Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN PENDAHULUAN

ANTE NATAL CARE ( ANC )


A. DEFINISI
Menurut DepKes RI (2007) pelayanan antenatal merupakan pelayanan terhadap
individu yang berseifat preventive care untuk mencegah terjadinya masalah yang
kurang baik bagi ibu maupun janin. Pelayanan antenatal merupakan upaya kesehatan
perorangan yang memperhatikan precisi dan kualitas pelayanan medis yang diberikan.
Periode Antepartum adalah periode kehamilan yang dihitung sejak hari
pertama haid terakhir (HPHT) hingga dimulainya persalinan sejati, yang menandai
awal periode antepartum (Helen Varney, 2007 ; 492).
· Proses kehamilan merupakan mata rantai yang bersinambung dan terdiri
dari : ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi
( implantasi ) pada uterus, pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi
sampai aterm (Manuaba, 2010 ; 84).
· Kehamilan normal adalah dari konsepsi sampai lahirnya janin dengan
kehamilan 280 hari ( 40 minggu ) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono,
2007; 84).
Antenatal care (ANC) adalah perawatan yang diberikan pada ibu selama masa
kehamilan. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 40 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono,
2007).

1
Dalam sumber lain disebutkan bahwa pelayanan antenatal ialah suatu upaya
untuk mencegah adanya komplikasi obstetric bila mungkin dan memastikan bahwa
dideteksi sedini mungkin ditangani secara memadai.
Antenatal care (ANC) adalah perawatan yang diberikan pada ibu selama masa
kehamilan. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 40 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (Sarwono,
2007).
B. PENGERTIAN KEHAMILAN
Kehamilan merupakan suatu proses fisiologik yang hampir selalu terjadi pada
setiap wanita. Kehamilan terjadi setelah bertemunya sperma dan ovum, tumbuh dan
berkembang di dalam uterus selama 259 hari atau 37 minggu atau sampai 42 minggu
(Nugroho dan Utama, 2014).
Kehamilan dibagi dalam tiga triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari
konsepsi sampai 3 bulan,triwulan kedua dari bulan keempat sampai keenam dan
triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai kesembilan.
Faktor resiko pada ibu hamil seperti umur terlalu muda atau tua, banyak anak
dan beberapa faktor biologis lainnya adalah keadaan yang secara tidak langsung
menambah resiko kesakitan dan kematian pada ibu hamil. Resiko tinggi adalah
keadaan yang berbahaya dan mungkin terjadi penyebab langsung kematian ibu

2
misalnya pendarahan melalui jalan lahir, eklamsia dan infeksi. Beberapa faktor resiko
yang sekaligus terdapat pada seorang ibu dapat menjadikan kehamilan beresiko tinggi.
C. TANDA KEHAMILAN
Menurut Sarwono (2010, hlm. 214-217), tanda-tanda kehamilan adalah sebagai
berikut:
1. Tanda-tanda Tidak Pasti atau Terduga Hamil :
a. Perubahan Fisiologis dan Hormonal :
1) Amenorhea
2) Payudara membesar dan tegang
3) Rasa mual dan muntah yang berlebihan (hiperemesis) dianggap normal
apabila terjadi pada trimester pertama
4) Rasa lelah berlebihan (fatique)
b. Uji Kehamilan Berdasarkan pada produksi korionik gonadotropin (Hcg) positif
yang dapat di deteksi pada 26 hari konsepsi.
c. Perubahan Anatomik dan Fisiologik :
d. Pembesaran uterus
e. Tanda Chadwick adalah perubahan warna menjadi kebiru-biruan atau ke ungu-
unguan pada vulva, vagina , dan serviks.
2. Tanda-tanda Kehamilan Pasti Tanda kehamilan pasti adalah data atau kondisi yang
mengidikasikan adanya buah kehamilan atau bayi. Yang diketahui melalui
pemeriksaan dan direkam oleh pemeriksa, antara lain :
a. Denyut Jantung Janin Denyut jantung janin mulai berdenyut pada awal minggu
ke empat setelah fertilisasi. Tetapi baru pada usia kehamilan 20 minggu dapat
dideteksi dengan fetoskop.
b. Gambaran Sonogram Janin (USG) USG merupakan suatu metode diagnostik
dengan menggunakan gelombang ultrasonik untuk mempelajari morfologi dan
fungsi suatu organ berdasarkan gambaran eko dari gelombang ultrasonik yang
di pantulkan oleh organ.
c. Gerakan Janin
d. Tanda Piskacek Dilakukan dengan pemeriksaan bimanual pelvic pada usia
kehamilan 8-10 minggu teraba pembesaran asimetris.
D. STANDAR PELAYANAN ANTENATAL CARE
Dalam melaksanakan pelayanan Antenatal Care, ada sepuluh standar pelayanan yang
harus dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang dikenal dengan 10 T.
3
Pelayanan atau asuhan standar minimal 10 T adalah sebagai berikut (Depkes RI,
2009):
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2. Pemeriksaan tekanan darah
3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
4. Pemeriksaan puncak rahim (tinggi fundus uteri)
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila
diperlukan.
7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
8. Test laboratorium (rutin dan khusus)
9. Tatalaksana kasus
10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) serta KB paska persalinan
E. TUJUAN
1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh
kembang janin
2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu
3. Mengenali dan mengurangi secara dini adanya penyulit-penyulit atau komplikasi
yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan
4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang aman dengan trauma
seminimal mungkin
5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan mempersiapkan ibu agar
dapat memberikan ASI secara eksklusif
6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin agar dapat
tumbuh kembang secara normal
7. Mengurangi bayi lahir premature, kelahiran mati dan kematian neonatal
8. Mempersiapkan kesehatan yg optimal bagi janin

F. PERUBAHAN FISIK PADA IBU HAMIL


Ketika hamil, seorang wanita akan mengalami beberapa perubahan. Menurut George
Adriaanz (2008), perubahan yang terjadi ketika hamil antara lain:
1. Perubahan pada organ-organ sistem reproduksi
4
Suplai darah ke organ reproduksi meningkat segera setelah konsepsi karena
peningkatan kadar hormon-hormon steroid seksual. Vaskularisasi tersebut
memberikan suplai darah yang banyak bagi perkembangan janin, tanda-tanda
khas pada organ dan bergaia gejala pada wanita :
a. Uterus
Uterus berkembang sampai ke xifistermun. Pengurangan tinggi fundus uteri
di kenal dengan istilah lightening, terjadi pada berapa bulan terakhir kehamilan,
pada saat fetus turun kebagian bawah uterus. Hal ini bertujuan untuk membuat
jaringan pelvik menjadi lebih lunak, dengan tonus uterus yang baik, dengan
formasi yang baru dari segmen bawah rahim.

b. Serviks
Segera setelah periode tidak terjadinya menstruasi pertama, serviks menjadi
lebih lunak sebagai akibat meningkatnya suplai darah (tanda Goodell’s).
Kanalis servikskalis dipenuhi oleh mukus yang kental
disebut operkulum. Selama kehamilan operkulum menghambat masuknya
bakteri ke uterus, yang mengalir selama persalinan, yang disebut “blooddy
show”, yang menandakan bahwa kanalis terbuka untuk lewatnya bayi.

c. Vagina
Sampai minggu kedelapan, meningkatnya vaskularisasi pada vagina
menyebabkan tanda kehamilan yang khas disebut tandachadwick’s, corak yang
berwarna keunguan yang dapat terlihat oleh pemeriksa. Dalam berespon
terhadap stimulasi hormonal, sekresi sel-sel vagina meninggkiat secara berarti.
Sekresi tersebut berwarna putih dan bersifat sangat asam, dikenal istilah “putih”
atau leukorrea. Sekresi vagina merupakan media yang menyuburkan basilus
doderlein’s. Basilus ini merupakan garis pertahanan terhadap candida albikans,
patogen yang tumbuh dalam media alkali.
G. ADAPTASI FISIOLOGIS ORGAN-ORGAN TUBUH SELAMA KEHAMILAN
Perubahan-perubahan dan adaptasi fisiologis organ-organ tubuh pada masa
kehamilan adalah sebagai berikut:
1) Trimester I (0-12 minggu)
Seseorang yang mengalami kehamilan akan menunjukkkan gejala-gejala yang
berasal dari janin dan plasenta.
5
a. Adanya human chorionic gonadotropic (HCG) dalam urine
b. Masalah gastrointestinal : Mual dan muntah (4-6 minggu), Morning Sickness,
Anoreksia, Saliva berlebihan, Tidak tahan terhadap bau–bau tertentu
c. Pengaruh hormon estrogen : Tonus otot menurun, mengakibatkan mual dan
kontipasi
d. Perubahan janin : Pada kahamilan 7 minggu rahim kurang lebih sebesar telur
itik, pada kehamilan 10 minggu rahim kurang lebih sebesar jeruk keprok, Pada
kehamilan 12 minggu rahim kurang lebih sebesar kepalan tangan
e. Tanda-tanda piscaseck : Pembesaran dan perlunakan pada tempat implantasi
f. Traktus urinarius : Kehamnilan mengakibatkan uterus membesar dan menekan
kandung kemih sehingga didapatkan ibu sering buang air kecil
g. Kardiovaskuler : Diafragma terdorong kearah atas oleh karena pembesaran
uterus, posisi jantung pada bagian kiri atas , Kardiak output (Denyut jantung
meningkat, Nadi meningkat ± 10-15 x /menit, Filtrasi ginjal meningkat,
transportasi oksigen meningkat )
h. Uterus : Pada saat tidak hamil beratnya 35-50 gram, volume 10 cc, Pada hamil
aterm 1000-1100 gram, volume 5-10 liter, Ismus hipertropi, panjang, lunak
i. Payudara : Membesar, tegang dan sedikit nyeri disebabkan pengaruh estrogen
dan progesteron yang merangsang duktus alveoli payudara
j. Vagina : Peningkatan vaskularisasi, Peningkatan sekresi, berwarna putih dan
asam
k. Respirasi : Estrogen meningkat menyebabkan peningkatan jaringan ikat,
Progesteron meningkat menyebabkan penurunan resistensi dengan relaksasi,
penurunan otot polos yang memudahkan mengalirnya carbon dioksida dari
janin ke ibu, Diafragma tertekan sehingga kurang leluasa bergerak
l. Muskuluskeletal : Relaksasi persendian, Uterus memanjang mengakibatkan
nyeri pada ligamen rotundum, Perubahan postural, Saat pinggang untuk
mengibangi lordosis dan tarikan tulang belakang, Sakit anggota bagian atas
oleh karena bahu dan dada terdsorong kedepan
m. Kulit : Oleh karena pengaruh estrogen, kulit mengalami hiperpigmentasi,
kloasma, linianigra dan strie gravidalum.
2) Trimester II (12-28 minggu)
Perubahan fisiologis yang terjadi adalah sebagai berikut:

6
a. Uterus : uterus membesar, hipertropi sel-sel otot, dinding uterus tipis dan lunak,
fetus dapat di palpasi pada/ abdomen, uterus jadi bentuk ovale, Adanya
kontraksi “braxton his”
b. Serviks : terus memanjang, Adanya mucous plag, Sel otot hipertropi, Kelenjar
serviks aktif
c. Vagina : Sel otot hipertropi, Mukosa tebal, Adanya lorchea, PH asam : 3,5-6,0
d. Payudara : Duktus dan alveoli hipertropi, areola dan putting membesar, Mulai
ada sekresi kolostrum
e. Sistem kardiovaskuler : volume darah meluas , Hb menurun akibat eskpirasi
plasma lebih besar dari pada sel darah merah, Output meningkat 30-50 %,
stroke volume meningkat, tekanan darah sama dan cenderung sedikit menurun,
Terjadi hipertropi, supine khusus pada trimerter kedua akhir
f. Sistem respiratory : Oksigen dalam darah meningkat, Pernafasan lebih dalam ,
volume darah stabil, Kebutuhan oksigen meningkat, Uterus membesar dan
menekan diagfragma menyebabkan sulit/sesak nafas
g. Sistem Urinary : Perubahan ukuran pada kandung kemih meningkat, udema
fisiologis pada kandung kemih, frekuensi berkemih menurun, Dilatasi ginjal
dan ureter, Ibu rentang terhadap infeksi traktus urinarius, Filtrasi glomerolus
meningkat 50 %, Aliran plasma renal meningkat, Ekskresi glokosa, polipeptida,
elektrolit dan vitamin yang larut dalam air meningkat
h. Sistem musculoskeletal : Pusat graviti berubah sebagai akibat membesarnya
uterus, lordosis fisiologis, Kram pada kaki
i. Sistem integument : Hiperpigmentasi terutama pada putting dan perinium,
adanya linianigra, vaskuler adanya palmar eritema, rambut menjadi lebih halus,
Kuku lebih lunak dan tingkat pertumbuhan meningkat
j. Sistem gastrointestinal : Mulut dan gigi (Hiperimia, sensitif terhadap zat iritan),
Esofagus dan gaster (Kapasitas lambung menurun, sekresi asam hidroverolik
dan pepsin dalam lambung menurun), Liver (Meningkatnya serum phospotase,
menurunnya albumin dan globulin), Pankreas (Hipertropi, hiperplasia dan
hiperaktif yang sering terjadi pada sel-sel beta, Kebutuhan fisiologis kehamilan,
pencetus diabetus gestasional) , Intestinal ( Pengosongan lambung meningkat,
Absorbsi nutrien dan air meningkat)
k. Sistem endokrin : Pituitary ( Sekresi hormon luteinising dan folikel stimulating
hormon, Prolaktin meningka), Tiroid (Vaskularisasi meningkat, Meningkatnya
7
T3 dan T4, BMR meningkat), Paratiroid ( Hiperplasia, sekresi hormon
meningkat) , Adrenal (Sekresi adenocorticotropik hormon (ACTH) meningkat,
Level kortisol meningkat, Level aldesteron meningkat)
l. Plasenta: Fungsi utuh dan komplek.
3) Trimester ketiga (28 minggu – kehamilan berakhir / 38-42 minggu)
a. Sistem reproduksi
- Uterus : Ukuran bertambah besar, distensi miometrium, dinding menipis,
kontraksi “broxon hicks” semakin jelas.
- Servik : Effousment, pengeluaran mukosa.
- Vagina : Hiperemia, pertumbuhan laktobual, leukhorea
- Payudara : Membesar, tegang, colusterum keluar.
b. Sistem kardiovaskuler : COP meningkat 40 %, volume darah ibu meningkat 30
– 50 %, HR meningkat 15 kali/menit, Stroke volume meningkat, Kerja
kardiovaskuler meningkat sangat beresiko pada ibu dengan masalah jantung
c. Sistem pernafasan : Diafragma tertekan karena pembesaran uterus keatas, Iga-
iga ekspansi, Kebutuhan oksigen meningkat
d. Sistem perkemihan : Dilatasi kaliks renal, filtrasi glomerolus meningkat,
Frekwensi miksi meningkat, Kosentrasi albumin plasma menurun
e. Sistem musculoskeletal : Lordosis, sulit berjalan, rebas – rebas ekstremitas
f. Sistem integument : Strie semakin terlihat, pigmentasi meningkat, Rambut tipis
dan rontok, Kuku cepat tumbuh dan mudah patah
g. Sistem gastrointestinal : Mulut dan gusi hiperemia, gusi sangat sensitif , Gastrik
refluks, kapasitas gaster menurun, Mobilitas intestinal menurun, rentan
terhadap konstipasi
h. Sistem endokrin : Pituitary (Prolaktin meningkat, oksitosin meningkat) , Tiroid
(BMR meningkat)
i. Plasenta: Fungsi maksimal

H. PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA IBU HAMIL


Menurut Sulistyawati,2009, perubahan psikologis pada ibu hamil menurut trimester
adalah:
1. Perubahan Psikologis pada Trimester I (Periode Penyesuaian)
a. Ibu merasa tidak sehat dan kadang-kadang merasa benci dengan kehamilannya

8
b. Kadang muncul penolakan, kecemasan dan kesedihan. Bahkan kadang ibu
berharap agar dirinya tidak hamil saja
c. Ibu akan selalu mencari tanda-tanda apakah ia benar-benar hamil. Hal ini
dilakukan sekedar untuk meyakinkan dirinya
2. Perubahan Psikologis pada Trimester II (Periode Kesehatan Yang Baik)
a. Ibu merasa sehat, tubuh ibu sudah terbiasa dengan kadar hormone yang tinggi,
Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
b. Merasakan gerakan anak, Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan
kekhawatiran
c. Libido meningkat, Menuntut perhatian dan cinta
d. Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya,
Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada orang lain
yang baru menjadi ibu
3. Perubahan Psikologis pada Trimester IIII
a. Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik,
Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak lahir tepat waktu
b. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan,
khawatir akan keselamatannya
c. Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang
mencerminkan perharian dan kekhawatirannya, Merasa sedih karena akan
terpisah dari bayinya

I. JADWAL PEMERIKSAAN ANTENATAL


Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, kunjungan pelayanan antenatal
sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, ketentuan waktu sebagai
berikut:
1. Minimal 1 kali pada trimester pertama = K1
2. Minimal 1 kali pada trimester kedua = K2
3. Minimal 2 kali pada trimester ketiga = K3 & K4
1. Kunjungan pertama (K1)
K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang mempunyai
kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai standar.
Kontak pertama harus dilakukan sedini mungkin pada trimester pertama, sebaiknya
sebelum minggu ke 8.
9
Adapun tujuan pemeriksaan pertama pada perawatan antenatal adalah sebagai
berikut:
1) Mendiagnosis dan menghitung umur kehamilan.
2) Mengenali dan menangani penyulit - penyulit yang mungkin dijumpai dalam
kehamilan, persalinan dan nifas.
3) Mengenali dan mengobati penyakit - penyakit yang mungkin diderita sedini
mungkin.
4) Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.
5) Memberikan nasehat - nasehat tentang cara hidup sehari – hari dan keluarga
berencana, kehamilan, persalinan, nifas dan laktasi.
2. Kunjungan ke-2 (K2)
Pada periode ini pemeriksaan dilakukan minimal 1 kali. Hendrawan (2008)
menuturkan mengingat manifestasi klinik kasus kegawatdaruratan obstetric yang
berbeda - beda dalam rentang yang cukup luas, maka perlu dilakukan kunjungan ANC
yang teratur. Adapun tujuan pemeriksaan kehamilan di trimester II menurut Saifuddin
(2002) ialah sebagai berikut:
1) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
2) Penapisan preeklamsi gemelli, infeksi alat reproduksi dan saluran perkemihan.
3) Mengulang perencanaan persalinan.
3. Kunjungan ke-4 (K4)
K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan komprehensif
sesuai standar. Kontak 4 kali dilakukan sebagai berikut: sekali pada trimester I
(kehamilan hingga 12 minggu) dan trimester ke-2 (>12 - 24 minggu), minimal 2 kali
kontak pada trimester ke-3 dilakukan setelah minggu ke 24 sampai dengan minggu ke
36. Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan dan jika ada keluhan,
penyakit atau gangguan kehamilan. Kunjungan ini termasuk dalam K4.
4. Penanganan Komplikasi (PK)
PK adalah penanganan komplikasi kebidanan, penyakit menular maupun tidak
menular serta masalah gizi yang terjadi pada waktu hamil, bersalin dan nifas.
Pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi.AGB) dan
kurang energi kronis (KEK).

10
Dalam sumber lain juga disebutkan interval kunjungan pada pemeriksaan prenatal
yaitu setiap 4 minggu sekali sampai minggu ke-28, kemudian setiap 2-3 minggu sekali
sampai minggu ke-36, dan sesudahnya setiap minggu.
J. PEMERIKSAAN ANTENATAL
Pemeriksaan kehamilan terbagi dalam:
a. Anamnesa
Anamnesa pada kunjungan pelayanan antenatal pertama dari ibu hamil meliputi:
1. Identifikasi ibu (nama, nama suami, usia, pekerjaan, agama & alamat ibu)
2. Keluhan utama atau apa yang diderita, apakah ibu datang untuk memeriksakan
kehamilan atau ada masalah lain
3. Riwayat haid, untuk mengetahui faal alat kandungan
4. Riwayat perkawinan
5. Riwayat kehamilan sekarang, meliputi: HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir),
Gerak janin (kapan mulai dirasakan apakah ada perubahan), Masalah atau tanda-
tanda bahaya (termasuk pengelihatan kabur), Keluhan-keluhan yang lazim pada
kehamilan, Penggunaan obat-obatan (termasuk jamu-jamuan), Kekhawatiran-
kekhawatiran lain yang dirasakan

6. Riwayat kebidanan yang lalu, meliputi:


 Berapa kali hamil, anak yang lahir hidup, persalinan tepat waktu, persalinan
premature, keguguran atau kegagalan kehamilan, persalinan dengan tindakan
(dengan forcep, vakum, ekstraksi atau operasi caesar)
 Perdarahan pada kehamilan, persalinan, kelahiran atau paska persalinan
 Persalinan yang lalu: spontan atau buatan, aterm atau premature, perdarahan,
siapa yg menolong, Riwayat hipertensi, Melahirkan janin dengan BB <2,5 kg
atau >4 kg, Nifas dan laktasi, Bayi yg dilahirkan: jenis kelamin, BB &
panjang badan, hidup atau mati, bila mati umur berapa & penyebabnya,
Masalah-masalah lain yg dialami
7. Riwayat kesehatan (penyatkit yg pernah diderita), meliputi: penyakit
kardiovaskuler, TB paru, hepatitis B, diabetes, hipertensi, PMS atau HIV/AIDS,
malaria, status imunisasi TT, dll.
8. Riwayat keluarga meliputi penyakit keturunan, anak kembar, penyakit menular,
dll

11
9. Riwayat sosial ekonomi & budaya meliputi: Status perkawinan, Riwayat KB,
Reaksi orangtua dan keluarga terhadap kehamilan ini, Dukungan keluarga,
Pengambil keputusan dalam keluarga, Kebiasaan makan dan gizi yang
dikonsumsi (gizi seimbang), dengan perhatian pada vitamin A dan zat besi,
Kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat/alcohol/obat
tradisional, & olahraga, Beban kerja & kegiatan sehari-hari, Tempat melahirkan
& penolong yg diinginkan
Menentukan Taksiran Persalinan
 Untuk siklus 28 hari:
HPHT (+7), bulan (-3), tahun (+1) = tanggal persalinan
 Untuk siklus 35 hari:
HPHT (+14), bulan (-3), tahun (+1) = tanggal persalinan
Rumus tersebut tidak dapat digunakan apabila:
1. Ibu mempunyai riwayat haid yang tidak teratur atau tidak haid
2. Ibu hamil saat masih menyusui dan belum pernah haid lagi
3. Ibu hamil setelah berhenti mengkonsumsi pil KB dan belum haid lagi
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada kunjungan antenatal pertama meliputi komonen:
1. Pemeriksaan Luar
a. Pemeriksaan umum
 Keadaaan umum ibu, keadaan gizi, kelainan bentuk badan, kesadaran
 Adakah anemia, cyanose, icterus atau dyspnoe
 Keadaan jantung dan paru, periksa suhu badan, TD, denyut nadi, dan
pernapasan, Oedema
 TB, BB, Reflek
 Pemeriksaan laboratorium sederhana bila ada, untuk kadar Hb, golongan
darah dan urine rutin
b. Pemeriksaan Kebidanan
Inspeksi
 Kepala dan leher
 Dada: bentuk payudara, pigmentasi putting susu, keadaan putting susu
(simetris atau tidak), keluarnya kolostrum (dilakukan pemeriksaan setelah
usia kehamilan >28 minggu)

12
 Perut: membesar kedepan atau kesamping (acites), keadaan perut, linea
alba, ada gerakan anak atau tidak, kontraksi rahim, striae gravidarum, &
bekas luka operasi
 Vulva: keadaan perineum, varices, tanda Chadwick, fluor dan condyloma
 Anggota bawah: cari varises, oedema, luka
Palpasi
Periksa raba dilakukan untuk menentukan:
 Besarnya rahim untuk menentukan tuanya kehamilan
 Letak anak dalam rahim
Cara melakukan palpasi menurut Leopold terdiri atas 4 bagian, yaitu:
(Manuaba, 1998)
Leopold 1
 Pemeriksa menghadap ke arah muka ibu hamil
 Menentukan tunggi fundus uteri dan bagian janin
dalam fundus
 Konsistensi fundus

Leopold 2
 Menemukan batas samping rahim kanan-kiri
 Menentukan letak punggung janin
 Pada letak lintang, tentukan dimana kepala janin

Leopold 3
 Menentukan bagian terbawah janin
 Apakah bagian terbawah tersebut sudah masuk atau
masih goyang

Leopold 4

13
 Pemeriksa menghadap ke kaki ibu hamil
 Bisa juga menentukan bagian terbawah janin apa dan
berapa jauh janin sudah mask pintu atas panggul

Mengukur usia kehamilan dengan TFU:


TFU (cm) = tua kehamilan dalam bulan
3,5 cm

Auskultasi
Digunakan stetoskop atau Doppler, untuk mendengan bunyi jantung janin,
bising tali pusat, gerakan janin, bising rahim, bunyi aorta, dan bising usus,
2. Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam dilakukan pada saat kunjungan pertama pemeriksaan
antenatal pada hamil muda dan sekali lagi pada kehamilan trimester III untuk
menentukan keadaan panggul

14
15
16
Trimester III

TRIMESTER III

Perubahan fisiologis Perubahan


psikologis

Pembesaran uterus Sistem endokrin Persiapan


melahirkan
Retensi H2O & Na+
Perub.skelet & Menekan paru Primi:kurang
Penekanan persendian pengetahuan
vesika urinaria Ekspansi paru Urine output Vasokontriksi
Berat uterus menurun menurun, volume pembuluh darah Ansietas
menigkat plasma meningkat,
Frekuensi Gangguan pola tekanan hidrostatik TD meningkat
BAK Perub.pusat nafas tidak menurun
meningkat gravitasi tubuh efektif Hipertrofi
Edema ekstremitas ventrikel
Gangguan Menekan saraf Gangguan
Pola sekitar Pola Tidur Resiko Penurunan
Eliminasi Ketidakseimbangan cardiac output
Urin Pelepasan Volume Cairan
mediator nyeri Gangguan Resiko cidera
Resiko (prostaglandin, Rasa janin &
Perfusi histamin) Nyaman maternal
Renal
Tidak Nyeri
Efektif

17
KONSEP PRE EKLAMSIA
A. Pengertian
Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat
kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Eklampsia
adalah preeklampsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul akibat kelainan
neurologi (Kapita Selekta Kedokteran edisi ke-3).
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin
dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-
tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul
setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar, 2008 ).
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan (Ilmu Kebidanan : 2008).
Preeklampsi berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan
timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan atau disertai udema
pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Asuhan Patologi Kebidanan : 2009).
Preeklampsia dibagi dalam 2 golongan ringan dan berat. Penyakit digolongkan
berat bila satu atau lebih tanda gejala dibawah ini :
1. Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih.
2. Proteinuria 5 g atau lebih dalam 24 jam; 3 atau 4 + pada pemeriksaan kualitatif;
3. Oliguria, air kencing 400 ml atau kurang dalam 24 jam
4. Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium
5. Edema paru dan sianosis.
(Ilmu Kebidanan : 2007)

B. Etiologi
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori –
teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena
itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan.
Tetapi terdapat suatu kelainan yang menyertai penyakit ini yaitu :
- Spasmus arteriola
- Retensi Na dan air
- Koagulasi intravaskuler

18
Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi
vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai eklampsia (Obstetri
Patologi : 1984)
Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeklampsia ialah
iskemia plasenta. Akan tetapi, dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang
bertalian dengan penyakit itu. Rupanya tidak hanya satu faktor, melainkan banyak faktor
yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia. Diantara faktor-faktor yang ditemukan
sering kali sukar ditemukan mana yang sebab mana yang akibat (Ilmu Kebidanan : 2005).

C. Patofisiologi
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam
dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa
kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel
darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan
darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan
dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh
penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya,
mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola
sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).
Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis
pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan
iskemia (Cunniangham,2008).
Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon
terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin,tromboxan) yang dapat
menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. Penumpukan trombus dan perdarahan
dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit
syaraf lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi
glomelurus dan proteinuria. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan
nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Manifestasi terhadap kardiovaskuler
meliputi penurunan volume intavaskuler, meningkatnya kardiakoutput dan peningkatan
tahanan pembuluh perifer. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia
dan trobositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael,2005).
Perubahan pada organ :
19
1. Perubahan kardiovaskuler
Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklamsia dan
eklampsia. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan peningkatan
afterload jantung akibat hipertensi, preload jantung yang secara nyata dipengaruhi oleh
berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik
ditingkatkan oleh larutan onkotik / kristaloid intravena, dan aktifasi endotel disertai
ekstravasasi kedalam ekstravaskuler terutama paru (Cunningham,2008).
2. Metablisme air dan elektrolit
Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui
penyebabnya . jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita
preeklamsia dan eklampsia dari pada wanita hamil biasa atau penderita dengan hipertensi
kronik. Penderita preeklamsia tidak dapat mengeluarkan dengan sempurna air dan garam
yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh filtrasi glomerulus menurun, sedangkan
penyerapan kembali tubulus tidak berubah. Elektrolit, kristaloid, dan protein tidak
mununjukkan perubahan yang nyata pada preeklampsia. Konsentrasi kalium, natrium, dan
klorida dalam serum biasanya dalam batas normal (Trijatmo,2008).
3. Mata
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Selain itu dapat
terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema intraokuler dan merupakan salah satu
indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang menunjukkan pada
preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia adalah adanya skotoma, diplopia dan
ambliopia. Hal ini disebabkan oleh adaanya perubahan peredaran darah dalam pusat
penglihatan dikorteks serebri atau didalam retina (Rustam,1998).
4. Otak
Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada
korteks serebri, pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan (Trijatmo,2005).
5. Uterus
Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta,
sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi
gawat janin. Pada preeklampsia dan eklampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan
kepekaan terhadap rangsangan, sehingga terjadi partus prematur.

20
D. Manifestasi Klinis
Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan adanya dari tiga gejala, yaitu :
- Edema
- Hipertensi
- Proteinuria
Berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali.
Edema terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan
muka. Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat > 30 mmHg atau
tekanan diastolik > 15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit.
Tekanan diastolik pada trimester kedua yang lebih dari 85 mmHg patut dicurigai sebagai
bakat preeklamsia. Proteiuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24
jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1 atau 2; atau kadar protein ≥ 1 g/l dalam
urin yang dikeluarkan dengan kateter atau urin porsi tengah, diambil minimal 2 kali
dengan jarak waktu 6 jam.
Disebut preeklamsia berat bila ditemukan gejala :
- Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau diastolik ≥ 110 mmHg.
- Proteinuria + ≥5 g/24 jam atau ≥ 3 pada tes celup.
- Oliguria (<400 ml dalam 24 jam). - Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan. -
Nyeri epigastrum dan ikterus. - Trombositopenia. - Pertumbuhan janin terhambat. - Mual
muntah - Nyeri epigastrium - Pusing - Penurunan visus (Kapita Selekta Kedokteran edisi
ke-3)

E. Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini
preeklampsia, dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. Kita perlu lebih
waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti
yang telah diuraikan di atas. Walaupun timbulnya preeklamsia tidak dapat dicegah
sepenuhnya, namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan
secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya yang baik pada wanita hamil. Penerangan
tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti
berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan
lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat,
garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Mengenal
secara dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan
21
obat antihipertensif, memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan
antenatal yang baik.

F. Penatalaksanaan
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat
selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi :
a. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan
medisinal.
1. Perawatan aktif
Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada setiap penderita dilakukan
pemeriksaan fetal assesment (NST dan USG). Indikasi :
a. Ibu
• Usia kehamilan 37 minggu atau lebih
• Adanya tanda-tanda atau gejala impending eklampsia, kegagalan terapi konservatif
yaitu setelah 6 jam pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan darah atau setelah 24
jam perawatan medisinal, ada gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan)
b. Janin
• Hasil fetal assesment jelek (NST dan USG)
• Adanya tanda IUGR (janin terhambat)
c. Laboratorium
• Adanya “HELLP Syndrome” (hemolisis dan peningkatan fungsi hepar,
trombositopenia)
2. Pengobatan mediastinal
Pengobatan mediastinal pasien preeklampsia berat adalah :
a. Segera masuk rumah sakit.
b. Tirah baring miring ke satu sisi. Tanda vital perlu diperiksa setiap 30 menit, refleks
patella setiap jam.
c. Infus dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125 cc/jam)
500 cc.
d. Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam.
e. Pemberian obat anti kejang magnesium sulfat (MgSO4).
1. Dosis awal sekitar 4 gr MgSO4) IV (20% dalam 20 cc) selama 1 gr/menit
kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Diikuti segera 4
gram di pantat kiri dan 4 gr di pantat kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no
22
21 panjang 3,7 cm. Untuk mengurangi nyeri dapat diberikan xylocain 2% yang
tidak mengandung adrenalin pada suntikan IM.
2. Dosis ulang : diberikan 4 gr IM 40% setelah 6 jam pemberian dosis awal lalu
dosis ulang diberikan 4 gram IM setiap 6 jam dimana pemberian MgSO4 tidak
melebihi 2-3 hari.
3. Syarat-syarat pemberian MgSO4
• Tersedia antidotum MgSO4 yaitu calcium gluconas 10% 1 gr (10% dalam 10
cc) diberikan IV dalam 3 menit.
• Refleks patella positif kuat.
• Frekuensi pernapasan lebih 16 x/menit.
• Produksi urin lebih 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0,5 cc/KgBB/jam)
4. MgSO4 dihentikan bila :
• Ada tanda-tanda keracunan yaitu kelemahan otot, refleks fisiologis menurun,
fungsi jantung terganggu, depresi SSP, kelumpuhan dan selanjutnya dapat
menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot pernapasan karena ada
serum 10 U magnesium pada dosis adekuat adalah 4-7 mEq/liter. Refleks
fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Kadar 12-15 mEq/liter
dapat terjadi kelumpuhan otot pernapasan dan > 15 mEq/liter terjadi
kematian jantung.
• Bila timbul tanda-tanda keracunan MgSO4 :
- Hentikan pemberian MgSO4
- Berikan calcium gluconase 10% 1 gr (10% dalam 10 cc) secara IV dalam
waktu 3 menit
- Berikan oksigen
- Lakukan pernapasan buatan
• MgSO4 dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sedah terjadi
perbaikan (normotensi).
f. Deuretikum tidak diberikan kecuali bila ada tanda-tanda edema paru, payah jantung
kongestif atau edema anasarka. Diberikan furosemid injeksi 40 mg IM.
g. Anti hipertensi diberikan bila :
1. Desakan darah sistolik > 180 mmHg, diastolik > 110 mmHg atau MAP lebih 125
mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolik <105 mmHg (bukan < 90
mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta.
2. Dosis antihipertensi sama dengan dosis antihipertensi pada umumnya.
23
3. Bila diperlukan penurunan tekanan darah secepatnya dapat diberikan obat-obat
antihipertensi parenteral (tetesan kontinyu), catapres injeksi. Dosis yang dapat
dipakai 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan
darah.
4. Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi
secara sublingual diulang selang 1 jam, maksimal 4-5 kali. Bersama dengan awal
pemberian sublingual maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (syakib
bakri,1997)

b. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan


medisinal.
1. Indikasi : bila kehamilan paterm kurang 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda
inpending eklampsia dengan keadaan janin baik.
2. Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif.
Hanya loading dose MgSO4 tidak diberikan IV, cukup intramuskular saja dimana 4
gram pada pantat kiri dan 4 gram pada pantat kanan.

3. Pengobatan obstetri :
a. Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti perawatan
aktif hanya disini tidak dilakukan terminasi.
b. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mempunyai tanda-tanda preeklampsia ringan,
selambat-lambatnya dalam 24 jam.
c. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka dianggap pengobatan medisinal
gagal dan harus diterminasi.
d. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan maka diberi lebih dulu MgSO4
20% 2 gr IV.
4. Penderita dipulangkan bila :
a. Penderita kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda preeklampsia ringan dan telah
dirawat selama 3 hari.
b. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan preekj lamsia ringan : penderita
dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan (diperkirakan lama
perawatan 1-2 minggu).

G. Komplikasi
24
1. Stroke
2. Hipoxia janin
3. Gagal ginjal
4. Kebutaan
5. Gagal jangtung
6. Kejang
7. Hipertensi permanen
8. Distress fetal
9. Infark plasenta
10. Abruptio plasenta
11. Kematian janin

H. Pemeriksaan Penunjang Preeklampsia


1. Pemeriksaan spesimen urine mid-stream untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi
urin.
2. Pemeriksaan darah, khususnya untuk mengetahui kadar ureum darah (untuk menilai
kerusakan pada ginjal) dan kadar hemoglobin.
3. Pemeriksaan retina, untuk mendeteksi perubahan pada pembuluh darah retina.
4. Pemeriksaan kadar human laktogen plasenta (HPL) dan esteriol di dalam plasma
serta urin untuk menilai faal unit fetoplasenta (Helen Farier : 1999)
5. Elektrokardiogram dan foto dada menunjukkan pembesaran ventrikel dan
kardiomegali.

25
K. ASUHAN KEPERAWATAN ANTENATAL
1. Pengkajian
a. Data umum klien dan pasangan
b. Riwayat kehamilan & persalinan yang lalu
c. Riwayat ginekologi
d. Riwayat KB
e. Riwayat kehamilan saat ini
f. Pemeriksaan fisik
g. Persiapan persalinan
h. Obat-obatan yg dipakai saat ini
i. Hasil pemeriksaan penunjang
2. Diagnosa Keperawatan
TRIMESTER III
1. Risiko Perfusi Renal Tidak Efektif
2. Risiko ketidakseimbangan cairan
3. Risiko Cedera
4. Gangguan Rasa Nyaman
5. Ansietas
6. Nyeri Akut
7. Pola Napas Tidak Efektif
8. Gangguan Eliminasi Urin
9. Gangguan Pola Tidur
3. Intervensi Keperawatan
NO Diagnosa/Batasan
Karakteristik/Faktor NOC/Kriteria Hasil NIC
yang Berhubungan

1 Risiko Perfusi Renal NOC NIC


Tidak Efektif
Acid-Base Management
Definisi: Berisiko  Circulation status
 Elektrolit and Acid
mengalami penurunan  Observasi status hidrasi
sirkulasi darah ke ginjal  Base balance (kelembaban membran
 Fluid balance mukosa, TD ortostatik,
Faktor Risiko :  Hidration dan keadekuatan dinding
 Tissue prefusion : nadi)
1. Kekurangan renal  Monitor HMT, ureum,
volume cairan  Urinary eliminasion albumin, total protein,
2. Embolisme
serum osmolalitas dan

26
vaskuler urine
3. Vaskulitis  Observasi tanda-tanda
4. Hipertensi Kriteria Hasil : cairan berlebih / retensi
5. Disfungsi ginjal (CVP meningkat, oedem,
6. Hiperglikemia  Tekanan systole dan distensi vena leher dan
7. Keganasan diastole dalam batas asites)
8. Pembedahan normal  Pertahanan intake dan
jantung  Tidak ada gangguan output secara akurat
9. Bypass mental, orientasi  Monitor TTV
kardiopulmonal kognitif dan kekuatan  Monitor glukosa darah
10. Hipoksemia otot arteri dan serum, elektrolit
11. Hipoksia  Na, K, Cl, Ca, Mg, urine
12. Asidosis metabolik BUN, creat dan biknat  Monitor hemodinamik
13. Trauma dalam batas normal status
14. Sindrom  Tidak ada distensi  Bebaskan jalan nafas
kompartemen vena leher  Manajemen akses
abdomen  Tidak ada bunyi paru intravena
15. Luka bakar tambahan
16. Sepsis  Intake output Pasien hemodialisis
17. Sindrom respon seimbang
inflamasi sistemik  Tidak ada oedem  Observasi terhadap
18. Lanjut usia perifer dan asites dehidrasi
19. Merokok  Tidak ada rasa haus  Monitor TD
20. Penyalahgunaan yang abnormal  Monitor BUN, creat, HMT
zat  Membran mukosa dan elektrolit
lembab  Timbang BB sebelum dan
 Hematokrit dbn sesudah prosedur
Kondisi klinis terkait:  Warna dan bau urine  Kaji status mental
dalam batas normal  Monitor CT
1. Diabetes mellitus
 Pasien peritoneal dialysis
2. Hipertensi
 Kaji temperature, TD,
3. Aterosklerosis
4. Syok denyut perifer, RR dan BB
 Kaji BUN, creat pH,
5. Keganasan
6. Luka Bakar HMT, elektrolit selama
7. Pembedahan prosedur
 Monitor adanya
Jantung
8. Penyakit Ginjal respiratory distress
 Monitor banyaknya dan
(mis. Ginjal
polikistik, stenosis penampakan cairan
 Monitor tanda-tanda
arteri ginjal, gagal
ginjal, infeksi
glumerulonefritis,
nefritis intersisial,
nekrosis kortikal
bilateral,
polinefritis)
9. Trauma

27
2 Risiko NOC NIC
ketidakseimbangan
cairan  Fluid balance Fluid management
 Hydration
Definisi: Berisiko  Nutritional Status:  Timbang popok/pembalut
mengalami penurunan, Food and Fluid Intake jika diperlukan
peningkatan atau  Pertahankan catatan intake
percepatan perpindahan dan output yang akurat
cairan dari  Monitor status hidrasi
intravaskuler, Kriteria Hasil : (kelembaban membran
interstitial atau mukosa, nadi adekuat,
intraselular.  Mempertahankan tekanan darah ortostatik ),
urine output sesuai jika diperlukan
Faktor Risiko : dengan usia dan BB,  Monitor vital sign
Eksternal BJ urine normal, HT  Monitor masukan
normal makanan / cairan dan
1. Prosedur  Tekanan darah, nadi, hitung intake kalori harian
pembedahan suhu tubuh dalam  Kolaborasikan pemberian
mayor batas normal cairan IV
2. Trauma/perdara  Tidak ada tanda-tanda  Monitor status nutrisi
han dehidrasi, Elastisitas  Berikan cairan IV pada
3. Luka bakar turgor kulit baik, suhu ruangan
4. Aferesis membran mukosa  Dorong masukan oral
5. Asites lembab, tidak ada rasa  Berikan penggantian
6. Obstruksi haus yang berlebihan nesogatrik sesuai output
intestinal  Dorong keluarga untuk
7. Peradangan membantu pasien makan
pankreas  Tawarkan snack (jus buah,
8. Penyakit ginjal buah segar)
dan kelenjar  Kolaborasi dengan dokter
9. Disfungsi  Atur kemungkinan
intestinal tranfusi
 Persiapan untuk tranfusi

Kondisi klinis terkait: Hypovolemia Management


1. Prosedur  Monitor status cairan
pembedahan mayor termasuk intake dan
2. penyakit ginjal dan ourput cairan
kelenjar  Pelihara IV line
3. perdarahan  Monitor tingkat Hb dan
4. luka bakar hematokrit
 Monitor tanda vital
 Monitor respon pasien
terhadap penambahan
cairan
 Monitor berat badan
 Dorong pasien untuk
menambah intake oral
 Pemberian cairan IV

28
monitor adanya tanda dan
gejala kelebihan volume
cairan
 Monitor adanya tanda
gagal ginjal

3 Risiko Cedera NOC NIC


Definisi: Berisiko - Risk Kontrol Environment Management
mengalami bahaya atau (Manajemen lingkungan)
kerusakan fisik yang
menyebabkan 1. Sediakan Iingkungan yang
seseorang tidak lagi Kriteria Hasil : aman untuk pasien
sepenuhnya sehat atau 2. Identifikasi kebutuhan
dalam kondisi baik - Klien terbebas dari keamanan pasien, sesuai
cedera dengan kondisi fisik dan
Faktor Risiko : - Klien mampu fungsi kognitif pasien dan
menjelaskan riwayat penyakit terdahulu
Eksternal
cara/metode untuk pasien
1. Terpapar patogen mencegah 3. Menghindarkan
2. Terpapar zat kimia injury/cedera lingkungan yang
toksik - Klien mampu berbahaya (misalnya
3. Terpapar agen menjelaskan faktor memindahkan perabotan)
nosokomial resiko dari 4. Memasang side rail tempat
4. Ketidakmampuan lingkungan/perilaku tidur
transportasi personal 5. Menyediakan tempat tidur
Internal - Mampu memodifikasi yang nyaman dan bersih
gaya hidup untuk 6. Menempatkan saklar
1. Ketidaknormalan mencegah injury lampu ditempat yang
profil darah - Menggunakan mudah dijangkau pasien.
2. Perubahan fasilitas kesehatan 7. Membatasi pengunjung
orientasi afektif yang ada 8. Menganjurkan keluarga
3. Perubahan sensasi - Mampu mengenali untuk menemani pasien.
4. Disfungsi perubahan status 9. Mengontrol lingkungan
autoimun kesehatan dari kebisingan
5. Disfungsi biokimia 10. Memindahkan barang-
6. Hipoksia jaringan barang yang dapat
7. Kegagalan membahayakan
mekanisme 11. Berikan penjelasan pada
pertahanan tubuh pasien dan keluarga atau
8. Malnutrisi pengunjung adanya
9. Perubahan fungsi perubahan status kesehatan
psikomotor dan penyebab penyakit.
10. Perubahan fungsi
kognitif

Kondisi klinis terkait:


5. Kejang

29
6. Sinkop
7. Vertigo
8. Gangguan
Penglihatan
9. Gangguan
Pendengaran
10. Penyakit Perkinson
11. Hipotensi
12. Kelainan nervus
vestibularis
13. Retardasi Mental
4 Gangguan Rasa NOC NIC
Nyaman
 Ansiety Anxiety Reduction
Definisi :  Fear level (penurunan kecemasan)
 Sleep Deprivation
Perasaan kurang  Gunakan pendekatan yang
 Comfort, Readines for
senang, lega dan menenangkan
Enchanced
sempurna dalam  Nyatakan dengan jelas
dimensi fisik, harapan terhadap pelaku
psikospiritual, pasien
lingkungan dan sosial Kriteria Hasil :  Jelaskan semua prosedur
dan apa yang dirasakan
 Mampu mengontrol selama prosedur
Penyebab : kecemasan  Pahami prespektif pasien
 Status lingkungan terhadap situasi stres
1. gejala penyakit yang nyaman  Temani pasien untuk
2. kurang  Mengontrol nyeri memberikan keamanan
pengendalian  Kualitas tidur dan dan mengurangi takut
situasional/lingkung istirahat adekuat  Dorong keluarga untuk
an  Agresi pengendalian menemani anak
3. ketidakadekuatan diri  Lakukan back/neck rub
sumber daya (mis.  Respon terhadap  Dengarkan dengan penuh
Dukungan finansial, pengobatan perhatian
sosial dan  Control gejala  Identifikasi tingkat
pengetahuan)  Status kenyamanan kecemasan
4. kurangnya privasi meningkat  Bantu pasien mengenal
5. gangguan stimulus  Dapat mengontrol situasi yang menimbulkan
lingkungan ketakutan kecemasan
6. efek samping terapi  Support social  Dorong pasien untuk
(mis. Medikasi,  Keinginan untuk mengungkapkan perasaan,
radiasi, kemoterapi) hidup ketakutan, persepsi
7. gangguan adaptasi  Instruksikan pasien
kehamilan menggunakan teknik
relaksasi
 Berikan obat untuk
Gejala dan Tanda mengurangi kecemasan
Mayor:
Subjektif Environment Management

30
1. Mengeluh tidak Confort
nyaman
Objektif Pain Management

1. Gelisah

Gejala dan Tanda


Minor:
Subjektif
1. Mengeluh sulit
tidur
2. tidak mampu rileks
mengeluh
kedinginan/kepana
san
3. merasa gatal
4. mengeluh mual
5. mengeluh lelah
Objektif
1. Menunjukkan gejala
distress
2. Tampak
merintih/menangis
3. Pola eliminasi
berubah
4. Postur tubuh
berubah
5. Iritabilitas

Kondisi Klinis Terkait


1. Penyakit kronis
2. Keganasan
3. Distres psikologis
4. kehamilan
5. Ansietas NOC NIC
Definisi :  Anxiety self-control Anxiety Reduction
 Anxiety level (penurunan kecemasan)
Kondisi emosi dan
 Coping
pengalaman subyektif  Gunakan pendekatan yang
individu terhadap objek menenangkan
yang tidak jelas dan  Nyatakan dengan jelas
spesifik akibat Kriteria Hasil :
harapan terhadap pelaku
antisipasi bahaya yang pasien
 Klien mampu
memungkinkan  Jelaskan semua prosedur
individu melakukan mengidentifikasi dan
mengungkapkan dan apa yang dirasakan

31
tindakan untuk gejala cemas. selama prosedur
menghadapi ancaman  Mengidentifikasi,  Pahami prespektif pasien
mengungkapkan dan terhadap situasi stres
menunjukkan tehnik  Temani pasien untuk
untuk mengontol memberikan keamanan
Penyebab :
cemas. dan mengurangi takut
1. Krisis situasional  Vital sign dalam batas  Dorong keluarga untuk
2. kebutuhan tidak normal. menemani anak
terpenuhi  Postur tubuh, ekspresi  Lakukan back / neck rub
3. krisis maturasional wajah, bahasa tubuh  Dengarkan dengan penuh
4. ancaman terhadap dan tingkat aktivfitas perhatian
konsep diri menunjukkan  Identifikasi tingkat
5. ancaman terhadap berkurangnya kecemasan
kematian kecemasan.  Bantu pasien mengenal
6. kekhawatiran situasi yang menimbulkan
mengalami kecemasan
kegagalan  Dorong pasien untuk
7. disfungsi sistem mengungkapkan perasaan,
keluarga ketakutan, persepsi
8. hubungan orang  Instruksikan pasien
tua-anak tidak menggunakan teknik
memuaskan relaksasi
9. faktor keturunan  Berikan obat untuk
(temperamen mengurangi kecemasan
mudah tergitasi
sejak lahir)
10. penyalahgunaan zat
11. terpapar bahaya
lingkungan (mis.
Toksik, polutan, dan
lain-lain)
12. kurang terpapar
informasi

Gejala dan Tanda


Mayor:
Subjektif
1. Merasa bingung
2. Merasa khawatir
dengan akibat dari
kondisi yang
dihadapi
3. Sulit berkonsentrasi
Objektif
1. Tampak gelisah
2. Tampak tegang
3. Sulit tidur

32
Gejala dan Tanda
Minor:
Subjektif
1. Mengeluh
pusing
2. Anoreksia
3. palpitasi
4. merasa tidak
berdaya
Objektif
1. Frekuensi napas
meningkat
2. Frekuensi nadi
meningkat
3. Tekanan darah
meningkat
4. Diaforesis
5. Tremor
6. Muka tampak pucat
7. Suara bergetar
8. Kontak mata buruk
9. Sering berkemih
10. Berorientasi pada
masa lalu

Kondisi Klinis Terkait


1. Penyakit kronis
progresif (mis.
Kanker, penyakit
autoimun)
2. penyakit akut
3. hospitalisasi
4. rencana operasi
5. kondisi diagnosis
penyakit belum
jelas
6. penyakit neurologis
7. tahap tumbuh
kembang
6. Nyeri Akut NOC NIC

 Pain Level, Pain Management


 Pain control
Definisi :  Lakukan pengkajian nyeri
 Comfort level
Pengalaman sensorik secara komprehensif
termasuk lokasi,
atau emosional yang
karakteristik, durasi
33
berkaitan dengan frekuensi, kualitas dan
kerusakan jaringan faktor presipitasi
aktual atau fungsional, Kriteria Hasil :  Observasi reaksi
dengan onset mendadak nonverbal dan
atau lambat dan  Mampu mengontrol ketidaknyamanan
berintensitas ringan nyeri (tahu penyebab  Gunakan teknik
hingga berat yang nyeri, mampu komunikasi terapeutik
berlangsung kurang dari menggunakan tehnik untuk mengetahui
3 bulan. nonfarmakologi untuk pengalaman nyeri pasien
mengurangi nyeri,  Kaji kultur yang
Penyebab : mencari bantuan) mempengaruhi respon
 Melaporkan bahwa nyeri
1. Agen pencedera nyeri berkurang  Evaluasi pengalaman
fisiologis (mis. dengan menggunakan nyeri masa lampau
Inflamasi, iskemia, manajemen nyeri  Evaluasi bersama pasien
neoplasma)  Mampu mengenali dan tim kesehatan lain
2. agen pencedera nyeri (skala, tentang ketidakefektifan
kimiawi (mis. intensitas, frekuensi kontrol nyeri masa Iampau
Terbakar, bahan dan tanda nyeri)  Bantu pasierl dan keluarga
kimia iritan)  Menyatakan rasa untuk mencari dan
3. agen pencedera fisik nyaman setelah nyeri menemukan dukungan
(mis. Abses, berkurang  Kontrol lingkungan yang
amputasi, terbakar,
dapat mempengaruhi nyeri
terpotong,
seperti suhu ruangan,
mengangkat berat,
pencahayaan dan
prosedur operasi,
kebisingan
trauma, latihann
 Kurangi faktor presipitasi
fisik berlebihan)
nyeri
Gejala dan Tanda
 Pilih dan lakukan
Mayor:
penanganan nyeri
Subjektif (farmakologi, non
farmakologi dan inter
1. Mengeluh nyeri personal)
Objektif  Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
1. Tampak meringis intervensi
2. Bersikap protektif  Ajarkan tentang teknik
(mis. waspada, non farmakologi
posisi menghindar  Berikan anaIgetik untuk
nyeri) mengurangi nyeri
3. Gelisah  Evaluasi keefektifan
4. Frekuensi nadi kontrol nyeri
meningkat  Tingkatkan istirahat
5. Sulit tidur  Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
Gejala dan Tanda dan tindakan nyeri tidak
Minor: berhasil
 Monitor penerimaan
Subjektif pasien tentang manajemen

34
(tidak tersedia) nyeri

Objektif Analgesic Administration


1. Tekanan darah
 Tentukan lokasi,
meningkat
2. Pola napas berubah karakteristik, kualitas, dan
3. Nafsu makan derajat nyeri sebelum
berubah pemberian obat
 Cek instruksi dokter
4. Proses berpikir
terganggu tentang jenis obat, dosis,
5. Menarik diri dan frekuensi
 Cek riwayat alergi
6. Berfokus pada diri
 Pilih analgesik yang
sendiri
7. Diaforesis diperlukan atau kombinasi
dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
Kondisi Klinis Terkait  Tentukan pilihan
analgesik tergantung tipe
1. Kondisi dan beratnya nyeri
pembedahan  Tentukan analgesik
2. cedera traumatis pilihan, rute pemberian,
3. infeksi dan dosis optimal
4. sindrom koroner  Pilih rute pemberian
akut secara IV, IM untuk
5. glaukoma pengobatan nyeri secara
teratur
 Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali
 Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
 Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan gejala

7. Pola Napas Tidak NOC NIC


Efektif
 Respiratory status : Airway Management
Ventilation
 Respiratory status :  Buka jalan nafas,
Definisi : guanakan teknik chin lift
Airway patency
 Vital sign Status atau jaw thrust bila perlu
Inspirasi dan/atau
 Posisikan pasien untuk
ekspirasi yang tidak
memaksimalkan ventilasi
memberikan ventilasi
 Identifikasi pasien
adekuat
Kriteria Hasil : perlunya pemasangan alat
jalan nafas buatan
 Mendemonstrasikan  Pasang mayo bila perlu

35
Penyebab : batuk efektif dan  Lakukan fisioterapi dada
suara nafas yang jika perlu
1. Depresi pusat bersih, tidak ada  Keluarkari sekret dengan
pernapasan sianosis dan dyspneu batuk atau suction
2. hambatan upaya (mampu  Auskultasi suara nafas,
napas (mis. Nyeri mengeluarkan catat adanya suara
saat bernapas, sputum, mampu tambahan
kelemahan otot bernafas dengan  Lakukan suction pada
pernapasan) mudah, tidak ada mayo
3. deformitas dinding pursed lips)  Berikan bronkodilator bila
dada  Menunjukkan jalan perlu
4. deformitas tulang nafas yang paten  Berikan pelembab udara
dada (klien tidak merasa Kassa basah
5. gangguan tercekik, irama nafas  NaCl Lembab
neuromuskular frekuensi pernafasan  Atur intake untuk cairan,
6. gangguan dalam rentang normal, mengoptimalkan
neurologis (mis. tidak ada suara nafas keseimbangan.
Elektroensefalogra abnormal)  Monitor respirasi dan
m [EEG] positif,  Tanda Tanda vital status O2
cedera kepala, dalam rentang normal
gangguan kejang) (tekanan darah, nadi, Oxygen Therapy
7. kecemasan pernafasan)
 Bersihkan mulut, hidung
dan secret trakea
Gejala dan Tanda
 Pertahankan jalan nafas
Mayor:
yang paten
Subjektif  Atur peralatan oksigenasi
 Monitor aliran oksigen
1. dipsnea  Pertahankan posisi pasien
Objektif  Observasi adanya tanda
tanda hipoventilasi
1. Penggunaan otot  Monitor adanya
bantu pernapasan kecemasan pasien
2. Fase ekspirasi terhadap oksigenasi
memanjang
3. Pola napas
Vital sign Monitoring
abnormal
Gejala dan Tanda  Monitor Tekanan Darah,
Minor: nadi, suhu, dan RR
Subjektif  Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
1. ortopnea  Monitor Vital Sign saat
Objektif pasien berbaring, duduk,
atau berdiri
1. Pernapasan pursed-  Auskultasi Tekanan Darah
lip pada kedua lengan dan
2. Pernapasan cuping bandingkan
hidung  Monitor TD, nadi, RR,
3. Diameter thoraks sebelum, selama, dan
anterior-posterior setelah aktivitas

36
meningkat  Monitor kualitas dari nadi
4. Tekanan ekspirasi  Monitor frekuensi dan
menurun irama pernapasan
5. Tekanan inspirasi  Monitor suara paru
menurun  Monitor pola pernapasan
abnormal
 Monitor suhu, warna, dan
Kondisi Klinis Terkait kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
1. depresi sistem saraf
 Monitor adanya cushing
pusat
triad (tekanan nadi yang
2. cedera kepala
melebar, bradikardi,
3. trauma thoraks
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dan
perubahan vital sign

8. Gangguan Pola NOC NIC


Eliminasi Urin
 Urinary elimination Urinary Retention Care
Definisi :  Urinary Contiunence
 Lakukan penilaian kemih
Disfungsi eliminasi yang komprehensif
urine berfokus pada
Kriteria Hasil : inkontinensia (misalnya,
output urin, pola berkemih
Penyebab :  Kandung kemih kemih, fungsi kognitif,
kosong secara penuh dan masalah kencing
1. penurunan  Tidak ada residu urine praeksisten)
kapasitas kandung > 100-200 cc  Memantau penggunaan
kemih  Intake cairan dalam obat dengan sifat
2. efek tindakann rentang normal antikolinergik atau
medis dan  Bebas dari ISK properti alpha agonis
diagnostik  Tidak ada spasme  Memonitor efek dari obat-
3. kelemahan otot bladder obatan yang diresepkan,
pelvis  Balance cairan seperti calcium channel
4. ketidakmampuan seimbang blockers dan
mengakses toilet antikolinergik
Gejala dan Tanda  Menyediakan
Mayor: penghapusan privasi
 Gunakan kekuatan sugesti
Subjektif dengan menjalankan air
1. Desakan berkemih atau disiram toilet
(urgensi)  Merangsang refleks
2. urin menetes kandung kemih dengan
(dribling) menerapkan dingin untuk
3. sering buang air perut, membelai tinggi
kecil batin, atau air
4. nokturia  Sediakan waktu yang
Objektif cukup untuk pengosongan
kandung kemih (10 menit)

37
1. Distensi kandung  Gunakan spirit
kemih wintergreen di pispot atau
2. Berkemih tidak urinal
tuntas  Menyediakan manuver
3. Volume residu urin Crede, yang diperlukan
meningkat  Gunakan double-void
Gejala dan Tanda teknik
Minor:  Masukkan kateter kemih,
sesuai
Subjektif  Anjurkan pasien / keluarga
untuk merekam output
(tidak tersedia)
urin, sesuai
Objektif  Instruksikan cara-cara
untuk menghindari
(tidak tersedia) konstipasi atau impaksi
tinja
Kondisi Klinis Terkait  Memantau asupan dan
1. Infeksi ginjal dan keluaran
saluran kemih  Memantau tingkat distensi
2. Trauma kandung kemih dengan
3. Cedera/tumor/infek palpasi dan perkusi
si medula spinalis  Membantu dengan toilet
4. Stroke secara berkala
5. Parkinson  Memasukkan pipa ke
6. Obat alpha dalam lubang tubuh untuk
adrenegik sisa
 Menerapkan kateterisasi
intermiten
 Merujuk ke spesialis
kontinensia kemih

9. Gangguan Pola Tidur NOC NIC


Definisi :  Anxiety reduction Sleep Enhancement
 Comfort level
Gangguan kualitas dan  Determinasi efek-efek
 Pain level
kuantitas waktu tidur medikasi terhadap pola
 Rest : Extent and
akibat faktor eksternal tidur
Pattern
 Sleep : Extent an  Jelaskan pentingnya tidur
Pattern yang adekuat
Penyebab :  Fasilitas untuk
mempertahankan aktivitas
1. Hambatan sebelum tidur (membaca)
lingkungan Kriteria Hasil :  Ciptakan lingkungan yang
2. kurang kontrol tidur nyaman
3. tidak familiar  Jumlah jam tidur  Kolaborasikan pemberian
dengan peralatan dalam batas normal 6- obat tidur
tidur 8 jam/hari  Diskusikan dengan pasien

38
 Pola tidur, kualitas dan keluarga tentang
dalam batas normal teknik tidur pasien
Gejala dan Tanda  Perasaan segar  Instruksikan untuk
Mayor: sesudah tidur atau memonitor tidur pasien
istirahat  Monitor waktu makan dan
Subjektif
 Mampu minum dengan waktu tidur
1. Mengeluh sulit tidur mengidentifikasikan  Monitor/catat kebutuhan
2. Mengeluh sering hal-hal yang tidur pasien setiap hari dan
terjaga meningkatkan tidur jam
3. Mengeluh tidak
puas tidur
4. Mengeluh pola tidur
berubah
5. Mengeluh istirahat
tidak cukup
Objektif
(tidak tersedia)
Gejala dan Tanda
Minor:
Subjektif
1. menegluh
kemampuan
beraktivitas
menurun
Objektif
(Tidak tersedia)

Kondisi Klinis Terkait


1. Nyeri/kolik
2. kecemasan
3. kehamilan
4. kondisi asca operasi
10 Kelebihan Volume Electrolit and acid base Timbang popok/pembalut jika
Cairan balance diperlukan
Definisi : Peningkatan · Fluid balance · Pertahankan catatan
retensi cairan isotonik intake dan output yang akurat
· Hydration
Batasan Karakteristi · Pasang urin kateter jika
diperlukan
Bunyi napas adventisius
Kriteria Hasil : · Monitor hasil Hb yang
Gangguan elektrolit sesuai dengan retensi cairan
· Terbebas dari
(BUN, Hmt, osmolalitas urin)
Anasarka edema, efusi, anaskara
· Monitor status
Ansietas · Bunyi nafas bersih,
hemodinamik termasuk

39
Azotemia tidak ada CVP,MAP, PAP dan PCWP
dvspneu/ortopneu
Perubahan tekanan · Monitor vital sign
darah · Terbebas dari
distensi vena jugularis, · Montor indikasi retensi /
Perubahan status mental reflek hepatojugular (+) kelebihan cairan (cracles, CVP,
edema, distensi vena leher,
Perubahan pola · Memelihara tekanan asites)
pernapasan vena sentral, tekanan
kapiler paru, output · Kaji lokasi dan luas
· Penurunan edema
jantung dan vital sign
hematrokrit
dalam batas normal
· Monitor masukan
· Penurunan makanan / cairan dan hitung
· Terbebas dan
hemoglobin intake kalori
kelelahan, kecemasan atau
· Dispnea kebingungan
· Monitor status nutrisi
· Edema · Menjelaskan
· Kolaborasi pemberian
indikator kelebihan cairan
diuretik sesuai interuksi
· Peningkatan
tekanan vena sentral · Batasi masukan cairan
pada keadaan hiponatrermi
· Asupan
dilusi dengan serum Na < 130
melebihi haluaran
mEq/l
· Distensi vena
· Kolaborasi dokter jika
jugularis
tanda cairan berlebih muncul
· Oliguria memburuk

· Ortopnea Fluid Monitoring

· Efusi pleura · Tentukan riwayat jumlah


dan tipe intake cairan dan
· Refleksi eliminasi
hepatojugular positif
· Tentukan kemungkinan
· Perubahan faktor resiko dan
tekanan arteri ketidakseimbangan cairan
pulmunal (Hipertermia, terapi diuretik,
kelainan renal, gagal jantung,
· Kongesti diaporesis, disfungsi hati, dll)
pulmunal
· Monitor berat badan,
· Gelisah BP, HR, dan RR
· Perubahan · Monitor serum dan
berat jenis urin elektrolit urine
· Bunyi jantung · Monitor serum dan
S3 osmilalitas urine
· Penambahan · Monitor tekanan darah
berat badan dalam orthostatik dan perubahan

40
waktu sangat singkat irama jantung

Faktor Yang · Monitor parameter


Berhubungan : hemodinamik infasif
· Gangguan · Catat secara akurat
mekanisme regulasi intake dan output
· Kelebihan asupan · Monitor adanya distensi
cairan leher, rinchi, eodem perifer dan
penambahan BB
· Kelebihan asupan
Natrium · Monitor tanda dan gejala
dari odema

41
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Pelayanan Antenatal.
http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream//123456789/768/4/BK2007-G59.pdf.
Diakses tanggal 18 Juni 2012. Pukul 18.37 WIB.

George Andriaanz. 2008. Asuhan Antenatal. http://www.pkmi-


online.com/download/ASUHAN%20-ANTENATAL.pdf. Diakses tanggal 17
November 2010. Pukul 18.14 WIB.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22463/4/Chapter%20II.pdf.
Israr, Yayan, dkk. 2009. Makalah Antenatal Care dan Preeklampsia.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & KB untuk
Pendidikan Bidan. http://books.google.co.id. Diakses tanggal 18 Juni 2012. Pukul
18.31 WIB.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (Definisi
dan Indikator Diagnostik). Dewan Pengurus Pusat PPNI: Jakarta

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC. Diterjemahkan oleh: Widyawati, dkk. Jakarta. EGC.

42
LAPORAN PENDAHULUAN

ANTENATAL CARE

Disusun Oleh:

ARIZQU IRFAN ARDIANSAH

NIM: P27220016195

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
PRODI PROFESI NERS
2017

43

Anda mungkin juga menyukai