Anda di halaman 1dari 36

Kraniotomi

Di susun oleh
Kelompok 2

Nama-nama anggota :
1. Cut Vera Miranda
2. Novi Purnamasari
3. Rizkia Maulidia
4. Tuah RH Panji Pribadi

Dosen Pembimbing :
Ns. Nurleli, S.Kep.,MNS

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES ACEH


JURUSAN KEPERAWATAN BANDA ACEH
PROGRAM STUDI D-IV KEPERWATAN
2017

1
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penulisan makalah mengenai “Kraniotomi Trepanasi”. Makalah ini disusun untuk
memenuhi mata kuliah Ilmu Bedah II, yang diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai informasi bagi para para pembaca untuk dapat memahami
tentang Kraniotomi Trepanasi.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak memperoleh bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada
dosen pembimbing, yaitu Ibu Ns. Nurleli,S.Kep.,MNS yang telah banyak
memberi arahan sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Kami telah berusaha maksimal dalam penulisan makalah ini. Namun apabila
masih terdapat kelemahan dan kekurangan, itu karena kelemahan dan keterbatasan
ilmu pengetahuan yang kami miliki. Untuk itu kami mengharapkan saran-saran
dan kritikan yang sifatnya membangun dari pembaca sekalian, semoga makalah
ini bermanfaat bagi pembaca semua terutama bagi kelompok kami.
Akhirnya hanya kepada Allah Swt. kami berserah diri, karena tiada satu
yang terjadi kecuali atas kehendak-Nya, semoga Allah Swt. memberikan jalan
yang lurus, Amin.

Banda Aceh, 26 September 2017

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem persarafan terdiri atas otak, medula spinalis, dan saraf perifer.
Struktur ini bertanggung jawab mengendalikan dan menggordinasikan
aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls
tersebut berlangsung melalui serat-serat saraf dan jaras-jaras. Secara langsung
dan terus menerus. Perubahan potensial elektrik menghasilkan respons yang
akan mentransmisikan sinyal-sinyal (Batticaca, F., 2008).
Sistem saraf mengatur kegiatan tubuh yang cepat seperti kontraksi otot,
peristiwa viseral yang berubah dengan cepat, menerima ribuan informasi dari
berbagai organ sensoris dan kemudian mengintegrasikannya untuk
menentukan reaksi yang harus dilakukan tubuh. Membran sel bekerja sebagai
suatu sekat pemisah yang amat efektif dan selektif antara cairan ektraselular
dan cairan intraselular antara cairan ektraselular dan cairan intraselular .
Didalam ruangan ekstra selular ektraselular, disekitar neuron terdapat cairan
dengan kadar ion natrium dan klorida, sedangkan dalam cairan intraselular
terdapat kalium dan protein yang lebih tinggi. Perbedaan komposisi dan kadar
ion-ion didalam dan diluar sel mengakibatkan timbulnya suatu potensial
membran.
Tengkorak adalah tulang kerangka dari kepala yang disusun menjadi dua
bagian cranium (adakalanya disebut kalvaria) terdiri atas delapan tulang, dan
kerangka wajah terdiri atas empat belas tulang. Rongga tengkorak mempunyai
permukaan dalam ditandai dengan gili-gili dan lekukan supaya dapat sesuai
dengan otak dan pembuluh darah ( Pearce, E., 2002 ).
Kemajuan teknologi dan adanya perbaikan prosedur pencitraan dan
teknik pembedahan memungkinkan ahli bedah neuro melokalisasi dan
mengatasi lesi intrakranial dengan ketepatan lebih besar dari pada
sebelumnya. (Cicilia UzuMaki BanGeuD di 20.53, 2011)

3
Tindakan bedah Intrakranial atau disebut juga kraniotomi, merupakan
suatu intervensi dalam kaitannya dengan masalah-masalah pada Intrakranial.
Artinya kraniotomi dilakukan dengan maksud pengambilan sel atau jaringan
intrakranial yang dapat terganggunya fungsi neorologik dan fisiologis manusia
atau dapat juga dilakukan dengan pembedahan yang dimasudkan pembenahan
letak anatomi intrakranial. (Cicilia UzuMaki BanGeuD di 20.53, 2011)
Pada pasien kraniotomi akan terlihat tanda dan gejala berupa pada
penurunan kesadaran, nyeri kepala sebentar kemudian membaik beberapa
waktu kemudian timbul gejala yang berat dan sifatnya progresif seperti: nyeri
kepala hebat, pusing, penurunan kesadaran, pada kepala terdapat hematoma
subkutan, pupil dan isokor, kelemahan respon motorik konta lateral, reflek
hiperaktif atau sangat cepat, bila hematoma semakin meluas maka timbul
gejala deserebrasi dan gangguan tanda vital serta fungsi respirasi ( Brunner &
Suddarth, 2002 ).
Setiap dilakukan tindakan kraniotomi, biasanya pasien selalu lebih
sensitif terhadap suara yang keras. Pada pasien bisa juga terjadi afasia,
kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah paralisis, buta, dan kejang. Pasien
yang tidak mengalami komplikasi, kemungkinan dapat segera keluar dari
rumah sakit. Gangguan kognitif dan bicara setelah operasi memerlukan
evaluasi psikologis, terapi bicara, dan rehabilitasi (Brunner & Suddarth,
2002).
Komplikasi bedah kraniotomi meliputi peningkatan tekanan intraokuler
(TIK), infeksi dan defisit neurologik. Selanjutnya peningkatan TIK dapat
terjadi sebagai akibat edema serebral atau pembengkakan dan diatasi dengan
manitol, diuretik osmotik, Disamping itu pasien juga memerlukan intubasi dan
penggunaan agens paralisis. Infeksi mungkin karena insisi terbuka, pasien
harus mendapat terapi antibiotik dan balutan serta sisi luka harus dipantau
untuk tanda infeksi, peningkatan drainase,bau menyengat,drainase purulen dan
kemerahan serta bengkak sepanjang garis insisi, defisit neurologik dapat
diakibatkan oleh pembedahan. Pada pasca operasi status neurologik pasien

4
dipantau dengan ketat untuk adanya perubahan, apabila tindakan ini tidak
segera dilakukan akan menyebabkan kematian ( Brunner & Suddarth, 2002 ).

B. Tujuan Penulisan
1. Diharapkan mampu memahami definisi kraniotomi
2. Diharapkan mampu memahami etiologi dilakukannya kraniotomi
3. Diharapkan mampu memahami indikasi kraniotomi
4. Diharapkan mampu memahami pemeriksaan diagnostiknya
5. Diharapkan mampu memahami penatalaksanaan medisnya, baik pra,
operasi ataupun post operasi
6. Diharapkan mampu memahami komplikasi dari kraniotomi
7. Diharapkan mampu memahami dan mengaplikasikan asuhan keperawatan
pada pasien post kraniotomi

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Kraniotomi


1. Definisi Kraniotomi
Kraniotomi adalah operasi pembukaan tulang tengkorak. (Barbara
Engram, 1998)
Kraniotomi adalah operasi membuka tulang tengkorak untuk
mengangkat tumor, mengurangi TIK, mengeluarkan bekuan darah atau
menghentikan perdarahan. (Hinchliff, Sue. 1999).
Kraniotomi adalah mencakup pembukaan tengkorak melalui
pembedahan untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial.
Prosedur ini dilakukan untuk meghilangkan tumor, mengurangi tekanan
intakranial, mengevaluasi bekuan darah dan mengontrol hemoeragi
(Brunner & Suddarth, 2002)

B. Anatomi Fisiologi

Kepala
Struktur eksternal
Tengkorak adalah suatu rongga kaku yang terdiri atas delapan
tulang utama yang membungkus dan melindungi otak. Cranium, atau atap

6
tengkorak, terdiri atas tulang frontalis, tulang parietalis kiri dan kanan,
tulang temporalis kanan dan kiri, serta tulang sfenoidalis dan etmoidalis.
Interior tengkorak dibagi menjadi fosa anterior, media dan posterior.
Scalp (kulit kepala) menutupi struktur tulang tengkorak dan terdiri atas
kulit, jaringan lunak, galea dan otot. Pasokan darah ke kulit kepala yang
bervaskularisasi tinggi ini berasal dari arteri karotis eksterna dan terletak
di atas galea.

Struktur Internal
Otak dibagi menjadi tiga bagian utama : serebrum, batang otak,
dan serebelum. Daerah tambahan adalah thalamus, hipotalamus dan
ganglia basalis.
Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri, yang masing-masing
dibagi menjadi lobus : frontalis, parietalis, temporalis dan oksipitalis.
Control fungsi tubuh diperantarai oleh fenomena control kontralateral,
yaitu, sisi kiri otak memperantarai fungsi sisi kanan tubuh dan demikian
sebaliknya. Fungsi dasar lobus korteks adalah :

Fungsi Lobus-Lobus Korteks

Fungsi Lobus
Kepribadian Frontalis
Pemikiran Abstrak Frontalis
Penilaian Frontalis
Gerakan Frontalis
Bicara Frontalis
Penglihatan Oksipitalis
Pendengaran Temporalis
Pengecapan Temporalis
Penghidu Temporalis
Ingatan Temporalis

7
Sentuhan Parietalis
Nyeri Parietalis
Tekanan Parietalis
Emosi Limbik

Batang otak terletak medial terhadap serebrum dan dibagi menjadi


otak tengah(mid brain), pons, dan medula oblongata. Otak tengah terdiri
atas serat-serat saraf yang berjalan dari dan ke serebrum, serebelum dan
medula spinalis. Pons adalah jembatan antara kedua hemisfer serebrum.
Medula oblongata mengandung pusat jantung dan pernafasan, serta pusat
vasomotor dan refleks untuk muntah, batuk, bersin dan menelan. Inti
sepuluh dari dua belas pasang saraf kranialis berasal dari batang otak.
Fungsi saraf kranialis adalah :

Fungsi Saraf-Saraf Kranialis

Nama Asal Fungsi


Olfaktorius (I) Etmoidalis Penghidu
Optikus (II) Retina Penglihatan
Okulomotorius (III) Otak tengah Gerakan mata
Respons pupil
Troklearis (IV) Pons Melihat ke bawah
Trigeminus (V) Pons Mengunyah
Refleks Kornea
Abdusen (VI) Pons Gerakan mata
Fasialis (VII) Medula Pengecapan
Ekspresi wajah
Vestibulokoklearis (VIII) Medula Pendengaran
Keseimbangan
Glossofaringeus (IX) Medula Pengecapan
Kelenjar parotis

8
Vagus (X) Medula Menelan
Otot jantung
Pankreas
Saluran gastrointestinal
Asesorius spinal (XI) Medula Menelan
Berbicara
Gerakan bahu
Hipoglosus (XII) Medula Gerakan lidah

Serebelum terdiri atas dua lobus yang berada langsung dibawah serebrum.
Fungsi utama serebelum adalah membantu pemeliharaan postur dan
keseimbangan, koordinasi gerak halus otot, dan pemeliharaan tonus otot.
Stimulasi terhadap serebelum dapat menimbulkan epilepsy(Sinclair,1991).
Thalamus terletak di bagiaan tengah masing-masing hemisfer serebrum
dan berfungsi sebagai stasiun pemancar bagi impuls-impuls untuk merasakan
suhu, nyeri, tekanan, dan sentuhan.
Hipotalamus terletak di bawah thalamus dan mempengaruhi system saraf
otonom. Hipotalamus mengatur perasaan haus, nafsu makan, suhu, dan
kebutuhan untuk tidur. Hipotalamus juga berperan dalam fungsi
serebrovaskular dan endokrin melalui hubungan dengan hipofisis(pituitary).
Ganglia basalis adalah stasiun pemancar untuk aktivitas motorik. Pengaruh
organ ini pada aktivitas motoric dan postur jelas tampak dalam simtomatologi
penyakit Parkinson, yaitu gangguan ganglia basalis.
Terdapat tiga membrane pembungkus untuk melindungi struktur serta
pembuluh darah dibawah otak. Lapisan table sebelah luar, yang melekat erat ke
periosteum tengkorak, adalah dura mater. Pia mater adalah membrane vascular
halus yang melekat ke otak itu sendiri. Membrane araknoid adalah membrane
impermiabel yang terletak antara duramater dan piamater. Cairan
serebrospinalis (CSS) dibentuk di ventrikel-ventrikel otak dan beredar dalam
ruang antara dura mater dan pia mater. Cairan serebrospinalis berfungsi

9
sebagai bantalan bagi otak, untuk mempertahankan lingkungan eksternal
konstan bagi otak, dan sebagai jalur untuk transportasi obat-obat tertentu.
Cairan serebrospinalis yaitu cairan yang jernih dan tidak berwarna, diproduksi
dengan kecepatan 700 ml/hari, walaupun setiap yang bersirkulasi hanya 150 ml
( Snyder,1991).

Pendarahan
Karena memerlukan pasukan okigen dan zat-zat gizi lain secara terus menerus,
maka otak menerima sekitar 20% dari curah jantung. Darah arteri yang
mengalir kewajah, leher, dan kulit kepala berasal dari arteri karotis eksternal
kanan dan kiri. Arteri karotis internal mendarahi mata dan otak. Sirkulus willis
terletak didasar otak dan menghasilkan beberapa rute sirkulasi ke struktur otak.
Arteri vertebralis bersatu untuk membentuk arteri basilaris, yang bercabang
untuk membentuk arteri serebriposterior. Anastomosis dengan arteri
serebrimedia dan anterior membentuk sirkulus willis. Drainase vena otak
dilakukan melalui sinus vena, yaitu saluran-saluran brdinding tebal yang
dibentuk oleh dura mater. Sinus berhubungan dengan vena jugularis.

C. Tapografi
Mayoritas ahli bedah saraf masih memilih kraniotomi untuk evakuasi
hematoma. Secara umum, ahli bedah lebih memilih melakukan operasi jika
perdarahan intraserebral terletak pada hemisfer nondominan, keadaan pasien
memburuk, dan jika bekuan terletak pada lobus dan superfisial karena lebih
mudah dan kompresi yang lebih besar mungkin dilakukan dengan resiko yang
lebih kecil. Beberapa ahli bedah memilih kraniotomi luas untuk mempermudah
dekompresi eksternal jika terdapat udem serebri yang luas.

10
Gambar 1. Flap lebar tulang kranium pada Hemicraniotomi dan dekompresi
operasi untuk infrak area arteri cerebri media.(14)

Gambar 2. Insisi kulit pada suboksipital kraniotomi dan drainase ventrikular.


A. Insisi Linear. B. Insisi question mark untuk kepentingan kosmetik.(15)

11
D. Etiologi
Etiologi dilakukannya Kraniotomi karena :
a. Adanya benturan kepala yang diam terhadap benda yang sedang bergerak.
Misalnya pukulan-pukulan benda tumpul, kena lemparan benda tumpul.
b. Kepala membentur benda atau objek yang secara relative tidak bergerak.
Misalnya membentur tanah atau mobil.
c. Kombinasi keduanya. (Aca.Erlind_Dolphin di 18.57, 2011)

E. Indikasi
Indikasi tindakan kraniotomi atau pembedahan intrakranial adalah sebagai
berikut :
a. Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor maupun kanker.
b. Mengurangi tekanan intrakranial.
c. Mengevakuasi bekuan darah .
d. Mengontrol bekuan darah,
e. Pembenahan organ-organ intrakranial,
f. Tumor otak,
g. Perdarahan (hemorrage),

12
h. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms)
i. Peradangan dalam otak
j. Trauma pada tengkorak. (Cicilia UzuMaki BanGeuD di 20.53, 2011)

F. Pemeriksaan Diagnostik
Prosedur diagnostik praoperasi dapat meliputi :
a. Tomografi komputer (pemindaian CT)
Untuk menunjukkan lesi dan memperlihatkan derajat edema otak
sekitarnya, ukuran ventrikel, dan perubahan posisinya/pergeseran
jaringan otak, hemoragik.
Catatan : pemeriksaan berulang mungkin diperlukan karena pada
iskemia/infark mungkin tidak terdeteksi dalam 24-72 jam pasca
trauma.
b. Pencitraan resonans magnetik (MRI)
Sama dengan skan CT, dengan tambahan keuntungan pemeriksaan
lesi di potongan lain.
c. Electroencephalogram (EEG)
Untuk memperlihatkan keberadaan atau berkembangnya
gelombang patologis
d. Angiografy Serebral
Menunjukkan kelainan sirkulasi serebral, seperti pergeseran
jaringan otak akibat edema, perdarahan trauma
e. Sinar-X
Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur), pergeseran
struktur dari garis tengah (karena perdarahan,edema), adanya fragmen
tulang
f. Brain Auditory Evoked Respon (BAER) : menentukan fungsi korteks
dan batang otak
g. Positron Emission Tomography (PET) : menunjukkan perubahan
aktivitas metabolisme pada otak

13
h. Fungsi lumbal, CSS : dapat menduga kemungkinan adanya
perdarahan subarakhnoid
i. Gas Darah Artery (GDA) : mengetahui adanya masalah ventilasi atau
oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK
j. Kimia/elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang
berperan dalam meningkatkan TIK/perubahan mental
k. Pemeriksaan toksikologi : mendeteksi obat yang mungkin
bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran
l. Kadar antikonvulsan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui
tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang. (Doenges,
Marilynn.E, 1999)

G. Penatalaksanaan Medis
a. Praoperasi
Persiapan prabedah sama seperti tindakan-tindakan prabedah
yang lain. (Engram, 1998)
Pada penatalaksaan bedah intrakranial praoperasi pasien diterapi
dengan medikasi antikonvulsan (fenitoin) untuk mengurangi resiko
kejang pascaoperasi. Sebelum pembedahan, steroid (deksametason)
dapat diberikan untuk mengurangai edema serebral. Cairan dapat
dibatasi. Agens hiperosmotik (manitol) dan diuretik (furosemid) dapat
diberikan secara intravena segera sebelum dan kadang selama
pembedahan bila pasien cenderung menahan air, yang terjadi pada
individu yang mengalami disfungsi intrakranial. Kateter urinarius
menetap di pasang sebelum pasien dibawa ke ruang operasi untuk
mengalirkan kandung kemih selama pemberian diuretik dan untuk
memungkinkan haluaran urinarius dipantau. Pasien dapat diberikan
antibiotik bila serebral sempat terkontaminasi atau deazepam pada
praoperasi untuk menghilangkan ansietas.
Kulit kepala di cukur segera sebelum pembedahan (biasanya di
ruang operasi) sehingga adanya abrasi superfisial tidak semua

14
mengalami infeksi. (Cicilia UzuMaki BanGeuD di 20.53, 2011).
Biasanya setelah rambut dicukur, tempatkan ke dalam kotak dan
kembalikan pada pasien. (Engram, 1998)
b. Intra Operasi
Secara umum ada dua pendekatan melalui tengkorak yaitu:
1) Di atas tentorium (kraniotomi supratentorial) ke dalam
kompartemen supratentorial
Dalam anatomi, daerah supratentorial otak adalah daerah
yang terletak di atas tentorium cerebelli. Wilayah supratentorial
berisi otak besar.
2) Di bawah tentorium ke dalam kompartemen infratentorial (fossa
posterior).
Daerah infratentorial otak adalah daerah yang terletak di
bawah tentorium cerebelli. Wilayah infratentorial berisi otak kecil.
Dura infratentorial dipersarafi oleh saraf dari C1-C3. (Admin, di
07:29, 2012)

Persiapan alat:

Instrumen kulit kepala

a. Klip kulit kepala hemostatik (Adson, Raney)


b. Alat pemasang klip
c. Alat pencabut klip
d. Retraktor penggaruk tumpul
e. Retraktor yang menahan sendiri tumpul (Weitlaner,
serebelum, mastoid)
f. Retraktor otak yang dapat ditekuk-tekuk
g. Retraktor otak yang menahan sendiri
h. Kait dura

15
Instrumen jaringan lunak

a. Klip handuk
b. Hemostat mosquito
c. Forsep crile
d. Forsep pean
e. Forsep kocher
f. Forsep allis
g. Set pemegang jarum
h. Forsep jaringan, polos, dan bergigi
i. Set gunting, Metzenbaum dan Mayo
j. Forsep bipolar dangan kabel
k. Alat pemasang klip hemostatik dan klip titanium
(memungkinkan pemeriksaan MRI pascaoperatif)
l. Penggaris
m. Kait saraf
n. Retraktor akar saraf
o. Forsep bayoner, polos
p. Forsep Gerald
q. Ujung pengisap fraizer, dengan berbagai ukuran

Instrumen tulang bedah saraf

a. Bur berkecepatan tinggi


b. Bur hudson dan sambungan-sambungannya
c. Gergaji gigli, Pemegang, dan pelindung dura
d. Rongeur, aksi tunggal dan ganda
e. Disektor penfield, no. 1,2,3,dan 4
f. Kuret tulang, lurus dan bengkok
g. Set elevator periosteum
h. Pemisah dura

16
i. Disektor freer
j. Rongeur hipofisis
k. Rongeur kerison

Instrumen pembedahan mikro

Tindakan Pembedahan :

1. Kulit dan galea diinsisi dan hemostatis dicapai dengan


pembedahan listrik dan pemasangan klip kulit kepala
2. Jaringan lunak diangkat dari periosteum, dan dilakukan
retraksi flap kulit kepala. Petugas scrub harus selalu
menghtitung spons radio-opak, yang mungkin teretraksi
bersama kulit kepala.
3. Apabila dibuat sebuah flap tulang bebas, maka otot dan
periosteum disisihkan dari tulang. Dibuat lubang bur di
kranium, dengan menggunakan bur otomatis atau yang
dipegang dengan tangan dengan perforator. Debridemen
lubang bur dilakukan dengan kuret, instrumen gigi,
dan/atau disektor Penfield
4. Tulang dipisahkan antara lubang-lubang bur dengan gergaji
Gigli atau bur otomatis. Flap tulang diangkat menjauhi dura
dengan elevator periosteum, dan tepi-tepinya dihaluskan
dengan rongeur, dan flap diretraksi atau diangkat.
5. Dura dibuka dengan sebuah pengait dura dan gunting serta
diekstensi dengan gunting. Dipasang jahitan traksi di tepi
dura. Vena-vena dura diligasi dengan menggunakan kauter
bipolar. Disusun spons cottonoid sesuai ukuran pada
permukaan resisten cairan dan ditaruh di dalam lapangan
pandang ahli bedah.
6. Dilakukan diseksi otak sampai ke daerah pembedahan, dan
retraktor dipasang.

17
7. Lesi diterapi (lihat masing-masing prosedur).
8. Sebelum ditutup, hemostatis harus benar-benar tercapai
karena rongga tengkorak yang tertutup tidak dapat
mengakomodasi hematom bahkan yang kecil sekalipun.
Dapat dilakukan pemasangan drain secara subdural.
9. Dura dapat ditutup secara primer atau digunakan sebuah
tadur sintetik.
10. Flap tulang diletakkan kembali dan diikat dengan benang
atau kawat pembedahan dengan bantuan protektor dura.
Dapat digunakan metilmetakrilat untuk mengisi defek
lubang bur. Apabila diperkirakan terjadi pembengkakan
yang ekstensif, maka flap mungkin tidak dipasang kembali.
11. Periosteum dan otot-otot kembali didekatkan.
12. Dilakukan penutupan kulit, dan dipasang balutan.

c. Post operasi
1) Tindakan keperawatan post operasi
a) Monitor kesadaran, tanda – tanda vital, CVP, intake
dan out put
b) Observasi dan catat sifat drain (warna, jumlah)
drainage.

18
c) Dalam mengatur dan menggerakkan posisi pasien
harus hati – hati jangan sampai drain tercabut.
d) Perawatan luka operasi secara steril

2) Makanan
Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak
diperkenankan menelan makanan sesudah pembedahan,
makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi adalah
makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein sangat
diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan
vitamin C yang mengandung antioksidan membantu
meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi.
Pembatasan diit yang dilakukan adalah NPO (nothing peroral)
Biasanya makanan baru diberikan jika:
a) Perut tidak kembung
b) Peristaltik usus normal
c) Flatus positif
d) Bowel movement positif
3) Mobilisasi
Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat
tidur agar keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah
terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan perubahan posisi
agar tidak terjadi dekubitus. Pasien yang menjalani
pembedahan abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi
dini
4) P e m e n u h a n k e b u t u h a n e l i m i n a s i
Sistem Perkemihan
a) Control volunteer fungsi perkemihan kembali setelah 6 – 8
jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal Anesthesia, infus IV,
manipulasi operasi → retensio urine.

19
b) Pencegahan : inpeksi, palpasi, perkusi → abdomen bawah
(distensi buli – buli)
c) Dower catheter → kaji warna, jumlah urine, out put urine <30
ml/jam → komplikasi ginjal

System Gastrointestinal
a) Mual muntah → 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama
dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat
meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO
mneingkat
b) Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus
c) Kaji paralitik ileus → suara usus (-), distensi abdomen, tidak
flatus
d) Jumlah warna, konsistensi isi lambung tiap 6 – 8 jam
e) Insersi NGT intra operatif mencegah komplikasi post operatif
dengan decompresi dan drainase lambung
f)Meningkatkan istirahat.
g)Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
h)Memonitor perdarahan.
i)Mencegah obstruksi usus.
j)Irigasi atau pemberian obat.

H. Komplikasi
Kraniotomi dapat menyebabkan keadaan-keadaan ini :
a. Peningkatan TIK yang disebabkan oleh edema serebral
b. Cedera terhadap saraf kranial
c. Kejang karena gangguan kortikal
d. Infeksi (meningitis). (Engram, 1998)

I. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Pasien Kraniotomi


Rencana Perawatan terintegrasi

20
 Perawatan praoperasi dan pascaoperasi
 Epilepsi
 Imobilitas

Pertimbangan pulang
 Perawatan lanjutan dirumah
 Tindakan rehabilitatif untuk dilanjutkan di rumah
 Obat- obatan untuk di rumah

PENGKAJIAN
1. Periode Praoperasi
Pengkajian data dasar :
a. Riwayat adanya kondisi- kondisi yang berkenaan dengan kebutuhan
untuk kraniotomi.
1) Lesi intrakranial (tumor, abses, perdarahan, aneurisma)
2) Hidrosefalus
3) Fraktur tengkorak
4) Malfungsi arterovenous kongenital
b. Pengkajian Status Neurologis Cepat
1) Tingkat kesadaran (berdasarkan skala koma glaslow)
2) Tanda-tanda vital
3) Respon pupil (SK III)
4) Kekuatan
5) Gerakan ekstrimitas
6) Refleks babinski
7) Saraf cranial (+)(-)
c. Pemeriksaan umum untuk mendapatkan data dasar.
1. Kaji tingkat kesadaran. Apakah pasien :
a) Sadar
b) Disorientasi

21
c) Orientasi
d) Stupor
e) Letargik
f) Koma
g) Semisadar
h) Kacau mental
2. Inspeksi warna kulit dan perhatikan adanya bengkak.
3. Rasakan kulit terhadap perubahan suhu dan kelembaban. Apakah
hangat, kering, dingin, atau lembab?
4. Auskultasi bunyi napas.
5. Auskultasi bunyi jantung. Adakah murmur?
6. Auskultasi bising usus.
7. Dapatkan tanda vital.
8. Palpasi nadi perifer (femoralis, pedalis). Apakah nadi ada dan sama
dalam kekuatan atau tak dapat diraba? Gunakan alat Doppler bila
tak dapat mempalpasi nadi.
9. Inspeksi kontur abdomen. Apakah ini melingkar, datar, atau
distensi?
10. Kapan defekasi terakhir? Adakah kesulitan berkemih?
11. Kaji kebutuhan pasien teerhadap bantuan terhadap aktivitas
kebutuhan sehari-hari (mandi, makan, toileting, berpakaian,
membalik di tempat tidur, turun dari tempat tidur, ambulasi).
d. Bila pasien sadar, kaji perasaan terhadap operasi yang akan dilakukan.

2. Periode Post operasi


Pengkajian data dasar :
a. Pengkajian pasca operasi rutin.
1) Kaji tingkat kesadaran :
a) Waspada
b) Berorientasi
c) Kacau mental

22
d) Disorientasi
e) Letargi
f) Berespons dengan tepat terhadap perintah
g) Tak berespons
2) Ukur tanda-tanda vital
3) Auskultasi bunyi napas
4) Kaji kulit :
a) Warna
b) Bengkak
c) Suhu (hangat, kering, dingin, lembab)
5) Inspeksi status balutan
6) Kaji terhadap nyeri atau mual
7) Kaji status alat intrusif :
a) Infus intravena
 Tipe cairan
 Kecepatan aliran
 Sisi infus terhadap tanda-tanda infiltrasi atau flebitis
b) Alat drainase luka (Hemovac, kantung Jackson-Pratt). Jamin
alat benar-benar kempes untuk menjamin penghisapan yang
tepat
c) Kateter Foley
 Selang bebas lipatan
 Warna dan jumlah urine
 Selang dirempelkan pada paha atau abdomen (untuk pria)
d) Selang NG untuk penghisapan
 Warna dan jumlah drainase
e) Selang dada
8) Periksa laporan ruang pemulihan terhadap :
 Adanya obat yang diberikan
 Masukan dan haluaran urine
 Adanya masalah khusus

23
 Perkiraan kehilangan darah
9) Palpasi nadi pedalis secara bilateral
10) Evaluasi kembalinya gag
11) Periksa laporan operasi terhadap tipe anestesi yang diberikan dan
lamanya waktu di bawah anestesi.
b. Pengkajian status neurologis cepat (seperti yang tertera di halaman
sebelumnya)

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
Praoperasi:
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang hal – hal yang
terjadi pra- dan pascabedah, takut terhadap kemungkinan gangguan fungsi
tubuh permanen.
Post operasi:
2. Nyeri berhubungan dengan luka insisi.
3. Resiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan kraniotomi
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pembedahan
5. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan mandiri
setelah pulang, kurang adekuatnya sistem dukungan.

RENCANA KEPERAWATAN
1. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang hal – hal yang
terjadi pra- dan pascabedah, takut terhadap kemungkinan gangguan fungsi
tubuh permanen.
a) Batasan karakteristik : keluhan/ laporan individu merasa gugup, cemas,
atau khawatir; ungkapan pemahaman
b) Hasil yang diharapkan : menunjukkan pulihdari rasa cemas.

24
c) Kriteria evaluasi : mengungkapkan pemahamannya tentang hal – hal
yang terjadi pada pra- dan pasca bedah, mengatakan rasa gugupnya
berkurang
INTERVENSI RASIONAL
1. Izinkan pasien dan keluarga Dengan mengungkapkan perasaannya
untuk mengatakan perasaannya. dapat membantu mengurangi ansietas
Berikan penjelasan terhadap
pertanyaan – pertanyaannya.
Rujuk pertanyaan – pertanyaan
khusus tentang pembedahan
pada ahli bedah. Jelaskan
bahwa kemungkinan terjadinya
ketidakmampuan tergantung
dari kuantitas kerusakan
jaringan otak oleh lesi primer
dan cedera dan jumlah jaringan
yang diangkat.

2. Tanyakan pada pasien bila Rambut dapat mempunyai makna


rambut yang dicukur dari kultural. Kepala yang gundul dapad
kepalanya akan disimpan.tandai mempengaruhi gambaran diri
kartu dengan permintaan pasien. berkenaan dengan hargs diri rendah.
Sarankan untuk mengenakan Peran perawat yang penting pada saat
rambut palsu atau penutup tindakan medik menyebabkan
kepala sampai rambutnya gangguan pada gambaran diri adalah
tumbuh kembali membantu pasien untuk
mengembalikan harga dirinya.
3. Latih pasien untuk berubah Penyuluhan dan latihan pra- bedah
posisi dan napas dalam. membantu kelancaran pemulihan.
Informasikan bahwa batuk harus

25
dihindari karena akan
menyebabkan kenaikan
sementara tekanan intrakranial.

2. Nyeri berhubungan dengan luka insisi.


a) Batasan Karakteristik : mengungkapkan sakit kepala, merintih,
adanya nyeri tekan, ekspresi wajah meringis.
b) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, rasa nyeri
dapat teratasi atau tertangani dengan baik.
c) Kriteria Evaluasi : Pasien dapat menjalani aktivitas tanpa
merasa nyeri, ekspresi wajah rileks, klien mendemonstrasikan
ketidaknyamanannya hilang.

INTERVENSI RASIONAL
1. kaji keluhan nyeri dan intensitas nyeri merupakan pengalaman
nyeri dengan skala numerik (0 – subjektif dan harus dijelaskan oleh
10) pasien, untuk memudahkan intervensi
yang cocok dan untuk mengevaluasi
keefektifan dari terapi yang diberikan
lebih
2. posisikan kepala tinggi meningkatkan aliran balik vena dari
kepala, sehingga akan mengurangi
kongesti dan edema
3. ajarkan tehnik distraksi dan mengalihkan pikiran dan memberikan
relaksasi rasa nyaman
4. berikan perawatan luka (ganti mencegah terjadinya infeksi
balutan) dengan tehnik steril
5. kolaborasi dengan tim medis memberikan obat anti nyeri yang
untuk obat anti nyeri berguna untuk mengurangi rasa nyeri
3. Resiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan kraniotomi

26
a) Batasan karakteristik : tanda – tanda dini meningkatnya tekanan
intrakranial, kejang dan infeksi
b) Hasil pasien (kolaboratif) : Menunjukkan tidak ada gangguan
neurologis kebih lanjut
c) Kriteria evaluasi : Tidak ada tanda- tanda meningkatnya tekanan
intrakranial, kejang dan infeksi; pulang dalam RLP pada KDB

INTERVENSI RASIONAL
Peningkatan TIK :
1. Pantau : Untuk mengevaluasi efektifitas
 Status neurologis. Setiap 2 jam terapi
dalam 48 jam pertama.
Kemudian setiap 4 jam bila
stabil.
 Masukan dan haluaran setiap 2
jam dalam 48 jam pertama,
kemudian setiap 8 jam bila
haluan urine melebihi 240 cc/ 8
jam.
 Ukur berat jenis urine setiap 4
jam dan kalau perlu, khususnya
bila warna urine jauh melebihi
masukan cairan.
2. Pertahankan posisi kepalatempat Untuk mencegah peningkatan
tidur antara 30-40 derajat. Bantal tekanan intracranial
kecil dapat ditempatkan di bawah
kepala.
3. Beritahu dokter bila ada tanda- Tindakan yang cepat diperlukan
tanda peningkatan tekanan untuk mengatasi tekanan.
intrakranial dan lakukan tindakan Pernapasan dapat terhenti jika

27
sesuai program meningkatnya tekanan intrakranial
tidak diatasi.
4. Berikan glukokortikosteroid sesuai Untuk mengurangi tekanan
program. intrakranial dengan diuresis.
5. Lakukan tindakan – tindakan untuk Batuk, mengejan dan muntah
mencegah peningkatan tekanan merangsang manuver valsava.
intrakranial : Manuver valsava meningkatkan
a. Ingatkan pasien untuk tekanan intratorakal yang
menghindari batuk mengakibatkan darah kembali
b. Berikan pelunak feses sesuai keotakkarena kompresi jaringan
program dan evaluasi vana sentral.bendungan vena – vena
efektivitasnya. ini meningkatkan tekanan
c. Erikan antimetik sesuai intrakranial.
program bila pasien mengeluh
mual.
d. Pertahankan selang nasogastrik,
bila digunakan, untuk
mengurasi kompresi pada
lambung dan mengurangi
kemungkinan muntah.
6. Beritahu dokter bila berat jenis Temuan ini dapat merupakan
urine berlebihandalam indikasi diabetes insipidus,
hubungannya dengan masukan mencerminkan adanya cedera pada
cairan. kelenjar hipofisis.
7. Beritahu dokter bila ada perubahan Akibat gangguan neurologis residual
bila ada perubahan dalam status tidak disadari sampai edema serebral
neurologis yang berbeda dari nilai teratasi. Peningkatan tekanan
normal. intrakranial dapat menyebabkan
gangguan neurologis lebih lanjut.

28
Kejang
1. Berikan anti konvulsan sesuai Untuk mengontrol kejang, anti
program. Pantau hasil pemeriksaan konvulsan menyebabkan depresi
laboraturium yang mencerminkan aktivitas listrik otak. Kadar
kadar antikonvulsan di dalam serum. antikonvulsan di dalam darah
bervariasi. Kadar yang cukup
sangat penting untuk
mempertahankan kondisi agar
tidak terjadi kejang.
2. Segera beritahu dokter bila terjadi Edema serebral terjadi akibat
kejang, dan lakukan intervensi meningkatnya tekanan
secara tepat. intrakranial, dan iritasi
meningkat dapat merangsang
kejang.
Infeksi ( meningitis)
1. Pantau : Untuk mengevaluai efektifitas
 Tanda-tanda vital setisp jsm terapi.
sampai stabil, kemudian setiap 2
jam dalam 48 jam berikutnya,
kemudian setiap 4 jam.
 Status neurologi setiap 2 jam
dalakm 48 jam, kemudian setiap
4 jam selama 48 jam berikutnya,
kemudian setiap 8 jam.
2. Beritahu dokter bila: Temuan- temuan ini secara
 Ada keluhan kaku kuduk bersama-sama dapat merupakan
 Sakit kepala tanda-tanda meningitis. Dokter
 Gelisah kemungkinan akan melakukan

 Penurunan sensori pungsi lumbal untuk memastikan

 Demam diagnosis. Pengobatan

29
antibiotiksecara tepat dibutuhkan
untuk mengatasi infeksi.
3. Berikan antibiotik sesuaio program. Sebagai pencegahan terhadap
infeksi.
4. Lakukan tindakan-tindakan untuk Antipiretik menyesuasikan
mengatasi demam ( suhu melebihi kembali termostat tibuh.
38c) sesuai program: Sirkulasi darah lebih cepat bila
 Antipiretik kekentalan kurang. Sirkulasi
 Meningkatkan masukan cairan meningkatkan kapasitas
 Antibiotik pendinginan tubuh. Antibiotik

 Selimut hipotermi (untuk suhu mengatasi infeksi. Pendinginan


tubuh yang tetap tinggi dan tidak tubuh melalui evaporasi

turun dengan pemberian terapi) dipercepar dengan menggunakan

 Gunakan linen penutup selimut hipotermi dan dengan


mengurangi penutup tubuh yang
tebal.
5. Ikuti kewaspadaan umum (cuci Pembedahan melemahkan sistem
tangan sebelum dan esudah kontak kekebalan sementara,
dengan pasien, gunakan sarung menyebabkan seseorang lebih
tangan bila kemungkinan akan rentan terhadap infeksi.pelaksana
kontak dengan darah atau cairan asuhan paling sering merupakan
tubuh) bila melakukan asuhan. sumber infeksi.
Gunakan teknik aseptik untuk semua
prosedur perawatan luka.

4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pembedahan


a) Batasan Karakteristik : Menunjukkan manifestasi awal komplikasi,
pengamatan insisi pasca-pembedahan.
b) Hasil Pasien (Kolaboratif) : Mendemonstrasikan tidak adanya
komplikasi.

30
c) Kriteria Evaluasi : Tidak ada infeksi, bunyi napas bersih, tidak ada
perdarahan, penyembuhan luka, pembebasan dengan RLP untuk KDB.

INTERVENSI RASIONAL

Infeksi :

1. Pantau Untuk mengidentifikasi kemajuan


– suhu badan setiap 4 jam atau penyimpangan dari hasil yang
– keadaan luka ketika melakukan diharapkan.
perawatan luka
– hasil laporan JDL terutama jumlah
leukosit (terutama SDP)

2. Jika suhu meningkat hingga 36,85oC Suhu di atas normal dalam waktu
selama 48 jam, mulailah 8 jam pertama mengindikasikan
memperhatikan paru-paru tiap jam dan permulaan atelectasis, oleh
menambah intake cairan melalui mulut, karenanya setelah hari ke 5
jika tidak ada kontraindikasi. Beritahu pascaoperasi mengindikasikan
dokter jika suhu di atas 38oC. infeksi luka atau infeksi lain.
Demam terjadi pada suhu 38oC
atau lebih.

3. Berikan antibiotik yang diresepkan. Terapi antibiotic diperlukan untuk


Berikan paling sedikit 2 liter cairan mencegah dan mengatasi infeksi.
setiap hari ketika melaksanakan terapi Cairan membantu menyebarkan
antibiotic. obat ke jaringan tubuh.

4. Ganti verban sesuai aturan dengan Verban yang lembab merupakan


menggunakan teknik aseptic. media kultur untuk pertumbuhan
bakteri. Dengan mengikuti teknik
aseptic akan mengurangi risiko
kontaminasi bakteri.

5. Beritahu dokter jika : luka tampak Keadaan tersebut mengindi-


merah dan bernanah, pemisahan ujung kasikan infeksi organisme yang

31
luka, luka sangat lembek, jumlah menyebabkan infeksi sehingga
leukosit di atas normal, ambl contoh ditentukan terapi antibiotic yang
luka untuk tes kultur dan sentivitas (K tepat. Laporan tentang sensitivitas
& S) akan mengidentifikasi antibiotic
yang efektif melawan organisme
tersebut.

6. Berikan antipiretik yang ditentukan jika Antipiretik memperbaiki


terdapat demam. mekanisme termostatik dalam otak
untuk mengatasi demam.

7. Berikan perawatan perineal 2 kali Membersihkan bagian genital


sehari sesuai protocol dan prosedur membantu mengurangi jumlah
ketika kateter Foley dipasang. Setelah bakteri yang lewat. Kerusakkan
kateter dilepas, laporkan masalah saluran kencing dan infeksi adalah
berkemih (terbakar, sakit ke luar masalah utama yang berhubungan
sedikit, dorongan sering dengan jumlah dengan kateter menetap dalam
yang sedikit). kandung kemih.

8. Jika harus sering mengganti verban, Untuk mencegah iritasi kulit


gunakan perekat Montgomery. karena sering melepas plester.

9. Ikuti tindakan-tindakan kewaspadaan Pasien bedah mempunyai risiko


yang umum (cuci tangan yang baik infeksi karena ketega-ngan
sebelum dan setelah merawat pasien, melemahkan sistem kekebalan.
memakai sarung tangan bila menyentuh Tindakan perlin-dungan khusus
darah atau cairan tubuh) ketika merawat membantu mengurangi risiko
pasien. infeksi nosocomial. Perawat
adalah sumber infeksi nosocomial
yang paling umum. Tindakan
pencegahan tersebut melin-dungi
pasien dan perawat.

32
5. Resiko tinggi terhadap kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan di rumah
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan mandiri
setelah pulang, kurang adekuatnya sistem dukungan.
a) Batasan karakteristik : kemungkinan adanya sisa gangguan sensori /
motorik tetap hidup sendiri, ungkapan kurangnya pemahaman,
meminta informasi, keluarga mengungkapkan ketidakmampuannya
untuk merawat karena keterbatasan fisik atau finansial.
b) Hasil pasien (kolaboratif) : mendemonstrasikan keinginan untuk
memenuhi rencanan rehabilitatif.
c) Kriteria evaluasi : pasien atau keluarga mengungkapkan kepuasannya
akan rencana pulang.

INTERVENSI RASIONAL
1. Libatkan pasien dan keluarga dalam Melakukan aktivitas sehari-hari
AKS. Mulai dengan tugas-tugas acara mandiri meningkatkan
sederhana seperti mencuci/ kelenturan sendi, dan membantu
mengelap muka, sikat gigi dan mempertahankan harga diri.
sebaginya .bantu dalam melakukan
kebersihan diri, defekasi, makan
ambulasi sampai individu dapat
melakukannya sendiri.
2. Evaluasi tingkat pemahaman dan Rencanan perawatan di rumah
kemampuan mengikuti instruksi penting untuk menjamin
serta melakukan aktivitas mandiri. kelangsungan perawatan guna
Diskusikan dengan pasien dan membantu pasien memperoleh
keluarganya tentang pengaturan kembali fungsi optimalnya.
kesinambungan asuhan perawatan
dirumah. Bila pasien mengalami
gangguan neurologis, hubungi
institusi pelayanan rehabilitasi yang

33
mempunyai spesialisasi tertentu
(terapi fisik, terapi okupasi, terapi
wicara). Konsultasi dengan pekerja
sosial atau bagian yang menangani
pemulangan pasien untuk mengatur
pelayanan perawatan di rumah atau
menempatkannya di panti
rehabilitasi sesuai dengan pilihan
pasien atau keluarganya.

34
BAB III

KESIMPULAN

Kraniotomi adalah mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan


untuk meningkatkan akses pada struktur intrakranial. Prosedur ini dilakukan untuk
meghilangkan tumor, mengurangi tekanan intakranial, mengevaluasi bekuan darah
dan mengontrol hemoeragi. Etiologi dilakukannya kraniotomi bisa karena adanya
benturan kepala yang hebat. Dan untuk indikasi tindakan kraniotomi atau
pembedahan intrakranial yaitu pengangkatan jaringan abnormal baik tumor
maupun kanker, mengurangi tekanan intrakranial, mengevakuasi bekuan darah,
mengontrol bekuan darah, pembedahan organ-organ intrakranial, perdarahan
(hemorrage), kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms), peradangan
dalam otak, trauma pada tengkorak.
Sebelum melakukan tindakan kraniotomi, ada pemeriksaan terlebih dahulu
(pemeriksaan umum, pengkajian neurologis, pemeriksaan diagnostic) sebagai
acuan dasar dan sesuai prosedur. Dan dalam melakukan pembedahan intracranial
(kraniotomi), ada hal-hal yang harus diperhatikan, baik periode pra operasi
ataupun post operasi.

35
DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan


Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika

Brunner, L dan Suddarth, D. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah (H.
Kuncara, A. Hartono, M. Ester, Y. Asih, Terjemahan). (Ed.8) Vol 1. Jakarta :
EGC

Doenges Marlyn E, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Untuk Perencanaan dan


Pendokumentasian Perawatan Pasien, (Edisi 3),(Alih Bahasa 1 Made
Kriase). Jakarta: EGC

Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, (Volume


2), (Alih Bahasa Suharyati Samba). Jakarta : EGC

Gruendemann, Barbara J. 2006. Keperawatan Perioperatif. Jakarta : EGC

Pearce, C. Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedic. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama

36