Anda di halaman 1dari 9

Jawaban PIMP tahun kemaren

1. UU 22 th 2001
a. Yang berhak menawarkan Wilayah Kerja Pertambangan
Berdasarkan uu 21 pasal 12 th 2001 penawaran wkp oleh Menteri setelah konsultasi dgn pemerintah
daerah. Yes or no rekomendasi skk

b. Kegiatan usaha miga dibagi atas apa saja


c. Yang didapat negara dari pengelolaan migas

2. Beda industri migas dan pabum dari resiko yang ada


Pabum: biasanya di hutan lindung, flora fauna yang dilindungi, regulasi saling tindih blablabla.
Hpht. Tantangan dalam menjaga thermal dari uap karena dipabum HPHT dimigas HP tapi gak HT. dan
drilling loss circulation karena zona geothermal itu zona loss. (ndobos menjilat)
Migas; high risk, high cost, high tech, good human resources. (ndobos aja)
3. POINT-POINT PENTING PERJANJIAN/KONTRAK M&P versi pak habe
1. Luas wilayah kuasa pertambangan:
- Untuk eksplorasi harus luas/besar.
- Daerah yang sudah dikenal geologinya atau belum.
- Dekat atau jauh dengan daerah yang sudah pasti mengandung hidrokarbon.
- Mudah atau sukar mencapai daerah itu.
- Kemungkinan menemukan hidrokarbon.
2. Lama masa Eksplorasi:
Dapat 3-4 tahun atau lebih.
3. Kewajiban Bekerja (Working Obligation) selama masa Eksplorasi.
- Ada kewajiban melakukan kegiatan eksplorasi yang harus dipenuhi.
- kewajiban tersebut bersifat wajar dan tidak memberatkan.
4. Masa Peralihan dari Eksplorasi ke Pengembangan:
- Perlu dinyatakan sejak awal adanya hak mengembangkan HC yang ditemukan.
- Jika belum dinyatakan maka perlu dirundingkan syarat-syarat pengembangan pada waktu
discovery.
5. Masa Pengusahaan:
- Pemegang WKP biasanya berkeinginan waktunya
selama mungkin (tak terbatas).
- Pemerintah menetapkan 15 tahun dan dapat
diperpanjang lagi.
6. Sewa, Royalti, dan Pajak:
- Sewa wilayah: Pembayaran dilakukan per tahun.
per satuan luat (Rp/ha).
- sewa ini rendah pada masa eksplorasi,
bertambah setelah masa pengembangan.
- Dibayar menurut prosentase (%) produksi.
- Pajak: menentukan berapa perolehan masing-
masing (perusahaan dan negara).
7. Cara menentukan commerciality penemuan:
- Kriteria harus jelas sejak awal (apa dan berapa).
- Saling menguntungkan kedua belah pihak.
8. Hak menjual/mengekspor Hidrokarbon:
- Ada kewajiban untuk memenuhi pasar setempat
dengan harga yang ditentukan pemerintah.
- Bisa menjual HC sendiri untuk pasar
international denga harga ditentukan pasar
tsb. Atau sendiri.

PARAMETER KONTRAK versi Pak Bows


1. Cost Recovery
2. Harga Minyak dan Energi
3. First Tranche Petroleum (FTP)
4. Equity to be Split (ES)
5. Domestic Market Obligation (DMO)
6. Contractor Share (CS)
7. Net Contractor Share (NCS)
8. Taxable Income
9. Recoverable Cost
10. Government Tax
11. Government Share
12. Total Contractor Share (TCS)
13. Investment Credit
14. Minimum Attractive Rate of Return (MARR)

4. PP 27/1980
a. PENGGOLONGAN BAHAN GALIAN TAMBANG :
1. STRATEGIS:
- Keamanan dan Pertahanan.
- Menjamin perekonomian Negara.
- Pelaksanaan dan pengaturan usaha pertambangan oleh Menteri.
- Pelaksanaan usaha oleh Instansi Pemerintah, Perusahaan Negara, Perusahaan Swasta,
Pertambangan Rakyat.
2. VITAL:
- Menjamin hajat hidup orang banyak.
- Pelaksanaan pengaturan usaha pertambangan
oleh Mentri dan Pemda Tk.I.
- Pelaksana usaha sama dengan Strategis, hanya
Perusahaan Daerah diperbolehkan.
3. BUKAN STRATEGIS DAN BUKAN VITAL
SDA:
- Minyakbumi
- Gasbumi
- Panasbumi Terbarukan
Penggolongan SDA tersebut termasuk
ke dalam golongan Bahan galian
Strategis.
KELOMPOK BAHAN GALIAN STRATEGIS:
Minyak bumi, gas alam, bitumen cair, antrasit,
batubara, lignit, nikel, cobalt, timah, uranium,
radium, thorium dan mineral radiaaktif lainnya.
KELOMPOK BAHAN GALIAN VITAL:
Besi, manggan, molybdenm, chromit, wolframit,
Vanadium, titanium, bauksit, tembaga, timbal,seng,
emas, perak, berlian, antimoni, warangan (arsen),
bismuth, ruthenium, cerium, berillium, corendum,
zircon, cryolit, fluorspar, barit, yodium dan
belerang

b. kenapa bahan galian migas Cuma boleh di kuasai oleh negara


berdasarkan pasal 33 ayat 3 uud 1945
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
C bagaimana bila swasta ingin bergabung dalam pengelolaan migas?

Dengan adanya berbagai kontrak yang berlaku di Indonesia sbb:

- kontrak konsesi:
- hak pengelolaan migas di tangan pemegang tender,
- pemegang konsensi dengan pajak atau proyek ke pemerintah
- PSC:
- hak pengelolaan di pemerintah: pengusahaan di kontraktor, kontraktor mengajukan POD
- kontrak jasa
operator mendapat balas jasa atas besarnya investasi berupa persentasi dari investasi yang telah ditentukan:
- murni = operator mendapat fee sesuai kontrak
- beresiko = ada kewajiban menanggung resiko besar
- JOB: seperti PSC namun pertamina memegang max 50% participatin interest
- kontraktor menanggung biaya dan di kembalikan dengan 50% uplift dengan pertamina
- TAC: sistem perhitungan bagi hasil yang dilakukan untuk pertamina dengan kontraktor di lapangan yang sebelumnya
dikelola pertamina
- ada pemisahan non shareable oil yaitu produksi apabila tidak terdapat investasi dan shareable oil (yang dibagi)
yaitu produksi akibat investasi kontraktor
- Gross Split: Skema baru dalam kontrak industri migas indonesia, dimana tidak lagi menyertakan komponen cost
recovery. K3s akan menanggung seluruh biaya operasi hulu migas. Sebaliknya, pemerintah hanya mendapatkan
pembagian produksi.

LEBIH LENGKAP BACA DIBAWAH INI

B.1. Kerjasama Konsesi.

Konsesi mempunyai pengertian sebagai suatu penyerahan daerah tertentu oleh pemerintah Republik Indonesia kepada
perusahaan asing dalam rangka pengusahaan dan pemilikan sumber alam yang terkandung di daerah tersebut. Dalam
kerjasama jenis ini, seluruh minyak dan gas bumi serta panas bumi yang dihasilkan akan menjadi milik perusahaan asing
tersebut. Perusahaan asing (pengusaha) hanya berkewajiban memberikan sejumlah royalty yang besarnya ditentukan
dalam perjanjian dengan pemerintah RI. Pada hakekatnya, bentuk kerjasama ini bertentangan dengan pasal 33 ayat (3)
Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa bumi air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Kerjasama konsesi ini dapat diartikan
sebagai penyerahan kedaulatan atas sebagian wilayah Republik Indonesia kepada pihak asing, dan negara hanya
memperoleh imbalan dalam bentuk royalty. Mengingat hal-hal tersebut, maka untuk pertambangan minyak dan gas
bumi dikeluarkan undang-undang nomor 4 tahun 1960 yang mengatur mengenai:

Pasal (1) : Bahan galian minyak dan gas bumi merupakan kekayaan nasional yang harus dikuasai oleh Negara.

Pasal (2): Pengusahaannya hanya oleh Negara yang dilaksanakan oleh perusahaan Negara.

Pasal(3) : Kontraktor hanyalah pihak yang bekerja untuk membantu perusahaan Negara dan menerima imbalan untuk
hasil kerjanya tersebut.

Dengan dikeluarkannya undang-undang nomor 4 tahun 1960 tersebut, maka sejak tahun 1960 kerjasama konsesi dalam
bidang pertambangan (khususnya pertambangan minyak dan gas bumi) sudah tidak dikenal lagi di Indonesia.
B.2. Technical Assistance Contract (TAC)

Perjanjian ini dilakukan antara Pertamina dengan kontraktor untuk meningkatkan produksi sumur tua milik Pertamina
yang sudah mulai menurun. Dalam perjanjian tersebut dijelaskan mengenai kewajiban pihak kontraktor untuk
menanggung semua biaya yang terjadi. Hak untuk pihak kontraktor adalah terhadap jumlah produksi minyak dan gas
bumi Pertamina dari sumur tua tersebut. Apabila produksi sumur tua tersebut melebihi dari jumlah produksinya yang
semula, maka kelebihan tersebut akan dibagi dua antara Pertamina dengan pihak kontraktor. Adapun prinsip-prinsip
dari TAC ialah :

Lahan dibagian Wilayah Kuasa Pertambangan (WKP) Pertamina;

Manajemen operasi dilaksanakan oleh Pertamina;

Biaya operasi sepenuhnya (100%) ditanggung oleh kontraktor;

Pengembalian biaya operasi dibatasi 35% -40% pertahun;

Pembagian hasil (sesudah pajak) adalah 65% untuk bagian Pertamina dan 35% untuk bagian kontraktor;

Domestic Market Obligation (DMO) :

Harga ekspor untuk 5 tahun pertama produksi (lapangan baru);

US$ 0,20 per barel untuk produksi (lapangan lama).

B.3. Contract Enhanced Oil Recovery (EOR)

Kerjasama antara Pertamina dan Perusahaan Swasta dalam rangka meningkatkan produksi minyak di sumur dan
lapangan minyak yang masih dioperasikan Pertamina dan sudah mengalami penurunan produksi dengan menggunakan
teknologi tinggi meliputi usaha secondary dan tertiary recovery. Adapun prinsip-prinsip dari EOR ialah :

Lahan di dalam Wilayah Kuasa Pertambangan (WKP) Pertamina;

Manajemen operasi oleh Pertamina;

Penyertaan Pertamina 50% dan Kontraktor 50%;

Resiko operasi ditanggung Pertamina dan Kontraktor;

Biaya Operasi ditanggung Pertamina sebesar 50% dan Kontraktor 50%;

Pengembalian biaya operasi dibatasi 65%;

Pertamina ditunjuk sebagai operator;

Pembagian hasil untuk Pertamina 85% dan kontraktor 15%;

Domestic Market Obligation :

Harga ekspor untuk 5 tahun pertama produksi minyak baru (incremental oil);

US$ 0,20 per barel atau 10% dari harga ekspor setelah 5 tahun produksi.
B.4. Perjanjian Operasi Bersama (Joint Operation Agreement)

Perjanjian ini dilakukan oleh dua perusahaan minyak atau lebih untuk mengeksplorasikan, mengembangkan, dan
mengusahakan produksi minyak dan gas bumi pad suatu wilayah pertambangan minyak dan gas bumi. Dalam perjanjian
tersebut disebutkan mengenai hak dan kewajiban semua anggota / partner yang meliputi jumlah biaya yang harus
ditanggung dan bagian produksi yang boleh dimiliki. Dalam kontrak perjanjian ada pihak yang ditunjuk sebagai operator
dan ada pihak yang menjadi anggota non operator. Prinsip-prinsip utama perjajian operasi bersama ini :

Lahan diluar Pertamina;

Manajemen operasi ditangani Pertamina;

Pengembalian biaya operasi diberikan sepenuhnya yakni sebesar 100%;

Resiko Eksplorasi sepenuhnya ditanggung kontraktor;

Kontraktor menyetorkan 34% hasil produksi sebagai pembayaran pajak kepada pemerintah.

B.5. Perjanjian Joint Operating Body (JOB)

Suatu bentuk PSC yang berlaku untuk suatu prospective area yang sudah dilakukan eksplorasi. Adapun prinsip-prinsip
dari JOB ialah :

Pertamina menguasai maximum 50% participating interest;

Terhadap participating interest Kontraktor, berlaku syarat-syarat dan split seperti yang berlaku dalam KPS;

Kontraktor bersama-sama Pertamina membiayai eksplorasi dan pengembangan selanjutnya dari suatu lapangan,
umumnya 50% uplift diberlakukan terhadap jumlah pengembalian oleh Pertamina kepada Kontraktor;

Kontribusi Pertamina’s Annual Cash Call dimulai setelah operator’s expenditures match dengan Pertamina’s sunk cost
atau setelah akhir tiga tahun pertama dari periode Kontrak;

Pertamina adalah Operator yang dibantu oleh Kontraktor dalam bentuk suatu Joint Operating Body (JOB) dan di
supervisi oleh suatu Joint Operating Committee (JOC);

Pertamina dan Kontraktor membentuk anggota dari JOC, JOC menyetujui Work Program & Budget (WP&B) dan
menetapkan policies.

B.6. Kontrak Karya

Pada kerjasama jenis ini, pemegang kuasa pertambangan adalah perusahaan Negara (PERTAMINA) sedangkan pihak
perusahaan saing hanya bertindak sebagai kontraktor. Namun perusahaan Negara masih belum diberi wewenang
manajemen untuk mengarahkan dan menentukan kegiatan kontraktor. Ada tiga perusahaan yang pernah terikat dengan
kontrak ini yaitu PT CPI, PT SI,DAN PT Calasiatic & Topco(c&t). kontrak karya ini milai diberlakukan setelah disahkannya
Undang-Undanag nomor 4 Prp tahun 1960. bentuk kerjasama perjanjian kontrak karya ini hanya berlaku sampai dengan
tahun 1963, selanjutnya dipergunakan Contract Production Sharing (Kontrak bagi Hasil). Dalam kontrak karya ini
terdapat hal-hal yang bersifat unik yaitu :

Perusahaan Negara sebagai pemegang kuasa pertambangan sedangkan perusahaan swasta bertindak sebagai
kontraktor;
Manajemen dilaksanakan sepenuhnya oleh kontraktor dan semua kerugian yang mungkin terjadi akan ditanggung oleh
kontraktor;

Pembagian hasil dalam bentuk uang atas dasar perbandingan 60% untuk perusahaan Negara dan 40% bagi kontraktor,
akan tetapi penghasilan pemerintah tidak boleh kurang dari 20% hasil kotor minyak bumi;

Jangka waktu kontrak adalah 30 tahun untuk daerah yang baru dan 20 tahun untuk daerah lama;

Penyisihan wilayah dilakukan dua atau tiga kali setelah jangka waktu tertentu;

Kontraktor wajib ikut serta menyediakan minnyak untuk keperluan dalam negeri atas dasar proposional dan tidak
melebihi 25% dari produksi areal dan atas dasar Cost ditambah Free $0,20/BBl.

B.7. Perjanjian (LOA) Loan Risk Agreement

Pemberian pinjaman kepada Pertamina untuk membiayai kegiatan mencari dan memproduksi minyak di wilayah
tertentu. Pertamina nanti akan membayar pokok plus bunga dalam bentuk minyak.

B.8. Kontak Bagi Hasil (Production Sharing Contract)

Bentuk kerjasama bagi hasil ini merupakan modifikasi dari kontrak perjanjian karya. Kontrak bagi hasil (PSC) ini mulai
dikenal sejak diberlakukannya undang-undang nomor 8 tahun 1971. dalam pasal 12-1 Undang-Undang ini dinyatakan
bahwa dalam melakukan kegiatannya, Pertamina diperkenankan untuk berkerjasama dengan pihak lain dalam bentuk
kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract. Dalam kontrak bagi hasil, ditetapkan bahwa wewenang berada
ditangan pemerintah Republik Indonesia (yang diwakili oleh Pertamina). Peranan kontraktor minyak asing hanyalah
sebagai penyandang dana dan melaksanakan kegiatan operasi perminyakan. Contract Production Sharing ini mempunyai
hal-hal sebagai berikut:

Pertamina bertanggung jawab atas manajemen operasi;

Kontraktor melaksanakan operasi menurut Program Kerja Tahunan yang sudah disetujui Pertamina;

Kontraktor menyediakan seluruh dana dan teknologi yang dibutuhkan dalam operasi perminyakan;

Kontraktor menanggung biaya resiko operasi;

Kontraktor diizinkan mengadakan eksplorasi selam enam sampai sepuluh tahun. Sedangkan eksploitasi boleh dilakukan
oleh kontraktor selama 20 tahun atau lebih (jangka waktu kontrak adalah 30 tahun);

Kontraktor akan menerima kembali seluruh biaya operasi setelah produksi komersial;

Produksi yang telah dikurangi biaya produksi, dibagi antara Pertamina dan kontraktor;

Kontraktor wajib menyisihkan /mengembalikan sebagian wilayah kerjanya kepada pemerintah;

Seluruh barang operasi /peralatan yang dibeli kontraktor menjadi milik pemerintah;

Seluruh data yang didapatkan dalam operasi menjadi milik pemerintah;

Kontraktor adalah subjek pajak penghasilan, dan wajib menyetorkannya secara langsung kepada pemerintah;
Kontraktor wajib memenuhi kebutuhan minyak dan gas bumi dalam negeri (Domestic Market Obligation) maksimum
25% dari bagian Contract Production Sharing;

Kontraktor wajib mengalihkan 10% interestnya setelah produksi komersial kepada perusahaan swasta nasional yang
ditunjuk Pertamina.

Production Sharing Contract ternyata lebih banyak digunakan dalam kerjasama dalam mengeksploitasi dan eksplorasi
minyak bumi. Dalam perkembangannya, Production Sharing Contract ( Kontrak Bagi Hasil ) telah melewati beberapa
generasI