Anda di halaman 1dari 106

TUGAS AKHIR

PERBANDINGAN PENGARUH AKUPUNTUR DAN AKUPUNTUR DI


TAMBAH MOKSA PADA TITIK BL20 (PISHU), BL23 (SHENSHU), BL40
(WEIZHONG) DAN BL58 (FEIYANG) TERHADAP DISABILITAS PADA
LANSIA PENDERITA LBP DI PUSKESMAS KREMBANGAN SURABAYA
SEPTEMBER 2016 – AGUSTUS 2017

Oleh:
FITRIAH ANGGRAENI KUSUMA
NIM : 13.005

AKADEMI AKUPUNKTUR SURABAYA


2017
TUGAS AKHIR

PERBANDINGAN PENGARUH AKUPUNTUR DAN AKUPUNTUR DI


TAMBAH MOKSA PADA TITIK BL20 (PISHU), BL23 (SHENSHU), BL40
(WEIZHONG) DAN BL58 (FEIYANG) TERHADAP DISABILITAS PADA
LANSIA PENDERITA LBP DI PUSKESMAS KREMBANGAN SURABAYA
SEPTEMBER 2016 – AGUSTUS 2017

Oleh:
FITRIAH ANGGRAENI KUSUMA
NIM : 13.005

HALAMAN JUDUL

AKADEMI AKUPUNKTUR SURABAYA


2017

ii
PERNYATAAN BEBAS PALGIASI

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Perbandingan pengaruh akupuntur

Dan Akupuntur ditambah moksa pada titik BL20 (PISHU), BL23 (SHENSHU),

BL40 (WEIZHONG) DAN BL58 (FEIYANG) terhadap disabilitas pada lansia

penderita LBP di Puskesmas Krembangan Surabaya September 2016 – januari

2017”. Ini sepenuhnya karya sendiri. Tidak ada bagian di dalamnya yang

merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiblakan

atau pengutipan dengan cara – cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang

berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung

risiko sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya

pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari

pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Surabaya, Agustus 2017

Yang membuat pernyataan,

Fitriah Anggraeni Kusuma

iii
PENGESAHAN

Dipertahankan di depan Tim Penguji Tugas Akhir


Akademi Akupunktur Surabaya
dan diterima untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh sebutan
Ahli Madya Akupunktur (A.Md)
Pada tanggaal 08 Agustus 2016

Mengesahkan,
Direktur Akademi Akupuntur Surabaya

Dr.Shirley Andriani Wiyono, M.Med

Tim Penguji :

1. Penguji I :

Dyah Prapti W, S.KM, M.Kes

2. Penguji II :

dr. Thomas Cahyono Sutrisno, M,Med

iv
HALAMAN PERSETUJUAN

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai salah hatu syarat guna memperoleh sebutan


Ahli Madya Akupuntur

Oleh :
FITRIAH ANGGRAENI KUSUMA
NIM : 13.005

Surabaya, 31 Juli 2017

Mengetahui,
Pembantu Direktur I

dr. Thomas Cahyono Sutrisno, M,Med

Pembimbing I Pembimbing II

Dyah Prapti W, S.KM, M.Kes dr. Sulistiyawati Hoedijono, MA

v
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas

rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini tepat pada

waktunya.

Adapun tujuan dari karya tulis ini adalah sebagai tugas akhir untuk

memperoleh gelar Ahli Madya Terapi Akupunturis Tugas Akhir ini berjudul “

Perbandingan pengaruh akupuntur Dan Akupuntur ditambah moksa pada

titik BL20 (PISHU), BL23 (SHENSHU), BL40 (WEIZHONG) DAN BL58

(FEIYANG) terhadap disabilitas pada lansia penderita LBP di Puskesmas

Krembangan Surabaya September 2016 – januari 2017. Dalam penyelesaian karya

ilmiah ini, penulis banyak sekali mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai

pihak, Tugas Akhir ini dapat diselesaikan, walaupun masih banyak kekurangan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dyah Prapti

Wahyuni, M Kes dan dr. Sulistiyawati Hoedijono, MA selaku dosen pembimbing

yang telah memberukan petunjuk, koreksi serta saran hingga tersusunnya Laporan

Tugas Akhir ini.

Terimakasih dan penghargaan kami sampaikan pula kepada yang

terhormat:

1. dr. Koosnadi Saputra, Sp.R selaku kepala LP3A

2. Seluruh pasien yang telah bersedia menjadi responden penelitian

3. Dyah Prapti W, S.KM, M.Kes, selaku Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan, memeriksa, memberikan petunjuk-petunjuk dan

saran dalam penulisan Tugas Akhir.

vi
4. dr. Sulistiyawati Hoedijono, MA, selaku Pembimbing I yang telah

memberikan bimbingan, memeriksa, memberikan petunjuk-petunjuk dan

saran dalam penulisan Tugas Akhir.

Semoga segala bantuan yang telah diberikan dalam penyusunan Laporan Tugas

Akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Surabaya, Agustus 2017

vii
ABSTRACT

Lower back pain is the most common disease and cause problems in modern
society, Acupuncture therapy is good for lower back pain as an alternative
treatment. Therefore, researchers chose low back pain as a research object.The
purpose of this study was to determine the effect of Acupuncture and Acupuncture
plus moxsibution on point BL20 (PISHU), BL23 (SHENSHU), BL40
(WEIZHONG) and BL58 (FEIYANG) on disability in elderly people of LBP at
Puskesmas Krembangan Surabaya September 2016 - januari 2017.
This study used Pre-Experimental with primary data collection method
using ODI (Oswestry Disability Index) questionnaire in the form of Scoring
criterion value 0% - 20% (Minimal Disability), 21% - 40% (Moderate Disability),
41% -60% (Severe Disability), 61% - 80% (Crippled) and 81% - 100% (The
patient is very tortured by pain) . The design of this study, the method used is
Experimental Semu by using the model Non Randomized Pre Post Test Control
Group Design, Variable used free variable that is body acupuncture and giving
moksa on point BL23 Shenshu, BL20 Pishu, BL40 Weizhong, and BL58 Feiyang
and Dependent Variables Is a disability quality in the elderly who suffer from low
back pain. The data were collected at Posyandu Flamboyan, Posyandu Gemuyung,
and Posyandu TP PKK.The results of this research, there are 2 groups of 10
respondents, the first group performed acupuncture therapy and the second group
performed acupuncture therapy plus Moksa. The first group of 5 respondents
performed Acupuncture therapy and a second group of 5 respondents performed
acupuncture therapy plus Moksibustion.
The results of this study mean the comparison of ODI scale in the first
group is 19.8% and the second group is 20.4%. The first group was performed
acupuncture therapy and the second group performed acupuncture therapy plus
moksibustion.
Suggestions of this study the number of subjects is not balanced enough
between the subjects of female respondents (6 people) and men (4 people). So the
analysis is done with regard to gender is not responsive and should be
acupuncture and acupuncture therapy plus moksa that many respondents and
larger scale in order to confirm the results.

Keywords:Acupuncture,LBP,ODI

viii
ABSTRAK

Nyeri pinggang bawah adalah penyakit tersering dan menimbulkan


masalah pada masyarakat modern. Terapi akupuntur bagus untuk nyeri pinggang
bawah sebagai pengobatan alternatif. Karena itu peneliti memilih nyeri pinggang
bawah sebagai obyek penelitian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
Perbandingan pengaruh akupuntur dan Akupuntur ditambah moksa pada titik
BL22 (Sanjiaoshu), Bl23 (Shenshu) dan BL24 (Qihaishu) terhadap disabilitas
pada lansia penderita LBP di Puskesmas Krembangan Surabaya September 2016 –
januari 2017.
Penelitian ini termasuk Pra-Eksperimental dengan metode pengumpulan
data primer menggunakan kuesioner ODI (Oswestry Disability Index) yang
berupa kriteria Scoring nilai 0%-20% (Disabilitas Ringan), 21%-40% (Disabilitas
Sedang), 41%-60% (Disabilitas Berat), 61% - 80% (Lumpuh), dan 81%-100%
(pasien sangat tersiksa oleh nyeri). Desain penelitian ini, Eksperimental Semu
dengan menggunakan model Non Randomized Pre Post Tes Control Group
Design, Variabel yang digunakan Variabel Bebas yaitu akupuntur tubuh dan
pemberian moksa pada titik BL23 Shenshu, BL20 Pishu, BL40 Weizhong, dan
BL58 Feiyang dan Variabel Tergantung adalah kualitas disabilitas pada lansia
yang menderita nyeri pinggang bawah. Pengambilan data dilakukan di Posyandu
Flamboyan, Posyandu Gemuyung, dan Posyandu TP PKK. Hasil dari penelitan
ini, ada 2 kelompok berjumlah 10 responden yaitu kelompok pertama dilakukan
terapi Akupuntur dan kelompok kedua dilakukan terapi Akupuntur ditambah
Moksa. Kelompok pertama 5 respondent dilakukan Terapi Akupuntur dan
kelompok kedua 5 responden dilakukan terapi Akupuntur ditambah Moksa.
Hasil penelitian ini Rata–rata hasil perbandingan skala ODI pada kelompok
pertama yaitu 19,8% dan kelompok kedua yaitu 20,4%. Kelompok pertama yaitu
dilakukan terapi akupuntur dan kelompok kedua dilakukan terapi akupuntur
ditambah moksa.
Saran penelitian ini jumlah subjek tidak cukup seimbang antara subyek
responden perempuan (6 orang) dan laki laki (4 orang). Sehingga analisa yang
dilakukan berkaitan dengan jenis kelamin tidak responsif dan sebaiknya terapi
akupuntur dan akupuntur ditambah moksa yang banyak responden dan skala yang
lebih besar agar bisa pastikan hasilnya.

Kata Kunci : Akupuntur, LBP, ODI

ix
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL..............................................................................................ii

PERNYATAAN BEBAS PALGIASI...................................................................iii

PENGESAHAN.....................................................................................................iv

HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................v

KATA PENGANTAR............................................................................................vi

ABSTRACT..........................................................................................................vii

ABSTRAK...........................................................................................................viii

DAFTAR ISI..........................................................................................................ix

DAFTAR TABEL................................................................................................xiii

DAFTAR GAMBAR...........................................................................................xiv

DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................xvi

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN..........................................xvii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

I.1. Latar Belakang.............................................................................................1

I.2. Identifikasi Masalah.....................................................................................2

I.3. Batasan Masalah..........................................................................................3

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT......................................................................4

II.1. Tujuan Umum...........................................................................................4

II.2. Tujuan Khusus..........................................................................................4

II.3. Manfaat Penelitian...................................................................................5

BAB III TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................6

III.1. Lansia..........................................................................................................6

III.2. Nyeri............................................................................................................7

x
III.3. Nyeri Punggang Bawah............................................................................10

III.4. Nyeri Punggung Bawah Secara Akupuntur..............................................17

III.5.Tujuan Terapi Akupuntur Untuk Low Back Pain.......................................26

III.6. Moksa (Moksibution)................................................................................26

BAB IV KERANGKA KONSEP........................................................................33

IV.1. Kerangka Konseptual................................................................................33

BAB V METODE PENELITIAN.......................................................................35

V.1 Jenis dan Desain Penelitian.........................................................................35

V.2. Populasi......................................................................................................35

V.3. Sampel Penelitian.......................................................................................35

V.4. Lokasi dan Waktu Penelitian.......................................................................36

V.5 Variabel Penelitian.......................................................................................37

V.6 Metode Pengumpulan Data Primer.............................................................42

V.7 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data..................................................42

V.8. Kerangka Kerja...........................................................................................43

BAB VI HASIL PENELITIAN...........................................................................46

VI.I. Gambaran Umum Subyek Penelitian.........................................................46

VI.2. Karakteristik Responden Penderita LBP..................................................46

VI.3. Mengetahui Keluhan Disabilitas Pasien Sebelum Dilakukan Terapi


Akupuntur...........................................................................................................50

VI.4. Mengetahui Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi Akupuntur


............................................................................................................................52

BAB VII PEMBAHASAN...................................................................................60

VII.1. Karakter Penderita LBP (Nyeri Pinggang Bawah).................................60

VII.2 Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum Diterapi Akupuntur...61

VII.3. Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sesudah Terapi Akupuntur Ke


8..........................................................................................................................61

xi
VII.4. Membandingkan Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum dan
Sesudah Diterapi Akupuntur..............................................................................62

VII.5. Tingkat keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum Diterapi Akupuntur


Ditambah Moksa................................................................................................62

VII.6. Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sesudah Terapi Akupuntur


Ditambah Moksa Ke 8........................................................................................63

VII.7. Membandingkan Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum dan


Sesudah Diterapi Akupuntur Ditambah Moksa.................................................63

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................65

VIII.1. Kesimpulan.............................................................................................65

VIII.2. Saran.......................................................................................................66

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................67

xii
DAFTAR TABEL

No. Judul Tabel Halaman

V.I. Jadwal Penelitian 37

V.3. Definisi Operasional 39

VI.2.1. Usia Responden Nyeri Pinggang Bawah 46

VI.2.2. Data Menurut Jenis Kelamin Nyeri Pinggang Bawah 47

VI.2.3. Data Pekerjaan Responden Nyeri Pinggang Bawah 49

VI.3. Hasil Skala Disabilitas Sebelum Dilakukan Terapi Akupuntur 50

VI.3.1. Hasil Skala Disabilitas Sebelum Dilakukan Terapi Akupuntur

Ditambah Moksa 51

VI.4. Hasil Data Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi

Akupuntur 52

VI.4.1. Hasil Data Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi

Akupuntur Ditambah Moksa 54

VI.4.2. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum dan Sesudah Terapi

Akupuntu r 56

VI.4.3. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum dan Sesudah Diterapi

Akupuntur Dan Ditambah Moksa 57

VI.4.4. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum dan Sesudah Terapi

Akupuntur Dan Akupuntur Ditambah Moksa 59

xiii
DAFTAR GAMBAR

No. Judul Tabel Halaman

III.3.1. Anatomi Tulang Belakang 12

III.4.4. Titik Akupuntur 19

III.6.3. Moksa Kerucut 28

III.6.3. Moksa Silinder 28

III.6.4.1. Moksa Langsung 29

III.6.4.2. Moksa Tidak Langsung 29

III.6.5. Moksibusi Dengan Jarum 31

V.I. Hubungan Variabel 38

VI.2.1. Usia Responden Nyeri Pinggang Bawah 47

VI.2.2. Data Menurut Jenis Kelamin Nyeri Pinggang Bawah 48

VI.2.3. Data Pekerjaan Responden Nyeri Pinggang Bawah 49

VI.3. Hasil Skala Disabilitas Sebelum Dilakukan Terapi Akupuntur 50

VI.3.1. Hasil Skala Disabilitas Sebelum Dilakukan Terapi Akupuntur

Ditambah Moksa 52

VI.4. Hasil Data Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi

Akupuntur 53

VI.4.1. Hasil Data Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi

Akupuntur Ditambah Moksa 55

VI.4.2. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum dan Sesudah Terapi

Akupuntur 57

VI.4.3. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum dan Sesudah Diterapi

Akupuntur Data Ditambah Moksa 58

xiv
VI.4.4. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum dan Sesudah Terapi

Akupuntur Dan Akupuntur Ditambah Moksa 60

xv
DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul Lampiran

Lampiran 1 : Lembar Persetujuan / Informed Consent

Lampiran 2 : Lembar Kuisioner

Lampiran 3 : Lembar Kuesioner ODI (Oswestry Disabilitty Index)

Lampiran 4 : Data Responden Terapi Akupuntur

Lampiran 5 : Data Respon Terapi Akupuntur ditambah Moksa

Lampiran 6 : Lembar Hasil Penelitian

Lampiran 7 : Lembar Konsultasi

Lampiran 8 : Lembar Revisi

xvi
DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

DAFTAR ARTI LAMBANG, SINGKATAN DAN ISTILAH

Daftar Arti Lambang dan Singkatan

% = persen

─ = sampai dengan

= = sama dengan

± = kurang lebih

PAKSI = persatuan akupuktur seluruh indonesia

TCM = traditional chinese medicine

IRT = ibu rumah tangga

LBP = low back pain

ODI = Oswestry Disability Index

HNP = herniasi nucleus pulposus

PPL = penyebab penyakit luar

Daftar istilah

Qi = energi kehidupan

Xue = darah dalam artinya secara TCM

Jing/essence = sari hara dalam ginjal

Yin – Yang = suatu unsur yg tidak terpisahkan yang mempunyai dua

sifat, saling berlawanan, saling seimbang, saling menghidupkan dan tidak mutlak

Informed Consent = surat persetujuan

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Low Back Pain (LBP) atau yang sering disebut dengan nyeri pinggung

bawah merupakan keluhan yang sering menimbulkan masalah pada

masayarakat. Keluhan Low Back Pain ini berada urutan kedua tersering

setelah nyeri kepala di Amerika Serikat dan lebih dari 80% penduduk yang

pernah mengeluh Low Back Pain. Dalam kenyataan, nyeri pinggang bagian

bawah tidak mengenal adanya perbedaan umur, jenis kelamin, pekerjaan,

status sosial, tingkat pendidikan, semuanya bisa terkena LBP. (Sosroatmojo,

2010)

Berdasarkan data di Klinik Akupuntur (LP3A) Surabaya tahun 2015-

2016 diketahui bahwa jumlah penderita nyeri pinggang bawah sebesar

8,35% dari jumlah total penderita 3819 dan termasuk dalam tiga besar

penyakit terbanyak setelah penyakit obesitas.

Berdasarkan data penelitian yang dilakukan oleh Felix Tirtakusmanah

pada Akupuntur untuk terapi Nyeri Pinggang Bawah pada bulan mei 2003,

menunjukan bahwa nyeri pinggang adalah kasus yang sering didapat pada

problem muskulo skeletal, dimana dapat disebabkan berbagai etiologi yaitu

sprain, dan stain otot pinggang, trauma pinggang, kelainan diskus

intervertebra. (Felix, 2003)

1
2

Dari hasil penelitian Yakub, (2016) dengan menggunakan titik BL23

(Shenshu), BL20 (Pishu), BL40 (Weizhong), BL58 (Feiyang) dengan

penelitian yang berjudul “Manfaat Terapi Akupuntur Pada Penderita Nyeri

Pinggang Bawah Di Klinik Laboratorium Penelitian Pengembangan Dan

Pelayanan Akupuntur (LP3A) Surabaya dapat diketahui sama-sama efektif

menggunakan titik akupuntur telinga dengan titik akupuntr tubuh untuk

nyeri punggung bawah.

Peneliti ingin mengetahui tingkat keluhan nyeri setelah di akupuntur

dan perlakuan dengan moksa. Peneliti memilih terapi pada titik titik BL22

(Sanjiaoshu), Bl23 (Shenshu) dan BL24 (Qihaishu) terhadap disabiliti pada

lansia penderita LBP di Puskesmas Krembangan Surabaya September 2016

– Agustus 2017.

I.2. Identifikasi Masalah

Penyebab terjadinya nyeri pinggang bawah menurut Staton, (2010) adalah :

1. Stress

Punggung sangat sensitive terhadap ketegangan otot akibat stress sehari-

hari.Dalam keadaan lemah dan kaku, otot punggung mengalami kejang

menyebabkan aliran darah yang mengangkut oksigen.

2. Postur tubuh yang buruk

Postur tubuh yang kurang tepat menyebabkan lengkung tulang belakang

tidak berada dalam satu garis lurus sehingga mudah cedera dan

menimbulkan kelainan pada diskus. Diskus yang rapuh tidak lagi mampu

menjadi bantalan vertebra. Kelainan akibat postur tubuh yang buruk yaitu

tulang belakang terlalu melengkung ke depan atau ke belakang.


3

3. Kurang berolaraga

80% kasus nyeri tulang punggung disebabkan oleh buruknya kelenturan otot

atau kurang berolaraga. Otot yang lemah, terutama pada daerah perut, tentu

tidak mampu menyokong pinggang secara maksimal.

4. Cedera dan keteganggan otot

Gerakan memutar, membungkuk, atau mengangkat beban berat yang tidak

dilakukan dengan benar, akan mengakibatkan ketegangan pada otot atau

cedera ligamen (jaringan elastis yang menjaga kestabilan tulang).

5. Osteoarthritis

Proses penuaan menyebabkan diskus menonjol dari tempat semestinya dan

menghasilkan pertumbuhan tulang baru seperti taji yang menimbulkan

radang sendi disertai nyeri.

I.3. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis membatasi penelitian pada

perbandingan pengaruh akupuntur dan akupuntur ditambah moksa pada titik

BL20 (Pishu), BL23 (Shenshu), BL40 (Weizong), dan BL58 (Feiyang)

terhadap disabilitas pada lansia penderita LBP di Puskesmas Krembangan

Surabaya September 2016 – Agustus 2017.

I.4. Rumusan Masalah

Bagaimana perbandingan pengaruh akupuntur dan akupuntur

ditambah moksa pada titik BL20 (Pishu), BL23 (Shenshu), BL40

(Weizong), dan BL58 (Feiyang) terhadap disabilitas pinggang pada lansia

penderita LBP di Puskesmas Krembangn Surabaya?


BAB II

TUJUAN DAN MANFAAT

II.1. Tujuan Umum

Perbandingan pengaruh akupuntur dan akupuntur ditambah moksa

pada titik BL20 (Pishu), BL23 (Shenshu), BL40 (Weizong), dan BL58

(Feiyang) terhadap disabilitas pada lansia penderita LBP di Puskesmas

Krembangan Surabaya September 2016 – Agustus 2017.

II.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui karakteristik responden mencakup usia, jenis kelamin, dan

pekerjaan

2. Mengetahui keluhan disabilitas pasien sebelum dilakukan terapi

akupuntur dan akupuntur di tambah moksa untuk penderita Low Back

Pain

3. Mengetahui penurunan kualitas disabilitas pasien sesudah diterapi

akupuntur untuk penderita Low Back Pain

4. Mengetahui penurunan kualitas disabilitas pasien sesudah di akupuntur

ditambah moksa untuk penderita Low Back Pain

5. Membandingkan keluhan disabilitas sebelum dan sesudah dilakukan

terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa untuk penderita Low

Back Pain

4
5

II.3. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Menambah ilmu pengetahuan dan menambah pengalaman dalam

penelitian.

2. Bagi Masyarakat

Peneliti mengharapkan dengan hasil yang diperoleh dari Karya Tulis

Ilmiah ini pembaca juga mendapat informasi dan pengetahuan Low

Back Pain.

3.Bagi Akademik Akupuntur Surabaya

Menambah khasanah penelitian yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian

lebih lanjut
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

III.1. Lansia

III.1.1 Definisi Lansia

Penuaan adalah tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang maksimal.

Setelah itu, tubuh mengalami penurunan disebabkan berkurangnya sel-sel yang

ada di dalam tubuh, yang mengakibatkan penurunan fungsi organ secara berlahan.

(Keliat, 1999).

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akibat perkembangan pada daur kehidupan

manusia. Menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 tahun 1998 tentang

kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia

lebih dari 60 tahun. (Maryam, 2008)

III.1.2. Klasifikasi Lansia

Klasifikasi lansia (Maryam, 2008), dibagi sebagai berikut :

1. Pralansia (Prasenilis)

Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.

2. Lansia

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

3. Lansia Resiko Tinggi

Seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.

(Depkes RI, 2003)

4. Lansia Potensial

Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dengan kegiatan yang

dapat menghasilkan barang atau uang. (Depkes RI, 2003)

6
7

5. Lansia Tidak Potensial

Lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya

bergantungan pada bantuan orang lain. (Depkes RI, 2003)

III.2. Nyeri

III.2.1 Definisi Nyeri

Nyeri merupakan sensasi yang rumit, unik, universal, dan bersifat individual.

Dikatakan bersifat individual karena respon individu terhadap sensasi nyeri yang

beragam dan tidak bisa disamakan satu dengan lainnya. Nyeri diartikan berbeda-

beda antar individu, bergantung pada presepsinya. Walaupun demikian, ada satu

kesamaan mengenai persepsi nyeri. Secara sederhana, nyeri dapat diartikan

sebagai suatu sensasi yang tidak menyenangkan baik secara sensasi maupun

emosional yang berhubungan dengan adanya suatu kerusakan jaringan atau faktor

lain, sehingga individu merasa tersiksa, menderita yang akhirnya akan

mengganggu aktivitas sehari-hari. (Tanujaya, 2008)

III.2.2. Penyebab Rasa Nyeri

Menurut Edward Tanujaya, (2008) Penyebab nyeri dapat di klasifikasikan

ke dalam dua golongan yaitu penyebab yang berhubungan dengan fisik dan

berhubungan dengan psikis. Secara fisik misalnya, penyebab nyeri adalah trauma

(baik trauma mekanik, termis, kimiawi, maupun elektrik), neoplasma, peradangan,

gangguan sirkulasi darah dan lain-lain. Secara psikis, penyebab nyeri dapat terjadi

oleh adanya trauma psikologis.

Trauma mekanik menimbulkan nyeri karena ujung-ujung saraf bebas mengalami

kerusakan akibat benturan, gesekan ataupun luka. Trauma termis menimbulkan

nyeri karena ujung saraf reseptor mendapatkan rangsangan akibat panas, dingin.
8

Trauma elektrik dapat menimbulkan nyeri karena pengaruh aliran listrik, yang

kuat mengenai reseptor rasa nyeri. (Tanujaya, 2008)

Neoplasma menyebabkan nyeri karena terjadinya tekanan atau kerusakan

jaringan yang mengandung reseptor nyeri dan juga karena tarikan, jepitan, atau

metastase. Nyeri pada peradangan terjadi karena kerusakan ujung-ujung saraf

reseptor akibat adanya peradangan atau terjepit oleh pembengkakan. Dapat di

simpulakan bahwa nyeri disebabkan oleh faktor fisik berkaitan dengan

terganggunya serabut saraf reseptor nyeri. Serabut saraf ini terletak dan tersebar

pada lapisan kulit dan pada jaringan-jaringan tertentu yang terletak lebih dalam.

(Tanujaya, 2008)

III.2.3. Klasifikasi Nyeri

Menurut Edward Tanujaya, (2008) Nyeri dapat diklafisikasikan ke dalam

beberapa golongan berdasarkan pada tempat, sifat, berat ringannya nyeri, dan

waktu lamanya serangan.

a. Nyeri berdasarkan tempatnya :

1. Periperal pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh

misalnya pada kulit, mukosa.

2. Deep pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh yang lebih

dalam atau pada organ-organ tubuh visceral.

3. Referred pain, yaitu nyeri yang disebakan karena penyakit

organ/struktur dalam tubuh yang di transmisikan ke bagian tubuh di

daerah yang berbeda, bukan daerah asal nyeri.

4. Central pain, yaitu nyeri yang terjadi karena perangsangan pada sistem

saraf pusat, spinal cord, batang otak, talamus, dan lain-lain.


9

b. Nyeri berdasarkan sifatnya :

1. Incidental pain, yaitu nyeri yang timbul sewaktu-waktu lalu

menghilang.

2. Steady pain, yaitu nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan

dalam waktu yang lama.

3. Paroxymal pain, yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan

kuat sekali. Nyeri tersebut biasanya menetap ±10-15 menit lalu

menghilang dan timbul lagi.

c. Nyeri berdasarkan berat ringannya :

1. Nyeri ringan, yaitu nyeri dengan intesitas rendah

2. Nyeri sedang, yaitu menimbulkan reaksi

3. Nyeri berat, yaitu nyeri dengan intensitas yang tinggi

d. Nyeri berdasarkan waktu lamanya serangan :

1. Nyeri Akut, yaitu nyeri yang dirasakan dalam waktu yang singkat dan

berakhir kurang dari enam bulan, sumber dan daerah nyeri diketahui

dengan jelas. Rasa nyeri mungkin sebagai akibat dari luka, seperti luka

operasi, ataupun pada suatu penyakit arteriosclerosis pada arteri

koroner.

2. Nyeri Kronis, yaitu nyeri yang dirasakan lebih dari enam bulan. Nyeri

kronis ini polanya beragam dan berlangsung berbulan-bulan bahkan

bertahun-tahun. Ragam pola tersebut ada yang nyeri timbul dengan

periode yang diselingi interval bebas dari nyeri lalu timbul kembali

lagi nyeri dan begitu seterusnya. Ada pula pola nyeri kronis yang

konstan, artinya rasa nyeri tersebut terasa makin lama semakin


10

meningkat intensitasnya walaupun telah diberikan pengobatan.

Misalnya, nyeri karena neoplasma.

III.3. Nyeri Punggang Bawah

III.3.1 Anatomi dan Fisiologi Punggung Bawah

Gambar III.3.1 Anatomi Tulang Belakang

Sumber : Koosnadi, dkk.Akupunktur Indonesia.Anatomi Manusia.AAS.

Tulang vertebra merupakan struktur komplek yang secara garis besar

terbagi atas 2 bagian. Bagian anterior tersusun atas korpus vertebra, diskus

intervertebralis (sebagai artikulasi), dan ditopang oleh ligamnetum longitudinale

anterior dan posterior. Sedangkan bagian posterior tersusun atas predikel, lamina,

kanalis vertebralis, serta prosesus tranversus dan spinosus yang menjadi tempat

otot penyokong dan pelindung kolumna vertebrale. (Singh V, 2009)


11

Bagian posterior vertebra antara satu dan lain dihubungkan dengan sendi apofisial.

Secara anatomi daerah tulang belakang L-1 sampai seluruh tulang sakrum dan

otot-otot sekitarnya. Beban yang ditanggung oleh tulang belakang (Lumbal)

antara L-5 sampai S-1 atau L-4 dan L-5 sebagai titik tumpuan. Diskus

intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah tua (Singh

V, 2009)

III.3.2. Definisi Low Back Pain

Nyeri pinggang bawah adalah perasaan nyeri di daerah lumbal sakral dan

sakroiliakal, nyeri pinggang bawah sering disertai penjalaran ke tungkai sampai

kaki. Nyeri yang dirasakan di daerah pinggang bawah dapat merupakan nyeri

lokal maupun radikuler atau keduanya, nyeri ini akan terasa diantara sudut rusuk

terbawah (torakal XII) dan lipat gluteal disertai dengan penjalaran nyeri ke arah

tungkai dan kaki. (Harsono, 2000).

Nyeri pinggang bawah adalah suatu simptomatik yang gejala klinis

dirasakan adalah rasa nyeri diantara iga ke-12 dan lipat gluteal atau nyeri di

pinggung bawah dan pandangan psikiatrik adalah salah satu perwujudan sindroma

dengan berbagai sebutan misalnya somatisasi, somatoform, perilaku sakit

abnormal, gejala yang secara medis tak dapat di jelaskan atau gejala fungsional.

(Sidharta, 1983)

III.3.3 Patofisiologi Nyeri Pinggang Bawah

Tulang belakang merupakan struktur yang kompleks, dibagi ke dalam

bagian anterior dan bagian posterior. Bentuknya terdiri dari serangkaian badan

silindris vertebra, yang terartikulasi oleh diskus intervetebral dan di ikat

bersamaan oleh ligamen longitudinal anterior dan posterior. Semua bangunan


12

tersebut mengandung nosiseptor yang peka terhadap berbagai stimulus

(mekanikal, termal, kimiawi). Bila reseptor dirangsang oleh berbagai stimulus

lokal, akan dijawab dengan pengeluaran berbagai mediator inflamasi dan

substansi lainnya, yang menyebabkan timbulnya persepsi nyeri, hiperalgesia

maupun alodinia yang bertujuan mencegah pergerakan untuk memungkinkan

perlangsungan proses penyembuhan. (Singh V, 2009)

III.3.4. Faktor Penyebab Nyeri Pinggang Bawah

Menurut Sidharta, (1983) ada 9 penyebab keluhan nyeri pinggang, yaitu :

1. Nyeri pinggang disebabkan oleh Trauma, yang dapat dibagi dalam :

a. Nyeri pinggang bawah akibat trauma pada unsur miofasial

b. Nyeri pinggang bawah akibat trauma pada komponen keras susunan

neuromuskuloskeletal

2. Nyeri pinggang bawah akibat proses degeneratif, yang mencakup :

a. Spondilosis

b. HNP

c. Stenosis spinalis

d. Osteoartritis

3. Nyeri pinggang bawah akibat penyakit inflamasi, yaitu :

a. Artritis rematoid

b. Spondilitis angkilopoetika

4. Nyeri pinggang bawah akibat gangguan metabolisme atau nyeri pinggang

osteoporotik

5. Nyeri pinggang bawah akibat neoplasma

6. Sakit pinggang akibat kelainan kongenital


13

7. Sakit pinggang sebagai referred pain

8. Nyeri pinggang bawah akibat gangguan sirkulatorik

9. Nyeri pinggang karena psikoneurotik

III.3.5. Manifestasi Klinis

Secara praktis manifestasi klinis diambil dari pembagian berdasarkan sistem

anatomi (Harsono, 2000)

1. LBP Viscerogenik

Tipe ini sering nyerinya tidak bertambah berat dengan adanya aktivitas maupun

istirahat. Umumnya disertai gejala spesifik dari organ viseralnya. Lebih sering

disebabkan oleh faktor ginekologik, kadang-kadang didapatkan spasme otot

paravertebralis dan perubahan sudut ferguson pada pemriksaan radiologik, nyeri

ini disebut juga nyeri pinggang akibat referred pain.

2. LBP Vaskulogenik

Tahap awal nyerinya hanya sakit pinggang saja yang dirasakan, nyeri bersifat

nyeri pinggang dalam, nyeri sering menjalar ke bokong, belakang paha, dan kedua

tungkai, nyeri sering menjalar ke bokong, belakang paha dan kedua tungkai.nyeri

tidak timbul karena adanya stress spesifik pada kolumna vertebralis

(membungkuk, batuk dan lain-lain).

3. LBP Neurogenik

Nyeri sangat hebat, bersifat menetap, sedikit berkurang pada saat beridiri tenang,

terutama dirasakan pada malam hari. Nyeri dapat dibangkitkan oleh aktivitas, dan

rasa nyeri akan berkurang saat penderita berbaring,sering di dapat kompresi akar

saraf, ditemukan juga spasme otot praravertebralis.


14

4. LBP Spondilogenik

Yang sering ditemukan adalah :

a. HNP : Nyeri disertai iskialgia, dirasakan sebagai nyeri pinggang,

menjalar ke bokong, paha belakang tumit sampai telapak kaki.

b. Miofasial : Nyeri akibat trauma pada otot fasia atau ligamen, keluhan

berupa nyeri daerah pinggang, kurang dapat dilokasikan dengan tepat,

timbul mendadak waktu melakukan gerakan yang melampaui batas

kemampuan ototnya.

c. Keganasan : tumor ganas pada daerah vertebrae dapat bersifat primer

atau sekunder. Pada foto rontgen terlihat adanya destruksi,

pemeriksaan laboratorium terlihat adanya peningkatan alkali fostase.

d. Osteoporotik : terjadi pada lansia terutama wanita, nyeri bersifat pegal

atau nyeri radikuler karena adanya fraktur kompresi sebagai

komplikasi osteoporosis tulang belakang.

5. LBP Psikogenik

keluhan nyeri hebat tidak seimbang dengan kelainan organik yang ditemukan,

penderita memilih suatu mekanisme pembelaan terhadap ancaman rasa amannya

dengan menghindarkan diri bila tidak melakukan hal tertentu. Keadaan ini

menyebabkan otot-otot dalam keadaan tegang sehingga meningkatkan spasme

otot dan timbul rasa nyeri.


15

III.3.6. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Harsono, (2000) ada 4 pemeriksaan fisik, sebagai berikut:

1. Observasi : amati cara berjalan penderita pada waktu masuk ruangan

pemeriksaan, juga cara duduk disukainya. Bila berbincang, diseret, kaku

(merupakan indikasi untuk pemeriksaan neurologis) amati juga apakah

perilaku penderita konsisten dengan keluhan nyerinya (kemungkinan

kelebihan psikiatrik)

2. Inspeksi : untuk kolumna vertebralis (lumbal dan lumbopsakral) berikut

deformitasnya, serta gerakan tulang belakang, seperti fleksi ke depan,

ekstensi ke belakang, fleksi ke lateral kanan dan kiri.

3. Nyeri yang timbul hampir pada semua pergerakan daerah lumbal sehingga

penderita berjalan sangat hati-hati.

4. Palpasi : apakah terdapat nyeri tekan pada tulang belakang atau pada otot-

otot di samping tulang belakang? Apakah tekanan dari di antara dua

prosessus spinosus menimbulkan rasa nyeri?

III.3.7. Perawatan Low Back Pain di Rumah

a. Kompres panas atau dingin untuk membantu mengurangi rasa nyeri

selama 20 menit. Dapat dilakukan 2 sampai 3 kali dalam sehari.

b. Peregangan: Membantu mengurangi tekanan pada saraf. Lakukan

selama 30 detik.

c. Mengurangi rasa sakit dengan obat


16

III.3.11. Alat Ukur Oswestry Disability Index (ODI)

Menurut Fairbank (2000) Oswestry Disability Index (ODI) telah menjadi

salah satu pokok kondisi ukuran hasil tertentu yang digunakan dalam pengelolaan

gangguan tulang belakang pasien dengan cara-cara perhitungan yang telah

ditentukan.

Cara perhitungannya cukup tambahkan poin kuisoner yang ditulis pasien

untuk setiap bagian dan masukkan pada rumus berikut :

Rumus :

Total Nilai x 100 = ... %

50

Dengan tingkatan hasil :

0% - 20%  Minimal disability : Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari

tanpa terganggu oleh rasa nyeri

21% - 40%  Moderate disability : Pasien merasakan nyeri yang lebih dan mulai

kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti duduk, mengangkat

barang dan berdiri

41% - 60%  Severe disability : Nyeri terasa sepanjang waktu dan aktivitas

sehari-hari mulai terganggu karena rasa nyeri

61% - 80%  Crippledd : Nyeri yang timbul mengganggu seluruh aktivitas

sehari-hari

81% - 100%  Pasien sudah sangat tersiksa oleh nyeri yang timbul
17

III.4. Nyeri Punggung Bawah Secara Akupuntur

III.4.1. Definisi Akupuntur dan Teknik Akupuntur

Akupuntur adalah cara pengobatan dengan cara menusuk jarum dan berasal dari

kata Acus = jarum dan Puncture = tusuk dan dalam bahasa china disebut sebagai

Cen Jiu. Akupuntur sebagai salah satu pengobatan tertua dengan pencatatan di

China ±500 tahun yang lalu dalam buku Kaisar Kuning “The Yellow Emperor of

Internal Medicine” atau “Huang Ti Nei Ching”. Titik akupuntur adalah titik pada

permukaan tubuh yang dapat ditusuk dengan jarum akupuntur atau di hangati

dengan moksa, serta dapat menimbulkan keseimbangan Yin Yang dalam tubuh.

(Saputra, 2005)

Teknik rencana terapi akupuntur menurut Saputra, (2005) yaitu penetapan alat

terapi yang digunakan (jarum, moksa, jarum dan moksa), pemilihan titik-titik

akupuntur, penetapan teknik manipulasi, penetapan seri dan frekuensi terapi, dan

pengaturan tindakan pencegahan.

III.4.2. Etiologi Menurut Akupuntur

Menurut pandangan ilmu akupuntur, nyeri pinggang bawah termasuk

dalam sindrom Bi. Sindrom Bi adalah suatu keadaan terjadinya obstruksi dan

stagnasi akibat dari tidak lancarnya sirkulasi Qi dan Xue. Sindrom Bi ditandai

dengan gejala berupa adanya nyeri otot, kekakuan otot, pembengkakan, adanya

deformitas yang menghambat pergerakan sehingga menimbulkan keterbatasan

gerak pada pasien. (Gongwang, 1996)


18

III.4.3. Pengertian Titik Akupuntur

Titik Akupuntur merupakan suatu area yang spesifik, dimana Qi dari organ

Zang Fu ditransformasikan oleh meridian ke permukaan tubuh, sehingga terapi

akupuntur, moksibusi dan terapi lain diterima tubuh melalui eksternal stimulasi.

Titik akupuntur terletak sepanjang meridian. Titik akupuntur mempunyai

hubungan yang erat dengan meridian dan kolateral, sehingga titik akupuntur tidak

terletak di permukaan saja, tetapi berhubungan satu sama lainnya dan berfungsi

menghubungkan jaringan organ dalam dengan organ lainnya. (Saputra, 2005)

III.4.4. Titik Akupuntur

Titik Akupuntur yang di gunakan untuk penelitian BL 20 (Pishu), BL 23

(Shenshu), BL 40 (Weizhong) dan BL 58 (Feiyang)

III.4.4. Titik Akupuntur BL 20 (Pishu)

Sumber : Ogal, Hans P, 1999.The Seirin Pictorial Atlas Of Acupuncture.


19

III.4.4. Titik Akupuntur BL 23 (Shenshu)

Sumber : Ogal, Hans P, 1999.The Seirin Pictorial Atlas Of Acupuncture.

III.4.4. Titik Akupuntur BL 40 (Weizhong)

Sumber : Ogal, Hans P, 1999.The Seirin Pictorial Atlas Of Acupuncture.


20

III.4.4. Titik Akupuntur BL 58 (Feiyang)

Sumber : Ogal, Hans P, 1999.The Seirin Pictorial Atlas Of Acupuncture.

III.4.5. Regio Pinggang Dalam Pandangan Akupuntur

Dalam akupuntur berlaku hukum dengan pendekatan holistik yang

menyatakan bahwa suatu organ atau regio tubuh saling berpengaruh terhadadap

sistem lain dan bahwa suatu organ atau regio tubuh saling berpengaruh terhadap

sistem lain dan dalam hal ini dihubungkan oleh saluran energi yang disebut

meridian. Regio pinggang dilampaui oleh banyak meridian yang berasal dari

ekstremitas inferior dan ditempati oleh beberapa organ, terutama ginjal sebagai

LBP diartikan dengan kelainan energi organ ginjal atau kelainan meridian yang

melampaui daerah tersebut, yaitu kandung kencing. (Saputra, 2005)


21

III.4.6. Mekanisme Akupuntur Analgesia pada LBP

Fenomena analgesia pada akupuntur dapat di jelaskan baik dari mekanisme neural

maupun non neural dan setiap mekanisme tergantung pada tipe stimulus dan

lokasi rangsangan. Salah satu fenomena analgesia Akupuntur tipe neural adalah

akupuntur segmental yang berhubungan dengan segmen spinal dimana pada

penelitian efek tidak hilang oleh pemberian naloxone. Analgesia akupuntur pada

daerah pinggang adalah tipe segmental, oleh karenanya dilakukan langsung pada

setinggi segmental dan memanfaatkan meridian kandung kencing yang sejajar

dengan garis meridian tepat pada otot para spinal dorsalis dan terletak pada

vertebra lumbalis. (Saputra, 2005)

III.4.7. Nyeri Pinggang Bawah Dari Sudut Akupuntur

Dalam pandangan ilmu akupuntur nyeri pinggang bawah sangat erat di

hubungkan dengan kelainan pada ginjal yang terletak pada lumbal atau tempat

melekatnya ginjal, sehingga apabila ada kelainan pada ginjal maka sebagai

gejalanya adalah nyeri pada daerah lumbal. Faktor yang menyebabkan terjadinya

nyeri punggung bawah menurut ilmu akupuntur : serangan PPL (penyebab

penyakit luar) dingin dan lembab, defisiensi qi ginjal, dan faktor trauma. (Cheng,

1987)

III.4.8. Etiologi dan Pathogenesis

Sindrom Bi adalah suatu keadaan obstruksi atau terganggunya sirkulasi qi dan

xue. Sindrom Bi ditandai oleh nyeri sendi yang biasanya nyeri otot,

pembengkakan, deformitas atau perubahan bentuk sendi yang mengakibatkan

terbatasnya pergerakan. (Cheng, 1987)

a) Serangan oleh PPL (penyebab penyakit luar) dingin dan lembab


22

Nyeri pinggang bawah terjadi karena obstruksi dari sirkulasi qi di dalam meridian

dan colateral. Faktor yang mempercepat obtruksi dari sirkulasi qi adalah adanya

dingin dan lembab, yang bisa terjadi oleh karena terlalu lama terpapar oleh hujan,

berendam dalam air terlalu lama, dan lembab yang disebabkan oleh pengeluaran

keringat dalam jangka yang cukup lama. (Cheng, 1987)

b) Defisiensi Qi ginjal

Nyeri pinggang bawah biasanya disebabkan karena aktivitas seksual yang

berlebihan sehingga mengkonsumsi essence dan qi dan berakibat kurangnya

nutrisi pada meridian di daerah lumbal. (Cheng, 1987)

c) Trauma

Trauma dapat mengakibatkan terganggunya qi dan xue pada meridian dan

kolateral, yang mengacu pada stagnasi qi dan xue dan menyebabkan nyeri

pinggang bawah (Cheng, 1987).

III.4.9. Diferensiasi Sindrom

Ada 3 difisiensi sindrom untuk nyeri pinggang bawah (Cheng, 1987) yaitu :

a) Dingin lembab

Gejala utama : nyeri pinggang bawah biasanya terjadi setelah terpapar angin

dingin dan lembab yang mengakibatkan : rasa berat dan kekakuan pada otot

daerah lumbar sehingga gerak flexi dan extensi jadi terbatas, rasa nyeri yang

menjalar ke pantat dan lengket, nadi lemah dan dalam atau lambat dan dalam.

Analisis : faktor pathogen dingin dan lembab mempunyai karakteristik

kental dan menyebabkan stagnasi sehingga menghambat aliran qi dan xue di

meridian dan collateral yang mengakibatkan rasa berat , perasaan dingin, nyeri

pada daerah lumbar, dan keterbatasan gerak extensi dan flexi tulang belakang.
23

Stagnasi qi dan xue akan menjadi lebih buruk dimusim hujan dan rasa nyeri akan

bertambah sakit. Akumulasi dari dingin dan lembab akan menunjukkan pada

keadaan selaput lidah putih dan lengket, nadi lemah, dan dalam atau lambat dan

dalam.

b) Defisiensi qi Ginjal

Gejala utama : pada keadaan yang serius dapat menyebabkan rasa nyeri dan rasa

sakit yang berkepanjangan disertai kelemahan pada pinggang bawah dan lutut.

Defisiensi Yang qi ginjal menyebabkan rasa seperti kejang pada otot pinggang

bawah, wajah terlihat pucat, extrimitas yang terasa dingin, lidah pucat, nadi dalam

dan thready atau dalam dan pelan. Kasus defisiensi Yin ginjal dapat

menimbulkan : mudah marah atau perasaan sensitive, gangguan tidur,

tenggorokan dan mulut kering, rasa demam di daerah dada, telapak tangan dan

kaki, lidah merah dengan selaput tebal, nadi thready dan lemah atau thready dan

cepat.

Analisis : peranan ginjal adalah menguasai tulang, menghasilkan sumsum tulang,

dan mensuplai essense. Pada saat essense ginjal tidak mencukupi maka yang

terjadi adalah tulang kekurangan sumsum tulang yang mengakibatkan rasa sakit

dan nyeri pada daerah lumbar serta kelemahan pada lutut. Rasa nyeri dapat

berkurang jika beristirahat yang cukup, pada keadaan Defisiensi Yang qi ginjal,

ginjal gagal dalam fungsinya untuk menghangatkan perut bagian bawah dan

extremitas bawah maka akan menimbulkan rasa kram atau tegang pada otot

pinggang bawah dan ekxtremitas terasa dingin. Definisi Yang menyebabkan

wajah terlihat pucat, lidah pucat, nadi dalam dan theady atau dalam dan pelan.

Sedangkan Defisiensi Yin menyebabkan air dari ginjal tidak bisa naik keatas untuk
24

mengurangi panas dari api jantung yang mengakibatkan kepekaan rasa atau

mudah marah dan gangguan tidur. Defisiensi Yin menyebabkan panas dalam tubuh

berlebihan dan tidak terkontrol dan ditandai dengan rasa berdebar atau demam

daerah dada, panas ditelapak tangan da dan telapak kaki, mulut dan tenggorokan

terasa kering, lidah merag dengan selaput tipis, nadi theady dan cepat.

c) Trauma

Trauma yang dimaksud adalah trauma oleh kesalahan sikap saat bekerja. Gejala

utama : kekakuan dan nyeri pada pinggang bawah biasanya dirasakan pada daerah

tertentu dan bertambah parah oleh tekanan dan putaran tubuh. Gejala ini ditandai

lidah berwarna merah muda atau ada warna keunguan yang menandai stagnasi,

nadi yang kencang seperti senar.

Analisis : ketegangan atau kekakuan otot yang di akibatkan oleh trauma pada

daerah lumbar menyebabkan tidak lancarnya aliran qi dan xue dan berkelanjutan

kearah stagnasi daerah darah pada meridian dan collateral yang mengakibatkan

rasa nyeri bertambah parah oleh penekanan. Nadi kencang seperti senar

menandakan adanya nyeri,warna kebiruan pada otot lidah menandakan adanya

stagnasi darah.

III.4.10. Penjelasan Titik Akupuntur dan Akupuntur Ditambah Moksa Yang

Digunakan Untuk Terap Nyeri Pinggang Bawah.

Shenshu (BL23) digunakan untuk membangkitkan atau menguatkan qi

ginjal, sedangkan Pishu (BL20) merupakan titik yang berfungsi untuk menguatkan

qi limpa. Limpa adalah organ yang menguasai otot dan berfungsi untuk trasportasi

yang memberikan nutrisi keseluruh organ. Weizhong (BL40) merupakan titik jauh

yang penting dan titik dominan daerah pinggang bawah. Feiyang (BL58) adalah
25

titik lou meridian BL yang berfungsi menyeimbangkan aliran qi antar meridian

berpasangan. Kombinasi titik-titik tersebut bekerja secara simultan. Akibatnya,

otot-otot daerah pinggang bawah menjadi rileks sekaligus dapat memperlancar

peredaran darah. (Cheng, 1987)

Nyeri pinggang bawah yang disebabkan oleh faktor lembab dingin,

penggunaan moksa sebagai kombinasi pada Shenshu (BL23) dan Yaoyangquan

(DU3) bertujuan untuk mengusir faktor lembab dingin. Pemberian moksa

dilakukan sepanjang meridian DU dan BL yang bertujuan untuk memperlancarkan

qi meridian tersebut. Titik Dazhangshu (BL25) dan Guanyuanshu (BL26) juga

berfungsi untuk mengusir dingin lembab, menghilangkan obstruksi pada meridian,

dan mengurangi nyeri.

(Dharmojono, 1999)

Titik Mingmen (DU4) dan Yaoyan (Ekstra) dipakai untuk menguatkan

Yang ginjal. Zhishi (BL52) dan Taixi (KI3) diambil tujuan memperkuat Yin ginjal.

Titik Renzhong (DU26) merupakan titik jauh yang relatif untuk mengatasi

kekakuan dan nyeri pada daerah lumbar. Titik Yaotongxue (Extra) merupakan titik

pengalaman yang digunakan untuk trauma atau keseleo pada daerah lumbar. Titik

Pishu (BL20) berfungsi untuk menguatkan qi limpa, limpa adalah organ yang

menguasai otot dan memberikan nutrisi keseluruh organ dan jaringan sedangkan

titik Chengsan (BL57) digunakan untuk kasus spasme otot gastrocnemius dan

nyeri pinggang bagian bawah. (Dharmojono, 1999)


26

III.5.Tujuan Terapi Akupuntur Untuk Low Back Pain

Menurut Saputra, (2005) ada 3 Tujuan Terapi Akupuntur pada nyeri punggung

bawah, yaitu :

1. Akupuntur untuk tujuan terapi nyeri pinggang bawah dapat dimanfaatkan

bersama terapi fisik lain untuk meningkatkan kualitas hidup penderita

2. Pemanfaatan akupuntur untuk terapi nyeri pinggang bawah harus

diperhatikan kontra indikasi terutama pada penderita usia lanjut yang

menggunakan pace maker dan gangguan irama jantung.

3. Akupuntur untuk terapi nyeri pinggang bawah dimanfaatkan untuk

penyebab anatomis yang tidak jelas, atau sebagai terapi nyeri sebelum

terapi pembedahan dilakukan.

III.6. Moksa (Moksibution)

Moksibusi adalah cara pengobatan tradisional yang menggunakan moksa (MoE-

Kuasa = ramuan daun-daunan yang dibakar), dari bahan daun Ay atau Arthemesia

Vulgaris, yang dibakar diatas titik-titik akupuntur tertentu. Pemanasan ini atau

panas yang ditimbulkan terletak titik akupuntur yang dituju, yang kemudian akan

disalurkan melalui meridian yang bersangkutan sehingga diharapkan akan

menimbulkan reaksi pengobatan dan pencegahan penyakit yang direncanakan.

(Saputra dkk, 2005)

Terapi dengan Moksibusi atau dikenal pula dengan istilah Thermogenotherapy,

yang berarti terapi dengan mempergunakan Panas, ialah cara pengobatan

tradisional suatu penyakit dengan membakar semacam ramuan yangdisebut “wol-

moksa” untuk menghasilkan panas pada titik-titik akupuntur atau lokasi-lokasi

tertentudi tubuh manusia. (Calehr, 1993)


27

Moksibusi memperlakukan penyakit dengan menerapkan poin atau lokasi tertentu

dari tubuh manusia. Bahan yang digunakan adalah terutama "moksa wol" dalam

bentuk kerucut atau stick. Selama berabad-abad, moksa dan akupunktur telah

digabungkan dalam praktek klinis. "Sebuah penyakit yang mungkin tidak

diperlakukan oleh akupunktur dapat diobati dengan moksa". (Calehr, 1993)

III.6. 1. Tujuan Moksa

Menurut Saputra, (2005) ada 4 Tujuan pada moksa yaitu, sebagai berikut :

1. Menghangati Qi Xue supaya lancar

2. Mengusir penyebab penyakit dingin

3. Menghangatkan Yang

4. Menambah kekuatan Yang

III.6. 2. Teknik Moksibusi

Menurut Saputra, (2005) ada 2 Teknik Moksibusi yaitu Teknik moksibusi yang

dimaksudkan untuk mendapatkan efek Pu yaitu api dibiarkan mati sendiri,

kemudian titik akupuntur yang dimaksud ditekan dan efek Sie yaitu api

merangsang tidak kontiyu dengan cara moksa di tiup-tiup atau diangkat naik turun

dan titik akupuntur dibiarkan saja dan jangan ditekan.

III.6. 3. Macam-Macam Moksa

Menurut Saputra, (2005) ada 2 Macam Moksa, yaitu :

a. Bentuk Kerucut, moksa bentuk kerucut dapat digunakan untuk

moksibusi cara langsung dan cara tak langsung.

b. Moksibusi Moksa Silinder, moksa bentuk silinder dapat digunakan

untuk moksibusi cara langsung cara mematuk, cara rotasi dan cara

jarum panas.
28

Gambar. III.6.3. Moksa Kerucut

(Cheng Xinnong 1987)

Gambar. III. 6.3. Moksibusi Moksa Silinder

Sumber : Kosnadi, dkk (2005).Akupunktur Indonesia.

III.6. 4. Moksibusi Moksa Kerucut

Menurut Saputra, (2005) ada 2 Cara menggunakan Moksa, yaitu :

1. Cara Langsung

Untuk melakukan cara ini, daerah yang akan dimoksa terlebih dahulu diolesi

degan parafin
29

Gambar.III.6.4.1. Moksa Langsung

Sumber : Cheng Xinnong, 1987.Chinese Acupuncture and Moxibustion.

a. Cara tidak menghilangkan bekas. Setelah titik akupuntur diolesi

dengan parafin, kerucut diletakkan di atasnya, lalu dibakar. Setelah

terasa panas yang menyengat, moksa di angkat dengan capit dan bila

perlu diganti moksa baru.

b. Cara meninggalkan bekas. Setelah titik akupuntur diolesi dengan

parafin , kercut di letakkan di atasnya lalu dibakar. Walaupun telah

terasa panas yang menyengat, moksa dibiarkan terbakar terus sampai

habis.

2. Cara Tidak Langsung

Cara ini dilakukan dengan memberikan penyekat antara kerucut moksa

dan kulit. Penyekat dapat berupa selapis garam dapur atau se iris jahe

setebal beberapa milimeter dilakukan pada Sen Cie (umbilikus). Moksa

kerucut diletakkan diatas penyekat lalu dibakar. Moksa kerucut diletakkan

diatas penyengat, lalu dibakar.


30

Gambar. III.6. 4.2. Moksa Tidak Langsung

Sumber : Cheng Xinnong, 1987.Chinese Acupuncture and Moxibustion.

III.6. 5. Moksibusi Dengan Jarum

Moksa yang dipotong dilakukan pada jarum yang dipanaskan dengan

menggunakan moksa yang ditancapkan pada ganggang jarum lalu moksa di bakar.

Sebelum jarum di tancapkan dalam satu titik, moksa potong di tancapkan pada

ganggang jarum sehingga menyebabkan sensasi panas di sekitar titik. Metode

fungsi ini untuk menghangatkan meridian dan aliran bebas dari qi dan darah

sehingga dapat mengobati nyeri sendi yang disebabkan oleh dingin basah, mati

rasa dengan sensasi dingin dan kelumpuhan. (Cheng, 1987)


31

Gambar. III.6. 5. Moksa dengan Jarum

Sumber : Cheng Xinnong, 1987.Chinese Acupuncture and Moxibustion.

III.6.6. Penerapan Moksa (Moksibusi)

Menurut Cheng (1987), ada beberapa penerapan moksibusi, yaitu:

1. Proses dan volume untuk moksibusi

"Moksibusi umumnya diterapkan untuk bagian Yang pertama, bagian Yin; klinis

itu diterapkan untuk bagian atas pertama dan bagian bawah ". Perlakukan ini

dilakukan pada daerah perut, seluruh tubuh dan empat ekstremitas kedua. Tetapi

urutan harus diberikan sesuai dengan kondisi patologis.

Volume untuk moksibusi, termasuk ukuran moksa kerucut atau durasi aplikasi

moksa batang harus sejajar dengan pasien kondisi patologis, konstitusi umum,

usia dan tempat di mana moksibusi diterapkan. Umumnya, 3-7 moksa digunakan

untuk setiap titik, dan 10-15 menit dari moksa stick.

1) Kontra indikasi

1. Excesss syndrome sindrom panas (termasuk demam tinggi, pilek atau panas

karena kekurangan yin) tidak diperbolehkan untuk dirawat oleh moksibusi. Hal ini

dinyatakan dalam risalah tentang penyakit demam bahwa "pasien dengan denyut

nadi lemah dan cepat tidak di perbolehkan diobati dengan moksa, dampak dapat
32

menghasilkan internal yang kuat", yang menunjukkan bahwa moxibustion dapat

membawa hasil yang buruk.

2. Jaringan parut moksibusi tidak harus diterapkan disekitar wajah dan kepala, dan

daerah di sekitar pembuluh darah besar. Ada titik-titik tertentu yang dianjurkan

untuk akupunktur, tetapi tidak cocok untuk moksibusi, karena kebanyakan dari

mereka yang dekat dengan organ vital atau arteri.

3. daerah perut dan daerah lumbosakral dari wanita hamil tidak diperbolehkan

untuk menggunakan moxibustion.


BAB IV

KERANGKA KONSEP

IV.1. Kerangka Konseptual

Faktor penyebab secara

konvensional : Pengobatan nyeri pinggang bawah

1. Traumatik menggunakan :

2. Degeneratif Fisioterapi

3. Inflamasi Obat Nyeri

4. Gangguan Metabolisme Herbal

5. Neoplasma Akupuntur

6. Kongenital
Moksa
7. Referred Pain

8. Gangguan Sirkulatorik

9. Psikoneurotik Nyeri pinggang Kualitas Hidup

bawah
Faktor penyebab menurut ilmu

akupuntur :

1. Dingin dan lembab

2. Defisiensi ginjal

3. Trauma

4.

Keterangan :

_ _ _ _ _ _ _ _ : Tidak diteliti

____________ : Diteliti

33
34

Faktor penyebab nyeri pinggang bawah secara konvensional adalah

Traumatik, Degeneratif , Inflamasi, Gangguan Metabolisme, Neoplasma,

Kongenital, Referred Pain, Gangguan Sirkulatorik, dan Psikoneurotik.

Faktor penyebab menurut ilmu akupuntur adalah Dingin dan lembab,

Defisiensi ginjal, dan Trauma. Dengan penelitian ini yang akan diteliti

adalah penggunaan akupuntur ditambah moksa pada titik BL23 Shenshu,

BL20 Pishu, BL40 Weizhong, dan BL58 Feiyang, dimana subjek

penelitian diberi stimulasi akupuntur dan moksa untuk mempengaruhi

nyeri pinggang bawah dan pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup.


BAB V

METODE PENELITIAN

V.1 Jenis dan Desain Penelitian

Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah Eksperimental Semu dengan

menggunakan model Non Randomized Pre Post Tes Control Group Design.

Rancangan ini menggunakan dua kelompok subjek, dimana pada dua kelompok

tersebut akan dilakukan pengukuran sebelum dan sesudah terapi yang kemudian

akan dibandingkan.

V.2. Populasi

Populasi penelitian adalah keseluruhan subyek penelitian.

Penelitian mengambil populasi penelitian dari seluruh penderita nyeri pinggang

bawah yang berobat di Puskesmas Krembangan Jl. Pesapen Selatan No.70,

Surabaya.

V.3. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi yang akan diteliti. Sampel penelitian ini terdiri dari 10 orang dibagi

dalam 2 kelompok yaitu 5 orang untuk terapi akupuntur dan 5 orang untuk

pemberian moksa.

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling.

Sampel diambil secara langsung dengan memperhatikan kriteria inklusi dan

ekslusi.

35
36

Berikut ini kriteria inklusi dalam penelitian ini, sebagai berikut :

1. Responden laki-laki dan perempuan penderita nyeri pinggang bawah

dengan menggunakan ODI (Oswestry Disability Index)

2. Responden berumur 60 - 75 tahun

3. Responden mampu berkomunikasi dengan baik untuk dapat dilakukan

wawancara atau menjawab kuesioner

4. Responden memberikan ijin untuk bersedia di teliti dan di terapi

(bersedia menandatangani Informed Concent)

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini, adalah :

1. Responden yang tidak mampu mendengar atau tuli dan bisu sehingga

tidak mampu di ajak untuk komunikasi dengan baik

2. Responden yang mengalami gangguan jiwa

3. Responden yang tidak memberikan ijin dan tidak bersedia untuk

diteliti

V.4. Lokasi dan Waktu Penelitian

V.4.1. Lokasi

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Krambangan Selatan, Jl. Pesapen Selatan

No.70 Surabaya.
37

V.4.2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan September 2016 sampai

Agustus 2017.

Tabel V.I. Jadwal Penelitian

No Kegiatan Sep Okt Nop Des Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Ags

2016 2016 2016 2016 2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017 2017
1 Pembuatan

Proposal
2 Konsultasi
3 Pengumpulan

Data
4 Pengolahan

Data
5 Ujian

V.5 Variabel Penelitian

Variabel pada penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah akupuntur tubuh dan akupuntur

ditambah moksa pada titik BL23 Shenshu, BL20 Pishu, BL40 Weizhong, dan

BL58 Feiyang.

2. Variabel Tergantung

Variabel tergantung dalam penelitian ini adalah kualitas disabilitas pada lansia

yang menderita nyeri pinggang bawah.

V.5.1.1 Hubungan Variabel

Variabel Independent Variabel Dependent


Akupuntur tubuh dan pemberian Penurunan kualitas nyeri

moksa pada titik BL23 pada lansia yang menderita

Shenshu, BL20 Pishu, BL40 nyeri pinggang bawah

Weizhong, dan BL58 Feiyang


38

Variabel Intervening

Penggunaan Obat dan

Aktivitas Fisik

Gambar V.1 Hubungan Variabel

V.5.2. Definisi Operasional Variabel

Tabel V.3. Definisi Operasional Variabel


39

Variabel Definisi Alat ukur Kriteria Skala

Operasional
Usia Usia terhitung dari KTP 60-65 tahun Interval

tanggal lahir 66-70 tahun

sampai saat 71-75 tahun

melakukan terapi

(dalam tahunan)
Jenis Kelamin Jenis kelamin KTP Laki-Laki Nominal

penderita nyeri Perempuan

pinggang bawah

yang

memanfaatkan

terapi akupuntur
Pekerjaan Jenis pekerjaan KTP Ibu Rumah Tangga, Nominal

penderita nyeri Tidak Bekerja,

pinggang bawah Wiraswasta, dan

yang Lain-lain

memanfaatkan

terapi akupuntur

Variabel Definisi Cara Kriteria Skala

Operasional Pengukuran
Kunjungan Banyaknya Data Primer 1-5 Ordinal
40

Terapi kunjungan 6-8

penderita nyeri

pinggang bawah
Kualitas Perbaikan kualitas Data Primer 0% - 20%  Minimal Ordinal

Hidup hidup disability : Pasien

(pengurangan dapat melakukan

nyeri) setelah aktivitas sehari-hari

terapi akupuntur tanpa terganggu oleh

dan pemberian rasa nyeri

moksa 21% - 40% 

Moderate disability :

Pasien merasakan

nyeri yang lebih dan

mulai kesulitan dalam

melakukan aktivitas

sehari-hari seperti

duduk, mengangkat

barang dan berdiri

Variabel Devinisi Alat ukur Kriteria Skala

Operasional
Kualitas Perbaikan kualitas Data Primer 41% - 60%  Severe Ordinal

Hidup hidup disability : Nyeri

(pengurangan terasa sepanjang

nyeri) setelah waktu dan aktivitas

terapi akupuntur sehari-hari mulai


41

dan pemberian terganggu karena rasa

moksa nyeri

61% - 80% 

Crippledd : Nyeri

yang timbul

mengganggu seluruh

aktivitas sehari-hari

81% - 100%  pasien

sudah sangat tersiksa

oleh nyeri yang

timbul.

V.6 Metode Pengumpulan Data Primer

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini

adalah pengumpulan data primer yang didapat dengan metode observasi

berdasarkan informasi yang didapat dengan bertanya langsung kepada responden

dan informasi langsung dengan menggunakan Oswestry Disability Index sebagai

alat pengumpulan data.

V.7 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan data dalam penelitian dapat

dilakukan dengan cara mengisi kuesioner pemeriksaan untuk menderita nyeri


42

pinggang bawah dan melakukan observasi responden penelitian. Kuesioner

digunakan untuk mengumpulan data lansia menderita nyeri pinggang bawah,

sedangkan observasi digunakan untuk mengamati pengaruh terapi akupunktur

ditambah moksa.Pengisian kuisioner dilakukan sendiri oleh responden dan di

bantu oleh terapis jika pasien mengalami kesulitan dalam pengisian kuisioner.

V.8. Kerangka Kerja

Pengambilan Data Awal Lansia

Penderita Nyeri Pinggang Bawah di

Puskesmas Krembangan Surabaya

Pengambilan Data sesuai kriteria

inklusi

Informed Consent

Pengisian Kuisioner dan Penilaian Skala


Hasil Evaluasi
Perbandingan dan
Nyeri sebelum di lakukan Terapi
Setelah Terapi ke 8
Kesimpulan
Evaluasi
Tindakan
Tindakan
Evaluasi setelah
Akupuntur
setelah 5xterapi
Akupuntur
8x terapi
6-8
1-5 Evaluasi
Tindakan
Evaluasi
Tindakan setelah
Moksa5x
setelah
Moksa terapi
1-5
8x
6-8 terapi
43

Gambar V.8. Kerangka Kerja

Keterangan :

1. Pengambilan data awal lansia Nyeri Pinggang Bawah di Puskesmas

Krembangan Surabaya

2. Pengambilan data pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi

3. Mengisi kuisioner yang sesuai dengan jawaban responden dan langsung

melakukan pengukuran tingkat nyeri sebelum dilakukan terapi akupuntur

dengan pemberian moksa


44

4. Setelah memilih sampel, maka responden akan diminta untuk

mendatangani Informed Consent atau persetujuan untuk dilakukan

tindakan akupuntur dan pemberian moksa

5. Setelah persetujuan, 5 Responden akan dilakukan tindakan akupuntur

ditambah moksa sate pada titik BL 20 Pishu, BL23 Shenshu, BL40

Weizhong, BL58 Feiyang dengan menggunakan jarum akupuntur 1½ cun.

Penusukan dilakukan pada kedua kaki sisi kanan dan sisi kiri dan

pinggang bawah sedangkan Pemberian moksa sate berukuran 1 cm

diberikan pada setiap titik yang digunakan selama 5 menit. Jadwal terapi

dua kali selama seminggu selama delapan kali terapi.

6. Pasien akan dievaluasi hasilnya setiap lima kali tindakan terapi. Evaluasi

dilakukan sebanyak dua kali untuk membandingkan perbedaan hasil

keduannya dan melakukan kesimpulan.

7. 5 Responden akan dilakukan tindakan akupuntur tubuh penusukan pada

titik BL 20 Pishu, BL23 Shenshu, BL40 Weizhong, BL58 Feiyang,

menggunakan jarum 1½ cun, sudut jarum tegak lurus terapi akupuntur

dilakukan selama 20 menit Jadwal terapi dua kali dalam seminggu selama

delapan kali terapi, manipulasi yang dilakukan Tonifikasi (penguatan).

8. Tindakan terapi akupuntur 1-5 pada titik BL 20 Pishu, BL23 Shenshu,

BL40 Weizhong, BL58 Feiyang kemudian akan dievaluasi setelah 5x

terapi akupuntur kemudian dibandingkan dengan tindakan terapi

Akupuntur ditambah Moksa pada titik BL 20 Pishu, BL23 Shenshu, BL40

Weizhong, BL58 Feiyang setelah itu dievaluasi setelah 5x tindakan terapi.

Setelah di bandingkan dengan keduanya akan di lihat perkembangan dari


45

hasil perbandingan terapi antara pemberian akupuntur dengan akupuntur

ditambah moksa.

9. Tindakan terapi akupuntur 6-8 pada titik BL 20 Pishu, BL23 Shenshu,

BL40 Weizhong, BL58 Feiyang kemudian dievaluasi setelah 3x tindakan

terapi akupuntur kemudian dibandingkan dengan tindakan terapi

Akupuntur ditambah Moksa pada titik BL 20 Pishu, BL23 Shenshu, Bl40

Weizhong, BL58 Feiyang kemudian akan dievaluasi setelah 3x tindakan

terapi. Setelah di bandingkan dengan keduanya akan di lihat

perkembangan dari hasil perbandingan terapi antara pemberian akupuntur

dengan akupuntur ditambah moksa.

10. Setelah semua selesai di bandingkan dari terapi ke 5 sampai terapi ke 8

maka akan membuat kesimpulan dari kedua perbandingan antara pengaruh

akupuntur dengan akupuntur ditambah moksa. Evaluasi dilakukan setelah

terapi ke 8 untuk membandingkan perbedaan hasil keduannya dan

melakukan kesimpulan.
BAB VI

HASIL PENELITIAN

VI.I. Gambaran Umum Subyek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di posyandu lansia di ruang lingkup program kerja

Puskesmas Krembangan Surabaya. Posyandu tersebut terdiri dari Posyandu

Alamanda, Posyandu Gesik, Posyandu Delima, Posyandu Kemuning, Posyandu

Gereja PNIEL, Posyandu Flamboyan, Posyandu Gemuyung, Posyandu TP PKK,

dan Posyandu Sedap Malam. Pengambilan data dilakukan di Posyandu

Flamboyan, Posyandu Gemuyung, Posyandu TP PKK, dan Posyandu Sedap

Malam. Populasi dalam penelitian ini seluruhnya adalah penderita LBP (Nyeri

Pinggang Bawah) sebanyak 10 Responden.

VI.2. Karakteristik Responden Penderita LBP

1. Data usia Responden Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani terapi

akupuntur dan akupuntur ditambah moksa

Tabel VI.2.1. Usia Responden Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani

terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa.

Usia Jumlah Presentase

(Tahun) (Orang) (%)


60-65 7 70%
66-70 1 10%
71-75 2 20%
Total 10 100%

Dari data di atas menunjukan lebih banyak Usia 60-65 tahun

berjumlah 7 orang dengan presentase 70%, Usia 66-70 tahun berjumlah 1

orang dengan presentase 10%, sedangkan Usia 71-75 Tahun berjumlah 2

orang dengan presentase 20%.

46
47

Gambar.VI.2.1. Hasil Data Usia Responden Nyeri Pinggang Bawah Yang

Menjalani Terapi Akupuntur Dan Akupuntur Ditambah Moksa

2. Data Jenis Kelamin Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani terapi

akupuntur.
48

Tabel VI.2.2. Data Menurut Jenis Kelamin Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani

terapi akupuntur

No Jenis Jumla Presentas

. Kelamin h e (%)
1. Perempua 6 60,0%

n
2. Laki-Laki 4 40,0%
Total 10 100%

Dari data di atas menunjukan bahwa yang menderita nyeri pinggang

bawah lebih banyak jenis kelamin perempuan berjumlah 6 responden

(60,0%), sedangkan jenis kelamin laki-laki berjumlah 4 responden

(40,0%).

Gambar.VI.2.2 Hasil Data Jenis Kelamin Responden Nyeri Pinggang

Bawah yang menjalani terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa.

3. Data Pekerjaan Responden Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani

terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa.


49

Tabel VI.2.3. Data Pekerjaan Responden Nyeri Pinggang Bawah yang

menjalani terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa.

Pekerjaan Jumlah Presentase


Pensiun 3 30%
Wirausaha 1 10%
Ibu Rumah Tangga 3 30%
Wiraswasta 3 30%
Total 10 100%
Dari data di atas menunjukan bahwa penderita Nyeri Pinggang

Bawah dari Pekerja Pensiun, Wiraswasta dan Ibu Rumah Tangga

berjumlah 3 orang dengan presentase 30%, sedangkan Pekerja Wirausaha

berjumlah 1 orang dengan presentase 10%

Gambar. VI.2.3. Hasil Data Pekerjaan Responden Nyeri Pinggang Bawah

yang menjalani terapi akupuntur

VI.3. Mengetahui Keluhan Disabilitas Pasien Sebelum Dilakukan Terapi

Akupuntur

Tabel. VI.3. Hasil Skala Disabilitas Pasien Sebelum Dilakukan Terapi

Akupuntur

No. Responden Skor


50

1 18%
2 50%
3 20%
4 6%
5 12%
Dari Data diatas skor sebelum dilakukan terapi dengan

menggunakan akupuntur adalah skor 18% berjumlah 1 orang, skor 50%

berjumlah 1 orang, skor 20% berjumlah 1 orang, skor 6% berjumlah 1

orang dan skor 12% berjumlah 1 orang.

Gambar.VI.3. Hasil Skala Disabilitas Pasien Sebelum Dilakukan Terapi

Akupuntur

VI.3.1 Mengetahui Keluhan Disabilitas Pasien Sebelum Dilakukan Terapi

Akupuntur di Tambah Moksa

Tabel. VI.3.1. Hasil Skala Disabilitas Pasien Sebelum Dilakukan Terapi

Akupuntur Ditambah Moksa

No. Responden Skor


1 12%
2 18%
3 12%
4 66%
5 28%
51

Dari data diatas skor sebelum dilakukan terapi akupuntur ditambah

moksa adalah skor 12% berjumlah 2 orang, skor 18% berjumlah 1 orang,

skor 66% berjumlah 1 orang, dan skor 28% berjumlah 1 orang.

Gambar.VI.3.1. Hasil Skala Disabilitas Pasien Sebelum Dilakukan Terapi

Akupuntur Ditambah Moksa.

VI.4. Mengetahui Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi

Akupuntur

Tabel VI.4. Hasil Data Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi

Akupuntur

No. Responden Skor Sesudah Terapi Ke 8


1 4%
2 3%
3 0%
4 0%
5 0%
Dari data di atas skor setelah terapi ke 8 yang adalah skor 4% berjumlah 1

orang dengan presentase 20%, skor 3% berjumlah 1 orang dengan presentase

20%, dan skor 0% berjumlah 3 orang dengan presentase 60%.


52

Gambar.VI.4. Hasil Data Penurunan Kualitas Disabilitas Sesudah Diterapi

Akupuntur.

VI.4.1. Mengetahui Penurunan Kualitas Disabilitas Pasien Sesudah di

Akupuntur di Tambah Moksa

Tabel. VI.4.1. Hasil Data Penurunan Disabilitas Sesudah Diterapi Dengan

Menggunakan Akupuntur di Tambah Moksa

NO. Responden Skor Sesudah Terapi Ke-8


1 8%
2 6%
3 0%
4 0%
5 20%
Dari data di atas menunjukkan skor setelah terapi ke 8, skor 8%

berjumlah 1 orang dengan presentase 20%, skor 6% berjumlah 1 orang

dengan presentase 20%, skor 0% berjumlah 3 orang dengan presentase

60% dan skor 20% berjumlah 1 orang.


53

Gambar.VI.4.1. Hasil Data Penurunan Disabilitas Sesudah Diterapi

Dengan Menggunakan Akupuntur di Tambah Moksa.


54

VI.4.2. Membandingkan Keluhan Disabilitas Sebelum Dan Sesudah

Diterapi Akupuntur

Tabel VI.4.2. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah

Diterapi Akupuntur

No. Sebelum Skor Selisih

Responden Terapi Sesudah (Delta)

Terapi

Ke 8
1 18% 4% 14
2 50% 3% 47
3 20% 0% 20
4 6% 0% 6
5 12% 0% 12
Jumlah 99
Rata – 19,8

Rata

Dari data di atas skor sesudah terapi ke 8 yang adalah skor 4%

berjumlah 1 orang dengan presentase 20%, skor 3% berjumlah 1 orang

dengan presentase 20%, dan skor 0% berjumlah 3 orang dengan presentase

60% dengan Jumlah Rata-rata 19,8.


55

Gambar.VI.4.2 Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah

Diterapi Akupuntur.

VI.4.3. Membandingkan Keluhan Disabilitas Sebelum Dan Sesudah Diterapi

Akupuntur di Tambah Moksa

Tabel VI.4.3. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah

Diterapi Akupuntur Di Tambah Moksa

No.Responden Sebelum Sesudah Selisih

Terapi Terapi Ke 8 (Delta)


1 12% 8% 4
2 18% 6% 12
3 12% 0% 12
4 66% 0% 66
5 28% 20% 8
Jumlah 102
Rata-rata 20,4

Dari data di atas sesudah terapi akupuntur ditambah moksa setelah

terapi ke 8 adalah skor 8% berjumlah 1 orang dengan presentase 20%,

skor 6% berjumlah 1 orang dengan presentase 20%, skor 0% berjumlah 2


56

orang dengan presentase 40% dan skor 20% berjumlah 1 orang dengan

presentase 20% dengan Jumlah Rata-Rata 20,4.

Gmabar.VI.4.3. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah

Diterapi Akupuntur Di Tambah Moksa.


57

VI.4.4. Membandingkan Keluhan Disabilitas sebelum dan Sesudah Terapi

Akupuntur dan Akupuntur ditambah Moksa

Tabel. VI.4.4. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah

Terapi Akupuntur dan Akupuntur ditambah Moksa

No. Responden Sebelum Terapi Sesudah Terapi

Ke 8
1 18% 4%
2 50% 3%
3 20% 0%
4 6% 0%
5 12% 0%
6 12% 8%
7 18% 6%
8 12% 0%
9 66% 0%
10 28% 20%

Dari perbandingan data di atas sebelum dilakukan terapi akupuntur

dan akupuntur ditambah moksa adalah skor 6% berjumlah 1 orang dengan

presentase 20%, skor 12% ada 3 orang dengan presentase 60%, skor 18%

berjumlah 2 orang dengan presentase 40%, skor 20% berjumlah 1 orang

dengan presentase 20%, skor 28% berjumlah 1 orang dengan presentase

20%, skor 50% berjumlah 1 orang dengan presentase 20%, dan skor 66%

berjumlah 1 orang dengan presentase 20%.

Dari perbandingan data di atas sesudah dilakukan terapi Ke 8 terapi

akupuntur dan akupuntur ditambah moksa adalah skor 0% berjumlah 5


58

orang dengan presentase 100%, skor 3% berjumlah 1 orang dengan

presentase 20%, skor 4% berjumlah 1 orang dengan presentase 20%, skor

6% berjumlah 1 orang dengan presentase 20%, skor 8% berjumlah 1 orang

dengan presentase 20%, dan skor 20% berjumlah 1 orang dengan

presentase 20%.

Gambar.VI.4.4. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah

Terapi Akupuntur dan Akupuntur ditambah Moksa


BAB VII

PEMBAHASAN

VII.1. Karakter Penderita LBP (Nyeri Pinggang Bawah)

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam Pada Tabel VI.2.1. diketahui

bahwa usia responden yang paling banyak sebagai penderita nyeri punggung

bawah adalah usia 60-65 tahun berjumlah responden 7 orang karena faktor usia

biasanya diderita oleh orang berusia lanjut karena penurunan fungsi-fungsi

tubuhnya terutama tulang sehingga tidak elastis seperti waktu muda. (Levent

2007). Bagian posterior vertebra antara satu dan lain dihubungkan dengan sendi

apofisial Secara anatomi daerah tulang belakang L-1 sampai seluruh tulang

sakrum dan otot-otot sekitarnya. Beban yang ditanggung oleh tulang belakang

(Lumbal) antara L-5 sampai S-1 atau L-4 dan L-5 sebagai titik tumpuan. Diskus

intervertebralis akan mengalami perubahan sifat ketika usia bertambah tua (Singh

V, 2009)

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam tabel VI.2.2. diketahui jenis

kelamin responden Low Back Pain (LBP) yang terbanyak adalah perempuan

karena proses menopause dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat

penurunan hormon estrogen (Levent 2007). Proses penuaan menyebabkan diskus

menonjol dari tempat semestinya dan menghasilkan pertumbuhan tulang baru

seperti taji yang menimbulkan radang sendi disertai nyeri (Staton 2010).

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam tabel VI.2.3. Pekerja Ibu

Rumah Tangga, dan wiraswasta lebih sering terjadi karena faktor resiko di tempat

kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot rangka terutama adalah kerja fisik

berat, penanganan dan cara mengangkat barang, gerakan berulang, posisisi atau

59
60

sikap tubuh selama bekerja. Menurut Sidharta (2006) kekakuan dan spasme otot

atau trauma adalah gerakan bagian punggung belakang seperti saat mengangkat

benda berat, aktivitas fisik berlebihan menyebabkan kekakuan otot menyebabkan

trauma sehingga menimbulkan nyeri.

VII.2 Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum Diterapi Akupuntur

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam pada Tabel VI.3. dapat

diketahui bahwa tingkat keluhan nyeri pasien sebelum diterapi Akupuntur score

ODI (Oswestry Disability Index) dari tingkat minimal dan tingkat yang parah,

yaitu score 0% - 20% artinya dalam keadaan minimal yaitu sebanyak 4 orang

sedangkan score 41% - 60% artinya dalam keadaan parah yaitu berjumlah 1

orang. Tingkat minimal lebih banyak dibandingkan tingkat parah karena tingkat

keluhan nyeri pinggang bawah yang parah tidak mampu berjalan menuju

puskesmas.

VII.3. Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sesudah Terapi Akupuntur

Ke 8

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam pada Tabel VI.4. dapat

diketahui bahwa tingkat keluhan nyeri pasien sesudah terapi ke 8 score ODI

(Oswestry Disability Index) yaitu score 0% - 20% yaitu sebanyak 5 orang dan 3

responden lainnya dinyatakan sembuh dengan rata – rata 19,8. Ada berbagai

faktor yang mempengaruhi nyeri pinggang bawah misalnya pekerjaan

mengangkat benda berat sehari-hari, usia dan aktivitas fisik yang berlebihan.

Menurut Liu Gong Wang (1994) disebabkan oleh konsumsi jing ginjal apabila

kondisi tubuh dalam keadaan terlalu lelah dan sakit berkepanjangan menyebabkan
61

kekurangan jing ginjal yang gagal memelihara meridian dapat menyebabkan nyeri

pinggang bawah.

VII.4. Membandingkan Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum

dan Sesudah Diterapi Akupuntur

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam pada Tabel VI.4.2.

Perbandingan tingkat keluhan nyeri pinggang bawah sebelum terapi dan sesudah 8

kali terapi dan dievaluasi mendapatkan penurunan score ODI (Oswestry Disability

Index) Dari kondisi parah (41% - 60%) dan tingkat sedang (21% - 40%)

mengalami penurunan score menjadi (0% - 20%) yaitu berjumlah 2 orang

sedangkan 3 orang lainnya sembuh dari nyeri pinggang bawah dengan rata- rata

20,4.. Menurut Liu, Gong Wang (1994) bahwa kekurangan jing ginjal dan

kegiatan seksual yang berlebihan menyebabkan jing ginjal, yang gagal untuk

memelihara meridian, menyebabkan nyeri pinggang bawah dan bisa terjadi karena

statis darah akibat trauma misalnya cedera eksternal, seperti membawa bobot yang

berat, dapat menyebabkan gangguan meridian yang menyebabkan nyeri pinggang

bawah.

VII.5. Tingkat keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum Diterapi Akupuntur

Ditambah Moksa

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam pada Tabel VI.3.1. dapat

diketahui bahwa tingkat keluhan nyeri pasien sebelum diterapi Akupuntur

ditambah moksa score ODI (Oswestry Disability Index) score 61% - 80%

berjumlah 1 orang dan tingkat sedang dengan score 21% - 40% berjumlah 1

orang dan tingkat minimal dengan score 0% - 20% sebanyak 3 orang. Tingkat
62

minimal lebih banyak dibandingkan tingkat parah karena tingkat keluhan nyeri

pinggang bawah yang parah tidak mampu berjalan menuju puskesmas.

VII.6. Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sesudah Terapi Akupuntur

Ditambah Moksa Ke 8

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam pada Tabel VI.4.1 dapat

diketahui bahwa tingkat keluhan nyeri pasien sesudah terapi akupuntur ditambah

moksa ke 8 score ODI (Oswestry Disability Index) dari kondisi lumpuh yaitu

score 61% - 80% berjumlah 1 orang dan mengalami penurunan menjadi kondisi

minimal dengan score 0% - 20% sebanyak 3 orang dan 2 responden lainnya

sembuh dari nyeri pinggang bawah. ada berbagai faktor yang mempengaruhi nyeri

pinggang bawah misalnya pekerjaan, usia dan aktivitas fisik yang berlebihan.

Menurut Liu Gong Wang (1994) disebabkan oleh konsumsi jing ginjal apabila

kondisi tubuh dalama keadaan terlalu lelah dan sakit berkepanjangan

menyebabkan kekurangan jing ginjal yang gagal memelihara meridian dapat

menyebabkan nyeri pinggang bawah.

VII.7. Membandingkan Tingkat Keluhan Nyeri Pinggang Bawah Sebelum

dan Sesudah Diterapi Akupuntur Ditambah Moksa

Dari hasil penelitian yang ditampilkan dalam pada Tabel VI.4.3.2

Perbandingan tingkat keluhan nyeri pinggang bawah sebelum terapi dan sesudah 8

kali terapi dan di evaluasi mendapatkan penurunan score ODI (Oswestry

Disability Index) Dari tingkat sedang (21% - 40%) dan tingkat minimal (0% -

20%) mengalami penurunan menjadi tingkat minimal (0% - 20%) sebanyak 3

orang sedangkan 2 orang lainnya sembuh. Menurut Liu, Gong Wang (1994)

bahwa kekurangan jing ginjal dan kegiatan seksual yang berlebihan menyebabkan
63

jing ginjal, yang gagal untuk memelihara meridian, menyebabkan nyeri pinggang

bawah dan bisa terjadi karena statis darah akibat trauma misalnya cedera

eksternal, seperti membawa bobot yang berat, dapat menyebabkan gangguan

meridian yang menyebabkan nyeri pinggang bawah.


BAB VIII

KESIMPULAN DAN SARAN

VIII.1. Kesimpulan

Penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan yaitu :

1. Dari hasil peneliti menunjukan lebih banyak usia 60-65 tahun yang

mengalami nyeri pinggang bawah berjumlah 7 orang , berjenis kelamin

perempuan berjumlah 6 orang dan pekerjaan ibu rumah tangga dan

wiraswasta.

2. Dari hasil peneliti sebelum dilakukan terapi akupuntur dan akupuntur

ditambah moksa skor disalitas nyeri pinggang bawah tergolong tingkatan

parah (lumpuh) skor 61%-80%, tingkat sedang skor 41%-60% dan tingkat

minimal 0%-20%.

3. Dari hasil peneliti penurunan kualitas pasien sesudah di terapi akupuntur

hasil skor disabitas turun menjadi tingkatan minimal dengan skor 0%-

20%.

4. Dari hasil peneliti penurunan kualitas disabilitas sesudah di akupuntur dan

akupuntur ditambah moksa skor sudah turun menjadi tingkat minimal

dengan skor 0%-20%

5. Dari hasil perbandingan peneliti keluhan disabilitas sebelum dan sesudah

dilakukan terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa sudah cukup

baik, 3 responden sembuh dari perlakuan terapi akupuntur sedangkan 2

responden sembuh dari perlakuan terapi akupuntur ditambah moksa.

64
65

6. Peneliti menyimpulkan bahwa pengaruh akupuntur terhadap disabilitas

pada lansia penderita nyeri pinggang bawah lebih efektif menggunakan

terapi akupuntur dari pada terapi akupuntur ditambah moksa.

7. Hasil perbandingan skor disabilitas sebelum terapi menunjukkan dalam

kondisi yang berat (lumpuh) maupun tingkat yang sedang dan tingkat

minimal, setelah di lakukan terapi akupuntur dan akupuntur di tambah

moksa menunjukan penurunan skor walaupun skor naik turun pada

beberapa responden sedangkan perbandingan dengan penelitian orang lain

menunjukkan sama-sama mempunyai keefektifan dalam terapi nyeri

pinggang bawah meskipun penggunaan titik berbeda.

VIII.2. Saran

Pada penelitian ini jumlah subjek yang ada tidak cukup seimbang antara

subyek rsponden perempuan (6 orang) dan laki laki (4 orang). Sehingga

analisa yang dilakukan berkaitan dengan jenis kelamin tidak responsif dan

sebaiknya terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa yang banyak

responden dan skala yang lebih besar agar bisa pastikan hasilnya.
DAFTAR PUSTAKA

Calehr, Hallym, 1993.Pedoman Akupunktur Medis. Jakarta : Gramedia Pustaka

Utama.

Cheng Xinnong. (1987). Chinese Acupuncture and Moxibustion, Foreign Language

Press. Beijing : p 437-439

Dharmojono, DVM.(1999).Menghayati Teori dan Praktik Akupuntur dan

Moksibusi, Jilid I. h 206

Fairbank JC, and Pynsent PB, The Oswestry Disability Index. Spine

2000;25(22):2940-2952

Gongwan, L, 1996, Clinical Acupuncture and Moxibustion, Tianjin Science dan

Technology Translation and Publishing Corporation, China. Hal 277-283

Harsono, (2000). Manifestasi Klinis Low Back Pain. Jakarta : EGC

Keliat, B. A. (1999). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC

Koosnadi dkk,..?.Akupuntur Indonesia.Anatomi Manusia.AAS

Liu, Gong Wang and Akira H, eds, 1994. Fundamentals of Acupuncture &

Moxibustion. Tianjin : Tianjin Science & Technology Translation &

Publishing Crop.

Maryam, R.S. (2008). Mengenal Usia Lanjut Dan Keperawatannya. Jakarta :

Salemba Medika

Ogal, Hans P and Wolfram Stor, (1999). The Seirin Pictorial Atlas Of Acupuncture,

Konemann Verlagsgesellschaft mbH

DEPKES RI, (2003). DEPKESDAS RI Dalam Angka Indonesia. Jakarta: DEPKES

Saputra, Koosnadi. Akupunktur dalam Pendekatan Ilmu Kedokteran. 7 April 1990 -

7 April 2000.

66
67

Saputra Koosnadi, Agustin Idayanti (2005), Akupuntur Dasar .Surabaya : Airlangga

University Press.

Stanton, (April 2010). European spine journal : official publication of the

European Spine society, the European Spinal Deformity Society, and the

European Section of the Cervical Spine Research Society 19 (4) : 533-9

Shidarta, Priguna, 1983, Sakit Neuromusculetal dalam Praktek Umum. Jakarta : PT.

Dian Rakyat

Sidharta P, 2006. Anamnesa Kasus Nyeri di Ekstermitas dan Pinggang. Sakit

pinggang. In:Tata pemeriksaan klinis dalam neurologi. Jakarta : Pustaka

universitas,1980: 64-75

Singh V, (2009). “Comprehensive review of epidemiology, scope, and impact of

spinal pain”. Pain Physician 12 (4):E35-70.

Tanujaya, Edward, (2008). Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem

Persarafan. Jakarta : Selemba Medika

Yu-Lin Lian,(1999). The Seirin Pictorial Atlas Of Acupuncture. h 136-16


LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Persetujuan / Informed Consent

AKUPUNKTUR

SURAT PERSETUJUAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

Alamat :

Pekerjaan :

Dengan kemauan sendiri dan tanpa paksaan, setuju menjalani pengobatan dengan

akupuntur. Untuk itu kami tidak akan menuntut secara hukum apabila terjadi hal-

hal yang tidak diinginkan dari metode pengobatan ini yang sedang dalam tingkat

penelitian.

Surabaya........../............./...........

Yang membuat pernyataan


Lampiran 2 : Lembar Kuisioner

Kuisioner Prevalensi Low Back Pain

1. No. Responden :

2. Nama :

3. Umur :

□ 60-65 tahun

□66-70 tahun

□71-75 tahun

4. Jenis Kelamin :

 Laki-Laki

 Perempuan

5. Apa pekerjaan anda :

 Pensiun

 Wirausaha

 Ibu Rumah Tangga

 Wiraswasta

6. Berapa lama anda bekerja :

 1-3 Jam

 3-5 Jam

 5-9 Jam

7. Bagaimana posisi tubuh anda saat bekerja:

 Membungkuk

 Duduk
 Berdiri

8. Apakah anda menggunakan terapi lainnya untuk menghilangkan rasa nyeri

pinggang:

 Terapi obat

 Herbal

 Fisoterapi

 Terapi akupuntur

9. Apakah anda sering mengalami nyeri pinggang bawah :

 Sering

 Sering Sekali

 Tidak Sering

 Kadang-Kadang

10. Sudah berapa lama anda mengalami nyeri pinggang :

 1-6 bulan

 6-11 bulan

 1-5 tahun

 5-10 tahun

 >10 tahun
Lampiran 3 : Lembar Kuesioner ODI (Oswestry Disabilitty Index)

Pemeriksaan Fungsional Dengan Menggunakan

“Modified Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire”

Berikan tanda  pada salah satu pilihan jawaban yang paling menggambarkan

keadaan anda.

Intensitas nyeri

 Saat ini saya tidak nyeri (Nilai : 0 )

 Saat ini nyeri terasa sangat ringan (Nilai : 1)

 Saat ini nyeri terasa ringan (Nilai : 2)

 Saat ini nyeri terasa agak berat (Nilai : 3)

 Saat ini nyeri terasa sangat berat (Nilai : 4)

 Saat ini nyeri amat sangat berat (Nilai : 5)

Perawatan diri (mandi, berpakaian dll)

 Saya merawat diri secara normal tanpa disertai timbulnya nyeri

(Nilai : 0)

 Saya merawat diri secara normal tetapi terasa sangat nyeri (Nilai : 1)

 Saya merawat diri secara hati-hati dan lamban karena sangat nyeri (Nilai : 2)

 Saya memerlukan sedikit bantuan saat merawat diri (Nilai :3)

Setiap hari saya memerlukan bantuan saat merawat diri (Nilai :4)

 Saya tidak bisa berpakaian dan mandi sendiri, hanya tiduran di bed (Nilai : 5)
Aktifitas Mengangkat :

 Dapat mengangkat benda berat tanpa disertai nyeri (Nilai : 0)

 Dapat mengangkat benda berat tetapi disertai timbulnya nyeri (Nilai : 1)

 Nyeri membuat anda tidak mampu mengangkat benda berat dari lantai tetapi

saya mampu mengangkat benda berat yang posisinya mudah misalnya di kursi

(Nilai : 2)

 Nyeri membuat saya tidak mampu mengangkat benda berat dari lantai, tetapi

saya mampu mengangkat benda ringan dan sedang yang posisinya mudah

misalnya di atas meja (Nilai : 3)

 Dapat mengangkat benda yang sangat ringan (Nilai : 4)

 Tidak dapat mengangkat maupun membawa benda apapun (Nilai :5)

Berjalan

 Saya mampu berjalan jaraknya tanpa disertai timbulnya nyeri (Nilai : 0)

 Saya hanya mampu berjalan tidak lebih dari 1 mil karena nyeri

(Nilai : 1)

 Saya hanya mampu berjalan tidak lebih dari ¼ mil karena nyeri

(Nilai : 2)

 Saya hanya mampu berjalan menggunakan alat bantu tongkat atau kruk (Nilai :

4)

 Saya hanya mampu tiduran, utntuk ke toilet dengan merangkak

(Nilai : 5)
Duduk

 Saya mampu duduk semua jenis kursi selama aku mau (Nilai : 0)

 Saya mampu duduk pada kursi tertentu selama aku mau (Nilai : 1)

 Saya hanya mampu duduk pada kursi tidak lebih dari ½ jam karena nyeri

(Nilai : 3)

 Saya hanya mampu duduk pada kursi tidak lebih dari 10 menit karena nyeri

(Nilai : 4)

 Saya tidak mampu duduk karena nyeri (Nilai : 5)

Berdiri

 Saya mampu berdiri selama aku mau (Nilai : 0)

 Saya mampu berdiri selama aku mau tetapi timbul nyeri (Nilai : 1)

 Saya hanya mampu berdiri tidak lebih dari 1 jam karena nyeri

(Nilai : 2)

 Saya hanya mampu berdiri tidak lebih dari ½ jam karena nyeri

(Nilai : 3)

 Saya hanya mampu berdiri tidak lebih dari 10 menit karena nyeri

(Nilai : 4)

 Saya tidak mampu berdiri karena nyeri (Nilai : 5)

Tidur

 Tidurku tak pernah terganggu oleh timbulnya nyeri (Nilai : 0)

 Tidurku terkadang terganggu oleh timbulnya nyeri (Nilai : 1)


 Karena nyeri tidurku tidak lebih dari 6 jam ( Nilai : 2)

 Karena nyeri tidurku tidak lebih dari 4 jam (Nilai : 3)

 Karena nyeri tidurku tidak lebih dari 2 jam (Nilai :4)

 Saya tidak bisa tidur karena nyeri (Nilai : 5)

Aktifitas Seksual (bila memungkinkan)

 Aktivitas seksualku berjalan normal tanpa disertai timbulnya nyeri (Nilai : 0)

 Aktifitas seksualku berjalan normal tetapi disertai timbulnya nyeri (Nilai : 1)

 Aktifitas seksualku berjalan hampir normal tetapi sangat nyeri

(Nilai : 2)

 Aktifitas seksualku sangat terhambat oleh adanya nyeri (Nilai : 3)

 Aktifitas seksualku hampir tak pernah karena adanya nyeri (Nilai : 4)

 Aktifitas seksualku tidak pernah bisa terlaksana karena nyeri (Nilai : 5)

Kehidupan Sosial

 Kehidupan sosialku berlangsung normal tanpa gangguan nyeri

(Nilai : 0)

 Kehidupan sosialku berlangsung normal tetapi ada peningkatan derajat nyeri

(Nilai : 1)

 Kehidupan sosialku yang aku sukai misalnya olaraga tidak begitu terganggu

adanya nyeri (Nilai :2)

 Nyeri menghambat kehidupan sosialku aku jarang keluar rumah

(Nilai : 3)

 Nyeri membuat kehidupan sosialku hanya berlangsung dirumah saja


(Nilai : 4)

 Saya tidak mempunyai kehidupan sosial karena nyeri (Nilai : 5)

Berpergian / Melakukan Perjalanan

 Saya bisa melakukan perjalanan ke semua tempat tanpa adanya nyeri (Nilai : 0)

 Saya bisa melakukan perjalanan ke semua tempat tetapi timbul nyeri (Nilai : 1)

 Nyeri memang mengganggu tetapi saya bisa melakukan perjalanan lebih dari 2

jam (Nilai : 2)

 Nyeri menghambatku sehingga saya hanya bisa melakukan perjalanan pendek

kurang dari 1 jam (Nilai :3)

 Nyeri menghambatku sehingga saya hanya bisa melakukan perjalanan pendek

kurang dari 30 menit (Nilai :4)

 Nyeri menghambatku sehingga saya hanya bisa melakukan perjalanan kecuali

hanya berobat (Nilai :5)


Interpretasi Hasil :

Dari 10 pertanyaan, jumlahkan seluruh nilai yang didapat, lalu di hitung dengan

rumus :

Total Nilai x 100 = ... %

50

0% - 20%  Minimal disability : Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari

tanpa terganggu oleh rasa nyeri

21% - 40%  Moderate disability : Pasien merasakan nyeri yang lebih dan mulai

kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari seperti duduk, mengangkat

barang dan berdiri

41% - 60%  Severe disability : Nyeri terasa sepanjang waktu dan aktivitas

sehari-hari mulai terganggu karena rasa nyeri

61% - 80%  Crippledd : Nyeri yang timbul mengganggu seluruh aktivitas

sehari-hari

81% - 100%  pasien sudah sangat tersiksa oleh nyeri yang timbul
Lampiran 4 : Data Responden Terapi Akupuntur

Nama Usia Pekerjaan Terapi Tgl Kunjungan Terapi


Bapak Rohli 67 Wiraswasta Akupuntur 13 Feb 2017 Terapi 1 : 18%

16 Feb 2017 Terapi 5 : 28%

25 Feb 2017 Terapi 8 : 4%

28 Feb 2017

8 Maret 2017

10 Maret 2017

14 Maret 2017

17 Maret 2017

Ibu Sri 61 Ibu Rumah Akupuntur 28 Feb 2017 Terapi 1 : 50%

Mukti Tangga 3 Maret 2017 Terapi 5 : 18%

8 Maret 2017 Terapi 8 : 3%

10 Maret 2017

14 Maret 2017

17 Maret 2017

24 Maret 2017

29 Maret 2017
Bapak 60 Wiraswasta Akupuntur 15 Maret 2017 Terapi 1 : 20%

Zainudin 19 Maret 2017 Terapi 5 : 8%

22 Maret 2017 Terapi 8 : 0%

16 Maret 2017

27 Maret 2017

1 April 2017

4 April 2017
8 April 2017
Ibu Sutina 63 Pensiun Akupuntur 3 Feb 2017 Terapi 1 : 6%

7 Feb 2017 Terapi 5 : 3%

11 Feb 2017 Terapi 8 : 0%

14 Feb 2017

18 Feb 2017

25 Feb 2017

28 Feb 2017

3 Maret 2017

Ibu Marsi 60 Wiraswasta Akupuntur 15 Maret 2017 Terapi 1 : 12%

19 Maret 2017 Terapi 5 : 3%

22 Maret 2017 Terapi 8 : 0%

16 Maret 2017

27 Maret 2017

1 April 2017

4 April 2017

8 April 2017

Lampiran 5 : Data Respon Terapi Akupuntur ditambah Moksa

Nama Usia Pekerjaan Terapi Tgl Kunjungan Skor


Bapak 71 Pensiun Akptr + Moksa 3 Feb 2017 Terapi 1 : 12%

Silitonga 7 Feb 2017 Terapi 5 : 14%

11 Feb 2017 Terapi 8 : 8%

14 Feb 2017

18 Feb 2017

23 Feb 2017

27 Feb 2017

6 Maret 2017
Bapak 71 Pensiun Akptr + Moksa 16 Feb 2017 Terapi 1 : 18%

Sutrisno 23 Feb 2017 Terapi 5 : 12%

27 Feb 2017 Terapi 8 : 6%

3 Maret 2017

7 Maret 2017

15 Maret 2017

17 Maret 2017

20 Maret 2017
Ibu Ismiati 65 Pensiun Akptr + Moksa 23 Feb 2017 Terapi 1 : 12%

27 Feb 2017 Terapi 5 : 18%

3 Maret 2017 Terapi 8 : 0%

7 Maret 2017

15 Maret 2017

17 Maret 2017

20 Maret 2017

28 Maret 2017
Ibu Atik 61 Ibu Rumah Akptr + Moksa 16 Feb 2017 Terapi 1 : 66%

Tangga 25 Feb 2017 Terapi 5 : 14%


28 Feb 2017 Terapi 8 : 0%

3 Maret 2017

8 Maret 2017

10 Maret 2017

14 Maret 2017

17 Maret 2017
Ibu Khotijah 64 Pedagang Akptr + Moksa 9 Feb 2017 Terapi 1 : 28%

16 Feb 2017 Terapi 5 : 40%

20 Feb 2017 Terapi 8 : 20%

23 Feb 2017

27 Feb 2017

3 Maret 2017

6 Maret 2017

9 Maret 2017

Lampiran 6 : Lembar Hasil Penelitian

Tabel VI.2.1. Usia Responden Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani terapi

akupuntur dan akupuntur ditambah moksa.

Usia (Tahun) Jumlah (Orang) Ptrsentase (%)


60 – 65 7 70%
66 – 70 1 10%
71 – 75 2 20%
Total 10 100%

Tabel VI.2.2. Data Menurut Jenis Kelamin Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani

terapi akupuntur

No. Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%)


1. Perempuan 6 60,0%
2. Laki – Laki 4 40,0%
100%

Tabel VI.2.3. Data Pekerjaan Responden Nyeri Pinggang Bawah yang menjalani

terapi akupuntur dan akupuntur ditambah moksa.

Pekerjaan Jumlah Presentase


Pensiun 3 30%
Pedagang 1 10%
Ibu Rumah Tangga 3 30%
Wiraswasta 3 30%
Total 10 100%
Tabel VI.4.2. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah Diterapi

Akupuntur

No. Sebelum Skor Sesudah Skor Sesudah Rata – Rata

Responden Terapi Terapi Ke 5 Terapi Ke 8


1 18% 28% 4% 14
2 50% 18% 3% 47
3 20% 8% 0% 20
4 6% 3% 0% 6
5 12% 3% 0% 12
Jumlah 99 : 5 = 19,8

Diagram VI.4.2. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah Diterapi

Akupuntur
Tabel VI.4.3. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah Diterapi

Akupuntur Di Tambah Moksa

No. Sebelum Skor Sesudah Skor Sesudah Rata - Rata

Responden Terapi Terapi Ke 5 Terapi Ke 8


1 12% 14% 8% 4
2 18% 12% 6% 12
3 12% 18% 0% 12
4 66% 14% 0% 66
5 28% 40% 20% 8
Jumlah 102 : 5 = 20,4

Diagram VI.4.3. Hasil Data Skala Perbandingan Sebelum Dan Sesudah Diterapi

Akupuntur Di Tambah Moksa


Lampiran 7 : Lembar Konsultasi

Nama : Fitriah Anggraeni Kusuma


NIM : 13.005
Perbandingan Pengaruh akupuntur dan akupuntur

ditambah moksa pada titik BL20 (Pishu), BL23

JuduProposal : (Shenshu), BL40 (Weizong), dan BL58 (Feiyang)

terhadap disabilitas pinggang pada lansia penderita

LBP di Puskesmas Krembangan Surabaya


Pembimbing 1 : Dyah Prapti Wahyuni, M Kes

No. Tanggal Saran Paraf

1. 15 Juli 2016 Konsul judul


2. 20 Juli 2016 Konsul judul

Bab 1-3

3. 6 Agustus 2016 Konsul judul

Bab 1-3

4. 21September Konsul Bab 4-5

2016

5. 30 Desember 2016 Konsul Bab 4-5

Pengajuan Judul

Nama : Fitriah Anggraeni Kusuma


NIM : 13.005
Perbandingan Pengaruh akupuntur dan akupuntur

ditambah moksa pada titik BL20 (Pishu), BL23

(Shenshu), BL40 (Weizong), dan BL58 (Feiyang)


Judul Proposal :
terhadap disabilitas pinggang pada lansia

penderita LBP di Puskesmas Krembangan

Surabaya
Pembimbing 2 : dr. Sulistiyawati Hoedijono, MA

No. Tanggal Saran Paraf

1. 15 Juli 2016 Konsul Judul


2 18 Juli 2016 Konsul Judul

Lembar Konsultasi

Nama : Fitriah Anggraeni Kusuma


NIM : 13.005
: Perbandingan Pengaruh akupuntur dan akupuntur ditambah

moksa pada titik BL20 (Pishu), BL23 (Shenshu), BL40

Judul Proposal (Weizong), dan BL58 (Feiyang) terhadap disabilitas pinggang

pada lansia penderita LBP di Puskesmas Krembangan

Surabaya
Pembimbing 1 : Dyah Prapti Wahyuni, M Kes

No. Tanggal Materi Konsultasi Saran Paraf


Judul dan BAB V
Memperbaiki kesalahan pada
1. 16 Januari 2017 (Metodologi
BAB V dan Judul
Penelitian)
2. 18 Januari 2017 BABV Memperbaiki kesalahan pada

(Metodologi BAB V
Penelitian),

10 Juli 2017 –
3. BAB VI-VIII Edit Kata Perkata
28 Juli 2017

10 Agustus – 14
4. BAB VI-VIII Edit Kata Perkata
Agustus 2017

15 Agustus Urutkan Daftar Pustaka


5. Daftar Pustaka
2017 dengan benar

Lembar Konsul

Nama : Fitriah Anngraeni Kusuma


NIM : 13.005
Perbandingan Pengaruh akupuntur dan akupuntur

ditambah moksa pada titik BL20 (Pishu), BL23

(Shenshu), BL40 (Weizong), dan BL58 (Feiyang)


Judul Proposal :
terhadap disabilitas pinggang pada lansia

penderita LBP di Puskesmas Krembangan

Surabaya
Pembimbing 2 : dr. Sulistiyawati Hoedijono, MA

No. Tanggal Materi Konsultasi Saran Paraf

15 Juli 2016 –
1 Konsul Judul Judul kurang tepat
18 Juli 2016

20 Juli 2016 –
2 BAB 1 – III Edit Kata Perkata
6 Agust 2016
21 Sep 2016 –
3 BAB IV – V Edit Kata Perkata
30 Des 2016

10 Juli 2016 –
4 BAB VI – VIII Edit Kata Perkata
28 Juli 2016

5 31 Juli 2016 Abstrak Memperbaiki bahasa inggris

Lampiran 8 : Lembar Revisi

LEMBAR REVISI

Nama : Fitriah Anggraeni Kusuma

NIM : 13.005

Judul Proposal : Perbandingan pengaruh akupuntur dan Akupuntur

ditambah moksa pada titik BL22 (Sanjiaoshu), Bl23

(Shenshu) dan BL24 (Qihaishu) terhadap disabilitas pada

lansia penderita LBP di Puskesmas Krembangan Surabaya

September 2016 – januari 2017.

Penguji I : Dyah Prapti W, S.KM, M.Kes

Penguji II : dr. Thomas Cahyono Sutrisno, M,Med

NO HAL YANG DIREVISIKAN PENGUJI PARAF


1 Abstrak, BAB I-III, BAB VII-VIII dan BAB XII
2 Abstrak, BAB I, BAB III, BAB V, BAB VI, BAB

VII dan Daftar Pustaka


RIWAYAT HIDUP PENULIS

Nama : Fitriah Anggraeni Kusuma

TTL : Surabaya, 16 Maret 1995

Alamat

: Jl.

Wonok

usumo

Jaya

gang 1

No.7

Kec,

Semam

pir

Kel,

Pegiria

n
Telp : 085730192291

Nama Ayah : Sudarsono Rakhmansyah

Nama Ibu : Churun Iliyyin

RIWAYAT PENDIDIKAN

TK : TK 17 Agustus, Gresik, Tahun. 2001-2002

SD : SDN Pegirian 2, Surabaya. Tahun. 2002 - 2007

SMP : SMP Mujahidin,Surabaya. Tahun. 2007 - 2010

SMA : SMA Hang Tuah 1, Surabaya. Tahun. 2010 - 2013

D3 : Akademik Akupuntur Surabaya (AAS), Tahun 2013 - 2017

JUDUL TUGAS AKHIR

PERBANDINGAN PENGARUH AKUPUNTUR DAN AKUPUNTUR DI

TAMBAH MOKSA PADA TITIK BL20 (PISHU), BL23 (SHENSHU), BL40

(WEIZHONG) DAN BL58 (FEIYANG) TERHADAP DISABILITAS PADA

LANSIA PENDERITA LBP DI PUSKESMAS KREMBANGAN SURABAYA

SEPTEMBER 2016 – AGUSTUS 2017.

Surabaya, 17 Agustus 2017