Anda di halaman 1dari 15

CONTOH ESAI

Keterangan
Judul:
Bung Besar, Ideolog yang Kesepian

Tesis:
Perilaku berbahasa dan kemampuan pidato Bung Karno adalah kompensasi dari rasa
kesepiannya.

Panjang tulisan:
19000 karakter termasuk spasi.

Teori kepribadian yang digunakan:


Teori dari Alfred Adler

Kompas Jumat, 1 Juni 2001

Bung Besar, Ideolog yang Kesepian


Oleh: Bagus Takwin

"AKU ini bukan apa-apa kalau tanpa rakyat. Aku besar karena rakyat, aku
berjuang karena rakyat dan aku penyambung lidah rakyat." Pengakuan ini meluncur dari
Soekarno (1981), Presiden RI pertama, dalam karyanya Menggali Api Pancasila. Sadar
atau tidak sadar ia mengucapkannya, terkesan ada kejujuran di sana. Soekarno, sang
orator ulung dan penulis piawai, memang selalu membutuhkan dukungan orang lain. Ia
tak tahan kesepian dan tak suka tempat tertutup. Dari pidato dan tulisannya yang
memperlihatkan betapa mahirnya ia menggunakan bahasa, tersirat sebuah kebutuhan
untuk selalu mendapat dukungan dari orang lain.
Gejala berbahasa Soekarno, Bung Karno, merupakan fenomen langka yang
mengundang kagum banyak orang. Wajar kalau muncul pertanyaan "Apakah kemahiran
Soekarno menggunakan bahasa dengan segala ma-cam gayanya berhubungan dengan
kepribadiannya?" Analisis terhadap kepribadian Soekarno melalui autobiografi,
karangan-karangannya, dan buku-buku sejarah yang memuat sepak terjangnya dapat
membantu memberikan jawaban. Dengan menggunakan pendekatan teori psi-kologi
individual dari Alfred Adler (Hall dan Lindzey, 1985) dapat dipahami bagaimana
Proklamator Kemerdekaan RI ini bisa menjadi pribadi yang berapi-api, pembakar
semangat banyak orang, gagah dan teguh sekaligus sensitif, takut pada kesendirian, dan
sangat membutuhkan dukungan sosial.

Pribadi yang kesepian


Di akhir masa kekuasaannya, Soekarno sering merasa kesepian. Dalam
autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams, Bung Karno, Penyambung Lidah
Rakyat, ia menceritakannya.
"Aku tak tidur selama enam tahun. Aku tak dapat tidur barang sekejap. Kadang-
kadang, di larut malam, aku menelepon seseorang yang dekat denganku seperti
misalnya Subandrio, Wakil Perdana Menteri Satu dan kataku, 'Bandrio datanglah
ke tempat saya, temani saya, ceritakan padaku sesuatu yang ganjil, ceritakanlah
suatu lelucon, berceritalah tentang apa saja asal jangan mengenai politik. Dan
kalau saya tertidur, maafkanlah.'... Untuk pertama kali dalam hidupku aku mulai
makan obat tidur. Aku lelah. Terlalu lelah." (Adams, 2000:3)

"Ditinjau secara keseluruhan maka jabatan presiden tak ubahnya seperti suatu
pengasingan yang terpencil... Seringkali pikiran oranglah yang berubah-ubah,
bukan pikiranmu... Mereka turut menciptakan pulau kesepian ini di sekelilingmu."
(Adams, 2000:14)

Apa yang ditampilkan Soekarno dapat dilihat sebagai sindrom orang terkenal. Ia
diklaim milik rakyat Indonesia. Walhasil, ia tak bisa lagi bebas bepergian sendiri
menikmati kesenangannya (Adams, 2000:12). Namun, melihat ke masa mudanya, kita
juga menemukan tanda-tanda kesepian di sana. Semasa sekolah di Hogere Burger School
(HBS), ia menekan kesendiriannya dengan berkubang dalam buku-buku, sebuah
kompensasi dari kemiskinan yang dialaminya. Kebiasaan ini berlanjut hingga masa ia
kuliah di Bandung. Soekarno terkenal sebagai pemuda yang pendiam dan suka menarik
diri (Adams, 2000:89-91).
Indikasi kesepian juga kita dapatkan dalam ceritanya tentang penjara. Malam-
malam di penjara menyiksanya dengan ruang yang sempit dan tertutup. Dinding-dinding
kamar tahanannya terlalu menjepit dirinya. Lalu muncullah perasaan badannya yang
membesar hingga makin terjepit dalam ruang tahanan itu.
"Yang paling menekan perasaan dalam seluruh penderitaan itu adalah
pengurungan. Seringkali jauh tengah malam aku merasa seperti dilak rapat
dalam kotak kecil berdinding batu yang begitu sempit, sehingga kalau aku
merentangkan tangan, aku dapat menyentuh kedua belah dindingnya. Rasanya
aku tak bisa bernafas. Kupikir lebih baik aku mati. Suatu perasaan mencekam
diriku, jauh sama sekali dari keadaan normal." (Adams, 2000:135)

Lebih jauh lagi ke masa kecilnya, Soekarno sering merasa sedih karena hidup
dalam kemelaratan sehingga tak dapat menikmati benda-benda yang diidamkannya. Di
saat anak-anak lain dapat menikmati makanan jajanan dan mainan, Karno hanya dapat
menyaksikan mereka dengan perasaan sedih. Lalu ia menangis mengungkapkan
ketidakpuasan sekaligus ketakberdayaannya. Selain itu, di lingkungan sekolah ia harus
berhadapan dengan anak-anak Belanda yang sudah terbiasa memandang remeh pribumi.
Pengalaman yang cukup traumatis terjadi di masa lima tahun pertama. Soekarno
pernah berturut-turut menderita penyakit seperti tifus, disentri, dan malaria yang berujung
pada penggantian namanya dari Kusno menjadi Karno, nama seorang tokoh pewayangan
putra Kunti yang berpihak pada Kurawa demi balas budi dan kewajiban membela negara
yang menghidupinya. Sakit yang melemah-kan secara fisik dapat berpengaruh terhadap
kondisi psikis. Sangat mungkin muncul perasaan lemah, tak berdaya, dan terasing pada
diri Soekarno kecil. Untungnya dilakukan penggantian nama disertai penjelasan dari
ayahnya tentang makna pergantian nama yang memberinya kebanggaan karena
menyandang nama pejuang besar.
Pengalaman sakit-sakitan dan hidup dalam kemiskinan tampak membekas kuat
dalam ingatan Soekarno. Di masa tuanya, ia menafsirkan kegemarannya bersenang-
senang sebagai kompensasi dari masa lalunya yang dirampas kemiskinan (Adams, 2000).
Ada semacam dendam terhadap kemiskinan dan ketidakberdayaan yang telah berkilat
dalam dirinya. Dendam yang kemudian menggerakkannya pada semangat perjuangan
kemerdekaan dan keinginan belajar yang tinggi.

Mitos-mitos dari masa kecil


Sejak kecil, Soekarno sudah menyimpan mitos tentang diri-nya sebagai pejuang
besar dan pembaru bagi bangsanya. Ibunya, Ida Nyoman Rai, menceritakan makna
kelahiran di waktu fajar.
"Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin
dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar
mulai menyingsing. Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa
orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih
dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, nak, bahwa engkau ini
putra dari sang fajar." (Adams, 2000:24)

Tanggal kelahiran Soekarno pun dipandangnya sebagai pertanda nasib baik.


"Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam.
Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang
Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat
yang berlawanan." (Adams, 2000:25)

Soekarno melihat dirinya yang terdiri dari dua sifat yang berlawanan sebagai satu
kemungkinan pertanda nasibnya di dunia politik.
"Karena aku terdiri dari dua belahan, aku dapat memperlihatkan segala rupa,
aku dapat mengerti segala pihak, aku memimpin semua orang. Boleh jadi ini
secara kebetulan bersamaan. Boleh jadi juga pertanda lain. Akan tetapi kedua
belahan dari watakku itu menjadikanku seseorang yang merangkul semua-nya."
(Adams, 2000:25)

Kejadian lain yang dianggap pertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya
Gunung Kelud saat ia lahir. Tentang ini ia menyatakan, "Orang yang percaya kepada
takhayul meramalkan, 'Ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno," Selain itu,
penjelasan tentang penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi
dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan
bangsanya.
Kepercayaan akan pertanda-pertanda yang muncul di hari kelahiran Soekarno
memberi semacam gambaran masa depan dalam benak Soekarno sejak masa kecilnya.
Dalam kerangka pemikiran Adler, gambaran masa depan itu disebut fictional final goals
(tujuan akhir fiktif). Meskipun fiktif (tak didasari kenyataan), tetapi gambaran masa
depan ini berperan menggerakkan kepribadian manusia untuk mencapai kondisi yang
tertuang di dalamnya (Adler, 1930:400). Riwayat hidup Soekarno memperlihatkan
bagaimana gambaran dirinya di masa depan dan persepsinya tentang Indonesia
menggerakkannya mencapai kemerdekaan Indonesia.

Bombasme bahasa dan keinginan merengkuh massa


Setelah menjadi presiden, Soekarno berpidato tiap tanggal 17 Agustus. Di sana
dapat kita temukan kalimat-kalimat muluk, penggunaan perumpamaan elemen-elemen
alam yang megah dan hiperbolisme bahasa. Dari tahun ke tahun pidatonya makin gegap-
gempita, mencoba membakar semangat massa pendengarnya dengan retorika kata-kata
muluk.
Dari kalimat-kalimat itu dapat dibayangkan seperti apakah kondisi psikis orang
yang menggunakannya. Dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1949, contohnya, ia
berseru, "Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa
pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali." Di sini ada indikasi ia menempatkan
diri sebagai orang yang bersemangat elang rajawali sehingga memiliki hak dan kewajiban
untuk menyerukan pada rakyatnya agar memiliki semangat yang sama dengannya.
Seruan-seruan yang sering dilontarkan dalam pidatonya adalah tentang
perjuangan yang harus dilakukan tak henti-henti.
"Kemerdekaan tidak menyudahi soal-soal, kemerdekaan malah membangun soal-
soal, tetapi kemerdekaan juga memberi jalan untuk memecahkan soal-soal itu."
(Pidato 17 Agustus 1948)

"Tidak seorang yang menghitung-hitung: Berapa untung yang kudapat nanti dari
Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya."
(Pidato 17 Agustus 1956)

"Karena itu segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: "Terlepas
dari perbedaan apa pun, jagalah Persatuan, jagalah Kesatuan, jagalah
Keutuhan! Kita sekalian adalah machluk Allah! Dalam menginjak waktu yang
akan datang, kita ini se-olah-olah adalah buta." (Pidato 17 Agustus 1966)

Selain ajakan untuk berjuang, tersirat juga dari petikan-petikan tersebut bahwa
Soekarno memandang dirinya sebagai orang yang terus-menerus berjuang mengisi
kemerdekaan. Pengaruh fictional final goals-nya terlihat jelas, Soekarno yang sejak kecil
membayangkan diri menjadi pemimpin bangsanya dengan kepercayaan tinggi
menempatkan dirinya sebagai guru bagi rakyat.
"Adakanlah ko-ordinasi, adakanlah simponi yang seharmonis-harmonisnya
antara kepentingan sendiri dan kepentingan umum, dan janganlah kepentingan
sendiri itu dimenangkan diatas kepentingan umum." (Pidato 17 Agustus 1951)

"Kembali kepada jiwa Proklamasi .... kembali kepada sari-intinya yang sejati,
yaitu pertama jiwa Merdeka Nasional... kedua jiwa ichlas... ketiga jiwa
persatuan... keempat jiwa pembangunan." (Pidato 17 Agustus 1952)

"Dalam pidatoku "Berilah isi kepada kehidupanmu" kutegaskan: "Sekali kita


berani bertindak revolusioner, tetap kita harus berani bertindak revolusioner....
jangan ragu-ragu, jangan mandek setengah jalan..." kita adalah "fighting nation"
yang tidak mengenal "journey's-end" (Pidato 17 Agustus 1956)

Keinginannya untuk merengkuh massa sebanyak-banyaknya tampak dari


kesenangannya tampil di depan massa. Bombasme-kecenderungan yang kuat untuk
menggunakan kalimat-kalimat muluk dan ide-ide besar yang tidak disertai oleh tindakan
konkret-praktis untuk mencapainya yang ditampilkannya dapat diartikan sebagai usaha
memikat hati rakyat. Pidato-pidatonya banyak mengandung gaya hiperbola dan metafora
yang berlebihan seperti "Laksana Malaikat yang menyerbu dari langit", "adakanlah
simfoni yang seharmonis-harmonisnya antara kepentingan sendiri dan kepentingan
umum", "Bangsa yang gila kemuktian, satu bangsa yang berkarat", dan "memindahkan
Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun." Simak kutipan-kutipan berikut
bagaimana gaya bahasa yang digunakan untuk memikat massa.
"Janganlah melihat ke masa depan dengan Mata Buta! Masa yang lampau
adalah berguna sekali untuk menjadi kaca mata benggalanya dari pada masa
yang akan datang." (Pidato 17 Agustus 1966)

"Atau hendakkah kamu menjadi bangsa yang ngglenggem"? Bangsa yang


'zelfgenoegzaam'? Bangsa yang angler memeteti burung perkutut dan minum teh
nastelgi? Bangsa yang demikian itu pasti hancur lebur terhimpit dalam desak
mendesaknya bangsa-bangsa lain yang berebut rebutan hidup!" (Pidato 17
Agustus 1960)

Kita mau menjadi satu Bangsa yang bebas Merdeka, berdaulat penuh,
bermasyarakat adil makmur, satu Bangsa Besar yang Hanyakrawati, gemah
ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, otot kawat balung wesi, ora tedas
tapak palune pande, ora tedas gurindo. (Pidato 17 Agustus 1963)

Gaya menggurui dari tahun ke tahun makin jelas terlihat dalam pidato Soekarno.
Ia makin sering membuka pidatonya dengan kalimat "Saya akan memberi kursus
tentang". Pengaruh gambaran masa kecilnya tentang Soekarno sebagai pembuka fajar
baru bagi bangsanya makin tegas. Ia tak menyadari bahwa gambaran itu bersifat fiktif,
tak didasari kenyataan. Soekarno melambung tinggi dengan ide-idenya dan cenderung
mengabaikan kondisi konkret bangsanya terutama kondisi ekonomi.

Strategi penyebaran ideologi dalam tulisan Soekarno


Lalu jadilah Soekarno sebagai ideolog yang piawai menyebarkan kepercayaan-
kepercayaannya. Strategi penyebaran ideologi yang oleh Terry Eagleton (1991) terdiri
dari rasionalisasi, universalisasi, dan naturalisasi, dengan baik dimanfaatkan Soekarno
dalam tulisan-tulisannya.
Rasionalisasi tampil dalam argumentasi-argumentasi yang diusahakan tersusun
selogis mungkin dan menggunakan rujukan-rujukan teori-teori ilmuwan terkemuka
seperti Herbert Spencer, Havelock Ellis, dan Ernst Renan. Rasionalisasi dapat ditemukan
dalam setiap karangannya, termasuk penggunaan data statistik demi memperkuat
pendapatnya.
Strategi universalisasi dalam tulisan dan karangan Soekarno melibatkan ajaran-
ajaran agama kutipan dari tokoh ternama dalam sejarah dan peristiwa penting dalam
peradaban manusia. Gagasan-gagasannya seolah berlaku universal dan diperlukan di
mana-mana.
"Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu:
"Innallaha la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim"
(Pidato 17 Agustus 1964)

"Asal kita setia kepada hukum sejarah dan asal kita bersatu dan memiliki tekad
baja, kita bisa memindahkan Gunung Semeru atau Gunung Kinibalu sekalipun."
(Pidato 17 Agustus 1965)

"Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia!
Ingatlah akan hal ini! Gandhi berkata: "Saya seorang nasionalis, tetapi
kebangsaan saya adalah perikemanusiaan." (Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni
1945)

Strategi naturalisasi merupakan usaha menampilkan sebuah ideologi atau


kepercayaan sebagai sesuatu yang tampak alamiah. Ini banyak ditemukan dalam pidato-
pidato Soekarno. Penjelasan-penjelasannya tentang Pancasila sangat jelas menggunakan
naturalisasi.
"Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Kedaulatan
Rakyat, Keadilan Sosial. Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang ini, yang
nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia." (Pancasila sebagai
Dasar Negara, 1980:38)

Bukan hal yang aneh jika Soekarno berkembang menjadi seorang ideolog.
Kepercayaan sejak kecil tentang kemuliaan, kepeloporan dan kepemimpinannya,
mendorong kuat Bung Besar ini menyebarkan kebenarannya. Gambaran diri yang fiktif
dan mistis ini pula yang memberinya kepercayaan diri tampil berapi-api di depan lautan
massa.

Dari mitos ke ideologi, dari kesepian ke kekuasaan


Merujuk Adler, benang merah perkembangan kepribadian Soekarno jadi begitu
jelas. Masa dewasanya merupakan proyeksi dari keinginan masa kecil. Soekarno
membayangkan dirinya sebagai pembaru bangsa sejak kecil. Ia tumbuh sebagai manusia
yang penuh dengan gagasan-gagasan yang terbilang baru di masa hidupnya. Kegemaran
akan buku dan belajar berbagai hal tak lepas dari cita-cita yang digenggamnya erat-erat:
menjadi penyelamat bangsa. Disiplin belajar yang dibiasakan ayahnya berpengaruh besar
terhadap hal ini. Hingga di usia melampaui 60 tahun, ia masih gemar membaca. Kamar
tidurnya penuh dengan buku sekaligus kutunya (Adams, 2000). Daya serapnya pun luar
biasa.
Perpaduan berbagai aspek kepribadian dengan kualitas luar biasa inilah yang
memungkinkannya tampil sebagai orator dengan wawasan begitu luas. Kondisi sosial dan
budaya masyarakat Indonesia juga berperan penting bagi perkembangan Soekarno. Mitos
akan datangnya Ratu Adil, kepercayaan terhadap titisan dewa dan kepemimpinan politik
yang tak lepas dari aspek spiritualitas memompa Soekarno berkembang menjadi tokoh
yang dikultuskan. Namun, sehebat-hebatnya ia mempengaruhi massa, seluas-luasnya
wawasan di benaknya dan sebesar-besarnya kekuasaan yang dimilikinya, Bung Karno tak
bisa lepas dari kebutuhannya untuk selalu memperoleh dukungan sosial. Kesepian
menjadi derita yang menyakitkan hingga akhir hayatnya. Apa yang dilakukannya untuk
memperoleh dukungan massa di sisi lain menjadikannya sebagai orang yang terasing,
terpencil dari rakyat.
Dari kacamata Alfred Adler (1930), penyakit yang diderita Soekarno kecil bisa
jadi membekas pada kepribadiannya di masa-masa berikutnya. Kesakitan yang diderita
Soekarno itu bisa menimbulkan perasaan lemah, tak berdaya, dan tersiksa yang disebut
Adler sebagai perasaan inferioriti. Jika perasaan ini tidak ditangani secara tuntas maka
akan timbul kecemasan yang mendukung munculnya perasaan inferioriti baru di ta-hap
berikutnya hingga terakumulasi menjadi kompleks inferioriti-sebuah kondisi kejiwaan
yang ditandai dengan perasaan rendah diri berlebihan dan kecemasan yang tinggi
terhadap lingkungan sosial.
Untungnya lingkungan keluarganya memberi perhatian dan semangat yang
memadai, terutama ibu, sehingga ia dapat menemukan perasaan aman dan nyaman di
sana. Ia lalu sering tampil sebagai pemimpin yang dominan. Namun, ini pun
memunculkan suatu ketergantungan akan afeksi. Hingga dewasa kebutuhan afeksi itu tak
juga tercukupi. Ia mengaku selalu membutuhkan wanita sebagai pegangan.
Penggantian nama Kusno menjadi Karno dan penjelasan maknanya juga menjadi
cara yang baik untuk menangani perasaan inferioriti yang dialami Soekarno kecil. Ia
dapat menyusun sebuah pemahaman di benaknya bahwa apa yang dialami merupakan
sesuatu yang wajar sebagai seorang calon pahlawan besar sekelas Karna putra Kunti.
Demikian pula dengan mitos-mitos tentang dirinya. Namun, ini pun mengakibatkan
dirinya cenderung terpaku pada hal-hal besar dan mengabaikan hal-hal kecil.
Dalam kondisi-kondisi penuh dukungan lingkungan sosial, Soekarno bisa
memperoleh perasaan superioritas, perasaan aman dan nyaman menghadapi dunia. Untuk
itu, ia selalu berusaha menarik perhatian banyak orang agar selalu berada di
sekelilingnya, berpihak padanya. Pidatonya yang penuh kalimat bombastis merupakan
cara memikat hati orang lain seperti seorang perayu yang tak ingin kehilangan
kekasihnya. Namun, di saat-saat kesepian ia bisa mengalami perasaan frustrasi dan
depresi. Ia sangat tidak menyukai kesendirian. Tragisnya, hukuman ini yang ia terima di
akhir hidup, menjadi seorang tahanan rumah dan meninggal dalam kesepian.

Penutup
Liku-liku kepribadian Soekarno menunjukkan ada beberapa kelemahan pada
dirinya. Lepas dari kekurangan-kekurangannya, ia adalah orang besar. Kekurangan yang
dimiliki adalah kekurangan yang sangat wajar dimiliki oleh manusia. Namun,
kelebihannya dan cara mengatasi kekurangannya merupakan hal yang luar biasa. Ia
mampu melampaui banyak orang dengan kelebihannya.
Analisis ini sekadar menunjukkan bahwa sebagai manusia biasa, Soekarno
memiliki kelemahan, tetapi bukan untuk mengecilkan arti sebagai manusia dengan
segudang prestasi. Soekarno tetap layak menjadi orang yang dipuji, dihormati, dan
dikenang selalu baik sebagai orang yang berjasa mendirikan Republik Indonesia maupun
sebagai pribadi yang selalu terus berusaha mencapai kebaikan bagi dirinya dan orang
lain.***

Daftar Pustaka

Adam, Cindy. 2000. Soekarno; Penyambung Lidah Rakyat. Jakarta: Penerbit Gunung
Agung.
Adler, Alfred. 1930. “Individual Psychology.” Dalam C. Murchison (Ed.). Psychologies
of 1930. pp. 395-405. Worcester: Clark Uviversity Press.
Eagleton Terry.1991. Ideology: an introduction. London: Thetford Press Ltd.
Hall, C. & Lindzey, G. 1985. Intorduction to Theories of Personality. USA: John Willey
& Sons.
Soekarno. 1945. “Pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.“ Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1948. “Pidato 17 Agustus 1948.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1949. “Pidato 17 Agustus 1949.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1952. “Pidato 17 Agustus 1952.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1956. “Pidato 17 Agustus 1956.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1960. “Pidato 17 Agustus 1960.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1963. “Pidato 17 Agustus 1963.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1964. “Pidato 17 Agustus 1964.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1965. “Pidato 17 Agustus 1965.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1966. “Pidato 17 Agustus 1966.” Arsip Nasional RI.
Soekarno. 1980. Pancasila sebagai Dasar Negara. Jakarta: Penerbit Gunung Agung.
Soekarno. 1981. Menggali Api Pancasila. Jakarta: Penerbit Gunung Agung.
Contoh 2

Susilo Bambang Yudhoyono:


Anak Tunggal yang "Charming"

Bagus Takwin dan Niniek L Karim

ALFRED Adler (1870- 1937), pelopor psikologi individual, menjelaskan bahwa anak
tunggal dengan pengasuhan dan pendidikan yang baik akan menjadi orang yang dapat
diandalkan karena mereka akan cenderung tampil baik di depan umum, menjaga agar perhatian
orang lain tetap tertuju kepadanya. Ciri menonjolnya, akan selalu berusaha tampil charming,
menjaga perilaku, dan mengontrol diri secara ketat.
GAMBARAN anak tunggal yang charming membawa kita kepada sosok Susilo Bambang
Yudhoyono, calon presiden yang selalu menjaga penampilannya kapan dan di mana pun.
Menurut cerita teman-temannya, anak tunggal dari pasangan Soekotjo dan Siti Habibah yang kini
sering dipanggil SBY ini tindak- tanduknya terjaga, sopan, dan menunjukkan perhatian kepada
orang lain.
Kesiapannya untuk selalu diandalkan membentuk wibawa dan karismanya. Seperti
gambaran Adler, sejarah hidup SBY memang menunjukkan indikasi posisinya sebagai anak
tunggal secara psikologis punya pengaruh besar dalam pembentukan kepribadiannya.
Sejak kecil SBY yang dibesarkan di Pacitan tampil menonjol. Susilo, begitu teman-teman
masa kecil memanggilnya, sering dijadikan pemimpin mereka. Terbina sejak mulai tinggal
bersama pamannya, Sastro Suyitno, agar sekolahnya tidak terganggu oleh pekerjaan ayahnya
sebagai tentara yang sering harus berpindah tempat tugas, ia terbiasa mandiri karena harus
mencari dan menentukan sendiri kebutuhan dan kemauannya.
Keadaan yang tergolong serba sulit waktu itu membuatnya harus prihatin dan menahan
diri dari kesenangan kanak-kanak. Untuk mengompensasi kondisi sulit secara ekonomi dan
keadaan jauh dari orangtua itu, SBY makin aktif dalam kegiatan belajar di sekolah. Keinginan
menjadi pelajar berprestasi juga mengarahkannya kepada aktivitas di luar sekolah, termasuk aktif
di kepanduan. Ia gemar membaca banyak macam buku, termasuk komik dan cerita pewayangan.
Bacaan-bacaannya membentuk sifat intelektualnya. Ia menjadi tempat bertanya bagi teman-
temannya tentang banyak hal, terutama pelajaran berhitung, ilmu bumi, dan sejarah.
Meski menjadi tempat bertanya dan sering dijadikan sebagai pemimpin, Yudhoyono suka
mengalah dan lebih mementingkan keperluan teman- temannya. Sifat itu pun dikatakan Adler
sebagai ciri anak tunggal. Jika orangtua mendidiknya dengan baik, anak tunggal akan menjadi
anak yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan dan menjalankan tugas, tetapi tetap butuh untuk
mendapat perhatian yang tetap besar.
Cara mendapatkan pemenuhan kebutuhan itu bisa beragam, di antaranya dengan
menampilkan diri sebagai orang yang dapat diandalkan, cakap bekerja, dan memberi perhatian
kepada orang lain agar orang lain balik memberi perhatian kepadanya.
Dengan berteladan ayah yang ditulis dalam bukunya, SBY Sang Demokrat (2004),
berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugas, dan keterpisahannya dengan orang tua, SBY
berkembang menjadi anak yang mandiri, memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan anak
lain walaupun ia juga menjadi orang yang cenderung mengalah, tak jarang merendah, dan sopan
terhadap orang lain.
Indikasi kebutuhan anak tunggal untuk terus mendapat perhatian terlihat jelas pada diri
SBY. Dalam situasi-situasi accountable di mana ia dituntut mempertanggungjawabkan
tindakannya, orang seperti SBY akan menampilkan kinerja terbaik, dalam sekolah, olahraga,
maupun bermain musik. Memang, anak tunggal seperti ini umumnya berprestasi dan memiliki
karier yang baik bahkan cemerlang.
Kebutuhan untuk terus diperhatikan mendorongnya untuk cenderung menjaga perasaan
orang lain. Orang seperti ini akan berusaha untuk tidak melakukan hal-hal yang mungkin
menimbulkan konflik. Ia selalu berusaha menguasai masalah secara menyeluruh, bertingkah laku
sesuai norma yang berlaku, melakukan tindakan populer, menjadi penengah yang adil, hati-hati
dalam mengambil keputusan, mempertimbangkan banyak hal dan melibatkan banyak orang
dalam pengambilan keputusan ketika ia menjadi pemimpin.
Kesan lain yang sering didapat dari anak tunggal adalah peragu atau terlalu hati-hati, itu
pun sekarang banyak dipersepsi orang dari SBY. Kemampuan yang di atas rata-rata dan
memungkinkannya mengambil keputusan tegas tidak sejalan dengan lambatnya ia mengambil
keputusan. Ia memang bisa mengambil keputusan secara cepat, tetapi hal tersebut biasa terjadi
ketika ruang lingkup masalah dikuasainya, ada otoritas yang jelas dan, terutama, tidak terlalu
berkaitan dengan kepentingan orang- orang yang dekat dengannya.
SBY menjaga pertemanannya, tampil hormat terhadap senior-seniornya meski pangkat
mereka lebih rendah. Ia menampilkan kesan yang menenangkan dan nyaman untuk dijadikan
tempat berkeluh kesah dan meminta nasihat. Wawasannya yang luas memungkinkannya
mengambil peran itu. Ia menikmati keberadaan orang lain di sekitar yang mengandalkannya.
Jenderal intelektual, begitu ia sering disebut, merupakan salah satu buah dari usahanya untuk
menjaga perhatian orang lain tetap tertuju kepadanya.
Penampilannya selalu terjaga, sikap tubuh tegak, wajah selalu menatap ke depan, dagu
sedikit ditarik ke belakang, sorot mata awas, langkah tegap yang pasti, cara bicara teratur jelas
dan rinci, serta kesigapan menanggapi stimulus di sekitar, semua itu mendukungnya untuk
menjadi orang yang pantas diperhatikan dan dikagumi. Kelebihan-kelebihan itu menjadi penentu
utama popularitas yang dicapainya sekarang.
Anak tunggal laki-laki cenderung memiliki keinginan menjadi ataupun menyaingi ayah.
SBY menjadi tentara seperti ayahnya, berprestasi menyandang predikat terbaik hampir di semua
pendidikan dan kursus yang diikutinya, mencapai jenjang karier yang, bahkan sempat diramalkan
akan menjadi Panglima ABRI, dan kini menjadi calon presiden. Walau telah melampaui ayahnya,
ia tetap meminta nasihat ayah sebelum mengambil keputusan penting dalam hidup. Ayah masih
saja menjadi figur yang berpengaruh besar.
Dua faktor yang secara psikologis menjaga dan memperkuat karakteristik diri SBY
adalah keterpisahannya dari orangtua setelah ia memasuki sekolah dasar dan perceraian
orangtuanya. Berpisah dengan orangtua bagi seorang anak tunggal adalah peristiwa yang
mencemaskan karena itu mengakibatkan ia kehilangan perhatian. Untuk anak-anak yang cerdas
seperti Yudhoyono, kecemasan itu dapat ditutupi dengan kemampuannya bergaul, dapat
diandalkan, mengambil hati orang lain dengan kepintaran dan keterampilannya.
Perceraian orangtuanya diakui oleh SBY sebagai pukulan berat. Perpisahan dua orang
yang diharapkan menjadi sumber perhatian terbesar dalam hidupnya meningkatkan
kecemasannya. Seolah ada perasaan bersalah padanya karena ia tidak mampu menjaga
keutuhan hubungan mereka. Ia membebankan perceraian itu kepada dirinya, menyalahkan diri,
merasa tidak banyak berbuat untuk mempertahankan keutuhan keluarga. Prestasi yang tinggi,
dedikasi dalam bekerja, dan karier yang cemerlang, secara psikologis sedikit banyak dipengaruhi
oleh perasaan bersalahnya itu.

Aspek kognitif
Sifat-sifat yang dimiliki SBY membentuk dirinya menjadi orang yang memiliki karakter
kuat. Ia memiliki sifat menghormati atasan dan orang yang lebih tua, menjunjung tinggi
kehormatan, moralitas, mengandalkan ilmu pengetahuan, disiplin ketat, memanfaatkan waktu
seefisien mungkin, terbuka pada ide-ide baru, taat pada hukum dan patuh pada otoritas, percaya
bahwa manusia dapat hidup damai, berusaha akrab dengan orang lain, berusaha menerima
pembauran, tidak mudah larut secara emosional dalam suatu masalah, serta mengandalkan
ketangkasan, kesigapan, dan keterampilan. Hal itu didapat dari analisis kualitatif dan analisis isi
terhadap wawancara dan reportase media massa, observasi terhadap rekaman audio-visual,
serta penggalian persepsi sosial (N = 285).
SBY percaya bahwa kehidupan politik adalah harmoni dan manusia yang terlibat di
dalamnya bertujuan untuk bekerja sama memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kesejahteraan
bersama. Kalimat-kalimat yang diutarakannya menampilkan indikasi dari kepercayaannya itu.
Ia cenderung menggunakan kata kerja yang mengandung arti harmoni, kesesuaian, dan
kerja sama, seperti mempertemukan, konsolidasi, memahami, merawat dan menaungi. Bahkan
ketika ditanya tentang bagaimana menangani terorisme, ia menggunakan istilah mengelola
terorisme yang umumnya digunakan untuk merujuk pada hal-hal yang baik dan bermanfaat.
Kepercayaan ini sejalan dengan kecenderungannya menghindari konflik.
Dengan keyakinan tentang kehidupan politik, SBY banyak menggalang hubungan
dengan banyak orang, tampil sebagai pembicara dan pendengar yang baik, mau menerima
masukan dan berdialog dengan banyak orang. Kesempatannya bertemu dengan banyak orang
dari latar belakang berbeda memperkaya isi pikiran dan meningkatkan kompleksitas kognitifnya.
Ia mampu mengenali berbagai sudut pandang dan dimensi-dimensi dari berbagai
permasalahan, yang jika mau sebenarnya ia bisa menggunakannya untuk mencari solusi.
Kompleksitas kognitif yang tinggi memungkinkannya menggunakan pola penalaran sistematis,
memahami masalah secara komprehensif dan mendalam, berusaha menemukan titik temu dari
pendapat yang berbeda, lalu menghasilkan kesimpulan yang solid dan memuaskan banyak
pihak. Kemampuannya inilah yang memungkinkan SBY berperan sebagai penengah seperti yang
sering diceritakan oleh teman-temannya.

Motif sosial
Dari ketiga motif sosial McLelland, yang menonjol dalam diri SBY adalah kebutuhan
prestasi dan afiliasi. Sejalan dengan kebutuhannya untuk menjadi orang yang dapat diandalkan,
ia terdorong untuk belajar keras dan berusaha mendapat hasil terbaik. Prestasi yang diraihnya
hingga kini menunjukkan besarnya kebutuhan berprestasi, kecenderungannya belajar dan
bekerja keras memang sudah ada sejak kecil.
Motif berprestasi juga mengarahkan SBY untuk menentukan tujuan-tujuan yang realistis
dan berisiko moderat. Meski mampu belajar dan bekerja keras, ia tidak menargetkan hasil yang
muluk. Tujuan-tujuan yang ingin dicapainya adalah tujuan realistis yang didasarkan pada
perhitungan untung rugi serta sangat mempertimbangkan dampak negatif dan positif dari
pencapaiannya.
Dasar dorongan berprestasi yang ditampilkan SBY sebagai anak tunggal adalah
kebutuhannya untuk tetap mendapatkan perhatian dari orang lain. Artinya, dasar dari kebutuhan
berprestasi dalam dirinya adalah kebutuhan afiliasi. Kesan keragu-raguan dan lambatnya SBY
mengambil keputusan sangat mungkin didasari oleh kebutuhan afiliasinya.
Indikasi kebutuhan kekuasaan terlihat juga pada diri SBY meski tidak sedominan
kebutuhan prestasi dan afiliasi. Kebutuhan kekuasaannya pun sebagian didasari oleh kebutuhan
afiliasi. Untuk mendapatkan perhatian orang lain, ia harus memiliki pengaruh cukup besar
terutama pengaruh yang membuat orang lain senang berada di dekatnya. Kebutuhan kekuasaan
pada diri SBY terwujud dalam bentuk bantuan dan nasihat yang bisa diberikan kepada orang lain
dan kewibawaannya sebagai penengah.
Kepribadian dan kepemimpinan
Dengan karakteristik kepribadian yang dimilikinya, SBY bisa tampil menjadi pemimpin
yang dapat diandalkan. Namun ia membutuhkan seorang pendamping yang mampu cepat
mengambil keputusan. Dalam situasi yang terkontrol dan menuntut pertanggungjawaban setiap
tindakan dan memiliki rambu-rambu yang jelas, SBY bisa menampilkan perilaku kepemimpinan
terbaiknya.
Tetapi dalam situasi yang mengambang dan tidak memiliki aturan yang jelas,
kemungkinan kepemimpinan SBY tidak terlalu efisien. Situasi yang tidak jelas aturannya malah
sangat mungkin mengarahkannya untuk mundur dan menarik diri. Begitu pula dalam situasi yang
diwarnai konflik antar-elit dan ketiadaan kesatuan komando.
SBY membutuhkan dasar formal yang kuat bagi tindakan-tindakan politiknya. Ia perlu
yakin dulu bahwa yang diperbuatnya adalah hal yang tidak membuatnya disalahkan banyak
orang. Kecenderungannya menghindari konflik agar tetap dapat berhubungan baik dengan orang
lain makin menunjukkan adanya kebutuhan itu.
Ia tipe orang yang membutuhkan konsultasi dengan banyak pihak sebelum
mengambil keputusan. Kecenderungan hati-hati itu tak jarang memperlambat gerak-
geriknya dan mengesankan ia peragu dalam membuat keputusan. Pengaruh karakteristik
kepribadian anak tunggal secara psikologis masih kuat dalam dirinya. Namun, justru itu
juga bisa menjadi kelebihannya. Ia bisa membuat keputusan yang efektif meski belum
tentu efisien, mau bekerja sebaik-baiknya serta sungguh-sungguh ingin mencapai hasil
yang dianggap berguna oleh banyak orang. Ia adalah tipe pemimpin yang menjadikan
kepentingan orang banyak sebagai dasar kebijakan dan programnya untuk menjaga agar
perhatian mereka tetap tertuju kepadanya.***