ada dua macam gelombang badan, yaitu:
a. Gelombang Longitudinal (tekan/Compression wave/ P-wave)
Gelombang longitudinal adalah jenis gelombang yang menghasilkan
pemadatan (kompresi) dan pemuaian (dilatasi) pada arah yang sama
dengan arah perambatan gelombang.
b. Gelombang Transversal (shear wave/ S-wave)
Gelombang transversal adalah gelombang melintang yang bergerak
tegak lurus pada arah perambatan gelombang.
2. Gelombang Permukaan adalah gelombang yang merambat mealui bagian
atas permukaan batuan tetapi tidak menembus batuan.
Ada dua gelombang permukaan yaitu:
a. Gelombang love yaitugelombang yang mempunyai gerakan seperti
gelombang trasversal yang terpolarisasi secara horizontal.
b. Gelombang Rayleigh yaitu gelombang yang gerakan partikel berputar
mundur dan vertical terhadap arah perambatan gelombang.

Gambar I.1 Gelombang Love dan Rayleigh (www.google.com)

I.3 Alat ukur getaran tanah


Pemantau getaran yaitu alat yang digunakan untuk mengukur getaran yang
ditimbulkan oleh suatu operasi peledakan. Alat ini biasanya disiapkan di lokasi
penduduk atau fasilitas umum lainnya untuk mengukur getaran yang
ditimbulkan peledakan. Dengan menggunakan software Blastware, data yang
diperoleh kemudian dianalisis dan hasilnya dibandingkan dengan ambang batas
gangguan getaran pada manusia, lereng, bangunan, dan lainnya.
Pemantau kebisingan suara (noise level indicator) akibat ledakan udara
(air blast), yaitu alat yang digunakan untuk mengukur intensitas suara yang
ditimbulkan oleh peledakan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan
hasilnya dibandingkan dengan ambang batas gangguan suara terhadap manusia.
Alat pemantau getaran dapat pula merekam suara peledakan dan ditulis pada
kertas perekam.
Gambar I.2 Blasmate III (www.google.com)

Prinsip kerja alat ini adalah mengubah masukan yang berupa getaran tanah
menjadi gaya pegas/sinyal listrik sehingga diperoleh keluaran sebagai angka.
Blasmate III didesain untuk mengukur dan mencatat getaran dengan tepat.
Peralatan ini disebut dengan seismograf dan terdiri dari dua bagian penting ,
yaitu sensor dan rekorder. Kotak sensor mempunyai tiga unit independent
sensor yang letaknya saling tegak lurus antara satu unit dengan unit lain. Dua
unit terletak horizontal dan saling tegak lurus dan unit yang lain dipasang secara
vertical. Ketiga sensor tersebut mencatat tiga arah komponen getaran peledakan
yaitu longitudinal, transversal, dan vertical.
I.4 Scaled Distance
Teori untuk mempelajari gelombang seismic dapat dijelaskan dengan
konsep Scaled Distance. Scaled Distance adalah hubungan antara jarak sumber
getaran dan titik pengamatan dibandingkan dengan akar dari massa bahan
peledak yang dianggap meledak dalam waktu yang dianggap bersamaan.
𝑅
𝑆𝐷 = … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … (𝐼. 1)
𝑊 1/2

Keterangan:
SD = Scaled Distance
R = Jarak Pengamatan
W = Muatan maksimum bahan peledak per waktu tunda 8 ms (kg)
Dengan Teori ini dapat pula ditentukan jumlah bahan peledak maksimum
yang boleh meledak bersamaan agar tidak menyebabkan getaran tanah yang
dapat merusak suatu struktur bangunan atau lereng. Hal yang perlu diperhatikan
yaitu,
1. Besaran getaran tanah yang merupakan fungsi dari jumlah bahan peledak,
jarak lokasi lereng atau struktur dari titik ledak dan sifat media penghantar
gelombang.
2. Kriteria kerusakan struktur itu sendiri, misalnya perpindahan maksimum
yang masih diijinkan, kecepatan partikel maksimum, percepatan dan
sebagainya.

I.5 Kecepatan Partikel Puncak (Peak Particle Velocity)


Parameter peak particle velocity biasanya digunakan untuk menjadi
criteria kerusakan struktur. Analisis dilakukan terhadap hubungan antara log
peak particle velocity dengan log square root scaling (Scaled Distance) yaitu
dengan penggambaran grafik regresi linier, hal ini dilakukan untuk mengetahui
penyebaran data dan kecenderungan arah data.
Persamaan kecepatan partikel puncak (Duvall et.al., 1962):
𝑅 −𝑛
𝑃𝑃𝑉 = 𝐾[ 1] … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … (𝐼. 2)
𝑊2
Keterangan:
PPV = Kecepatan partikel (mm/s)
R = Jarak dari lokasi peledakan ke pemantauan (m)
W = Muatan maksimum bahan peledak per waktu tunda 8 ms (kg)
K,n = Konstanta lapangan yang dapat ditentukan melalui regresi linier

I.6 Geoteknik
Proses perancangan jenjang merupakan suatu proses melakukan analisis
kestabilan untuk mengestimasi sudut jenjang yang masih dapat ditambang,
memilih lebar jenjang, tinggi jenjang dengan mempertimbangkan peraturan-
peraturan yang berlaku.
Faktor-faktor yang mempengaruh terhadap kestabilan lereng batuan
antara lain :
1. Geometri lereng
Kemiringan dan ketinggian suatu lereng sangat mempengaruhi
kemantapannya. Semakin besar kemiringan dan ketinggian suatu lereng,
maka kemantapan lereng tersebut semakin berkurang.
2. Struktur batuan
Struktur batuan yang sangat mempengaruhi kemantapan lereng adalah
bidang-bidang sesar, perlapisan dan rekahan. Struktur batuan tersebut
merupakan bidang lemah dan sekaligus sebagai tempat merembesnya air,
sehingga batuan lebih mudah longsor.
3. Sifat fisik dan mekanik batuan
Sifat fisik batuan yang mempengaruhi kemantapan lereng adalah : bobot isi,
porositas, dan kandungan air, kuat tekan, kuat tarik, kuat geser dan sudut
geser dalam batuan merupakan sifat mekanik batuan yang berpengeruh
terhadap kemantapan lereng.
4. Topografi daerah setempat
Keadaan dan genesa daerah setempat serta sejarah perkembangannya
memainkan peranan penting dalam memahami hubungan bentuk lereng
dengan kestabilan. Lereng dengan kemiringan, material dan geologi yang
sejenis dapat berperilaku yang berbeda bergantung aspek-aspek
topografinya.
5. Kondisi hidrologi
Air tanah merupakan faktor yang penting dalam kestabilan lereng, air tanah
dapat mempengaruhi lereng dengan lima cara: mengurangi kekuatan,
merubah kandungan mineral melalui proses alterasi dan pelarutan, merubah
density, menimbulkan tekanan air pori dan menyebabkan erosi.
6. Geometri lereng
Ada tiga komponen utama dari suatu lereng tambang yaitu : konfigurasi
jenjang, sudut antar jenjang, dan sudut lereng total. Lereng yang terlalu
tinggi menjadi lebih tidak stabil sehingga cenderung mudah longsor
daripada lereng yang tidak terlalu tinggi. Makin besar kemiringan lereng
atau tingkat kecuramannya semakin besar maka semakin mungkin
terjadinya kelongsoran.
7. Gaya-gaya luar
Gaya-gaya dari luar yang dapat mempengaruhi kemantapan suatu lereng
adalah :
a. Getaran yang di akibatkan oleh gempa bumi, peledakan dan
pemakaian alat-alat mekanis berat di dekat lereng.
b. Pemotongan dasar (toe) pada lereng.
c. Penebangan pohon-pohon pelindung lereng.

Suatu cara yang umum untuk menyatakan kemantapan suatu lereng adalah
faktor keamanan atau faktor kemantapan. Faktor ini merupakan perbandingan
antara gaya penahan yang menyebabkan lereng tetap stabil dengan gaya yang
menyebabkan lereng longsor. Secara sistematis faktor keamanan suatu lereng
dapat dinyatakan sebagai berikut :

R
F
Fp

Dimana :
F = Faktor keamanan lereng.
R = Gaya penahan, berupa resultan gaya-gaya yang membuat lereng tetap
stabil.
Fp = Gaya penggerak, berupa resultan gaya-gaya yang menyebabkan lereng
longsor.
Atau dinyatakan dalam bentuk rumus sebagai berikut :

cA  (W . cosp  U  V . sin p)Tan


F=
W . sin p  V . cosp
U = ½ . γw . Zw .(H-Z). Cosec ψp
V = ½ .γw . Zw2

Dimana :
F = Faktor keaman lereng
c = Kohesi pada bidang luncur
A = Panjang bidang luncur (m)
Ψp = Sudut kemiringan bidang luncur ( 0
)
0
Ø = Sudut geser dalam batuan ( )
W = Berat massa batuan yang akan longsor (ton)
U = Gaya angkat yang ditimbulkan oleh tekanan air pada regangan tarik
(ton)
V = Gaya mendatar yang ditimbulkan oleh tekanan air pada regangan tarik
(ton)
γw = Bobot isi air (ton/m3)
Zw = Tinggi kolom air yang mengisi regangan tarik (m)
Z = Kedalaman regangan tarik (m)
H = Tinggi lereng (m)

Bila terjadi getaran yang diakibatkan oleh adanya gempa, peledakan


maupun aktivitas manusia lainnya, maka persamaan di atas menjadi :

cA  (W .cosp   sin p  U  V . sin p)Tan


F=
W sin p   cosp  V . cosp
dimana :
α = percepatan getaran pada arah mendatar
Pada keadaan : - F > 1,0 = Lereng dalam keadaan mantap.
- F = 1,0 = Lereng dalam keadaan seimbang (akan
longsor).
- F < 1,0 = Lereng dalam keadaan tidak mantap.
Berdasarkan proses longsornya, longsoran dibagi menjadi empat macam
yaitu :
1. longsoran bidang
longsoran bidang adalah suatu longsoran batuan yang terjadi
sepanjang bidang luncur yang dianggap rata. Bidang luncur tersebut
dapat berupa bidang sesar, rekahan, maupun bidang perlapisan batuan.
Syarat-syarat terjadinya longsoran bidang adalah :
a. terdapat bidang luncur bebas; berarti kemiringan bidang luncur harus
lebih kecil daripada kemiringan lereng.
b. arah bidang luncur sejajar atau mendekati sejajar dengan arah lereng
(maksimum berbeda 200).
c. kemiringan bidang luncur lebih besar daripada sudut geser dalam
batuannya.
d. Terdapat bidang bebas ( tidak terdapat gaya penahan) pada kedua
sisi longsoran.
2. Longsoran baji
Longsoran baji dapat terjadi pada suatu batuan jika terdapat lebih
dari satu bidang lemah yang bebas dan saling berpotongan. Sudut
perpotongan antara bidang lemah tersebut harus lebih besar dari sudut
geser dalam batuannya (lihat Gambar ..). bidang lemah ini dapat berupa
bidang sesar, rekahan, maupun bidang perlapisan.
Cara longsor suatu baji dapat melalui salah satu atau beberapa
bidang lemahnya, ataupun melalui garis perpotongan kedua bidang
lemahnya.
3. longsoran busur
Longsoran batuan yang terjadi sepanjang bidang luncur yang berupa
busur disebut longsoran busur (lihat Gambar...). Longsoran busur hanya
akan terjadi pada tanah atau material yang bersifat seperti tanah. Antar
partikel tanah tidak terikat satu denga yang lain, dengan demikian,
longsoran busur juga dapat terjadi pada batuan yang sangat lapuk serta
banyak mengandung bidang lemah maupun tumpukan batuan yang
hancur.

4. Longsoran guling
Longsoran guling akan terjadi pada suatu lereng batuan yang arah
kemiringannya berlawanan dengan kemiringan bidang lemahnya.
Keadaan tersebut digambarkan dengan balok-balok yang diletakkan di
atas sebuah bidang miring sebagai berikut (lihat gambar...) :
x
a. Jika α > θ dan  tan  , maka balok akan meluncur kemudian
y
mengguling.
x
b. Jika  <  dan > tan  , maka balok akan langsung
y
mengguling.
Berdasarkan bentuk dan proses menggulingnya, maka longsoran
guling di bedakan menjadi tiga, yaitu (lihat Gambar ...) :
1. Longsoran guling setelah mengalami lenturan (flexural topping)
2. Longsoran guling yang berupa blok (balok-balok), disebut Block
toppling
3. Gambaran kedua longsoran di atas (block flexural toppling).

Metoda-metoda analisis kemantapan lereng dapat dikelompokkan menjadi


tiga yaitu : metoda grafis, metoda analitik dan metode numerik. Metode grafis
bersifat kualitatif, yaitu untuk menentukan tipe longsoran yang mungkin terjadi
dan daerah kritis yang mungkin yang terjadi dan daerah kritis yang mungkin
longsor tanpa memperhitungkan faktor kemantapannya. Sedangkan metode
analitik dan metode numerik bersifat kuantitatif.

J. JADWAL PELAKSANAAN
Rencana pelaksanaan kerja skripsi adalah mulai dari 10 Januari 2018
sampai dengan 10 Maret 2018 dengan jadwal pelaksanaan sebagai berikut:
Tabel J.1. Uraian Jadwal Kegiatan Penelitian
Minggu
No Uraian Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8

1 Orientasi Lapangan

Pengumpulan Referensi
2
dan Data
Pengolahan Data,
3 Konsultasi, dan
Bimbingan
Penyusunan dan
4
Pengumpulan Laporan

K. PENUTUP
Demikianlah proposal pengajuan ini dibuat sebagai bahan pertimbangan
bagi Bapak/Ibu agar dapat menerima saya untuk melakukan Tugas Akhir.
Penulis sangat mengharapkan bimbingan serta arahan dari Bapak/Ibu dalam
pelaksanaan penelitian ini nantinya

L. DAFTAR PUSTAKA
Downding, C, H., 1985. Blast Vibration Monitoring and Control, Northwestern
University, Prentice-Hall Inc, Englewood Cliffs, NJ 07632, USA
Hossaini & Sen, 2006. Ground Vibration Arising from Using Two Types of
Explosives-A Comparative Study, University of Wollongong
Jaeger, J. C., and Cook, 1979. Fundamental Of Rock Mechanics.London
Scott, A, 1996. Open Pit Blast Design Analysis and Optimalisation. University
of Queensland. Australia
Simangunsong, G & Rajagukguk, L, 2009. Perkiraan Getaran Tanah Akibat
Peledakan Menggunakan Sistem Kecerdasan Jaringan Syarat Tiruan
(ANN). Bandung
Supervisory Teknik peledakan, ITB, Bandung.