Anda di halaman 1dari 18

Dokter Cari Kesempatan

Dokter Cari Kesempatan - Ini kisah yang terjadi di desa Kolesabano, sebuah desa
kecil yang agak terpencil. Akses jalanannya tidak seperti di Jakarta sudah aspal
semuanya, di sana masih tanah liat dan batu. Orang-orangnya sederhana dan lugu.
Kalau pagi mereka selalu saling menyapa dan murah senyum. Rasa gotong royong pun
masih kental disini.

Mereka bermatapencaharian sebagai petani. Disana ada sawah dan ladang. Kebun
buah-buahan pun ada banyak

disini. kalau mau makan tinggal petik.

Disana tidak ada sekolah, orang tidak bisa mengenyam pendiidikan. Jadi kalau ada
orang pintar disini,

mereka puja seperti dewa. Dr. Prasetyo adalah seorang dokter umum yang dikirim
kesana untuk melayani

masyarakat disana. Apa yang dikatakan olehnya pasti didengarkan dan dituruti,
misalnya saja seorang

dokter. Jangan dokter, lulusan SD saja mereka posisikan di atas mereka.


Suatu hari di ruang praktek Dr. Pras yang sederhana seorang ibu paruh baya sedang
berkonsultasi

dengannya mengenai kondisi buah hatinya. Cahaya pagi yang menembus jendela kayu
menunjukkan kekhawatiran

di raut wajahnya. Alisnya tak henti-hentinya mengernyit setiap kali ia menceritakan


keadaan anak

perempuannya yang memakai jilbab warna biru sama seperti yang sedang
dikenakannya. Pundak anaknya

dipegani seperti seorang ibu yang takut anaknya akan lenyap kalau dilepas.

“Dok, anak saya kayaknya kurang sehat beberapa hari ini.”

“Oh..gimana kondisinya apakah batuk-batuk?”

“Ya sedikit, nafsu makannya berkurang dok.”

Dr. Pras mengangguk-angguk.

“Nama kamu siapa,dik?”

“Fitri, dok.”

“Sudah berapa lamu kamu sakit?”

“3 hari dok…gak sembuh-sembuh…dah minum teh manis.”

“Pusing-pusing gak?”

“Gak, dok.”

“Sebelumnya ada makan apa, gak?”

“Makan biasa aja dok..”

“Ada jajan?”

“Paling gulali.”
“Hmm….”

Dr. Pras tampak sedang berpkiri untuk menganalisa kondisi Fitri.

“Ya udah kamu naik ke ranjang periksa yah…dokter periksa”

“Iya dok…”

Fitri berjalan ke ranjang periksa yang tak jauh dari situ, ia menaiki tangga kecil hingga
ia bisa sampai

ke atas ranjang dan tiduran.

“Di angkat ya bajunya, biar dokter bisa periksa pakai stetoskop.”

Fitri mengangguk dan menarik ke atas bajunya sehingga payudaranya yang masih
mengkal kelihatan.

Dr. Pras mulai menggunakan stetoskopnya dan mencoba mendegar detak jantungnya.
Stetoskop itu di letakkan

di dada dan dipindah-pindahkan di sekitar situ. Kadang ditaruh di atas putingnya Fitri.

“Dingin dok…,” komentar Fitri.

“Tahan dikit ya…”

Saat Dr. Pras memindahkan stetoskopnya, saat diangkat kadang pinggirannya


menyenggol ujung puting Fitri.

Entah sengaja atau tidak, jari kelingkingnya kadang juga menoel putingnya. Si ibu tidak
bisa melihat

yang dilakukan Dr. Pras sebab ia berada di belakangnya.

Fitri merasakan sesuatu yang aneh, dan pipinya berubah memerah. Tanpa disadari
puting coklatnya menjadi

mengeras mencuat. Kalau tertoel lagi, kakinya langsung mengapit seperti menahan
sesuatu di bagian bawah

situ.

“MMmm…untuk pemeriksaan selanjutnya ibu tunggu di bangku yah, saya harus


melakukan tes.”
“Iya dok.”

Dr. Pras menarik gorden yang mengelilingi ranjang periksa. Ibu Fitri tidak bisa melihat
apa yang sedang

terjadi di dalam.

2 menit tidak ada apa-apa. Namun setelah agak lama si ibu mulai mendengar suara-
suara aneh dari dalam.

Seperti anaknya sedang melenguh-lenguh…”Ah..ahh…ahhhh…”

Merasakan firasat buruk ia bangkit menyibak gordennya. Betapa terkejutnya saat ia


melihat CD putrinya

sudah turun setengah paha dan tangan Dr. Pras sudah berada di kemaluan putrinya.
Saking kagetnya si ibu

sampai tidak bisa bicara apa-apa.

“A..a..a”

“Ibu! apa yang sedang ibu lakukan, saya sedang di tengah pemeriksaan.”

Si ibu tiba-tiba merasa bersalah, apakah benar ia sedang mengganggu jalannya


pemeriksaan anaknya?

Pikiran akal sehatnya seperti sedang terpecah saking syoknya.

“Tunggu disitu yah.”

Lalu si dokter menutup lagi gordennya.

Tak lama suara lenguhan terdengar lag, “Mmmhh ahh.ah..ah…”.

Si ibu menjadi ragu-ragu apakah sebaiknya ia membuka gorden itu atau dibiarkan saja.
Tapi Lama-kelamaan
bukan cuma suara putrinya, kini ia mendengar suara si dokter,
“Mmhh…shh…ahh..yah..dihisap…biar

lekas sembuh.”

Si ibu semakin khawatir. Akhrinya dia sibak lagi gordennya.

Kali kagetnya menjadi-jadi, sebab burungnya si dokter sudah keluar dari celananya dan
ada di dalam mulut

anaknya.

“Dokter! Dokter…lagi apa…?” dengan nada agak histeris.

Si ibu tidak mempercayai penglihatannya.

“Aduh ibu ini lagi-lagi mengganggu,” Tukas Dr. Pras kesal, “Saya sudah analisa, anak
ibu terkena

penyakit Vibilio Facumacis, obatnya adalah ia harus dibikin orgasme dan menelan
sperma. Kalau ibu ganggu

terus, gak selesai loh ini. Saya gak tanggung kalau penyakitnya bertambah parah.”

“Ii..iya..tapi dok….”

“Hhhhhh…,” Si dokter menghela nafas panjangsambil geleng-geleng. “Ya sudah ibu


bantu deh, ibu colok-

colok kemaluan anak ibu untuk membangun kekebalan tubuhnya.”

Si ibu terdiam dan ragu-ragu.

“Ayo sini…bantu saja…gak apa-apa…daripada ganggu terus..gak selesai-selesai.”

“Ii..iya…”

Si ibu berjalan mendekati tempat tidur periksa. Dr. Prasetyo membelakangi si ibu itu
lalu ia meraih

tangannya dan meletakkan di kemaluan putrinya.


“Nah…sekarang keluar masukin jarinya di lubangya yah…”

“Iii…iya dok…”

Si ibu pun mulai memasturbasi anaknya. Fitri langsung memejamkan mata dan
melenguh-lenguh kecil,

“Aah..ah…ah…”

Dr Prasetyo tiba-tiba menarik ke atas gamis si ibu. Tentu saja perbuatannya membuat si
ibu kaget.

“Dokter ngapain lagi?!”

“Ibu juga perlu dibangun kekebalannya, kalau gak penyakit ini akan menular. Jadi
kemaluan ibu juga harus

dimainin.”

“Yang bener dok…”

“Ya bener, siapa disini dokternya?”

Si ibu kebingungan.

“Ii..iya…”

“Jangan khawatir saya tidak akan sentuh ibu, kalau itu yang ibu khawatirkan, Fitri yang
akan bantu

prosesnya.”

“Maksudnya…?”

“Fitri yang akan gituin ibu..ngerti kan…”

“Hah?”

“Sudah ibu tenang aja, nurut aja kalau mau sembuh yah.”

Dr. Prasetyo lalu membungkuk dan memberikan penjelasan kepada Fitri.

“Fitri supaya ibumu gak ketularan kamu keluar masukin jari kamu di lubangnya ibu
yah…kayak yang
diakukan ibu ke kamu..ok”

“Iya dok…”

“Pinter,” ujar Dr. Pras menepuk-nepuk kepala Fitri.

Dr. Pras bangkit lagi, “Nah ibu..siap ya…saya angkat gamisnya yah…biar Fitri bisa
masturbasiin ibu

untuk cegah penyakit.”

“II..iya dok…”

Dr. Pras pun mengankat gamis si ibu hingga seperut dan menarik turun CD putihnya. Si
ibu membantu

memegangi kain gamisnya agar jangan jatuh. Dr. Pras sempat menelan ludah saat ia
melihat paha si ibu

yang semok. Gak kurus, tapi berisi.

“Nah Fitri, sekarang tangannya yuk…”

Fitri mengulurkan tangannya dan menjamah kemaluan ibunya. Jari tengahnnya


dimasukkan ke dalam lubang

ibunya perlahan, lalu ditarik lagi.

“UUuhh…”

Si ibu langsung memejamkan matanya dan melenguh keenakan.

“Bu maafin Fitri ya, gara-gara Fitri sakit, ibu bisa ketularan juga.”

Si ibu buru-buru membungkukkan badannya dan mengelus kepala putrinya

“Sudah kamu gak perlu pikiran itu, yang penting sekarang Fitri keluar masukin jari
lubang di lubang ibu,

dan ibu colok-colok lubang Fitri yah..biar kita sama-sama sehat,” ujar si ibu
menenangkan anaknya.
Fitri mengangguk tersenyum.

“Nah sekarang Fitri buka mulutnya AAaaa,” perintah Dr. Pras. Fitri menurut.

Dr Pras kembali mengarahkan penisnya ke mulut Fitri dan memasukkannya ke dalam.

“Nah, sekarang kulum batang Dokter ya…obatnya ada di dalamnya mesti dikeluarin,
Ok”

“Ngg..” Fitri mengiyakan dengan mulut yang tersumpal batang Dr. Pras.

Dr Pras lalu memaju mundurkan pinggulnya, menikmati batangnya disepong Fitri. Ia


tarik lagi ke atas

bajunya Fitri, agar ia bisa melihat jelas kedua putingnya. Tngan kanannya bergerak,
menjamah dan

remas-remas lembut dada Fitri. Sesekali ia pelintir-pelintir putingnya.

“Ngghh…nghh..,” responnya.

Sementara itu tangan kirinya digunakan untuk menahan kepala Fitri yang berjilbab
agar ia bisa

bersenggama di mulutnya.

Nafas si ibu lama kelamaan berubah menjadi tak beraturan. Gerakan jarinya di lubang
putrinya pun berubah

menjadi semakin cepat.

“Mmhmhh..nghhh..nghh…,” lenguh Fitri

Jari Fitri pun juga ikut-ikutan menusuk-nusuk vagina ibunya dengan cepat. Jari mungi
itu kelihatan sudah

menjadi basah. Cairan bening ada yang mulai turun mengalir dari lubang vagina si ibu
ke pahanya.
“Dok…remas dada saya juga dok…plis…” pinta si ibu

Dr. Pras senang mendengar permintaan si ibu.

“Di buka donk bajunya.”

SI ibu menurut dan melepaskan bajunya dan dijatuhkan ke tanah. Kini ia bertelanjang
dada dan hanya

mengenakan BH saja. Dr Pras berdecak kagum melihat payudara si ibu yang besar.

“BH-nya…di lepas juga….,” pinta Dr. Pras dengan suara bergetar.

Tanpa berpikir panjang si ibu melepaskan pengait depan BHnya dan meloloskannya
talinya dari pundaknya.

Lalu ia jatuhkan ke lantai.

Dr. Pras jadi bernafsu banget ngeliat payudara si ibu yang mantap. Ia pun
menangkupnya dari belakang

punggung, melewati bawah tangannya, serta memainkan buah dada yang kenyal itu.

Fitri baru kali ini ngeliat ibunya buka-bukaan seperti itu, dan baru pertama ngeliat
seroang pria

cemek-cemek dada ibunya. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup keras. Semuanya


serba baru baginya.

Si Ibu pun mulai menggapai buah zakar Dr. Pras dan mengelus-elusnya.

“AAhh…” Dr. PRas merasakan kehangatan di pelernya..

“Ahh….gak kuat….ahh…keluar…keluar…”

Dr. Pras memegang kepala Fitri dengan kedua tangannya dan memaju mundurkan
batangnya di mulut Fitri.

dengan cepat. Kumpulan sperma itu tak lama lagi akan meledak di rongga mulut gadis
mungil ini.
“Ke..luaaar….aaahhh ahh….”

CROT CROOT CROTT CROT CRET CRET!

“Ahhh….”

Dr. Pras merasakan kelegaan luar biasa. Lalu ia mencabutnya dari mulut Fitri.

“Ditelan yah Fitri…itu obatnya…”

Fitri mengangguk. Ia teguk cairan Dr. Pras. Otot lehernya tampak berkontraksi.

“PInter…”

“Dokter kasih sesuatu buat kamu yah…”

“Apa tuh?”

Dr. Pras mendekatkan wajahnya ke wajah Fitri. Keduanya saling memandang. Lalu Dr.
Pras mencium Fitri dan

menghisap-hisap bibir atas dan bawahnya.

Si ibu membelalak… melihat Dr. Pras mencumbu putrinya dan Fitri tampak menyukai
setiap deitknya.

“Dokter apakah itu juga termasuk pengobatannya?”

Dr. Pras menegakkan tubuhnya.

“Iyah…sudah pasti dan…sekarang ibu jilat vaginanya Fitri, ya”

“Lho kenapa?”

“Iya…karena saliva ibu bisa menjadi bahan tambahan yang menguatkan kekebalan Fitri,
seperti vitamin.

Jadi jangan lupa, nanti sambil dijilat, juga diludahin sedikit yah.”

“Gitu ya dok..?”
“Iyah…”

Si ibu memandang anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Ibu jilat yah, nak..”

Fitri mengangguk.

“Iya, bu terima kasih ya.”

Si ibu tersenyum dan mengelus kepala anaknya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke alat
kelamin putrinya. Di

buka sedikit bibir vaginanya, diludahi lalu ia mulai menjilat-jilat belahan vaginanya.

“AAhh…ahhh…ahh….enak bu…”

Fitri yang sedang keenakan sudah lupa untuk memasturbasi ibunya. Dr. Pras tidak ingin
membiarkan lubang

vagina si ibu mubazir.

Dr. Pras pun menarik turun gamis roknya, dan ia bisa melihat gundukan yang terbelah
dari arah belakang.

Ia lalu mengarahkan batangnya ke lubang si ibu. kebetulan posisinya sudah siap untuk
di doggy. Tanpa

meminta izin lagi, Ia langsung mendorong masuk batangnya ke dalam lubang si ibu
yang sudah basah.

“OOhhh…Dr. Praz…” Sebentar ia melihat ke belakang, kemudian ia mulai merasakan


kenikmtan hujaman-

hujaman tusukan batang si dokter. “Astaga enaknya….” Lalu ia lanjut lagi mengoral
anaknya di atas

ranjang periksa.
Dokter Mesum - Fitri yang baru
kali ini mengalami rasanya di oral, tidak dapat membendung cairannya untuk keluar.

“Bu…mau pipis…”

“Pipis aja Fitri biar kamu sehat…”

“Ahh..ahh..ahh…ibu…duh..gak tahan lagi….KYA!” Fitri menjerit histeris, saat ia


mencapai orgasme.

Kakinya mendorng pantatnya sampai ke udara, dan vaginanya menyemprotan cairan


hingga keluar.

Si ibu buru-buru berpindah untuk melihat wajah putrinya.

“Ahh..ahh..dah keluar nak?”

Dia menanyakan keadaan Fitri selagi sedang disodok sama Dr. Praz dari belakang.
Fitri bisa meihat dari dekat, wajah ibunya yang sedang sangat keenakan. Tubuhnya
bergerak-gerak maju

mundur, demikian juga buah dadanya.

“Ibu lagi diapain? lagi diobati juga yah?”

“Mmhh ahh ahh.. iya nak..”

“Fitri juga mau…diobati yang seperti ibu…”

Si ibu terkejut mendengar permintaan Fitri…

“Fitri….Fitri masih kecil..ahh ahh..ahh. Belum boleh diobati seperti ini.”

Sementara itu dari belakang mempercepat memompa tubuh si ibu.

“Ahh…ahh..ahh..ahhh…”

Alis si ibu mengernyit menahan kenikmatan yang semakin memuncak.

“Tapi Fitri mau….,” ucapnya menelan ludah melihat Dr. Praz menyetubuhi ibunya.
Walaupun ia belum tahu

itu namanya.

Di dalam keadan birahi yang sangat, pikiran si ibu tampaknya semakin tertutup.
Bahkan ia mulai merasa

birahi terhadap putirnya. Ia menggapai lagi kemaluan Fitri. Ia colok-colok lagi dengan
satu jari.

Fitri agak mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang ibunya lakukan di bawah situ.
Ia diam saja
membiarkan perbuatan ibunya. Sensai nikmat mulai menjalar dari alat kelaminnya.
Kemudian dari satu jari

berubah jadi dua jari.

“Ohh…oh…yeaaahhh…”

Tapi saat jari ketiga masuk…raut wajah Fitri berubah kesakitan.

“Aw sakit bu..udah..buat keluarin jarinya…sakit…”

“Tahan nak…tahan…biar ibu yang ambil keperawanan kamu yah…”

Fitri bangkit dari tidurnya dan mencoba mencabut jari ibunya dari guanya.

“Sakit bu…”

“Tahan nakk..entar jadi enak lagi..”

Si ibu menidurkan lagi putrinya, kemudian ia jilat-jilat putingnya agar ia merasa lebih
nyaman.

“Owwh…shh…kit…”

Sedikit demi sedikit membran keperawanan Ftri pun robek oleh jemari ibunya.

“AAhh sakit….”

Perlahan rasa sakit itu berubah menjadi enak.

“Mmhhh ahh…ahh…shh….”

Ketiga jari si ibu pun berbalur darah keperawan Fitri dan cairan kewanitaannya.

Tiba-tiba hentakan keras penis Dr. Praz menyentuh batas klimaksnya, sehingga si ibu
kelojotoan mencapai

orgasme.

“Aahhhh…sampai….”

Ia mendorong Dr. Praz agar mencabut penisnya dari lubangnya.


“Saya nanggung bu,” keluh Dr. Pras.

Tanpa menanggapinya, si ibu menyuruh Fitri bangun. Fitri menuruti perintah ibunya
dan ia duduk di

pinggir ranjang periksa.

Si ibu berbalik badan dan naik duduk di sebelahnya.

“Fitri duduk di pangkuan ibu yuk.”

“Iyah.”

“Lepas tuh CDnya.”

“Iya bu.”

Setelah itu Fitri berpindah posisi duduk di atas paha ibunya. Kedua kakinya berada
disisi luar kaki

ibunya. Vaginanya jadi agak terbuka. Setelah itu ibunya membuka lebar kedua pahanya,
sehingga kedua

paha Fitri juga turut terbuka lebar, mempertontonkan lubang senggamanya.

“Kamu mau diobati Dr. Pras seperti tadi kan?”

Fitri memandang batang Dr. Pras yang mengacung dan gak bergerak-gerak dikit. Ia
menunduk, lalu

mengangguk.

Si ibu memandang ke Dr. Pras, “Tolong obati anak saya juga, dok. Pakai cara yang tadi”

Dada Dr. Pras bergemuruh melihat posisi ibu dan anak itu. Mereka berdua masih
memakai jilbab. Si ibu
sudah tidak berpakaian, Fitri masih lengkap berpakaian, tetapi semuanya sudah
disibak.

“Eh..iyah…sebelumnya kalan berdua ciuman dulu biar saliva kalian bercampur di mulut
agar bakteri

kumannya mati. Si ibu merendahkan kepalanya dan Fitri mengadahkan kepalanya ke


atas menyamping. Bibir

mereka bersentuhan, lalu si ibu melumat bibir putrinya. Ludahnya dipindahkan ke


mulut Fitri, kemudia

dengan lidahnya ia mengaduk-ngaduknya di dalam.

Dr. Praz benar-benar terangsang oleh keduanya, ia pun mendekat sambil mengocok
titinya. Ia naik ke anak

tangga agar batangnya bisa sejajr dengan lubang Fitri. Lalu Blezzzz!

Fitri membelalak saat merasakan sebuah benda besar yang panjang menerobos masuk
lubang senggamanya.

Ibunya saja merasa Dr. Pras gede banget, apalagi anaknya.

Dr. Pras tidak bisa leluasa mengeluar masukkan batangnya, sebab seret banget,
meskipun lubang Fitri

sudah distimulasi sejak tadi dan basah licin.

Batang Dr. Pras benar-benar tidak bisa masuk penuh, meskipun sudah berusaha
didorong. Dr. Pras sampai

menganga mulutnya, karena jepitannya luar biasa banget. ia yakin pertahannya tidak
akan bisa lama dengan

keadaan seperti ini. Ia pun mulai memajumundurkan pantatnya dan bersetubuh dengan
Fitri.
“Ahh…aahh….shhh…ahhh…”

Kenikamtan yang sama pun juga dirasakan Fitri. Lubangnya terasa penuh. Setiap sensor
di kemaluannya

mendapatkan gesekan penuh dari bendanya Dr. Pras. Apalagi ini pengalaman
pertamanya.

“Dr…dr…dr…Praz….shhh…ahh..”

Si ibu pun membuat anaknya makin gak kuasa menahan nikmatnya seks. Tangannya
meraba-raba dan memainkan

buah dadanya. Fitri sudah benar-benar pasrah ia bisa meraskan gelombang klimaks
bentar lagi datang.

Sesaat ia hendak mencapai orgasme, tiba-tiba…

“AKh…keluar.! Dr. keluar!”

Fitri bisa merasakan cairan panas menyembur di lubangnya. Di saat itu juga ia
mencapai orgasme.

Srrr…Sr…srrr….srr..

“Dr. Aku pipis lagi….”

“Ya bagus itu…”

Keduanya mencapai klimaks bersamaan.

Tak berapa lama setelah itu, kedua nya berpakaian lagi yang lengkap. Mereka kembali
ke meja.

“Ok…kalian berdua sudah diberi obat dan disuntik kekebalan, kalau masih belum
sembuh datang lagi untuk

diadakan pemeriksaan.”
“Baik, dok, terima kasih ya. Ayo Fitri bilang apa ke Dr.”

“Terima kasih dok.”

“Iya…lekas sembuh ya…”

“Ngg!..iya”

Ternyata beberapa hari kemudian Fitri telah kembali menjadi sehat. Kehebatan
pengobatan Dr. Prasetyo pun

semakin terkenal di antara para wanita.

Sementara untuk si ibu itu dan anaknya, mereka berdua pun jadi sering mencolok-colok
vagina mereka satu

sama lain, untuk meningkatkan kekebalan tubuh merka dan tetap sehat .

ML di Tempat Umum, Cerita Sex Bergairah, Cerita Sex Terbaru, Cerita Sex Terpanas,
Cerita Sex Indonesia, Kisah Sex Indonesia, Cerita Sex Bergambar, Cerita Seks Bergairah,
Cerita Dewasa, Cerita Mesum, Cerita Pemerkosaan, Cerita Sex, Cerita Skandal