Anda di halaman 1dari 24

Case Sulit

Kista Dermoid

Pembimbing :
dr. Erin Arsianti, Sp.M M.Sc

Di susun oleh :
Vivi Novemly Rumahlatu 11.2016.035

KEPANITRAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT MATA DR. YAP
PERIODE 21 November 2016 – 24 Desember2016
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN
KRIDA WACANA
YOGYAKARTA
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS

Nama : Ny.T
Umur : 24 tahun
Status : Belum Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Dusun Sekawis Kebonsari Madiun

II. ANAMNESIS
Dilakukan Autoanamnesis dan Aloanamnesis dengan Anak Pasien pada tanggal 6
Desember 20156 jam 13.30 WIB.

Keluhan Utama :
Benjolan pada mata kanan di dalam mata (Sejak Lahir)

Riwayat perjalanan penyakit :


Pasien datang ke Rs.Dr. Mata Yap dengan keluhan Adanya benjolan pada mata
kanan. Pasien mengatakan bahwa benjolan tersebut sudah ada sejak lahir dan benjolan
tidak membesar dan juga tidak nyeri . Namun pasien mengatakan bahwa benjolan pada
mata sangat menganggu penglihatan sehingga penglihatan menjadi buram, untuk itu
alasan pasien ke Rs Mata Yap untuk melakukan Operasi pengangkatan benjolan tersebut.
Pasien mengatakan tidak ada mata merah, mata berair, keluar belek, sakit kepala , mual
atau muntah, dan tidak ada tanda tanda radang. pasien mengatakan bahwa pernah
melakukan pemeriksaan pada RSUD Madiun dan hanya diberikan obat tetes mata Cendo
lyteers Eyedrop. di keluarga pasien tidak ada yang mengalami gejala yang sama ,Pasien
mengatakan sekarang memakai kacamata dan riwayat trauma disangkal oleh pasien
Riwayat Penyakit Dahulu :
a. Umum :
- Hipertensi : Tidak ada
- Kencing Manis : Tidak ada
- Asma : Tidak Ada
- Alergi Obat : Tidak Ada
b. Mata :
- Riwayat penggunaan kacamata : Ada (Sferis -2,50 ODS) Silinder (-)
- Riwayat operasi mata : Tidak Ada
- Riwayat trauma mata : Tidak Ada
- Riwayat pengunaan obat : Cendo Lyteers 4x OD

Riwayat Penyakit Keluarga :


- Hipertensi : Tidak ada
- Kencing Manis : Tidak ada
- Asma : Tidak Ada
- Alergi Obat : Tidak Ada

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 71 x/menit
Respirasi : 18 x/menit
Suhu : 36,1°C

Kepala : Normocephali, rambut hitam, distribusi merata.


THT : Normotia +/+, Deviasi septum (-), Sekret (-), Faring tidak
hiperemis
Thoraks : Suara nafas vesikuler, Ronki (-), Wheezing (-)
BJ I-II reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen : Supel, Datar, Bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat +/+, Edema -/-
KGB : Tidak teraba pembesaran KGB

Status Oftalmologi

KETERANGAN OKULO DEXTRA OKULOSINISTRA

1. VISUS (OD) (OS)


Tajam Penglihatan 4/60 5/60
Axis Visus - -
Koreksi - -
Addisi - -
Distansia Pupil - -
Kacamata Lama Ada Ada

2. KEDUDUKAN BOLA MATA


Eksoftalmos Tidak ada Tidak ada
Enoftalmos Tidak ada Tidak ada
Deviasi Tidak ada Keluar
Gerakan Bola Mata Baik ke semua arah Baik ke semua arah

3. SUPERSILIA
Warna Hitam Hitam
Simetris Simetris Simetris

4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR


Edema Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Ektropion Tidak ada Tidak ada
Entropion Tidak ada Tidak ada
Blefarospasme Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Fissura palpebra Normal Normal
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada

5. KONJUNGTIVA TARSALIS SUPERIOR DAN INFERIOR


Hiperemis Tidak ada Tidak ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Anemis Tidak ada Tidak ada
Kemosis Tidak ada Tidak ada

6. KONJUNGTIVA BULBI
Sekret Tidak ada Tidak ada
Injeksi Konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Injeksi Siliar Tidak ada Tidak ada
Injeksi Tidak ada Tidak ada
Subkonjungtiva
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pinguekula Tidak ada Tidak ada
Nevus Pigmentosus Tidak ada Tidak ada
Kista Dermoid Ada Ada

7. SISTEM LAKRIMALIS
Punctum Lakrimalis Terbuka Terbuka
Tes Anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan
8. SKLERA
Warna Putih Putih
Ikterik Tidak ada Tidak ada
Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada

9. KORNEA
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Infiltrat Tidak ada Tidak ada
Keratik Presipitat Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus Senilis Tidak ada Tidak ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Placido Tidak dilakukan Tidak dilakukan

10. BILIK MATA DEPAN


Kedalaman Dalam Dalam
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak adak
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Fler Tidak ada Tidak ada

11. IRIS
Warna Coklat Tua Coklat Tua
Sinekia Tidak ada Tidak ada
Koloboma Tidak ada Tidak ada
12. PUPIL
Letak Sentral Sentral
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 3 mm 3 mm
Refleks Cahaya Langsung Positif Positif
Refleks Tak Langsung Positif Positiff

13. LENSA
Kejernihan Jernih Jernih
Letak Di tengah Di tengah
Shadow Test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Diplopia Tidak ada Tidak Ada

14. BADAN KACA


Kejernihan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

15. FUNDUS OKULI


Refleks fundus Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Warna Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ekskavasio Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Rasio Arteri:Vena Tidak dilakukan Tidak dilakukan
C/D Ratio Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Makula Lutea Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Eksudat Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Perdarahan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Sikatriks Tidak dilakukan Tidak dilakukan

16. PALPASI
Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada
Massa Tumor Tidak ada Tidak ada
Tensi Okuli N +/palpasi N+/palpasi
Tonometri Schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan
17. KAMPUS VISI
Tes Konfrontasi Normal Normal

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin
- Pemeriksaan Radiologis

V. RESUME

Seorang perempuan usia 24 tahun datang dengan keluhan benjolan pada mata
kanannya sejak pasien lahir, benjolan tidak membesar dan tidak nyeri. Namun pasien
mengatakan bahwa benjolan pada mata sangat menganggu penglihatan sehingga
penglihatan menjadi buram, untuk itu alasan pasien ke Rs Mata Yap untuk melakukan
Operasi pengangkatan benjolan tersebut. Pasien mengatakan tidak ada mata merah,
mata berair, keluar belek, sakit kepala , mual atau muntah, dan tidak ada tanda tanda
radang. pasien mengatakan bahwa pernah melakukan pemeriksaan pada RSUD
Madiun dan hanya diberikan obat tetes mata Cendo lyteers Eyedrop. di keluarga
pasien tidak ada yang mengalami gejala yang sama ,Pasien mengatakan sekarang
memakai kacamata dan riwayat trauma disangkal oleh pasien

OD OS

4/60 Visus 5/60

- TIO -

Sentral Kedudukan Sentral

Edema (-) Palpebra Superior Edema (-)

Hiperemis (-) , Sekret (-) Konjungtiva Hiperemis (-), Sekret (-)

Jernih, Edem (-) Kornea Jernih, Edema (-)

Putih Sklera Putih


Dalam COA Dalam

Coklat Kehitaman Iris Coklat kehitaman

Sentral. Refleks Cahaya (+) Pupil Sentral, Refleks Cahaya (+)

Jernih Lensa Jernih

VI. DIAGNOSA KERJA

OD Kista Dermoid

VII. DIAGNOSA BANDING


Kista Epidermoid
Kista Ateroma
Lipoma

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN


Pemeriksaan Histopatologi

IX. PENATALAKSANAAN
Rujuk Spesialis Mata untuk dilakukan Ekstirpasi Kista

IX. PROGNOSIS
OD OS
Ad vitam : Dubia ad Bonam Dubia ad Bonam
Ad fungsionam : Dubia ad Bonam Dubia ad Bonam
Ad sanationam : Dubia ad Bonam Dubia ad Bonam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

KISTA DERMOID

PENDAHULUAN
Kista dermoid merupakan suatu kista teratoma jinak (choristoma) yang bersifat
kongenital dilapisi oleh keratinizing epidermis dengan struktur dermis di dalamnya, seperti
folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea. Kista dermoid berisi cairan sebasea,
keratin, calcium dan kristal kolesterol. Sekitar 10-50% kista dermoid merupakan kista
dermoid orbital. 1
Pada suatu survei histopatologis dilaporkan terdapat 307 kasus tumor orbita, 35 %
merupakan kista dermoid. Selain itu, pada survei yang dilakukan oleh Shield terhadap 645
biopsi orbita pada semua usia, 24 % merupakan kista dermoid, dimana dari 250 anak di
bawah usia 18 tahun, 46 % merupakan kista dermoid. Studi yang dilakukan oleh lliff dan
Green juga menemukan bahwa dari 174 histopatologi tumor orbita, kista dermoid merupakan
kasus yang terbanyak. Pada studi tersebut, lebih dari 70 % kista dermoid orbita didiagnosis
sebelum usia 5 tahun. 1
Kista dermoid biasanya ditemukan pada beberapa tahun pertama kehidupan. Akan
tetapi, kista dermoid yang profunda dapat tidak terdiagnosis pada beberapa tahun pertama
kehidupan dan biasanya akan didiagnosis pertama kali pada usia dewasa.2 Kista dermoid
orbital paling banyak ditemui di aspek superolateral dengan sutura frontozygomatic sebagai
tempat perlengketannya dan jarang ditemukan pada daerah superonasal.2 Kista dermoid
ditemukan berupa massa seperti telur, berbentuk oval yang membesar perlahan, teraba lunak,
dan tidak nyeri. Namun bisa juga ditemukan kista dermoid dengan pergeseran bola mata dan
proptosis non-aksial atau massa yang batas posteriornya kurang jelas yang biasanya
ditemukan pada kista dermoid tipe profunda. Diagnosis pasti kista dermoid dengan
pemeriksaan histopatologi. Tatalaksana definitif dari kista dermoid ialah ekstirpasi kista
dengan mengangkat seluruh kista beserta kapsulnya.
DEFINISI
Kista dermoid merupakan suatu massa kistik (choristoma) yang dilapisi oleh
keratinizing epidermis dengan dermal appendages pada dindingnya seperti folikel rambut,
kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat. Kista dermoid dapat bersifat kongenital atau didapat.2

Pada tahun 1955, Meyer mengemukakan konsep bahwa secara histologis terdapat 3
varian kista dermoid, yaitu kista epidermoid, kista dermoid, dan teratoid. Pada jenis
epidermoid, kista dilapisi oleh epitel gepeng tanpa disertai adneksa. Sedangkan pada kista
dermoid, selain dilapisi oleh epitel gepeng, juga disertai adneksa, seperti rambut, folikel
rambut dan kelenjar sebasea. Pada teratoid, selain epitel berlapis gepeng dan adneksa juga
ditemukan adanya elemen mesoderm seperti otot, tulang, dan kartilago. Kista dermoid lebih
sering dijumpai dibandingkan kista epidermoid dengan perbandingan 2:1.2

1.1. Anatomi Palpebra


Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutup dan
melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea dan konjungtiva dari
dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata; palpebra inferior menyatu dengan pipi.
Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam terdapat
lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa (tarsus), dan
lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebrae).1
A. Kulit

Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis, longgar, dan
elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.

B. Muskulus Orbikularis okuli

Fungsi muskulus orbikularis okuli adalah menutup palpebra. Serat-serat ototnya


mengelilingi fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian
orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat di dalam
palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum orbitae adalah bagian
praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian orbita. Orbikularis okuli dipersarafi
oleh nervus fasialis.
C. Jaringan Areolar

Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan degan lapis


subaponeurotik dari kulit kepala.

D. Tarsus

Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa padat yang
disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan penyokong kelopak
mata dengan kelenjar Meibom.

E. Konjungtiva Palpebrae

Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva palpebra,


yang melekat erat pada tarsus. Panjang tepian bebas palpebra adalah 25-30mm dan
lebar 2 mm. Ia dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi tepian anterior
dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss dan Moll.1

Gambar 1. Anatomi palpebrae superior dan inferior

1.2. Embriologi Palpebra 1


Mata berkembang dari tiga lapis embrional primitif, yaitu ektoderm permukaan
(termasuk derivatnya yaitu crista neuralis), ektoderm neural dan mesoderm. Endoderm tidak
ikut pembentukan mata. Mesenkim adalah istilah untuk jaringan ikat embrional. Jaringan ikat
okuler dan adneksa dulu diduga berasal dari mesoderm, namun kini ternyata bahwa
kebanyakan mesenkim di kepala dan leher berasal dari krista neuralis kranial.
Ektoderm permukaan membentuk lensa, glandula lakrimalis, epitel kornea,
konjungtiva, dan kelenjar adneksa, dan epidermis palpebra. Crista neuralis yang berasal dari
ektoderm permukaan daerah yang tepat bersebelahan plica neuralis dari ektoderm neural,
berfungsi membentuk keratosit kornea, endotel kornea, dan jalinan trabekela, stroma iris dan
koroid, muskulus siliaris, fibroblas, sklera, vitreus, dan meninges nervus optikus. Krista
neuralis juga terlibat membentuk tulang dan tulang rawan orbita, jaringan ikat dan saraf
orbita, muskulus ektraokular, dan lapis-lapis subepidermal palpebra.
Ektoderm neural menghasilkan vesikel optik dan mangkuk sehingga berfungsi untuk
pembentukan retina dan epitel pigmen retina, lapis-lapis berpigmen dan tidak berpigmen dari
epitel siliaris, epitel posterior, muskulus dilatator dan sphincter pupillae pada iris, dan serat-
serat nervus optikus dan glia.
Mesoderm hanya terlibat pembentukan muskulus ekstraokular dan endotel vaskuler
orbita dan okular.

Embriologi struktur-struktur spesifik 1


Palpebra dan apparatus lakrimalis
Palpebra berkembang dari mesenkim kecuali epidermis kulit dan epitel konjungtiva
yang merupakan turunan ektoderm permukaan. Kuncup palpebra pertama kali muncul pada
tahap 16 mm (6 minggu), bertumbuh di depan mata, tempat ia bertemu dan menyatu pada
tahap kelima. Bulu mata dan kelenjar Meibom dan kelenjar palpebra lainnya berkembang
berupa pertumbuhan ke bawah dari epidermis.
Kelenjar lakrimalis dan kelenjar lakrimalis aksesori berkembang dari epitel
konjungtiva. Sistem drainase lakrimal (kanalikuli, sakus lakrimalis, dan duktus
nasolakrimalis) juga merupakan turunan ektoderm permukaan yang berkembang dari korda
epitel padat yang terbenam di antara struktur muka yang sedang berkembang. Korda ini
terbentuk salurannya sesaat sebelum lahir.

EPIDEMIOLOGI
Sekitar 10-50% kista dermoid merupakan kista dermoid kongenital. Pada suatu
penelitian histopatologi dilaporkan terdapat 307 kasus tumor orbital, 35% merupakan kista
dermoid. Selain itu, pada survei yang dilakukan oleh Schield terhadap 645 biopsia orbita
pada semua usia, 24% merupakan kista dermoid dimana dari 250 anak di bawah usia 18
tahun, 46% merupakan kista dermoid. Studi yang dilakukan oleh Lliff dan Green juga
menemukan bahwa dari 174 histopatologi tumor orbita. Kista dermoid merupakan kasus yang
terbanyak. Pada studi tersebut, lebih dari 70% kista dermoid orbita didiagnosis sebelum usia
5 tahun.1
Pada pusat onkologi ocular, kista dermoid ditemukan sekitar 2% dari seluruh tumor
orbita yang datang ke ahli mata. Kista dermoid sering ditemukan pada anak-anak. Dalam
suatu studi, didapatkan bahwa kista dermoid merupakan 3-9% dari seluruh tumor orbita pada
anak-anak. Kista dermoid hampir tidak pernah menyebabkan kematian dan insidensinya sama
pada laki-laki dan perempuan.1

ETIOLOGI
Etiologi kista dermoid belum diketahui secara pasti. Kista dermoid dapat bersifat kongenital
atau didapat. Terdapat teori yang menyatakan bahwa kista dermoid kongenital merupakan
lesi disembriogenik yang berasal dari elemen ektoderm yang terjebak pada saat
penggabungan antara arkus brankial pertama dan kedua yang terjadi pada saat gestasi 3
sampai 4 minggu. Sedangkan kista dermoid yang didapat terjadi akibat trauma yang
menyebabkan implantasi sel epitel ke jaringan yang lebih dalam atau karena oklusi duktus
kelenjar sebassea.3
1.3. Klasifikasi 3
Kista dermoid dikategorikan menjadi:
A. Kista dermoid superfisialis
Kista dermoid superfisialis berlokasi di anterior sampai septum orbital. Biasanya
ditemukan pada beberapa tahun pertama kehidupan sebagai massa yang asimptomatik,
berbatas tegas, bulat, terletak subkutaneus, dan tidak nyeri.
Pada umumnya, kista ini terdapat di aspek temporal orbital yang melekat pada sutura
frontozygomaticus. Namun, kista ini juga dapat ditemukan pada aspek medial/nasal atas yang
melekat pada sutura frontolakrimal atau frontoethmoidal. Pada pemeriksaan ditemukan batas
posterior kista mudah dipalpasi yang menunjukkan bahwa kista ini superfisialis. Jenis kista
dermoid ini tidak menyebabkan pergeseran bola mata atau defek tulang.
B. Kista dermoid profunda
Kista iniberlokasi di posterior sampai septum orbital. Biasanya ditemukan pada usia
remaja dan dewasa dengan pergeseran bola mata dan proptosis non-aksial atau massa yang
batas posteriornya kurang jelas. Beberapa jenis kista dermoid ini dapat meluas meleebihi
orbita ke dalam fossa temporalis dan intrakranial. Selain itu, kista ini juga dapat
menyebabkan pergeseran bola mata dan defek pada tulang.

1.4. Manifestasi Klinis 3


A. Keluhan subjektif
Pada umumnya, penderita datang dengan keluhan terdapat massa yang terlihat pada
area orbita. Pertumbuhan lesi tersebut biasanya perlahan.
B. Gejala klinis
1. Pada anak-anak
- Pada umumnya terdapat di aspek superior temporal orbita.
- Massa tersebut umumnya berdiameter kurang dari 1-4 cm, tidak nyeri, dan
berbentuk oval.
- Pergeseran sedikit dari rongga mata bisa terjadi.
- Kista dermoid orbital tidak terfiksir pada kulit, hal ini membantu
membedakannya dengan kista sebasea.

2. Pada orang dewasa


Kista dapat teraba dengan mudah dan memiliki batas yang tidak tegas. Kista
biasanya menggeser rongga mata dan dapat masuk ke dalam struktur yang
berdekatan.

3. Inflamasi
Jika kista ruptur, baik secara spontan maupun karena trauma, respon inflamasi
dapat terlihat. Respon tersebut dapat berupa seperti injeksi konjungtiva atau dapat
menjadi lebih berat mirip selulitis orbita.
4. Temuan neurologis
Walaupun jarang terjadi, kista dapat menekan nervus optikus dan menimbulkan
gejala kompresi nervus optikus, yaitu penurunan tajam penglihatan, penglihatan
warna dan persepsi terang-gelap, dan relative afferent pupillary defect (RAPD).
Yang lebih jarang lagi, kista dapat menginduksi terjadinya diplopia dengan
membatasi pergerakan bola mata secara fisik atau menekan nervi craniales III, IV,
atau VI. Berdasarkan letak, maka gambaran klinis dari kista dermoid akan berbeda-
beda.
Berikut merupakan gambaran klinis dari kista dermoid berdasarkan letak kista:

a. Lesi anterior
Kista mulai terlihat dari masa infant sebagai massa yang lunak, berbatas tegas,
letak subkutan, dan tidak nyeri. Lokasi yang paling sering terkena ialah aspek
superolateral orbita pada sutura frontozygomatis.
b. Lesi medial
Frekuensinya lebih sedikit dibanding lesi anterior dan sering tumbuh dari
jaringan asing di sutura frontoethmoidalis atau frontolakrimalis. Jika tidak ada
desakan ke dalam orbita, maka aspek frontoethmoidalis atau frontolakrimalis. Jika
tidak ada desakan ke dalam orbita, maka aspek posterior dari kista dapat diraba.
Karena letaknya lebih anterior, maka kista biasanya tidak menyebabkan pergeseran
bola mata, namun masih dapat terjadi ptosis jika ukuran kista semakin membesar.
c. Lesi posterior
Kista yang terletak lebih posterior akan lebih berbahaya dan berlokasi di
sutura sphenozygomaticus dan sphenoethmoidalis. Pasien biasanya datang pada
masa dewasa dengan keluhan nyeri, ptosis yang progresif, defisit motilitas, atau
diplopia.

1.5. Diagnosis Banding


Diagnosis banding kista dermoid:
A. Kista Epidermoid
Kista epidermoid terbentuk dari beberapa mekanisme. Kista dapat
diakibatkan sekuestrasi dari sisa epidermal selama kehidupan embrionik,
oklusi dari unit pilosebaseus, trauma atau implantasi bedah dengan elemen
epitelial. oklusi kelenjar ekrin dapat menjadi faktor tambahan
perkembangan kista epidermal.3
Kista epidermoid (kista sebasea) adalah kumpulan material seperti
keratin, biasanya putih, licin, mudah digerakkan, dan cheesy di dalam
dinding kista. Secara klinis, kista epidermal muncul sebagai nodul bulat,
keras berwarna daging. Kista epidermal merupakan tumor jinak yang tidak
perlu dihilangkan kecuali mengganggu secara kosmetik atau terinfeksi.3
Pada pemeriksaan histopatologi, kista epidermal dibatasi dengan
epitel skuamosa berlapis yang mengandung lapisan granuler. Keratin
terlaminisasi ditemukan dalam kista. Respon inflamasi dapat ditemukan
pada kista yang ruptur. Kista yang sudah tua dapat terkalsifikasi.3
Kista dermoid dan epidermoid adalah choristoma timbul dari
permukaan ektoderm yang terjebak pada lipatan embriogenik. Kista
epidermoid hanya dibatasi oleh epitel squamous yang berhubungan dengan
keratin, sedangkan kista dermoid dibatasi oleh epitel squamous dan dermis
dengan rambut, kelenjar sebasea dan keratin.3

B. Kista Ateroma

Kista ini berasal dari akne yang tersumbat muara kelenjarnya dan
berisi sel-sel debris epidermis dan kristal-kristal kolesterol. Bentuknya
bulat atau lonjong, biasanya lunak, berdinding tipis batas tegas letaknya
subkutan, sedikit menonjol. Yang khas pada kista ini adalah kadang-
kadang dapat dijumpai suatu bintik pada puncak penonjolan kista pada
kulit yang merupakan muara kelenjar yang tersumbat. Pada palpasi, teraba
lekukan, konsistensi tumor kistik, dapat digerakkan dari dasar tetapi
melekat pada dermis di atasnya dan tidak nyeri tekan. Ditemukan di daerah
yang mengandung kelenjar sebasea. Daerah predileksinya adalah kepala,
wajah, telinga, leher, dan punggung.3

C. Lipoma

Lipoma merupakan tumor jinak jaringan lemak. Tumor ini dapat


soliter atau multipel, massa lunak, dan tidak nyeri. Lipoma tersusun dalam
bentuk lobulus yang dipisahkan oleh sekat jaringan fibrosa, terbungkus
dalam kapsul tipis, mobile, dan dapat digerakkan dari dasar. Adanya
cekungan (dumpling) karena tarikan jaringan fibrotrabekula sehingga kulit
di atasnya seperti kulit jeruk.
Walaupun kadang-kadang tumbuh cepat, namun tumor ini tetap
tetap jinak. Lesinya lunak tanpa nyeri. Secara makroskopik, lipoma terdiri
dari jaringan lemak dewasa yang tergabung dalam lobulus, dikelilingi
dengan jaringan ikat.3

1.6. Penegakan Diagnosis


Diagnosis kista dermoid dapat ditegakkan berdasarkan:

A. Pemeriksaan fisik
Kista dermoid biasanya ditemukan pada beberapa tahun kehidupan. Kista
dermoid orbital paling banyak ditemui di aspek superolateral dengan sutura
frontozygomatic sebagai tempat perlengketannya dan jarang ditemukan pada daerah
superonasal.3
Berupa nodul intrakutan atau subkutan, soliter berukuran 1-4 cm, mudah
digerakkan dari kulit diatasnya dan dari jaringan di bawahnya. Pada palpasi,
permukaannya halus, konsistensi lunak dan kenyal.

B. Histopatologi 3
Secara histologi, kista dermoid berisi desquamated squamous epithelium dan
keratin di lumennya (panah 1) dan dibatasi oleh keratinized stratified squamous
epithelium (panah 2 dan 3). Kunci untuk mendiagnosis kista dermoid adalah adanya
struktur-struktur adneksa seperti kelenjar sebasea (panah 4). Akar rambut, kelenjar
keringat apokrin dan kelenjar lakrimal dapat juga ditemukan di dinding kista. Selain itu,
lumen juga dapat berisi hair shaft dan keratin (panah 5 dan 6).
Gambar 2. Gambaran histologi kista dermoid
(1) desquamated squamous epithelium (2,3) keratinized stratified squamous epithelium
(4) kelenjar sebasea (5,6) hair shaft dan keratin

Kista yang ruptur dapat menyebabkan reaksi granulomatosa dan residual cyst
yang dibatasi oleh epitel squamous berganti menjadi epitheloid histiocyte dan
multinucleated giant cells (nomor 7).

1.7. Penatalaksanaan 4
Indikasi penatalaksanaan kista dermoid adalah kista telah mengganggu aksis
visual yang dapat meningkatkan resiko ambliopia, kista dermoid profunda, kosmetik,
dan inflamasi berulang. Penatalaksanaan berupa pembedahan, yaitu dengan ekstirpasi
kista. Kista dermoid yang sering ditemukan pada anak-anak adalah kista dermoid tipe
superfisial sehingga dilakukan ekstirpasi di lipatan palpebra superior untuk mengurangi
terlihatnya luka bekas ekstirpasi atau langsung diatas lesi. Selama proses pembedahan,
dinding kista dijaga sebaik mungkin agar tetap utuh karena dinding dan isi kista bersifat
iritatif sehingga apabila kista ruptur pada saat pengangkatan akan menyebabkan
terjadinya proses peradangan pada jaringan orbita sekitarnya. Jika dinding kista ruptur
sebaiknya operator mengangkat seluruh dinding kista dan kemudian mengiritasi luka
untuk membersihkan semua isi kista. Pembedahan mungkin akan sulit jika sudah terjadi
perlengketan kista. Inflamasi preoperatif akibat dari kista yang ruptur dapat dikontrol
dengan penggunaan prednisone. Kegagalan dari pengangkatan seluruh kista dapat
mengakibatkan inflamasi yang persisten, drainase sinus, atau rekurensi kista.

1.8. Komplikasi

- Kista dermoid dapat mendesak bola mata, tergantung dari lokasi kista.
- Kista dermoid orbital dapat menyebabkan komplikasi neurologis jika menekan
nervus optikus atau nervus craniales III, IV, atau VI.
- Jika kista ruptur, maka akan terdapat tanda-tanda peradangan.
- Komplikasi operatif biasanya terdapat pada prosedur orbitotomi antara lain,
seperti:
 Kerusakan mata atau struktur adneksa, infeksi, inflamasi, dan
perdarahan dapat terjadi.
 Ekstirpasi parsial dari kista dermoid dapat menyebabkan inflamasi
yang persisten, dan kista yang berulang.5

1.9. Prognosis
Secara umum, prognosis kista dermoid baik. Hal ini dapat terjadi jika dilakukan
ekstirpasi yang tepat dengan scar yang minimal.5
BAB IV
PEMBAHASAN & KESIMPULAN

Kista dermoid merupakan suatu massa kistik (choristoma) yang dilapisi oleh
keratinizing epidermis dengan dermal appendages pada dindingnya seperti folikel rambut,
kelenjar sebasea, dan kelenjar keringat. 1
Pada laporan kasus berikut diajukan suatu kasus seorang perempuan 24 tahun dengan
keluhan benjolan di mata sebelah kanan. Orangtua pasien mengaku menemukan benjolan
pada mata sebelah kanan sejak pasien lahir. Benjolan tersebut tidak membesar, tidak
berwarna merah dan Benjolan tersebut tidak nyeri, tidak merah, dan mudah digerakkan.
Kista dermoid merupakan choristoma (massa jaringan yang secara histologis normal
pada letak yang abnormal) yang bersifat kongenital dan biasanya ditemukan beberapa tahun
pertama kehidupan. Kista dermoid ditemukan berupa massa berbentuk oval, membesar
perlahan, teraba lunak, dan tidak nyeri. Kista dermoid orbital paling banyak ditemui di
bagian superolateral dengan sutura frontozygomatic sebagai tempat perlengketannya dan
jarang ditemukan pada daerah superonasal.1
Diagnosis kista dermoid ditegakkan berdasarkan gejala yang timbul, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang yang ada. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan benjolan
berukuran 1,5 x 1,5 x 0,5 cm, kenyal, mobile, permukaan halus, tidak merah, dan tidak nyeri.
Kista dermoid orbital paling banyak ditemui di aspek superolateral dengan sutura
frontozygomatic sebagai tempat perlengketannya dan jarang ditemukan pada daerah
superonasal.12 kista dermoid berupa nodul intrakutan atau subkutan, soliter berukuran 1-4 cm,
mudah digerakkan dari kulit diatasnya dan dari jaringan di bawahnya. Pada palpasi,
permukaannya halus, konsistensi lunak dan kenyal.12
Akan tetapi, diagnosis pasti untuk kista dermoid dengan pemeriksaan histopatologi.
Secara histologi, kista dermoid berisi desquamated squamous epithelium dan keratin di
lumennya dan dibatasi oleh keratinized stratified squamous epithelium. Kunci untuk
mendiagnosis kista dermoid adalah adanya struktur-struktur adneksa seperti kelenjar sebasea.
Akar rambut, kelenjar keringat apokrin dan kelenjar lakrimal dapat juga ditemukan di dinding
kista. Selain itu, lumen juga dapat berisi hair shaft dan keratin.1
Penatalaksanaan untuk kista dermoid adalah ekstirpasi kista dengan mengangkat
seluruh kista beserta kapsulnya. Kista dermoid yang sering ditemukan pada anak-anak adalah
kista dermoid tipe superfisial sehingga dilakukan ekstirpasi di lipatan palpebra superior untuk
mengurangi terlihatnya luka bekas ekstirpasi atau langsung diatas lesi. Selama proses
pembedahan, dinding kista dijaga sebaik mungkin agar tetap utuh karena dinding dan isi kista
bersifat iritatif sehingga apabila kista ruptur pada saat pengangkatan akan menyebabkan
terjadinya proses peradangan pada jaringan orbita sekitarnya.1
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR, Oftalmologi Umum, Edisi 14, Widya Medika,
Jakarta, 2000, hal. 211-214.
2. Ilyas S. ilmu penyakit mata, Edisi ke-2, Cetakan ulang 2003. balai penerbit FKUI,
Jakarta,2003.
3. Jhon T. Mata & Kedaruratan Mata, Penerbit Buku Kedokteran EGC ,2014.
4. Hartono.Buku saku ringkasan Anatomi dan Fisiologi Mata, bola mata. Jogjakarta;
Rasmedia Grafika Bagian Ilmu Penyakit Mata FK Universitas Gadjah Mada ; 2012
5. Nema HV, Text book of Opthalmology, Edition 4, Medical publishers, New Delhi,
2002