Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. SEJARAH PERLINDUNGAN KONSUMEN DI BARAT

Perkembangan hukum perlindungan konsumen di Barat dimulai dari lahirnya gerakan

perlindungan konsumen (consumers movement), yang disebut dengan era pertama

pergerakan konsumen. Amerika Serikat tercatat sebagai negara yang banyak memberikan

sumbangan dalam masalah perlindungan konsumen. Secara historis perlindungan

konsumen diawali dengan adanya gerakan-gerakan konsumen diawal abad ke-19. Di New

York pada tahun 1891 terbentuk Liga Konsumen yang pertama kali, dan pada tahun 1898

terbentuk Liga Konsumen Nasional (The National Consumer's League) di Amerika

Serikat. Organisasi ini kemudian tumbuh dan berkembang dengan pesat, sehingga pada

tahun 1903 Liga Konsumen Nasional di Amerika Serikat telah berkembang menjadi 64

cabang yang meliput 20 negara bagian.1

Perjuangan untuk mewujudkan perlindungan konsumen ini juga mengalami hambatan

dan rintangan. Untuk meloloskan The Food and Drugs Act dan The Meat Inspection Act

telah mengalami kegagalan yang berulang-ulang. Hal ini terbukti dengan kegagalan

Parlemen Amerika Serikat untuk meloloskan undang-undang tersebut pada tahun 1892.

Usaha tersebut dicoba lagi pada tahun 1902 dengan mendapat dukungan bersama-sama

oleh Liga Konsumen Nasional, The General Federation of Women's Club dan State Food

and Dairy Chemists, namun tetap juga gagal. Akhirnya The Food and Drugs Act dan The

Meat Inspection Act lahir pada tahun 1906.2 Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun

1914, dengan dibukanya kemungkinan untuk terbentuknya komisi yang bergerak dalam

perlindungan konsumen, yaitu FTC (Federal Trade Commission), dengan The Federal
1 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Gramedia, 2003), h. 13
2 Munir Fuady, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktik, Buku Kedua, (Bandung: Citni Adtya Bakti, 1994), h.
185.

1
2

Trade Commission Act.3

Era kedua pergerakan konsumen di pentas internasional terjadi sekitar tahun 1930-an.

Para pendidik melihat tentang urgensi pendidikan konsumen yang baik. Pada era ini telah

dimulai pemeriksaan terhadap barang-barang yang akan dipasarkan kepada konsumen.

Masyarakat sudah mulai angkat bicara tentang hak-hak konsumen, di antaranya dengan

menulis beberapa buku. Pada tahun 1927, Stuart Chase dan F.J. Schlink menulis buku

Your Money's Worth dengan subtitle A Study in the Waste of the Consumer Dollar". Pada

tahun 1934 FJ. Schlink kembali menerbitkan beberapa buku, yaitu; "100.000.000 Guinea

Pigs, Skin Deep, American Chamber of Horrors, dan Counterfeit, Not Your Money but

What it Buys.

Tragedi elixir sulfanilamide, sejenis obatan dari bahan sulfa, pada tahun 1937

menyebabkan 93 orang konsumennya di Amerika Serikat meninggal dunia. Tragedy ini

ternyata mendorong terbentuknya The Food, Drug and Cosmetics Act pada tahun 1938,

yang merupakan amendemen dari The Food and Drugs Act tahun 1906.

Era ketiga dari pergerakan perlindungan konsumen terjadi pada tahun 1960-an, era ini

melahirkan satu cabang hukum baru, yaitu hukum konsumen (consumers law). Pada

tanggal 15 Maret 1962 John F. Kennedy menyampaikan consumer message di hadapan

Kongres Amerika Serikat, dan sejak itu dianggap sebagai era baru perlindungan

konsumen. Pesan tersebut kemudian didukung oleh mantan Presiden Amerika Serikat

Lyndon Johnson dan Richard Nixon. Dalam preambul consumer massage ini dicantumkan

formulasi pokok-pokok pikiran yang sampai sekarang terkenal sebagai hak-hak konsumen

(consumer bill of right).

Perhatian dan apresiasi yang besar terhadap masalah perlindungan konsumen juga

dilakukan oleh Jimmy Carter. Pandangan Carter mengenai isu perlindungan konsumen

3 Donald P. Rothschild dan David W. Carrol, Consumer Protecting; Reporting Ser vice, Vol. 1 (Maryland:
National Law Publishing Corporation, I986), h. 17.lihat juga Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op. cit., h. 13.
3

sebagai a breath of fresh air. Sehingga Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani menyebutkan,

bahwa Jimmy Carter juga dapat dipandang sebagai pendekar perlindungan konsumen

karena perhatian dan apresiasinya yang besar.

Di negara-negara lain selain Amerika Serikat, baik di negara maju maupun di negara

berkembang, aspek perlindungan terhadap hak-hak konsumen bangkit dan berkembang

setelah era ketiga. Kendatipun sebelumnya telah lahir undang-undang yang berkaitan de-

ngan perlindungan konsumen di beberapa negara tersebut.

Inggris telah memberlakukan Hops (Prevention of Frauds) Act tahun 1866, The Sale

of Goods Act, tahun 1893, Fabrics (Misdescription) Act, tahun 1913, The Food and Drugs

Act, tahun 1955. Namun pengaturan khusus tentang perlindungan konsumen, yakni The

Consumer Protection Act baru muncul pada tahun 1961 yang kemudian diamendir pada

tahun 1971.4

Di India, prinsip-prinsip perlindungan konsumen juga telah lahir sebelum era ketiga,

antara lain Indian Contract Act tahun 1872, The Specific Relief Act tahun 1877, yang

kemudian diganti dengan The Specific Relief Act tahun 1963, dan Iain-lain.5 Namun

pengaturan perlindungan konsumen di India Consumer Protection Act baru muncul pada

tahun 1986.

Adapun di Meksiko, pertama kali mengeluarkan hukum perlindungan konsumen pada

tahun 1975 melalui Mexico's Federal Consumer Protection Act (FCPA). Sebelumnya

pengaturan perlindungan konsumen di Meksiko pada dasarnya tidak ada.

Era ketiga ini menyadarkan dunia internasional untuk membentuk Undang-Undang

Perlindungan Konsumen. Beberapa di antaranya :6

1. Singapura: The Consumer Protection (Trade Description and Safe-ty Requirement

4 Munir Fuady, Op. cit., h. 187. Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Op. cit., h. 14.
5 Munir Fuady, Op. cit., h. 187.
6 Gunawan Wldjaja dan Ahmad Yani, Op cit. h.15
4

Act), tahun 1975;

2. Thailand: Consumer Act, tahun 1979;

3. Jepang: The Consumer Protection Fundamental Act, tahun 1968;

4. Australia: Consumer Affairs Act, tahun 1978;

5. Irlandia: Consumer Information Act, tahun 1978;

6. Finlandia: Consumer Protection Act, tahun 1978;

7. Inggris: The Consumer Protection Act, tahun 1961, diamendir tahun 1971;

8. Kanada: The Consumer Protection Act dan The Consumer Protection Amendment Act,

tahun 1971; dan

9. Amerika Serikat: The Uniform Trade Practices and Consumer Protection Act

(UTPCP) tahun 1967, diamendir tahun 1969 dan 1970, kemudian Unfair Trade

Practices and Consumer Protection (Lousiana) Law, tahun 1973.

Masyarakat Eropa menempuh melalui dua tahap program terkait dengan gerakan

perlindungan konsumen, yaitu; program pertama pada tahun 1973 dan program kedua

pada tahun 1981.7

Fokus program pertama, terkait dengan kecurangan produsen terhadap konsumen,

seperti kontrak standar, ketentuan perkreditan, penjualan yang bersifat memaksa, kerugian

akibat mengonsumsi produk cacat, praktik iklan yang menyesatkan, serta jaminan setelah

pembelian produk.

Fokus program kedua, terkait dengan penekanan kembali hak-hak dasar konsumen

yang kemudian dilanjutkan dengan mengeluarkan tiga kerangka acuan perlindungan

konsumen. Pertama, produk yang dipasarkan harus memenuhi standar kesehatan dan

keselamat-an konsumen. Kedua, konsumen harus dapat menikmati keuntungan dari pasar

bersama dengan masyarakat Eropa. Ketiga, bahwa kepen-tingan konsumen harus selalu

7 Norbert Reich, Protn lion of Consumers Economic by the EC, The Sydney Law Review, Vol. 4 Number 1

(1992), h.24-25
5

diperhitungkan dalam setiap kebija-kan-kebijakan yang dikeluarkan masyarakat Eropa.

Akhirnya, pada tahun 1985 Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan suara bulat

menerbitkan Resolusi PBB Nomor A/RES/39/248 tanggal 16 April 1985 tentang The

Guidelines For Consumer Protection. Dalam Guidelines terdapat enam kepentingan

konsumen yang harus dilindungi.

B. SEJARAH PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA

Pengaturan tentang perlindungan konsumen di Indonesia telah dimulai sejak zaman

Hindia Belanda, kendatipun sebagian besar peraturan-peraturan tersebut pada saat ini

sudah tidak berlaku lagi. Beberapa peraturan yang berkaitan dengan perlindungan

konsumen pada saat itu antara lain:

1. Reglement Industriele Eigendom, S. 1912-545, jo. S. 1913 No. 214.

2. Hinder Ordonnantie (Ordonansi Gangguan), S. 1926-226 jo. S.1927-449, jo. S. 1940-

14 dan 450.

3. Loodwit Ordonnantie (Ordonansi Timbal Karbonat), S. 1931 No.28.

4. Tin Ordonnantie (Ordonansi Timah Putih), S. 1931-509.

5. Vuurwerk Ordonnantie (Ordonansi Petasan), S. 1932-143.

6. Verpakkings Ordonnantie (Ordonansi Kemasan), S. 1935 No. 161.

7. Ordonnantie Op de Slacth Belasting (Ordonansi Pajak Sembelih), S. 1936-671.

8. Sterkwerkannde Geneesmiddelen Ordonnantie (Ordonansi Obat Keras), S. 1937-641.

9. Bedrijfsrelementerings Ordonnantie (Ordonansi Penyaluran Perusahaan), S. 1938-86.

Pada sisi lain, dalam beberapa kitab undang-undang juga terdapat beberapa ketentuan

yang dapat digunakan untuk melindungi konsumen, yaitu:

1. KUH Perdata: Bagian 2, Bab V, Buku II mengatur tentang kewajiban penjual dalam

perjanjian jual beli.


6

2. KUHD: tentang pihak ketiga yang harus dilindungi, tentang perlindungan

penumpang/barang muatan pada hukum maritim, ketentuan mengenai perantara,

asuransi, surat berharga, kepailitan, dan sebagainya.

3. KUH Pidana: tentang pemalsuan, penipuan, pemalsuan merek, persaingan curang, dan

sebagainya.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia hingga tahun 1999, undang-undang

Indonesia belum mengenai istilah perlindungan konsumen. Namun peraturan perundang-

undangan di Indonesia berusaha untuk memenuhi unsur-unsur perlindungan konsumen.

Kendatipun demikian, beberapa peraturan perundang-undangan tersebut belum memiliki

ketegasan dan kepastian hukum tentang hak-hak konsumen. Misalnya:

1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Barang.

2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene.

3. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 Metrologi Legal.

4. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup.

5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.

6. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan.

7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri.

8. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

9. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

10. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Agreement Establishing The World

Trade Organization (Persetujuan Pemben-tukan Organisasi Perdagangan Dunia).

11. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terba-tas.

12. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.

13. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.

14. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-Undang link
7

Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987.

15. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-Undang

Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten.

16. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-Undang

Nomor 19 Tahun 1989 tentang Merek.

17. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

18. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran.

19. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan.

20. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang

Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

21. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Hiruk pikuk gerakan perlindungan konsumen di Indonesia mu-lai terdengar dan

populer pada tahun 1970-an, yakni dengan berdiri-nya lembaga swadaya masyarakat

(nongovernmental organization)16 Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada

bulan Mei 1973. Organisasi ini untuk pertama kalinya dipimpin oleh Lasmijah

Hardi.Organisasi lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang perlindungan

konsumen, tentu saja dalam aktivitasnya ber-tindak selaku perwakilan konsumen

(consumer representation) yang bertujuan untuk melayani dan meningkatkan martabat dan

kepen-tingan konsumen.

Pada awalnya, YLKI berdiri berdasarkan rasa mawas diri terha-dap promosi hasil

produksi barang-barang dalam negeri. Pada tahun 1972, Lasmidjah Hardi memimpin

kegiatan Pekan Swakarya, yang berupa aksi promosi terhadap berbagai barang dalam

negeri. Setelah Swakarya I muncul desakan masyarakat, bahwa kegiatan promosi harus

diimbangi dengan langkah-langkah pengawasan, agar masyarakat tidak dirugikan dan


8

kualitas barang terjamin. Dari ajang Pekan Swakarya ini lahir YLKI yang ide-idenya

dituangkan dalam anggaran dasar YLKI di hadapan Notaris G.H.S. Loemban Tobing, S.H.

dengan akta nomor 26, 11 Mei 1973.8

Yayasan ini sejak semula tidak ingin berkonfrontasi dengan pro-dusen (pelaku usaha),

apalagi dengan pemerintah. Hal ini dibukti-kan oleh YLKI dengan menyelenggarakan

pekan promosi Swakarya II dan III. Kegiatan ini akhirnya benar-benar dimanfaatkan oleh

ka-langan produsen dalam negeri. Dalam suasana kerjasama ini kemudian YLKI

melahirkan lahir moto; "Melindungi Konsumen, Menjaga Martabat Produsen, dan

Membantu Pemerintah".

Setelah lahirnya YLKI, muncul beberapa organisasi yang berbasis perlindungan

konsumen. Pada Februari 1988, berdiri Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen

(LP2K) di Semarang dan hcrgabung sebagai anggota Consumers International (CI) tahun

1990. Hingga pada saat ini cukup banyak lembaga swadaya masyarakat serupa yang

berorientasi pada kepentingan pelayanan konsumen, seperti Yayasan Lembaga Bina

Konsumen Indonesia (YLBKI) di Bandung dan perwakilan YLKI diberbagai provinsi di

Tanah Air.9

Di samping itu, dukungan media massa nasional baik cetak maupun elektronik yang

secara rutin menyediakan kolom khusus untuk membahas keluhan-keluhan konsumen,

juga turut menggalakkan pcrgerakan perlindungan konsumen di Indonesia. Hasil-hasil

penelitian YLKI yang dipublikasikan di media massa juga membawa dampak terhadap

konsumen. Perhatian produsen terhadap publikasi demikian juga terlihat dari reaksi-reaksi

yang diberikan, baik berupa koreksi maupun bantahan. Hal ini menunjukkan dalam

perjalanan memasuki dasawarsa ketiga, YLKI mampu berperan besar, khususnya dalam

gerakan menyadarkan konsumen terhadap hak-haknya.

8 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2000), h.40


9 Shidarta, Op cit. h. 40
9

Demikian juga dalam berbagai pertemuan ilmiah dan pemba-hasan peraturan

perundang-undangan, YLKI dianggap sebagai mitra yang representatif. Keberadaan YLKI

juga sangat membantu dalam upaya peningkatan kesadaran atas hak-hak konsumen.

Lembaga ini tidak sekadar melakukan penelitian atau pengujian, penerbitan, dan menerima

pengaduan, tetapi sekaligus juga mengadakan upaya advokasi langsung melalui jalur

pengadilan.

Selanjutnya, pergerakan pemberdayaan konsumen semakin gencar, baik melalui

ceramah, seminar, tulisan, dan media masa. Gerakan konsumen di Indonesia, termasuk

yang diprakarsai YLKI mencatat prestasi besar setelah naskah akademik UUPK berhasil

dibawa ke DPR, yang akhirnya disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999

tentang Perlindungan Konsumen pada tanggal 20 April 1999.10

Pembentukan Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut tidak terlepas dari

dinamika politik di Indonesia. Iklim politik yang lebih demokratis ditandai dengan gerakan

reformasi yang dikomandoi oleh mahasiswa dan ditandai dengan pergantian Presiden

Republik Indonasia dari Soeharto kepada BJ. Habbibie. Kehidupan yang lebih demokratis

mulai diperjuangkan, bersamaan dengan itu pula tuntutan untuk mewujudkan Undang-

Undang Perlindungan Konsumen semakin menguat.

Hal ini ditandai dengan keberanian DPR menggunakan hak inisiatifnya untuk

mengajukan rancangan undang-undang, yang selama kepemimpinan Soeharto tidak

pernah digunakan. Rancangan usul inisiatif pertama yang diajukan DPR adalah Rancangan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan

Persaiangan Usaha Tidak Sehat. Selain untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah

dan masyarakat, keberanian DPR dalam mengajukan rancangan usul inisiatif ini menjadi

penting bagi konsumen, karena orientasi pemikiran legislatif sudah berorientasi kepada

10 Gunawan Wldjaja dan Ahmad Yani, Op cit. h.16


10

kepentingan konsumen.

Selain itu, faktor yang memengaruhi pembentukan Undang-Undang Perlindungan

Konsumen di Indonesia adalah munculnya beberapa kasus yang merugikan konsumen dan

diakhiri dengan penyelesaian yang tidak memuaskan konsumen. Kasus Republik Indonesia

v. Tan Chandra Helmi dan Gimun Tanno yang dikenal dengan kasus biskuit beracun,

gugatan konsumen hanya dilihat dari aspek pidana dan administratif saja, sehingga korban

atau konsumen tidak mendapatkan kompensasi atau ganti kerugian atas dasar tuntutan

perdata. Dalam kasus Janizal dkk v. PT Kentamik Super International yang dikenal dengan

kasus Perumahan Naragong Indah, pihak pengembang dimenangkan bahkan pihak

pengembang menggugat balik konsumen, karena dinilai telah melakukan pencemaran

nama baik.

Di lain pihak, faktor yang juga turut mendorong pembentukan Undang-Undang

Perlindungan Konsumen di Indonesia adalah perkembangan sistem perdagangan global

yang dikemas dalam kerangka World Trade Organization (WTO), maupun program

International Monetary Fund (IMF), dan Program Bank Dunia. Keputusan Indonesia untuk

meratifikasi perjanjian perdagangan dunia diikuti dengan dorongan terhadap Pemerintah

Indonesia untuk melakukan harmonisasi hukum nasional dengan hukum internasional di

bidang perdagangan.
11

BAB II

PEMBAHASAN

A. BEBERAPA HAL YANG TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN

KONSUMEN

Berkaitan dengan perlindungan konsumen, khususnya dengan tanggung jawab

produk, perlu dijelaskan beberapa istilah terlebih dahulu untuk memperoleh kesatuan

persepsi dalam pembahasan selanjutnya Istilah yang memerlukan penjelasan itu adalah

produsen atau pelaku usaha, konsumen, produk dan standardisasi produk, peranan

pemerintah, serta klausula baku.

1. Produsen atau Pelaku Usaha

Produsen sering diartikan sebagai pengusaha yang menghasilkan barang dan jasa.

Dalam pengertian ini termasuk di dalamnya pembuat, grosir, leveransir, dan pengecer

profesional, yaitu setiap orang/badan yang ikut serta dalam penyediaan barang dan jasa

hingga sampai ke tangan konsumen.11 Sifat profesional merupakan syarat mutlak dalam

hal menuntut pertanggungjawaban dari produsen.

Dengan demikian, produsen tidak hanya diartikan sebagai pihak pembuat/ pabrik

yang menghasilkan produk saja, tetapi juga mereka yang terkait dengan

penyampaian/peredaran produk hingga sampai ke tangan konsumen. Dengan perkataan

lain, dalam konteks perlindungan konsumen, produsen diartikan secara luas. Sebagai

contoh, dalam hubungannya dengan produk makanan hasil industri (pangan olahan), maka

produsen-nya adalah mereka yang terkait dalam proses pengadaan makanan hasil industri

(pangan olahan) itu hingga sampai ke tangan konsumen. Mereka itu adalah: pabrik

(pembuat), distributor, eksportir atau importir, dan pengecer, baik yang berbentuk badan

11 Harry duintjer Tebbens, 1980, International Product Liability, Sijthoff & Noordhoff International Publishers,
Netherland, hal. 4.

11
12

hukum ataupun yang bukan badan hukum.

Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan


Konsumen tidak memakai istilah produsen, tetapi memakai istilah lain yang kurang lebih
sama artinya, yaitu pelaku usaha yang diartikan sebagai berikut:
Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk
badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau
melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri
maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi.

Dalam pengertian ini, termasuklah perusahaan, (korporasi) dalam segala bentuk dan

bidang usahanya, seperti BUMN, koperasi, dan perusahaan swasta, baik berupa pabrikan,

importir, pedagang eceran, distributor, dan Iain-Iain.

Sebagai penyelenggara kegiatan usaha, pelaku usaha adalah pihak yang harus

bertanggung jawab atas akibat-akibat negatif berupa kerugian yang ditimbulkan oleh

usahanya terhadap pihak ketiga, yaitu konsumen, sama seperti seorang produsen.

2. Konsumen

Konsumen umumnya diartikan sebagai pemakai terakhir dari produk yang

diserahkan kepada mereka oleh pengusaha, yaitu setiap orang yang mendapatkan barang

untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan lagi. 12 Menurut Pasal

1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa:

Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagI kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun
makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Sebagaimana disebutkan dalam penjelasan Pasal 1 angka 2 tersebut bahwa

konsumen yang dimaksud adalah konsumen akhir yang dikenal dalam kepustakaan

ekonomi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semua orang adalah konsumen karena

12Az. Nasution, 1994, "Iklan dan Konsumen (Tinjauan dari Sudut Hukum dan Perlindungan Konsumen)",
dalam Manajemen dan Usahawan Indonesia, Nomor 3 Thn. XXIII, LPM FE-UI, Jakarta, hal. 23.
13

membutuhkan barang dan jasa untuk mempertahankan hidupnya sendiri, keluarganya,

ataupun untuk memelihara/merawat harta bendanya.

Persoalan hubungan produsen dengan konsumen biasanya dikaitkan dengan produk

(barang dan/atau jasa) yang dihasilkan oleh teknologi. Maka persoalan perlindungan

konsumen erat kaitannya dengan persoalan teknologi, khususnya teknologi manufaktur

dan teknologi informasi. Dengan makin berkembangnya industri dan teknologi

memungkinkan semua lapisan masyarakat terjangkau oleh produk teknologi, yang berarti

juga memungkinkan semua masyarakat terlibat dengan masalah perlindungan konsumen

ini.

3. Produk dan Standardisasi Produk

Dalam pengertian luas, produk ialah segala barang dan jasa yang dihasilkan oleh

suatu proses sehingga produk berkaitan erat dengan teknologi. Menurut Pasal 1 angka 4

Undang-Undang Perlindungan Konsumen bahwa:

Barang adalah setiap benda, baik berwujud maupun tidak ber-wujud, baik bergerak
maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang
dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh
konsumen.

Sedangkan menurut Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Perlindungan Konsumen bahwa:

Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang
disediakan bag! masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.

Pemakaian teknologi yang makin baik, di satu sisi memungkinkan produsen mampu

membuat produk beraneka macam jenis, bentuk, kegunaan, maupun kualitasnya sehingga

pemenuhan kebutuhan konsumen dapat terpenuhi lebih luas, lengkap, cepat, dan

menjangkau bagian terbesar lapisan masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain penggunaan

teknologi memungkinkan dihasilkannya produk yang tidak sesuai dengan persyaratan

keamanan dan keselamatan pemakai sehingga menimbulkan kerugian kepada konsumen.


14

Berkaitan dengan cacat produk dapat ditemukan dalam tiga klasifikasi menurut

tahap-tahap produksi, yaitu kerusakan produk, kerusakan desain, dan pemberian informasi

yang tidak memadai.

Untuk menghindari kemungkinan adanya produk yang cacat atau berbahaya, maka

perlu ditetapkan standar minimal yang harus dipedomani dalam berproduksi untuk

menghasilkan produk yang layak dan aman untuk dipakai. Usaha inilah yang disebut

dengan standardisasi.

Menurut Gandi, standardisasi adalah:

Proses penyusunan dan penerapan aturan-aturan dalam pendekat-an secara


teratur bagi kegiatan tertentu untuk kemanfaatan dan dengan kerja sama dari
semua pihak yang berkepentingan, khususnya untuk meningkatkan penghematan
menyeluruh secara optimum dengan memperhatikan kondisi fungsional dan
persyaratan keamanan. Hal ini didasarkan pada konsolidasi dari hasil (ilmu)
teknologi dan pengalaman.13

Selanjutnya, ia mengatakan bahwa dengan standardisasi akan diperoleh manfaat sebagai

berikut:

a. Pemakaian bahan secara ekonomi, perbaikan mutu, penurunan ongkos produksi, dan

penyerahan yang cepat.

b. Penyederhanaan pengiriman dan penanganan barang.

c. Perdagangan yang adil, peningkatan kepuasan langganan.

d. Interchangeability komponen memungkinkan subcontracting.

e. Keselamatan kehidupan dan harta.

Dengan demikian, standardisasi berfungsi membantu menjembatani kepentingan

konsumen dan produsen dengan menetapkan standar produk yang tepat yang dapat

memenuhi kepentingan dan mencerminkan aspirasi kedua belah pihak. Dengan adanya

standardisasi produk ini akan memberi manfaat yang optimum pada konsumen dan

13 Gandi, 1980, Perlindungan Konsumen Dilihat dari Sudut Pengaturan Standardisasi Hasil Industri,
makalah pada Simposium Aspek-Aspek Hukum Perlindungan Konsumen, BPHN—Binacipta, Jakarta, hal. 80.
15

produsen, tanpa mengurangi hak milik dari konsumen. Standardisasi ini berkaitan erat

dengan keamanan dan keselamatan konsumen, yaitu berkaitan dengan kelayakan suatu

produk untuk dipakai atau dikonsumsi. Barang yang tidak memenuhi syarat mutu,

khususnya makanan, dapat menimbulkan mala-petaka bagi konsumen, selain merugikan

konsumen dari segi finansial dapat pula mengancam keamanan dan keselamatan

masyarakat umum.

Untuk mencapai tujuan standardisasi itu, menurut Gandi, yang perlu di-masukkan

dalam standar produk adalah:

a. Terminologi dan definisi yang dapat dipakai sebagai bahasa yang sama-sama

dimengerti oleh produsen, penjual, distributor, dan konsumen.

b. Perlu ditetapkan tingkat minimal bagi keselamatan, yang ditetapkan secara ahli, yang

memperhitungkan risiko yang dapat diterima.

c. Perlu ditetapkan cara dan produsen untuk menentukan apakah memenuhi persyaratan

keselamatan minimum.

d. Perlu diusahakan kemungkinan dipertukarkan, baik bagi produk secara keseluruhan

maupun bagi komponennya.

e. Perlu ditetapkan kategori atau deret ukur yang cocok bagi konsumen; dan juga

kemungkinan produsen untuk menghilangkan ragam produk yang tidak perlu.

f. Perlu dikembangkan seperangkat cara dan prosedur yang lengkap bagi pengukuran

kemampuan dan mutu.

Berikut ini disebutkan beberapa peraturan perundang-undangan di Indonesia yang

dijadikan landasan hukum bagi pelaksanaan standardisasi industri, yakni:

a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1960tentang Barang.

b. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal.

c. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1997 tentang Pangan.


16

d. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

e. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1989 tentang Standar Nasional untuk

Satuan Ukuran.

f. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia.

g. Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan, Penerapan dan

Pengawasan Standar Nasional Indonesia.

h. Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1997 tentang Badan Standardisasi

Nasional.

i. dan sebagainya.

Sebagai implementasi dari standardisasi ini, maka kepada produk yang sudah

memenuhi standar diberikan sertifikasi produk (Certificatio Marking) yang dibuat

dengan tanda Sll atau SNI, yang dapat ditempatkan pada produk, kemasannya, atau

dokumennya. Tanda ini dibubuhkan oleh produsen pada barang produknya setelah

mendapat izin dari Menteri Perindustrian sesuai dengan Pasal 6 ayat (3) SK Menteri

Perindustrian Nomor 210 Tahun 1979. Sertifikasi ini merupakan jaminan terhadap produk

tersebut sebab ia diberikan setelah diuji dan memenuhi syarat yang ditentukan. Petunjuk

pelaksanaan penggunaan tanda sertifikasi itu ditetapkan dengan SK Menteri Perindustrian

Nomor 130 Tahun 1980. Betapa pentingnya standardisasi ini, di lingkungan perdagangan

international, baik perdagangan barang maupun jasa, dilaksanakan juga standardisasi yang

berlaku secara internasional.

Melalui sertifikasi produk ini akan diperoleh manfaat dan keuntungan, baik bagi

produsen, pemakai profesional, maupun konsumen, yaitu sebagai berikut:

a. Bagi produsen, lebih memberikan bobot dan membuktikan bahwa hasil produksinya

memenuhi persyaratan standar secara konsisten dan memberikan bantuan dalam

meningkatkan penjualannya di pasar dalam dan luar negeri.


17

b. Bagi pemakai profesional atau konsumen umum, memberikan indikasi yang dapat

dipercaya bahwa barang-barang sesuai dengan persyaratan standar secara konsisten.

c. Transaksi lebih lancar karena pemakai atau konsumen tidak perlu menguji dulu

barang-barang yang akan dibelinya.

Untuk dapat memperoleh manfaat dan keuntungan itu secara maksimal, maka di satu

pihak diperlukan kejujuran pengusaha (produsen) untuk sungguh-sungguh menaati

peraturan standardisasi yang sudah ditetapkan dan di pihak lain aparat pemerintah perlu

aktif membina dan mengawasi pelaksanaan standardisasi itu sehingga diterapkan dengan

baik dan benar.

Di Amerika Serikat, pemerintah menetapkan tingkat keamanan produk dengan

menetapkan standar minimum yang harus dipatuhi oleh perusahaan produsen dalam

berproduksi. Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap, tetapi pasti, seperti yang

digambarkan oleh Stern dan Eovaldi berikut ini:

Beginning with the regulation of food and drugs at the turn of the twentieth
century, federal legislation has become increasingly comprehensive, first covering
specific product categories (automobile, flammable fabrics, children toys), then
extending to any hazardous substance, and finally covering all consumer products.

Apabila dilihat keadaan di Indonesia, penerapan ketentuan standardisasi sudah

hampir sama dengan yang terjadi di Amerika Serikat. Satu dan lain hal karena tuntutan

perdagangan internasional atas barang dan jasa yang menghendaki bahwa produk ekspor

harus memenuhi kualifikasi tertentu, baik di bidang mutu/kualitas, standar pelayanan,

maupun penghargaan/ kepedulian terhadap lingkungan, dan sebagainya.

4. Peranan Pemerintah

Berkaitan dengan pemakaian teknologi yang makin maju sebagaimana disebutkan

di atas dan supaya tujuan standardisasi dan sertifikasi tercapai semaksimal mungkin, maka

pemerintah perlu aktif dalam membuat, menyesuaikan, dan mengawasi pelaksanaan

peraturan yang berlaku.


18

Sesuai dengan prinsip pembangunan yang antara lain menyatakan bahwa

pembangunan dilaksanakan bersama oleh masyarakat dengan pemerintah dan karena itu

menjadi tanggung jawab bersama pula, maka melalui pengaturan dan pengendalian oleh

pemerintah, tujuan pembangunan nasional dapat dicapai dengan baik.

Upaya pemerintah untuk melindungi konsumen dari produk yang merugikan dapat

dilaksanakan dengan cara mengatur, mengawasi, serta mengendalikan produksi, distribusi,

dan peredaran produk sehingga konsumen tidak dirugikan, baik kesehatannya maupun

keuangannya.

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan kebijaksanaan yang akan dilaksanakan,

maka langkah-langkah yang dapat ditempuh pemerintah adalah:

a. Registrasi dan penilaian.

b. Pengawasan produksi.

c. Pengawasan distribusi.

d. Pembinaan dan pengembangan usaha.

e. Peningkatan dan pengembangan prasarana dan tenaga.14

Peranan pemerintah sebagaimana disebutkan di atas dapat dikategorikan sebagai

peranan yang berdampak jangka panjang sehingga perlu dilakukan secara kontinu

memberikan penerangan, penyuluhan, dan pendidikan bagi semua pihak. Dengan

demikian, tercipta lingkungan berusaha yang sehat dan berkembangnya pengusaha yang

bertanggung jawab. Termasuk di sini menciptakan pasar yang kompetitif dengan

berangsur-angsur menghilangkan monopoli dan proteksi.15 Dalam jangka pendek,

pemerintah dapat menyelesaikan secara langsung dan cepat masalah-masalah yang timbul.

Posisi ketiga pihak terkait, yaitu produsen, konsumen, dan pemerintah, masing-

14 Ading Suryana, 1989, Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Perhatian Terhadap Kepentingan
Konsumen Produk Pangan, Yogyakarta, hal. 5—7.
15 Syahrir, 1993, Deregulasi Ekonomi Sebagai Jalan keluar Peningkatan Perhatian Terhadap Kepentingan
Konsumen, makalah pada Seminar Demokrasi Ekonomi dan Arah Gerakan Perlindungan Konsumen, YLKI-CESDA-
LP3ES, 11 Mei 1993, Jakarta, hal. 36 dan seterusnya.
19

masing adalah mandiri sehingga perlu diatur dengan baik untuk mencapai keserasian dan

keharmonisan dalam kegiatan ekonomi. Pemerintah yang ditugaskan untuk mengatur hal

tersebut berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, dapat melaksanakannya

melalui pembuatan peraturan dan pengawasan pelaksanaan peraturan-peraturan itu.

Peraturan-peraturan yang dimaksud adalah peraturan yang juga mengikat pemerintah

sehingga tidak muncul kolusi antara pengusaha dan pemerintah yang dapat merugikan

konsumen.

5. Klausula Baku

Sehubungan dengan standar kontrak adalah penggunaan klausula baku dalam

transaksi konsumen. Yang dimaksud dengan klausula baku me-nurut Pasal 1 angka 10

Undang-Undang Perlindungan Konsumen adalah:

Klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah
dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha
yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat dan
wajib dipenuhi oleh konsumen.

Pembuat undang-undang ini menerima kenyataan bahwa pemberlakuan standar kontrak

adalah suatu kebutuhan yang tidak bisa dihindari sebab sebagaimana dikatakan oleh

Syahdeini, perjanjian baku/standar kontrak adalah suatu kenyataan yang memang lahir

dari kebutuhan masyarakat. Namun demikian, dirasa perlu untuk mengaturnya sehingga

tidak disalah-gunakan dan atau menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Tinggal bagai-

mana pengawasan penggunaan standar kontrak itu sehingga tidak dijadikan sebagai alat

untuk merugikan orang lain.

Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen membuat sejumlah larangan

penggunaan klausula baku dalam (standar) kontrak, yaitu sebagai berikut:

(1) Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk

diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap

dokumen dan/atau perjanjian apabila:


20

a. menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;

b. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang


yang dibeli konsumen;

c. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang yang
dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen;

d. menyatakan pemberian kuasa dan konsumen kepada pelaku usaha, baik


secara langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan
sepihak yang berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara
angsuran;

e. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau pemanfaatan


jasa yang dibeli oleh konsumen;

f. memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objekjual belt jasa;

g. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru,


tambahan, lanjutan, dan/atau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh
pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;

h. menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk


pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang
dibeli oleh konsumen secara angsuran.

(2) Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit

terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit

dimengerti.

(3) Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau

perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat

(2) dinyatakan batal demi hukum.

(4) Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan undang-

undang ini.

Dari ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen di atas, larangan

penggunaan standar kontrak dikaitkan dengan dua hal, yaitu isi dan bentuk penulisannya.

Dari segi isinya, dilarang mengguna-kan standar kontrak yang memuat klausula-klausula
21

yang tidak adil. Sedangkan dari segi bentuk penulisannya, klausula-klausula itu harus

dituliskan dengan sederhana, jelas, dan terang sehingga dapat dibaca dan dimengerti

dengan baik oleh konsumen.

Di samping itu, undang-undang ini mewajibkan pelaku usaha untuk segera

menyesuaikan standar kontrak yang dipergunakannya dengan ketentuan undang-undang

ini. Jika dalam kenyataannya masih tetap dipakai standar kontrak yang tidak sesuai

dengan ketentuan di atas, akibat hukumnya adalah batal demi hukum. Artinya, bahwa

klausula itu dianggap tidak ada, karena itu tidak mempunyai kekuatan hukum. Larangan

dan persyaratan tentang penggunaan standar kontrak di atas dimaksud-kan untuk

menempatkan kedudukan konsumen setara dengan pelaku usaha berdasarkan prinsip

kebebasan berkontrak dan mencegah kemungkinan timbulnya tindakan yang merugikan

konsumen karena faktor ketidaktahuan, kedudukan yang tidak seimbang, dan sebagainya

yang mungkin dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk memperoleh ke-untungan.

B. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN KE ARAH PERLINDUNGAN KONSUMEN

Dalam banyak karangan/tulisan mengenai perlindungan konsumen ditunjukkan

bahwa masalah perlindungan konsumen sudah sejak lama menjadi pokok perhatian

meskipun tidak secara spesifik dibicarakan. Namun, berbicara dan membahas masalah

perlindungan konsumen se-bagai masalah hukum tersendiri adalah suatu hal yang baru,

bukan saja di Indonesia, melainkan juga di negara yang telah lama maju dalam bidang

industri, seperti Nederland yang baru mencurahkan perhatiannya pada masalah ini dalam

waktu tiga puluh tahun terakhir ini Umumnya di negara maju, alasan utama yang

dipandang sebagai penyebab lahirnya bagian hukum perlindungan konsumen ini adalah

karena berkembangnya industri secara cepat dan menunjukkan kompleksitas yang tinggi

sehingga perlu ditampung salah satu akibat negatif industrialisasi yang menimbulkan

banyak korban karena memakai atau mengonsumsi produk-produk industri.


22

Di Amerika Serikat misalnya, oleh Stern dan Eovaldi dikemukakan tiga tujuan

utama pengaturan perlindungan konsumen yaitu:

1. Restricting the communication of false information,


2. Requiring the disclosure of information about products,
3. Preventing the marketing of products that are unsafe or fail to
meet government safety standards?2
Selanjutnya, mereka menjelaskan:

The critical point here is to understand why consumer protection laws are really
needs in the first place. With regard to communication of information, a major
reason seems to relate the economics and, in fact, ties in with the underlying
rationale for antitrust-encouraging competition. If consumers are well informed and
armed with honest data, they will make choices that will end up maximizing their
welfare, thereby promoting allocative efficiency. With regard product safety, the
primary goal is one of preventing serious injuries inflicted on those who cannot
proverly analyze the potential harm of product. While there may will be an economic
rationale underlying the need for product safety regulation, the basic purpose
underlying this concern humanitarion as opposed to pure economic.

Jelaslah bahwa pengaturan perlindungan konsumen di Amerika Serikat berkaitan

erat dengan kemajuan teknologi, khususnya teknologi manufaktur dan teknologi

informasi, yang pada intinya bermaksud untuk melindungi hak-hak konsumen sebagai

manusia, di samping untuk menciptakan atau mendorong persaingan yang sehat dalam

berusaha.

Menteri Kehakiman Mudjono dalam sambutannya pada pembukaan Simposium

Aspek-Aspek Hukum Masalah Perlindungan Konsumen yang diselenggarakan oleh

Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) di Jakarta pada tanggal 16—18 Oktober

1980, mengemukakan dua alasan mengapa masalah perlindungan konsumen merupakan

salah satu masalah penting di dunia dewasa ini. Pertama, bahwa seluruh anggota

masyarakat adalah konsumen yang perlu dilindungi dari kualitas benda atau jasa yang

diberikan oleh produsen kepada masyarakat. Kedua, ternyata para konsumen adalah

pihak yang sangat menentukan dalam pembinaan modal untuk menggerakkan roda

perekonomian.
23

Namun demikian, upaya untuk memberi perlindungan hukum terhadap konsumen

tidak berarti telah ada anggapan dasar bahwa semua pihak yang bergerak di bidang usaha

dan perdagangan selalu terlibat dalam manipulasi yang merugikan para konsumen dan

tidak pula dimasukkan untuk menjadikan masyarakat tidak konsumeristis. Akan tetapi,

perlindungan terhadap konsumen didasarkan pada adanya sejumlah hak (hukum)

konsumen yang perlu dilindungi dari tindakan-tindakan yang mungkin merugikan yang

dilakukan pihak lain. Hak-hak ini merupakan hak-hak yang sifatnya mendasar dan

universal sehingga perlu mendapat jaminan dari negara atas pemenuhannya.

Dalam bagian konsiderans dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang

Perlindungan Konsumen dapat dibaca bahwa peraturan ini dibuat atas dasar

pemikiran/pertimbangan sebagai berikut:

1. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil


dan makmur yang merata materiil dan spiritual dalam era demokrasi ekonomi
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;

2. bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era globallisasi harus dapat


mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka barang
dan/atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapat-kan kepastian atas barang
dan/atau jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa mengakibatkan kerugian
konsumen;

3. bahwa semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi
harus tetap menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian atas
mutu, jumlah, dan keamanan barang dan/atau jasa yang diperolehnya di pasar;

4. bahwa untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu meningkatkan


kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan, dan kemandirian konsumen untuk
melindungi dirinya serta menumbuh kembangkan sikap pelaku usaha yang
bertanggung jawab.

Dari uraian pertimbangan atau konsiderans di atas, dapatlah disimpulkan bahwa

pemikiran-pemikiran mengenai perlunya perlindungan konsumen di Indonesia dapat

dirumuskan sebagai berikut:

1. Perlindungan kepada konsumen berarti juga perlindungan terhadap seluruh warga


24

negara Indonesia sebagaimana yang diamanatkan dalam tujuan pembangunan

nasional yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar1945.

2. Pelaksanaan pembangunan nasional membutuhkan manusia-manusia yang

sehat dan berkualitas, yang diperoleh melalui, penyediaan kebutuhan secara baik

dan cukup. Oleh karena itu, konsumen perlu dilindungi untuk mendapatkan

kebutuhan yang baik dan cukup itu.

3. Modal dalam pelaksanaan pembangunan nasional berasal dari masyarakat. Karena

itu, masyarakat konsumen perlu didorong untuk berkonsumsi secara rasional serta

dilindungi dari kemungkinan timbulnya kerugian harta benda sebagai akibat dari

perilaku curang pelaku usaha.

4. Perkembangan teknologi, khususnya teknologi manufaktur, mempunyai dampak

negatif berupa kemungkinan hadirnya produk-produk yang tidak aman bagi

konsumen.
25

BAB III

PERBUATAN YANG DlLARANG BAGI PELAKU USAHA

Seperti diketahui bahwa Undang-Undang Perlindungan Konsumen menetapkan tujuan

perlindungan konsumen antara iin adalah untuk mengangkat harkat kehidupan konsumen,

r.aka untuk maksud tersebut berbagai hal yang membawa ikibat negatif dari pemakaian

barang dan/atau jasa harus dihindarkan dari aktivitas perdagangan pelaku usaha. Sebagai

upaya untuk menghindarkan akibat negatif pemakaian barang dan/atau jasa tersebut, maka

undang-undang menentukan berbagai larangan sebagai berikut:

Pasal 8

(1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau


jasa yang:

a. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih, atau netto, dan jumlah dalam
hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang tersebut
c. tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan, dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya;
d. tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan, atau kemanjuran
sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket, atau keterangan barang dan/atau
jasa tersebut;
e. tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya, mode,
atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan
barang dan/atau jasa tersebut;
f. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan,
atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut;
g. tidak mencantumkan tanggal kadaluarsa atau jangka waktu penggunaan/
pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;
h. tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, seba gaimana
pernyataan"halal" yang dicantumkan dalam label;
i. tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal
pembuatan, akibat sam pingan, nama dan alamat pelaku usaha, serta keterangan
lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan hams dipasang/dibuat;
j. tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai denguu ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacal atau bekas, dan
tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang
dimaksud.

25
26

(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dun pangan yang rusak,
cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi srnini
lengkap dan benar.

(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari
peredaran.

Penjelasan
Ayat (1) huruf g
"Jangka waktu penggunaan/pemanfaatannya yang paling baik adalah terjemahan
dari kata best before yang biasa digunakan dalam label produk makanan."
Ayat (2)
"Barang:barang yang dimaksud adalah barang-barang yang tidak membahayakan
konsumen dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku."
Ayat (3)
"Sediaan farmasi dan pangan yang dimaksud adalah yang membahayakan konsumen
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku."
Ayat (4)
"Menteri dan menteri teknis berwenang menarik barang dan/ atau jasa dari
peredaran."

Pada intinya substansi pasal ini tertuju pada dua hal, yaitu larangan memproduksi

barang dan/atau jasa, dan larangan memperdagangkan barang dan/atau jasa yang

dimaksud. Larangan-larangan yang dimaksudkan ini, hakikatnya menurut Nurmadjito

yaitu untuk mengupayakan agar barang dan/atau Insa yang beredar di masyarakat

merupakan produk yang layak idar, antara lain asal-usul, kualitas sesuai dengan infor-in.isi

pengusaha baik melalui label, etiket, iklan, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan produk-produk lainnya, terhadap barang barang yang berupa sediaan

farmasi mendapat perlakuan khusus, karena kalau barang jenis ini rusak, cacat atau bekas,

tercemar maka dilarang untuk diperdagangkan, walaupun disertai dengan informasi yang

lengkap dan benar tentang barang tersebut. Sedangkan barang lainnya tetap dapat

diperdagangkan asal disertai dengan informasi yang lengkap dan benar atas barang

tersebut.

Larangan-larangan yang tertuju pada "produk" sebagaimana dimaksudkan di atas


27

adalah untuk memberikan perlindungan terhadap kesehatan/harta konsumen dari

penggunaan barang dengan kualitas yang di bawah standar atau kualitas yang lebih rendah

daripada nilai harga yang dibayar. Dengan adanya perlindungan yang demikian, maka

konsumen tidak akan diberikan barang dengan kualitas yang lebih rendah daripada harga

yang dibayarnya, atau yang tidak sesuai dengan informasi yang diperolehnya.

Untuk melindungi konsumen agar tidak dirugikan dan segi mutu barang, maka dapat

ditempuh dengan berbagai cara antara lain:

a. Standar Mutu

Berkenaan dengan pengawasan kualitas/mutu barang, dalam WTO telah dicapai

Persetujuan tentang Hambatan Teknis Dalam Perdagangan. Persetujuan ini mengikat

negara yang menandatanganinya, untuk menjamin bahwa agar bila suatu pemerintah atau

instansi lain menentukan aturan teknis atau standar teknis untuk keperluan keselamatan

umum, kesehatan, perlindungan terhadap konsumen dan lingkungan hidup, atau untuk

keperluan lain, maka peraturan standar dan pengujian serta sertifikasi yang dikeluarkan

tidak menim bulkan rintangan yang tidak diperlukan terhadap perdagangan internasional.

Sedangkan untuk mengkaji kemungkinan risiko, elemen terkait yang perlu

dipertimbangkan'antara lain adalah tersedianya informasi ilmiah dan teknis, teknologi

pemro-sesan atau kegunaan akhir yang dituju oleh produk.

Berdasarkan ketentuan di atas, maka produk yang masuk dalam suatu negara akan

memenuhi ketentuan tentang standar kualitas yang diinginkan dalam suatu negara. Hal ini

berarti produk impor yang dikonsumsi oleh konsumen akan memenuhi standar yang telah

ditetapkan oleh masing-masing negara, sehingga konsumen akan terlindungi baik dari segi

kesehatan, maupun tentang jaminan diperolehnya produk yang baik sesuai dengan harga

yang dibayarkan. Oleh karena itu untuk mengawasi kualitas/mutu barang, diperlukan

adanya standardisasi mutu barang.


28

Menyadari peranan standardisasi yang penting dan strategis tersebut, pemerintah

dengan Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1984 yang kemudian disempurnakan

dengan Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 1989 membentuk Dewan Standardisasi

Nasional. Disamping itu telah dikeluarkan pula Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun

1991 tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Keppres Nomor 12 Tahun 1991

tentang Penyusunan, Penerapan dan Pengawasan SNI dalam Rangka Pembinaan dan

Pengembangan Standardisasi Secara Nasional.

Dengan telah dibentuknya Dewan Standardisasi Nasional dan diterbitkannya Peraturan

Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia, dan Keputusan

Presiden Nomor 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan, Penerapan dan Pengawasan SNI,

yang kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor

22/KP/II/95, maka mulai 1 Februari 1996 hanya ada satu standar mutu saja di Indonesia,

yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI).

Pengawasan mutu produk yang dilakukan oleh pemerintah (khususnya Deperindag)

tersebut jangkauannya meliputi produk ekspor, produk dalam negeri dan produk impor

yang beredar di pasar dalam negeri. Namun, peraturan teknis yang diberlakukan terhadap

produk yang diimpor dari negara lain (negara anggota WTO) harus diberikan perlakuan

yang tidak kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan kepada

produk nasional dan produk serupa yang berasal dari negara lain.

Kebijaksanaan mutu di lingkup Departemen Perindustrian dan Perdagangan

dilaksanakan dengan cara sertifikasi ber dasarkan ketentuan Pre Shipment Inspection

(PSI) dan Pre Distri bution Inspection (PDI) yang didukung sistem jaringan laboratorium

penguji mutu. Melalui ketentuan tersebut, pelaksanaan pengawasan mutu produk dapat

menjamin tersedianya produk yang bermutu sesuai standar, baik di pasaran dalam negen

maupun luar negeri.


29

Untuk lebih menjamin produk tersebut, yang diperlukan bukan hanya sampai pada

dipenuhinya spesifikasi dan pembubuhan tanda SNI, tapi masih perlu dilakukan penga

wasan oleh Departemen Perdagangan (sekarang Departemen Perindustrian dan

Perdagangan) terhadap produk yang telah memenuhi spesifikasi SNI yang beredar di

pasaran dalam negeri, maupun yang akan diekspor. Berkaitan dengan itu, maka terhadap

komoditi ekspor dan impor berlaku ketentuan:

a. standar komoditi ekspor tidak boleh lebih rendah daripada SNI, yang berarti

standar komoditi ekspor mempergu-nakan SNI atau dengan spesifikasi tambahan

non mandatory bila diperlukan;

b. standar komoditi impor minimal harus memenuhi SNI dan standar nasional negara

yang bersangkutan.

Pemberlakuan SNI ini merupakan suatu usaha peningkatan mutu, yang disamping

menguntungkan produsen, juga menguntungkan konsumen, tidak hanya konsumen dalam

negeri tapi juga konsumen di luar negeri, karena standar yang berlaku di Indonesia telah

disesuaikan dengan standar mutu internasional, yaitu dengan telah diadopsinya ISO 9000

oleh Dewan Standardisasi Nasional dengan Nomor Seri SNI 19-9000:1992. Di mana ISO

9000 sendiri pada umumnya:

a. Mengatur semua kegiatan dari perusahaan dalam hal teknis, administrasi dan sumber

daya manusia yang mem-pengaruhi mutu produk dan jasa yang dihasilkan;

b. Memberikan kepuasan kepada para pelanggan dan pemakai akhir;

c. Penerapan konsep penghematan biaya dengan cara pelak-sanaan pekerjaan yang benar

pada setiap saat;

d. Memberikan petunjuk tentang koordinasi antara manusia, mesin dan informasi untuk

mencapai tujuan standar;

e. Mengembangkan dan melaksanakan sistem manajemen mutu untuk mencapai tujuan


30

mutu dari perusahaan.

Dengan demikian sasaran dari ISO 9000 mencakup kcbutuhan dan kepentingan

perusahaan, yaitu untuk mencapai dan memelihara mutu yang diinginkan dengan biaya

yang Optimum, yaitu dengan menggunakan sumber daya (teknologi, bahan dan manusia)

yang tersedia secara terencana dan efisien.

Sasaran lainnya adalah untuk kebutuhan dan harapan pelanggan, yaitu kepercayaan

terhadap kemampuan perusahaan untuk menghasilkan mutu yang diinginkan dan

pemcliharaannya secara konsisten. ISO 9000 akan menunjang program perbaikan mutu

untuk mencapai mutu yang memenuhi keinginan konsumen di seluruh dunia.

Dengan diadopsinya ISO 9000 ini diharapkan dapat mengubah pola pikir pengusaha di

negara berkembang yang pada umumnya berpendapat bahwa barang yang baik seragam

tidak menguntungkan perusahaannya, karena berbagai alasan seperti:

a. penerapan standar mutu yang tinggi akan menaikkan ongkos produksi;

b. penekanan atas mutu suatu produk akan mengurangi produktivitas konsumen di

dalam negeri tidak kritis dengan standar mutu.

Padahal jika dicermati, pemenuhan standar sangat diperlukan dalam transaksi

perdagangan internasional menjamin keseragaman tingkat kualitas barang yang di

gangkan. Demikian pula pemenuhan standar juga mengurangi sengketa tentang kualifikasi

dan kualitas yang diekspor atau diimpor.

b. HaKI/Merek

Perlindungan konsumen di bidang mutu barang juga dapat terjadi dengan

pemenuhan ketentuan tentang Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Ketentuan tentang

HaKI ini juga telah disepakati pada Putaran Uruguay, yang merupakan salah satu lampiran

dari Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia, yaitu Persetujuan tentang

aspek-aspek dagang dari Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) atau Trade Related
31

Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) kesepakatan tentang TRIPs tersebut,

merupakan suatu langkah maju dalam bidang perlindungan HaKIkarena dengan adanya

persetujuan tersebut, maka setiap anggota diwajibkan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan

yang tercantum didalamnya, bahkan dimungkinkan untuk menerapkan dalam hukum

domestiknya tentang sistem perlindungan yang lebih luas daripada yang diwajibkan dalam

persetujuansepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan persetujuan. Persetujuan

tentang aspck-aspek dagang dari HaKI dalam WTO tersebut merujuk pada konvensi-

konvensi yang berkaitan dengan HaKI yang sudah ada sebelumnya, seperti Konvensi Paris,

Konvensi Berne, Konvensi Roma, maupun traktat tentang (HaKI) atas Rangkaian

Klektronik Terpadu.

Perlindungan konsumen dalam Persetujuan TRIPs tidak disebutkan secara jelas,

namun disebutkan bahwa dalam penjatuhan sanksi tertentu, dimaksudkan untuk

mengurangi resiko pelanggaran lebih lanjut, serta menjadikan kepentingan pihak ketiga

sebagai dasar pertimbangan untuk menjatuhkan sanksi tersebut . Hal inii berarti bahwa

konsumen merupakan pihak yang dipertimbangkan dalam penjatuhan sanksi terhadap

linear ketentuan HaKI. Demikian pula,badan peradilan diberi wewenang untuk

memerintahkan agar barang yang terbukti merupakan hasil pelanggaran HaKI, tanpa

kompensasi apa pun, dikeluarkan dari arus perdagangan sedemikian rupa untuk

menghindarkan kerugian yang dialami pemegang hak, atau dimusnahkan (kecuali kalau

hal itu bertentangan dengan persyaratan konstitusional). Sedangkan terhadap barang

impor, badan peradilan diberi wewenang memerintahkan suatu pihak untuk menghentikan

pelanggaran yang dilakukan, antara lain untuk mencegah masuknya ke dalam arus

perdagangan di dalam wilayah hukum mereka barang-barang pelanggaran atas HaKI yang

diimpor.

Berdasarkan Kesepakatan TRIPs tersebut, maka produsen pemegang HaKI akan


32

terhindar dari kerugian akibat pemalsuan HaKI oleh pihak yang tidak berhak, sedangkan

pihak konsumen terhindar dari kerugian akibat penggunaan produk palsu yang disamping

dapat merugikan konsumen karena kualitasnya yang rendah, juga karena membayar harga

yang lebih tinggi dibanding kualitas barang tersebut.

Di antara berbagai Hak atas Kekayaan Intelektual di atas, merek dagang merupakan

salah satu hak yang sangat terkait dengan perlindungan konsumen, karena pelanggaran

atas hak merek akan berdampak secara luas terhadap konsumen, karena merek meliputi

segala kebutuhan konsumen. Oleh karena itu Hak atas Kekayaan Intelektual yang dibahas

secara khusus adalah merek dagang, yaitu merek yang digunakan pada barang yang

diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan

hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya.

Walaupun Undang-Undang Merek pada umumnya ditujukan untuk mengatur

pemakaian merek agar para pemakai merek tidak saling merugikan, namun pengaturan

tentang lalu lintas pemakaian merek tersebut sangat bermanfaat pula bagi para konsumen,

terutama karena konsumen dapat bebas dari kekeliruan pemakaian barang-barang tertentu

yang bermerek palsu. Hal tersebut disebabkan karena konsumen yang biasa-nya sudah

terikat menggunakan merek-merek tertentu yang dikenalnya, sehingga manakala terjadi

pemalsuan, maka sangat besar kemungkinan konsumen mengalami kerugian karena

mengonsumsi secara keliru barang tertentu yang kualitasnya berbeda dengan yang

biasanya.

Begitu pentingnya perlindungan konsumen agar tidak keliru mengonsumsi suatu

produk, maka berdasarkan Konvensi Paris, maupun dalam Yurisprudensi Mahkamah

Agung, serta pengadilan di Indonesia, untuk menentukan apakah suatu merek memiliki

persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya, kriteria utamanya adalah apakah dapat

menyebabkan kekeliruan dan kekacauan bagi khalayak ramai. Upaya perlindungan


33

khalayak ramai (konsumen) dari kekeliruan tersebut lebih luas lagi jika menyangkut merek

terkenal, karena larangan untuk menggunakan merek yang sama dengan merek yang sudah

didaftarkan oleh pihak lain, secara umum berlaku untuk barang sejenis, tapi khusus

mengenai merek terkenal, larangan tersebut juga dapat diberlakukan terhadap barang yang

tidak sejenis, yaitu jika penggunaan dari merek yang bersangkutan secara tidak wajar akan

mengindikasikan adanya hubungan antara barang tersebut dengan pemilik merek yang

telah didaftarkan. Dasar penentuan ada tidaknya persamaan antara satu merek dengan

merek lainnya atau dapat tidaknya membingungkan masyarakat, perlu pula mengamati

cara pengucapan, penampilan dan maksud dari merek yang bersangkutan.

Penentuan tentang ada tidaknya persamaan pada pokoknya atau pada keseluruhannya

suatu merek terhadap merek lainnya yang didasarkan pada kekeliruan khalayak ramai

(konsumen) memang tepat, karena salah satu tujuan penggunaan merek adalah agar pihak

konsumen dapat mengetahui siapa yang memperdagangkan dan atau memproduksi barang

yang bersangkutan. Melalui "tanda merek" tersebut pihak konsumen dapat mengetahui

kualitas barang/jasa yang bersangkutan baik melalui pengalamannya karena pernah

menggunakan merek tersebut, atau informasi yang diperolehnya dari konsumen lain. Atau

dengan, melalui "tanda merek" tersebut konsumen dapat menilai kualitasnya karena me-

ngetahui siapa yang memproduksi atau mengetahui barang dengan merek yang

bersangkutan, sehingga "tanda merek" tersebut sangat mempengaruhi perdagangan si

pedagang. Dengan demikian, merek memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai mekanisme

untuk mengidentifikasi dan juga memberi keun-tungan dalam pemasaran.

Disamping itu merek juga memberikan jaminan kualitas barang/jasa yang

bersangkutan. Hal ini tidak hanya berguna bagi produsen pemilik merek tersebut, tetapi

juga memberikan perlindungan dan jaminan mutu barang kepada konsumen.

Berdasarkan hal di atas tampak bahwa selain sebagai tanda untuk membedakan antara
34

satu produk dengan produk lainnya yang sejenis yang berguna bagi produsen, merek juga

meru-pakan sarana informasi bagi konsumen, karena merek sangat berarti dalam

mengidentifikasi/memberi ciri pada produk/ jasa yang berasal dari sumber (produsen)

tertentu. Pengeta-huan konsumen terhadap merek tertentu dengan kualitas tertentu pula,

juga akan mampu membangun keterikatan ke arah pembelian produk/jasa tersebut di masa

mendatang. Hal ini juga berarti bahwa pilihan konsumen terhadap barang yang

menggunakan merek tertentu akan menguntungkan produsennya karena penggunaan

merek juga mempunyai fungsiuntuk menghubungkan antara barang dengan pemilik hak

merek atau yang terdaftar sebagai pemakai merek tersebut.

Perlindungan konsumen dan keuntungan produsen yang didasarkan pada penggunaan

merek tertentu akan berlangsung Lima karena pada dasarnya penggunaan merek/hak atas

merek tidak memiliki jangka waktu berakhir yang sesung-guhnya, karena jangka waktu

perlindungan hak atas merek tersebut dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang sama

setiap kali akan berakhir, asal pemegang hak merek mem-boyar biaya perpanjangan.

Jangka waktu tanpa batas tersebut telah ditentukan dalam Persetujuan tentang Aspek-

aspek Dagang dari Hak atas Kekayaan Intelektual, yang menentukan bahwa: "Initial

registration, mill each renewal of registration, of a trademark shall be for a term of no

less than seven years. The registration of a trademark shall be rtnewablc indefinitely."

Ketentuan tersebut telah diakomodasikan dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun

2001 tentang Merek yang mengganti Undang-Undang Merek sebelumnya. Hal ini dapat

dilihat dalam Pasal 28 dan Pasal 35 ayat (1), sebagai berikut:

Pasal 28:

"Merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 (sepuluh)


tahun sejak Tanggal Penerimaan dan jangka waktu perlindungan itu dapat
diperpanjang."
35

Pasal 35 ayat (1):

"Pemilik Merek terdaftar setiap kali dapat mengajukan per-mohonan perpanjangan


untuk jangka waktu yang sama."

Bagian perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual yang juga memiliki peran sama

dengan merek dan juga memiliki perlindungan yang tanpa batas tertentu adalah indikasi

geografis, yaitu tanda yang mengindikasikan suatu barang sebagai berasal dari wilayah

salah satu anggota, atau suatu daerah di dalam wilayah tersebut, di mana tempat asal

barang tersebut merupakan hal yang sangat penting bagi reputasi dari barang yang

bersangkutan karena kualitas dan karakteristik nya. Hak atas indikasi geografis tersebut

dalam perundang undangan Indonesia juga telah diatur, dalam Undang-Undang; Nomor 15

Tahun 2001 tentang Merek. Hak atas indikasi geografis tersebut dalam undang-undang ini

dibedakan dengan hak atas indikasi asal. Rumusan masing-masing Hak atas Kekayaan

Intelektual tersebut dapat dilihat dalam Pasal 56 aya! (1) dan Pasal 59 Undang-Undang

Merek 2001, sebagai berikut:

Pasal 56 ayat (1):

"Indikasi geografis dilindungi sebagai suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu
barang yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia, atau
kombinasi dari kedua faktor tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang
yang dihasilkan."

Pasal 59:

"Indikasi asal dilindungi sebagai suatu tanda yang:

a. memenuhi ketentuan Pasal 56 ayat (1), tetapi tidak didaftarkan; atau

b. semata-mata menunjukkan asal suatu barang atau jasa."

Berdasarkan hal di atas, tampak bahwa ketentuan dalam perjanjian internasional di

bidang Hak atas Kekayaan Intelektual yang telah diakomodasi dalam perundang-undangan

Indonesia, sangat membantu dalam hal penentuan pilihan konsumen tcrhadap mutu barang

yang dikehendaki, sehingga konsumen lurlindungi dari penggunaan barang dengan


36

kualitas yang tidak sesuai dengan yang dikehendaki.

c. Daluwarsa

Disamping keamanan produk pada saat proses produksi, suatu produk juga kualitasnya

dapat menurun karena perjalanan waktu, sehingga untuk produk tertentu, khususnya

makanan, ditcntukan masa daluwarsa.

Masa daluwarsa suatu produk (tanggal, bulan dan tahun) dlcantumkan pada label

makanan dimaksudkan agar konsumen mendapat informasi yang jelas mengenai produk

yang dibelinya atau dikonsumsinya. Akan tetapi tanggal yang biasanya tercantum pada

label produk tersebut tidak hanya masa daluwarsanya, tapi tanggal-tanggal lain. Bebeapa

jenis tanggal pada label adalah:

a. diproduksi atau dikemas tanggal .... (manufacturing or packing date);

b. dijual paling lama tanggal (sell by date);

c. digunakan paling lama tanggal (use by date);

d. sebaiknya digunakan sebelum tanggal (date of minimum durability) atau (best

before).

Pencantuman tanggal daluwarsa pada label produk tersebut bermanfaat bagi

konsumen, distributor dan penjual, maupun produsen itu sendiri, yaitu:

a. konsumen dapat memperoleh informasi yang lebih jelas tentang keamanan produk

tersebut;

b. distributor dan penjual makanan dapat mengatur stok barangnya (stock rotation);

c. Produsen dirangsang untuk lebih menggiatkan pelaksanaan "quality control" terhadap

produknya.

Berkaitan dengan pencantuman tanggal daluwarsa pada label suatu produk, perlu

mendapat perhatian agar tidak terjadi salah pengertian, karena tanggal daluwarsa tersebut

bukan merupakan batas mutlak suatu produk dapat digunakan atau dikonsumsi, karena
37

tanggal daluwarsa tersebut hanya merupakan perkiraan produsen berdasarkan hasil studi

atau pengamatannya, sehingga barang yang sudah melewati masa daluwarsapun masih

dapat dikonsumsi sepanjang dalam kenyataannya produk tersebut masih aman untuk

dikonsumsi, sebaliknya, suatu produk dapat menjadi rusak atau berbahaya untuk

dikonsumsi sebelum tanggal daluwarsa yang tercantum pada label produk tersebut.

Pengertian daluwarsa dalam Peraturan Menteri Kesehaton RI telah mengalami

perubahan, karena berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

346/Men.Kes/Per/IX/1983, pengertian tanggal daluwarsa adalah batas waktu akhir suatu

makanan dapat digunakan sebagai makanan manusia, sedangkan berdasarkan Peraturan

Menteri Kesehatan Nomor 180/Men.Kes/Per/IV/1985, pengertian tanggal kedaluwarsa

adalah batas akhir suatu makanan dijamin mutunya sepan-jang penyimpanannya

mengikuti petunjuk produsen. Ini berarti bahwa pengertian daluwarsa yang sebelumnya

adalah use by date diubah menjadi best before. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah

Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, walaupun dalam Pasal 27

ditentukan bahwa tanggal, bulan dan tahun daluwarsa dicantumkan setelah kata "Baik

Digunakan Sebelum", namun dalam Pasal 28 ditentukan bahwa "dilarang

memperdagangkan pangan yang sudah melampaui tanggal, bulan dan tahun kedaluwarsa

sebagaimana ditantumkan pada label. Hal ini berarti bahwa I'eraturan Pemerintah tersebut

memberikan pengertian daluwarsa sama dengan sell by date.


38

DAFTAR PUSTAKA

Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta:
Gramedia, 2003)

Munir Fuady, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktik, Buku Kedua, (Bandung: Citni
Adtya Bakti, 1994),

Donald P. Rothschild dan David W. Carrol, Consumer Protecting; Reporting Service,


Vol. 1 (Maryland: National Law Publishing Corporation, I986).

Norbert Reich, Protn lion of Consumers Economic by the EC, The Sydney Law Review,
Vol. 4 Number 1 (1992).

Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, (Jakarta: Grasindo, 2000)

Harry duintjer Tebbens, 1980, International Product Liability, Sijthoff & Noordhoff
International Publishers, Netherland

Az. Nasution, 1994, "Iklan dan Konsumen (Tinjauan dari Sudut Hukum dan Per-
lindungan Konsumen)", dalam Manajemen dan Usahawan Indonesia, Nomor 3
Thn. XXIII, LPM FE-UI, Jakarta

Gandi, 1980, Perlindungan Konsumen Dilihat dari Sudut Pengaturan Standardisasi


Hasil Industri, makalah pada Simposium Aspek-Aspek Hukum Perlindungan
Konsumen, BPHN—Binacipta, Jakarta

Ading Suryana, 1989, Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Perhatian


Terhadap Kepentingan Konsumen Produk Pangan, Yogyakarta

Syahrir, 1993, Deregulasi Ekonomi Sebagai Jalan keluar Peningkatan Perhatian


Terhadap Kepentingan Konsumen, makalah pada Seminar Demokrasi Ekonomi
dan Arah Gerakan Perlindungan Konsumen, YLKI-CESDA-LP3ES, 11 Mei
1993, Jakarta.