Anda di halaman 1dari 16

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT JUNI 2017

DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

PENYAKIT AKIBAT KERJA: CARPAL TUNNEL SYNDROME PADA


PENGGUNA KOMPUTER

OLEH:

MUH. FIRDAUS
C111 12 316

PEMBIMBING:
dr. Sultan Buraena, MS, Sp.OK

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Muh. Firdaus


Stambuk : C111 12 316
Universitas : Universitas Hasanuddin Makassar
Judul : Penyakit Akibat Kerja: Carpal Tunnel Syndrome pada
Pengguna Komputer

Telah menyelesaikan tugas laporan hasil survey dan artikel dengan judul
tersebut di atas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin Makassar.

Makassar. Juni 2017

Pembimbing,

dr. Sultan Buraena, MS, Sp.OK

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. ii

DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

ARTIKEL PENELITIAN ................................................................................ 1

STATUS OKUPASI ........................................................................................ 13

LAPORAN WALK THROUGH SURVEY......................................................23

iii
ARTIKEL PENELITIAN
Penyakit Akibat Kerja: Carpal Tunnel Syndrome pada Pengguna
Komputer
Muh. Firdaus
Sub-departemen Kedokteran Okupasi, Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin

ABSTRAK Stres postural akibat posisi


Latar belakang : Dari data ergonomik yang buruk saat
profil masalah kesehatan kerja tahun menggunakan komputer seperti lokasi
2006, Direktorat Bina Kesehatan Kerja monitor, keyboard atau mouse telah
Departemen Kesehatan RI menyatakan menunjukkan hubungan dengan
3 Penyakit Akibat Kerja (PAK) masalah muskuloskeletal.2
terbesar menurut sektor formal dan Berdasarkan penelitian yang
informal, diantaranya penyakit dilakukan K. Mohamed Ali pada tahun
muskuloskeletal yang menempati 2006, yang meneliti prevalensi carpal
persentase terbesar yaitu 13,8 (formal) tunnel syndrome pada pengguna
dan 18,9 (informal), penyakit komputer profesional, maka didapatkan
kardiovaskuler dengan persentase risiko menderita CTS lebih tinggi pada
sebesar 7,6 (formal) dan 8,2 (informal) pengguna komputer profesional.2
dan gangguan syaraf dengan persentase Sementara itu penelitian yang
sebesar 6,2 (formal) dan 6,3 dilakukan oleh Sally Adel Hakim pada
(informal).1 tahun 2012 menyimpulkan bahwa
Saat ini, komputer telah carpal tunnel syndrome adalah suatu
digunakan pada hampir seluruh dunia, kondisi yang sering terjadi diantara
menyebabkan peningkatan jam kerja di pengguna komputer. Faktor ergonomik
depan komputer yang lebih lama. yang baik dapat membantu mengurangi
Beberapa penelitian telah menunjukkan risiko terkena penyakit ini.3
hubungan yang positif antara Metode : Penelitian ini
penggunaan komputer dan gejala menggunakan metode penelitian
muskuloskeletal.2 deskriptif dengan pendekatan
retrospektif melalui proses walk

1
through survey. Subjek penelitian ini barang yang dilakukan secara berulang
yaitu, pengguna komputer pada – ulang dalam jangka waktu yang
pengiriman barang yang bertugas untuk sangat lama, dimana waktu istirahat
menginput dengan menggunakan tidak sepadan dengan waktu bekerja.
komputer dan juga mengemas barang Pasien bekerja selama 8 jam dalam
yang akan dikirim. Data yang sehari dan fasilitas yang digunakan
digunakan berupa kebiasaan responden pada kasus ini adalah pasien bekerja
dan data faktor-faktor pencetus Carpal pada proses proses menginput barang
Tunnel Syndrome, seperti faktor fisik dengan menggunakan komputer,
dan lingkungan kerja. Data pengukuran pengemasan barang dan proses
adanya keluhan kram-kram pada pembayaran.
tangan dengan menggunakan check list. Kesimpulan : Adanya potensi yang
Sampel dalam penelitian ini adalah dapat disebabkan faktor fisik dan
pasien dengan gejala Carpal Tunnel ergonomis berupa kerja berlebih dan
Syndrome. Distribusi sampel penelitian pekerjaan yang harus dilakukan secara
berdasarkan jenis pekerjaan yang berulang-ulang, maka sebaiknya
dilakukan didapatkan hasil 1 pekerja pengguna komputer pada petugas
dari 4 pekerja mengalami keluhan pengiriman barang dapat diberikan
Carpal Tunnel Syndrome. waktu istirahat yang sepadan, dan
Hasil : Pada penelitian kali ini difasilitasi alat yang otomatis.
didapatkan bahwa dari 4 orang Kata Kunci : Penyakit Akibat Kerja,
responden yang diwawancarai yaitu Carpal Tunnel Syndrome, Pengguna
sebanyak 1 responden (25%) yang Komputer
mengalami Carpal Tunnel Syndrome
sedangkan responden yang tidak
mengalami keluhan Carpal Tunnel
Syndrome yaitu sebanyak 4 responden
(75%). Faktor yang dominan
berpengaruh dalam Carpal Tunnel
Syndrome berupa faktor fisik dan
ergonomis yaitu pekerjaan mengemas

2
LATAR BELAKANG METODE
Saat ini, komputer telah Penelitian ini menggunakan
digunakan pada hampir seluruh dunia, metode penelitian deskriptif dengan
menyebabkan peningkatan jam kerja di pendekatan retrospektif melalui proses
depan komputer yang lebih lama. walk through survey. Data yang
Beberapa penelitian telah menunjukkan digunakan berupa kebiasaan responden
hubungan yang positif antara dan data faktor-faktor pencetus
penggunaan komputer dan gejala terjadinya tendinitis, seperti faktor fisik
muskuloskeletal.2 dan lingkungan kerja. Data pengukuran
Stres postural akibat posisi adanya keluhan kram-kram pada
ergonomik yang buruk saat bekerja telapak tangan dengan menggunakan
dengan komputer seperti lokasi check list. Sampel dalam penelitian ini
monitor, keyboard atau mouse telah adalah pasien dengan gejala Carpal
menunjukkan hubungan dengan Tunnel Syndrome.
masalah muskuloskeletal.2 Bahan yang digunakan pada
Berdasarkan penelitian yang survei ini adalah checklist yang di
dilakukan K. Mohamed Ali pada tahun buat. Checklist ini dibuat berdasarkan
2006, yang meneliti prevalensi carpal informasi yang diperlukan dari tujuan
tunnel syndrome pada pengguna survei dilakukan. Pada survei ini,
komputer profesional, maka didapatkan informasi yang diperlukan adalah ada
risiko menderita CTS lebih tinggi pada tidaknya faktor hazard, alat kerja apa
pengguna komputer profesional.2 yang digunakan, ketersediaan obat P3K
Sementara itu penelitian yang di tempat kerja, keluhan atau penyakit
dilakukan oleh Sally Adel Hakim pada yang dialami pekerja dan upaya
tahun 2012 menyimpulkan bahwa pengetahuan mengenai K3 kepada
carpal tunnel syndrome adalah suatu pengguna komputer pada petugas
kondisi yang sering terjadi diantara pengiriman barang.
pengguna komputer. Faktor ergonomik Peralatan yang diperlukan
yang baik dapat membantu mengurangi untuk melakukan walk through survey
risiko terkena penyakit ini.3 antara lain:

3
 Alat tulis menulis: Berfungsi kadar kuantitas eksposur atau
sebagai media untuk pencatatan kesehatan okupasi mengenai risk
selama survey dilakukan. assessment.
 Kamera digital: Berfungsi sebagai Walk Through Survey ini
alat untuk memotret kegiatan dan bertujuan untuk memahami proses
lingkungan di Minimarket pengadaan barang, denah tempat kerja
Indomaret BPS Plus. dan lingkungannya secara umum.
 Check List: Berfungsi sebagai alat Selain itu, mendengarkan pandangan
untuk mendapatkan data primer pekerja dan pengawas tentang K3,
mengenai survey yang dilakukan. memahami pekerjaan dan tugas-tugas
Cara survey yang dilakukan pekerja, mengantisipasi dan mengenal
adalah dengan menggunakan Walk potensi bahaya yang ada dan mungkin
Through Survey. Teknik Walk Through akan timbul di tempat kerja atau pada
Survey juga dikenali sebagai petugas dan menginventaris upaya-
Occupational Health Hazards. Untuk upaya K3 yang telah dilakukan
melakukan survei ini, dapat dimulai mencakup kebijakan K3, upaya
dengan mengetahui tentang manajemen pengendalian, pemenuhan peraturan
perencanaan yang benar, berdiskusi perundangan dan sebagainya.
tentang tujuan melakukan survey, dan Survey dilakukan di PO Bus
menerima keluhan-keluhan baru yang Manggala Trans, dengan jadwal survey
relevan. selama 5 hari, yaitu :
Bahaya apa dan dalam situasi
yang bagaimana bahaya dapat timbul,
merupakan sebagai hasil dari
penyelenggaraan kegiatan Walk
Through Survey. Mengenal bahaya,
sumber bahaya dan lamanya paparan
bahaya terhadap pekerja.
Pihak okupasi kesehatan dapat
kemudian merekomendasikan
monitoring survey untuk memperoleh

4
No Tanggal Kegiatan Jumlah responden keseluruhan
1 5 Juni a. Penerimaan dibagian yang berjumlah 4 orang yang mana
2017 K3 RS Ibnu Sina dari keseluruhan responden bekerja
b. Pengarahan Kegiatan sebagai pengguna komputer yang
c. Penentuan judul dan bertugas pada pengiriman barang.
lokasi survey Dari rencana waktu yang telah
d. Penyusunan proposal ditetapkan, terkumpul data yang
survey didapatkan dari check list yang
e. Walk Through dibuat. Dari hasil check list diperoleh
Survey 1 pekerja seorang perempuan usia 20
2 6 Juni Penyusunan laporan tahun mengaku mengeluhkan adanya
2017 hasil Walk Through gejala kram-kram pada telapak tangan
Survey setelah mengerjakan pekerjaan
3 7 Juni a. Penyusunan laporan mengetik/menginput data, mengemas
2017 hasil Walk Through barang, menerima transaksi sejak 3
Survey bulan yang lalu, namun saat ini pasien
b. Penyusunan status tidak terlalu mengeluhkan hal
okupasi tersebut. Kram-kram yang dirasakan
4 8 Juni Penyusunan artikel tidak terus menerus, dan terasa seperti
2017 penyakit akibat kerja kesetrum hingga ujung jari-jari
5 9 Juni Presentasi artikel tangan. Pada awal terkena, pasien lalu
2017 penyakit akibat kerja mengibas-ngibaskan tangannya, dan
mengistirahatkan tangan yang kram-
HASIL kram. Pasien belum pernah
Pada penelitian ini diambil memeriksakan diri ke dokter. Pasien
sampel dari pengguna komputer yang sering melakukan pekerjaan yang
bertugas pada pengiriman barang di PO berulang-ulang yang dapat
Bus Manggala Trans, dari perhitungan menyebabkan timbulnya gejala carpal
sampel didapatkan sampel sebanyak 1 tunnel syndrome. Prevalensi penyakit
dari 4 karyawan (total jumlah akibat kerja berupa Carpal Tunnel
karyawan yang diwawancarai). Syndrome yang didapatkan dari

5
responden sebesar 25 %. Faktor yang Anatomi
dominan berpengaruh dalam Carpal Carpal tunnel adalah suatu
Tunnel Syndrome berupa faktor fisik terowongan fibro-osseous yang
yaitu beban belanjaan yang harus dibentuk oleh tulang-tulang karpal dan
dikemas, dan faktor ergonomis berupa flexor retinaculum. Komponen tulang
pekerjaan yang dilakukan secara pada carpal tunnel membentuk suatu
berulang-ulang . Pasien bekerja selama lengkungan, yang dibentuk oleh empat
8 jam dalam sehari dan fasilitas yang tonjolan tulang - di proksimal oleh
digunakan pada kasus ini adalah tulang pisiformis dan tubercle of
computer yang digunakan dalam scaphoid dan di distal oleh hook of
menginput belanjaan konsumen. hamate dan tubercle of trapezium.
Dari 4 orang responden yang Tendon palmaris longus di superfisial
diwawancarai yaitu sebanyak 1 berjalan anterior menuju ke flexor
responden (25%) yang mengalami retinaculum untuk menyatu dengan
gejala carpal tunnel syndrome fasia palmaris. Di bawah fasia
sedangkan responden yang tidak palmaris, suatu ligamen membentuk
mengalami keluhan carpal tunnel batas superfisial dari carpal tunnel,
syndrome yaitu sebanyak 4 responden yang disebut ligamen karpal
(75 %). Berdasarkan penelitian yang transversal. Ligamen flexor
telah dilakukan pada satu pekerja retinaculum dan karpal transversal
tersebut, titik keluhan berupa rasa dianggap merupakan istilah yang sama
kram-kram pada telapak tangan. (sinonim) oleh berbagai penulis.
Epidemiologi
DISKUSI CTS merupakan cedera akibat
Definisi pekerjaan yang kedua terbanyak setelah
CTS adalah kumpulan gejala nyeri punggung bawah. Sindroma ini
akibat penekanan pada nervus paling sering mengenai populasi usia
medianus oleh ligamentum karpal 30-60 tahun, dengan perbandingan
transversal, di dalam terowongan wanita dan pria 3-5 : 1 dan lebih dari
karpal pada pergelangan tangan.4 50% kasus terjadi secara bilateral.
Insidensi tahunan diperkirakan 120 per

6
100.000 wanita dan 60 per 100.000 penggunaan komputer dan gejala
pria. Insidensi tampaknya meningkat muskuloskeletal.2
dengan pertambahan usia pada laki-laki Stres postural akibat posisi
namun insidensi puncak pada wanita ergonomik yang buruk saat
adalah pada usia 45-54 tahun.4 menggunakan komputer seperti lokasi
Dari 30 studi epidemiologis monitor, keyboard atau mouse telah
yang meneliti adanya hubungan antara menunjukkan hubungan dengan
faktor lingkungan kerja terhadap masalah muskuloskeletal.2
kejadian Carpal Tunnel Syndrome, Berdasarkan penelitian yang
didapatkan data bahwa terdapat dilakukan K. Mohamed Ali pada tahun
hubungan yang kuat antara pekerjaan 2006, yang meneliti prevalensi carpal
repetitive, pekerjaan berat,postur tunnel syndrome pada pengguna
ekstrim, terhadap angka kejadian komputer profesional, maka didapatkan
Carpal Tunnel Syndrome, dan terdapat risiko menderita CTS lebih tinggi pada
hubungan yang sangat kuat antara pengguna komputer profesional.2
kombinasi beberapa faktor diatas Sementara itu penelitian yang
terhadap kejadian Carpal Tunnel dilakukan oleh Sally Adel Hakim pada
Syndrome pada karyawan. 5 tahun 2012 menyimpulkan bahwa
Data statistik menunjukkan carpal tunnel syndrome adalah suatu
bahwa terdapat beberapa pekerjaan kondisi yang sering terjadi diantara
yang menjadi faktor risiko terjadinya pengguna komputer. Faktor ergonomik
carpal tunnel syndrome, yaitu yang baik dapat membantu mengurangi
pekerjaan seperti kasir, karyawan yang risiko terkena penyakit ini.3
selalu mengetik, banker, operator Etiologi
telepon, dan banyak pekerjaan lainnya.6 Terdapat beberapa etiologi dari
Saat ini, komputer telah CTS, walaupun sebagian besar bersifat
digunakan pada hampir seluruh dunia, idiopatik. Kasus idiopatik selama ini
menyebabkan peningkatan jam kerja di dianggap sebagai suatu tenosynovitis
depan komputer yang lebih lama. ligamen karpal transversal. Namun
Beberapa penelitian telah menunjukkan begitu, temuan patologis hanya
hubungan yang positif antara menunjukkan sedikit bukti adanya

7
inflamasi sedangkan temuan yang lebih Kompresi saraf kronis
sering adalah edema, sklerosis vaskular merupakan akibat dari berbagai
dan fibrosis yang paling sesuai dengan mekanisme trauma seperti traksi,
stress berulang pada jaringan ikat. gesekan, dan tekanan berulang.
Sejumlah kondisi seperti gangguan Jaringan saraf merupakan struktur yang
anatomi, penyakit inflamasi, dan statis, ketika terjadi pergerakan tungkai
gangguan metabolik dapat atau sendi, jaringan saraf harus
menyebabkan atau memperberat gejala. beradaptasi dan bergerak dengan
Penyebab utama CTS adalah perlahan beberapa millimeter di
kompresi nervus medianus di dalam sepanjang perjalanannya. Jaringan saraf
terowongan karpal. Kompresi ini melewati berbagai kanalis yang sempit
berhubungan dengan peningkatan secara anatomis mulai dari foramen
tekanan di dalam kanalis karpal. Setiap vertebra ke bagian yang paling distal
kanal memiliki kapasitas yang tetap; dari ekstremitas. Kanal-kanal ini tidak
oleh sebab itu, tiap kondisi yang memiliki titik tetap, oleh karena itu,
memprovokasi suatu perluasan di jaringan saraf harus dapat bebas
dalam kanal akan secara langsung meluncur di dalamnya. Edema jaringan
meningkatkan tekanan internal dan lokal sekitarnya, bahkan dalam jumlah
akibatnya menekan nervus medianus. yang kecil sekalipun, dapat
Adanya anomali kandungan (isi) dalam mengganggu gerakan saraf pasif
kanal dan posisi dari struktur (gliding). Saat terjadi pergerakan
internalnya akan menurunkan rongga anggota badan, jaringan saraf yang
kanalis yang tersedia. Kandungan yang tidak terlalu mobile akan mengalami
anomali ini mencakup edema, peregangan, sehingga menyebabkan
inflamasi, perdarahan, deposit substan kerusakan yang tersembunyi, seperti
patologis, dan/atau kondisi seperti iritasi, edema dan atau microinjuries
amyloidosis, dsb. Penyebab sistemik yang menyebabkan pembentukan bekas
CTS yang paling sering dijumpai luka (scar adhesions). Jaringan parut
adalah DM, rheumatoid arthritis dan menyebabkan peningkatan tekanan
hipotiroidisme.4 lokal dan mengurangi nerve gliding,
sehingga menyebabkan kompresi saraf

8
permanen. Jenis kompresi ini sering seperti mengemudi atau memegang
disebut “nerve entrapment”.4 telepon, buku atau koran.7
Manifestasi Klinis Keluhan sensorik dapat berupa
CTS dapat muncul dengan hipestesi hingga anestesi. Pasien dapat
berbagai gejala dan tanda. Walaupun mengalami peningkatan intensitas rasa
biasanya bilateral, tangan yang kebas, tingling dan disestesia pada
dominan biasanya lebih berat terkena, malam hari, dan dapat terbangun dari
terutama pada kasus-kasus idiopatik. itidur. Fenomena ini dikenal dengan
Gejala CTS bervariasi sesuai dengan brachialgia paresthetica nocturna.
keparahan penyakit. Pada tahap awal, Saat tidur, fleksi atau ekstensi
pasien biasanya mengeluhkan gejala pergelangan tangan yang persisten
akibat keterlibatan komponen sensorik menyebabkan peningkatan tekanan
dari nervus medianus. Gejala yang pada terowongan karpal, iskemia saraf,
paling sering adalah nyeri yang disertai dan akibatnya parestesi. Pasien sering
kebas dan kesemutan pada daerah terbangun dari tidur dan perlu
distribusi nervus medianus distal dari menggoyangkan tangannya untuk
pergelangan tangan. Daerah yang menghilangkan rasa nyeri.7
terlibat biasanya adalah ibu jari, jari Gambaran klinis CTS awal atau
telunjuk dan jari tengah, dan sisi radial ringan biasanya hanya berupa
dari jari manis. Pasien mengeluhkan gangguan sensorik, namun pada kasus-
nyeri pada pergelangan tangan dan kasus yang lebih berat sering
lengan yang berkaitan dengan parestesi melibatkan kelemahan dan atrofi otot
pada tangan. Nyeri dapat terlokalisir APB, dan hanya sekitar 40% pasien
pada pergelangan tangan, atau dapat yang awalnya muncul dengan hipotrofi
menjalar ke lengan bawah, lengan atau atau atrofi tenar. 7
yang lebih jarang, ke bahu. Gejala- Penatalaksanaan
gejala dapat diprovokasi dengan postur Penatalaksanaan CTS dapat
fleksi atau ekstensi pergelangan tangan. diklasifikasikan menjadi bedah dan
Paling umum dijumpai, hal ini terjadi non-bedah. Metode non-bedah efektif
saat melakukan aktivitas sehari-hari, pada pasien dengan CTS ringan-
sedang, dan diindikasikan pada pasien

9
tanpa kelemahan otot dan atrofi, tidak VAS, tes Tinel’s dan Phalen’s.
ada denervasi (pada pemeriksaan EMG Tindakan dekompresi bedah
jarum), dan abnormalitas ringan pada diindikasikan pada pasien-pasien yang
pemeriksaan KHS. Berbagai metode simptomatik dan gagal dengan terapi
non-bedah mencakup : penggunaan konservatif. Tindakan bedah
bidai pergelangan tangan, terapi diindikasikan pada hampir semua
ultrasonik, terapi laser, steroid oral, pasien dengan CTS sedang-berat. Dua
obat anti inflamasi non steroid tipe pendekatan bedah adalah : open
(OAINS), vitamin B6 oral, injeksi lokal dan endoscopic release. 7
kortikosteroid dan sebagainya.
Efektivitas injeksi kortikosteroid KETERBATASAN PENELITIAN
dibandingkan intervensi lain untuk Penelitian ini tentunya tidak
terapi CTS masih dalam penelitian. terlepas dari keterbatasan, adapun
Suatu studi RCT membandingkan 40 keterbatasan dari penelitian ini adalah
mg metilprednisolon dengan 10 mg checklist yang dibuat hanya
lidokain dengan 10 mg lidokain saja menentukan hubungan penyakit akibat
yang diinjeksikan 4 cm proksimal dari kerja, tapi tidak dapat menentukan
pergelangan tangan. Setelah 1 bulan, insidens, berat ringannya penyakit dan
individu yang mendapat injeksi prognosis penyakit. Demikian pula
kortikosteroid menunjukkan perbaikan untuk survey menilai faktor psikososial
signifikan namun setelah 3 bulan tidak akibat kerja, diagnosisnya hanya
terdapat perbedaan secara statistik pada bersifat subjektif, tidak dapat diketahui
keparahan klinis antara kedua grup. 7 kapan stressor muncul. Keterbatasan
Suatu studi lain lainnya adalah tidak dilakukan
membandingkan injeksi dengan pemeriksaan yang menyeluruh
OAINS dan bidai. Pada studi ini terhadap seluruh responden, karena
dilakukan penyuntikan 40 mg keterbatasan sarana pemeriksaan, dan
prednisolone 4 cm proksimal dari keterbatasaan waktu penelitian. Selain
pergelangan tangan, pengukuran itu, subjek yang diteliti pada penelitian
outcome nya dilakukan setelah 2 dan 8 ini berjumlah hanya 4 orang sehingga
minggu dengan symptom severity scale, data yang dikumpulkan tidak cukup

10
untuk menyimpulkan hubungan Syndrome pada pengguna
penyakit akibat kerja di seluruh komputer yaitu pemberian waktu
perusahan otobus. Untuk menganalisis istirahat yang memadai bagi, dan
faktor terjadinya kasus penyakit atau menambah pekerja agar beban
keluhan lain perlu diketahui riwayat yang diberikan pada karyawan
penyakit terdahulu dan riwayat dapat terbagi.
pekerjaan di tempat lain yang mungkin
berhubungan dengan keluhan yang SARAN
dirasakan sekarang. 1. Sebaiknya petugas komputer
Perlu penelitian yang lebih diberikan waktu istirahat yang
mendalam dan pemeriksaan yang lebih memadai, dan menambah pekerja
lengkap untuk dapat menilai secara agar beban yang diberikan pada
keseluruhan penyebab dari keluhan karyawan dapat terbagi.
yang dirasakan oleh pekerja.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian di PO Bus
Manggala Trans, dapat kami simpulkan
bahwa:
1. Faktor dan potensi bahaya yang
dapat ditimbulkan dari faktor
fisik berupa biomekanik dan
faktor ergonomis yaitu kerja
berlebih dan melakukan
pekerjaan yang berulang-ulang
dapat meningkatkan resiko
kejadian Carpal Tunnel
Syndrome pada pengguna
komputer.
2. Upaya penanganan mengurangi
angka kejadian Carpal Tunnel

11
DAFTAR PUSTAKA : Cincinnati, OH: U.S.
Department of Health and
1. Ramli, Soehatman. 2010. Sistem
Human Services.
Manajemen Keselamatan &
Kesehatan Kerja OHSAS 18001.
6. Costa R et al. An
Jakarta: Dian Rakyat
epidemiological profile of
cashiers holders carpal tunnel
2. Ali KM et al. Computer
syndrome in a grocery store
Professionals and Carpal Tunnel
chain. IOS Press. 2012: 5794 –
Syndrome. International Journal
5798.
of Occupational Safety and
Ergonomics. 2006
7. Huldani. Carpal tunnel
3. Hakim SA. Prevalence and
syndrome. Univ. Lambung
factors associated with carpal
Mangkurat.2013
tunnel syndrome amog a group
of computer professionals.The
Egyptian Journal of Community
Medicine. 2012.
4. Newington et al. Carpal Tunnel
Syndrome and Work. Best Pract
Res Clin Rheumatol. 2015 June.
5. Bernard, B.P., editor. , ed. 1997.
b Musculoskeletal Disorders and
Workplace Factors: A Criticial
Review of Epidemiologic
Evidence for Work-Related
Musculoskeletal Disorders of the
Neck, Upper Extremity, and
Low Back . Publication No. 97-
141. National Institute for
Occupational Safety and Health.

12
13