Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

AVERTEBRATA AIR
“CRUSTACEA”

Disusun oleh:
Riko
(2021611035)

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan Rahmat dan


Karunia-Nya, sehingga penulis dapat merampungkan laporan praktikum
avertebrata air dengan judul: “pengamatan spesies dari filum Crustacea ”.
Laporan ini dapat tersusun tak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh
karena itu penulis berikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada,
1. Kedua orang tua yang senantiasa mendo’akan penulis dan segala fasilitas
yang mereka berikan
2. Dosen pengampu yang menyampaikan materi dengan baik
3. Asisten dosen yang membimbing penulis dalam praktikum
4. Teman-teman yang bekerja sama dengan baik pada saat praktikum
Akhir kata penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini
masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, penulis memohon saran dan
kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaannya dan semoga
bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

Balunijuk, 04 Maret 2017,


penulis

Riko
2021611035

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................... ii


Daftar Isi................................................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................................. 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 2


2.1 Filum Arthropoda ................................................................................ 2
2.2 Crustaceae ........................................................................................... 3
2.3 Klasifikasi Crustacea ........................................................................... 7
2.4.Peranan Crustacea .............................................................................. 8

BAB III. METODOLOGI ................................................................................. 10


3.1 Waktu dan Tempat .............................................................................. 10
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................... 10
3.3 Cara Kerja ........................................................................................... 10

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 11


4.1 Hasil .................................................................................................... 11
4.1.1 Hasil Penaeus monodon .......................................................... 11
4.1.2 Hasil Ocypode ceratophthalma ............................................... 11
4.1.3 Hasil Portunuspelagicus ......................................................... 11
4.1.4 Hasil Thenus orientalis ........................................................... 11
4.2 Pembahasan ......................................................................................... 12
4.2.1 Penaeus monodon ...................................................................... 12
4.2.2 Ocypode ceratophthalma ........................................................... 13
4.2.3 Portunuspelagicus ...................................................................... 14
4.2.4 Thenus orientalis ........................................................................ 15

BAB V. KESIMPULAN .................................................................................... 17


5.1 Simpulan.............................................................................................. 17
5.2 Saran .................................................................................................... 17
Daftar Pustaka
Lampiran

iii
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Crustacea adalah suatu kelompok besar dari arthropoda, terdiri dari
kurang lebih 52.000 spesies yang terdeskripsikan, dan biasanya dianggap suatu
subfilum. Kelompok ini mencakup hewan-hewan yang cukup dikenal seperti
lobster, kepiting, udang dan lainnya. Mayoritas merupakan hewan air, baik air
tawar maupun air laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan
darat contohnya kepiting darat.
Crustacea termasuk filum Arthropoda (hewan berkakai ruas). Tubuh
Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu
(sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen). Bagian sefalotoraks
dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri
dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di
sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas, rahang bawah.
Sementara pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian
ujungnya terdapat ekor.
Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk
menyimpan telurnya. Golongan hewan ini bersifat diesis (ada jantan dan
betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina(fertilisasiinternal).
Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami pergantian kulit
(ekdisis) berkali-kali. Untuk lebih jelasnya pada makalah ini akan dibahas
mengenai ciri umum crustacea, struktur tubuh anatomi dan fisiologi, peranan
crustacea serta klasifikasinya.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dapat mengamati dan mengetahui morfologi, anatomi
dan fisiologi dari spesies yang termasuk dalam filum Crustacea dan menyusun
klasifikasinya.

1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Filum Arthropoda


Arthropoda (dalam bahasa latin, Arthra = ruas , buku, segmen ; podos =
kaki), merupakan hewan yang memiliki ciri kaki beruas, berbuku, atau
bersegmen. Segmen tersebut juga terdapat pada tubuhnya. Tubuh
Arthropoda merupakan simetri bilateral dan tergolong tripoblastik selomata.
Semua jenis hewan yang termasuk filum arthropoda memiliki tubuh dan kaki
yang beruas-ruas. Tubuhnya tertutup dengan kitin sebagai rangka luarnya.
Filum Arthropoda adalah filum yang paling besar dalam dunia hewan dan
mencakup serangga, laba-laba, udang, lipan dan hewan mirip lainnya.
Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku. Empat dari lima bagian
dari spesies hewan adalah Arthropoda, dengan jumlah diatas satu juta spesies
modern yang ditemukan dan rekor fosil yang mencapai awal Cambrian.
Arthropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan
udara, serta termasuk berbagai bentuk simbiotis dan parasit. Hampir 90% dari
seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah Arthropoda. Arthropoda
dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalah Peripetus di
Afrika Selatan.
Sistem tubuh filum Arthropoda adalah:
1. Pencernaan : saluran pencernaan dari mulut sampai anus.
2. Pernapasan : Insang pada hewan air dan trakea pada hewan darat. Tetapi
sebagian besar bernapas dengan Trakea Udara masuk ke dalam system
pernapasan melalui celah kecil yang disebut spirakel. Udang bernapas dengan
insang, sedangkan laba-laba bernapas dengan paru- paru buku.
3. Transport : Peredaran darah terbuka. Jantung terletak di bagian tubuh atas
yang memompadarah ke bagian dalam tubuh. Darah lalu kembali ke jantung
secara difusi.
4. Sistem saraf : Jaringan saraf tetapi bukan otak dan kepala.
5. Pengeluaran : Sampah dikeluarkan melalui nefridia.

2
Beberapa ciri-ciri umum Arthropod, antara lain sebagai berikut.
1. Semua Arthropoda memiliki perpanjangan tubuh (apendiks) bersendi,
termasuk kaki dan antenanya. Dengan adanya sendi dan perpanjangan tubuh,
maka arthropoda dapat bergerak lebih bebas dan lentur.
2. Tubuhnya simetri bilateral dan bersegmen-segmen. Pada beberapa spesies,
segmen tubuh ada yang menyatu membentuk kepala, dada, dan perut.
3. Semua Arthropoda memiliki kepala yang terpisah dengan dada. Namun,
udang dan laba-laba memiliki kepala dan dada yang menyatu membentuk
sepalotoraks.
4. Memiliki rangka luar (eksoskeleton) yang terbuat dari kitin.
5. Memiliki mata majemuk. Mata majemuk ( faset ) terdiri dari ribuan satuan
penyusun mata yang disebut omatidium Beberapa jenis Arthropoda memiliki
mata berlensa tunggal yang disebut oselus yang hanya dapat membedakan
keadaan gelap dan terang.
6. Alat pengeluaran arthropoda darat berupa buluh malpigi. Filum Arthropoda
dibagi menjadi empat subkelas yaitu crustacea, myriapoda, arachnida dan
insecta (Budi, 2011).
2.2 Crustaceae
Setiap anggota Crustacea subphylum (Arthropoda phylum), kelompok
hewan invertebrata yang terdiri dari beberapa spesies 45.000 didistribusikan di
seluruh dunia, pada umumnya hidup di air (akuatik), ada yang hidup di laut, air
tawar, dan di tempat yang lembab. Crustacea yang hidup di laut sebagian besar
merupakan zooplankton. Ukuran tubuh bervariasi, ada yang kecil (plankton)
sampai dengan ukuran yang besar, seperti kepiting dan udang. Anggota
Crustacea antara lain meliputi udang, teritip, dan lobster. Beberapa larva dari
beberapa spesies anggota kelas ini tingga di dalam
liang, sedangkan yang lain bersifat pelagic, bahkan ada yang menghuni laut dal
am. Sebagian besar hidup bebas dan ada yang hidup dalam kelompok-
kelompok besar.
1. Morfologi dan Anatomi
Permukaan tubuh crustacea dilindungi kutikula yang tersusun dari zat
kitin yang ditambah dengan garam-garam mineral dan bersifat sangat keras.

3
Tubuhnya dibedakan menjadi sefalotoraks dan abdomen yang terdiri dari
segmen-segmen (kepala 5, torak 8, dan abdomen 6) masing-masing dengan
satu pasang anggota tubuh yang terdiri atas ruas-ruas. Setiap segmen tubuh
dibedakan atas tergum (bagian dorsal), sternum (bagian ventral), pleura
(lateral tubuh) (Kastawi, 2009). Sefalotoraks terdiri atas 13 segmen yang
terlindung oleh karapak. Ujung anterior karapak merupakan rostrum. Antena
dan antenula merupakan struktur indera. Kaki jalan berfungsi untuk bergerak,
memegang makanan, dan membersihkan tubuhnya. Kaki renang sebagai alat
renang, respirasi, dan pembawa telur pada hewan betina (Kastawi, 2009).
2. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan terdiri atas mulut, esophagus, lambung, usus, dan
anus. Lambung dibedakan atas dua bagian yaitu bagian yang besar (anterior)
disebut kamar kardiaka dan yang kecil adalah pylorus. Usus merupakan tabung
kecil yang mengarah ke arah posterior tubuh dan bermuara pada anus yang
terletak pada permukaan ventral telson. Di dalam usus terjadi penyerapan zat-
zat makanan oleh dinding usus (Kastawi, 2009). Makanan udang
pada prinsipnya adalah hewan-hewan yang masih hidup antara lain, siput,
berudu, larva insekta, dan ikan-ikan kecil. Namun udang juga memakan
material organik yang membusuk.
3. Sistem Sirkulasi
Alat peredaran terdiri atas darah dan pembuluh darah. Darah terdiri atas
cairan darah yang hampir tidak berwarna dan corpuscula darah atau amoebocyt
yang berupa sel-sel ameboid. Fungsi darah yaitu mengangkut material
makanan dari satu bagian tubuh ke bagian yang lain,mengangkut oksigen dari
insang menuju jaringan-jaringan tubuh, mengangkut CO2 menuju ke insang
dan mengangkut urea menuju alat ekskresi (Kastawi, 2009).
4. Sistem Respirasi
Diantara bagian lateral karapak dan dinding badan terdapat rongga-
rongga atau kamar-kamar yang berisi insang dan bagian ventral kamar tersebut
terbuka. Insang merupakan penjuluran dinding badan yang berbentuk
bulu dan mengandung pembuluh darah. Skafognatit (bagian berbentuk sadel)

4
dari maxilla II bergerak ke depan dan ke belakang menarik air yang kaya
oksigen menuju ke filamen insang (Kastawi, 2009).
5. Sistem Ekskresi
Alat ekskresi berupa sepasang bangunan yang lebar, disebut “kelenjar
hijau” terletak di bagian bawah kepala, anterior esophagus. Setiap kelenjar
terdiri atas bagian glanduler berwarna hijau, vesica urinaria, terbentuk dari dilat
asi dinding yang tipis dan saluran yang bermuara keluar melalui suatu pori terle
tak di bagian ventral pada segmen basal antena. Fungsi kelenjar hijau adalah
membuang sisa metabolisme tubuh (Kastawi, 2009).
6. Sistem Saraf
Sistem saraf udang mirip cacing tanah, tetapi relative lebih besar.
Sistem saraf terdiri atas ganglion supraesofageal (otak) yang bercabang ke
saraf-saraf mata, antenula, dan antenna. Sepasang saraf penghubung yang
berhubungan dengan ganglion subesophageal yang terletakdi belakang mulut
bagian ventral (Kastawi, 2009).
7. Sistem Reproduksi
Udang bersifat diesius, yang betina memiliki abdomen yang lebih besar
di bandingkan yang jantan. Alat reproduksi udang jantan terdiri atas
sepasang testis, sepasang vas deferens, dansepasang vesikula seminalis. Alat
reproduksi udang betina terdiri atas sepasang ovari dan sepasang oviduk
(Kastawi, 2009). Pembuahan terjadi di luar tubuh. Ketika musim reproduksi
udang jantan dan udang betina mengadakan kopulasi. Pada saat kopulasi
spermatozoa akan di tampung dalam penampung sperma, kemudian kedua
hewan berpisah. Beberapa hari kemudian, udang betina membersihkan daerah
abdomennya dengan menggunakan kaki renagnya. Kemudian
udang betina membalikkan tubuhnya, melipat tubuh dan keluarlah sekresi beru
pa lendir yangmenyelaputi kaki renang. Ovum akan keluar dari oviduk sekitar
200-400 buah dan akandibuahi oleh spermatozoa yang keluar dari kantong
penampung spermatozoa. Telur tetapmelekat pada kaki renang sampai menetas
(Kastawi, 2009).

5
8. Sistem Endokrin
Hormon berperan utama dalam mengkoordinasikan fisiologi crustacea.
Organ endokrin yangterpenting adalah komplek X organ sinus gland (XOSG)
complex yang terletak dekat sarafoptic. Organ endokrin yang terpenting
lainnya adala Y organ, terletak pada bagian dasarsetiap maksila. Hormon-
hormon yang dihasilkan oleh sistem XOSG adalah molt-inhibitinghormone
(MIH). MIH tersebut akan merintangi terjadinya molting dengan
menghambatsekresi ekdison dari organ Y (Kastawi, 2009).Ketika terjadi
perubahan lingkungan sekitarnya seperti perubahan suhu atau panjang
hari,maka sekresi organ X terhambat dan organ Y terstimulus untuk
mensekresikan ekdison. Olehkarena itu, terjadinya molting hanya ketika
adanya perubahan lingkungan yang akan memicu kerja organ Y. Kompleks
XOSG juga mensekresikan hormone yang berfungsi mengontrolkromatofor,
sehingga memungkinkan hewan mengubah warna kulitnya (Kastawi, 2009).
Salah satu hormone yang menyebabkan pigmen menjadi lebih
terkonsentrasi di sebelah dalam kromatofor merah, akibatnya warna kulit
hewan menjadi kurang merah. Hasil sekresi lain adalah crustacean
hyperglycemic hormone yang analog dengan adrenalin glucagon didalam
vertebrata. Hormone ini membantu meningkatkan glikogen yang disimpan
menjadiglukosa. Sistem XOSG juga mensekresi distal retinal-pigment hormone
yang berperanmembantu proses adaptasi mata majemuk dalam cahaya redup.
Udang karang dan crustacealain memiliki androgenic glands yang
menyebabkan sifat maskulin (Kastawi, 2009).
9. Regenerasi dan Autotomi
Udang memiliki daya regenerasi pada bagian-bagian tubuh yang rusak
atau hilang. Struktur baru tidak selalu sama dengan yang digantikan.
Contohnya pada Orconectes pellucidus testii memiliki mata yang tidak
berfungsi. Namun setelah terjadi regenerasi terbentuk bangunanseperti antena
yang berfungsi sebagai alat peraba. Regenerasi semacam ini
disebutheteromorfis karena struktur baru tidak serupa dengan struktur yang
digantikan. Udang juga memiliki kemampuan autotomi yaitu pemutusan kaki
pada titik tertentu (Kastawi, 2009).

6
2.3 Klasifikasi Crustacea
Berdasarkan ukuran tubuhnya Crustacea dikelompokkan sebagai
berikut (Kahispama,Raga, 2011) :
1. Entomostraca (udang tingkat rendah)
Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton,
adalah melayang-layang di dalam air dan merupakan makanan ikan. Adapun
pembagian ordo yang termasuk Entomostraca antara lain:
a. Branchiopoda
Contoh: Daphnia pulex dan Asellus aquaticus. Hewan ini sering
disebut kutu air dan merupakan salah satu penyusun zooplankton. Pembiakan
berlangsung secara parthenogenesis.
b. Ostracoda
Contoh: Cypris candida, Codona suburdana. Hidup di air tawar dan
laut sebagai plankton, tubuhkecil dan dapat bergerak dengan antena.Gambar
2. Contoh Ostracodac.
Copepoda Contoh: Argulus indicus, Cyclops. Hidup di air laut dan air
tawar, dan merupakan plankton dan parasit, segmentasi tubuhnya jelas.Gambar
3. Contoh Copecodad
Ciri pedia Contoh: Lepas atau Bernakel, Sacculina. Tubuh dengan
kepala dan dada ditutupi karapaks berbentuk cakram dan hidup di laut
melekat pada batu atau benda lain. Cirri pedia ada yang bersifat parasit.
Cara hidup Cirri pedia beraneka ragam. Salah satu diantaranya adalah
Bernakel yang terdapat pada dasar kapal, perahu dan tiang-tiang yang
terpancang di laut atau mengapung di laut.
4. Malakostraca (udang tingkat tinggi)
Hewan ini kebanyakan hidup di laut, adapula yang hidup di air tawar.
Tubuhnya terdiri atas sefalotoraks yaitu kepala dan dada yang bersatu serta
perut (abdomen). Malakostraca dibagi menjadi 3 ordo, yaitu Isopoda,
Stomatopoda dan Decapoda. IsopodaTubuh pipih, dorsiventral, berkaki sama.
Contoh: Onicus asellus (kutu perahu) dan Limnoria lignorum. Keduanya
adalah pengerek kayu.
5. Kutu Perahu

7
Stomatopoda Contoh: Squilla empusa (udang belalang). Hidup di laut,
bentuk tubuh mirip belalang sembah dan mempunyai warna yang mencolok.
Belakang kepala mempunyai karapaks. Kepala dilengkapi dengan dua segmen
anterior yang dapat bergerak, mata dan antena.
6. Udang belalangc
Decapoda (si kaki sepuluh) Yang termasuk ordo ini adalah udang dan
ketam. Hewan ini mempunyai sepuluh kaki dan merupakan kelompok udang
yang sangat penting peranannya bagi kehidupan manusia. Decapoda banyak
digunakan sebagai sumber makanan yang kaya dengan protein. Contohnya
adalah udang,kepiting, ketam dan rajungan. Kepala dada menjadi satu
(cephalothorax) yang ditutupi oleh karapaks. Tubuh mempunyai 5 pasang kaki
atau sepuluh kaki sehingga disebut juga hewan sikaki sepuluh. Hidup di air
tawar, dan beberapa yang hidup di laut.
Beberapa contoh Decapoda berikut uraiannya, yaitu:a) Udang1.
Penacus setiferus (udang windu), hidup di air payau, enak dimakan dan banyak
dibudidayakan. 2. Macrobrachium rasenbengi (udang galah), enak dimakan,
hidup di air tawar dan payau.3. Cambarus virilis (udang air tawar)4. Panulirus
versicolor (udang karang), hidup di air laut dan tidak memiliki kaki catut.5.
Palaemon carcinus (udang sotong) b) Ketam:1. Portunus sexdentatus
(kepiting)2. Neptunus peligicus (rajungan) / Pagurus sp.3. Parathelpusa
maculata (yuyu) 4. Scylla serrata (kepiting) 5. Birgus latro (ketam kenari)7.
Kelompok Malakostraca (Anonimus, 2011).
2.4.Peranan Crustacea
Jenis Crustacea yang menguntungkan manusia dalam beberapa
hal, antara lain:
1. Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misalnya udang, lobster dan
kepiting.
2. Dalam bidang ekologi, hewan yang tergolong zooplankton menjadi sumber
makanan ikan,misal anggota Branchiopoda, Ostracoda dan Copepoda.
3. Udang rebon merupakan bahan baku pembuatan terasi.
4. Telur artemia banyak diperdagangkan karena naupliusnya merupakan makan
an awal bagi anakik atau udang.

8
Sedangkan beberap Crustace yang merugikan antara lain:
1. Merusak galangan kapal (perahu) oleh anggota Isopoda.
2. Parasit pada ikan, kura-kura, misal oleh anggota Cirripedia dan Copepoda.
3. Merusak pematang sawah atau saluran irigasi misalnya ketam.
4. Copepoda merupakan inang perantara penyakit cacing pita ikan Dibotrio
Cephalus Latus
5.Tritip, yang merupakan pengganggu bagi manusia karena mengotori lunas
kapal, pelampung dan tiang-tiang dilaut populasi tritip yang padat dapat
mengurangi kecepatan kapal.

9
BAB III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Adapun praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 27 April 2017 pukul
15.00-16.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian
Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung.

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu wadah terbuka,
wadah tertutup, mikroskop, handphone, pena, penghapus, buku gambar, pinset,
dan lup. Sedangkan bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu Ponaes
monodon, Thenus orientalis, Ocypode ceratophthalma dan Portunus pelagicus.

3.3 Cara Kerja


Beberapa sampel filum Crustacea diambil dari habitatnya (laut atau darat
atau air tawar) dan dimasukkan sampel biota tersebut ke dalam wadah tertutup.
Setelah itu pada wadah sampel diberi label (menulis nama filum), dan membawa
ke laboratorium untuk diamati. Sampel biota dari filum Crustacea dipindahkan
ke dalam wadah terbuka. Morfologi atau anatomi bagian luar tersebut diamati,
dan bagian-bagian dari biota tersebut digambar dan dijelaskan secara jelas dan
lengkap. Kemudian bagian oral dan aboral dari biota tersebut digambar dan
diberi keterangan. Terakhir klasifikasi dari filum sampai genus dari biota yang
didapat ditulis dan digambar sesuai buku identifikasi berdasarkan bentuk
spikulnya.

10
BAB V. KESIMPULAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan
sebagai berikut:
1. Penaeus monodon, Ocypode ceratophthalma, Thenus orientalis, dan
Portunus pelagicus merupakan filum yang termasuk kedalam kelas
Anthropoda.
2. Habitat Crustacea berbeda-beda; Penaes monodon hidup di laut dan sebagian
di air tawar, Ocypode ceratophthalma hidup di laut, air tawar, darat dan
lingkungan udara, Portunus pelagicus hanya bisa hidup bila ada air baik di
laut maupun air tawar dan Thenus orientalis biasa hidup di air laut daerah
berpasir.
3. Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu
(sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen).
4. Bagian sefalotoraks dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5
pasang kaki yang terdiri dari 1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki
jalan. Selain itu, di sefalotoraks juga terdapat sepasang antena, rahang atas,
dan rahang bawah
5.2 Saran
Kepada pemerintah dan masyarakat mengingat besarnya manfaat dari
crustacea ini bagi tubuh yakni kandungan proteinnya yang tinggi, maka
pembudidayaan crustacea ini sangat diperlukan. Selain memberikan manfaat
bagi tubuh juga bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir
dengan memanfaatkan olahan udang-udangan menjadi produk makanan yang
bisa dipasarkan seperti terasi sehingga akan membuka sumber pekerjaan yang
baru bagi masyarakat. Dan kepada para praktikan penelitian habitat yang akan
dijadikan pembudidayaan serta ilmu mengenai kehidupan crustacea ini sangat
penting dilakukan supaya keberlangsungan hidupnya tetap terjaga.

17
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2011. (Online) Kelas Crustacea. http://www.artikelbagus.com.


Diakses pada hari sabtu 15 Desember 2012
Budi. 2011. (online) http://budisma.web.id/materi/sma/kelas-x-biologi/jenis
ciri-ciri-struktur-jaringan-tubuh-crustacea. Diakses pada hari Sabtu
15 Desember 2012
Kahispama,Raga. 2011. (online) kelas crustacea. http://catatan agha.
blogspot.com. Diakses pada hari sabtu 15 Desember 2012
Kastawi, dkk. 2009. Zoologi Avetebrata. Malang: UM Press
Susanto, N. 2010. Perbedaan antara Rajungan dan Kepiting.
http://blog.unila.ac.id/gnugroho/category/bahan-ajar/karsinologi/.
Diakses pada 11 Juni 2010