Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keperawatan perioperatif adalah sebuah istilah dari variasi keragaman

fungsi keperawatan yang sering digunakan berkaitan dengan pengalaman

pembedahan pasien. Kata “perioperatif” merupakan istilah gabungan yang

terdiri dari tiga fase pengalaman pembedahan yaitu fase praoperatif, fase

intraoperatif, dan fase pascaoperatif (Smeltzer & Suzanne, 2001).

Menurut Muttaqin & Sari (2009) mengatakan bahwa “proses

keperawatan pascaoperatif pada praktiknya akan dilaksanakan secara

berkelanjutan baik di ruang pemulihan, ruang intensif, dan ruang rawat inap

bedah. Fase postoperatif adalah suatu kondisi di mana pasien sudah masuk di

ruang pulih sadar sampai pasien dalam kondisi sadar betul untuk dibawa ke

ruang rawat inap”.

Peran perawat sangat dibutuhkan dalam ketiga fase tersebut untuk

meningkatkan kualitas hidup pasien. Pada makalah ini penulis akan

membahas lingkup keperawatan pada fase pascaoperatif, fokus pengkajian

termasuk mengkaji resiko komplikasi dan penatalaksanaan kegawatan

meliputi syok, perdarahan, thrombosis vena profunda, retensi urin, sepsis,

embolisme pulmonal, dan komplikasi gastrointestinal.

1
2

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada makalah ini ialah: “Bagaimana proses

keperawatan dalam merawat pasien dengan resiko komplikasi dan

penatalaksanaan kegawatan post operasi meliputi; syok, perdarahan,

thrombosis vena profunda, retensi urin, sepsis, embolisme pulmonal, dan

komplikasi gastrointestinal?”.

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum

Mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada

klien dengan komplikasi pasca operasi.

b. Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang resiko komplikasi dan

penatalaksanaan kegawatan pascaoperasi, meliputi syok, perdarahan,

thrombosis vena profunda, retensi urin, sepsis, embolisme pulmonal, dan

komplikasi gastrointestinal.
3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Resiko Komplikasi

Resiko komplikasi pascaoperatif adalah bahaya laten atau kemungkinan

akan terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan akibat dari prosedur pembedahan

sehingga dapat mengganggu proses penyembuhan dan merugikan hasil

pembedahan (Smeltzer dan Suzanne, 2001).

Menurut Smeltzer dan Suzanne (2001) mengatakan bahwa,”Perawat

mempunyai peran penting dalam bagian pencegahan komplikasi ini dan

berkolaborasi dengan dokter serta anggota tim perawat lain dalam

penatalaksanaan mereka, bila mana terjadi komplikasi.”

2.2 Patofisiologi Masalah Keperawatan di Ruang Pemulihan

Pasien pascaoperasi akan mengalami perubahan fisiologis yang

disebabkan dari efek anastesi dan tindakan bedah. Efek dari anastesi umum akan

terlihat pada sistem respirasi, sistem kardiovaskular, sistem saraf, sistem

perkemihan, sistem pencernaan, dan sistem muskuloskeletal (Muttaqin & Sari,

2009)
4

Pascaoperatif

Efek anestesi umum


Efek Intervensi bedah

B1 (Breating) B2 (Blood) B3 (Brain)


Sistem Pernapasan Sistem kardiovaskular Sistem saraf

Respons depresi Depresi mekanisme regulasi Kontrol kesadaran masih


sirkulasi normal.
pernapasan: Kemampuan orientasi
Perdarahan pascaoperatif.
masih
Kontrol kepatenan jalan Penurunan curah jantung.
Nyeri pasca operasi
napas (lidah) Prubahan kemampuan control meningkat sekunder
suhu tubuh.
Penurunan reaksi anastesi
Kontol batuk efektif dan Perubahan elektrolit dan
metabolisme
Kecemasan postoperatif
muntah
Risiko cedera vaskular

Risiko tinggi pola Risiko tinggi penurunan Penurunan


perfusi jaringan
napas tidak kesadaran
efektif Risiko tinggi CO

Hipotermi
Nyeri
Hipertermi maligna
Jalan napas tidak Risiko tinggi
efektif thrombosis vena
profunda

Ketidakseimbangan Kecemasan
cairan dan elektrolit
Gambar 1-1 Patofisiologi Pascaoperatif ke masalah keperawatan pada sistem pernapasan,

sistem kardiovaskular, dan sistem saraf (Muttaqin & Sari, 2009)


5

Pascaoperatif

Efek anestesi umum


Efek Intervensi bedah

B4 (Bladder) B5 (Bowel) B6 (Bone)

Sistem Perkemihan Sistem pencernaan Sistem musculoskeletal,


integritas kulit dan luka

Kontrol kemampuan Kontrol peristaltik usus Respons risiko posisi bedah


(tromboembosis,
miksi Risiko paralisis usus parastesia,cedera tekan)
dengan distensi dan gejala
obstruksi Adanya luka bedah, adanya
system drainase
Kemampuan pengosongan
lambung Penurunan control otot dan
keseimbangan

Gangguan Risiko tinggi Kerusakan integritas


pemenuhan aspirasi muntah jaringan
eliminasi urine Risiko tinggi infeksi
Penurunan
motilitas usus Risiko cedera bedah

Risiko tinggi trauma


jatuh

Gambar 1-2. Patofisiologi pascaoperatif dengan anastesi umum ke masalah keperawatan

pada sistem perkemihan, sistem pernapasan, sistem muskuloskeletal, integritas kulit, dan

keadaan luka (Muttaqin & Sari, 2009).

Efek anastesi akan memengaruhi mekanisme regulasi sirkulasi normal

sehingga mempunyai resiko terjadinya penurunan kemampuan jantung dalam


6

melakukan stroke volume efektif yang berimplikasi pada penurunan curah

jantung. Efek intervensi bedah dengan adanya cedera vascular dan banyaknya

jumlah volume darah yang banyak keluar dari volume vascular adalah terjadinya

penurunan perfusi perifer, perubahan elektrolit, dan metabolism karena terjadi

mekanisme kompensasi pengaliran suplai hanya untuk organ vital. Efek anastesi

juga memengaruhi pusat pengatur suhu sehingga kondisi pascabedah pasien

cenderung mengalami hipotermi.


Efek anastesi pada sistem saraf pusat akan memengaruhi penurunan

kontrol kesadaran dan kemampuan dalam orientasi pada lingkungan sehingga

pasien yang mulai sadar biasanya gelisah. Kondisi penurunan reaksi anastesi

akan bermanifestasi pada munculnya keluhan nyeri akibat kerusakan

neuromuskular pascaoperasi, pasien pascaoperasi cenderung mengalami

kecemasan pascaoperasi sehubungan dengan penurunan kemampuan adaptasi

normal.
Secara umum, efek anastesi juga memengaruhi terhambatnya jaras aferen

dan eferen terhadap control miksi, sehingga berimplikasi pada masalah gangguan

pemenuhan eliminasi urine. Efek anestesi akan menimbulkan penurunan

peristaltic usu dan berimplikasi pada peningkatan risiko paralisis usus dengan

distensi otot-otot abdomen dan timbulnya gejala obstruksi gastrointestinal. Efek

anastesi jugamemengaruhi penurunan kemampuan pengosongan lambung,

sehingga cenderungterjadinya refluks esophagus dan makanan keluar ke

kerongkongan yang memicu terjadinya aspirasi makanan ke saluran napas.


Respon pengaturan posisi bedah akan menimbulkan peningkatan resiko

terjadinya tromboemboli, parastesia, dan cedera tekan pada beberapa penonjolan

tulang. Efek intervensi bedah akan meninggalkan adanya kerusakan integritas


7

jaringan dengan adanya luka pascabedah dan adanya sistem drainase pada sisi

luka bedah. Efe anastesi akan mempengaruhi penurunan kontrol otot dan

keseimbangan secara sadar sehingga pasien beresiko tinggi cedera.

2.3 Jenis-Jenis Komplikasi

Menurut Smeltzer & Suzanne (2001) mengatakan bahwa, “Komplikasi

mayor pascaoperatif mencakup syok, hemoragi, thrombosis vena profunda,

embolisme pulmonari, komplikasi pulmonari seperti hipoksemia atelektasis, dan

pneumonia, diantaranya; retensi urin; obstruksi usus; dan kemungkinan psikosis

pascaoperatif”.

2.3.1 Syok

Syok adalah komplikasi pascaoperatif yang paling serius. Syok dapat

digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan

ketidakmampuan untuk mengeksresikan produk sampah metabolisme. Meskipun

terdapat banyak jenis syok, definisi dasar tentang syok secara umum berpusat

pada suatu ketidakadekuatan aliran darah ke organ-organ ini untuk

ketidakmampuan jaringan dan nutrien lain.

Tanda-tanda klasik syok adalah :

1. Pucat
2. Kulit dingin, basah
3. Pernapasan cepat
4. Sianosis pada bibir, gusi, dan lidah
5. Nadi cepat, lemah dan bergetar
6. Penurunan tekanan nadi
7. Biasanya, tekanan darah rendah dan urin pekat.
8

Dua klasifikasi syok yang dapat terjadi pada pasien bedah adalah syok

hipoglikemik dan syok neurogenik. Syok hipovolemik disebabkan oleh

penurunan volume cairan akibat kehilangan darah atau plasma, ini merupakan

jenis syok yang paling umum pada pasien bedah. Pada pasien bedah, syok

hipovolemik dapat disebabkan oleh hemoragi yang jelas, kehilangan darah dan

plasma dari sirkulasi selama prosedur bedah, atau ketidakadekuatan penggantian

cairan selama dan setelah pembedahan. Syok hipovolemik ditandai dengan

turunya tekanan vena, naiknya resistensi perifer, dan takikardia.

Syok neurogenik adalah syok yang kurang umum pada pasien bedah,

namun demikian dapat terjadi sebagai akibat penurunan tahanan arterial yang

disebabkan oleh anesthesia spinal. Syok ini ditandai oleh turunnya tekanan

darah akibat berdilatasi (pembuluh yang mempunyai kemampuan untuk

mengubah kapasitas volume). Aktivitas jantung meningkat dalam berespons dan

dengan demikian mempertahankan curah normal (isi sekuncup), hal ini

membantu untuk vaskular yang berdilatasi sebagai upaya untuk memulihkan

tekanan perfusi.

a. Pencegahan

Pengobatan yang terbaik untuk syok adalah profilaksis atau pencegahan.

Hal ini terdiri atas memastikan status fisik optimal sebelum pembedahan dan

mengantisipasi segala komplikasi yang dapat timbul selama atau setelah

pembedahan. Peralatan khusus untuk pengobatan syok harus tersedia. Jenis

anesthesia yang tepat harus dipilih oleh ahli anestesi setelah dengan cermat

Jika jumlah kehilangan darah melebihi 500 ml (terutama jika kehilangan


cepat), penggantian biasanya di indikasikan.
9

memperhatikan pasien dan kelainan yang diderita pasien. Darah dan terapi

komponen darah harus tersedia jika diperlukan. Kehilangan darah harus diukur

secara akurat sedapat mungkin.

Pasien secara individual dan situasi tertentu harus dipertimbangkan

dalam menentukan terapi penggantian. Individu yang lebih tua, malnutrisi

seperti hampir pasti memerlukan terapi ini dibandingkan dengan pasien yang

lebih muda yang kesehatannya secara umum baik.

Trauma bedah harus dijaga pada tingkat minimum sebagai langkah

pertama menghindari syok. Setelah pembedahan, faktor-faktor yang menunjang

terjadinya syok dihindari. Sebagai contoh, nyeri diatasi dengan membuat pasien

senyaman mungkin dan dengan menggunakan narkotik secara bijaksana.

Pemajanan dihindari, dan linen tempat tidur yang ringan, tidak dipanaskan

digunakan untuk mencegah vasodilatasi. Pada PACU, pasien dipantau dengan

ketat, selain itu ruangan yang tenang membantu untuk mengurangi stress. Pasien

dipindahkan dengan hati-hati dan dibaringkan dengan posisi supinasi untuk

memfasilitasi sirkulasi. Tanda vital dipantau secara kontinu sampai pemulihan

pasien menandakan bahwa tidak terjadi syok.


10

Gambar 1-3. Memposisikan pasien dengan posisi supinasi untuk membantu sirkulasi

b. Pengobatan

Pasien dijaga agar tetap hangat, namun terlalu kepanasan dihindari untuk

mencegah pembuluh kutan berdilatasi dan menurunnya darah dari organ vital.

Infuse larutan Ringer laktat mulai diberikan. Pasien dibaringkan datar ditempat

tidur dengan tungkai dinaikkan, frekuensi pernafasan dan nadi, tekanan darah,

konsentrasi O2, haluaran urin, tingkat kesadaran, tekanan vena sentral, tekanan

arteri pulmonal, tekanan baji kapiler pulmonari, dan curah jantung memberikan

informasi tentang status pernapasan dan kardiovaskular pasien.

Pendekatan dasar untuk pengobatan syok adalah untuk menentukan

penyebabnya dan memperbaiknya sedapat mungkin. Strategi pencegahanya

diuraikan sebagai berikut :

Pastikan Status Pernafasan. Penentuan gas darah dibuat untuk

mengkaji fungsi pulmonary, dan oksigen diberikan melalui intubasi dan nasal

kanul jika diindikasikan.

Memulihkan Volume Darah/Cairan. Jenis penggantian cairan dan darah

tergantung pada jenis dan jumlah kehilangan dan kondisi pasien. Cairan
11

diberikan secara intravena dengan segera bila sifat kehilangan telah ditetapkan.

Penggantian cairan disesuaikan dengan keadaan. Dalam kondisi normal, 20%

dari volume total darah berada dalam kapiler, 10% dalam sistem arterial, dan

keseimbangan dalam vena dan jantung. Pada keadaan syok, jarring-jaring

kapiler berdilatasi, menyebabkan volume darah yang banyak berkumpul disana.

Cairan yang diberikan dapat mencakup kristaloid (mis, larutan Ringer

laktat) dan koloid (mis, terapi komponen darah, albumin, plasma, atau pengganti

plasma) karena kemungkinan diberikan volume cairan yang banyak secara

intravena, pasien harus dipantau dengan ketat untuk efek yang diinginkan juga

yang tidak diharapkan, yaitu efek merugikan. Beberapa jalur intravena mungkin

digunakan untuk pemberian cairan, dan jalur arteri dapat dipasangkan untuk

memantau hemodinamik.

Terapi obat. Kardiotonik diberikan untuk memperbaiki distritmia dan

meningkatkan efeisiensi jantung. Diuretik diberikan untuk mengurangi retensi

cairan dan edema selama dan setelah bedah neuro.

Vasodilator diresepkan untuk mengurangi resistensi perifer, yang

selanjutnya mengurangi kerja jantung dan meningkatkan curah jantung dan

perfusi jaringan. Medikasi yang biasa digunakan adalah natrium nitroprusid

(Nipride), yang menstimulasi kontraktilitas miokardium dan menurunkan

resistensi perifer. Pompa penginfus digunakan untuk mengontrol njumlah

natrium nitroprusid yang diberikan. Pemantauan juga tersedia untuk mengukur


12

tekanan darah pasien setiap 10 detik secara otomatis menyesuaikan dosis obat

jika terjadi perubahan.

Beberapa praktisi menyarankan penggunaan steroid, sementara lainnya

menggunakan kombinasi agens farmakoterapeutik. Beberapa yang berwenang

yakin bahwa syok hipovolemik jangan diatasi dengan medikasi vasovaskular

dan menurunkan perfusi jaringan, sehingga meningkatkan efek syok.

c. Intervensi Keperawatan

Perawat membantu dalam melaksanakan pengobatan yang diresepkan.

Bila diresepkan vasodilator, tekanan darah pasien harus dipantau dengan

konstan. Pasien dijaga agar tetap berbaring datar ketika obat ini diberikan. Jika

tekanan darah sistolik terus menurun, medikasi dihentikan dan cairan

ditingkatkan.

Tindakan keperawatan berikut diindikasikan :

1. Dukungan psikologis diberikan, dan penggunaan energy pasien dikurangi.

Reaksi pasien terhadap pengobatan dikaji, dan istirahat untuk

menghilangkan kegelisahan. Sedative diberikan dengan waspada sehingga

sirkulasi tidak tertekan lebih jauh.


2. Pasien dijaga agar tetap hangat, karena hipotermia mengurangi oksigenasi

jaringan. Hipotermia juga mempengaruhi sirkulasi perifer.


3. Pasien diubah posisi setiap 2 jam, dan dorong pasien agar melakukan napas

dalam untuk meningkatkan fungsi optimal kardiopulmonari.


4. Komplikasi dicegah dengan mengamati semua parameter dan memantau

pasien dengan ketat dalam 24 jam periode setelah awitan syok. Komplikasi
13

yang paling umum adalah edema perifer dan pulmonal akibat kelebihan

cairan, yang diakibatkan oleh pemberian cairan yang lebih cepat

dibandingkan dengan yang dapat diakomodasi oleh tubuh.


5. Semua pengamatan dan intervensi didokumentasikan.

2.3.2 Hemoragi

Hemoragi dikelompokkan sebagai:

1. Primer
Hemoragi primer terjadi pada waktu pembedahan.
2. Intermediari
Hemoragi intermediari terjadi selama beberapa jam setelah

pembedahan ketika kenaikan tekanan darah ketingkat normalnya

melepaskan bekuan yang tersangkut dengan tidak aman dari pembuluh

yang terikat.

3. Sekunder
Hemoragi sekunder dapat terjadi beberapa waktu setelah pembedahan

bila ligature slip karena pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau

menjadi terinfeksi atau mengalami erosi oleh selang drainase.


Klasifikasi lebih jauh sering kali dibuat sesuai dengan jenis pembuluh yang

mengalami perdarahan.
1. Hemoragi kapiler ditandai dengan rembesan umum, yang lambat.
2. Hemoragi venosa darah yang keluar dengan cepat dan bergembung

berwarna gelap.
3. Hemoragi arterial berwarna terang dan tampak memucat bersama tiap

kali denyut jantung.


14

Hemoragi juga ditandai oleh visibilitasnya antara lain yaitu terlihat,

bila hemoragi terjadi pada permukaan dan dapat dilihat dan tersembunyi, bila

tidak dapat dilihat, seperti pada kavitas peritoneal.


a. Manifestasi Klinis

Tanda-tanda klinis yang ditunjukkan oleh hemoragi tergantung pada

jumlah darah yang hilang dan seberapa cepat kehilangan darah tersebut terjadi.

pasien gelisah dan gundah, terus bergerak, dan merasa haus, kulitnya dingin,

basah, dan pucat. Frekuensi nadi meningkat, suhu tubuh turun, dan pernafasan

cepat dan dalam, sering berbicara tersengal-sengal seperti kehabisan nafas. Jika

hemoragi berlanjut tanpa pengobatan, curah jantung menurun, tekanan darah

arteri dan vena serta hemoglobin turun dengan cepat, bibir dan konjungtiva

menjadi pucat, tampak bercak pada bagian sekitar mata, terdengar bunyi

mendenging pada telinga, dan pasien terus melemah tetapi tetap sadar sampai

mendekati kematian.

b. Penatalaksanaan

Sering kali tanda-tanda hemoragi setelah pembedahan dapat disamarkan

oleh anestesi atau syok, karenanya, pengobatan awal pasien secara umum

hampir sama dengan yang diuraikan untuk pasien yang mengalami syok (lihat

bagian yang sebelumnya).

Pasien dibaringkan dalam posisi syok (berbaring datar telentang dengan

tungkai dinaikkan membentuk sudut 20 derajat sementara lutut dijaga lurus).

Sedative atau analgesic diberikan sesuai yang diharuskan. Luka bedah harus
15

selalu diinspeksi terhadap perdarahan. Jika perdarahan terjadi, kasa steril dan

balutan yang kuat dipasangkan dan tempat perdarahan ditinggikan pada

ketinggian jantung, jika memungkinkan.

 Memberikan transfuse darah atau produk darah dan menentukan penyebab

hemoragi adalah tindakan teraupetik awal.


 Ketika cairan intravena diberikan dalam kasus hemoragi, penting artinya

untuk mengingat bahwa kecuali hemoragi telah terkontrol dengan baik,

memberikan terlalu banyak cairan dengan cepat dapat meningkatkan tekanan

darah yang cukup untuk memulai perdarahan kembali.

2.3.3 Thrombosis vena profunda (TVP)

Thrombosis vena profunda (TVP) adalah thrombosis pada vena yang

letaknya dalam dan bukan superficial. Dua komplikasi serius dari TVP adalah

embolismepulmonari dan sindrom pascafleblitis.

a. Insiden

Secara pascaoperatif, mereka yang beresiko tinggi terhadap TVP

teridentifikasi sebagai berikut:

 Pasien ortopedik yang menjalani bedah panggul, rekonstruksi lutut, dan

bedah ekstremitas lainnya.


 Pasien urologi yang menjalani prostatektomi transurethral, dan pasien yang

lebih tua menjalani bedah urologi.


16

 Pasien bedah umum yang berusia di atas 40 tahun, mereka yang kegemukan,

mereka dengan malignasi, mereka yang telah mempunyai TVP atau

embolisme pulmonary, atau mereka yang menjalani prosedur pembedahan

rumit dan lama.


 Pasien ginekologi (dan obstetri) dengan usia di atas 40 tahun dengan factor

resiko tambahan (varises vena, thrombosis vena sebelumnya, infeksi,

malignasi, obesitas).
 Pasien bedah neuro, serupa dengan kelompok resiko tinggi bedah lainnya

(pada pasien dengan stroke, sebagai contoh, resiko TVP pada tungkai yang

paralise setinggi 75%).

b. Patofisiologi

Inflamasi ringan sampai berat dari vena terjadi dalam kaitannya dengan

pembekuan darah. Komplikasi dapat terjadi dari sejumlah penyebab, termasuk

cedera pada vena yang disebabkan oleh strap yang terlalu ketat atau penahan

tungkai pada waktu operasi, tekanan dari gulungan selimut di bawah lutut,

hemokonsentrasi akibat kehilangan cairan atau dehidrasi, atau yang lebih umum

lagi adalah lambatnya aliran darah dalam ekstremitas akibat metabolisme lambat

dan depresi sirkulasi setelah pembedahan. Kemungkinan juga bahwa beberapa

factor ini berinteraksi untuk menghasilkan thrombosis. Tungkai kiri terkena lebih

sering dibanding yang kanan.


17

Gambar 1-4. Pengkajian tanda-tanda dan gejala-gejala flebotrombosis. A. Dengan lutut

fleksi, pasien mengeluh nyeri pada beds saat dorsofleksi kaki (tanda human). Hal ini adalah

thrombosis dini dan subklinis. Tanda ini mungkin ada atau mungkin juga tidak ada.

Kompresi lembut menunjukkan nyeri tekan pada otot beds. B. Tungkai yang terkena dapat

membengkak dan vena lebih menonjol dan dapat teraba dengan mudah (Sumber: Smetlzer

dan Bare, 2002 di dalam Muttaqin dan Sari, 2010)

c. Manifestasi klinis

Gejala pertama TVP bisa nyeri atau keram pada betis seperti yang telah

ditunjukkan oleh tanda human (Gbr. 1-3). Tekanan di tempat tersebut

menyebabkan nyeri, dan satu hari atau lebih terjadi pembengkakan keseluruhan

tungkai, sering disertai dengan sedikit demam dan kadang menggigil dan

perspirasi. Pembengkakan adalah edema lunak yang mudah bergerak saat

ditekan.

Bentuk yang lebih ringan dari penyakit yang sama disebut

flebotrombosis, untuk menunjukkan pembekuan intravascular tanpa inflamasi

yang jelas pada vena. Pembekuan terjadi biasanya pada vena dalam betis, sering

disertai beberapa gejala kecuali sedikit nyeri tekan pada betis. Bahaya dari

thrombosis jenis ini adalah bahwa bekuan dapat terlepas, yang menghasilkan

bekuan embolus. Diyakini bahwa sebagian besar emboli pulmonary timbul dari

sumber ini.
18

d. Pencegahan

Upaya yang diarahkan pada pencegahan pembentukan thrombus

termasuk tindakan seperti latihan tungkai yang dapat diajarkan sebelum

pembedahan. Pasien yang mengenali pentingnya latihan ini dalam mencegah

komplikasi sirkulasi sering melakukan latihan ini tanpa harus diperintahkan.

Untuk menghindari pembentukan thrombus, strap tungkai jangan dikencangkan

di PACU. Brangkar yang dilengkapi dengan pagar sudah cukup dalam

memberikan perlindungan. Strap tidak hanya menghambat pergerakan

pasien,tetapi juga dapat menyumbat dan merusak sirkulasi.

Heparin dosis rendah dapat diresepkan dan diberikan melalui subkutan

smpai pasien ambulatori. Warfarin dosis rendah adalah antikoagulan lain

mungkin diberikan. Dextran 40 dan Dextran 70 (dengan berat molekul rendah

dan tinggi) adalah plasma ekspander yang mengurangi pembentukan bekuan

mikroskopik yang dicetuskan oleh hemokonsentrasi. Meski dibanding dengan

antikoagulan dalam hal keefektifannya, plasma ekspander ini lebih mahal.

Kompresi pneumatik eksternal dan stoking elastik gradient dapat digunakan

sendiri atau dalam kombinasi dengan heparin dosis rendah.

Agens penyekat adrenergik dehidrogergotamin juga dapat digunakan

dengan heparin dosis rendah; beberapa orang mengklaim bahwa kombinasi ini

lebih manjur, tetapi potensial risiko vasokonstriksinya dan kontraindikasinya

harus diperhatikan. Aspirin saja tidak terbukti bermanfaat, tetapi karena aspirin

meningkatkan efek antikoagulan, aspirin seharusnya tidak diberikan bersamaan.


19

Selain tindakan keperawatan yang telah disebutkan diatas, penting

artinya untuk menghindari penggunaan selimut yang digulung, bantal yang

digulung, atau bentuk lain yang meninggikan yang dapat menyumbat pembuluh

di bawah lutut. Bahkan menjuntaikan tungkai yang lama (dengan pasien duduk

ditepi tempat tidur dan kakainya menggantung) dapat membahayakan dan tidak

dianjurkan pada pasien yang rentan Karena tekanan dibawah lutut dapat

membahayakan sirkulasi.

Tidak ada satu metoda pun yang ideal, tetapi tindakan profilaktik yang

dilakukan untuk memenuhi kebutuhan individu dapat efektif dalam mengurangi

secara bermakna apa yang sebaliknya dapat mengakibatkan komplikasi yang

serius, yang secara potensial letal.

e. Pengobatan

Beberapa ahli bedah mempertimbangkan ligasi vena femoralis menjadi

metoda teraupetik yang penting. Rasional dibalik metoda terapi ini adalah untuk

mencegah embolisme pulmonari dengan menghilangkan penyebab (trombi yang

dapat terlepas dari pembuluh vena femoralis dan bersirkulasi dalam darah).

Terapi antikoagulan telah menempati posisis terbesar dalam

pengobatan flebitis dan flebotrombosis. Heparin (inaktivator trombin), yang

diberikan secara intravena atau subkutan, mengurangi koagulabilitas darah dan

digunakan lebih sering ketika efek segera diinginkan. Pemeriksaan berulang

masa koagulasi atau masa tromboplastin parsial darah penting untuk mengontrol

pemberiannya. Dikumoral atau warfarin (Coumadin;inaktivator factor


20

pembekuan) digunakan untuk tujuan yang sama. Obat ini diberikan per oral dan

belum akan efektif selama sekitar 24 jam. Dosisnya dikontrol dengan perkiraan

harian masa protrombin darah.

Stoking elastik tinggi (antiembolitik) telah digunakan sebagai

pengobatan aktif flebilitis dan thrombosis. Stoking dari ujung kaki sampai lipat

paha ini mencegah pembengkakan dan stagnasi vena darah pada tungkai dan

banyak menghilangkan nyeri pada ekstremitas yang sakit. Namun, untuk dapat

efektif, stoking elastik harus digunakan dengan kombinasi menaikkan tungkai

atau latihan tungkai. Ambulasi dini sangat membantu, tetapi perawat juga harus

waspada bahwa ketika dengan abdomen menonjol berjalan beberapa langkah dan

kemudian duduk dengan tungkai menggantung, tekanan abdomen dapat

menyumbat aliran vena.

Gambar 1-5. Stoking elastik tinggi (antiembolitik)

2.3.4 Embolisme Pulmoral

Suatu embolus adalah benda asing (bekuan darah, udara,lemak) yang

terlepas dari tempat asalnya dan terbawa di sepanjang alairan darah. Ketika
21

embolus menjalar kesebelah kanan jantung dan dengan sempurna menyumbat

arteri pulmonal, gejala yang ditimbulkan mendadak dan sangat tiba-tiba. Pasien

yang mengalami penyembuhan normal mendadak menangis dengan nyaring,

nyeri seperti ditusuk-tusuk pada dada dan menjadi sesak napas, diaforetik,

cemas, dan sianosis, pupil dilatasi, nadi menjadi cepat dan tidak teratur;

kematian mendadak dapat terjadi.

Untungnya, embolisme pulmonal biasanya disebabkan sebagian, dan

bukan secara keseluruhan, oleh oklusivaskulatur pulmoral, dan bukan secara

keselurahan, oleh oklusivaskulatur pulmonal, dan pasien mengalami gejala

dispnea ringan (pernafasan labored), disritmia, atau tampaknya nyeri dada tidak

berarti. Kewaspadaan pada bagian perawat penting untuk mendeteksi episode

embolus kecil ini sehingga pengobatan dini dapat dilakukan dan embolisasi

lebih lanjut dapat dihindari.

Ambulisasi pascaoperatif dini mengurangi resiko embolisme pulmonari

a. Pencengahan
Pengalalaman menunjukkan bahwa insiden komplikasi ini dapat

dikurangi dengan pengkajian praoperatif dan penyeluhan serta membicarakan

tindak kewaspadaan selama dan setelah pembedahan. Diketahui dengan baik

bahwa pasien yang mempunyai disfungsi pernafas sebelum pembedahan hampir

pasti akan mengalami komplikasi pembedahan serius setelah operasi.

Karenanya, ketika terdapat penyakit pernafasan akut. Segela batuk, bersin

konjungtiva yang membengkak, rabas hidung, dan bunyi napas abnormal


22

dilaporkan pada ahli bedah dan ahli anestesi sebelum medikasi praoperatif

diberikan.
Selama dan segera setelah operasi, setiap upaya dibuat untuk mencegah

menggigil, yang selanjutnya menurunkan resisten pasien. Nasofaring pada ruang

pemulihan membuang sekresi yang sebaliknya akan menyebabkan masalah

pernapasan pada periode pascaoperasi, kadang, bentuk sekresi yang tidak dapat

dibatukkan oleh pasien dan dapat diisap melalui selang endotrakea atau

bronkoskop. Pada pasien yang sangat lemah di mana sekresi yang bertahan

adalah faktor yang menyulitkan, dapat dilakukkan trakeostomi sehingga

penghisapan dapat dilakukkan secara langsung melalui trakea.


b. Komplikasi Pernafasan
Komplikasi pernafasan merupakan masalah yang paling sering dan

paling serius di hadapi oleh pasien bedah. Jenis komplikasi pernapasan;

Komplikasi pernapasan yang mungkin timbul termasuk hipoksemia yang tidak

terdeteksi, atelektasis, bronkhitis, bronchopneumonia, pneumonia lobaris,

kongesti pulmonal hipostatik, pleurisy, dan superinfeksi.


Hipoksemia yang Tidak Terdeteksi. Jenis hipoksemia yang dapat

mempengaruhi pasien pascaoperatif adalah subkutan dan episodik. Hipoksemia

subkutan adalah tingkat saturasi O2 yang rendah dan konstan, meski pernapasan

pasien tampak normal. Hipoksemia episodik terjadi mendadak dan pasien dapat

beresiko terhadap disfungsi resebral, iskemia miokardium, dan henti jantung.

Komplikasi ini sering terjadi pada malam ketiga sampai keempat pascaoperatif.

Pasien yang berisiko terhadap hipoksemia termasuk mereka yang menjalani

bedah mayor (terutama abdomen), mereka yang kegemukan, atau mereka yang

sudah mempunyai masalah pulmonari sebelumnya.


23

Hipoksemia dapat dideteksi dengan teknik yang akurat oksimetri nadi

untuk menentukan saturasi O2. Pemantauan saturasi O2 kuantitatif diharuskan

oleh American Socienty of Anesthesiologist (ASA) pada pasien yang menjalani

anestesi umum dan di PACU. Penggunaan oksimetri nadi juga diperluas sampai

ke unit perawatan umum.


Atelektasis. Ketika gumpalan mukus menyumbat salah satu bronchi

secara keseluruhan, jaringan pulmonari di luar gumpalan tersebut kolaps dan

mengalami atelektasis masif – yaitu suatu paru yang komplit.


Bronkhitis. Bronkhitis dapat timbul kapan saja setelah pembedahan

tetapi biasanya terjadi dalam 5 atau 6 hari pertama. Gejalanya beragam sesuai

dengan keparahan penyakit. Bronchitis sederhana ditandai oleh batuk produktif

tetapi tanpa ditandai oleh kenaikan suhu atau nadi.


Metoda yang efektif dalam menangani bronchitis adalah menghirup uap

atau embun dingin. Vaporizer harus tetap terisi oleh air, dan kewaspadaan harus

diterapkan untuk mencengah pasien kepanasan.


Pneumonia lobaris adalah komplikasi yang sedikit lebih jarang

dibanding bronchopneumonia. Biasanya dimulai dengan menggigil, diikuti

dengan suhu tubuh, nadi, dan pernapasan, yang tinggi. mungkin terdapat sedikit

batuk, tetapi distres pernapasan, pipi kemerahan, dan pasien tampak sakit jelas

memberikan kombinasi tanda klinis yang sangat jelas. Penyakit bergulir dalam

perjalanan yang lazim tetapi memperlambat penyembuhan bedah.


Pada pneumonia lobaris dan bronchopneumonia, akspektorat dan

medikasi antibiotik diresepkan dan pasien dianjurkan untuk banyak minum.

Bunyi napas dikaji dengan sering untuk mengidentifikasi perubahan sebelum

terjadi disfungsi pernapasan dan jantung lebih lanjut.


c. Penalataksanaan Keperawatan
24

Kesadaran tentang banyaknya kemungkinan komplikasi pernapasan

memampukan perawat untuk melakukan tindakan preventif. Pengenalan tanda

dan gejala tepat pada waktunya memungkinkan perawat untuk berkolaborasi

dengan dokter dan anggota tim perawatan kesehatan lainnya untuk melawan

masalah pernapasan yang spesifik. Pasien membutuhkan pengamatan ketat dan

penatalaksanaan yang cermat pada minggu pertama pemulihan pascaoperatif.

Jika pasien telah dipulangkan, penyuluhan pasien harus mewaspadakan pasien

dan keluarga terhadap keungkinan tanda dini masalah pernapasan.

2.3.5 Retensi Urin

Meski retensi urin dapat terjadi setelah segala prosedur pembedahan,

retensi terjadi paling sering setelah pembedahan pada rektum, anus dan vagina,

dan setelah herniorafi dan pembedahan pada abdomen bagian bawah.

Penyebabnya diduga adalah spasme spinkter kandung kemih.

a. Penatalaksanaan dan Intervensi Keperawatan

Seringkali pasien tidak mampu berkemih ketika ia berbaring di tetempt

tidur, tetapi ketika diperbolehkan duduk atau berdiri mereka dapat

melakukannya tanpa mengalami kesulitannya. Ketika berdiri atau duduk tidak

menjadi kontraindikasi, pasien pria diperbolehkan untuk berdiri disamping

tempat tidur dan menggunakan urinal. Pasien wanita diperbolehkan untuk duduk

diatas bedpan pada tepi tempat tidur dengan kakinya di atas kursi atau tempat

duduk. Namun demikian, ketika duduk atau berdiri tidak memungkinkan, cara

lain untuk mendorong berkemih harus dicoba. Orang tertentu tidak dapat
25

berkemih ketika ada orang lain dalam ruangan. Pasien ini harus ditinggalkan

sendiri selama waktu tertentu setelah disiapkan badpan hangat atau urinal.

Seringkali bunyi air yang mengalir dapat merilekskan spinter kandung

kemih. Dengan menggunakan badpan dan mengirigasi perineum dengan air

hangat sering dapat merangsang berkemih bagi pasien wanita. Jika retensi urine

terus berlanjut selama beberapa jam dan pasien mengeluh rasa tidak nyaman

pada abdomen, kandung kemih yang membesar dapat teraba dan bahkan tampak

pada abdomen bagian bawah.

Kateterisasi bisa diperlukan ketika semua tindakan konservatif tidak

membuahkan hasil. Jika pasien telah berkemih tepat sebelum pembedahan,

prosedur ini dapat di tunda selama 8 hingga 12 jam, tergantung pada masukan

cairan intra vena dan oral pasien dan program medik dokter. Upaya dibuat untuk

menghindari kateterisasi karena kemungkinan menginfeksi kandung kemih dan

menyebab sistisis. Lebih jauh lagi, pengalaman menunjukkan bahwa sekali

pasien kateterisasi, maka kateterisasi selanjutnya sering kali diperlukan.

Suatu saat ahli bedah dapat mengantisipasi kesulitan setelah bedah besar,

dan kateter indwelling dipasang sebelum pasien sadar dari anestesi. Ahli bedah

diberitahukan jika drain kateter kurang dari 30 ml urin per jam.

Retensi alir-berlebih dapat menjadi masalah. Banyak pasien

menunjukkan rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah, dengan kandung

kemih yang dapat teraba, namun mengeluarkannya hanya sejumlah kecil urin

pada interval yang sering. Perawat jangan keliru mengenal hal ini dengan fungsi
26

normal kandung kemih. Berkemih 30 sampai 60 ml urine pada interval 15

sampai 30 menit adalah tanda overdistensi kandung kemih, yang memungkinkan

untuk keluarnya sejumlah kecil urin pada interval tertentu. Kondisi ini disebut

retensi alir-berlebih.

Inkontinens retensi alir-berlebih dapat terlihat dengan dribel konstan urin

ketika kandung kemih tetap overdistensi. Karena distensi mengganggu suplai

vaskuler dinding kandung kemih dan meningkatkan resiko infeksi, kateterisasi

diperlukan. Kateterisasi biasanya meredakan pasien dengan mengalirkan 600

sampai 900 ml urin dari kandung kemih.

2.3.6 Sepsis

Sepsis adalah sindroma respon inflamasi sistemik, yang biasa disingkat

SIRS (Systemic Inflammatory Respons Syndrome) disebabkan oleh adanya

infeksi bakteri, jamur, virus, atau parasit. Dikatakan sepsis apabila disertai

dengan dua atau lebih dari respon inflamasi sistemik yang manifestasi klinisnya

berupa Suhu >38OC atau <36OC, denyut jantung >90 kali per menit, distress

pernapasan dengan frekuensi >20 kali per menit atau kadar PaCO 2 <32mmHg,

sel darah putih berkisar >12.000/mm3 atau <4.000/mm3, atapun >10% dari

bentuknya yang belum matang, dan gula darah >7.7 mmol/L (tidak diabetes).
27

Gambar 1-6. Hubungan sebab-akibat dari infeksi, sepsis dan sindroma respon infamasi

sistemik.

Sepsis yang parah sering dikaitkan dengan kegagalan fungsi organ,

hipoperfusi ataupun hipotensi. Hipoperfusi seperti menurunnya fungsi ginjal dan

ketidaknormalan perfusi tidak terbatas hanya untuk laktat asidosis, oliguria, atau

perubahan status mental.

Syok septik merupakan sepsis yang didukung dengan adanya hipotensi

meskipun resusitasi cairan memadai tidak terbatas hanya pada laktat asidosis,

oliguria atau perubahan akut status mental. Pasien menerima vasopressor

mungkin tidak mengalami hipotensi pada saat mengukur kelainan perfusi. Syok

septik merupakan sepsis dengan tekanan sistolik darah <90 mmHg atau 40

mmHg dibawah tekanan darah normal pasien tersebut selama sekurang-

kurangnya 1 jam meskipun telah dilakukan resusitasi cairan atau dibutuhkan

vasopressor untuk mempertahankan agar tekanan sistolik tetap ≥90 mmHg atau

tekanan arterial rata-rata ≥70 mmHg.

Multiple organ dysfunction syndrome (MODS)- beberapa sindroma

disfungsi organ berubah pada pasien sakit akut sehingga homeostasis tubuh

tidak dapat dipertahankan tanpa intervensi.

Tanda-tanda dari kerusakan fungsi organ menandakan sepsis yang parah

antara lain: pada sistem saraf pusat mengalami perubahan status mental, pada

sistem kardiovaskular tekanan sistolik <90 mmHg atau rata-rata <65 mmHg,

pada sistem pernapasan kadar SPO2 >90% dengan penggunaan oksigen, ginjal
28

memiliki kadar kreatinin >177 µmmol/L or pengeluaran urin <0,5 ml/kg/jam

selama dua jam. Pada hati akan didapatkan kadar bilirubin >34 µmol/L, pada

sumsum tulang belakang trombosit <100, hipoperfusi memiliki nilai laktat

>2mmol/L, dan koagulasi memiliki rasio normalisasi internasional >1,5 atau

parsial tromboplastin waktu >60 detik.

a. Manajemen Sepsis

question If yes, consider the following


Langkah sederhana yang bisa dilakukan perawat untuk mengidentifikasi

pasien dengan sepsis adalah dengan melakukan pengkajian CHFT Sepsis

Screening Tool.

Fig 7. CHFT SEPSIS SCREENING TOOL


Sepsis confirmed by >2 clinical signs and indication of infective source
1. Are >2 of the Yes 2. Is the history indicative Yes
following signs present? of an infection in any of
Temperature >38.3°C or Invasive device infection
Heart rate >90bpm Lungs/pneumonia
Respiratory rate >20 Abdomen, acute infection
White cells <4 or >12g/L Wound infection
New altered mental state Skin/soft tissue
Blood glucose >7.7 (not Endocarditis
Urinary tract or kidney
Brain/meningitis/encephaliti
Obstetric or
gynaecological infection
Bone or joint infection

If the previous considerations indicate sepsis, commence the Sepsis Six


care bundle and contact the doctor and critical care outreach team

Gambar 1-7. CHFT Sepsis Screening Tool

Beberapa organisasi telah menerapkan sepsis screening tool secara rutin.

Ini penting dilakukan mengingat bahwa SIRS tidak selalu disebabkan oleh
29

infeksi dan mungkin karena sebab medis lainnya. Penilaian klinis, pengalaman

dalam mengambil dan melakukan pemeriksaan akan memastikan keakuratan

diagnosis dan untuk membantu memperkirakan tingkat keparahan penyakit.

Lakukan tindakan Bundle Sepsis (The Sepsis Six Care Bundle) yang

ditunjukkan untuk meningkatkan pemberian asuhan keperawatan. Semua pasien

dengan sepsis harus menerima bundle sepsis yang terdiri dari tiga kwajiban-

investigasi dan tiga intervensi dalam waktu satu jam dari teindentifikasi.

Kotak 1-The Sepsis Six Care Bundle


 Memberikan oksigen dengan aliran yang tinggi

 Lakukan kultur jaringan darah

 Beri antibiotik

 Ukur serum laktat dan hitung darah lengkap

 Mulai pantau pengukuran urin

Darah (Termasuk Laktat) jika dicurigai sepsis, hitung darah lengkap,

pembekuan, fungsi ginjal, tes fungsi hati, c-reactive protein dan gas darah arteri

(untuk memastikan level laktak) harus diambil. Kadar hemoglobin rendah

berampak pada kekurangan pengiriman oksigen ke jaringan sehingga harus

segera diidentifikasi dan diobati, sementara jumlah sel darah putih sementara

jumlah sel darah putih menentukan indikator dari infeksi dan digunakan sebagai

tahap awal screening untuk sepsis.

Kultur darah. Kultur darah dilakukan untuk mengidentifikasi jenis

mikroba untuk pilihan antibiotik. Kultur harus diambil dari lokasi terpisah dalam

waktu yang bersamaan dan harus termasuk salah satu dari setiap di lokasi infuse
30

selama lebih dari 48 jam. Kultur juga harus dilakukan dari sumber lain,

misalnya sputum atau urin.

Pengeluaran urin. Keseimbangan cairan merupakan sebuah indikator

yang baik dari fungsi ginjal. Oleh karena itu penting dilakukan untuk mencegah

cedera ginjal secara akut. Pemasangan kateter adalah “gold-standart” untuk

pengukuran yang akurat.

Oksigenisasi. Pasien dengan sepsis dibutuhkan aliran oksigen yang

tinggi sampai ada hasil dari pemeriksaan gas darah yang menandakan tidak ada

hipoperfusi. Namun pertimbangan secara cermat harus diperhatikan pada pasien

yang memiliki penyakit paru kronis.

Cairan. Resusitasi cairan sangat penting untuk mencegah hipotensi dan

meningkatkan curah jantung karena perfusi jaringan. Banyak pasien dengan

sepsis mengalami dehidrasi. SSC saat ini merekomendasikan 30ml/kg kristaloid

untuk pasien dengan hipotensi atau nilai laktat (>4mmol). Namun pada pasien

dengan kasus gagal ginjal harus dipertimbangkan jumlahnya.

Antibiotik. Antibiotik spectrum luas harus diberikan dalam waktu satu

jam dari diidentifikasi sepsis dan tetap harus melakukan skin test terlebih

dahulu. Pilihan antibiotic tergantung dari penyebab infeksi, tak ada salahnya

diskusi dengan melibatkan ahli mikrobiologi. Terapi antibiotic harus ditinjau

setiap hari untuk mengurangi toksisitas, resiko resisten, dan biaya.

Sumber Artikel: nursingtimes.net/infection


31

a. Pertimbangan Nutrisi

Pembedahan traktus gastrointestinal seringkali menggangu proses

fisiologis normal pencernaan dan penyerapan. Komplikasi yang timbul dari

gangguan ini dapat terjadi dalam beberapa bentuk, tergantung pada letak dan

keluasan pembedahan. Sebagai contoh, bedah mulut dapat menghasilkan

masalah mengunyah dan menelan, sehingga diet harus dimodifikasi untuk bisa

menyesuaikan kualitas ini. Prosedur pembedahan lainnya, seperti gastrektomi,

reseksi usus halus, ileostomi, dan kolostomi, mempunyai efek yang lebih drastis

pada sistem gastrointestinal dan membutuhkan pertimbangan diet yang lebih

mendalam.

b. Obstruksi Intestinal

Obstruksi intestinal adalah komplikasi yang dapat menyertai

pembedahan abdomen. Komplikasi ini paling sering terjadi setelah pembedahan

pada abdomen bagian bawah dan pelvis, terutama setelah pembedahan dimana

pemasangan drainase diperlukan. Gejalanya biasanya tampak antara hari ketiga

dan kelima tetapi dapat terjadi kapan saja, bahkan setahun setelah pembedahan.

Penyebabnya adalah suatu obstruksi aliran usus-seringkali loop intestin yang

mejadi “kusut” akibat adesi inflamasi atau yang terkena peritonitis atau iritasi

umum permukaan peritoneal.

Manifestasi klinis. Seringkali tidak terdapat demam dan peningkatan

nadi, tetapi terdapat ras tidak nyaman. Pada awalnya nyeri terasa setempat. Area

yang sangat nyeri harus diperhatikan oleh perawat karena lokalisasi dari nyeri
32

dini berhubungan dengan loop intestin yang berada tepat di atas obstruksi.

Pasien terus mengalami nyeri abdomen, dengan interval yang makin singkat

antara gelombang nyeri. Ketika stetoskop diletakkan di atas abdomen, bunyi

yang terdengar dapat menunjukkan gerakan usus yang sangat aktif, terutama

saat terjadi serangan nyeri. Isi usus, tidak dapat bergerak maju, menekan koil

usus, sehingga membawa kembali isi usus kedalam lambung, dan dimuntahkan.

Sehingga, muntah dan peningkatan distensi menjadi gejala yang sangat

menonjol. Cegukan sering mendahului muntah pada beberapa pasien. Tidak

terjadi defekasi, dan enema mengeluarkan cairan jernih yang menandakan

bahwa hanya sebagian kecil isi usus yang mencapai ke usus besar. Kecuali

obstruksi dihilangkan, pasien akan terus muntah, distensi makin jelas, nadi

menjadi cepat, dan dapat terjadi kematian.

Penatalaksanaan. Kadang distensi usus di atas bagian yang mengalami

obstruksi dapat dihilangkan dengan menggunakan drainase penghisap-

intermiten dengan selang nasoenteral atau selang nasogastrik sederhana. Kadang

reaksi inflamasi usus dapat menghilang dengan menghilangnya obstruksi.

Namun begitu, pada waktu lainnya diperlukan untuk menghilangkan obstruksi

melalui tindakan bedah. Infus intra vena biasanya juga diberikan.

2.3.8 Psikosis Pascaoperatif

Psikosis pascaoperatif (abnormalitas mental) dapat mempunyai asal

fisiologis atau psikologis. Anoksia serebral tromboembolisme, dan

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dikenal sebagai faktor fisik pada stress
33

dan kerusakan sistem saraf pusat pascaoperatif. Faktor emosional seperti

ketakutan, nyeri, dan disorientasi dapat menunjang depresi pascaoperatif dan

ansietas.

Pasien yang lebih tua, terutama mereka dengan eterosklerosis

serebrovaskuler, lebih rentan terhadap gangguan psikologis. Biasanya pasien ini

dapat mengatasi dengan baik sampai mereka menjalani anastetik dan

pembedahan. Setelah pembedahan mereka dapat menjai sangat terganggu dan

disorientasi. Pembedahan yang mengakibatkan perubahan bentuk tubuh dan

pembedahan untuk kanker juga mencetuskan pasien kepada masalah-masalah

emosional yang mendalam. Balutan yang menghalangi penglihatan atau

terkurungnya tubuh dalam gips dapat mengakibatkan perubahan perilaku karena

input sensori yang menurun.


34

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Tahap post operatif merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre operatif dan

intra operatif yang dimulai ketika klien diterima di ruang pemulihan

(recovery room) atau pasca anastesi dan berakhir sampai evaluasi tindak

lanjut pada tatanan klinik atau di rumah (Maryunani, 2014).


 Syok adalah komplikasi pascaoperatif yang merupakan tanda tidak

memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan ketidakmampuan untuk

mengeksresikan produk sampah metabolisme.


 Hemoragi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu primer, intermediary, dan

sekunder.
 Trombosis vena profunda adalah thrombosis pada vena yang letaknya dalam

dan bukan superficial.


 Embolisme pulmonal adalah suatu embolus yang merupakan benda asing

berupa bekuan darah, udara, lemak) yang terlepas dari tempat asalnya dan

terbawa disepanjang aliran darah.


 Retensi urin disebabkan oleh spasme spinkter kandung kemih.
 Komplikasi gastrointestinal salah satunya adalah obstruksi intestinal yan

merupakan komplikasi yang dapat menyertai pembedahan abdomen dan

ditandai dengan peningkatan nadi namun seringnya tidak mengalami demam.

3.2 Saran
Bagi mahasiswa D4 Keperawatan sebagai calon tenaga kesehatan dalam

memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan resiko komplikasi dapat

meningkatkan kemampuannya dalam menangani kegawatdaruratan pada pasien


35

post operasi seperti syok, perdarahan, thrombosis vena profunda, retensi urin,

sepsis, embolisme pulmonal, dan komplikasi gastrointestinal sesuai dengan

perkembangan ilmu pengetahuan.


36

DAFTAR PUSTAKA

Maryunani Anik (2014). Asuhan Keperawatan Perioperatif – Pre Operasi. Jakarta :


Katalog Dalam Penerbitan (KDT).
Muttaqin,A & sari, K (2009). Asuhan Keperawatan Perioperatif: Konsep, Proses,
dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika.
Smeltzer, Suzanne C (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
McClelland H, Moxon A (2014). Early Identification And Treatment Of Sepsis.
Nursing Practice Review Infection Vol 110, No. 4 (www.nursingtime.net,
diakses 30 September 2016).