Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya (smeltzer, 2002).
Fraktur atau patahan tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (sjamsuhidayat, 2005).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya di sebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (price,
1995).
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (reeves, 2001).
Berdasarkan batasan diatas dapat disimpulkan bahwa, fraktur adalah
terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya
disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang di tentukan jenis dan
luasnya.
Fraktur terbuka adalah diskontinuitas struktur tulang yang mempunyai
hubungan dengan lingkungan luar melalui sebuah luka. Fraktur terbuka berhubungan
dengan risiko infeksi yang tinggi akibat kontaminasi luka yang terjadi pada saat
trauma. Oleh karena itu, selain penyembuhan dari fraktur dan mengembalikan fungsi
ekstremitas, tujuan penanganan dari fraktur terbuka yang penting adalah adalah
pencegahan infeksi (Gustilo, 1990).
Kurang lebih 30% dari pasien dengan fraktur terbuka disertai dengan multiple-
system injuries. Oleh karena itu, permasalahan yang mengancam nyawa harus
diketahui dan ditangani sebelum penanganan operatif dari fraktur dimulai (Solomon,
2001).

B. Etiologi
Fraktur disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak,
dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Smeltzer, 2002).
Umumnya fraktur disebabkan oleh:
1. Trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang
2. Fraktur cendrung terjadi pada laki-laki, biasanya fraktur terjadi pada umur di
bawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka
yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor.
3. Sedangkan pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur dari pada
laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang
terkait dengan perubahan hormon pada menopouse (Reeves, 2001).

1
C. Klasifikasi fraktur
Menurut Gustilo, fraktur terbuka dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok
besar berdasarkan mekanisme cedera, derajat kerusakan jaringan lunak, konfigurasi
dari fraktur itu sendiri, dan derajat kontaminasi luka. Sehingga insiden infeksi luka,
delayed-union dan non-union, amputasi, dan kecacatan fungsi ekstremitas sangat
dipengaruhi oleh tipe fraktur.
1. Fraktur terbuka tipe 1, luka yang menghubungkan fraktur dengan
lingkungan luar berukuran kurang dari 1 cm, pada umumnya berupa
beberapa luka tusuk yang relatif bersih akibat tusukan frakgmen tulang
yang tajam melalui kulit. Kerusakan jaringan lunak pada tipe 1 ini ringan
dan tidak ditemukan tanda-tanda crush injury.
2. Fraktur tipe II, luka berukuran lebih dari 1 cm tanpa disertai degan
kerusakan jaringan lunak yang luas, flap, maupun avulsi. Pada tipe ini juga
ditemukan tanda-tanda crush injury ringan hingga sedang, dengan
kontaminasi menengah.
3. Fraktur tipe III di tandai dengan kerusakan jaringan lunak yang luas,
meliputi otot, kulit, dan struktur neurovaskuler.
Fraktur terbuka pada tipe ini dapat di bagi menjadi tiga sub tipe:
a. Pada tipe IIIA, fragmen fraktur masih di bungkus oleh jaringan lunak
dan fraktur kominutif atau segemental.
b. Fraktur terbuka tipe IIIB ditandai dengan kerusakan jaringan lunak
yang hebat, sehingga periosteum fragmen fraktur terkelupas dari
korteksnya yang berakibat tulang terlihat jelas (bone expose). Setelah
dilakukan debridement dan irigasi, segmen tulang masih terekspos dan
membutuhkan flap untuk menutupinya
c. Fraktur terbuka tipe IIIC adalah fraktur terbuka tipe III yang selalu
disertai cidera arteri yang memerlukan tindakan penyambungan
(repair) agar kehidupan bagian distal dari fraktur tersebut dapat
terjamin.

D. Derajat patah tulang terbuka


Secara klinis patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat (pusponegoro
A.D., 2007), yaitu:
1. Derajat I : Terdapat luka tembus kecil seujung jarum, luka ini di dapat
dari tusukan fragmen-fragmen tulang dari dalam.
2. Derajat II : Luka lebih besar disertai dengan kerusakan kulit subkutis.
Kadang-kadang di temukan adanya benda-benda asing di sekitar luka.
3. Derajat III : Luka lebih besar di bandingkan dengan luka pada derajat II.
Kerusakan lebih hebat karena sampai mengenai tendon dan otot-otot saraf
tepi.

2
Derajat Luka Fraktur
I Laserasi < 2 cm Sederhana
Laserasi < 1 cm, dengan luka Dislokasi
bersih Fragmen minimal
II Laserasi > 2 cm, kontusi otot Dislokasi
Di sekitarnya Fragmen jelas
Luka lebar Komunitif
III Rusak hebat atau hilangnya Segmental
jaringan di sekitarnya, Fragmen tulang ada yang hilang
terkontaminasi

Fraktur kominutif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa bagian
serpihan-serpihan di mana terdapat lebih dari dua fragmen tulang. Sementara fraktur
segmental adalah dua fraktur berdekatan pada suatu tulang yang menyebabakan
terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya. Untuk fraktur yang tidak sempurna,
dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok dan sering terjadi
pada anak-anak, dinamakan fraktur greenstick.

Fraktur yang di tandai dengan tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendon
pada perlekatannya disebut fraktur avulsi. Fraktur patologis adalah fraktur yang terjadi
pada daerah tulang yang berpenyakit karena terjadinya penurunan densitas tulang
seperti kista tulang, penyakit piaget, matastasis tulang dan tumor.

3
PATHWAY

Etiologi

Trauma (langsung atau tidak langsung), patologi

Fraktur (terbuka atau tertutup)

Kehilangan integritas tulang Perubahan fragmen tulang Fraktur terbuka ujung tulang
kerusakan pada jaringan dan menembus otot dan kulit
pembuluh darah

Luka
Ketidakstabilan posisi
Perdarahan lokal
fraktur, apabila organ fraktur
digerakkan
Gangguan
Hematoma pada daerah fraktur
integritas kulit
Fragmen tulang yang patah
menusuk organ sekitar
Kuman mudah masuk
Aliran darah ke daerah distal
berkurang atau terhambat
Gangguan rasa
nyaman nyeri Resiko tinggi
(warna jaringan pucat, nadi infeksi
lemas, cianosis, kesemutan)

Sindroma kompartemen
keterbatasan aktifitas
Kerusakan neuromuskuler
Defisit perawatan diri
Gangguan fungsi organ distal

Gangguan mobilitas fisik

4
E. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas , pemendekan
ekstremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna (Smeltzer, 2002).
Gejala umum fraktur menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit, pembengkakan,
kelainan bentuk.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang di
rancang untuk meminimalkan gerakan antarfragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat di gunakan dan cendrung
bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti
normalnya. Pergeseran fragmen pada tulang lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa di ketahui dengan
membandingkan ekstremitas normal. Ekstremitas tak dapat berfungsi dengan baik
karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya
otot.
3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontaksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering
saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2 inchi)
4. Saat ekstremitas di periksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan
krepitus yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya. Uji
krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah
bebrapa jam atau hari setelah cedera.

F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan kegawatdaruratan
Bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk melakukan imobilisasi bagian
tubuh segera sebelum klien dipindahkan. Bila klien mengalami cedera sebelum
dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas sampai bawah
tempat pertahanan untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Pembidaian
sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.
Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan timbulnya rasa nyeri,
kerusakan jaringan lunak, dan perdarahan lebih lanjut. Luka ditutup dengan
pembalut steril (bersih) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam
pada luka terbuka.
Pertolongan pertama pada penderita patah tulang di luar rumah sakit adalah
sebagai berikut.
a. Jalan napas
Bila penderita tak sadar, jalan napas dapat tersumbat karena lidahnya sendiri
yang jatuh kedalam faring, sehingga menutup jalan napas atau adanya
sumbatan oleh lendir, darah, muntahan atau benda asing. Untuk mengatasi
keadaan ini, pemderita dimiringkan sampai tengkurap. Rahang dan lidah di
tarik ke depan dan bersihkan faring dengan jari-jari.

5
b. Perdarahan pada luka
Pada fraktur terbuka langsung lakukan balut tekan caranya dengan meletakkan
kain yang bersih (kalau bisa steril) yang cukup tebal dan dilakukan penekanan
dengan tangan atau di balut denganverban yang cukup menekan.

c. Syok
Pada suatu kecelakaan kebanyakan syok yang terjadi adalah syok hemoragik.
Syok bisa terjadi bila orang kehilangan darahnya kurang lebih 30% dari
volume darahnya. Pada fraktur femur tertutup orang dapat kehilangan darah
1000-1500 cc.
4 tanda syok yang dapat terjadi setelah trauma adalah sebagai berikut:
1. Denyut nadi lebih dari 100 x/menit
2. Tekanan sistolik kurang dari 100 mmHg
3. Wajah dan kuku menjadi pucat atau sianosis
4. Kulit tangan dan kaki dingin

Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi syok karena perdarahan adalah


diberikan darah (transfusi darah).

d. Fraktur dan dislokasi


 Fraktur dan dislokasi dari anggota gerak harus dilakukan imobilisasi
sebelum penderita di bawa ke rumah sakit. Gunakan bidai untuk
imobilisasi atau mengurangi sakit juga dapat mencegah kerusakan
jaringan lunak yang lebih parah.
 Pada fraktur/dislokasi servikal dapat di berikan collar neck atau gulungan
kain tebal tau dapat juga menggunakan bantalan pasir yang di letakkan di
sebelah kanan dan kiri kepala.
 Pada tulang belakang cukup diletakkan di atas keras.
 Fraktur/dislokasi di daerah bahu atau lengan atas cukup di berikan sling
(mitella).
 Lengan bawah dapat di pakai papan dan bantalan kapas.
 Fraktur femur atau dislokasi sendi panggul dapat di pakai thomas splint
atau papan panjang si pasang dari aksila sampai pedis dan difiksasi
dengan tungkai sebelah yang normal.
 Fraktur tungkai bawah dan lutut dapat di pakai papan ditambahkan
bantalan kapas dari pangkal paha sampai pedis.
 Trauma di daerah pedis dapat di pakai bantalan pedis.

2. Penatalaksanaan fraktur terbuka


Patah tulang terbuka memerlukan pertolongan segera. Penundaan waktu dalam
memberikan pertolongan akan mengakibatkan komplikasi infeksi karena adanya
pemaparan dari lingkungan luar. Waktu yang optimal untuk melaksanakan
tindakan sebelum 6-7 jam sejak kecelakaan, disebut golden period.

6
Salah satu tindakan untuk fraktur terbuka yaitu:
1. Pembersihan luka
Kontaminan yang dapat berupa tanah, material pakaian, maupun material
lainnya harus diirigasi dengan larutan saline dalam jumlah besar. Material
yang masih menempel setelah irigasi harus diambil hingga bersih.
2. Debridement
Jaringan yang telah kehilangan suplai darah dapat menghambat proses
penyembuhan luka dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman.
Oleh karena itu, jaringan yang sudah mati seperti kulit, lemak subkutan, fasia,
otot, dan fragmen tulang yang kecil harus dieksisi. Disarankan untuk
mengambil bahan hapusan untuk kultur kuman pada tahap ini. Beberapa
prinsip yang harus di perhatikan dalam tahap ini antara lain:
a. Eksisi tepi luka. Tapi luka dieksisi hingga tepi kulit yang sehat.
b. Ekstensi luka. Pembersihan luka yang baik membutuhkan pemaparan yang
adekuat. Perlu diberhentikan dalam membuat ekstensi luka agar tidak
mengganggu rencana pembuatan flap untuk penutupan luka lebih lanjut.
c. Pembersihan luka. Semua benda asing arus disingkirkan dari luka. Larutan
saline dalam jumlah besar digunakan untuk mengirigasi luka. Hindari
memasukkan cairan irigasi melalui sebuah lubang kecil karena dapat
mendorong benda asing lebih dalam.
d. Pembuangan jaringan mati. Jaringan otot yang sudah mati harus dapat di
kenali, ciri-cirinya antara lain warna keunguan dengan konsistensi lembek,
otot gagal berkontraksi saat diberikan stimulus, dan tidak berdarah saat
dipotong.
e. Saraf dan tendon. Secara umum otot dan tendon yang terpotong dibiarkan
begitu saja tanpa dimanipulasi hingga luka benar-benar bersih dan tenaga
yang ahli tersedia, maka saraf dan tendon tersebut di sambungkan kembali.
3. Penanganan fraktur
Pada luka derajat I dengan luka yang kecil, fraktur dapat direduksi
secara tertutup setelah luka dibersihkan, debridement, dan di biarkan terbuka.
Pada derajat II, luka lebih besar dan bila dipaksakan menutup luka secara
primer akan terjadi tegangan kulit, sehingga mengganggu sirkulasi bagian
distal. Sebaiknya luka di biarkan terbuka dan ditutup setelah 5-6 hari (delayed
primary suture).
Untuk fiksasi tulang pada derajat II dan III paling baik menggunakan fiksasi
skeletal. Secara umum fiksasi internal dapat digunakan bila tidak
menyebabkan trauma lebih lanjut dan meningkatkan resiko infeksi (salter,
1999).
4. Penutupan luka
Bahkan bila kasus fraktur terbuka mendapat penanganan dalam 6-7 jam
pertama dan dengan kontaminasi minimal, immediet primary closure
merupakan suatu kontraindikasi. Setelah 4-7 hari, bila tidak di dapatkan tanda-
tanda infeksi dapat dilakukan delayed primary closure. Penumpukan darah dan

7
serum di dasar luka dapat di cegah dengan membuat drainase luka yang baik
(Olson, 2006).
5. Antibiotik
Agar efektif dalam mencegah infeksi, antibiotika harus diberikan sebelum,
selama, dan setelah penanganan luka. Untuk fraktur terbuka tipe I dan tipe II
direkomendasikan mengunakan cephalosporin generasi pertama. Sedangkan
pada fraktur terbuka tipe III dengan derajat kontaminasi yang lebih tinggi,
ditambahkan dengan aminoglikosida. Pada fraktur terbuka dengan
kontaminasi organik, ditambahkan penisilin atau metronidazole (fletcher,
2007).
6. Pencegahan tetanus
Semua pasien fraktur terbuka membutuhkan pencegahan terhadap komplikasi
yang jarang ditemui namun mematikan yaitu tetanus. Bila pasien telah
mendapatkan imunisasi tetanus toxoid, dapat di berikan booster toxoid. Bila
tidak di dapatkan riwayat imunisasi tetanus sebelumnya, atau informasi
mengenai pasien tidak jelas harus di berikan imunisasi pasif dengan
menggunakan human immune globulin tetanus 250 unit (Olson, 2006)

G. Pemeriksaan diagnostik
1. Pemeriksaan Rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma dan jenis
fraktur.
2. Scan tulang, tomogram, CT Scan/MRI: memperlihatkan tingkat keparahan fraktur,
juga dapat untuk mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Arteriogram: dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskular.
4. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada multipel trauma).
Peningkatan jumlah SDP adalah proses stress normal setelah trauma.
5. Kreatinin: traua otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
6. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi multipel
atau cedera hati.
H. Asuhan keperawatan fraktur tulang
1. Pengkajian
a. Aktivitas/istirahat
Tanda : keterbatasan gerak/kehilangan fungsi motorik pada bagian
yang terkena (dapat segera atau sekunder, akiabat
pembengkakan/nyeri). Adanya kesulitan dalam istirahat-tidur akibat
dari nyeri.
b. Sirkulasi
Tanda : hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap
nyeri/ansietas atau hipotensi (hipovolemia). Takikardia (respon stres,
hipovolemia). Penurunan/tak teraba nadi distal, pengisian kapiler
lambat (capillary refill), kulit dan kuku pucat/sianosis. Pembengkakan
jaringan atau masa hematoma pada sisi cedera.

8
c. Neurosensori
Gejala : hi;ang gerak/sensasi, spasme otot. Kebas/kesemutan
(parestesi).
Tanda : deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi,
kepitasi, spasme otot, kelemahan/hilang fungsi. Agitasi berhubungan
dengan nyeri, ansietas, trauma lain.
d. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri berat tiba-tiba saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area jaringan/kerusakan tulang, dapat berkurang pada imobilisasi), tak
ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/kram otot (setelah
imobilisasi).
e. Keamanan
Tanda : laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, dan perubahan
warna kulit. Pembengkakan lokal (dapat meningkap secara bertahap
atau tiba-tiba).

2. Diagnosis keperawatan
Masalah/diagnosis keperawatan yang dapat ditemukan pada klien fraktur yaitu
sebagai berikut.
1. Risiko tinggi terhadap infeksi.
2. Risiko tinggi trauma tambahan berhubungan dengan kerusakan neurovaskular,
tekanan, dan disuse.
3. Kerusakan integritas kulit/jaringan (aktual/risiko tinggi) berhubungan dengan
cedera tusuk, fraktur terbuka, pemasangan pen traksi, perubahan sensasi,
imobilisasi fisik.
4. Nyeri berhubungan spasme otot, gerakan fragmen tulang, cedera pada jaringan
lunak, stres, ansietas, alat traksi/imobilisasi.
5. Risiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskular perifer.

3. Rencana keperawatan
Rencana asuhan keperawatan berikut ini diuraikan meliputi diagnosis
keperawatan, tindakan keperawatan mandiri dan koaborasi, serta rasionalisasi dari
masing-masing tindakan keperawatan.
1. Risiko tinggi terhadap infeksi
Tindakan Rasional
Mandiri
1. Inspeksi kulit dari adanya iritasi Pin atau kawat tidak harus
atau robekan kontinuitas. dimasukkan melalui kulit yang
terinfeksi, kemerahan, atau abrasi
dan dapat menimbulkan infeksi
2. Kaji sisi pin/kawat, perhatikan Dapat mengidentifikasi timbulnya
keluhan peningkatan nyeri/rasa infeksi lokal/nekrosis jaringan yang
terbakar atau adanya edema, dapat menimbulkan osteomielitis.
eritema, drainase/bau tak enak.
3. Lakukan perawatan pin atau Mencegah kontaminasi silang dan

9
kawat steril sesuai protokol dan kemungkinan infeksi
mencuci tangan.
4. Instruksikan klien untuk tidak Meminimalkan kesempatan untuk
menyentuh sisi insersi kontaminasi
5. Tutupi pada akhir gips pertineal Gips yang lembab, padat
dengan plastik meningkatkan pertumbuhan bakteri
6. Observasi luka dari Tanda perkiraan infeksi gas
pembentukan bula, krepitasi, gangren.
perubahan warna kulit
kecoklatan, bau drainase tidak
enak.
7. Kaji tons otot, refleks tendon Kekuatan otot, spasme tonus otot
dalam dan kemampuan rahang dan disfagia menunjukkan
berbicara. terjadinya tetanus
8. Selidiki adanya nyeri tiba- Mengidentifikasi terjadinya
tiba/keterbatasnan gerak dengan osteomielitis
edema lokal/eritema ekstremitas
cedera.
9. Lakukan prosedur isolasi Adanya drainase purulen
memerlukan kewaspadaan
luka/linen untuk mncegah
kontaminasi silang.
10. Awasi pemeriksaan Memantau hasil pemeriksaan
laboratorium seperti : laboratorium
 Hitung darah lengkap  Anemia dapat terjadi pada
 LED osteomielitis, leukositosis
 Kultur dan sensitivitas biasanya ada proses infeksi
luka/serum/tulang  Meningkat pada osteomielitis
 Scan radioisotop  Mengidentifikasi organisme
penyebab infeksi
 Titik panas menunjukkan
peningkatan area vaskularitas
indikasi osteomielitis
11. Berikan obat sesuai order Obat sesuai order:
 Antibiotik IV/topikal  Antibiotik spektrum luas dapat
 Tetanus toksoid di gunakan secara profilaksis
atau ditujukan pada
mikroorganisme khusus
 Profilaktik karena
kemungkinan adanya tetanus
pada luka terbuka.
12. Irigasi luka/tulang dan berikan Debridement lokal/pembersihan
sabun basah/hangat sesuai luka mengurangi mikroorganisme
indikasi. dan insiden infeksi sistemik
13. Siapkan pembedahan sesuai Squestrektomin(pengangkatan
prosedur. tulang nekrotik) di perlukan untuk
membantu dan mencegah perluasan
proses infeksi.

10
2. Risiko tinggi trauma tambahan berhubungan dengan kerusakan neurovaskular,
tekanan, dan disuse.
Tindakan Rasional
Mandiri
1. Pertahankan tirah baring sesuai Meningkatkan stabilitas,
indikasi. Berikan sokongan menurunkan kemungkinan
sendi diatas dan di bawah gangguan posisi/penyembuhan.
fraktur bila bergerak/membalik.
2. Letakkan papan di bawah Tempat tidur lembut atau lentur
tempat tidur atau tempatkan dapat membuat deformasi gips yang
klien pada tempat tidur masih basah, mematahkan gips
ortopedik. yang sudah kering atau
memengaruhi dengan penarikan
traksi.
Gips/Bebat
3. Sokong fraktur dengan Mencegah gerakan yang tak perlu
bantal/gulungan selimut. dan perubahan posisi. Posisi yang
Pertahankan posisi netral pada tepat dari bantal juga dapat
bagian yang sakit dengan bantal mencegah tekanan deformitas pada
pasir, pembebat, gulungan gips yang kering.
trokanter atau papan kaki.
4. Tugaskan petugas yang cukup Gips panggul/tubuh atau multipel
untuk membalik klien. Hindari dapat dapat membuat berat dan
menggunakan papan abduksi tidak praktis secara ekstrem.
untuk membalik klien dengan Kegagalan untuk menyokong
gips spika. ekstremitas yang di gips dapat
menyebabkan gips patah.
5. Evaluasi pembebat ekstremitas Pembebatan koaptasi (misalnya
terhadap resolusi edema. jepitan jones-sugar) mungkin di
gunakan untuk memberikan
imobilisasi fraktur dimana edema
jaringan berlebihan. Seiring dengan
berkurangnya edema, peniaian
kembali pembebat atau penggunaan
gips plaster mungkin di perlukan
untuk mempertahankan kesejajaran
fraktur.
Traksi
6. Pertahankan posisi/integritas Traksi memungkinkan tarikan pada
traksi (misal, Buck, Dunlop, aksis panjang fraktur tulang dan
Pearson, Russel). mengatasi tegangan
otot/pemendekan untuk
memudahkan posisi/penyatuan.
Traksi tulang (pen, kawat, jepitan)
memungkinkan penggunaan berat
lebih besar untuk penarikan traksi
dari pada di gunakan untuk jaringan
kulit.
7. Yakinkan bahwa klem Meyakinkan bahwa susunan traksi

11
berfungsi. Memberi minyak berfungsi dengan tepat untuk
pada katrol dan periksa tali menghindari interupsi
terhadap tegangan. Amankan penyambungan fraktur.
dan tutup ikatan dengan plaster
perekat.
8. Pertahankan katrol tidak Jumlah beban traksi optimaldi
terhambat dengan beban bebas pertahankan.
menggantung, hindari
menangkat/menghilangkan
berat.
9. Bantu meletakkan beban di Membantu ketepatan posisi klien
bawah roda tempat tidur bila dan fungsi traksi dengan
ada indikasi. memberikan keseimbangan timbal
balik.
10. Kaji ukang tahunan yang Mempertahankan integritas tarikan
mungkin timbul karena terapi, traksi.
contoh pergelangan tidak
menekuk/duduk dengan traksi
buck atau tidak memutar di
bawah pergelangan dengan
traksi russel.

3. Kerusakan integritas kulit/jaringan (aktual/risiko tinggi) berhubungan dengan


cedera tusuk, fraktur terbuka, pemasangan pen, traksi, perubahan sensasi,
imobilisasi fisik.
Tindakan Rasional
Mandiri
1. Kaji kulit dari adanya benda sing, Memberikan informasi tentang
kemerahan, perdarahan, sirkulasi kulit dan masalah yang
perubahan warna mungkin disebabkan oleh alat atau
(kelabu/memutih) pemasangan gips/bebat atau traksi,
pembentukan edema yang
membutuhkan intervansi medik
lanjut.
2. Masase kulit dan area tonjolan Menurunkan tekanan pada area
tulang yang peka dan risiko
abrasi/kerusakan kulit.
3. Ubah posisi dengan sering Mengurangi tekanan konstan pada
area yang sama dan meminimalkan
risiko kerusakan kulit.
4. Kaji posisi cincin bebat pada alat Posisi yang tidak tepat dapat
traksi. menyebabkan cidera/kerusakan
kulit.
5. Penggunaan gips perawatan kulit Penggunaan gips dan perawatan
 Bersihkan kulit dengan kulit.
sabun dan air. Gosok  Mempertahankan gips tetap
perlahan dengan alkohol, kering dan bersih. Terlalu
dan atau bedak dengan banyak bedak dapat membuat
sedikit borat/stearat seng. lengket bila kontak dengan

12
 Potong pakaian dalam air/keringat.
yang menutup area dan  Berguna untuk bantalan
perlebar beberapa inchi di tonjolan tulang, mengakhiri
atas gips. ujung gips, dan melindungi
 Gunakan telapak tangan kulit.
untuk memsang  Mencegah lekukan/dataran di
mempertahankan atau atas tonjolan dan area
melepas gips dan dukung penyokong berat badan
bantal setelah (misanya punggung, tumit)
pemasangan. yang akan menyebabkan
 Potong kelebihan plaster abrasi/trauma jaringan.
dari ujung gips sesegera Bentuk yang tidak tepat atau
mungkin saat gips gips kering mengiritasi kulit
lengkap. di bawahnya dan dapat
 Tingkatkan pengeringan menimbulkan gangguan
gips dengan mengangkat sirkulasi.
linen tempat tidur,  Plester yang lebih dapat
memajankan pada mengiritasi kulit dan dapat
sirkulasi udara. mengakibatkan abrasi.
 Observasi area yang  Mencegah kerusakan kulit
beresiko tertekan, yang di sebabkan oleh
khususnya pada ujung tertutup pada kelembapan di
dan bawah bebatan/gips. bawah gips dalam jangka
 Beri bantalan pada akhir lama.
gips dengan plaster tahan  Tekanan dapat menyebabkan
air ulserasi, nekrosis, dan
 Bersihkan kelebihan kelumpuhan saraf, tidak ada
plaster dari kulit saat nyeri tidak ada kerusakan
masih basah, bila saraf.
mungkin,  Mengefektifkan perlindungan
 Lindungi gips dan kulit pada lapisan gips dan
pada area parineal. kelembapan. Membantu
Berikan perawatan yang mencegah kerusakan material
sering. gips pada akhir dan
 Instruksikan mengurangi iritasi kulit
klien/keluarga untuk ekskoriasis.
menghindari  Olester yang kering dapat
memasukkan benda ke melekat kedalam gips yang
dalam gips. telah lengkap dan
 Masase kulit sekitar akhir menyebabkan kerusakan kulit.
gips dengan alkohol.  Mencegah kerusakan jaringan
 Ubah posisi klien dan infeksi oleh kontaminasi
sesering mungkin dengan fekal.
posisi tengkurap dan kaki  Gesekan benda asing
di atas kasur. memnyebabkan kerusakan
jaringan.
 Mempunyai efek pengering
yang menguatkan kulit. Krim
dan losion tidak dianjurkan

13
karena terlalu banyak minyak
sehingga dapat menutup
parameter gips untuk
bernapas. Bedak tidak
dianjurkan karena risiko
akumulasi berlebihan di
dalam gips.
 Meminimalkan tekanan pada
kaki dan sekitar tepi gips.
Kolaborasi
6. Gunakan tempat tidur busa, bulu Karena imobilisasi, bagian
domba, bantal apung, atau kasur tubuh/tulang yang menonjol dan
udara sesuai indikasi sakit akibat gips akan mengalami
penurunan sirkulasi
7. Buat gips dengan katup tunggal, Memungkinkan pengurangan
katup ganda atau jendela sesuai tekanan dan memberikan akses
order untuk perawatan luka/kulit.

14
DAFTAR PUSTAKA

Lukman & Ningsih, Nurna. 2011. Asuhan Keperawatan pada klien dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika

Black, Joyce M., & Hawks, Jane Hokanson. 2009. Medical surgical nursing clinical
management for positive outcomes 8th edition. Jakarta: salemba medika

Gustilo, R.B., Merkow, R.L., Templeman, D. 1990. The management of open fractures. J
Bone join surg Am; 72:299-304

Bare & Smeltzer. 2002. Buku Ajar keperawatan medikal bedah Brunner & suddart (Alih
bahasa Agung Waluyo) Edisi 8 vol.3. Jakarta: EGC

Reeves J. Charlene, dkk. 2001. Keperawatan medikal bedah. Jakarta: Salemba Medika

Sjamsuhidayat, R. & De Jong W. 2005. Buku ajar ilmu bedah. Jakarta: EGC

Pusponegoro. 2007. Perspektif keperawatan gawat darurat. Jakarta: EGC

15