Anda di halaman 1dari 1

Matahari hendak pulang keperaduannya, warnanya yang beberapa jam lalu putih terang

kini berubah menjadi orange yang indah. Dijalan terlihat kendaraan berlalu-lalang dan
bebrapa orang sedang memilih makanan untuk berbuka puasa. Aku segera mendorong pintu
yang terbuat dari kaca itu, lalu melangkah keluar dari tempat percetakan, sebelum tiba di
tempat parkir perhatianku teralihkan oleh sosok laki-laki yang usianya sekitar 50-an tahun.
Laki-laki itu mendorong gerobak usang yang didalamnya berisi banyak botol air mineral
dengan kaki tertatih-tatih melewati jalan Tadulako. Aku merenung sejenak dan kemudian
merogoh kunci motor serta mengeluarkan uang Rp. 2.000 untuk membayar parkir.
Tidak lama kemudian laki-laki itu berhenti menepi sambari memegang kaki kirinya.
Setelah melihat itu aku mengurungkan niatku untuk langsung pulang kerumah dan
kuputuskan untuk menemui laki-laki itu sambil menunjukkan senyum termanisku, laki-laki
itu lantas membalas senyumanku.
Kuparkirkan motor dekat gerobaknya lalu kutemani beliau duduk.
“Namanya siapa pak?”, aku menyapa sambil tersenyum
“panggil saja bapaknya noval dek”, beliau menjawab dengan halus sambil tersenyum
Beliau sangat sopan terhadap orang lain jika dilihat dari tingkahlakunya serta cara
bicaranya. Beliau bercerita bahwa beliau mempunyai 2 anak yang sekarang sekolah SD di
Talise, yang paling besar kelas 5 SD.
Tidak lama kemudian muncul 2 anak perempuan berjalan tertawa-tertawa sambil
melempar kulit rambutan ke gerobak pak noval tersebut sotak membutaku kaget,
“hey! itu bukan tempat sampah...” aku berseru dengan suara meninggi
“Iya dek, itu tempat sampah” pak noval memotong suaraku sambil tersenyum
“terkadang saya juga sering diteriaki orang gila oleh anak-anak dek, ya... Aku jawab iya
Aku orang gila...” Pak Noval melanjutkan bicaranya sambil tersenyum.
Melihat kesabaran beliau, aku jadi tambah penasaran.
“kakinya kenapa pak?” lanjutku bertanya dengan penasaran
“Dulu hanya rasa sakit biasa dek, Cuma dibiarkan saja. Lama-kelamaan jadi gini, mati
rasa. Dulu pernah terkena pecahan botol tapi nggak berasa Cuma darahnya aja keluar” jawab
beliau dengan lembut namun tidak bisa menyembunyikan rasa lelah yang yang terlihat
diwajahnya.
“kalau sudah magrib saya belum pulang , anak saya terkadang mencari saya dek. ibu
sudah duluan meninggalkan kami jadi anak saya hanya berdua dirumah. Anak saya yang
besar selalu ingatkan saya jangan sampai bapak mengemis ya...” imbuhnya dengan tak lupa
memberikan senyuman khas beliau.
Seketika aku langsung merenung jika melihat beberapa orang disudut Kota Palu
sekarang ini. Badan mereka masih sehat namun tidak mau berusaha tapi malah meminta-
minta.
Mohon saudaraku yang bertemu dengan bapak ini paling tidak dapat menyapa/tersenyum
kepada beliau, karena senyum adalah salah satu sedekah.