Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Teori Rainwater Harvesting (RWH)


Air merupakan kekayaan alam yang jumlahnya tetap. Air dapat ditemukan
dalam wujud cair, padat maupun gas. Peningkatan dan perubahan pola hidup serta
peningkatan pembangunan menyebabkan daerah resapan air berkurang. Hal ini
mempengaruhi siklus daur air alami, sehingga air yang turun ke bumi melalui
hujan tidak dapat tertampung maksimal di daratan.
Berdasarkan keadaan tersebut pengelolaan air yang baik perlu dilakukan
agar terjadikeseimbangan antara ketersediaan air di alam dan kebutuhan manusia.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan memaksimalkan
penampungan air hujan pada musim hujan. Untuk mewujudkan hal tersebut dapat
dilakukan sistem pemanenan air hujan (Rainwater Harvesting).
Rainwater harvesting atau pemanenan air hujan adalah kegiatan
menampung air hujan secara lokal dan menyimpannya melalui berbagai teknologi,
untuk penggunaan masa depan untuk mememnuhi tuntutan konsumsi manusia
atau kegiatan manusia. Menurut peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.
12 Tahun 2009 pasal 1 ayat 1 mengatakan bahwa pemanfaatan air hujan adalah
serangkaian kegiatan mengumpulkan, menggunakan, dan/atau meresapkan air
hujan ke dalam tanah. Sedangkan pasal 3 disebutkan, kolam pengumpul air hujan
adalah kolam atau wadah yang dipergunakan untuk menampung zir hujan yag
jauh dari atap bangunan (ruah, gedung, perkantoran, atau industri) yang
disalurkan melalui talang.
Pemanenan air hujan merupakan suatu cara menampung air pada musim
hujan untuk dapat dipergunakan pada saat musim kemarau. Secara sederhana
panen hujan dapat dilakukan dengan cara: memanen atau menampung air hujan
dari atap rumah, dengan cara ini air dapat dimanfaatkan untuk keperluan air
minum dan rumah tangga. Sistem panen hujan biasanya dipergunakan untuk
keperluan domestik. Sistem ini sangat lazim dilakukan di negara-negara yang
sangat rentan terhadap kekeringan seperti di Afrika, India, Srilanka, Iran, Cina,
dan dibeberapa negara Asia Tenggara (Balai Penelitian Agroklimat dan Hidologi).

1.2 Prinsip RWH


Pada dasarnya pemanenan air hujan melalui atap terdiri dari tiga elemen
yaitu: area koleksi; sistem alat angkut; dan fasilitas penyimpanan. Tempat
penampungan dalam banyak kasus atap rumah atau bangunan. Luas efektif atap
dan bahan yang digunakan dalam bangunan atap mempengaruhi efisiensi
pengumpulan dan kualitas air. Sistem pengangkutan yang biasa digunakan terdiri
dari talang atau pipa yang memberikan air hujan yang jatuh di atas atap untuk
tangki air atau kapal penyimpanan lain. Baik drainpipes dan permukaan atap
harus tebuah dari bahan kimia lembam seperti kayu, plastik, aluminium, atau
fiberglass, untuk menghindari efek buruk ada kualitas air. Air akhirnya disimpan
dalam tangki penyimpanan atau tadah yang juga harus terbuat dari bahan inert,
beton bertulang, fiberglass,atau stainless stell adalah bahan yang cocok.
Tangki penyimpanan dapat dibangun sebagai bagian dari bangunan, atau
mungkin dibangun sebagai unit terpisah. Penampung air hujan merupakan wadah
yang dipergunakan untuk menampung air hujan yang jatuh di atas bangunanyang
disalurkan melalui talang. Penampungan air hujan ini dilekngkapi dengan sistem
penyaringan. Dengan sistem ini diharapkan mampu menyaring dan-daun, debu,
atau pasir yang jatuh di atap sehingga tidak ikut masuk ke dalam wadah.

1.3 Perhitungan RWH


Untuk melakukan perhitungan mengenai RWH ada beberapa komponen
yang diperhatikan, diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Catchment area merupakan permukaan untuk menangkap air hujan yang
kemudian dikumpulkan untuk penyimpanan. Dapat merupakan atap,
permukaan lantai diaspal, atau area lain. Pada umumnya area penangkapan
dihitung berdasarkan meter persegi. Cara perhitungannnya adalah setiap 1 cm
curah hujan yang jatuh di area sebesar 40 meter persegi dapat menangkap air
hujan sebesar 900 liter atau 237 galon air. Bila luas atap rumah sebesar 100
meter persegi (atau 2.5×40 meter persegi) maka atap tersebut mampu
menangkap air hujan sebanyak 900 x 2.5 = 2250 liter air hujan untuk setiap 1
cm curah hujan.

Tabel 1.1 Hasil Curah Hujan Tahunan dalam Galon untuk Berbagai Jenis
Luas Atap dan Besar Curah Hujan

Sumber: National Building Code

b. Talang merupakan saluran pada seluruh tepi atap untuk mengumpulkan dan
transportasi air hujan ke tangki penyimpanan. Talang dapat dibuat dengan
menggunakan:
1. Material lokal yang tersedia.
2. Lembaran galvanis besi polos, dilipat menjadi bentuk yang diperlukan.
3. Pipa bahan PVC dapat dengan mudah dibuat dengan memotong pipa
tersebut menjadi setengah lingkaran.
4. Batang bambu dipotong secara vertikal menjadi setengah lingkaran.
Talang ini berfungsi menyalurkan air permukaan menuju tempat
penyimpanan.
Beberapa jenis ukuran talang diantaranya:
Tabel 1.2 Perbandingan Diameter Talang dengan Air Hujan yang Mampu
Ditampung

c. Penyimpanan air dimana dapat dibangun atau dipasang wadah sesuai dengan
prakiraan jumlah panen air hujan. Dapat dibangun diatasa maupun dibawah
tanah seperti sumur resapan.
BAB II
RAINWATER HARVESTING

2.1 Perbandingan dengan Negara Berkembang


Sebagai contoh negra berkembang yang menggunakan sistem RWH di
benua asia yaitu Negara Thailand. Di negara tersebut penampungan air hujan di
lakukan hampir seluruh wilayah pedesaan. Secara tradisional orang
mengumpulkan air hujan untuk untuk minum dan memasak. Orang lebih suka air
hujan hingga untuk air lainnya karena rasanya. Untuk rakyat perdesaan Thailand
umumnya menggunakan setidaknya dua sumber air. Air hujan dari stoples dan
tangki serta air tanah dangkal dari tabung sumur.
Pemanenan air hujan dengan guci hampir digunakan oleh semua rumah
individu dan dengan demikian mereka memiliki akses ke sepanjang tahun untuk
air bersih. Wadah didatangkan dalam berbagai kapasitas dari 100 sampai 3.000
liter dan dilengkapi dengan tutup, keran, dan tirisan. Ukuran yang paling populer
adalah 2.000 liter, dengan biaya 750 Baht, dan menyimpan air hujan cukup untuk
sebuah rumah tangga enam orang selama musim kering, berlangsung hingga enam
bulan. Contoh Penerapan pemanenan air hujan di Thailand dapat dilihat pada
Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Stoples Atau Guci Penyimpan Air Hujan di Thailand.


Pembangunan lebih dari 10 juta 1-2 guci forrocement meter kubik untuk
penyimpanan air hujan di Thailand telah menunjukkan potensi dan kesesuaian
sistem tangkapan sebagai teknologi pasokan air utama perdesaan.

Secara keseluruhan sistem yang digunaka di negara ini masih umum/


tradisional karna belum menggunakan sistem modern seperti penambahan sistem
penyaringan dengan alat yang modern. Masyarakat Thailand memandang air
hujan sebagai kebutuhan yang mereka perlukan sehingga mereka menampung air
tersebut seperti masyarakat Indonesia.

2.2 Perbandingan dengan Negara Maju


Berbeda ketika kita mengatakan pengelolaan rainwater harvesting di
negara berkembang dengan segala kecanggihan alat maupun manajemennya.
Seperti contohnya di Negara Korea Selatan. Sejak korea mengalami kondisi cuaca
yang paling parah, yang diperkirakan akan menjadi lebih parah karena prubahan
iklim, maka perlu sebuah paradigma baru dalam pengelolaan air hujan. Walaupun
paradigma ini dikembangkan dalam konteks area monsoon, konsep serupa bisa
diaplikasikan di daerah kering atau basah lainnya, atau daerah yang mungkin akan
mengalami kondisi cuaca abnormal di seluruh dunia. Pada akhirnya, hal ini akan
dapat membantu negara-negara untuk memenuhi Millenium Development Goals
(MDGs), dan penggunaan air yang efisien akan membutuhkan energi yang lebih
sedikit serta mendukung infrastruktur yang berkelanjuta (Mooyoung, 2008).
Baru-baru ini, telah terjadi peningkatan minat dalam pemerintahan,
kalangan akademisi, dan organisasi non-pemerintah untuk mempromosikan
pemanfaatan air hujan di Republik Korea. Beberapa pemerintah daerah, seperti
Metropolitan Seoul Government (SMG), memberlakukan tindakan untuk meminta
instalasi sistem pemanfaatan air hujan untuk bangunan yang baru dibangun dan
juga mengembangkan program insentif untuk mempromosikan pemanfaatan air
hujan. Baru-baru ini, pengelolaan air hujan telah dianggap sebagai langkah
penting untuk mencegah bencana alam seperti banjir dan/atau kekeringan. Data
teknis dan teori-teori dikembangkan melalui pengalaman yang diperoleh pada
proyek percontohan di sekolah-sekolah dan beberapa pangkalan militer. SMG
telah terganggu oleh kerusakan yang berulang pada kota oleh banjir, karena
daerah perkotaan ditutupi dengan permukaan tidak tembus air. Sebagai
pemulihannya, SMG kini memberlakukan contoh pertama dari pengelolaan air
hujan multi-tujuan.
Kota Seoul mengumumkan peraturan baru untuk menegakkan instalasi
sistem pemanenan air hujan pada bulan Desember 2004. Tujuan utama adalah
untuk menanggulangi banjir perkotaan. Tujuan kedua adalah untuk menghemat
air. Ini diharapkan dapat menjamin keamanan kota dan meningkatkan
kesejahteraan warga negara sebagai hasilnya. Warga diminta untuk bekerjasama
dengan mengisi dan mengosongkan tangki air hujan menurut arahan dari instansi
pencegahan bencana. Sebuah fitur khusus dari sistem baru adalah penyediaan
jaringan untuk memantau tingkat permukaan air di semua tangki air di pusat
badan pencegahan bencana di kantor pusat yang dikumpulkan dari setiap kantor-
Gu, yang mana merupakan organisasi regional di Kota. Tergantung pada curah
hujan yang diharapkan, pusat lembaga pencegahan bencana dapat mengeluarkan
perintah kepada pemilik bangunan untuk mengosongkan tangki air hujan mereka,
baik seluruhnya atau sebagian. Sebuah program insentif direncanakan bagi
mereka yang mengikuti aturan dan beberapa hukuman diberikan bagi mereka
yang tidak mengikutinya. Setelah peristiwa badai, air yang tersimpan dapat
digunakan untuk pemadam kebakaran dan atau atau tujuan lain-lain seperti untuk
air bilas toilet serta untuk siram taman.
Bangunan-bangunan yang termasuk dalam peraturan tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Semua bangunan umum : wajib untuk bangunan baru dan direkomendasikan
untuk bangunan yang sudah ada.
2. Fasilitas umum yang baru seperti taman, tempat parkir, dan sekolah apabila
memungkinkan.
3. Bangunan Swasta : direkomendasikan untuk bangunan gedung baru yang
dikenakan izin (luas area lebih besar dari 3000 m2).
4. Rencana Pengembangan besar seperti proyek kota baru : instalasi sistem
pengelolaan air hujan sebagai prioritas pertama.

Diagram yang menampilkan pemantauan beberapa sistem tangki untuk


Pencegahan Banjir Perkotaan dan Konservasi Air dapat dilihat seperti pada
Gambar 2.2.

Gambar 2.2 Sistem Jaringan Untuk Memantau Tingkat Permukaan Air Di Semua
Tangki Air Di Pusat Badan Pencegahan Bencana Di Kota Seoul.
BAB III
PERENCANAAN EVALUASI RWH EKSISTING

3.1 Lokasi Terpilih


Daerah yang akan dikaji mengenai rainwater harvesting ini terletak di
Desa Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Desa Wisata Sukunan berjarak kurang lebih 5 km dari pusat kota Yogyakarta ke
arah barat. Untuk menuju kesana dapat ditempuh melalui jalan Godean. Berikut
gambar peta lokasi yang berpatokan pada Tugu Yogyakarta untuk menuju Desa
Wisata Sukunan.

Gambar 3.1 Peta Lokasi Desa Sukunan

3.2 Ditinjau dari Aspek Teknis


Desa Sukunan telah merintis menjadi sebuah desa wisata berbasis
lingkungan atau disebut ecotourism sejak tahun 2003. Bukan hanya desa wisata
yang mengutamakan permasalahan sampahnya, tetapi juga sudah mulai
merangkak pada unsur lain seperti pemanfaatan air hujan. Hal ini menjadi topik
yang menarik karena warga Sukunan memiliki kesadaran masyarakat yang tinggi
akan permaslahan lingkungan. Sehingga apabila dikelola lebih baik lagi mengenai
pemanfaatan air hujan ini maka hasilnya tentu akan lebih bermanfaat bagi warga
sekitar.
Akses yang mudah serta sebuah desa wisata juga menjadi salah satu
keuntungan untuk melakukan observasi di Desa Sukunan ini. Menurut hasil
wawancara dengan salah seorang dari Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan
Universitas Islam Indonesia yang pernah melakukan kunjungan ke lokasi tersebut,
menyebutkan bahwa pemanfaatan air hujan oleh masyarakat Sukunan masih
terbilang sederhana dan sedikit yang menerapkan. Sehingga hal ini akan menarik
untuk dilakukan evaluasi mengenai kajian rainwater harvesting yang masih
minim diterapkan di Indonesia.
Adapun untuk pengambilan sampel terkait kondisi kualitas air sebelum
maupun setelah dilakukannya pengolahan terhadap pemanfaatan air hujan
tersebut, dilakukan secara random pada satu rumah yang menerapkan sistem
RWH dan akan diteliti kandungannya pada skala laboratorium.

3.3 Ditinjau dari Aspek Ekonomi


Desa Sukunan merupakan salah satu desa wisata terbaik yang dimiliki oleh
Indonesia. Hal ini ditunjukan oleh adanya prestasi yang diraih oleh desa ini.
Misalnya sebuah lembaga dari Australia, Australian Consortium for In Country
Indonesia (ACICIS) berperan besar dalam mendukung kegiatan pengolahan
sampah di Kampung Sukunan ini. Artinya desa ini sudah dikenal sampai
mancanegara.
Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian menjadi wirausaha
yang memanfaatkan desanya sebagai desa wisata. Contohnya yaitu membuat
kerajinan daur ulang, membuat batako atau pot dengan memanfaatkan limbah
sterofom, menjual aneka kuliner kreatif, dan lain-lain. Jadi sebagaian besar
pendapatan kas desa didapat dari diberdayakannya desa wisata ini. Hal ini
menjadi salah satu penyebabnya, mengingat masih sedikitnya warga yang
menerapkan sistem RWH sebagai pemanfaatan air hujan untuk digunakan sebagai
penggunaan sehari-hari.
3.4 Ditinjau dari Aspek Sosial
Banyak kegiatan yang dilakukan oleh Desa Wisata Sukunan ini terutama
kaitannya dibidang edukasi, baik aktifitas warga dengan alam maupun antar
masyarakatnya. Diantaranya mulai dari membuat rancang bangun sistem
pengolahan sampah, daur ulang kertas dan plastik, membuat kompos, pupuk cair
dan inokulan, membuat biopori secara praktis, hidroponik, bertani, beternak,
memanfaatkan sterofoam menjadi batako dan pot, hingga membuat aneka
kerajinan daur ulang. Sementara di bidang kesenian pengunjung bisa belajar
karawitan. Hal ini menunjukan bahwa baiknya sistem manajemen desa yang
sudah terstruktur, dapat dilihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan sebagai
desa wisata. Sehingga berpotensi besar untuk diterapkannya sistem rainwater
harvesting.