Anda di halaman 1dari 4

PENGALAMAN KRISIS YANG DIALAMI SAAT INI DAN CARA MENGATASINYA

Pengalaman krisis yang pernah saya alami yang masih mendalam dan memang masih
sulit untuk saya terima sampai saat ini, awal terjadinya siatuasi yang sangat membuat fikiran
dan hati saya tidak tenang sampai saat ini, ketika sore itu sekitar pukul 16:00 WIB setelah
perkuliahan selesai, saya beserta tiga teman saya memutuskan untuk tidak kembali ke kost
masing-masing dan memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok di kampus, karena
tugas kuliah kelompok maupun individu yang begitu bayak dan juga deadline begitupula
dengan waktu kita yang padat sehingga saya beserta tiga teman saya mengerjakan tugas
hingga menjelang malam, kami bertiga fokus memandang laptop kami masing-masing, rasa
bingung, pusing, lelah jadi satu, namun kami masih berusaha untuk tetap mengerjakan karena
kami sadar bahwa tugas ini memang sudah menjadi kuajiban kami. waktu adzan magrib telah
tiba sehingga kami bertiga memutuskan mengakhiri tugas kami dan al khamdulillah tugas
kamipun sudah selesai. Kami pun bergegas untuk kembali ke kost masing- masing, karena
saya satu arah dengan salah satu dari dua teman saya tadi, sayapun berjalan bersamanya dan
bercanda tawa dengannya sampai depan kost saya, kemudia saya menuju kamar saya yang
berada di lantai atas, jujur saja saat itu saya merasa lelah sekali.

Kemudian saya bergegas mengambil air wudhu karena memang sudah saatnya
menjalankan kuajiban saya menjadi seorang muslimah, sayapun menjalankan sholat magrib
dikamar saya, setelah saya melakukan ibadah, tiba-tiba teman saya teriak memanggil saya
dan mengajak saya untuk membeli makanan,tiba-tiba ditengah perjalanan hp saya bunyi dan
disana terdapat pesan dari grup BBM, bahwa salah satu dari sahabat saya ada yang ulang
tahun dan malam ini akan diberi kejutan oleh sahabat-sahabat saya yang lain juga dan mereka
mengajak saya untuk ikut merayakannya, ya namanya saja sahabat ya susah senang bareng,
walaupun memang capek yasudah saya akan ikut setelah membeli makan. saya dan teman
saya berjalan menuju warung langganan kami, karena warung tersebut merupakan warung
yang murah bagi anak kost jadi pelanggannya pun banyak termasuk saya. Setelah itu kami
kembali pulang ke kost kami, tiba-tiba di perjalanan saya bertemu dengan salah satu sahabat
saya, dan sayapun ikut dengannya dan teman saya yang tadi kembali ke kost sendiri. Setelah
selesai merayakan ulang tahun sahabat saya, saya kembali ke kost sekitar pukul 09:30,
sampai dikost saya membersihkan diri sholat isya’ kemudian istirahat.

Keesokan harinya saya berangkat kuliah dan berhubung libur tiga hari jadi sore
harinya saya pulang ke rumah orang tua saya, saya bersyukur al khamdulillah pulang dengan
keadaan selamat dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga, kemudian teman saya BBM saya
dan meminta file yang ada di laptop saya, karena laptop saya tidak saya bawa pulang dan
berhubung kunci kamar kost juga saya titipkan dengannya, maka saya menyuruhnya untuk
mengambil sendiri dikamar saya, kemudian beberapa jam sesaat dia menelfon saya dan tanya
kepada saya dimana laptop saya berada, saya merasa terkejut dan juga bingung karena saya
merasa yakin bahawa laptop pasti ada di kamar, karena seingat saya sehabis saya
mengerjakan tugas dikampus laptop sudah saya bawa pulang ke kost. Saya panik bingung apa
yang harus saya perbuat sedangkan saya berada di rumah, teman saya juga panik dan selalu
menelfon saya, dia menangis menjelaskan bahwasannya dia sudah mencari laptop saya di
sekitar ruangan kost dan juga kamar saya, dan ternyata hasilnya nihil, dia merasa ketakutan
karena kunci kamar saya ada padanya, semua kata sumpah janji dia ungkapkan pada saya,
kalau dia tidak tau sama sekali, saya mulai teriak histeris dan juga menangis, dalam hati dan
juga fikiran saya dimanakah laptop saya. Yang saya ingat terakhir kali saya menggunakan
laptop saya ketika saya mengerjakan tugas bertiga dengan teman saya. Saya tidak tau apa
yang harus saya lakukan, hanya menangis dan menangis kemudian ibu saya menghampiri
saya dan bertanya kepada saya kemudian saya menjelaskan semua kepada ibu saya, beliau
terkejut dengan semua penjelasan saya, kemudian beliau menyuruh saya untuk bertanya
kepada teman-teman saya, siayapa tau teman saya ada yang tau dimanakah laptop saya,
sempat terbenak difikiran apakah laptop dipinjam oleh teman saya yang lain, karena memang
laptop saya terkadang dipinjam oleh teman saya. Kemudian saya bertanya kepada teman saya
yang biasanya pinjam laptop saya, dan ternyata hasilnya nihil, saya semakin panik dan air
matapun menetes membasahi pipi, beruntunglah ayah saya ketika itu tidak berada dirumah,
sehingga saya bisa menangis sepuasnya, karena jika ayah saya dirumah pasti ayah saya
sangat marah dengan saya dan memang sudah wataknya beliau itu sangat keras, beliau
mempunyai cara tersendiri untuk mendidik anak-anaknya, memang semua orang tua
mempunyai cara tersendiri dalam mendidik anak-anaknya, tapi ayah saya jika sudah marah,
emosi susah untuk dikendalikan. Dan saya takut jika beliau sudah marah. Dimalam itu saya
benar-benar merasakan sedih, yang saya sedihkan kenapa saya tidak bisa menjaga pemberian
dari orang tua, kenapa saya tidak amanah, dan itu merupakan barang yang memang saya
perlukan untuk kuliah saya, jika teringat kerja keras orang tua ibaratnya banting tulang
kesana kemari, mandi keringat setaiap hari, berangkat pagi pulang petang hanya untuk
menafkahi anak-anaknya, membuat anak-anaknya bahagia, seketika itu saya memeluk ibu
saya dan menangis meminta maaf kepadanya dan paling saya ingat sampai sekarang kata-kata
kedua orang tua saya, “saya bersyukur al khamdulillah bisa menyekolahkan kamu samapai
diperguruan tinggi nak, semoga kelak kau menjadi anak yang sukses didunia dan juga akhirat
nak”Amin. Seketika itu air mata saya menetes tak kunjung henti, jujur saja kedua orang tua
saya hanya tamatan SD.

Keesokam harinya saya memutuskan untuk kembali ke ungaran untuk memastikan


laptop saya, apakah memang benar ketinggalan di kampus, ataukah memang dipinjam teman
saya, ataukah memang diambil orang, saya merasa yakin laptop masih ada di kost, saya tidak
percaya dengan omongan teman saya, pasti teman saya bohong dengan saya, saya yakin
laptop saya tidak hilang itulah yang sering terbenak difikiran saya. sesampainya dikost saya
mulai mencari laptop saya ternyata memang tidak ada, seketika itu saya mulai menyadari
sepenuhnya memang benar laptop saya tidak ada. Teman saya mencoba menenangkan saya
namun tetap saja saya menangis, panik, dan juga bingung. Saya mulai berfikir mungkinkah
laptop saya ketinggalan dikampus, kalau memang iya, insyalloh ada di bapak satpam karena
memang selama ini jika ada barang tertinggal dikampus pasti ada di bapak satpam, kemudian
saya bergegas pergi ke kampus dan bertanya kepada bapak satpam dan ternyata hasilnya nihil
juga, kemudian saya bertanya kepada teman saya yang waktu itu pulang dari kampus sehabis
mengerjakan tugas, ternyata dia meyakinkan saya bahwa laptop saya sudah saya bawa pulang
sampai di kost dan saya memang merasa sudah membawanya sampai kost. Saya mulai panik
kembali dan inilah puncak dari kesedihan saya. Kemudian saya berfikir mungkinkah laptop
saya di curi, tapi itu sangat mustakhil karena hanya orang- orang tertentu yang dapat masuk
didalam kost saya, yang bisa masuk hanya orang-orang yang tinggal di situ dan teman-teman
dari orang yang kost distu, apalagi kost saya berada di atas dan dibawah ada ibu bapak kost,
kemudian ibu saya menelfon saya dan ternyata paman yang berbicara pada saya, Al
khamdulillah saya punya paman yang mempunyai kelebihan, beliau memberitahu saya bahwa
laptop saya memang tidak ketinggalan dikampus dan sudah saya bawa pulang kemudian saya
taruh diluar dan belum saya masukan ke dalam kamar, kemudian beliau berkata bahwa laptop
saya memang sudah ada yang mengambilnya, dan beliau hanya berpesan kepada saya
“berdo’alah semoga yang mengambil laptop itu hatinya bergerak dan mau
mengembalikannya lagi”amin ya robbal alamin, kemudian ibu saya berkata “jika memang
masih rizkimu pasti kembali nak, kamu tidak perlu takut ibu yang akan berbicara kepada
ayahmu”. Sedikit lega mendengar perkataan ibu saya, namun saya masih merasa sangat
terpukul, rasa bersalah selalu ada pada diri saya, andaikan saya tidak menaruh diluar pasti
tidak akan seperti ini, hari demi hari terlewati saya mulai untuk mengikhlaskannya, namun
ternyata sulit untuk mengikhlaskan begitu saja, ketika ujian akhir semester tiba saya mulai
bingung dan panik kembali karena materi yang diujikan ternyata semuanya dari makalah
presentasi. Beruntunglah saya mempunyai teman kost yang baik hati, walupun dia juga butuh
sendiri untuk belajar dia selalu meminjamkan laptopnya kepada saya, saya merasa lega.
Waktu terus berlalu sayapun mencoba untuk melupakan dan mengikhlaskannya, hanya
berharap dan berdo’a semoga Alloh Swt memberikan penggantinya yang lebih baik lagi,
namun rasa ikhlas itu ternyata sulit saya tanamkan pada diri saya, memasuki semester emen
ini ternyata tugas semakin banyak, saya merasa pilu kembali, apa yang harus saya perbuat
sedangkan saya tidak berani mengatakan kepda ibu saya, bahwa saya membutuhkan laptop
untuk mengerjakan tugas kuliah, sedangkan ayah belum mengetahui hingga detik ini. Saya
hanya pasrah dan berdo’a meminta kepada Alloh Swt semoga ayah saya diberikan rizki yang
melimpah dan semoga ayah saya bisa memaafkan kecerobohan saya. Saya yakin Alloh Swt
mempunyai rencana tersendiri untuk saya, Alloh Swt menguji saya seperti ini karena Alloh
Swt tahu saya pasti kuat dalam menjalani cobaan ini...wallahu A’lam