Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

UJI KEKERASAN (HARDNES TESS)

OLEH :

Nama : Jefri anto sihombing


NIM : 1505012013
Kelas : ME-3E
Instruktur : Drs.Moch. Agus Zaenuri.M.T

POLITEKNIK NEGERI MEDAN


2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,karunia,serta
taufik dan hidayat-Nya saya dapat menyelesaikan laporan HARDNESS TEST ini dengan baik meskipun
banyak kekurangan di dalamnya.Dan juga penulis berterimakasih pada Bapak Drs.Moc. Agus Zaenuri.MT
selaku dosen pengapu yang telah memberikan tugas ini kepda penulis.

Penulis sangat berharap laporan ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengatahuan kita mengenai kekerasan suatu bahan.Penulis juga menyadari sepenuhnya di dalam
laporan ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.Oleh sebab itu,penulis berharap adanya
kritik,saran dan usulan demi perbaikan laporan yang telah penulis buat di masa yang akan
datang.mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga laporan ini dapat dipahami bagi pembaca yang membacanya.Sekiranya laporan yang telah
disusun ini dapat berguna bagi penulis sendiri maupun pembaca yang membacanya.Sebelumnya penulis
mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan penulis mohon kritik dan
saran yang membangaun dari Bapak Drs.Moc.Agus Zaenuri.MT.

Medan ,24 januari 2017

Penyusun

JEFRI ANTO SIHOMBING

1505012013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu
material. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material yang dalam
penggunaannya akan mengalami pergesekan (frictional force) dan deformasi plastis.Deformasi
plastis sendiri adalah suatu keadaan dari sutu material ketika material tersebut diberikan gaya
maka struktur mikro dari material tersebut sudah tidak bias kembali kebentuk asal.artinya
material tersebut tidak dapat kembali kebentuk semula.Lebih ringkasnya kekerasan
didefenisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban indentasi atau
penetrasi (penekanan).
Uji kekerasan dapat digunakan sebagai metode untuk mengetahui pengaruh perlakuan
panas perlakuan dingin terhadap material.Material yang telah mengalami COLD WORKING,HOT
WORKING,dan HEAT TREATMENT,dapat diketahui perubahan kekuatan,dengan mengukur
kekerasan permukaan suatu material.Sehingga dengan uji keras,kita dapat dengan mudah
melakukan quality control terhadap suatu material.

1.2 TUJUAN PERCOBAAN


1. Mengetahui karakteristik suatu material
2. Mengetahui mutu suatu material apakah mempunyai spesifikasi tertentu
3. Mengetahui nilai kekerasan suatu material
4. Memudahkan pemilihan material pembuatan perkakas

1.3 TUJUAN
1.1.1 Tujuan umum
Mahasiswa mampu melakukan pengujian kekerasan (hardness tess) terhadap suatu
material dengan beberapa metode.

1.1.2 Tujuan Khusus


1. Mahasiswa mampu melakukan pengujian kekerasan (hardness tess) terhadap suatu
material dengan metode pengujian kekerasan Brinell
2. Mahasiswa mampu melakukan pengujian kekerasan (hardness tess) terhadap suatu
material dengan metode pengujian kekerasan Rockwell.
BAB II
TEORI DASAR
Kekerasan suatu bahan adalah kemampuan sebuah material untuk menerima beban
tanpa mengalami deformasi plastis yaitu bahan terhadap identasi,tahan terhadap
penggoresan,tahan terhadap aus,tahan terhadap pengikisan(abrasi).Kekerasan suatu bahan
merupakan sifat sutu mekanik yang paling penting,karena kekerasan dapat digunakan untuk
mengetahui sifat-sifat mekanik yang lain,yaitu strength(kekuatan).Bahkan nilai kekuatan Tarik
yang dimiliki suatu material dapat dikonversikan dari kekerasannya.seperti pada gambar 1.

Ada beberapa metode pengujian kekerasan yang digunakan untuk menguji kekerasan
logam,yaitu:
1. Metode pengujian kekerasan Brinell
2. Metode pengujian kekerasan Vickers
3. Metode pengujian kekerasan Rockwell

Dari ketiga metode diatas,yang biasa digunakan hanya dua saja,yaitu Brinell dan Rockwell.
Gambar 2. Mesin pengujian Kekerasan

(Gnem Horgen)

1.2.1 METODE PENGUJIAN KEKERASAN BRINELL

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pengujian kekerasan brinell adalah sebagai berikut:

1. Spesimen harus memenuhi persyaratan:


 Rata dan halus
 Ketebalan minimal 6 mm
 Dapat ditumpu dengan baik dan permukaan uji harus harus horizontal
2. Indonter yang digunakan adalah bola baja yang telah dikeraskan,namun untuk bahan yang
sangat keras (sampai 650 HB) digunakan bola dari karbida tungsten.jarak antara titik pengujian
minimal dua kali diameter tapak identasi.
3. Pemakaian beban (P) dan diameter identor (D) harus memenuhi persyaratan perbandingan
P/D=30 untuk baja,10 untuk tembaga dan paduannya,serta 5 untuk aluminium dan paduannya.
4. Pada pelaksanaannya,pengujian kekerasan ini dilakukan dengan menekan indebtor pada
permukaan specimen selama 10-30 detik.
5. Nilai kekerasan pengujian ini dinyatakan dalam satuan HB (Brinell Hardness Number) yang
dihitung berdasarkan dengan persamaan sebagai berikut:
2P
𝐻𝐵 ∶
(π D)(√D2 − 𝑑2 )
Dimana :

P =Gaya tekan (kgf)

D =Diameter identor bola baja (mm) dan d =Diameter hasil identasi (mm)
Persamaan diperoleh dari :

6 .Penulisan nilai kekerasan ,seperti contoh berikut:


150 HB 2,5/150-10
Dimana :
 150 = Nilai kekerasan
 HB =Metode Pengujian Brinell
 2,5 =Diameter indentor
 150 = Gaya pembebanan (N)
 10 =Waktu pembebanan (detik)
7 .Karena pengukuran dilakukan secara manual,maka terdapat peluang untuk terjadinya
kesalahan ukur.Kesalahan itu mungkin terjadi pada saat pemfokusan pada layar.peletakan alat
ukur pada objek dan pembacaan pengukurannya.

Gambar 2. Indentor Brinnel


1.2.2 METODE PENGUJIAN KEKERASAN ROCKWEL

Keadaan sebelumnya,harga kekerasan Rockwell ditunjukkan dengan perbedaan


kedalaman identasi yang didapatkan dari benda-benda mayor dan minor yang dikenakan.
Cara Rockwell yang relative cepat dan sangat cepat dan sangat cocok untuk pengujian
kuantitas,karena hasil dapat langsung dilihat penunjuk (indicator).
1. Peneretor dengan mata dari permata berbentuk kerucut dengan sudut puncak 120⁰ dan
jari-jari pada bagian puncak 0,2 mm digunakan untuk pengujian :
 Bagian-bagian baja yang dikeraskan
 Pahat
 Komponen dengan permukaan yang dikeraskan
2. Penetrator dengan mata dari bola baja digunakan untuk pengujian :
 Baja yang tidak di perkeras
 Besi tuang
 Perunggu
3. Beban-beban dengan cara Rockwell adalah :
a. Minor =98,07 N
b. Mayor =588,4 N;980,7 N;1471 N
4. Metode kekerasan Rockwell untuk ukuran mendekati sama,hanya perbedaannya adalah
pada bahan yang dikurangi
a. Beban minor =29,42 N
b. Beban mayor =147,1 N;294,1 N;441,3 N

Satuan kekerasan Rockwell menurut superficial,disesuaikan terhadap kedalaman penetrasi sedalam


0,001mm

Gambar 3.Penetran Rockweell


Cara-cara pengujian kekerasan rockweel yang bervariasi yang ditunjukkan dengan huruf C dan B. juga
menunjukkan satuan rockweel.

Kekerasan rockweell dinotasikan dengan symbol HR yang didahului dengan harga kekerasannya dan
dilengkapi dengan huruf yang menunjukkan skalanya/satuannya.

Contoh penulisan nilai kekerasan rockweell:

60 HRC

Dimana: - kekerasan rockweell =60

: -Dengan skla =C

1.2.3 Langkah Kerja Metode Rockweel-C

a. Putar tuas 1 ke 2 dan penetrator akan masuk


b. Putar tuas dari 2 ke 3 dan penetrator akan berada di atas material,Setelah diposisi 3 lalu putar
indicator penunjuk kekerasan ke posisi 0 pada baris C

c. Putar tuas 3 ke 4 dan ditunggu sampai waktu 25 detik.

Setelah 25 detik baru tuas diputar kembali ke posisi 3 dan tulis angka yang ditunjuk oleh
penetrator penunjuk.
Pengujian rockweell dapat disesuaikan dengan table di bawah ini:

Skala Penekanan Beban Skala Warna


Kekerasan Angaka
Awal Utama Jumlah

A Kerucut intan 10 50 60 100 Hitam


120⁰

B Bola baja 1,558 10 90 100 130 Merah


mm(1/16’’)

C Kerucut intan 10 140 150 100 Hitam


120⁰

D Kerucut intan 10 90 100 100 Hitam


120⁰

E Bola baja 3,175 10 90 100 130 Merah


mm(1/8’’)

F Bola baja 1,558 10 50 60 130 Merah


mm

G Bola baja 1,558 10 140 150 130 Merah


mm

H Bola baja 3,175 10 50 60 130 Merah


mm

K Bola baja 3,175 10 140 150 130 Merah


mm

L Bola baja 6,35 10 50 60 130 Merah


mm(1/4’’)

M Bola baja 6,35 10 90 100 130 Merah


mm

P Bola baja 6,35 10 140 150 130 Merah


mm

R Bola baja 12,7 10 50 60 130 Merah


mm(1/2’’)

S Bola baja 12,7 10 90 100 130 Merah


mm

V Bola baja 12,7 10 140 150 130 Merah


mm
Dan skala pada table tersebut dapat di sesuaikan dengan kriteria di bawah ini:

Skala Pemakaiannya
A Untuk carbide cementite,baja tipis,dan baja dengan lapisan keras
B Untuk paduan tembaga,baja lunak,paduan aluminium,dan besi tempa
C Untuk baja,besi tuang keras,besi tempa peritik,titanium,baj dengan lapisan keras yang
dalam,dan bahan-bahan lain yang lebih keras dari pada skala B-100
D Untuk baja tipis, baja dengan lapisan keras yang sedang,dan besi tempa peritik
E Untuk besi tuang,paduan alumanium,magnesium,dan logam-logam bantalan
F Untuk paduan tembag yang dilunakkan dan pelat lunak yang tipis
G Untuk besi tempa,paduan tembaga,nikel seng,dan tembaga nikel
H Untuk alumanium,seng,dan timbal
K Untuk logam,bantalan,dan logam yang sangat lunak lainnya,atau bahan-bahan tipis
L Untuk logam,bantalan,dan logam yang sangat lunak lainnya,atau bahan-bahan tipis
M Untuk logam,bantalan,dan logam yang sangat lunak lainnya,atau bahan-bahan tipis
P Untuk logam,bantalan,dan logam yang sangat lunak lainnya,atau bahan-bahan tipis
R Untuk logam,bantalan,dan logam yang sangat lunak lainnya,atau bahan-bahan tipis
S Untuk logam,bantalan,dan logam yang sangat lunak lainnya,atau bahan-bahan tipis
V Untuk logam,bantalan,dan logam yang sangat lunak lainnya,atau bahan-bahan tipis
BAB III
METADOLOGI
II.I Alat dan bahan
II.I.I Alat

Peralatan-peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah :

a. Mesin uji kekerasan


b. Identor Bola Baja
c. Identor Piramid Intan
d. Obeng
e. Stop watch
f. Kikir

II.I.2 Bahan

a. Spesimen Uji Kekerasan


b. Kertas pasir
c. Tissue

II.2 LANGKAH-LANGKAH KERJA

II.2.1 Metode Brinells

1) Persiapan material uji yang meliputi:


a. Material uji dihaluskan permukaannya yang akan diamati dengan menggunakan kikir
b. Apabila material uji dirasa belum halus dapat dihaluskan kembali dengan menggunakan
kertas pasir dengan grid yang sesuai dan arah yang berbeda 90⁰ dari arah semula
c. Jika sudah selesai,material dikeringkan dengan menggunakan tissue
2) Dibuat 3 titik dengn menggunakan pensil untuk tiap-tiap daerh (BM1 dan BM2) yang akan di
amati
3) Ditentukan beban indentor yang akan digunakan berdasarkan jenis dan diameter indentor 5mm
4) Atur handle Hardness Tess Machine pada posisi Brinelss
5) Letakkan bola baja pada tempat indentasinya
6) Letakkan indentor bola baja pada tempatnya di hardness Test Machine dengan menggunakan
obeng
7) Letakkan pen dengan beban indentasi 500 kgf dan diameter indentor 5mm
8) Letakkan specimen dan atur dengan tepat pada titik penetrasi yang telah ditentukan

9) Geser handle beban dengan tangan kanan pada posisi siap untuk penetrasi

10) Putar hand whell dengan tangan kiri sehingga permukaan specimen tepat menyentuh ujung
indebtor
11) Setelah 25 detik Tarik handle beban dank unci pada tempatnya

12) Nyalakan lampu dana tur posisi specimen serta focus lensa sehingga bekas indentasi tampak
pada layar
13) Ukur diameter indentasi catat pada worksheet yang ada
14) Dilakukan prosedur no.8 sampai dengan no.13 untuk masing-masing titik yang telah ditentukan
BAB IV
DATA,ANALISA DAN PEMBAHASAN DATA
Dari uji kekerasan yang telah dilaksanakan,maka didapatkan berbagai hasil data dengan
menggunakan 2 metode percobaan yaitu:

A. Metode Brinnel
B. Metode Rockwell

III.I.I Data Uji Kekerasan Menggunakan Metode Brinnell

Dalam pengujian dengan menggunakan metode ini,digunakan :

 Indentor =Bola Baja, Ø=5mm


 Gaya Tekan (P) =250 kgf
 Lama pembebanan =20-30 detik

Gambar 3.1 Tembaga setelah uji kekerasan metode Brinnel

Gambar 3.2 Pelat Baja setelah uji kekerasan metode Brinnel


Gamabar 3.3 Aluminium setelah uji kekerasan metode Brinnel

Dengan menggunakan rumus dan cara yang sama dapat di cari BHN dari setiap data,dan BHN dari
setiap data dapat di tampilkan sebagai berikut :

Tabel 3.2 Data Hasil Pengujian Kekerasan Metode Brinnel

No Tembaga Aluminium Pelat Baja


Ø Sebenarnya Nilai HB Ø Sebenarnya Nilai HB Ø Sebenarnya Nilai HB
(kgf/mm) (kgf/mm) (kgf/mm)
1 1,1892mm 221,996 2,3478mm 54,395 1,3606mm 168,807
2 1,2606mm 197,185 2,3896mm 52,383 1,2928mm 187,347
3 1,2810mm 190,951 2,3651mm 53,554 1,3652mm 167,699
Rata-rata 203,3773 160,332 174,6176

Dari hasil pengujian kekerasan logam di dapat :

 Nilai kekerasan Tembaga = 203,3773 HB 5/500-25


 Nilai kekerasan Aluminium = 160,332 HB 5/500-25
 Nilai kekerasan Pelat Baja = 174,6176 HB 5/500-25
Grafik 1
Grafik 2

Grafik 3
III.I.I Data Uji Kekerasan Menggunakan metode Rockwell

Dalam pengujian munggunakan metode ini,digunakan:

 Indentor =Piramid Intan


 Gaya Tekan =150 kgf
 Lama pembebanan =20-30 detik
 Skala satuan =Rockwelll C

Gambar 1 Tembaga setelah uji kekerasan metode Rockwell

Gambar 2 Aluminium setelah uji kekerasan metode Rockwell

Gambar 3 pelat baja setelah uji kekerasan metode Rocwell


Tabel 3.3 Data Hasil Pengujian Kekerasan metode Rockwell

N0 Bahan Uji Jumlah titik P (Kgf) HRC

1 Aluminium Titik 1 150 59

Titik 2 150 56

Titik 3 150 53

Rata-rata 56 HRC

2 Tembaga Titik 1 150 51

Titik 2 150 49

Titik 3 150 48

Rata-rata 49,34 HRC

3 Baja Titik 1 150 42

Titik 2 150 45

Titik 3 150 50

Rata-rata 34,25 HRC


BAB V
KESIMPULAN

Ada pun kesimpulan yang diberikan setelah praktikum yaitu: Sifat dasar material menentukan
kualitas bahan.kita dapat malihat perubahan sifat mekanik pada material dari hasil praktikum .Besaran
sifat material bias ditentukan dan di cari untuk kepentingan dan efisiensi data kerja nyata industry.

Dari hasil praktikum kekerasan,banyak uji metodeyang bisa digunakanuntuk menentukan hasil
kekerasan menggunakaan Metode Brinnel dan Rockwell adalah sebagai berikut:

Menggunakan metode Brinnel :

 Nilai kekerasan Tembaga = 203,3773 HB 5/500-25


 Nilai kekerasan Aluminium = 160,332 HB 5/500-25
 Nilai kekerasan Pelat Baja = 174,6176 HB 5/500-25

Menggunakan Metode Rockwel :

 Nilai kekerasan Aluminium = 56 HRC


 Nilai kekerasan Tembaga = 49,34 HRC
 Nilai kekerasan Baja = 34,25HRC