Anda di halaman 1dari 9

TUGAS BESAR TEKNIK PENYEDIAAN AIR MINUM

PENYEDIAAN AIR MINUM UNTUK KECAMATAN PANGA

KABUPATEN ACEH JAYA

Disusun Oleh :

Kelompok 4

1. Anastasia Aghasara Putri (1142005022)


2. Pradhika Ardi Nugraha (1152005007)
3. Rizkiah Aulia Hanifah (1152005016)

Asisten :

Ivan Julian M

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS BAKRIE

2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan salah satu hal terpenting bagi semua bentuk kehidupan di dunia. Makhluk
hidup membutuhkan air untuk dapat melanjutkan kelangsungan hidup, baik manusia, hewan
dan tumbuhan. Sepertiga bagian bumi yang kita tempati terdiri dari air, itulah kenyataan yang
kita yakni bahwa air sangat penting bagi kehidupan. Keberadaan air bersih di daerah perkotaan
juga menjadi sangat penting mengingat aktivitas kehidupan masyarakat kota yang sangat
dinamis.
Pada umumnya masyarakat memperoleh air bersih dari sumber seperti aliran sungai, air
tanah dangkal atau sumur, dan tampungan air hujan. Namun tidak sedikit ditemukan bahan
pencemar di sumber air. Sehingga menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Panga
merupakan kecematan di Kabupaten kecamatan pangan Aceh Jaya yang memiliki luas daerah
307 km2. Daerah kecamatan ini merupakan tempat dimana saluran air untuk irigasi air bersih
masih sangat kurang. Selain itu, pertumbuhan penduduk yang sangat cepat menjadikan
sulitnya saluran air bersih untuk masuk.
Di dalam teknik penyediaan air minum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan
dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk mendesain suatu proyek perpiaan air minum
seperti perbedaan elevasi, jenis pipa yang akan digunakan, geografi, jumlah penduduk dan lain
sebagainya. Pertimbangan ini dapat digunakan untuk menentukan metode yang terbaik yang
dapat dipakai sebagai langkah awal untuk menetapkan dan merancang penyediaan air minum
secara efektif dan efisien. Dengan adanya pembelajaran mengenai teknik penyediaan air
minum ini, diharapkan penulis dapat langsung mengaplikasikan kepada masyarakat sekitar
khususnya masyarakat daerah pedalaman yang tinggal dengan saluran irigasi yang masih
sangat terbatas.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya adalah:

1. Bagaimanakah teknik penyediaan air minum yang baik dengan mempertimbangkan


laju pertumbuhan penduduk, jumlah fasilitas, elevasi dan lain-lain dari tempat
pengambilan air baku?
2. Apa saja jenis pipa yang dapat digunakan agar tetap efektif dan efisien?
3. Apa saja yang diperhitungkan untuk merencanakan penyediaan air minum untuk 20
tahun ke depan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari teknik penyediaan air minum di Kecamatan Panga, Aceh adalah:

1. Mengetahui dan dapat merencanakan teknik penyediaan air minum yang baik dengan
memperkirakan laju pertumbuhan penduduk, jumlah fasilitas, elevasi dan lain-lain dari
tempat pengambilan air baku.
2. Mengetahui jenis pipa dan kecepatan minimum air sehingga masyarakat Panga dapat
mengkonsumsi air tersebut.
3. Dapat merencanakan dan menyediakan kapasistas air untuk rencana 20 tahun ke d
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistem Distribusi Air Bersih
Menurut Dharmasetiawan, 1993. Pendistribusian air dilakukan dengan saluran tertutup atau
dengan perpipaan dengan maksud supaya tidak terjadi kontaminasi terhadap air yang mengalir
di dalamnya. Disamping itu dengan sistem perpipaan air lebih mudah untuk dialirkan karena
adanya tekanan air.Komponen dari sistem distribusi adalah Penampungan air (Reservoir) dan
Sistem perpipaan.
2.1.1. Penampungan Air (Reservoir)
Penampungan air atau Reservoir adalah suatu bangunan yang menampung air sementara
sebelum di distribusikan ke pemakai air. Lama penampungan disesuaikan dengan tingkat
pemakaian air pada masa jam pemakaian puncak dan pemakaian jam rata rata. Volume
dirancang sama dengan kebutuhan pada waktu defisit pemakaian ataupun surplus pemakaian.
Secara praktis volume atau isi reservoir dapat pula dihitung berdasarkan waktu penampungan
atau waktu retensi dari air pada debit rata rata. Umumnya dihitung 2 jam sampai 8 jam
penampungan.Konstruksi reservoir harus dibuat sedemikian rupa sehingga air yang ditampung
terhindar dari kontaminasi dari luar sehingga air yang disimpan tetap layak untuk
dimanfaatkan. Umumnya untuk menjaga keadaan yang demikian di reservoir dilakukan
pembubuhan bahan desinfektan. Biasanya desinfektan yang digunakan adalah Kaporit, atau
Natrium HipoKlorit. Konstruksi reservoir dapat terbuat dari bahan beton, baja maupun kayu.
2.1.2 Sistem Perpipaan
Sistem Perpipaan merupakan rangkaian pipa yang menghubungkan antara reservoir dengan
pelanggan. Secara hirarki disusun menurut banyak jumlah air yang dibawa. Hirarki dalam
sistem perpipaan berupa pipa induk, pipa sekunder/tersier atau pipa retikulasi dan pipa-pipa
layanan (service). Hirarki pipa ini secara hidrolis terisolasi. Hal ini berarti air dari hirarki yang
lebih tinggi terkendali alirannya ke hirarki yang lebih rendah. Dengan demikian tekanan air di
pipa induk akan lebih tinggi dari yang ada di pipa retikulasi dan pengaturannya antara kedua
jenis pipa ini dilakukan oleh katup (valve) atau valve pengatur tekanan (pressure reducing
valve). Valve (Katup) adalah sebuah perangkat yang mengatur, mengarahkan atau mengontrol
aliran dari suatu cairan dengan membuka, menutup, atau menutup sebagian dari jalan alirannya.
Sedangkan debit air yang mengalir di pipa mengalir secara satu arah yaitu pipa induk ke pipa
retikulasi. Untuk itu antara pipa induk dan pipa sekunder selain dilengkapi dengan katup
(valve) pengatur debit juga dipakai pengatur katup (check valve). Check valve adalah alat yang
digunakan untuk membuat aliran fluida hanya mengalir ke satu arah saja atau agar tidak terjadi
reversed flow/back. Gate valve adalah jenis katup yang digunakan untuk membuka aliran
dengan cara mengangkat gerbang penutup nya yang berbentuk bulat atau persegi panjang. Gate
Valve adalah jenis valve yang paling sering dipakai dalam sistem perpipaan. Yang fungsinya
untuk membuka dan menutup aliran. Dari segi kapasitas pipa distribusi di rancang untuk
memenuhi kebutuhan debit pada saat pemakaian puncak. Tetapi ada pula jenis pipa distribusi
yang dirancang untuk memenuhi debit pada saat pemakaian rata
rata. Misalnya pipa yang menghubungkan antara reservoir dengan pelanggan.
2.2. Sistem Penyediaan Air Bersih
Menurut Ray K. Linsey and Joseph B. Franzini, 1991. Suatu sistem penyediaan air bersih yang
mampu menyediakan air yang dapat diminum dalam jumlah yang cukup merupakan hal
penting bagi suatu kota besar yang modern. Unsur-unsur yang membentuk suatu sistem
penyediaan air yang modern yaitu sumber-sumber penyediaan, sarana-sarana penampungan,
sarana-sarana penyaluran,sarana-sarana pengolahan, sarana-sarana penyaluran (dari
pengolahan) tampungan sementara, dan sarana-sarana distribusi.
2.3 Studi Kebutuhan Air Bersih
Untuk sebuah sistem penyediaan air minum, perlu diketahui besarnya kebutuhan dan
pemakaian air. Kebutuhan air dipengaruhi oleh besarnya populasi penduduk, tingkat ekonomi
dan faktor-faktor lainnya. Oleh karena itu, data mengenai keadaan penduduk daerah yang akan
dilayani dibutuhkan untuk memudahkan permodelan evaluasi sistem distribusi air minum.
Kebutuhan air bersih berbeda antara kota yang satu dengan kota yang lainnya.
faktor yang mempengaruhi penggunaan air bersih menurut Ray K. Linsey and
Joseph B. Franzini (1991) adalah :
1. Iklim
Kebutuhan air untuk mandi, menyiram taman, pengaturan udara dan sebagainya akan lebih
besar pada iklim yang hangat dan kering daripada di iklim yang lembab. Pada iklim yang sangat
dingin, air mungkin diboroskan di keran-keran untuk mencegah bekunya pipa-pipa.
2. Ciri-ciri Penduduk
Pemakaian air dipengaruhi oleh status ekonomi dari para langganan. Pemakaian perkapita di
daerah miskin jauh lebih rendah daripada di daerah-daerah kaya. Di daerah-daerah tanpa
pembuangan limbah, konsumsi dapat sangat rendah hingga hanya sebesar 40 liter/kapita per
hari.
3. Masalah Lingkungan Hidup
Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap berlebihannya pemakaian sumber-sumber daya
telah menyebabkan berkembangnya alat-alat yang dapat dipergunakan untuk mengurangi
jumlah pemakaian air di daerah pemukiman.
4. Keberadaan Industri dan Perdagangan
Keberadaan industri dan perdagangan dapat mempengaruhi banyaknya kebutuhan air per
kapita dari suatu kota.
5. Iuran Air dan Meteran
Bila harga air mahal, orang akan lebih menahan diri dalam pemakaian air dan industri mungkin
mengembangkan persediaannya sendiri dengan biaya yang lebih murah. Para langganan yang
jatah air diukur dengan meteran akan cenderung untuk memperbaiki kebocoran-kebocoran dan
mempergunakan air dengan jarang. Pemasangan meteran pada beberapa kelompok masyarakat
telah menurunkan pengguanaan air hingga sebanyak 40 persen.
6. Ukuran Kota
Penggunaan air per kapita pada kelompok masyarakat yang mempunyai jaringan limbah
cenderung untuk lebih tinggi di kota-kota besar daripada di kota kecil. Secara umum, perbedaan
itu diakibatakan oleh lebih besarnya pemakaian oleh industri, lebih banyaknya taman - taman,
lebih banyaknya pemakaian air untuk perdagangan dan barang kali juga lebih
banyak kehilangan dan pemborosan di kota-kota besar. Untuk memproyeksi jumlah kebutuhan
air bersih dapat dilakukan berdasarkan perkiraan kebutuhan air untuk berbagai macam tujuan
ditambah perkiraan kehilangan air. Adapun kebutuhan air untuk berbagai macam tujuan
pada umumnya dapat dibagi dalam :
a. Kebutuhan domestik
- Sambungan rumah
- Sambungan kran umum
b. Kebutuhan non domestik
- Fasilitas sosial (Masjid, panti asuhan, rumah sakit dan sebagainya)
- Fasilitas perdagangan/industri
- Fasilitas perkantoran dan lain-lainnya
Sedangkan kehilangan air dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu :
- Kehilangan air akibat faktor teknis, misalnya kebocoran dari pipa
distribusi
- Kehilangan air akibat faktor non teknis, antara lain sambungan tidak
terdaftar. kerusakan meteran air, untuk kebakaran dan lain-lainnya.
2.3.1 Kebutuhan Domestik
Merupakan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga seperti minum, memasak, mandi, dan
juga kran umum. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkiraan besar kebutuhan air yang
digunakan untuk keperluan domestik adalah ketersediaan air, kebiasaan hidup, perkembangan
sosial ekonomi, perbedaan iklim, jumlah penduduk, pola dan tingkat hidup masyarakat. Jumlah
penduduk suatu kota sangat mempengaruhi kebutuhan air perorangan.
2.3.2 Kebutuhan Non Domestik
Merupakan kebutuhan air bersih selain untuk keperluanrumah tangga dan sambungan kran
umum, seperti penyediaan air bersih untuk perkantoran, perdagangan serta fasilitas sosial
seperti tempat-tempat ibadah, sekolah, hotel, puskesmas, militer serta pelayanan jasa umum
lainnya.
2.3.3 Fluktuasi Kebutuhan Air
Pada umumnya, masyarakat indonesia melakukan aktifitas penggunaan air pada pagi dan sore
hari dengan konsumsi air yang lebih banyak daripada waktuwaktu lainnya. Dari keseluruhan
aktifitas dan konsumsi sehari tersebut dapat diketahui pemakaian rata-rata air. Dengan
memasukkan besarnya faktor kehilangan air ke dalam kebutuhan dasar, maka selanjutnya dapat
disebut sebagai fluktuasi kebutuhan air. Dan di dalam distribusi air minum, tolak ukur yang
digunakan dalam perencanaan maupun evaluasinya adalah kebutuhan air hari maksimum dan
kebutuhan air jam maksimum dengan mengacu pada kebutuhan air rata-rata.
2.3.4 Kehilangan Air
Kehilangan air adalah selisih antara banyaknya air yang disediakan dengan air yang
dikonsumsi. Pada kenyataannya kehilangan air dalam suatu perncanaan sistem distribusi selalu
ada. Kehilangan air tersebut dapat bersifat teknis dan non teknis. Contoh kehilangan air bersifat
teknis adalah kebocoran pada pipa. Sedangkan contoh kehilangan air bersifat non teknis adalah
pencurian air yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab. Dalam merencanakan
distribusi air minum harus memperhitungkan kebocoran dengan maksud agar titik pelayanan
tetap dapat terpenuhi kebutuhan akan air. Kehilangan air memiliki 3 macam pengertian yaitu :
1. Kehilangan Air Rencana
Kehilangan air ini dialokasikan untuk melancarkan operasi dan pemeliharaan fasilitas
penyediaan air bersih. Kehilangan air ini akan diperhitungkan dalam penetapan harga air
dimana biaya akan dibebankan pada konsumen.
2. Kehilangan Air Percuma
Kehilangan air percuma menyangkut aspek penggunaan fasilitas penyediaan air bersih serta
pengelolaannya. Hal ini sangat tidak diharapkan dan harus diusahakan untuk ditekan dengan
cara penggunaan dan pengelolaan fasilitas air bersih secara baik dan benar.
3. Kehilangan Air Insidentil
Kehilangan Air Insidentil adalah kehilangan air diluar kekuasaan manusia, misalnya seperti
bencana alam.
DAFTAR PUSTAKA

Dharmasetiawan, Martin. 1993. Sistem Perpipaan Distribusi Air Minum. Ekamitra : Jakarta

Linsey, Ray K dan Joseph B. Franzini. 1991. Teknik Sumber Daya Air Jilid II Edisi III.
Erlangga : Jakarta