Anda di halaman 1dari 13

JUDUL: OPTIMASI PENCAMPURAN BATUBARA (BLENDING) UNTUK

MENINGKATKAN KUALITAS DAN MEMENUHI PERMINTAAN

KONSUMEN

A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Batubara merupakan suatu lapisan yang padat, yang pembentukannya dan

penyebarannya dapat terjadi secara horizontal maupun vertical, dan merupakan lapisan

yang heterogen. Oleh karena sifatnya yang heterogen ini maka batubara mempunyai

kualitas yang berbeda-beda meskipun tempat terbentunya terdapat pada suatu tempat.

Dengan adanya beda kualitas ini agar batubara yang mempunyai kualitas rendah dapat

dimanfaatkan, maka dilakukan kegiatan blending atau pencampuran antara batubara

kualitas tinggi dengan batubara kualitas rendah. Oleh karena sifatnya yang heterogen ini

maka penulis tertarik untuk meneliti percampuran yang tepat antara batubara kualitas

tinggi dengan kualitas rendah untuk memenuhi kebutuhan batubara sesuai dengan kriteria

yang diinginkan konsumen dengan memperhatikan 6 parameter dari batubara yaitu:

kandungan air bawaan, kandungan abu, zat terbang, karbon tertambat, kandungan sulfur,

dan nilai kalor.

B. RUMUSAN MASALAH

Salah satu permasalahan yang timbul pada penambangan batubara adalah

terjadinya penurunan kualitas batubara akibat proses cleaning batubara kurang bersih,

pengaruh cuaca dan batubara berlumpur. Untuk meningkatkan kualitas batubara sesuai
dengan permintaan pasar dan parameter kualitas batubara yang sudah ditentukan adalah

dengan cara Blending.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan yang tepat

antara batubara kualitas rendah dengan batubara kualitas tinggi untuk di blending

sehingga didapatkan kualitas batubara sesuai yang diinginkan oleh konsumen.

D. BATASAN MASALAH

Batasan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah membahas apa itu blending

batubara dan merencanakan pencampuran batubara (blending) untuk memenuhi kriteria

permintaan konsumen.

E. METODOLOGI PENELITIAN

1.Studi Literatur

Dalam hal ini dilakukan dengan menggabungkan antara teori dengandata-data di

lapangan, adapun bahan-bahan diperoleh dari Instansi yang terkait dengan penelitian ini

dan perpustakaan kampus dan daerah yang mana dapat berupa:

 Literatur

 Brosur-brosur

 Karya-karya ilmiah, dll

2. Penelitian Langsung di lapangan

Hal ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu :

a. Observasi lapangan
Yaitu dengan melihat langsung kondisi lapangan daerah penelitian, luas serta kesampaian

daerah serta mencocokkan dengan data-data yang diperoleh.

b. Pengambilah conto dilapangan

Yaitu dengan mengambil conto yang ada dilapangan untuk nantinya dianalisa di

laboratorium.

c. Cek kembali perumusan masalah

Yaitu dengan menyesuaikan data-data yang diperoleh agar apa yang telah didapat sesuai

dengan yang dibutuhkan untuk masalah yang akan dipecahkan.

3. Pengambilan Data

Dalam penelitian ini pengambilan data diperoleh dari:

 Perusahaan yang bersangkutan, baik melalui para karyawan secara lisan maupun

dokumen.

 Instansi yang terkait, seperti P3TM dan pusat informasi lainnya

 Perpustakaan, baik perpustakaan kampus UPN “Veteran” maupun perpustakaan daerah.

4. Akusisi Data

Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam pengolahan data, diantaranya:

 Pengumpulan dan pengelompokan data

 Menghitung jumlah data dengan metode statistik


5. Mengolah Data

Data-data yang telah diperoleh akan diolah, sehingga masalah yang ada dalam hal ini komposisi

blending yang tepat dapat terselesaiakan.

F. DASAR TEORI

1. Genesa Batubara

Batubara adalah suatu endapan (batuan sedimen) yang tersusun atas karbon yang berasal

dari unsur organik yang terbentuk dari berbagai tumbuhan yang mengalami perubahan

atau pembusukan serta terendapkan atau termampatkan dari suatu struktur perlapisan

batuan. Batubara terbentuk dengan cara yang sangat kompleks, terbentuk dari tumbuh-

tumbuhan yang tertimbun berjuta-juta tahun lamanya, yang tidak lepas dari pengaruh

mikrobiologi, umur, tekanan serta lingkungan sekitarnya kemudian terjadi proses

biokimia dan tidak mengalami penghancuran oleh bakteri-bakteri tertentu.

Terdapat dua teori proses pengendapan material batubara, yaitu:

1. Teori insitu, adalah material pembentuk lapisan batubara terbentuk ditempat

dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan demikian setelah tumbuhan

mati, belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan

sedimen dan mengalami proses coalification. Ciri-ciri khususnya adalah

penyebaran luas dan merata, kualitas lebih baik.

2. Teori drift, adalah material pembentuk lapisan batubara terjadi ditempat yang

berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang. Dengan

demikian tumbuhan yang telah mati mengalami transportasi oleh media air

dan terakumulasi disuatu tempat, tertutup oleh lapisan sedimen dan


mengalami coalification. Ciri-ciri khususnya adalah penyebaran tidak luas,

tetapi banyak dan kualitas kurang baik ( banyak mengandung mineral matter).

2. Parameter Kualitas Batubara

Batubara merupakan endapan organik yang mutunya sangat ditentukan oleh

beberapa faktor antara lain tempat terdapatnya cekungan, umur, dan banyaknya

kontaminasi. Didalam penggunaannya batubara sebagai bahan bakar harus menyesuaikan

dengan kualitas batubara agar mesin yang dipergunakan tahan lama.

Pada pemanfaatannya batubara perlu diketahui sifat-sifat yang akan ditunjukkan

oleh batubara tersebut, baik yang bersifat kimiawi, fisik dan mekanis. Sifat-sifat ini akan

dapat dilihat atau disimpulkan dari data kualitas batubara hasil analisa dan pengujiannya.

Dari sejumlah data kualitas yang ada dapat diambil harga rata-ratanya, misalnya

kandungan air, kandungan abu, tetapi ada pula yang tidak dapat diambil harga rata-

ratanya, melainkan harus dilihat harga minimum dan maksimum.

Beberapa parameter kualitas batubara yang akan sangat mempengaruhi

pemanfaatannya, terutama sebagai bahan bakar adalah :

a. Kandungan Air ( Moisture Content)

Moisture adalah sejumlah air yang terkandung didalam batubara dimana

kandungan air tersebut terdapat secara alami didalam batubara. Kandungan air dapat

dibedakan atas kandungan air bebas (free moisture), kandungan air bawaan (inherent

moisture) dan kandungan air total (total moisture). Kandungan air ini akan banyak

pengaruhnya pada pengangkutan, penanganan, penggerusan maupun pada

pembakarannya. Kandungan air bebas dapat naik dan turun tergantung dari
pemeliharaan batubara setelah di tambang baik pada saat diangkut dan pada saat

penumpukan, sehingga memerlukan penanganan yang khusus.

b. Kandungan Abu

Selain kualitas yang akan mempengaruhi penanganannya, baik sebagai fly ash

(abu terbang) maupun bottom ash (abu dasar) tetapi komposisinya yang akan

mempengaruhi pemanfaatan dan juga titik leleh yang dapat menimbulkan fouling

(tingkat pengotoran) pada pipa-pipa. Dalam hal ini kandungan Na2O dalam abu akan

sangat mempengaruhi titik leleh abu. Abu ini dapat dihasilkan dari pengotor bawaan

(inherent ash) maupun pengotor dari hasil penambangan. Komposisi abu sebaiknya

diketahui dengan baik untuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan bangunan

atau keramik dan penanggulangannya terhadap masalah lingkungan yang dapat

ditimbulkannya.

c. Zat Terbang (Volatil Matter)

Kandungan zat terbang sangat erat kaitannya dengan kelas batubara tersebut,

makin tinggi kandungan zat terbangnya makin rendah kelasnya. Pada pembakaran

batubara, maka kandungan zat terbang yang tinggi akan lebih mempercepat

pembakaran karbon padatnya dan sebaliknya zat terbang yang rendah lebih

mempersukar proses pembakaran. Fixed carbon merupakan sisa padat dari hasil

pemanasan batubara setelah seluruh zat terbangnya habis keluar.

d. Nilai Kalori (Calorific Value)

Nilai kalori yaitu jumlah panas yang dihasilkan oleh pembakaran contoh batubara

di laboratorium. Pembakaran dilakukan pada kondisi standar,yaitu pada volume tetap dan

dalam ruangan yang berisi oksigen dengan tekanan 25 atm.


Satuanya dinyatakan dalam Kkal/Kg dan dasar pelaporan dalam kondisi bebas air

permukaan (adb). Nilai kalori dibagi menjadi du, yaitu nilai kalori dibagi menjadi dua,

yaitu nilai kalori kotor dan nilai kalori bersih.

 Gross Calorific Value (GCV) adalah nilai kalori kotor sebagai nilai kalori

khasil dari pembakaran batubara dengan semua air dihitung dalam

keadaan wujud gas.

 Net Calorific Value (NCV) adalah nilai kalori bersih hasil pembakaran

batubara dimana kalori yang dihasilkan merupakan nilai kalor. Harga

nilai kalori bersih ini dapat dicari setelah nilai kalori kotor batubara

diketahui dengan menggunakan rumus:

 100  TM 
NCV =  GCV  
 100  M 1 

dimana:

TM = total moisture

M1 = inherent moisture

e. Sulfur Content

Kandungan sulfur atau belerang dapat berbeda dalam batubara sebagai mineral

Pirit, Markasit, Calsium Sulfat atau Belerang organic yang pada pembakarannya akan

berubah menjadi SO2.

f. Coal Size

Ukuran butir batubara dibatasi pada rentang butir halus dan butir kasar. Butir

paling halus untuk ukuran <3 mm, dan ukuran paling kasar 50 mm. Ukuran butir

paling halus dibatasi Dustness dan tingkat kemudahan diterbangkan angin sehingga
mengotori lingkungan. Tingkat Dustness dan kemudahan beterbangan masih

ditentukan pula oleh kandungan moisture batubara.

g. Hardgrove Grindability Index (HGI)/Indek Gerus

Merupakan suatu bilangan yang dapat menunjukkan mudah tidaknya batubara

untuk di gerus. Makin kecil bilangannya, maka semakin keras keadaan batubaranya.

Harga HGI untuk batubara di Indonesia berkisar antara 35 – 60.

h. Sifat Caking dan Coking

Kedua sifat tersebut ditunjukkan oleh nilai muai bebas (free swelling index) dan

harga dilatasi, yang terutama memberikan gambaran sifat fisik pelunakan batubara

pada pemanasannya.

3. Pengambilan Sampel Batubara (Sampling)

Sampling secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengambilan

sebagian kecil contoh dari suatu material sehingga karakteristik contoh material

tersebut mewakili keseluruhan material yang akan diuji kualitasnya. Berdasarkan

pengertian di atas, maka tujuan dari sampling ialah untuk mengetahui kualitas

batubara yang ada melalui proses penelitian di laboratorium. Di dalam industri

pertambangan batubara, sampling merupakan hal yang sangat penting, karena

merupakan proses yang sangat vital dalam menentukan karakteristik batubara

tersebut. Dalam tahap eksplorasi karakteristik batubara merupakan salah satu penentu

dalam studi kelayakan apakah batubara tersebut cukup ekonomis untuk di tambang

apa tidak, begitupun dalam tahap produksi dan pengapalan atau penjualan batubara

tersebut karakteristik dijadikan acuan dalam menentukan harga batubara.


Sampling batubara merupakan sampling yang tersulit dari semua sampling solid

material, hal ini dikarenakan batubara merupakan heterogen solid material,selain itu

parameter yang ditentukan dari batubara memiliki sifat-sifat penyebara yang

bervariasi, oleh karena itu dalam melakukan sampling batubara harus betul-betul

mengikuti kaidah-kaidah atau standar yang digunakan. Dalam pengambilan sample

harus dilakukan dengan sistem yang benar dan menggunakan metode yang tepat,

guna memenuhi syarat (mewakili dari seluruh produk batubara yang ada).

Pengambilan sample dilakukan pada saat produksi batubara maupun pada saat

loading.

Ada 3 faktor yang menentukan bahwa suatu sample dapat dikatakan

representative atau tidak, yaitu :

1. Teknik pengambilan sample dan alat yang digunakan

2. Massa /jumlah sample yang diambil

3. Periode atau interval pengambilan

Untuk memperoleh sample yang representative maka ketiga factor diatas harus

dilakukan berdasarkan metoda pelaksanaanya, sampling dapat di bagi menjadi dua

golongan yaitu:

1. Manual sampling

2. Mechanikal sampling

Adapun cara pengambilan sample batubara pada stockpile batubara adalah dengan

cara manual dan menggunakan alat Scoop Standard. Pengambilan sampling dibuat

pada bagian-bagian tumpukan yaitu lot 1 bagian bawah tumpukan, lot 2 bagian

tengah tumpukan, dan lot 3 bagian atas tumpukan. Dilakukan dengan cara membuat
lubang pada masing-masing lot ditumpukan batubara produk dibuat dengan

membuang batubara sedikitnya sampai kedalaman 500 mm dibawah permukaan.

Kemudian diambil dengan memasukkan scoop secara horizontal kedalam lubang.

Berat pengambilan sample tergantung dari banyaknya batubara produk di stockpile.

Sample batubara yang sudah diambil kemudian dimasukkan ke dalam kantong

plastik berukuran 10 Kg yang dibungkus rapat dan dibawa ke laboratorium PT.

Sucofindo untuk dilakukan analisis. (PT. Sucofindo, 2004).

4. Blending Management

Blending adalah suatu proses pencampuran batubara yang memiliki kualitas

berbeda sehingga membentuk satu batubara dengan kualitas tertentu yang diinginkan.

Dalam pelaksanaan pencampuran batubara ada beberapa hal yang harus menjadi

perhatian:

 Sebelum pencampuran batubara (blending) dilakukan, yang perlu

diperhatikan adalah target parameter kualitas batubara yang ingin dicapai

dari pencampuran batubara (blending) tersebut.

 Hanya satu target parameter kualitas batubara yang bisa dicapai dengan

tepat dalam satu pencampuran batubara (blending). Parameter lainnya

mengikuti sesuai dengan proporsi pencampuran batubara (blending).

 Diantara parameter kualitas batubara, ada yang bersifat addictive ( dapat

dikalkulasi secara kuantitatif pada saat blending) dan ada juga parameter

yang tidak bersifat addictive atau tidak dapat dihitung secara kuantitatif

berdasarkan berdasarkan proporsi pencampuran batubara (blending)


 Parameter yang bersifat addictive termasuk didalam semua parameter

yang dinyatakan dalam persen dan satuan berat, contoh: Total Moisture,

proximate, CV, Total sulfur (TS), Ultimate.

 Parameter yang bersifat non addictive biasanya parameter yang bersifat

kualitatif seperti: Ash Fusion Temperature, Swelling, HGI.

Berikut adalah beberapa sistem pencampuran batubara (blending) yang digunakan:

a) Blending Barge by Barge

b) Blending Dump Truck by Dump Truck

c) Blending Bucket Loader by Bucket Loader

d) Blending Conveyor

Gambar 1. Pemuatan Batubara Kedalam Hopper (Blending Batubara)

5.Ratio Komposisi Berat

Dalam prose pencampuran batubara dengan nilai kalori kualitas tinggi dan nilai

nilai kalori kualitas rendah, dimana hasil akhir dari proses pencampuran batubara
(blending) dihapakan diperoleh nilai kalori sesuai dengan target yang akan dicapai. Hal

ini dapat dilakukan dengan cara menentukan ratio komposisi berat batubara yang akan

diblending.

Dalam melakukan pencampuran batubara (blending) dapat dilakukan dengan

kalkulasi kualitas pencampuran batubara (blending) dengan rumusan sebagai berikut:

( K1  W1 )  ( K 2  W2 )  ...( K n  Wn )
KC 
(W1  W2 )  ...Wn

Keterangan :

KC = Kualitas hasil pencampuran (blending)

K1 = Kualitas batubara 1

K2 = Kualitas batubara 2

Kn = Kualitas batubara n

W1 = Berat batubara 1

W2 = Berat batubara 2

Wn = Berat batubara n

Maka dalam penanganan pencampuran batubara (blending) kualitas batubara hal-hal

yang menjadi perhatian/pertimbanagn utama adalah:

a. Hal suatu pencampuran batubara (blending) yang dapat memenuhi target

pencapaian sangat diperlukan terutama terhadap konsumen.

Dengan demikian maka yang menentukan kualitas pencampuran batubara (blending)

adalah:

a) Proporsi pencampuran batubara (blending) yang akurat

b) Sistem pencampuran batubara (blending) yang baik dan terkontrol


c) Perhitungan nilai parameter kualitas batubara yang benar

DAFTAR PUSTAKA

1. Charles G. Schofield “Homogenization/Blending System Design And Control For

Mineral Processing”, 1st Edition,Trans Tech Publication, Clausthere Zellerfeld Federal

Republic of Company, 1978.

2. H.C. Rance, “Coal Quality Parameters and Their Influence In Coal Utilization” Shell

International Petroleum Co.Ltd.

3. Muchjidin, 2006, Pengendalian Mutu Dalam Industri Batubara, Penerbit ITB, Bandung.

4. Samuel,M.C, Element Of Practical Coal Mining”, SME,AIME, Inc, New York,1973.

5. Sukandar Rumidi ,Ir ,Msc, Phd , “Batubara Dan Gambut “ Gajah Mada University, Press,

1995.