Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIK PENERAPAN KERANGKA KONSEPTUAL STANDAR PEMERIKSAAN

KEUANGAN NEGARA
(STUDI KASUS PADA PEMERIKSAAN BPK TAHUN 2010-2017)

Supriyadi
Program Studi Magister Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jember,
Indonesia
Email: adi.supriyadi379@gmail.com

Abstract

State Finance is one of the main elements in the implementation of state government. To
achieve the goals of the State, State Finance must be managed in an orderly, law-abiding,
efficient, economical, effective, transparent and accountable manner with due regard to the
sense of fairness and propriety. To examine the management and accountability of state
finances, a free and independent CPC is established. BPK audits include financial audits,
performance checks, and checks with a specific purpose (PDTT). BPK conducts Inspections
based on inspection standards. Inspection standards are a benchmark for conducting state
financial management and accountability audits covering general standards, implementation
standards, and reporting standards mandatory by the BPK and / or the Examiner. The
preparation of inspection standards requires reference and the basis of a Conceptual
Examination Framework. The development of this conceptual framework complies with the
provisions of legislation and the conceptual framework used in the preparation of relevant
international inspection standards.

Keywords: Conceptual Examination Framework, State Auditing Standards, Supreme Audit


Board (BPK)

Abstrak

Keuangan Negara merupakan salah satu unsur pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan
negara. Untuk mencapai tujuan bernegara, Keuangan Negara wajib dikelola secara tertib, taat
pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Untuk memeriksa pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara, dibentuk satu BPK yang bebas dan mandiri. Pemeriksaan
BPK meliputi pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan
tertentu (PDTT). BPK melaksanakan Pemeriksaan berdasarkan standar pemeriksaan. Standar
pemeriksaan merupakan patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara yang meliputi standar umum, standar pelaksanaan, dan standar
pelaporan yang wajib dipedomani oleh BPK dan/atau Pemeriksa. Penyusunan standar
pemeriksaan memerlukan acuan dan dasar berupa Kerangka Konseptual Pemeriksaan.
Pengembangan kerangka konseptual ini sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan kerangka konseptual yang digunakan dalam penyusunan standar pemeriksaan internasional
yang relevan.

Kata Kunci: Kerangka Konseptual Pemeriksaan, Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK)

PENDAHULUAN
Negara Republik Indonesia dibentuk dengan tujuan melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Tujuan negara
tersebut dimuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 (UUD 1945). Untuk mencapai tujuan bernegara tersebut, UUD 1945
mengamanatkan Pengelolaan Keuangan Negara dilaksanakan secara terbuka dan
bertanggung jawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Keuangan Negara
merupakan salah satu unsur pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Untuk
mencapai tujuan bernegara, Keuangan Negara wajib dikelola secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, dibentuk satu BPK yang bebas dan
mandiri. Pemeriksaan BPK meliputi pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu (PDTT).

BPK melaksanakan Pemeriksaan berdasarkan standar pemeriksaan. Standar


pemeriksaan merupakan patokan untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara yang meliputi standar umum, standar pelaksanaan,
dan standar pelaporan yang wajib dipedomani oleh BPK dan/atau Pemeriksa.
Penyusunan standar pemeriksaan memerlukan acuan dan dasar berupa Kerangka
Konseptual Pemeriksaan. Pengembangan kerangka konseptual ini sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan kerangka konseptual yang digunakan
dalam penyusunan standar pemeriksaan internasional yang relevan.

Mandat Pemeriksaan Keuangan Negara 9. UUD 1945 memberi mandat kepada BPK
untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara secara bebas dan
mandiri. Hasil pemeriksaan BPK disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) sebagai lembaga perwakilan rakyat sesuai dengan kewenangannya. Hasil
pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan badan lain sesuai
dengan undang-undang. Mandat tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan.

Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK) memberikan opini Wajar Dengan Pengecualian


(WDP) pada laporan keuangan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tahun
2010 dan 2011. Opini WDP merupakan opini audit akuntansi yang paling bagus setelah
opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini WDP diberikan karena sebagian besar
informasi dalam laporan keuangan Kemenpora tahun 2010 dan 2011 dinilai bebas dari
salah saji material. Memang ada ketidakwajaran dalam item tertentu, namun
ketidakwajaran tersebut tidak memengaruhi kewajaran laporan keuangan secara
keseluruhan.

Belakangan diketahui terjadi penyelewengan anggaran yang cukup signifikan di


Kemenpora pada tahun buku 2010 – 2011. Hasil penyidikan KPK tahun 2013
menyimpulkan telah terjadi kerugian negara sebesar Rp 471 miliar dalam proyek
pembangunan sarana olahraga terpadu di Hambalang Bogor yang dilaksanakan
Kemenpora dalam kurun 2010 – 2011.

Pertanyaannya, mengapa BPK memberikan opini WDP pada laporan keuangan


Kemenpora tahun 2010 dan 2011 yang sarat penyelewengan? Mengapa BPK tidak
memberikan Opini Tidak Wajar (TW) terhadap laporan keuangan tersebut?

Tulisan ini terdiri dari lima bagian, diawali dengan pendahuluan yaitu dengan
menguraikan latar belakang masalah, tujuan penelitian dan sitematika pembahasan.
Kemudian Studi Literatur. Bagian ketiga, metode penelitian, Selanjutnya temuan dan
pembahasan mengenai penerapan kerangka konseptual standar pemeriksaan keuangan
negara. Kesimpulan dan saran sebagai penutup.

Kemandirian BPK

Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara dibentuk satu BPK
yang bebas dan mandiri. BPK memiliki kebebasan dan kemandirian dalam perencanaan,
pelaksanaan, pelaporan, dan pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan. Selain itu,
kemandirian BPK dalam pemeriksaan keuangan negara mencakup ketersediaan sumber
daya manusia, anggaran, dan sarana pendukung lainnya.
Wewenang BPK

Dalam pelaksanaan tugasnya BPK memiliki wewenang sebagai berikut: menentukan


objek pemeriksaan, merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan, menentukan waktu
dan metode pemeriksaan serta menyusun dan menyajikan laporan pemeriksaan;
meminta keterangan dan/atau dokumen yang wajib diberikan oleh setiap orang, unit
organisasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara lainnya, Bank
Indonesia (BI), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Layanan Umum (BLU),
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan lembaga atau badan lain yang mengelola
keuangan negara; melakukan pemeriksaan di tempat penyimpanan uang dan barang
milik negara, di tempat pelaksanaan kegiatan, pembukuan dan tata usaha keuangan
negara, serta pemeriksaan terhadap perhitungan-perhitungan, surat-surat, bukti-bukti,
rekening koran, pertanggungjawaban, dan daftar lainnya yang berkaitan dengan
pengelolaan keuangan negara; menetapkan jenis dokumen, data, serta informasi
mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang wajib disampaikan
kepada BPK; menetapkan standar pemeriksaan keuangan negara setelah konsultasi
dengan Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah yang wajib digunakan dalam pemeriksaan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; menetapkan kode etik pemeriksaan
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; menggunakan tenaga ahli dan/atau
tenaga pemeriksa di luar BPK yang bekerja untuk dan atas nama BPK; membina jabatan
fungsional pemeriksa; memberi pertimbangan atas Standar Akuntansi Pemerintahan;
memberi pertimbangan atas rancangan sistem pengendalian intern Pemerintah
Pusat/Pemerintah Daerah sebelum ditetapkan oleh Pemerintah Pusat/Pemerintah
Daerah; memantau penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang ditetapkan oleh
Pemerintah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan pejabat lain; memantau
pelaksanaan pengenaan ganti kerugian negara/daerah kepada bendahara, pengelola
BUMN/BUMD, dan lembaga atau badan lain yang mengelola keuangan negara yang
telah ditetapkan oleh BPK; dan memantau pelaksanaan pengenaan ganti kerugian
negara/daerah yang ditetapkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.

Manfaat Pemeriksaan Keuangan Negara


Pemeriksaan BPK mendorong pengelolaan keuangan negara untuk mencapai tujuan
negara, antara lain melalui: penyediaan hasil pemeriksaan termasuk di dalamnya
kesimpulan yang independen, objektif dan dapat diandalkan, berdasarkan bukti yang
cukup dan tepat; penguatan upaya pemberantasan korupsi berupa penyampaian temuan
yang berindikasi tindak pidana dan/atau kerugian dalam pengelolaan keuangan negara
kepada instansi yang berwenang untuk ditindaklanjuti, serta berupa pencegahan dengan
penguatan sistem pengelolaan keuangan negara; peningkatan akuntabilitas, transparansi,
keekonomian, efisiensi, dan efektivitas dalam pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara, dalam bentuk rekomendasi yang konstruktif dan tindak lanjut yang
efektif; peningkatan kepatuhan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan; peningkatan efektivitas peran
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah; dan peningkatan kepercayaan publik atas hasil
pemeriksaan BPK dan pengelolaan keuangan negara.

Transparansi dan Akuntabilitas Pemeriksaan Keuangan Negara

BPK wajib melaksanakan tugas pokok, fungsi, dan wewenangnya secara ekonomis,
efisien, dan efektif berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam
rangka transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan tugas pokok, fungsi, dan
wewenangnya, BPK memublikasikan hasil pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan melalui berbagai media, baik konvensional maupun
dalam jaringan (daring).

Pemeriksa Keuangan Negara

BPK adalah lembaga negara yang memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. BPK dapat menugaskan Pemeriksa
BPK dan/atau tenaga ahli dan/atau tenaga pemeriksa di luar BPK yang bekerja untuk
dan atas nama BPK. Pemeriksa BPK adalah Pelaksana BPK yang melaksanakan tugas
pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara untuk dan atas nama
BPK. Tenaga ahli dan/atau pemeriksa di luar BPK dapat sebagai orang-perorangan
maupun lembaga dari luar BPK. Pemeriksaan keuangan negara juga dapat dilaksanakan
oleh akuntan publik berdasarkan ketentuan undang-undang. Dalam hal pemeriksaan
dilakukan oleh akuntan publik berdasarkan ketentuan undang-undang, pemeriksaan
dilaksanakan dengan berdasarkan pada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan
SPKN. Pedoman penggunaan SPKN oleh akuntan publik akan diatur BPK dalam suatu
ketentuan. Laporan yang dihasilkan oleh akuntan publik tersebut wajib disampaikan
kepada BPK untuk dievaluasi. Pelaksanaan evaluasi mengikuti tata cara yang ditetapkan
BPK. Hasil pemeriksaan akuntan publik dan evaluasi tersebut selanjutnya disampaikan
oleh BPK kepada lembaga perwakilan, sehingga dapat ditindaklanjuti sesuai dengan
kewenangannya.

Pihak yang Bertanggung Jawab

Pihak yang bertanggung jawab adalah pihak yang diperiksa, yang bertanggung jawab
atas informasi hal pokok dan/atau bertanggung jawab mengelola hal pokok, dan/atau
bertanggung jawab menindaklanjuti hasil pemeriksaan antara lain Presiden, Menteri,
dan Kepala Daerah.

Kriteria Pemeriksaan

Kriteria pemeriksaan adalah tolok ukur yang digunakan dalam memeriksa dan menilai
hal pokok, dalam hal ini informasi yang diungkapkan dalam pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan negara, termasuk tolok ukur penyajian dan
pengungkapan yang relevan. Setiap pemeriksaan menggunakan kriteria pemeriksaan
yang sesuai dengan konteks pemeriksaannya. Kriteria pemeriksaan yang digunakan
bergantung pada sejumlah faktor, antara lain tujuan dan jenis pemeriksaan. Kriteria
pemeriksaan yang digunakan harus tersedia bagi pengguna LHP sehingga pengguna
memahami proses evaluasi dan pengukuran suatu hal pokok.

Kriteria pemeriksaan yang sesuai menggambarkan karakteristik sebagai berikut: a.


relevan, memberikan kontribusi kepada kesimpulan guna membantu pengambilan
keputusan oleh pengguna; b. lengkap, faktor-faktor relevan yang dapat memengaruhi
kesimpulan tidak ada yang diabaikan; c. andal, memungkinkan pengevaluasian dan
pengukuran yang konsisten terhadap hal pokok oleh pemeriksa lain yang mempunyai
kualifikasi yang sama; d. netral, memberikan kontribusi kepada kesimpulan yang bebas
dari keberpihakan; dan e. dapat dipahami, mudah dipahami oleh pengguna sehingga
pembuatan kesimpulan menjadi jelas, komprehensif, dan tidak rentan terhadap
penafsiran yang berbeda-beda.
Kriteria pemeriksaan dapat bersumber dari ketentuan peraturan perundangundangan,
standar yang diterbitkan organisasi profesi tertentu, kontrak, kebijakan dan prosedur
yang ditetapkan oleh entitas yang diperiksa, atau kriteria yang dikomunikasikan oleh
Pemeriksa kepada pihak yang bertanggung jawab.

Bukti Pemeriksaan

Bukti pemeriksaan adalah informasi yang digunakan oleh Pemeriksa dalam menentukan
kesesuaian hal pokok dengan kriteria pemeriksaan. Pemeriksa mempertimbangkan
kecukupan dan ketepatan bukti yang diperoleh. Kecukupan bukti pemeriksaan
merupakan ukuran kuantitas bukti pemeriksaan, yang dipengaruhi oleh penilaian
Pemeriksa atas risiko pemeriksaan dan kualitas bukti pemeriksaan. Ketepatan bukti
pemeriksaan merupakan ukuran kualitas bukti pemeriksaan yaitu relevan, valid, dan
andal untuk mendukung hasil pemeriksaan. Kecukupan dan ketepatan bukti
pemeriksaan saling berhubungan satu sama lain. Kuantitas bukti yang lebih banyak
belum tentu dapat mengompensasi kualitas bukti yang buruk.. Bentuk bukti
pemeriksaan bermacam-macam, seperti catatan transaksi elektronis/fisik, komunikasi
tertulis atau elektronis dengan pihak di luar entitas yang diperiksa, hasil observasi
Pemeriksa, maupun keterangan lisan/tertulis dari pihak yang diperiksa. Metode yang
digunakan dalam pemerolehan bukti bisa termasuk inspeksi, observasi, permintaan
keterangan, konfirmasi, rekalkulasi, prosedur analitis, dan/atau teknik lainnya.

Pemeriksa mempertimbangkan hubungan antara biaya pemerolehan bukti dengan


kegunaan informasi yang diperoleh. Kesulitan atau biaya yang timbul untuk
memperoleh bukti tidak boleh dijadikan alasan untuk menghilangkan suatu prosedur
pengumpulan bukti ketika prosedur alternatif tidak tersedia. Pemeriksa menggunakan
pertimbangan profesionalnya dan menerapkanskeptisisme profesional dalam
mengevaluasi kuantitas dan kualitas bukti, yaitu kecukupan dan ketepatan bukti, untuk
mendukung LHP.

Laporan Hasil Pemeriksaan

Pemeriksa membuat LHP berupa laporan tertulis yang berisi suatu kesimpulan yang
diperoleh tentang informasi hal pokok. LHP berisi hasil analisis atas pengujian bukti
yang diperoleh saat pelaksanaan pemeriksaan. Struktur dan format LHP ditetapkan lebih
lanjut dalam standar pelaporan. LHP digunakan oleh pihak yang bertanggung jawab
untuk melakukan perbaikan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. 40.
LHP yang telah disampaikan kepada lembaga perwakilan dinyatakan terbuka untuk
umum, kecuali yang memuat rahasia negara dan/atau mengandung unsur pidana yang
diproses hukum sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
LHP yang terbuka untuk umum berarti dapat diperoleh dan/atau diakses oleh
masyarakat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan

LHP ditindaklanjuti oleh pejabat pengelola keuangan negara selaku pihak yang
bertanggung jawab sesuai kewenangannya dan ketentuan peraturan perundang-
undangan. BPK memantau secara periodik pelaksanaan tindak lanjut atas LHP dan
menyampaikan hasil pemantauannya kepada lembaga perwakilan, dan pihak yang
bertanggung jawab. Pemeriksa mempertimbangkan tindak lanjut hasil pemeriksaan
sebelumnya yang berhubungan dengan pemeriksaan yang dilakukan.

Prinsip-Prinsip Pemeriksaan Keuangan Negara

Prinsip-prinsip pemeriksaan keuangan negara adalah ketentuan yang harus dipahami


dan ditaati oleh pembuat standar dalam menyusun standar pemeriksaan dan Pemeriksa
dalam melakukan Pemeriksaan, yang meliputi: Kode etik; Pengendalian mutu;
Manajemen dan keahlian tim Pemeriksa; Risiko pemeriksaan; Materialitas;
Dokumentasi pemeriksaan; dan Komunikasi pemeriksaan.

Kode Etik

Untuk mewujudkan BPK yang independen, berintegritas, dan profesional demi


kepentingan negara, setiap Anggota BPK dan Pemeriksa Keuangan Negara harus
mematuhi kode etik. Kode etik adalah norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap
Anggota BPK dan Pemeriksa Keuangan Negara selama menjalankan tugasnya untuk
menjaga martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas BPK. Kode etik ditetapkan oleh
BPK. Independensi, integritas, dan profesionalisme adalah nilai-nilai yang harus
dijunjung tinggi oleh Anggota BPK dan Pemeriksa Keuangan Negara.

Independensi
Independensi adalah suatu sikap dan tindakan dalam melaksanakan Pemeriksaan untuk
tidak memihak kepada siapapun dan tidak dipengaruhi oleh siapapun. Pemeriksa harus
objektif dan bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dalam melaksanakan
tanggung jawab profesionalnya. Pemeriksa juga harus bertanggung jawab untuk terus-
menerus mempertahankan independensi dalam pemikiran (independence of mind) dan
independensi dalam penampilan (independence in appearance).

Integritas

Integritas merupakan mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh,
dimilikinya sifat jujur, kerja keras, serta kompetensi yang memadai.

Profesionalisme

Profesionalisme adalah kemampuan, keahlian, dan komitmen profesi dalam


menjalankan tugas disertai prinsip kehati-hatian (due care), ketelitian, dan kecermatan,
serta berpedoman kepada standar dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sikap
profesional pemeriksa diwujudkan dengan selalu bersikap skeptisisme profesional
(professional skepticism) selama proses pemeriksaan dan mengedepankan prinsip
pertimbangan profesional (professional judgment). Skeptisisme profesional berarti
pemeriksa tidak menganggap bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah tidak jujur,
tetapi juga tidak menganggap bahwa kejujuran pihak yang bertanggung jawab tidak
dipertanyakan lagi. Pertimbangan profesional merupakan penerapan pengetahuan
kolektif, keterampilan, dan pengalaman. Pertimbangan profesional adalah pertimbangan
yang dibuat oleh pemeriksa yang terlatih, memiliki pengetahuan, dan pengalaman
sehingga mempunyai kompetensi yang diperlukan untuk membuat pertimbangan yang
wajar.

Pengendalian Mutu

Untuk meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan terhadap hasil pemeriksaan


BPK, mutlak diperlukan standar pengendalian mutu. Sistem pengendalian mutu BPK
harus sesuai dengan standar pengendalian mutu supaya kualitas pemeriksaan yang
dilakukan tetap terjaga. Sistem pengendalian mutu harus mencakup, tetapi tidak terbatas
pada, hal-hal seperti supervisi, review berjenjang, monitoring, dan konsultasi selama
proses pemeriksaan. Sistem pengendalian mutu BPK ditelaah secara intern dan juga
oleh badan pemeriksa keuangan negara lain yang menjadi anggota organisasi pemeriksa
keuangan sedunia.

Manajemen dan Keahlian Tim Pemeriksa

BPK menjamin Pemeriksa memiliki keahlian yang diperlukan. Tim Pemeriksa harus
secara kolektif memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kompetensi yang diperlukan
dalam Pemeriksaan. Hal ini termasuk pengetahuan dan pengalaman praktis dari
Pemeriksaan yang dilakukan, pemahaman atas standar dan ketentuan peraturan
perundang-undangan, pemahaman tentang operasional entitas, serta kemampuan dan
pengalaman untuk mempraktikkan pertimbangan profesional. BPK merekrut sumber
daya manusia dengan kualifikasi yang sesuai, memberikan pelatihan dan pengembangan
kapasitas, menyiapkan standar dan pedoman pemeriksaan, serta menyediakan sumber
daya pemeriksaan yang cukup. Pemeriksa menjaga kompetensi profesional mereka
melalui pengembangan profesional berkelanjutan.

Pengembangan kapasitas pemeriksa mencakup pertukaran ide dan pengalaman


pemeriksaan dengan komunitas pemeriksa internasional. Hal tersebut diwujudkan dalam
kongres, pelatihan, seminar, dan kelompok kerja di tingkat internasional. Pemeriksa
dapat menggunakan hasil pekerjaan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah, tenaga ahli
dan/atau tenaga pemeriksa di luar BPK. Prosedur pemeriksaan harus memberikan dasar
yang cukup saat menggunakan hasil kerja pihak lain. Pemeriksa harus memperoleh
bukti yang menjamin kompetensi dan independensi tenaga ahli dan/atau tenaga
pemeriksa di luar BPK, serta kualitas hasil pekerjaannya. Penggunaan hasil pekerjaan
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah tersebut untuk meningkatkan koordinasi dan
kerja sama, serta mengurangi kemungkinan duplikasi pekerjaan. Hal ini dimungkinkan
karena pada prinsipnya, baik Pemeriksa maupun Aparat Pengawasan Intern Pemerintah
bertujuan mendorong tata kelola pemerintahan yang baik. Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah menggunakan SPKN dalam melaksanakan audit kinerja dan audit dengan
tujuan tertentu.

Risiko Pemeriksaan
Pemeriksa mewaspadai, menyadari, mempertimbangkan, dan mengelola risiko
pemeriksaan. Risiko pemeriksaan adalah risiko bahwa hasil pemeriksaan tidak sesuai
dengan kondisi yang sebenarnya. Pemeriksa mengembangkan prosedur pemeriksaan
dan melaksanakannya dengan tujuan mengurangi risiko pemeriksaan.

Materialitas dalam Pemeriksaan Keuangan Negara

Pemeriksa mempertimbangkan materialitas pada proses pemeriksaan. Konsep


materialitas bersifat relevan untuk semua pemeriksaan. Sesuatu bersifat material jika
pengetahuan mengenai hal tersebut dapat memengaruhi pengambilan keputusan oleh
pengguna LHP. Materialitas ditentukan menggunakan pertimbangan profesional dan
bergantung pada interpretasi pemeriksa terhadap kebutuhan pengguna LHP dan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Materialitas memiliki aspek kuantitatif dan
aspek kualitatif. Pertimbangan materialitas memengaruhi keputusan mengenai sifat,
saat, dan lingkup prosedur pemeriksaan dan evaluasi hasil pemeriksaan.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian ini adalah sebagai
berikut:

1. Pendekatan penelitian

Pendekatan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif.

2. Objek Penelitian

Yang menjadi objek penelitian ini adalah bentuk efesien pada pasar modal.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian,
karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.(Sugiyono,2005:62).
Teknik pengumpulan data sangat diperlukan dalam suatu penelitian karena hal tersebut
digunakan penulis untuk mendapatkan data yang akan diolah sehingga bisa ditarik
kesimpulan. Observasi Partisipatif Penulis menggunakan teknik observasi partisipatif,
yaitu observasi dimana ”peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang
diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian”(Sugiyono, 2005:64).

4. Pengumpulan data

Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan studi pustaka dan
observasi pada pasar modal. Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang
diarahkan kepada pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen, baik
dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat
mendukung dalam proses penulisan. Hasil penelitian juga akan semakin kredibel
apabila didukung foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.
(Sugiyono,2005:83).

5. Metode Analisis Data

Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisa deskriptif,
Analisis data merupakan langkah yang terpenting dalam suatu penelitian. Data yang
telah diperoleh akan dianalisis pada tahap ini sehingga dapat ditarik kesimpulan. Dalam
penelitian ini menggunakan teknik analisis model Miles and Huberman. Menurut (Miles
and Huberman dalam Sugiyono, 2005:91) “mengemukakan bahwa aktivitas analisis
data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai
tuntas, sehingga datanya sudah jenuh.” Aktivitas analisis data yaitu data reduction, data
display, dan conclusion drawing/verification.

PEMBAHASAN

LHP BPK

Opini Tidak Wajar merupakan opini terburuk. Opini ini diterbitkan jika laporan
keuangan mengandung salah saji material atau dengan kata lain laporan keuangan tidak
mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Jika laporan keuangan mendapatkan opini
jenis ini, berarti auditor meyakini laporan keuangan tersebut diragukan kebenarannya
sehingga bisa menyesatkan pengguna laporan keuangan dalam pengambilan keputusan.
Apakah karena BPK tidak bisa mendeteksi adanya penyelewengan anggaran atau ada
sebab lain?
Sepertinya tidak mungkin jika BPK tidak mampu mendeteksi adanya penyelewengan
anggaran saat melakukan audit. Sebab, BPK bisa menelusuri seluruh transaksi keuangan
dan menilai kewajarannya. Kalaupun laporan keuangannya direkayasa, dengan
pengalaman dan kemahirannya, BPK pasti bisa mengetahuinya. Masih banyak contoh
yang menunjukkan ketidaksinkronan antara opini audit yang diberikan BPK dengan
kondisi yang sebenarnya. Kalau begitu, apa gunanya audit laporan keuangan jika tidak
bisa mendeteksi adanya penyelewengan anggaran? Bukankah audit dilakukan untuk
memastikan anggaran sudah digunakan dengan sebenar-benarnya?

Dengan kondisi itu, wajar saja kemudian muncul banyak dugaan bahwa pemberian
opini oleh BPK telah diperjualbelikan. Kementerian, lembaga pemerintah, pemerintah
daerah (pemda), dan BUMN tentu menginginkan agar laporan keuangan institusinya
mendapat predikat WTP atau sekurangnya WDP. Sebab, predikat WTP akan
memberikan kebanggaan dan menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah institusi dalam
mengelola anggarannya.

WTP merupakan predikat terbaik yang bisa diberikan terhadap laporan keuangan. Opini
ini diterbitkan jika laporan keuangan dianggap memberikan informasi yang bebas dari
salah saji material. Jika laporan keuangan diberikan opini jenis ini, artinya auditor
meyakini berdasarkan bukti-bukti audit yang dikumpulkan, institusi yang bersangkutan
dianggap telah menyelenggarakan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan baik.

Di sisi lain, BPK memonopoli pemberian opini untuk laporan keuangan kementerian,
lembaga negara, pemda, dan BUMN. Tak ada pihak yang mengawasi atau menjadi
pembanding kerja BPK. Kewenangan besar BPK yang tanpa pengawasan dan tuntutan
kementerian/lembaga (KL) mendapatkan WTP akhirnya melahirkan praktik koruptif.

Kasus-kasus BPK

KPK menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat suap dari pejabat di Kementerian
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi kepada pejabat Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait pemberian status wajar tanpa pengecualian kepada
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Konferensi Pers
dihadiri oleh Ketua KPK Agus Rahardjo, Wakil ketua KPK Laode M Syarif, Ketua BPK
Moermahadi Soerja Djanegara, Wakil Ketua BPK Bahrullah Akbar, serta juru bicara
KPK Febri Diansyah.

Seiring berjalannya waktu, satu persatu kasus jual beli opini terungkap. Pada 2010, dua
auditor BPK Provinsi Jawa Barat, Enang Hernawan dan Suharto, divonis empat tahun
penjara karena terbukti menerima suap sebesar Rp 400 juta dari Wali Kota Bekasi
Mochtar Mohammad dengan maksud memberikan opini WTP terhadap Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Bekasi tahun 2009. Pada 2016, bekas auditor
BPK Provinsi Sulawesi Utara, Bahar, dijerat hukuman 5 tahun 6 bulan penjara setelah
terbukti meloloskan laporan hasil pemeriksaan sejumlah pemerintah kabupaten dan
pemerintah kota di Sulawesi Utara. Pejabat pemkab atau pemkot itu dimintai dana
hingga Rp 1,6 miliar.

Dalam sidang perkara korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el), beberapa
waktu lalu, terungkap seorang auditor BPK bernama Wulung disebut menerima uang Rp
80 juta. Setelah penerimaan uang itu, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan
Sipil Kementerian Dalam Negeri mendapatkan status WTP pada 2011. Terakhir, KPK
melakukan operasi tangkap tangan kasus jual beli opini BPK pada Kementerian Desa,
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa). KPK menyatakan,
opini WTP dari BPK terhadap laporan keuangan Kemendesa tahun 2016 diperoleh
setelah Inspektur Jenderal Kemendesa Sugito memerintahkan pegawai eselon III
Kemendesa, Jarot Budi Prabowo, menyerahkan sejumlah uang kepada auditor BPK.

Auditor BPK yang ditangkap KPK karena diduga menerima suap dari pejabat
Kemendesa adalah Rochmadi Saptogiri, auditor utama BPK yang juga pejabat eselon I,
dan seorang auditor, Ali Sadli. Tujuan pemberian uang suap itu untuk mengubah opini
dari WDP menjadi WTP untuk laporan keuangan Kemendesa tahun anggaran 2016.
KPK menetapkan Sugito, Jarot, Rochmadi, dan Ali sebagai tersangka. Dengan adanya
kasus Kemendesa, maka menurut Indonesia Corruption Watch (ICW), dalam kurun
2005 - 2017 sedikitnya terdapat 6 kasus suap yang melibatkan 23 auditor/pejabat/Staff
BPK.
Kasus-kasus itu terdiri dari 3 kasus suap untuk mendapatkan opini WTP, 1 kasus suap
untuk mendapatkan opini WDP, 1 kasus suap untuk mengubah hasil temuan BPK, dan 1
kasus suap untuk "melancarkan" proses audit BPK.

Kepercayaan terkikis

Kasus-kasus tersebut tentu saja mengikis kepercayaan masyarakat terhadap BPK. Juga
menimbulkan kecurigaan kepada institusi yang mendapatkan predikat WTP, apakah
diperoleh dengan wajar atau tidak. Masyarakat juga akhirnya tahu bahwa segala opini
audit bisa direkayasa. Meskipun sudah ada standard baku dan kuantitatif dalam
pemberian opini terhadap suatu laporan keuangan, namun dalam praktiknya di
lapangan, pemberian opini bisa dimanipulasi. Laporan keuangan yang seharusnya
mendapatkan WDP bisa diubah menjadi WTP, bahkan mungkin saja,
predikat disclaimer atau Tidak Memberikan Pendapat (TMP) diubah menjadi WTP.

Opini disclaimer dikeluarkan jika auditor menolak memberikan pendapat. Dengan kata
lain, sebenarnya tidak ada opini yang diberikan. Dalam hal ini, auditor tidak bisa
menyakini apakah laporan keuangan wajar atau tidak. Opini ini bisa diterbitkan jika
auditor menganggap ada ruang lingkup audit yang dibatasi oleh institusi yang diaudit,
misalnya karena auditor tidak bisa memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan untuk bisa
menyimpulkan dan menyatakan laporan sudah disajikan dengan wajar.

Presiden Joko Widodo memberikan apresiasi kepada KL yang meraih opini WTP dari
BPK atas laporan keuangan tahun 2016. Sebanyak 73 laporan keuangan KL dan satu
laporan keuangan Bendahara Umum Negara meraih opini WTP. Jumlah ini merupakan
capaian tertinggi selama 12 tahun terakhir. Namun dengan situasi saat ini, wajar jika
banyak pihak yang mempertanyakan pencapaian tersebut. Masyarakat pun
mempertanyakan apa yang terjadi dengan 6 KL yang mendapat predikat disclaimer atas
laporan keuangan tahun 2016.

Di satu sisi, mungkin 6 KL tersebut memang melakukan kesalahan dalam menyajikan


laporan keuangannya. Namun di sisi lain, masyarakat pun bisa menduga, 6 KL itu tidak
melakukan pendekatan dan tidak memberi “perhatian” kepada BPK sehingga laporan
keuangannya akhirnya tidak bisa di-upgrade. Salah seorang menteri bercerita bahwa
baginya, lebih baik menerima saja mendapatkan predikat selain WTP
sembari memperbaiki kesalahan penyusunan laporan keuangan ketimbang mengemis
dan menyuap demi mendapatkan predikat WTP dan kebanggaan yang semu.

Sudah saatnya dilakukan reformasi total terhadap proses pemberian opini laporan
keuangan dan juga terhadap lembaga BPK. Sudah seharusnya ada pengawas atau
pembanding yang bisa menilai audit BPK. Sebab, buat apa predikat WTP jika tidak bisa
menjamin institusi penerimanya bersih dari penyelewengan anggaran atau perilaku
korupsi. Sudah saatnya mengembalikan makna WTP ke hakikat yang sebenarnya
sehingga penerimanya bisa betul-betul bangga bahwa sudah berhasil mengelola
anggarannya secara baik dan jujur.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dibahas sebelumnya dapat disimpulkan bahwa


dalam pratiknya, kerangka konseptual dari standar pemeriksaan keuangan negara dalam
beberapa kasus tidak dijalankan sesuai dengan yang seharusnya. Karena beberapa kasus
terjadi menjerat oknum BPK yang seharusya menjalankan kewenangannya sesuai
peraturan dan standar yang belaku, namun terbukti melakukan pelanggaran yang tidak
sesuai dengan kerangka konseptual standar pemeriksaan keuangan negara. Praktik
pelanggaran tersebut seharusnya tidak lagi terjadi dan menjerat pihak internal BPK
sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pemeriksaan keuangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Akuntan Indonesia, edisi terbaru, Standar Akuntansi Keuangan.


Institut Akuntan Publik Indonesia, 2013, Standar Profesional Akuntan Publik: Standar
Audit (SA) 260: Komunikasi Dengan Pihak Yang bertanggung Jawab Atas Tata
Kelola, Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: ANDI
Mardiasmo. 2006. Perwujudan Transparansi dan Akuntanbilitas Publik Melalui
Akuntansi Sektor Publik : Suatu Sarana Good Governance. Jurnal Akuntansi
Pemerintahan, vol 2. no 1.
Messier, William F, Glover, Steven M., and Prawitt, Douglas F. (2014), Jasa Audit dan
Assuranc:, Pendekatan Sistematis (Auditing and Assurance Services: A
Systematic Approach), Edisi 8: Buku 1 dan2, Jakarta: Penerbit Salemba Empat.
Mulyadi, 2002. Auditing, Buku Dua, Edisi Ke Enam, Salemba Empat, Jakarta.
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 tentang
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Cetakan ke-17.
Bandung: Alfabeta.