Anda di halaman 1dari 6

Skleritis

Definisi
Skleritis didefinisikan sebagai gangguan granulomatosa kronik yang ditandai oleh destruksi
kolagen, sebukan sel dan kelainan vaskular yang mengisyaratkan adanya vaskulitis.
Etiologi
Spondilitis ankylosing, Artritis rheumatoid, Poliartritis
nodosa, Polikondritis berulang, Granulomatosis
Penyakit Autoimun Wegener, Lupus eritematosus sistemik, Pioderma
gangrenosum, Kolitis ulserativa, Nefropati IgA, Artritis
psoriatik
Tuberkulosis, Sifilis, Sarkoidosis, Lepra, Sindrom Vogt-
Penyakit Granulomatosa
Koyanagi-Harada (jarang)
Gangguan Metabolik Gout, Tirotoksikosis, Penyakit jantung rematik aktif
Onkoserkiasis, Toksoplasmosis, Herpes Zoster, Herpes
Infeksi Simpleks, Infeksi oleh Pseudomonas, Aspergillus,
Streptococcus, Staphylococcus
Fisik (radiasi, luka bakar termal), Kimia (luka
Lain-lain bakarasam atau basa), Mekanis (cedera tembus),
Limfoma, Rosasea, Pasca ekstraksi katarak

Klasifikasi
Skleritis diklasifikasikan menjadi:
1. Skleritis Anterior
95% penyebab skleritis adalah skleritis anterior. Insidensi skleritis anterior
sebesar 40% dan skleritis anterior nodular terjadi sekitar 45% setiap tahunnya.
Skleritis nekrotik terjadi sekitar 14% yang biasanya berbahaya. Bentuk spesifik dari
skleritis biasanya tidak dihubungkan dengan penyebab penyakit khusus, walaupun
penyebab klinis dan prognosis diperkirakan berasal dari suatu inflamasi. Berbagai
varian skleritis anterior kebanyakan jinak dimana tipe nodular lebih nyeri. Tipe
nekrotik lebih bahaya dan sulit diobati.
a. Difus
Bentuk ini dihubungkan dengan artritis rematoid, herpes zoster oftalmikus dan gout
dimana lebih sering mengenai kedua mata.
b. Nodular
Bentuk ini dihubungkan dengan herpes zoster oftalmikus dimana lebih sering mengenai
satu mata saja.
c. Necrotizing
Bentuk ini lebih berat dan dihubungkan sebagai komplikasi sistemik atau komplikasi
okular pada sebagian pasien. 40% menunjukkan penurunan visus. 29% pasien dengan
skleritis nekrotik meninggal dalam 5 tahun. Bentuk skleritis nekrotik terbagi 2 yaitu:
i. Dengan inflamasi
ii. Tanpa inflamasi (scleromalacia perforans)

2. Skleritis Posterior
Sebanyak 43% kasus skleritis posterior didiagnosis bersama dengan skleritis
anterior. Biasanya skleritis posterior ditandai dengan rasa nyeri dan penurunan
kemampuan melihat. Dari pemeriksaan objektif didapatkan adanya perubahan fundus,
adanya perlengketan massa eksudat di sebagian retina, perlengketan cincin koroid,
massa di retina, udem nervus optikus dan udem makular. Inflamasi skleritis posterior
yang lanjut dapat menyebabkan ruang okuli anterior dangkal, proptosis, pergerakan
ekstra ocular yang terbatas dan retraksi kelopak mata bawah.
Anamnesis :
Keluhan pada pasien skleritis bervariasi terkait dengan jenis skleritis.
 Pasien dengan necrotizing anterior scleritis with inflammation akan mengeluhkan rasa
nyeri yang hebat disertai tajam penglihatan yang menurun, bahkan dapat terjadi kebutaan.
 Tajam penglihatan pasien dengan non-necrotizing scleritis biasanya tidak akan terganggu,
kecuali bila terjadi komplikasi seperti uveitis. Rasa nyeri yang dirasakan pasien akan
memburuk dengan pergerakan bola mata dan dapat menyebar ke arah alis mata, dahi, dan
dagu. Rasa nyeri juga dapat memburuk pada malam hari, bahkan dapat membangunkan
pasien dari tidurnya.
Tanda dan gejala :
 Nyeri mata (nyeri terasa berat, nyeri tajam menyebar ke dahi, alis, rahang dan sinus,
pasien terbangun sepanjang malam, kambuh akibat sentuhan atau digerakkan)
 Kemerahan pada sclera
 Penglihatan kabur
 Fotofobia
 Mata berair
 Spasme
Pemeriksaan Fisik dan Oftalmologi
1. Daylight
Sklera bisa terlihat merah kebiruan atau keunguan yang difus. Setelah serangan yang
berat dari inflamasi sklera, daerah penipisan sklera dan translusen juga dapat muncul dan
juga terlihat uvea yang gelap. Area hitam, abu-abu dan coklat yang dikelilingi oleh inflamasi
yang aktif yang mengindikasikan adanya proses nekrotik. Jika jaringan nekrosis berlanjut,
area pada sklera bisa menjadi avaskular yang menghasilkan sekuester putih di tengah yang
dikelilingi lingkaran coklat kehitaman. Proses pengelupasan bisa diganti secara bertahap
dengan jaringan granulasi meninggalkan uvea yang kosong atau lapisan tipis dari
konjungtiva.
2. Pemeriksaan Slit Lamp
Pada skleritis, terjadi bendungan yang masif di jaringan dalam episklera dengan beberapa
bendungan pada jaringan superfisial episklera. Pada tepi anterior dan posterior cahaya slit
lamp bergeser ke depan karena episklera dan sklera edema. Pada skleritis dengan pemakaian
fenilefrin hanya terlihat jaringan superfisial episklera yang pucat tanpa efek yang signifikan
pada jaringan dalam episklera.
3. Pemeriksaan Red-free Light
Pemeriksaan ini dapat membantu menegakkan area yang mempunyai kongesti vaskular
yang maksimum, area dengan tampilan vaskular yang baru dan juga area yang avaskular
total. Selain itu perlu pemeriksaan secara umum pada mata meliputi otot ekstra okular,
kornea, uvea, lensa, tekanan intraokular dan fundus.
a. Pemeriksaan Penunjang1,5,10
Berdasarkan riwayat penyakit dahulu, pemeriksaan sistemik dan pemeriksaan fisik dapat
ditentukan tes yang cocok untuk memastikan atau menyingkirkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan skleritis. Adapun pemeriksaan laboratorium tersebut meliputi:
 Hitung darah lengkap dan laju endap darah
 Kadar komplemen serum (C3)
 Kompleks imun serum
 Faktor rematoid serum
 Antibodi antinukleus serum
 Antibodi antineutrofil sitoplasmik
 Imunoglobulin E
 Kadar asam urat serum
 Urinalisis
 Rata-rata Sedimen Eritrosit
 Tes serologis
 HBs Ag
Berbagai macam pemeriksaan radiologis yang diperlukan dalam menentukan
penyebab dari skleritis adalah sebagai berikut :10
 Foto thorax
 Rontgen sinus paranasal
 Foto lumbosacral
 Foto sendi tulang panjang
 Ultrasonography ( Scan A dan B)
 CT-Scan
 MRI
Pemeriksaan lain yang diperlukan antara lain :
 Skin Test dan Tes usapan dan kultur
DD :
 konjungtivitis alergika
 episkleritis
 herpes zoster
 uveitis anterior
Terapi :
Terapi skleritis disesuaikan dengan penyebabnya. Terapi awal skleritis adalah obat anti inflamasi
non-steroid sistemik. Obat pilihan adalah indometasin 100 mg perhari atau ibuprofen 300 mg
perhari. Pada sebagian besar kasus, nyeri cepat mereda diikuti oleh pengurangan peradangan. A
pabila tidak timbul respon dalam 1-2 minggu atau segera setelah tampak penyumbatan vaskular
harus segera dimulai terapi steroid sistemik dosis tinggi. Steroid ini biasanya diberikan peroral
yaitu prednison 80 mg perhari yang diturunkan dengan cepat dalam 2 minggu sampai dosis
pemeliharaan sekitar 10 mg perhari.
Prognosis :
dapat baik dan dapat buruk tergantung penyebabnya
Komplikasi :
 keratitis,
 uveitis,
 galukoma,
 granuloma subretina,
 ablasio retina eksudatif,
 proptosis,
 katarak,
 hipermetropia.