Anda di halaman 1dari 6

A.

Pengertian Kraniotomi Trepanasi


Kraniotomi adalah setiap operasi terhadap cranium. (Dorland,1998 )
Kraniotomi adalah operasi membuka tulang tengkorak untuk mengangkat tumor,
mengurangi TIK, mengeluarkan bekuan darah atau menghentikan perdarahan. (Hinchliff,
Sue. 1999).
Kraniotomi mencakup pembukaan tengkorak melalui pembedahan untuk
meningkatkan akses pada struktur intrakranial. (Brunner & Suddarth. 2002)
Trepanasi/ kraniotomi adalah suatu tindakan membuka tulang kepala yang
bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitif.
Epidural Hematoma (EDH) adalah suatu perdarahan yang terjadi di antara tulang
dan lapisan duramater.
Subdural hematoma (SDH) adalah suatu perdarahan yang terdapat pada
rongga diantara lapisan duramater dengan araknoidea
Jadi kraniotomi/ trepanasi adalah dilakukannya operasi pembukaan tulang tengkorak
tujuannya untuk,mengangkat tumor, mengurangi TIK, mengeluarkan bekuan darah atau
menghentikan perdarahan.

B. Persiapan Pre Operasi


1. Persiapan fisik
1) Status kesehatan fisik secara umum
Pemeriksaan status kesehatan secara umum, meliputi identitas klien, riwayat
penyakit seperti kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan
fisik lengkap, antara lain status hemodinamika, status kardiovaskuler, status
pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin, fungsi imunologi, dan lain-
lain. Selain itu pasien harus istirahat yang cukup, karena dengan istirahat dan tidur
yang cukup pasien tidak akan mengalami stres fisik, tubuh lebih rileks sehingga
bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darahnya dapat stabil dan
bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal.
2) Status nutrisi
Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan,
lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan keseimbangan
nitrogen.
3) Keseimbangan cairan dan elektrolit
Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output
cairan. Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat dengan fungsi ginjal.
Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan ekskresi metabolit
obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat dilakukan dengan
baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oligurianuria, insufisiensi
renal akut, nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan fungsi
ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.
4) Kebersihan lambung dan kolon
Lambung dan kolon harus dibersihkan terlebih dahulu. Tindakan yang bisa
diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan
pengosongan lambung dan kolon. Lamanya puasa berkisar antara 7 sampai 8 jam
(biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24.00 WIB). Tujuan dari pengosongan
lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi (masuknya cairan lambung
ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga
menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan.
5) Pencukuran daerah operasi
Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya
infeksi pada daerah yang dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur
dapat menjadi tempat bersembunyi kuman dan juga mengganggu/menghambat
proses penyembuhan dan perawatan luka.
6) Personal Hygine
Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi, karena tubuh
yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada
daerah yang dioperasi. Apabila masih memungkinkan, klien dianjurkan
membersihkan seluruh badannya sendiri/dibantu keluarga di kamar mandi. Apabila
tidak, maka bidan melakukannya di atas tempat tidur.
7) Pengosongan kandung kemih
Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan
kateter. Selain untuk pengongan isi kandung kemih, tindakan kateterisasi juga
diperlukan untuk mengobservasi balance cairan.
8) Latihan Pra Operasi
Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain latihan nafas
dalam, latiihan batuk efektif dan latihan gerak sendi.
Latihan nafas dalam bermanfaat untuk memperingan keluhan saat terjadi sesak
nafas, sebagai salah satu teknik relaksasi, dan memaksimalkan supply oksigen ke
jaringan.
Batuk efektif bermanfaat untuk mengeluarkan secret yang menyumbat jalan
nafas. Cara batuk efektif adalah :
a.Tarik nafas dalam 4-5 kali
b.Pada tarikan selanjutnya nafas ditahan selama 1-2 detik
c.Angkat bahu dan dada dilonggarkan serta batukan dengan kuat
d.Lakukan empat kali setiap batuk efektif, frekuensi disesuaikan dengan
kebutuhan
e.Perhatikan kondisi klien
Latihan gerak sendi bermanfaat untuk meningkatkan atau mempertahankan
fleksibilitas dan kekuatan otot, mempertrahankan fungsi jantung dan pernapasan,
serta mencegah kontraktur dan kekakuan pada sendi. Beberapa jenis gerakan sendi:
fleksi, ekstensi, adduksi, abduksi, oposisi, dll.
2. Persiapan status anastesi menurut ASA (American Society of Anesthisiologi)
a. ASA I : Pasien dalam keadaan sehat yang memerlukan operasi
b. ASA II : Pasien dengan kelainan sistemik ringan/sedang baik oleh karena peny
bedah atau dengan peny lainnya.
c. ASA III : Pasien dengan gangguan sistemik berat yang diakibatkan oleh karena
berbagai penyebab = APP perforasi dengan iskemic
d. ASA IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara langsung
mengancam kehidupannya.
e. ASA V : Pasien tidak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau
tidak.
f. Klasifikasi ASA juga dapat dicantumkan pada pembedahan darurat dengan
ditandai E (contoh ASA I E/III E) yaitu emergency.
C. Pemeriksaan Penunjang
CT Scan kepala

D. Teknik Operasi
1. Positioning
Letakkan kepala pada tepi meja untuk memudahkan operator. Headup kurang
lebih 15 derajat (pasang donat kecil dibawah kepala). Letakkan kepala miring
kontralateral lokasi lesi/ hematoma. Ganjal bahu satu sisi saja (pada sisi lesi) misalnya
kepala miring ke kanan maka ganjal bantal di bahu kiri dan sebaliknya.
2. Washing
Cuci lapangan operasi dengan savlon. Tujuan savlon: desinfektan,
menghilangkan lemak yang ada di kulit kepala sehingga pori-pori terbuka, penetrasi
betadine lebih baik. Keringkan dengan doek steril. Pasang doek steril di bawah kepala
untuk membatasi kontak dengan meja operasi
3. Markering
Setelah markering periksa kembali apakah lokasi hematomnya sudah benar
dengan melihat CT scan. Saat markering perhatikan: garis rambut – untuk kosmetik,
sinus – untuk menghindari perdarahan, sutura – untuk mengetahui lokasi, zygoma –
sebagai batas basis cranii, jalannya N VII ( kurang lebih 1/3 depan antara tragus
sampai dengan canthus lateralis orbita)
4. Desinfeksi
Desinfeksi lapangan operasi dengan betadine. Suntikkan Adrenalin 1:200.000
yang mengandung lidocain 0,5%. Tutup lapangan operasi dengan doek steril.
5. Operasi
Incisi lapis demi lapis sedalam galea (setiap 5cm) mulai dari ujung. Pasang
haak tajam 2 buah (oleh asisten), tarik ke atas sekitar 60 derajat. Buka flap secara
tajam pada loose connective tissue. Kompres dengan kasa basah. Di bawahnya
diganjal dengan kasa steril supaya pembuluh darah tidak tertekuk (bahaya nekrosis
pada kulit kepala). Klem pada pangkal flap dan fiksasi pada doek. Buka pericranium
dengan diatermi. Kelupas secara hati-hati dengan rasparatorium pada daerah yang
akan di burrhole dan gergaji kemudian dan rawat perdarahan. Penentuan lokasi
burrhole idealnya pada setiap tepi hematom sesuai gambar CT scan. Lakukan burrhole
pertama dengan mata bor tajam (Hudson’s Brace) kemudian dengan mata bor yang
melingkar (Conical boor) bila sudah menembus tabula interna. Boorhole minimal
pada 4 tempat sesuai dengan merkering. Perdarahan dari tulang dapat dihentikan
dengan bone wax. Tutup lubang boorhole dengan kapas basah/ wetjes.
E. Buka tulang dengan gigli. Bebaskan dura dari cranium dengan menggunakan sonde.
Masukan penuntun gigli pada lubang boorhole. Pasang gigli kemudian masukkan
penuntun gigli sampai menembus lubang boorhole di sebelahnya. Lakukan
pemotongan dengan gergaji dan asisten memfixir kepala penderita.
Patahkan tulang kepala dengan flap ke atas menjauhi otak dengan cara tulang
dipegang dengan knabel tang dan bagian bawah dilindungi dengan elevator kemudian
miringkan posisi elevator pada saat mematahkan tulang.
Setelah nampak hematom epidural, bersihkan tepi-tepi tulang dengan spoeling
dan suctioning sedikit demi sedikit. Pedarahan dari tulang dapat dihentikan dengan
bone wax. Gantung dura (hitch stich) dengan benang silk 3.0 sedikitnya 4 buah.
Evakuasi hematoma dengan spoeling dan suctioning secara gentle. Evaluasi dura,
perdarahan dari dura dihentikan degan diatermi. Bila ada perdarahan dari tepi bawah
tulang yang merembes tambahkan hitch stich pada daerah tersebut kalau perlu
tambahkan spongostan di bawah tulang. Bila perdarahab profus dari bawah tulang
(berasal dari arteri) tulang boleh diknabel untuk mencari sumber perdarahan kecuali
dicurigai berasal dari sinus. Bila ada dura yang robekjahit dura denga silk 3.0 atau
vicryl 3.0 secara simpul dengan jarak kurang dari 5mm. Pastikan sudah tidak ada lagi
perdarahan dengan spoeling berulang-ulang.
Pada subdural hematoma setelah dilakukan kraniektomi langkah
salanjutnya adalah membuka duramater. Sayatan pembukaan dura seyogianya
berbentuk tapal kuda (bentuk U) berlawanan dengan sayatan kulit. Duramater
dikait dengan pengait dura, kemudian bagian yang terangkat disayat dengan pisau
sampai terlihat lapisan mengkilat dari arakhnoid. (Bila sampai keluar cairan otak,
berarti arachnoid sudah turut tersayat). Masukkan kapas berbuntut melalui lubang
sayatan ke bawah duramater di dalam ruang subdural, dan sefanjutnya dengan kapas
ini sebagai pelindung terhadap kemungkinan trauma pada lapisan tersebut.
Perdarahan dihentikan dengan koagulasi atau pemakaian klip khusus.
Koagulasi yang dipakai dengan kekuatan lebih rendah dibandingkan untuk pembuluh
darah kulit atau subkutan. Reseksi jaringan otak didahului dengan koagulasi
permukaan otak dengan pembuluh-pembuluh darahnya baik arteri maupun vena.
Semua pembuluh darah baik arteri maupun vena berada di permukaan di ruang
subarahnoidal, sehingga bila ditutup maka pada jaringan otak dibawahnya tak ada
darah lagi. Perlengketan jaringan otak dilepaskan dengan koagulasi. Tepi bagian otak
yang direseksi harus dikoagulasi untuk menjamin jaringan otak bebas dari
perlengketan. Untuk membakar permukaan otak, idealnya dipergunakan kauter
bipolar. Bila dipergunakan kauter monopolar, untuk memegang jaringan otak gunakan
pinset anatomis halus sebagai alat bantu kauterisasi.
Pengembalian tulang. Perlu dipertimbangkan dikembalikan/ tidaknya tulang
dengan evaluasi klinsi pre operasi dan ketegangan dura. Bila tidak dikembalikan
lapangan operasi dapat ditutup lapis demi lapis dengan cara sebagai berikut. Teugel
dura di tengah lapangan operasi dengan silk 3.0 menembus keluar kulit. Periost dan
fascia ototo dijahit dengan vicryl 2.0. Pasang drain subgaleal. Jahit galea dengan
vicryl 2.0. Jahit kulit dengan silk 3.0. Hubungkan drain dengan vaum drain (Redon
drain). Operasi selesai. Bila tulang dikembalikan, buat lubang untuk fiksasi tulang,
pertama pada tulang yang tidak diangkat (3-4 buah). Tegel dura ditengah tulang yang
akan dikembalikan untuk menghindari dead space. Buat lubang pada tulang yang akan
dikembalikan sesuai dengan lokasi yang akan di fiksasi (3-4 buah ditepi dan2 lubang
ditengah berdekatan untuk teugel dura). Lakukan fiksasi tulang dengan dengan silk
2.0, selanjutnya tutup lapis demi lapis seperti diatas.

E.Perawatan Pasca Operasi

Monitor kondisi umum dan neurologis pasien dilakukan seperti biasanya.


Jahitan dibuka pada hari ke 5-7. Tindakan pemasangan fragmen tulang atau
kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian .

1. Perawat mengkaji pasien setiap 15 menit pada i jam pertama


2. Perawat mengkaji pasien setelah 30 menit selama 1-2 jam
3. Perawat mengkaji pasien setiap 1 jam selam 4 jam
4. Selanjutnya setiap 4 jam