Anda di halaman 1dari 13

SEORANG WANITA USIA 56 TAHUN DENGAN PITIRIASIS ROSEA

Oleh :
Elvina Febriasari

Pembimbing :
Dr. Abdul Gayum, Sp.KK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN PENYAKIT KELAMIN


RUMAH SAKIT TNI-AL Dr. MINTOHARDJO
FAKULTAS KEDOKTERAN TRISKATI
11 DESEMBER 2017 – 21 JANUARI 2018
Elvina Febriasari1, Abdul Gayum2

1
Dokter Muda Fakultas Kedokteran Trisakti di

SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Penyakit Kelamin RSAL dr. Mintohardjo

2
SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Penyakit Kelamin RSAL dr. Mintohardjo

ABSTRAK
Pendahuluan : Pitiriasis rosea merupakan penyakit kulit yang bersifat self limiting disease yang
menimbulkan lesi berupa satu patch dan asimptomatik yang berlangsung selama 4-10 minggu.
Penyebab pitiriasis rosea masih belum jelas, namun beberapa penelitian menyebutkan
disebabkan oleh reaktivasi virus teruta,a HHV-6 dan HHV-7. Pengobatan yang diberikan berupa
antivirus dan pengobatan simptomatik.

Isi : Pada tulisan ini akan disajikan laporan kasus mengenai pitiriasis rosea pada seorang wanita
berusia 56 tahun datang ke Poli Kulit dan Kelamin RS Angkatan Laut Dr. Mintohardjo dengan
keluhan timbul bercak kemerahan pada punggung dan dada sejak 4 hari. Penatalaksanaan pada
pasien berupa obat sistemik dan juga obat topikal.

Kesimpulan : Pitiriasis rosea (PR) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh virus Human
Herpes Virus (HHV) 6 dan 7. Dimulai dengan sebuah lesi primer yang dikarakteristikkan dengan
gambaran hrrald patch berbentuk eritema dan skuama halus yang kemudian diikuti dengan lesi
sekunder yang mempunyai gambaran khas berupa Christmas tree appearance. PR sering terjadi
pada usia 10-35 tahun. Karena PR dapat sembuh sendiri, tidak ada pengobatan aktif pada
digunakan untuk mengurangi gejala pruritus, pemberian acyclovir dapat diberikan pada minggu
pertama gejala.

Keyword : Pitiriasis, Rosea


PENDAHULUAN

Pitiriasis rosea adalah erupsi kulit yang bersifat akut, dapat sembuh spontan, lesi awal berupa
plak eritem berskuama, kemudian berlanjut menyebar generalisata dengan distribusi yang khas
dan berlangsung selama enam minggu.1

Insiden tertinggi berusia antara 10 sampai 35 tahun. Hal ini lebih sering dialami pada wanita,
dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 1 : 1,43. Kekambuhan jarang terjadi, dilaporkan
terjadi pada 2,8% kasus, sering terjadi pada orang dengan imunosupresi.2

Penyebab belum diketahui, pitiriasis rosea merupakan eksantema virus yang berhubungan
dengan reaktivasi Human Herpes Virus (HHV)-7 dan HHV-6. Erupsi menyerupai pitiriasis rosea
dapat terjadi juga setelah pemberian obat.3

Gejala klinis dimulai dari lesi berupa “herald patch”, kemudian disusul oleh lesi sekunder yang
berupa lesi serupa namun memiliki ukuran yang lebih kecil.4

Pitiriasis rosea merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri, oleh karena itu pengobatan yang
diberikan adalah pengobatan suportif.4

LAPORAN KASUS

Pasien datang ke poli kulit dan penyakit kelamin RSAL dr. Mintohardjo dengan keluhan timbul
ruam berwarna kemerahan di punggung dan dada sejak 4 hari yang lalu. Awalnya timbul di
bagian dada terlebih dahulu lalu menjalar ke punggung. Pasien merasa gatal yang bersifat hilang
timbul. Gatal-gatal dirasaklan semakin parah saat berkeringat. Pasien mengaku sudah berobat ke
puskesmas dan diberikan salep dan obat minum tetapi tidak ada perbaikan, pasien tidak ingat
obat apa yang diberikan oleh dokter. Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya
dan menyangkal di keluarga pasien ada yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Pasien
menyangkal adanya riwayat alergi obat dan makanan. Riwayat penyakit sebelumnya tidak ada.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis, tanda-tanda
vital didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 84x/menit, pernapasan 16x/menit, dan suhu
36,40C. Pada pemeriksaan dermatologis didapatkan lesi makula eritema dengan batas tegas, tepi
reguler, bentuk bervariasi (multiform) dan ukuran bervariasi dari 2-4cm, bagian tengah ditutupi
oleh skuama tipis.

Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis pasien ini adalah Pitiriasis Rosea. Terapi
yang diberikan berupa Cetirizine 1 x 10mg, Cimetidine 1 x 200mg, Metylprednisolone 2 x 8mg,
acyclovir 3x400mg dan krim Desoxymethasone 15 gram 2 x1 pagi dan malam hari.

TELAAH KEPUSTAKAAN

Definisi

Pitiriasis rosea adalah erupsi kulit yang bersifat akut, dapat sembuh spontan, lesi awal berupa
plak eritem berskuama, kemudian berlanjut menyebar generalisata dengan distribusi yang khas
dan berlangsung selama enam minggu.1

Epidemiologi

Kejadian dan prevalensi pitiriasis rosea belum diketahui secara pasti. Diperkirakan kejadian
pitiriasis rosea sekitar 170 per 100.000, dengan prevalensi 0,6% pada orang berusia 10 sampai 29
tahun. Meskipun telah dilaporkan dapat dialami oleh segala usia mulai dari bayi sampai orang
dewasa yang lebih tua, 75% kasus dilaporkan pada pasien berusia antara 10 sampai 35 tahun. Hal
ini lebih sering terjadi pada wanita, dengan rasio laki-laki terhadap perempuan 1:1.43.
Kekambuhan jarang terjadi, dilaporkan terjadi pada 2,8% kasus, sering terjadi pada orang dengan
imunosupresi2

Etiologi

Etiologi belum diketahui, tetapi berdasarkan gambaran klinis dan epidemiologi diduga infeksi
sebagai penyebab. Berdasarkan bukti ilmiah diduga pitiriasis rosea merupakan eksantema virus
yang berhubungan dengan reaktivasi Human Herpes Virus (HHV)-7 dan HHV-6. Erupsi
menyerupai pitiriasis rosea dapat terjadi juga setelah pemberian obat misalnya kaptopril,
klonidin, interferonm ketotifen, ergotamine, metronidazole, inhibitor tirosin kinase dan telah
dilaporkan timbul setelah pemberian agen biologic misalnya adalimumab. Walaupun beberapa
erupsi obat dapat menyerupai pitiriasis rosea, tetapi tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa
pitiriasis rosea dapat disebabkan oleh obat.3
Patofisiologi

Pitiriasis rosea sering dianggap sebagai exanthem virus, hal ini didukung oleh keadaan yang
bersifat musiman, klinisnya, kemungkinan terjadinya epidemi, terkadang adanya gejala
prodromal dan tingkat kekambuhan yang rendah. Insiden pitiriasis rosea yang lebih tinggi juga
dicatat di antara pasien dengan kekebalan tubuh menurun (misalnya, ibu hamil dan penerima
transplantasi sumsum tulang belakang).4

Beberapa data imunologi menyebutkan bahwa etiologinya berupa virus. [6] Kurangnya sel
pembunuh alami (natural killer cell) dan aktivitas sel B pada lesi pitiriasis rosea, menunjukkan
imunitas yang dimediasi T-sel yang didominasi dalam perkembangan kondisi. Peningkatan
jumlah sel CD4 dan sel Langerhans terdapat pada dermis, yang mungkin mencerminkan
pemrosesan dan presentasi antigen virus. Anti-imunoglobulin M (IgM) terhadap keratinosit
ditemukan pada pasien dengan pitiriasis rosea. Temuan ini mungkin terkait dengan fase
exanthem dari dugaan infeksi virus. 4

Variasi Piririasis Rosea

1. Herald patch di lokasi atipikal


Meskipun tidak disebutkan dalam literatur, kami memiliki kesempatan untuk menemukan
seorang pasien yang membawa sebuah herald patch pada satu-satunya, dan sebuah letusan
klasik sekunder pada batang tubuh dan proksimal ekstremitas. 5
2. Pitiriasis Circinata dan marginata
Terdapat pada orang dewasa dengan lesi sedikit dan besar yang hanya terletak pada tungkai,
pinggul, bahu, daerah aksila atau inguinal. 5
3. Pitiriasis Rosea Inversus
Lesi berada di daerah lentur seperti aksila, wajah, leher dan daerah akral (telapak tangan dan
telapak kaki), tanpa dibagian batang tubuh. 5
4. Pitiriasis Rosea Ekstremitas
Lesi terbatas pada ekstremitas, dengan plak skuamosa dengan khas batang tubuh tidak
terkana. 5
5. Pitiriasis Rosea Akral
Lesi secara eksklusif terletak di telapak tangan, pergelangan tangan, telapak kaki tanpa
keterlibatan aksila, selangkangan dan wajah, berlawanan dengan pitiriasis rosea inversus. 5
6. Pitiriasis Rosea Purpura atau hemoragik
Lesi purpura dan petekie dapat muncul di lokasi yang berbeda termasuk langit-langit mulut.
Lesi purpura juga muncul secara bilateral di kaki dengan ruam khas pada batang tubuh. 5
7. Pitiriasis Rosea folikular
Lesi awal terdiri dari plak pruritus terutama terletak di perut, paha dan selangkangan.
Beberapa hari kemudian, terjadi letusan folikular yang mencolok dengan clearance sentral
dan kerah perifer. Gejala prodromal termasuk sakit tenggorokan, malaise dan demam ringan. 5
8. Pitiriasis Rosea Vesikel
Lesi vesikula generalis dengan diameter 2-6 mm, terdapat pada orang dewasa dan anak-anak
muda, 5
9. Pitiriasis Rosea Hipopigmentasi
Ini pada dasarnya mirip dengan pitiriasis rosea klasik, dengan patch herald dan lesi sekunder,
namun dengan lesi hipopigmentasi sejak awal, terutama didistribusikan pada batang tubuh. 5
10. Pitiriasis Rosea Teriritasi
Pitiriasis rosea dengan gatal yang parah, rasa sakit dan sensasi terbakar saat bersentuhan
dengan keringat. 5
11. Pitiriasis Rosea Relapsing
Biasanya terjadi dalam satu tahun episode pertama, di antara 2,8% -3,7% pasien. Relaps
biasanya tidak menunjukkan adanya herald patch, dan ukuran dan jumlah lesi sekunder lebih
kecil. Durasi episode ini lebih singkat. 5
12. Pitiriasis Rosea Persisten
Berlangsung lebih dari 3 bulan. Sebagian besar pasien (75%) menunjukkan herald patch dan
mengeluhkan gejala sistemik. Lesi berlanjut selama 12-24 minggu. 5
13. Urtikaria PR
Lesi urtikaria dengan sisik pada bagian perifer. 5
14. Pitiriasis Rosea Erythema multiforme-like
Lesi klasik yang disertai lesi eritema multiforme. Ini muncul dengan lesi papulo-skuamosa,
dicampur dengan beberapa lesi targetoid yang terdistribusi pada batang tubuh, wajah, leher
atau lengan. 5
15. Pitiriasis Rosea Papular
Beberapa lesi papular kecil, berdiameter 1-3 mm terletak di batang tubuh dan ekstremitas
proksimal. 5

Gambaran Klinis

Tempat predileksi Pitiriasis Rosea adalah badan, lengan atas bagian proksimal dan paha atas
sehingga membentuk seperti gambaran pakaian renang. Sinar matahari mempengaruhi distribusi
lesi sekunder, lesi dapat terjadi pada daerah yang terkena sinar matahari, tetapi pada beberapa
kasus, sinar matahari melindungi kulit dari Pitiriasis Rosea. Pada 75% penderita biasanya timbul
gatal didaerah lesi dan gatal berat pada 25% penderita.6,7

1. Gejala klasik
Gejala klasik dari Pitiriasis Rosea mudah untuk dikenali. Penyakit dimulai dengan lesi
pertama berupa makula eritematosa yang berbentuk oval atau anular dengan ukuran yang
bervariasi antara 2-4 cm, soliter, bagian tengah ditutupi oleh skuama halus dan bagian
tepi mempunyai batas tegas yang ditutupi oleh skuama tipis yang berasal dari keratin
yang terlepas yang juga melekat pada kulit normal ( skuama collarette ). Lesi ini dikenal
dengan nama herald patch.6,7
Pada lebih dari 69% penderita ditemui adanya gejala prodromal berupa malaise, mual,
hilang nafsu makan, demam, nyeri sendi, dan pembengkakan kelenjar limfe. Setelah
timbul lesi primer, 1-2 minggu kemudian akan timbul lesi sekunder generalisata. Pada
lesi sekunder akan ditemukan 2 tipe lesi. Lesi terdiri dari lesi dengan bentuk yang sama
dengan lesi primer dengan ukuran lebih kecil ( diameter 0,5 – 1,5 cm ) dengan aksis
panjangnya sejajar dengan garis kulit dan sejajar dengan kosta sehingga memberikan
gambaran Christmas tree. Lesi lain berupa paul-papul kecil berwarna merah yang tidak
berdistribusi sejajar dengan garis kulit dan jumlah bertambah sesuai dengan derajat
inflamasi dan tersebar perifer. Kedua lesi ini timbul secara bersamaan.7
2. Gejala atipikal
Terjadi pada 20% penderita Pitiriasis Rosea. Ditemukannya lesi yang tidak sesuai dengan
lesi pada Pitiriasis Rosea pada umunya. Berupa tidak ditemukannya herald patch atau
berjumlah 2 atau multipel. Bentuk lesi lebih bervariasi berupa urtika, eritema
multiformis, purpura, pustul dan vesikuler. Distribusi lesi biasanya menyebar ke daerah
aksila, inguinal, wajah, telapak tangan dan telapak kaki. Adanya gejala atipikal membuat
diagnosis dari Pitiriasis Rosea menjadi lebih sulit untuk ditegakkan sehingga diperlukan
pemeriksaan lanjutan.8

Gambar 1. Herald patch

Diagnosis

1. Anamnesis

 Terutama timbul pada remaja dan dewasa muda yang sehat, kelompok usia 
10-35 tahun.
Lebih banyak dialami oleh perempuan.
 Gejala subjektif biasanya tidak ditemukan, tetapi dapat disertai gatal ringan 
maupun
sedang.
 Kelainan kulit diawali dengan lesi primer yang diikuti lesi sekunder.
 Timbul lesi sekunder bervariasi antara 2 hari sampai 2 bulan setelah lesi 
primer, tetapi
umumnya dalam waktu 2 minggu. Kadang-kadang lesi primer 
dan sekunder timbul
secara bersamaan.
 Dapat pula ditemukan demam yang tidak terlalu tinggi atau lemah badan. 9

2. Pemeriksaan fisik

 Gambaran klinis diawali dengan timbulnya lesi primer berupa makula/plak 
sewarna
kulit/merah muda/salmon-colored/hiperpigmentasi yang berbatas tegas, umumnya
berdiameter 2-4 cm dan berbentuk lonjong atau bulat. Bagian tengah lesi memiliki
karakteristik skuama halus, dan pada bagian dalam tepinya terdapat skuama yang lebih
jelas membentuk gambaran skuama kolaret.
 Lesi primer biasanya terletak di bagian badan yang tertutup baju, tetapi kadang-kadang
ditemukan di leher atau ekstremitas proksimal seperti paha atas atau lengan atas. Lesi
primer jarang ditemukan di wajah, penis atau kulit kepala berambut.
 Erupsi simetris terutama pada badan, leher, dan ekstremitas proksimal.
 Lesi sekunder berupa makula/plak merah muda, multipel, berukuran lebih kecil dari lesi
primer, berbentuk bulat atau lonjong, yang mengikuti Langer lines sehingga pada
punggung membentuk gambaran christmas-tree 
pattern.
 Dapat ditemukan pembesaran kelenjar getah bening. 9

3. Varian
Pitiriasis rosea atipikal

Pada pitiriasis rosea atipikal herald patch dapat tidak ditemukan, berjumlah lebih dari satu,
atau menjadi satu-satunya manifestasi klinis. Lesi dapat terdistribusi hanya di daerah perifer,
mengenai wajah, kulit kepala berambut, atau lokalisata pada regio tertentu seperti telapak
tangan, telapak kaki, aksila, vulva, dan lipat paha.Lesi dapat berupa urtika, erythema
multiforme-like, vesikuler, pustular, dan purpura. 9

Tatalaksana

1. Nonmedikamentosa 


Edukasi mengenai kelainan kulit dapat sembuh sendiri dan pengobatan bertujuan untuk
mengurangi gejala. 


2. Medikamentosa 


Prinsip: penyakit dapat sembuh spontan, penglihatan bersifat simtomatis. Terdapat beberapa
obat yang dapat dipilih sesuai dengan indikasi sebagai berikut: 


1. Topikal


Bila gatal sangat mengganggu:

 Larutan anti pruritus seperti calamine lotion.


 Kortikosteroid topikal.
2. Sistemik 

 Apabila gatal sangat mengganggu dapat diberikan antihistamin seperti setirizin 1x10
mg per hari.
 Kortikosteroid sistemik.
 Eritromisin oral 4x250 mg/hari selama 14 hari.
 Asiklovir 3x400 mg/hari per oral selama 7 hari diindikasikan sebagai 
terapi pada
awal perjalanan penyakit yang disertai flu-like symptoms atau 
keterlibatan kulit
yang luas.
 Dapat pula dilakukan fototerapi: narrowband ultraviolet B (NB-UVB) dengan 
dosis
tetap sebesar 250 mJ/cm 3 kali seminggu selama 4 minggu.9

Diagnosis Banding

1. Sifilis sekunder
Penyakit yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan lanjutan dari sifilis primer
yang timbul setelah 6 bulan timbulnya chancre. Gejala klinisnya berupa lesi kulit dan lesi
mukosa. Lesi kulitnya non purpura, makula, papul, pustul atau kombinasi, walaupun
umumnya makulopapular lebih sering muncul disebut makula sifilitika.7
2. Tinea korporis
Lesi kulit yang disebabkan oleh dermatofit Trichophyton rubrum pada daerah muka, tangan,
trunkus atau ekstremitas. Gejala klinisnya adalah gatal, eritema yang berbentuk cincin
dengan pinggir berskuama dan penyembuhan di bagian tengah. Perbedaan dengan Pitiriasis
Rosea adalah pada Tinea korporis, skuama berada di tepi, plak tidak berbentuk oval, dari
pemeriksaan penunjang didapatkan hifa panjang pada pemeriksaan KOH 10%.7
3. Dermatitis numuler
Dermatitis yang umumnya terjadi pada dewasa yang ditandai dengan plak berbatas tegas
yang berbentuk koin ( numuler ) dan dapat ditutupi oleh krusta. Kulit sekitarnya normal.
Predileksinya di ekstensor. Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Dermatitis
Numuler, lesi berbentuk bulat, tidak oval, papul berukuran milier dan didominasi vesikel
serta tidak berskuama.7
4. Psoriasis gutata
Jenis psoriasis yang ditandai dengan eupsi papul di trunkus bagian superior dan ekstremitas
bagian proksimal. Perbedaan dengan Pitiriasis Rosea adalah pada Psoriasis gutata, aksis
panjang lesi tidak sejajar dengan garis kulit, skuama tebal.7

Prognosis

Pitiriasis rosea bersifat self-limiting, umumnya prognosis sangat baik dan tingkat
kekambuhannya rendah (sekitar 2%). Karena penyakit ini tidak dianggap sebagai penyakit yang
dapat ditularkan, pasien tidak memerlukan isolasi dan dapat kembali bekerja atau sekolah.
Pitiriasis rosea biasanya berlangsung selama 6-8 minggu, tapi bisa bertahan selama 3-6 bulan.4

PEMBAHASAN

Pada kasus pasien merupakan wanita berusia 56 tahun datang dengan keluhan ruam berwarna
kemerahan di punggung dan dada sejak 4 hari yang lalu. Awalnya timbul di bagian dada terlebih
dahulu lalu menjalar ke punggung. Pasien merasa gatal yang bersifat hilang timbul. Gatal-gatal
dirasaklan semakin parah saat berkeringat. Berdasarkan hasil anamnesis dapat dikatakan bahwa
keluhan tersebut sudah berlangsung lama.

Pasien mengatakan bahwa di keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal serupa seperti pasien
dan tidak sedang mengonsumsi obat-obatan apapun. Sesuai dengan teori, penyebab pitiriasis
rosea salah satunya adalah virus HHV-6 atau HHV-7 yang tidak bersifat menular, ada penyebab
lain yaitu dari beberapa obat-obatan namun dapat tersingkirkan.

Pada pemeriksaan dermatologis tampak lesi lesi makula eritema dengan batas tegas, tepi reguler,
bentuk bervariasi (multiform) dan ukuran bervariasi dari 2-4cm, bagian tengah ditutupi oleh
skuama tipis. Pemeriksaan ini sesuai denga teori bahwa pada pitiriasis rosea timbul lesi pertama
berupa makula eritem yang berbentuk oval atau anular dengan ukuran yang bervariasi antara 2-4
cm, soliter, bagian tengah ditutupi oleh skuama halus dan bagian tepi mempunyai batas tegas
yang ditutupi oleh skuama tipis yang berasal dari keratin yang terlepas yang juga melekat pada
kulit normal. Pada pasien ini juga timbul lesi sekunder sesuai terori yang berupa lesi dengan
bentuk yang sama dengan lesi primer namun dengan ukuran lebih kecil.

Diagnosis banding adalah tinea korporis, yang merupakan penyakit dengan gejala dan lesi yang
hampir sama dengan pitiriasis yaitu macula eritem dan skuama dengan keluhan utama yang
gatal.

Terapi yang diberikan berupa Cetirizine 1 x 10mg, Cimetidine 1 x 200mg, Metylprednisolone 2


x 8mg, acyclovir 3x400mg dan krim Desoxymethasone 15 gram 2 x1 pagi dan malam hari.
Pengobatan untuk PR lebih kea rah gejala yang diderita dan edukasi untuk pasien, karena PR
bersifat self limiting disease.
Pasien yang mengalami gejala gatal dapat diberikan antihistamin oral. Cetirizine merupakan
antihistamin selektif H-1, pada pasien ini diberikan cetirizine untuk mengurangi gejala pasien
berupa gatal.
Cimetidine memiliki efek imunomodulator, meningkatkan imunitas seluler seperti meningkatkan
respon limfosit dan peningkatan respon terhadap antigen uji kulit.
Acyclovir dapat diberikan sebagai antivirus yang mekanisme kerjanya menghambat sintesis
DNA virus dan aktif terhadap berbagai tipe virus HHV. Biasanya digunakan untuk herpes
simplex, varicella dan herpes zoster dan merupakan obat yang dapat ditoleransi dengan baik.
Penelitian terbaru menyebutkan bahwa HHV-6 dan HHV-7 adalah tipe HHV yang menyebabkan
PR, maka pemberian acyclovir bisa diterima.
Kortikosteroid topikal seperti desoksimethasone diberikan untuk mengurangi gatal, lesi vesicular
dan hiperpigmentasi pasca inflamasi.

KESIMPULAN

Pitiriasis rosea merupakan penyakit yang umumnya disebabkan oleh virus yaitu HHV-6 atau
HHV-7 yang dapat juga dicetuskan oleh beberapa obat-obatan. Lesi kulit yang timbul pada
pitiriasis rosea berupa makula eritem yang berbentuk oval atau anular dengan ukuran yang
bervariasi antara 2-4 cm, soliter, bagian tengah ditutupi oleh skuama halus dan bagian tepi
mempunyai batas tegas yang ditutupi oleh skuama tipis. Terapi yang diberikan dari antivirus
pada keadaan akut dan pengobatan simtomatik seperti kortikosteroid topikal dan antihistamin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Menaldi SLSW, Novianto E, Sampurna AT. Atlas Berwarna Dan Sinopsis Penyakit Kulit
dan Kelamin. Hal. 32. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas KEdokteran Universitas
Indonesia. 2015.
2. BMJ Best Practice. Pityriasis Rosea. 2017. Tersedia di
http://bestpractice.bmj.com/topics/en-gb/279. Diakses pada 25 Agustus 2017.
3. Menaldi SLSW, Bramono K, Indriatmi W. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi
ketujuh. Hal 225. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2015.
4. Schwarts RA. Pityriasis Rosea. 2017. Tersedia di
https://emedicine.medscape.com/article/1107532-overview#a3. Diakses pada 25 Agustus
2017.
5. Urbina F, Das A, Sudy E. World Journal of Clinical Cases. Clinical Variants of Pityriasis
Rosea, Vol 5.Baishideng Publiching Group. 2017.

6. James, William D., Timothy G.B, Dirk M. Epityriasis Rosea. In: James WD Berger TG,
Eston DM. Andrews’ diseases of the skin, 10th ed. WB Saunders Company,
Canada.2006; 207-216.
7. Blauvelt, Andrew. Pityriasis Rosea In: Dermatology in General Medicine Fitzpatrick’s.
The McGraw-Hill Companies, Inc. 2012;458-63.
8. Sterling, J.C. Viral Infections. In : Rook’s textbook of dermatology.—7th ed. 2004.
25.79-82.
9. Perdoski. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Di Indonesia.
2017.