Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 7 MODUL 3 “FOKAL INFEKSI”

Kelompok 1

Tutor : Dr. Drg. Nila Kasuma,Mbiomed

Ketua : Fiyona Oksadela

Sekretaris papan : Aisya Dalvi

Sekretaris meja : Putri Amelia

Anggota :

M. Iqbal

Rahma Fuaddiah

Gian Ernesto

Kuntum Khaira Ummah

Marsha Nada Maghfira Pramadiaz

M Reygan Caristo Anwar

Kinantya Putri Ridelfi

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2017
MODUL 3

FOKAL INFEKSI
Skenario 3

“SAKIT GIGI KOK KE JANTUNG?”

Pak Rahat (50 th) mengeluh sakit pada dada kiri dan sulit bernafas. Setelah diperiksa
dokter spesialis penyakit dalam,pak Rahat dinyatakan menderita jantung koroner. Dokter
menyarankan untuk konsultasi dengan dokter gigi karena mencurigai adanya infeksi
odontogen.

Dokter gigi melakukan pemeriksaan intra oral dan menemukan gigi 26,34 abses
kronis,gigi 45,44 ganggren pulpa,kalkulus pada semua regio dengan grade 3.

Dokter gigi menjelaskan bahwa infeksi yang terjadi di rongga mulut dapat menjadi
fokal infeksi yang akan menjalar kemana-mana karena mikroorganisme yang ada akan
menyebar. Kelainan di rongga mulut dapat menjadi fokus infeksi dan fokal infeksi apabila
tidak ditangani secara komprehensif.

Bagaimana saudara menjelaskan masalah di atas ?

TERMINOLOGI
 Infeksi odontogen : infeksi akut atau kronis yang berasal dari gigi yang
berhubungan dengan patologi.
 Fokus infeksi : asal atau tempat terjadinya infeksi.
 Fokal infeksi : infeksi lokal dalam waktu lama/kronis,melibatkan bagian
kecil tubuh yang menyebabkan infeksi dan gejala klinis pada bagian tubuh lain.

RUMUSAN MASALAH

1. Apa hubungan penyakit pak Rahat dengan drg ?


2. Apa penyebab dari infeksi odontogen ?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi odontogen ?
4. Apa tanda-tanda atau gejala dari infeksi odontogen ?
5. Apa penyebab fokal infeksi di rongga mulut ?
6. Apa saja mikroorganisme penyebab fokal infeksi ?
7. Apa saja jenis-jenis infeksi non odontogen ?
8. Selain di jantung,organ apa saja yang disebabkan fokal infeksi ?
9. Bagaimana cara penanganan infeksi odotogen ?

ANALISA MASALAH

1. Apa hubungan penyakit pak Rahat dengan drg ?


Dokter curiga infeksi odontogen,akibat bakteri masuk ke pembuluh darah
melalui rongga pulpa,menempel di timbunan lemak, dan sampai ke arteri
jantung
2. Apa penyebab dari infeksi odontogen ?
 Oral hygiene yang buruk
 Asupan gisi buruk
 Sistem imun lemah
 Kalkulus : permentasi di gigi
 Abses
 Ganggren pulpa : infeksi dari mikroorganisme
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran infeksi odontogen ?
 Jenis dan virulensi kuman
 Sistem imun host
 Posisi gigi infeksi
 Panjang akar gigi
 Tissue space dan potensial space
 Oral hygiene buruk
 PH saliva basa (lebih mudah kalkulus)
 Usia
 Genetik
4. Apa tanda-tanda atau gejala dari infeksi odontogen ?
 Inflamasi
 Timbul rasa nyeri,panas,perubahan warna/kemerahan
 Pembengkakan kelenjar limfa
 Sulit buka mulut
 Disfgia : sulit menelan
5. Apa penyebab fokal infeksi di rongga mulut ?
 Faktor agen : jenis bakteri,virulensi yang lain,mikroorganisme
 Faktor penjamu : daya tahan tubuh
 OH buruk
 Faktor lingkungan
6. Apa saja mikroorganisme penyebab fokal infeksi ?
 Flora normal di plak dan sulkus gingiva,mukosa mulut
 Aerob gram positif
 Anaerob gram negatif
 Alpha hemolyc stretococcus
7. Apa saja jenis-jenis infeksi non odontogen ?
 Osteomilitis
 Candidiasis
 Actynomikosis
8. Selain di jantung,organ apa saja yang disebabkan fokal infeksi ?
 Meningitis : otak
 Dermatitis : kulit
 Sinus maxillaris
9. Bagaimana cara penanganan infeksi odotogen ?
 Pemberian antibiotik
 Terapi
SKEMA

Pak Rahat (50 th)

Sakit di dada kiri

Jantung koroner

Mikroorganisme infeksi
Infeksi odontogen odontogen

Fokus infeksi Fokal infeksi

Infeksi Infeksi non Penyebab


Mekanisme penyebaran Organ lain yang
odontogen odontogen
(sistem regulasi) diakibatkan oleh infeksi

Gejala Pencegahan
LEARNING OBJECTIVE

1) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan defenisi fokus infeksi dan fokal
infeksi
2) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan defenisi infeksi odotogen dan non
odontogen
3) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tanda-anda atau gejala fokal infeksi
4) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mikroorganisme penyebab infeksi
odontogen
5) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mekanime infeksi odontogen
6) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan kontrol infeksi
A. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan defenisi fokus infeksi dan fokal
infeksi
 Fokal infeksi
Fokal infeksi adalah suatu infeksi lokal yang biasanya dalam jangka
waktu cukup lama (kronis), dimana hanya melibatkan bagian kecil dari tubuh,
yang kemudian dapat menyebabkan suatu infeksi atau kumpulan gejala klinis
pada bagian tubuh yang lain. Contohnya, tetanus yang disebabkan oleh suatu
pelepasan dari eksotoksin yang berasal dari infeksi lokal. Teori tentang fokal
infeksi sangat erat hubungannya dengan bagian gigi, dimana akan
mempengaruhi fungsi sistemik seseorang seperti sistem sirkulasi, skeletal dan
sistem saraf. Hal ini disebabkan oleh penyebaran mikroorganisme atau toksin
yang dapat berasal dari gigi, akar gigi, atau gusi yang terinfeksi.
Menurut W.D Miller (1890), seluruh bagian dari sistem tubuh yang
utama telah menjadi target utama dari infeksi yang berasal dari mulut,
terutama bagian pulpa dan periodontal. Organisme yang berasal dari mulut
tersebut dapat menyebar ke daerah sinus (termasuk sinus darah kranial), saraf
pusat dan perifer, sistem kardiovaskuler, mediastinum, paru-paru dan mata.

Faktor-faktor Penyebab

a. Faktor Agen
o Meliputi jenis bakteri dan virulensinya.
o Dapat menyebar secara cepat dan difusi melauli jaringan
o Infeksi ini dapat disebabkan oleh anaerob dengan coccus Gram (-)
o Menyebar dengan masuk pembuluh darah dan membentuk
penyebaran sistemik dari komples imun, komponen dan produk
bakteri.
b. Faktor Pejamu
o Meliputi pertahanan tubuh terhadap penetrasi bakteri dari plak gigi
ke jaringan yaitu penghalang fisik yang dibentuk oleh permukaan
epitel, defesins (antibiotik peptida yang dibentuk pejamu di mucosa
epitelium), penghalang elektrik, penghalang imunologis sel
pembentuk antibodi dan sistem retikuloendotelial (penghalang
fagosit)
o Mekanisme dapat menyebar dan menyebabkan infeksi akut dan
kronik
c. Oral Hygiene yang Buruk
o Jumlah bakteri yang berkolonisasi di gigi (supragingiva) meningkat
2-10 x lipat dan memungkinkan lebih banyak bakteri melewati
jaringan dan masuk ke pembuluh darah, menimbulkan peningkatan
prevalensi dan besarnya bakteremia.
d. Faktor Lingkungan meliputi status sosioekonomi
o Dilihat dari asupan gizinya serta kebersihan diri yang tidak terjaga.

Mekanisme Terjadinya Fokal Infeksi


Ada 2 cara :

o Kuman terbawa aliran darah atau aliran getah bening ke bagian


tubuh yang lain.
o Toksin dari kuman yang terbawa aliran darah/ aliran getah bening
dari fokus infeksi ke bagian tubuh yang lain.

Penyebarannya melalui 3 jalan :

o Tissue/Fascial planes dan spaces


Kepala dan leher diselubungi oleh fascial plames (lembaran-
lembaran fascia) yang normalnya di pisahkan oleh jaringan ikat jarang.
Spacia spasium merupakan area yang dibatasi oleh fascia, tidak
dijumpai pada orang sehat, berpotensi terisi eksudat purulen ketika
terjadi infeksi. Dapat menghambat dan melokalisir penyebaran infeksi,
namun karena berhubungan, infeksi dapat meluas ke spasium yang
saling berhubungan.

Ada 2 spaces :

 Primary maxilar
 Caninus space : bengkak di anterior wajah, drainase spontan di
inferior medial chantus mata
 Buccal space : bengkak dibawah lengkung zigomatic dan di
atas tepi inferior mandibula
 Secondary fascial
 Masseteric space : bengkak di daerah ramus dan angulus
 Pterygomandibular space
o Sistem Limfatik
Alat pertahanan local dan sistemikterhadap infeksidan invasi
mikroorganisme. Limfadenitis regional merupakan tanda infeksi ini
dan telah lalu.
o Peredaran darah
Cavernosus sinus thrombosis terjadi akibat perluasan infeksi
odontogen kea rah superior melalui pembuluh darah. Bakteri berjalan
dari maksila ke posterior melalui plexus dan v. emisari/ ke anterior
melalui v. ansularis, dan inferior/ superior v. opthamlmik ke sinus
cavernosus.
 Fokus infeksi

Sumber (fokus infeksi) yaitu pusat atau suatu daerah didalam tubuh
dari mana kuman atau basil – basil dari kuman tersebut dapat menyebar jauh
ketempat lain dalam tubuh dan bisa menyebabkan penyakit. Jadi apabila
dikatakan gigi sebagi sumber (fokus) infeksi berarti bahwa pusat atau sumber
infeksi dari salah satu organ tubuh berasal dari gigi. Adapun salah satu jalan
penjalaran kuman dari pusat infeksi sampai keorgan tubuh tersebut, dibawa
melalui aliran darah / limfe atau dapat pula secara kontaminasi (Moestopo,
1982).

Sumber (fokus) infeksi dalam rongga mulut, terutama yang berhubungan erat
dengan gigi dapat berada di jaringan – jaringan (Moestopo, 1982) :

o Periodontium
yaitu jaringan untuk mengikat gigi didalam tulang alveolus, kalau
serabut periodontium ini rusak, gigi akan goyang, dan kuman – kuman
akan lebih mudah mencapai daerah ujung akar gigi dan masuk saluran
darah. Keadaan ini yang biasa disebut pyorhoeayaitu gejala keluarnya
nanah dari saku gusi yang berasal dari peradangan karena rusaknya
periodontium.
o Periapikal, yaitu ujung akar gigi
o Pulpa gigi.

Bahkan dapat berasal dari kuman – kuman penyakit didaerah gusi, juga
sisa – sisa fragmen gigi yang tertinggal, gigi dan lubang – lubang baru
setelah pencabutan, bekas akar gigi (socket) dapat pula merupakan fokus
infeksi.

Cara dari kuman – kuman tersebut dapat menembus masuk kedalam


aliran darah, haruslah melalui lubang / perlukaan pada pembuluh darah
atau kelenjar limfe (getah bening), yaitu melalui lesi (kerusakan) yang
ditimbulkan oleh trauma mekanis, misalnya pada tindakanpencabutan gigi,
gerakan mengunyah pada gigi yang rusak dan goyang, sehingga pada
keadaan ini selain terjadi trauma mekanis juga timbul gerakan memompa
yang dengan sendirinya akan mempermudah penularan dengan
memompakan kuman – kuman dari sekeliling akar gigi ke dalam aliran
darah dan kelenjar getah bening melalui pembuluh darah (Moestopo,
1982).

B. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan defenisi infeksi odotogen dan


non odontogen
 Infeksi Odontogen
Infeksi odontogenik merupakan infeksi akut atau kronis yang berasal
dari gigi yang berhubungan dengan patologi. Mayoritas infeksi yang
bermanifestasi pada region orofacial adalah odontogenik. Infeksi odontogenik
merupakan pemyakit yang paling umum sedunia dan merupakan alasan
mencari perawatan dental (Fragiskos , 2007)
Infeksi terbanyak di regio maxila dan mandibula disebabkan oleh
infeksi odontogenik antara lain infeksi periapikal dan periodontal, kista,
fraktur akar, infeksi residual dan poket perikoronal (Archer, 1975).
Penyebabnya adalah bakteri yang merupakan flora normal dalam mulut, yaitu
bakteri dalam plak, dalam sulkus ginggiva, dan mukosa mulut. Yang
ditemukan terutama bakteri kokus aerob gram positif, kokus anaerob gram
positif dan batang anaerob gram negative. Bakteri-bakteri tersebut dapat
menyebabkan karies, gingivitis, dan periodontitis. Jika mencapai jaringan
yang lebih yang lebih dalam melalui nekrosis pulpa dan pocket periodontal
dalam, maka akan terjadi infeksi odontogen. Yang penting adalah infeksi ini
disebabkan oleh bermacam-macam bakteri, baik aerob maupun anaerob.
Infeksi odontogen dapat menyebar secara perkontinuitatum,
hematogen dan limfogen, yang disebabkan antara lain oleh periodontitis
apikalis yang berasal dari gigi gangren, dan periodontitis marginalis.
Penjalaran infeksi odontogen yang menyebabkan abses dibagi dua
yaitu penjalaran tidak berat (yang memberikan prognosa baik) dan penjalaran
berat (yang memberikan prognosa tidak baik, di sini terjadi penjalaran hebat
yang apabila tidak cepat ditolong akan menyebabkan kematian). Adapun yang
termasuk penjalaran tidak berat adalah serous periostitis, abses sub periosteal,
abses sub mukosa, abses sub gingiva, dan abses sub palatal. Sedangkan yang
termasuk penjalaran yang berat antara lain abses perimandibular, osteomielitis,
dan phlegmon dasar mulut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan penyebaran dan


kegawatan infeksi odontogenik adalah :
 Jenis dan virulensi kuman penyebab.
 Daya tahan tubuh penderita.
 Jenis dan posisi gigi sumber infeksi.
 Panjang akar gigi sumber infeksi terhadap perlekatan otot-otot.
 Adanya tissue space dan potential space.

Berdasarkan tipe infeksinya, infeksi odontogen bisa dibagi menjadi :

o Infeksi odontogen lokal / terlokalisir, misalnya: Abses periodontal


akut; peri implantitis.
o Infeksi odontogen luas/ menyebar, misalnya: early cellulitis,deep-space
infection.
o Life-Threatening, misalnya: Facilitis dan Ludwig’s angina.

Pada umumnya infeksi gigi termasuk karies gigi, infeksi dentoalveolar


(infeksi pulpa dan abses periapikal), gingivitis (termasuk NUG), periodontitis
(termasuk pericoronitis dan peri-implantitis), Deep Facial Space
Infections dan osteomyelitis. Jika tidak dirawat, infeksi gigi dapat menyebar
dan memperbesar infeksi polimikrobial pada tempat lain termasuk pada sinus,
ruang sublingual, palatum, system saraf pusat, perikardium dan paru-paru.

Jenis-jenis Infeksi Odontogen

o Periodontitis Marginalis
Infeksi dari marginal gusi, umumnya berjalan kronis
Inflamasi dimulai dari gingivitis marginalis :
 Gusi hiperemis
 Edema
 Mudah berdarah
 Kalkulus
 Hilangnya puncak tulang muscular
 Terbentuknya Poket
o Pericoronitis
 Infeksi pada jaringan lunak perikoronal (opercula) yang bagian
paling besar/ utama dari jaringan lunak tersebut berada di atas/
menutupi mahkota gigi.
 Disebabkan oleh adanya mikroorganisme dan debris yang
terperangkap diantara mahkota gigi dan jaringan lunak di atasnya

Pericoronitis dapat dibagi menjadi 3, yaitu :

 Pericoronitis Akut
Rasa sakit spontan (rasa sakit tekan memancar), tidak ada pengaruh
suhu/ ransangan, menelan sakit, bengkak sekitar gigi dan berwarna
merah.
 Pericoronitis Subakut
Tidak ada pembengkakan pipi, tidak ada trismus, untuk gerakan
mengunyah sakit, ada pus dari poket, operculum dan jaringan
sekitarnya bengkak serta sakit, dan terkadang ada ulserasi (abses
perikoroner)
 Pericoronitis Kronis
 Bergaranulasi
Bengkak kecil pada pipi dan rahang. Bila palpasi terasa
elastic dan seperti berpasir-pasir (pseudofluktuasi).
 Berosifikasi
Bengkak kecil pada pipi dan rahang. Bila dipalpasi terasa
keras, bentuknya bulat.
o Abses Periodontal
 Inflamasi pada jaringan periodontal yang terlokalisasi dan
mempunyai daerah yang virulen
 Perkembangan abses terjadi ketika poket menjadi bagian dari
sumber infeksi. Type dari infeksi ini biasanya dimulai pada
gingival crevice pada permukaan akar, sering sampai ke
permukaan apeks. Merupakan serangan yang tiba-tiba dan sakit
yang teramat sangat.
 Suatu proses periodontal dapat dihubungkan dengan gigi nonvital
atau trauma. Abses periodontal dapat meluas dari gigi penyebab
melalui tulang alveolar ke gigi tengtangga, dan menyebabkan
goyangnya gigi tersebut.
o Abses Periapikal (Dentoalveolar)
 Dimulai di region periapikal dari akar gigi, dan sebagai akibat dari
pulpa yang nonvital/ pulpa yang mengalami degenerasi. Dapat juga
terjadi setelah adanya trauma jaringan pulpa baik langsung terjadi
atau beberapa waktu kemudian.
 Dapat terjadi eksasebasi akut (kambuh lagi) yang diikuti dari
gejala-gejala dari infeksi akut.
o Phlegmon
 Selulitis akut, hebat, toksik, melibatkan secara bilateral, spasia
submandibula, submental, sublingual.
 Terjadi karena gigi posterior rahang bawah dan fraktur mandibula
Gejalanya :
 Pembengkakan keras
 Sakit
 Berwarna kemerahan
 Lidah terangkat
 Trismus
 Hipersalivasi

Faktor-faktor yang berperan terjadinya infeksi


o Virulensi dan Quantity
Di rongga mulut terdapat bakteri yang bersifat komensalis.
Apabila lingkungan memungkinkan terjadinya invasi, baik oleh flora
normal maupun bakteri asing, maka akan terjadi perubahan dan bakteri
bersifat patogen. Patogenitas bakteri biasanya berkaitan dengan dua
faktor yaitu virulensi dan quantity. Virulensi berkaitan dengan kualitas
dari bakteri seperti daya invasi, toksisitas, enzim dan produk-produk
lainnya. Sedangkan Quantity adalah jumlah dari mikroorganisme yang
dapat menginfeksi host dan juga berkaitan dengan jumlah faktor-faktor
yang bersifat virulen.
o Pertahanan Tubuh Lokal
Pertahanan tubuh lokal memiliki dua komponen. Pertama barier
anatomi, berupa kulit dan mukosa yang utuh, menahan masuknya
bakteri ke jaringan di bawahnya. Pembukaan pada barier anatomi ini
dengan cara insisi poket periodontal yang dalam, jaringan pulpa yang
nekrosis akan membuka jalan masuk bakteri ke jaringan di bawahnya.
Gigi-gigi dan mukosa yang sehat merupakan pertahanan tubuh lokal
terhadap infeksi. Adanya karies dan saku periodontal memberikan
jalan masuk untuk invasi bakteri serta memberikan lingkungan yang
mendukung perkembangbiakan jumlah bakteri.
Mekanisme pertahanan lokal yang kedua adalah populasi
bakteri normal di dalam mulut, bakteri ini biasanya hidup normal di
dalam tubuh host dan tidak menyebabkan penyakit. Jika kehadiran
bateri tersebut berkurang akibat penggunaan antibiotik, organisme
lainnya dapat menggantikannya dan bekerjasama dengan bakteri
penyebab infeksi mengakibatkan infeksi yang lebih berat.
o Pertahanan Humoral
Mekanisme pertahanan humoral, terdapat pada plasma dan
cairan tubuh lainnya dan merupakan alat pertahanan terhadap bakteri.
Dua komponen utamanya adalah imunoglobulin dan komplemen.
Imunoglobulin adalah antibodi yang melawan bakteri yang menginvasi
dan diikuti proses fagositosis aktif dari leukosit. Imunoglobulin
diproduksi oleh sel plasma yang merupakan perkembangan dari
limfosit B.Terdapat lima tipe imunoglobulin, 75 % terdiri dari Ig G
merupakan pertahanan tubuh terhadap bakteri gram positif. Ig A
sejumlah 12 % merupakan imunoglobulin pada kelenjar ludah karena
dapat ditemukan pada membran mukosa. Ig M merupakan 7 % dari
imunoglobulin yang merupakan pertahanan terhadap bakteri gram
negatif. Ig E terutama berperan pada reaksi hipersensitivitas. Fungsi
dari Ig D sampai saat ini belum diketahui.

Komplemen adalah mekanisme pertahanan tubuh humoral


lainnya, merupakan sekelompok serum yang di produksi di hepar dan
harus di aktifkan untuk dapat berfungsi. Fungsi dari komplemen yang
penting adalah yang pertama dalam proses pengenalan bakteri, peran
kedua adalah proses kemotaksis oleh polimorfonuklear leukosit yang
dari aliran darah ke daerah infeksi. Ketiga adalah proses opsonisasi,
untuk membantu mematikan bakteri. Keempat dilakukan fagositosis.
Terakhir membantu munculnya kemampuan dari sel darah putih untuk
merusak dinding sel bakteri.
o Pertahanan Seluler
Mekanisme pertahanan seluler berupa sel fagosit dan limfosit.
Sel fagosit yang berperan dalam proses infeksi adalah leukosit
polimorfonuklear. Sel-sel ini keluar dari aliran darah dan bermigrasi e
daerah invasi bakteri dengan proses kemotaksis. Sel-sel ini melakukan
respon dengan cepat, tetapi sel-sel ini siklus hidupnya pendek, dan
hanya dapat melakukan fagositosis pada sebagian kecil bakteri. Fase
ini diikuti oleh keluarnya monosit dari aliran darah ke jaringan dan
disebut sebagai makrofag. Makrofag berfungsi sebagai fagositosis,
pembunuh dan menghancurkan bakteri dan siklus hidupnya cukup
lama dibandingkan leukosit polimorfonuklear. Monosit biasanya
terlihat pada infeksi lanjut atau infeksi kronis.
Komponen yang kedua dari pertahanan seluler adalah populasi
dari limfosit, seperti telah di sebutkan sebelumnya limfosit B akan
berdifernsiasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi yang
spesifik seperti Ig G. Limfosit T berperan pada respon yang spesifik
seperti pada rejeksi graft (penolakan cangkok) dan tumor suveillance
(pertahanan terhadap tumor).
 Infeksi Non Odontogen
Jenis-jenis Infeksi Non Odontogen
o Osteomilitis
Keadaan infeksi akut/ kronik pada tulang rahang, biasanya disebabkan
oleh bakteri dan terkadang jamur.
Gejalanya :
 Sakit gigi dan terjadi pembengkakan disekitar pipi dan akhirnya
bersifat kronik membentuk fistel
 Kelelahan dan nyeri pada sendi/ edema
Penyebabnya :
 Penyakit periodontal seperti gingivitis, pyorrhea/ periodontitis,
serta sariawan
 Gangren radiks
 Trauma patah tulang
o Candidiasis
Gejala :
Plak putih dan rapuh yang melekat pada lidah, mukosa gigi, gingiva
dan palatum dengan eritema dibawahnya
Penyebabnya :
 Terjadi di lingkungan yang abnormal tergantung pada
kelembapan/ panas
 Antiibiotik sistemik
o Actynomikosis
Menyebabkan abses di beberapa tempat.
Gejala :
 (Disebut juga Lumpy Jaw), dimulai sebagai pembengkakan
kecil, datar dan keras di dalam mulut, kulit leher/ bawah
rahang. Menimbulkan nyeri
 Terbentuk daerah lunak yang menghasilkan cairan yang
mengandung butiran belerang bulat dan kecil berwarna
kekuningan.
Penyebab : Bakteri Achynomyces israelli

C. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tanda-anda atau gejala fokal


infeksi
 Gejala klinis
Penderita biasanya datang dengan keluhan sulit untuk membuka mulut
(trismus),tidak bisa makan karena sulit menelan (disfagia),nafas yang pendek
karena kesulitan bernafas.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda infeksi yaitu :
o Rubor
Permukaan kulit yang terlibat infeksi terlihat kemerahan akibat
vasodilatasi efek dan inflamasi.
o Tumor
Pembengkakan, terjadi karena akumulasi nanah atau cairan exudat.
o Kalor
Teraba hangat pada palpasi karena peningkatan aliran darah ke area
infeksi
o Dolor
Terasa sakit karena adanya penekanan ujung saraf sensorik oleh
jaringan yang bengkak akibat edema atau infeksi.
o Fungsiolaesa
Terdapat masalah dengan proses mastika,trismus,disfagia dan
gangguan pernafasan.

Dampak dan Gejala Fokal Infeksi

o Arthritis (Radang sendi), Rhematoid arthritis, dan tipe demam rhematic


Gejala :
 Nyeri dan terbatasnya dari sendi-sendi
 Kekakuan, Pembengkakan, kemerahan dan kehangatan sendi
 Demam, pembengkakan kelenjar, kehilangan berat badan,
kelebihan dan merasa tidak enak.
o Penyakit gastrointestinal
Gejala :
 Muntah, kembung perut
 Pembengkakan (penggelembungan perut)
o Penyakit mata, iritis, cyclitis, choroditis, uveitis generalisata. Gejala : –
Pembengkakan, peradangan, panas dan gatal-gatal – Mata berair d)
Penyakit Ginjal
Gejala :
 Gangguan pengecapan
 Mual-mual dan muntah
 Gatal-gatal, kulit kasar
 Tidak nafsu makan
 Sesak nafas dan kram
o Penyakit kulit, acne, seborreheic dermatitis, tinea, eczema, dermatitis
venerata, impetigo, scabies, urticaria, psoriasis, pityriasis rosea
Gejala :
 Gatal dan suhu yang panas tinggi pada edema
 Bintik-bintik merah dan pucat pada kulit
 Pembengkakan yang dapat menggangu penglihatan dan
pernafasan

D. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mikroorganisme penyebab


infeksi odontogen
Rongga mulut merupakan tempat hidup bakteri aerob dan anaerob yang
berjumlah lebih dari 400 ribu spesies bakteri. Ratio antara bakteri aerob dengan
anaerob berbanding 10:1 sampai 100:1. Organisme-organisme ini merupakan flora
normal dalam mulut yang terdapat dalam plak gigi, cairan sulkus ginggiva, mucus
membrane, dorsum lidah, saliva dan mukosa mulut. Kekomplekan flora rongga mulut
dan gigi dapat menjelaskan etiologi spesifik dari beberapa tipe terjadinya infeksi gigi
dan infeksi dalam rongga mulut, tetapi lebih banyak disebabkan oleh adanya
gabungan antara bakteri gram positif yang aerob dan anaerob. Dalam cairan gingival,
kira-kira ada 1.8 x 1011 anaerobs/gram.
Infeksi odontogen biasanya disebabkan oleh bakteri endogen. Lebih dari
setengah kasus infeksi odontogen yang ditemukan (sekitar 60 %) disebabkan oleh
bakteri anaerob. Organisme penyebab infeksi odontogen yang sering ditemukan pada
pemeriksaan kultur adalah alpha-hemolytic Streptococcus, Peptostreptococcus,
Peptococcus, Eubacterium, Bacteroides (Prevotella) melaninogenicus, and
Fusobacterium. Bakteri aerob sendiri jarang menyebabkan infeksi odontogen (hanya
sekitar 5 %). Bila infeksi odontogen disebabkan bakteri aerob, biasanya organisme
penyebabnya adalah bakteri gram positif yaitu speciesStreptococcus. Infeksi
odontogen banyak juga yang disebabkan oleh infeksi campuran bakteri aerob dan
anaerob yaitu sekitar 25 %. Pada infeksi campuran ini biasanya ditemukan 5-10
organisme pada pemeriksaan kultur. Bakteri Fusobacteria sp. biasanya ditermukan
pada infeksi yang berat (Abubaker dan Benson, 2007).

E. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mekanime infeksi odontogen


Penyebaran infeksi bersumber gigi akan melalui 3 tahap yaitu tahap abses
dentoalveolar, tahap yang menyangkut spasium, dan tahap lebih lanjut yang
merupakan tahap komplikasi. Suatu abses akan terjadi bila bakteri dapat masuk ke
jaringan melaui suatu luka atau pun melalui folikel rambut. Pada abses rahang dapat
melalui foramen apical atau marginal gingival.
Penyebaran infeksi melalui foramen periapikal berawal dari kerusakan gigi
atau karies, kemudian terjadi proses inflamasi disekitar periapikal di daerah
membrane periodontal berupa suatu periodontitis apikalis. Rangsangan yang ringan
dan kronis menyebabkan membrane periodontal diapikal mengadakan reaksi
membentuk dinding untuk mengisolasi penyebaran infeksi. Respon jaringan
periapikal terhadap iritasi tersebut berupa inflamasi akut atau kronis. Apabila terjadi
akut akan berupa periodontiti apikalis yang supuratif atau abses dentoalveolar.
Pada infeksi sekitar foramen apical terjadi nekrosis jaringan disertai akumulasi
leukosit yang banyak dan sel-sel inflamasi lainnya. Sedangkan pada jaringan disekitar
abses akan tampak hiperemi pembuluh darah dan edema. Buila masa infeksi
bertambah maka tulang sekitarnya akan tersangkut, dimulai dengan hiperemi
pembuluh darah kemudian infiltrasi leukosit dan akhirnya terjadi proses supurasi.
Penyebaran selanjutnya akan melalui kanal tulang menuju permukaan tulang dan
periosteum. Tahap berikutnya periosteum akan pecah dan pus akan berkumpul pada
suatu tempat diantara spasium sehingga membentuk nsuatu rongga patologis.
Keterlibatan suatu spasium tergantung pada gigi penyebab, letak apeks gigi
penyebab terhadap insersi otot yang melekat sekitar gigi dan kedekatannya kearah
bukal atau lingual. Pada keadaan tertentu dapat terkena lebih dari satu spasium, hal ini
merupakan keadaan yang sangat serius didalam penyebaran infeksi sampai dapat
menimbulkan suatu penyebaran yang lebih jauh kearah atas kepala dan kebawah leher
sampai ke mediastinum.

Infeksi odontogenik umumnya melewati tiga tahap sebelum mereka menjalani


resolusi:
o Selama 1 sampai 3 hari - pembengkakan lunak, ringan, lembut, dan
adonannya konsisten.
o Antara 5 sampai 7 hari – tengahnya mulai melunak dan abses merusak
kulit atau mukosa sehingga membuatnya dapat di tekan. Pus mungkin
dapat dilihat lewat lapisan epitel, membuatnya berfluktuasi.
o Akhirnya abses pecah, mungkin secara spontan atau setelah
pembedahan secara drainase. Selama fase pemecahan, regio yang
terlibat kokoh/tegas saat dipalpasi disebabkan oleh proses pemisahan
jaringan dan jaringan bakteri.
F. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan kontrol infeksi
Tujuan utama kontrol infeksi adalah untuk menghilangkan atau mengurangi
penyebaran infeksi dari semua jenis mikroorganisme. Merupakan kewajiban operator
untuk melakukan kontrol infeksi yang efektif untuk melindungi pasien lain dan
seluruh anggota dental team.

Ada dua faktor yang penting dalam control infeksi :

o Mencegah penyebaran mikroorganisme dari hostnya.


o Membunuh atau menghilangkan mikroorganisme dari objek dan
permukaannya.

Jalur penyebaran infeksi :

o Patient to Dental Health Care Worker.


Penyebaran dapat melalui kontak langsung pada luka di kulit atau
kontak langsung dengan membrane mukosa tenaga kesehatan. Dapat
juga melalui kontak tidak langsung melalui instrumen tajan dan jarum
spuit.
o Dental Health Care Worker to Patient.
Penyebaran dapat melalui kontak langsung pada luka di kulit atau
kontak langsung dengan membrane mukosa tenaga kesehatan. Dapat
juga melalui kontak tidak langsung melalui instrumen tajan dan jarum
spuit.
o Patient to Patient.
Penyebaran terjadi melalui penggunaan instrumen yang
terkontaminasi dan nondisposable.
o Dental Office to Community.
Penyebaran terjadi ketika cetakan terkontaminasi atau alat
terkontaminasi lain mengkontaminasi teknisi laboratorium dental.
o Community to Patient.
Penyebaran melibatkan masuknya mikroorganisme ke suplai air dental
unit. Mikroorganisme ini berkoloni di dalam air dan karenanya
membentuk biofilm yang bertanggung jawab untuk menyebabkan
infeksi.

Terdapat beberapa strategi yang harus diikuti untuk mengurangi risiko


infeksi dan penyebarannya dikarenakan patogen pada darah seperti HBV dan
HIV. Prosedur control infeksi yang harus diikuti dan dilakukan pada semua
pasien itu yang dinamakan “Universal Precaution”, meliputi :

 Imunisasi. Semua anggota dental team harus divaksin hepatitis B.


 Gunakan barrier perlindungan, seperti gaun bedah, masker, kaca
mata, sarung tangan, dll.
 Menjaga kebersihan tangan.

Anda mungkin juga menyukai