Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tekanan darah tinggi yang disebut hipertensi sudah sangat umum para
penderita umumnya tidak menyadari bahwa merekan menderita hipertensi.
Tetapi bila dibiarkan tanpa perawatan maka itu akan menimbulkan kerumitan
yang membahayakan. Orang yang berusia lima puluhan adalah masa usia
penuh dengan resiko. Oleh sebab itu perlu pengontrolan tekanan darah untuk
penanggulangan lebih dini sehingga tidak berlanjut pada komplikasi yang
lebih parah.
Hipertensi adalah masalah yang umum karena banyak orang yang
menderita walaupun mereka tidak mengetahui sama sekali. Masalah yang
dihadapi pada diagnosa yang agak dini adalah gejala-gejala yang tidak nyata
pada umunya. Kelihatannya mengherankan tetapi demikianlah kenyataannya
dan hal ini telah ditemukan diberbagai negara barat. Di Australia agak tinggi
presentase penderita hipertensi. Sekalipun ada 10 % penderita hipertensi dari
antara kelompok usia lima puluh sampai lima puluh sembilan tahun, hal itu
tidak ditemukan sebelumnya. Tekanan darah mereka diatas 110 diastolik.
Di Indonesia, hipertensi juga merupakan masalah kesehatan yang perlu
diperhatikan oleh dokter yang bekerja pada pelayanan kesehatan primer,
karena angka prevalensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang
ditimbulkannya (Slamet Suyono, 2001).
Hal ini menunjukkan bahwa penyakit yang parah boleh saja tidak
diketahui ditengah tengah masyarakat, dapat pula melumpuhkan kesehatan
dan dapat menimbulkan masalah yang berat tetapi penderita tidak mengetahui
samasekali mengenai apa yang terjadi. Sering sudah terlambat dan
berkomplikasi barulah diketahui penyebab utamanya.
Itulah sebabnya sekarang orang mengetahui bahwa hipertensi itu
penyakit yang mempunyai bermacam-macam tingkat sedangkan keadaan
yang parah memerlukan pengetahuan yang agak dini supaya segera
mendapatkan perhatian dan perawatan.

1
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu
hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik dan
hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain
(Slamet Suyono, 2001).
Hipertensi primer meliputi lebih kurang 90% dari seluruh pasien
hipertensi dan 10% lainnya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Hanya 50%
dari golongan hipertensi sekunder dapat diketahui penyebabnya, dan dari
golongan ini hanya beberapa persen yang dapat diperbaiki kelainannya. Oleh
karena itu, upaya penanganan hipertensi primer lebih mendapatkan prioritas.
Banyak penelitian dilakukan terhadap hipertensi primer, baik mengenai
patogenesis maupun tentang pengobatannya.
Menurut WHO (1978), batasan tekanan darah yang masih dianggap
normal adalah 140/90 mmHg dan tekanan darah sama dengan atau di atas
160/95 dinyatakan sebagai hipertensi. Tekanan darah diantara normotensi dan
hipertensi disebut borderline hypertension. Batasan tersebut tidak
membedakan jenis kelamin dan usia, sedangkan batasan hipertensi yang
memperhatikan perbedaan usia dan jenis kelamin diajukan oleh Kaplan
(1985) sebagai berikut : pria yang berusia < 45 tahun dinyatakan hipertensi
jika tekanan darah pada waktu berbaring 130/90 mmHg atau lebih, sedangkan
yang berusia > 45 tahun dinyatakan hipertensi jika tekanan darahnya 145/95
mmHg atau lebih. Wanita yang mempunyai tekanan darah 160/95 mmHg atau
lebih dinyatakan hipertensi (Slamet Suyono, 2001).
Sudah ditemukan bukti yang cukup yang menyatakan bahwa perawatan
yang tepat akan mengurangi jumlah kematian dan hal-hal mengerikan akibat
komplikasi dari hipertensi yaitu stroke, penyakit jantung dan ginjal.
Berdasarkan latar belakang di atas, dengan tinggi persentase penyakit
hipertensi pada lansia, maka kelompok kami tertarik mengangkat masalah
dengan judul “Asuhan Keperawatan Gerontik pada Klien Hipertensi”.

2
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang hipertensi pada
lansia dan asuhan keperawatannya
2. Tujuan Khusus
a. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami pengertian hipertensi
b. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami anatomi fisiologi sistim
kardiovaskuler
c. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami etiologi hipertensi
d. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami klasifikasi hipertensi
e. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami patofisiologi hipertensi
f. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami manifestasi klinis
hipertensi
g. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami penatalaksanaan
hipertensi
h. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami cara pencegahan
hipertensi
i. Agar mahasiswa dapat lebih mudah memahami asuhan keperawatan
hipertensi

C. Manfaat
1. Menambah pengetahuan dan keterampilan kelompok dalam menerapkan
asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi.
2. Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca.

3
BAB II
ISI

A. Pengertian
Hipertensi adalah apabila tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan
tekanan diastolik > 90 mmHg, atau apabila pasien memakai obat anti
hipertensi (Slamet Suyono, 2001 dan Arif Mansjoer, 2001).
Menurut Tom Smith (1991), hipertensi atau yang lebih dikenal dengan
tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami
peningkatan tekanan darah di atas normal.
Hipertensi menurut WHO adalah hipertensi jika tekanan darah sistolik
lebih dari 140 mmHg atau tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg.
Menurut N.G. Yasmin A (1993) hipertensi adalah peningkatan dari
tekanan sistolik standar dihubungkan dengan usia, tekanan darah normal
adalah refleksi dari kardiak out put atau denyut jantung dan resistensi
puerperal.
Menurut Alison Hull (1996), hipertensi adalah desakan darah yang
berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan
jantung ketika memompa darah, hipertensi, berkaitan dengan kenaikan
tekanan diastolik, dan tekanan sistolik atau kedua-duanya secara terus
menerus.

B. Anatomi Fisiologi
1. Jantung
Berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak didalam dada,
batas kanannya terdapat pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang
intercostalis kelima kiri pada linea midclavicular.
Hubungan jantung adalah :
 Atas : pembuluh darah besar
 Bawah : diafragma
 Setiap sisi : paru
 Belakang : aorta desendens, oesophagus, columna vertebralis

4
2. Arteri
Adalah tabung yang dilalui darah yang dialirkan pada jaringan dan
organ. Arteri terdiri dari lapisan dalam: lapisan yang licin, lapisan tengah
jaringan elastin/otot: aorta dan cabang-cabangnya besar memiliki laposan
tengah yang terdiri dari jaringan elastin (untuk menghantarkan darah untuk
organ), arteri yang lebih kecil memiliki lapisan tengah otot (mengatur
jumlah darah yang disampaikan pada suatu organ).
Arteri merupakan struktur berdinding tebal yang mengangkut darah
dari jantung ke jaringan. Aorta diameternya sekitar 25mm(1 inci) memiliki
banyak sekali cabang yang pada gilirannya tebagi lagi menjadi pembuluh
yang lebih kecil yaitu arteri dan arteriol, yang berukuran 4mm (0,16 inci)
saat mereka mencapai jaringan. Arteriol mempunyai diameter yang lebih
kecil kira-kira 30 µm. Fungsi arteri menditribusikan darah teroksigenasi
dari sisi kiri jantung ke jaringan. Arteri ini mempunyai dinding yang kuat
dan tebal tetapi sifatnya elastic yang terdiri dari 3 lapisan yaitu :
 Tunika intima. Lapisan yang paling dalam sekali berhubungan dengan
darah dan terdiri dari jaringan endotel.
 Tunika Media. Lapisan tengah yang terdiri dari jaringan otot yang
sifatnya elastic dan termasuk otot polos
 Tunika Eksterna/adventisia. Lapisan yang paling luar sekali terdiri dari
jaringan ikat gembur yang berguna menguatkan dinding arteri
(Syaifuddin, 2006)
3. Arteriol
Adalah pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal.
Otot dinding arteriol dapat berkontraksi. Kontraksi menyebabkan kontriksi
diameter pembuluh darah. Bila kontriksi bersifat lokal, suplai darah pada
jaringan/organ berkurang. Bila terdapat kontriksi umum, tekanan darah
akan meningkat.
4. Pembuluh darah utama dan kapiler
Pembuluh darah utama adalah pembuluh berdinding tipis yang
berjalan langsung dari arteriol ke venul. Kapiler adalah jaringan pembuluh
darah kecil yang membuka pembuluh darah utama. Kapiler merupakan

5
pembuluh darah yang sangat halus. Dindingnya terdiri dari suatu lapisan
endotel. Diameternya kira-kira 0,008 mm. Fungsinya mengambil hasil-
hasil dari kelenjar, menyaring darah yang terdapat di ginjal, menyerap zat
makanan yang terdapat di usus, alat penghubung antara pembuluh darah
arteri dan vena.
5. Sinusoid
Terdapat limpa, hepar, sumsum tulang dan kelenjar endokrin. Sinusoid
tiga sampai empat kali lebih besar dari pada kapiler dan sebagian dilapisi
dengan sel sistem retikulo-endotelial. Pada tempat adanya sinusoid, darah
mengalami kontak langsung dengan sel-sel dan pertukaran tidak terjadi
melalui ruang jaringan.
Saluran Limfe mengumpulkan, menyaring dan menyalurkan kembali
cairan limfe ke dalam darah yang ke luar melalui dinding kapiler halus
untuk membersihkan jaringan. Pembuluh limfe sebagai jaringan halus
yang terdapat di dalam berbagai organ, terutama dalam vili usus.
6. Vena dan venul
Venul adalah vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena
dibentuk oleh gabungan venul. Vena memiliki tiga dinding yang tidak
berbatasan secara sempurna satu sama lain. (Gibson, John. Edisi 2 tahun
2002, hal 110). Vena merupakan pembuluh darah yang membawa darah
dari bagian atau alat-alat tubuh masuk ke dalam jantung. Vena yang
ukurannya besar seperti vena kava dan vena pulmonalis. Vena ini juga
mempunyai cabang yang lebih kecil disebut venolus yang selanjutnya
menjadi kapiler. Fungsi vena membawa darah kotor kecuali vena
pulmonalis, mempunyai dinding tipis, mempunyai katup-katup sepanjang
jalan yang mengarah ke jantung.

C. Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi menurut WHO
1. Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140
mmHg dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg

6
2. Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg
dan diastolik 91-94 mmHg
3. Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg.

Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection and


Treatment of Hipertension
1. Diastolik
a. < 85 mmHg : Tekanan darah normal
b. 85 – 99 : Tekanan darah normal tinggi
c. 90 -104 : Hipertensi ringan
d. 105 – 114 : Hipertensi sedang
e. >115 : Hipertensi berat
2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal
b. 140 – 159 : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c. > 160 : Hipertensi sistolik teriisolasi
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII
Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal < 120 mmHg (dan) < 80 mmHg
Pre-hipertensi 120-139 mmHg (atau) 80-89 mmHg
Stadium1 140-159 mmHg (atau) 90-99 mmHg
Stadium 2 >= 160 mmHg (atau) >= 100 mmHg

Krisis hipertensi adalah Suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang


mendadak (sistole ≥180 mmHg dan/atau diastole ≥120 mmHg), pada
penderita hipertensi, yg membutuhkan penanggulangan segera yang ditandai
oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan timbulnya atau
telah terjadi kelainan organ target (otak, mata (retina), ginjal, jantung, dan
pembuluh darah).
Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya
tekanan darah. Dibagi menjadi dua:
a. Hipertensi Emergensi

7
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan
obat antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut
atau progresif target akut atau progresif. Kenaikan TD mendadak yg
disertai kerusakan organ target yang progresif dan di perlukan tindakan
penurunan TD yg segera dalam kurun waktu menit/jam.
b. Hipertensi urgensi
Situasi dimana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna tanpa
adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif bermakna
tanpa adanya gejala yang berat atau kerusakan organ target progresif dan
tekanan darah perlu diturunkan dalam beberapa jam. Penurunan TD harus
dilaksanakan dalam kurun waktu 24-48 jam (penurunan tekanan darah
dapat dilaksanakan lebih lambat (dalam hitungan jam sampai hari).

Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg


atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan
diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada
usia lanjut.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami
kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80
tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun,
kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian
telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus
dianggap sebagai faktor risiko dan sebaiknya diberikan perawatan.

D. Etiologi
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik.
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau
peningkatan tekanan perifer.
Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi :
 Genetik : Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi
atautransport Na.

8
 Obesitas : terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
 Stress Lingkungan.
 Hilangnya Elastisitas jaringan and arterisklerosis pada orang tua serta
pelabaran pembuluh darah.

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu :


1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum
diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh
hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari
adanya penyakit lain.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa
perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama
menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada
sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada
sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat
tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu
tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin)
atau norepinefrin (noradrenalin).
Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga),
stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi
pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung
menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah
berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal.

Faktor resiko hipertensi meliputi :


1. Usia ; Insiden hipertensi makin meningkat dengan meningkatnya usia. Ini
sering disebabkan oleh perubahan alamiah di dalam tubuh yang

9
mempengaruhi jantung, pembuluh darah dan hormon. Hipertensi pada
yang berusia kurang dari 35 tahun akan menaikkan insiden penyakit arteri
koroner dan kematian prematur (Tambayong, 2000).
2. Jenis kelamin ; Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi daripada
wanita, namun pada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita
akan meningkat, sehingga pada usia diatas 65 tahun, insiden pada wanita
lebih tinggi (Tambayong, 2000)
3. Obesitas ; adalah ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dengan
kebutuhan energi yang disimpan dalam bentuk lemak (jaringan sub kutan
tirai usus, organ vital jantung, paru dan hati) yang menyebabkan jaringan
lemak in aktif sehingga beban kerja jantung meningkat. Obesitas juga
didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 20% atau lebih dari
berat badan ideal. Obesitas adalah penumpukan jaringan lemak tubuh yang
berlebihan dengan perhitungan IMT > 27.0. pada orang yang menderita
obesitas ini organ-organ tubuhnya dipaksa untuk bekerja lebih berat, oleh
sebab itu pada waktunya lebih cepat gerah dan capai. Akibat dari obesitas,
para penderita cenderung menderita penyakit kardiovaskuler, hipertensi
dan diabetes mellitus (Notoatmodjo: 2003).
4. Riwayat keluarga ; yang menunjukkan adanya tekanan darah yang
meninggi merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi seseorang untuk
mengidap hipertensi dimasa yang akan datang. Tekanan darah kerabat
dewasa tingkat pertama (orang tua saudara kandung) yang dikoreksi
terhadap umur dan jenis kelamin tampak ada pada semua tingkat tekanan
darah (Padmawinata, 2001).
5. Merokok ; Departemen of Healt and Human Services, USA (1989)
menyatakan bahwa setiap batang rokok terdapat kurang lebih 4000 unsur
kimia, diantaranya tar, nikotin, gas CO, N2, amonia dan asetaldehida serta
unsur-unsur karsinogen. Nikotin, penyebab ketagihan merokok akan
merangsang jantung, saraf, otak dan bagian tubuh lainnya bekerja tidak
normal. Nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin sehingga
meningkatkan tekanan darah, denyut nadi, dan tekanan kontraksi otot
jantung. Selain itu, meningkatkan kebutuhan oksigen jantung dan dapat

10
menyababkan gangguan irama jantung (aritmia) serta berbagai kerusakan
lainnya (Wijayakusuma, 2003).
6. Olah raga ; lebih banyak dihubungkan dengan pengelolaan hipertensi
karena olah raga isotonik dengan teratur akan menurunkan tahanan perifer
yang akan menurunkan tekanan darah. Olah raga juga dikaitkan dengan
peran obesitas pada hipertensi kurang melakukan olah raga akan menaikan
kemungkinan timbulnya obesitas dan jika asupan garam juga bertambah
akan memudahkan timbulnya hipertensi (Tjokronegoro, 2001).

Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder:


1. Penyakit Ginjal
o Stenosis arteri renalis
o Pielonefritis
o Glomerulonefritis
o Tumor-tumor ginjal
o Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan)
o Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal)
o Terapi penyinaran yang mengenai ginjal
2. Kelainan Hormonal
o Hiperaldosteronisme
o Sindroma Cushing
o Feokromositoma
3. Obat-obatan
o Pil KB
o Kortikosteroid
o Siklosporin
o Eritropoietin
o Kokain
o Penyalahgunaan alkohol
o Kayu manis (dalam jumlah sangat besar)
4. Penyebab Lainnya
o Koartasio aorta

11
o Preeklamsi pada kehamilan
o Porfiria intermiten akut
o Keracunan timbal akut.

E. Patofisiologi
Meningkatnya tekanan darah di dalam saluran arteri bisa terjadi melalui
beberapa cara, yaitu : jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan
lebih banyak cairan pada setiap detiknya, arteri besar kehilangan
kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang
pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut, karena-nya darah
pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh darah yang
sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yan
terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku
karena arteriosklerosis.
Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi
vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu
mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
Bertambahnya cairan dalam sirkuilasi bisa menyebabkan meningkatnya
tekanan darah, hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga
tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh, volume
darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanand arah juga meningkat,
sebaliknya jika : aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami
pelebaran, banyak cairan keluar dari sirkulasi, maka tekanan darah akan
menurun.
Penyesuaian terhadap faktor – faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan
di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari system saraf yang
mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis). Ginjal mengendalikan
tekanan darah melalui beberapa cara : jika tekanan darah meningkat, ginjal
akan menambah pengeluaran garam dan air, sehingga volume darah
bertambah dan tekanan darah kembali normal. Jika tekanan darah menururn,
ginjal akan mengurangi pembuangan garam dan air, sehingga volume darah
bertambah dan tekanan darah kembali normal. Ginjal juga bisa meningkatkan

12
tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut rennin, yang memicu
pembentukan hormone angiotensin, yang selanjutnya akan memicu pelepasan
hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan
tekanan darah, karena iti berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal bisa
menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis
arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Perdangan dan cedera pada salah
satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.
Sistem saraf simpatis merupakan bagian dari system saraf otonom, yang
untuk sementara waktu akan : meningkatkan tekanan darah selama respon
fight – or – flight (reaksi fisik tubuh terhadap ancaman dari luar).
Meningkatkan kecepatan dan kekuatan denyut jantung; jugta mempersempit
sebagian besar arteriola, tetapi memperlebar arteteriola di daerah tertentu
(misalnya otot rangka, yang memerlukan pasokan darah yang lebih banyak).
Mengurangi pembuangan air dan garam oleh ginjal, sehingga akan
meningkatkan volume darah dalam tubuh. Melepaskan hormone epinefrin
(adrenalin) dan norepinefrin (noradrenalin), yang merangsang jantung dan
pembuluh darah.

13
F. Manifestasi Klinis
 Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg
 Sakit kepala

14
 Epistaksis
 Pusing / migrain
 Rasa berat ditengkuk
 Sukar tidur
 Mata berkunang kunang
 Lemah dan lelah
 Muka pucat
 Suhu tubuh rendah
 Marah / emosi tidak stabil
 Telinga berdengung
 Kesemutan
 Kesulitan bicara
 Rasa mual / muntah
 Epistaksis

2.6 Pemeriksaan Penunjang


 Pemeriksaan Laborat
o Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume
cairan(viskositas) dan dapat mengindikasikan factor resiko seperti :
hipokoagulabilitas, anemia.
o BUN / kreatinin : memberikan informasi tentang perfusi / fungsi
ginjal.
o Glucosa : Hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi)
dapatdiakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.
o Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal
danada DM.
 CT Scan : Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
 EKG : Dapat menunjukan pola regangan, dimana luas, peninggian
gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
 IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : Batu
ginjal,perbaikan ginjal.

15
 Photo dada : Menunjukan destruksi kalsifikasi pada area
katup,pembesaran jantung.

2.7 Penatalaksanaan
 Penatalaksanaan Non Farmakologis
1. Diet Pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan
BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan
aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.
2. Aktivitas
Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan
disesuaikan denganbatasan medis dan sesuai dengan kemampuan
seperti berjalan, jogging,bersepeda atau berenang.
 Penatalaksanaan Farmakologis
Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:
1. Mempunyai efektivitas yang tinggi.
2. Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal.
3. Memungkinkan penggunaan obat secara oral.
4. Tidak menimbulakn intoleransi.
5. Harga obat relative murah sehingga terjangkau oleh klien.
6. Memungkinkan penggunaan jangka panjang.
Golongan obat-obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi
seperti golongan diuretic, golongan betabloker, golongan antagonis kalsium,
golongan penghambat konversi rennin angitensin.

2.8 Cara Pencegahan Hipertensi


Pencegahan hipertensi dengan olehraga yang cukup
Olahraga yang dianjurkan bagi orang yang resiko tinggi terkena hipertensi
adalah :
1. Aerobik, meliputi jalan santai, jogging, lari, bersepeda, renang secara
teratur.
2. Olahraga rileks seperti yoga dan meditasi.

16
Selain dapat memperlancar peredaran darah, olahraga dapat pula membakar
lemak sehingga tidak kelebihan berat badan.
Latihan olahraga yang dianjurkan meliputi tahap-tahap : pemanasan,
peregangan, latihan inti, pendinginan/cool down, peregangan. Olahraga yang
baik yaitu yang dapat membakar energi 10 sampai 20 kalori/kg berat badan.
Denyut nadi optimal setelah latihan berkisar 65 sampai 80 %. Sebelum
olahraga, rencanakan secara seksama : macam latihan yang akan dikerjakan,
frekuensi latihan, intensitas latihan dan lama latihan.

Pencegahan hipertensi dengan tidak merokok


Cara untuk menghindari pengaruh rokok yaitu :
1. Sebaiknya menghindari daerah yang terkena asap rokok, atau tutuplah
hidung jika terpaksa melintas di daerah dengan asap rokok.
2. Jika Anda seorang perokok, kurangilah jumlah batang rokok, lama
menghisap, kekuatan menghisap dan banyak hisapan.
3. Jika Anda pernah merokok, berhentilah merokok sama sekali dengan niat
yang penuh.
Menghentikan merokok secara total mungkin sulit dilakukan, tetapi
peluang untuk kembali merokok lebih kecil jika dibanding dengan cara
mengurangi perlahan-lahan. Suksesnya seseorang untuk berhenti merokok
tergantung pada niat dari dalam diri perokok itu sendiri.

Pencegahan hipertensi dengan tidak minum alkohol


Hipertensi dapat dihindari dengan tidak mengkonsumsi alkohol. Minuman
beralkohol banyak macamnya, baik yang dibuat oleh pabrik maupun tradisional.
Semuanya akan membahayakan bagi penderita hipertensi. Oleh karena itu
hindarilah minum minuman beralkohol. Selain minuman, alkohol dapat pula
terkandung dalam makanan seperti tape dan brem. Hindarilah minum air tape.
Hindarilah hipertensi dengan tidak pernah mencoba minum alcohol. Hentikan
sedini mungkin, bagi yang pernah atau sedang meminumnya.

Pencegahan hipertensi dengan mengatur pola makan

17
Perbanyaklah minum air putih. Cara makan yang baik adalah sedikit-sedikit tetapi
sering, bukan makan banyak tetapi jarang. Kandungan zat dalam menu makanan
juga harus diperhatikan, meliputi
1. Diet rendah garam
Asupan garam yang diperlukan pada orang sehat sekitar 3-5 gram (setara 1
sendok teh) per hari. Jika tubuh banyak berkeringat, sering buang air kecil
serta diare maka memerlukan asupan garam yang lebih. Kelebihan garam
dapat menyebabkan hipertensi, resiko dehidrasi dan kram, darah mengental
(penyebab penyakit jantung dan stroke), mengikat cairan yang banyak serta
dapat mengendap di pergelangan kaki dan daerah tengah tubuh. Diet rendah
garam diperlukan terutama pada orang yang punya potensi tinggi hipertensi,
dapat dilakukan dengan cara :
 Gunakan garam sebagai bumbu masakan secukupnya saja, perbanyak
rempah dan kurangi garam.
 Jangan menambahkan garam pada hidangan yang siap disantap. Jauhkan
garam dari meja makan.
 Kurangi minum minuman bersoda, minuman kaleng dan botol. Minuman
bersoda dan berpengawet banyak mengandung sodium (Natrium).
 Kurangi makan daging, ikan, kerang kepiting dan susu, camilan/snack yang
asin dan gurih.
 Hindari makan makanan ikan asin, telur asin, otak, vetsin (Monosodium
glutamate/MSG), soda kue, jeroan, sarden, udang dan cumi-cumi.
 Hindari makanan yang dianjurkan seperti sayuran segar, buah segar, tempe,
tahu, kacang-kacangan, ayam dan telur.

2. Diet rendah kolesterol


Makanan yang dimakan sebaiknya mengandung lemak baik (meningkatkan
HDL) dan sedikit mengandung lemak jahat seperti kolesterol (menurunkan
LDL). Diet rendah kolesterol dapat dilakukan dengan cara :
1. Kurangi makan makanan yang mengandung gula murni, daging, ayam,
kuning telur dan sarden
2. Hindari makan makanan seafood, otak, jeroan, lemak hewani, mentega,
susu full cream.

18
3. Makanan yang dianjurkan meliputi sayuran, buah, minyak nabati (kecuali
minyak kelapa), putih telur, ikan, kacang-kacangan dan minyak zaitun Jika
sudah mencapai berat badan ideal, jangan melakukan diet terlalu keras.
Imbangi dengan pola makan sehat, mengandung sumber energi,
pembangun tubuh, pelindung serta pengatur tubuh. Sumber energi ideal
adalah 12-15 % protein, 30-35 % lemak dan 50-60 % karbohidrat.

Pencegahan hipertensi dengan istirahat cukup tidak stress


Istirahat dapat mengurangi ketegangan dan kelelahan otot bekerja
sehingga mengembalikan kesegaran tubuh dan pikiran. Istirahat dengan posisi
badan berbaring dapat mengembalikan aliran darah ke otak. Berusahalah untuk
beristirahat setelah beberapa saat melakukan kesibukan rutinitas. Oleh karena
tekanan darah dapat meningkat jika orang terkena stres, maka hindarkanlah
kegiatan dan tempat-tempat yang dapat menyebabkan stres. Rekreasi ke tempat-
tempat sejuk, rindang, alam bebas dan daerah yang berbeda dengan kegiatan
sehari-hari dapat pula menjadi pilihan mengurangi stres. Cara lain untuk
mengurangi stres adalah dengan hipnoterapi, pijat, refleksi. Kunjungi psikolog
untuk membantu memecahkan masalah, jika stres terjadi karena adanya masalah
yang rumit.

Pencegahan hipertensi dengan cara medis


Pengobatan bagi penderita hipertensi dapat dilakukan dengan cara medis
melalui dokter dan tenaga para medis lainnya, serta cara tradisional dengan
memanfaatkan ramuan dan terapi yang ada secara turun temurun dalam
masyarakat. Bagi orang yang memiliki resiko tinggi terkena hipertensi,
lakukanlah pemeriksaan diri ke dokter secara berkala. Mencegah lebih baik dan
lebih mudah dari pada mengobati. Pengobatan hipertensi harus menurut petunjuk
dokter. Jangan minum obat tanpa petunjuk dari dokter, karena dapat menimbulkan
kekebalan terhadap obat tertentu dan kerusakan ginjal. Obat yang dapat digunakan
pada penderita hipertensi diantaranya menggunakan obat untuk memperlebar
pembuluh darah (vasodilator), obat yang mengubah kecepatan kontraksi otot
jantung, obat untuk menurunkan tekanan darah (antihipertensi), obat pelancar air

19
seni (diuretic) agar sisa metabolisme yang ada dalam darah keluar bersama urine,
sehingga darah tidak terlalu kental.

Pencegahan hipertensi dengan cara tradisional


Banyak ramuan tradisional yang dipercaya dapat menurunkan tekanan
darah. Beberapa ramuan sudah diteliti secara laboratoris. Contoh bahan yang
berkhasiat menurunkan tekanan darah : cincau hijau, daun dan buah alpukat,
mengkudu masak (pace), mentimun, daun seledri, daun selada air, bawang putih,
daun dan buah belimbing bintang, buah belimbing wuluh, daun tapak dara, akar
papaya, rambut jagung serta adas pulowaras. Jika tekanan darah sudah kembali
normal, dapat dihentikan pemakaiannya. Pemakaian berlebihan dapat menurunkan
tekanan darah di bawah normal. Cara tradisional yang dapat menurunkan tekanan
darah seperti refleksi (pijatan) dan akupunktur pada tempat tertentu.

2.9 Obat Tradisional yang Sering Digunakan


 murbei
 daun cincau hijau
 seladri (tidak boleh lebih 1-10 gr per hari, karena dapat menyebabkan
penurunan tekanan darah secara drastis)
 bawang putih (tidak boleh lebih dari 3-5 siung sehari)
 Rosela
 daun misai kucing
 minuman serai. teh serai yang kering atau serai basah(fresh) diminum 3
kali sehari. Dalam seminggu dapat nampak penurunan tekanan darah
tinggi
2.10. Asuhan Keperawatan Teoritis
1. Pengkajian Berdasarkan Pola Fungsional Gordon
Keluhan Utama
Kebanyakan kasus hipertensi akan mengeluhkan nyeri kepala dan tengkuk
atau leher belakang terasa berat

Riwayat penyakit masa lalu


Biasanya klien memiliki riwayat kencing manis atau hiperkolesterolemia

20
Promosi kesehatan
DS:
Klien biasanya mengatakan memiliki riwayat hipertensi atau DM
DO:
KU biasanya tampak sakit sedang hingga berat
TTV seperti TD biasanya naik
Nadi dan pernapasan juga dapat naik

Nutrisi
DS:
BB kebanyakan mengalami obesitas
Nafsu makan terkadang juga dapat menurun
Aktivitas dan istirahat

Tidur dan istirahat


DS:
Pasien biasanya akan mengatakan susah tidur
Pasien biasanya akan mengatakan cepat lelah
Untuk Adls biasanya tergantung dari berat ringannya hipertensi
DO:
Tampak susah tidur

2. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien hipertensi


1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
2. Anxietas berhubungan dengan krisis situasional
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakberdayaan fisik

3. Intervensi Keperawatan Hipertensi


a. Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi
Tujuan dan kriteria hasil (NOC)
Setelah diberikan perawatan pasien akan:
Memperlihatkan pengendaian nyeri, yang dibuktikan oleh indicator
sebagai berikut:

21
1 tidak pernah
2 jarang
3 kadang-kadang
4 sering
5 selalu
Indicator 1 2 3 4 5
Mengenali awitan nyeri
Menggunakan tindakan pencegahan
Melaporkan nyeri dapat dikendaikan

Menunjukan tingkat nyeri, yang dibuktikan oleh indicator sebagai


berikut:
1 sangat berat
2 berat
3 sedang
4 ringan
5 tidak ada
Indicator 1 2 3 4 5
Ekspresi nyeri pada wajah
Gelisah atau ketegangan otot
Durasi episode nyeri
Merintih dan menangis
Gelisah
 memperlihatkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk

mencapai kenyamanan
 mempertahankan nyeri pada ….atau kurang (dengan skala 0-10)
 melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis
 mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk
memodifikasi factor tersebut
 melaporkan nyeri kepada pelayan kesehatan
 melaporkan pola tidur yang baik

Intervensi keperawatan (NIC)


Pengkajian

22
 Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk
mengumpulkan informasi pengkajian
 Minta pasien untuk menilai nyeri dengan skala 0-10.
 Gunakan bagan alir nyeri untuk mementau peredaan nyeri oleh analgesic
dan kemungkinan efek sampingnya
 Kaji dampak agama, budaya dan kepercayaan, dan lingkungan terhadap
nyeri dan respon pasien
 Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai usia dan
tingkat perkembangan pasien
Manajemen nyeri:
 Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi,
karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau
keparahan nyeri dan factor presipitasinya
 Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada mereka
yang tidak mampu berkomunikasi efektif

Penyuluhan untuk pasien/keluarga


 Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus
diminum, frekuensi, frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping,
kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengkonsumsi obat
tersebut dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri
membandel.
 Instruksikan pasien untuk menginformasikan pada perawat jika peredaan
nyeri tidak dapat dicapai
 Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan
nyeri dan tawarkan strategi koping yang ditawarkan
 Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesic narkotik atau oploid (resiko
ketergantungan atau overdosis)
Manajemen nyeri:
 Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan
berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur
 Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi, distraksi, terapi)

23
Aktivitas kolaboratif
 Kelola nyeri pasca bedah awal dengan pemberian opiate yang terjadwal
(missal, setiap 4 jam selama 36 jam) atau PCA
Manajemen nyeri:
 Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih berat
 Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika keluhan saat
ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien
dimasa lalu

Perawatan dirumah
 Intervensi di atas dapat disesuaikan untuk perawatan dirumah
 Ajarkan klien dan keluarga untuk memanfaatkan teknologi yang diperlukan
dalam pemberian obat

Diagnosa 2 : Anxietas berhubungan dengan krisis situasional


Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Setelah diberikan perawatan klien akan menunjukkan:


 Ansietas berkurang, dibuktikan oleh tingkat ansietas hanya ringan sampai
sedang dan selau menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas, diri,
koping.
 Menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas; yang dibuktikan oleh
indicator sibagai berikut:
1 tidak pernah
2 jarang
3 kadang-kadang
4 sering
5 selalu
Indicator 1 2 3 4 5
Merencanakan strategi koping untuk situasi
penuh tekanan
Mempertahankan performa peran
Memantau distorsi persepsi
Memantau manifestasi perilaku ansietas

24
Menggunakan teknik relaksasi untuk meredakan
ansietas

Intervensi Keperawatan NIC

Pengkajian
 kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik
setiap……..
 kaji untuk factor budaya yang menjadi penyebab ansietas
 gali bersama pasien tenteng tehnik yang berhasil dan tidak berhasil
menurunkan ansietas dimasa lalu
 reduksi ansietas (NIC); menentukan kemampuan pengambilan keputusan
pasien

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga


 buat rencana penyuluhan dengan tujuan ang realistis, termasuk kebutuhan
untuk pengulangan, dukungan dan pujian terhadap tugas-tugas yang telah
dipelajari
 berikan informasi mengenai sumber komunitas yang tersedia, seperti
teman, tetangga, kelompok swabantu, tempat ibadah, lembaga
sukarelawan dan pusat rekreasi
 informasikan tentang gejala ansietas
 ajarkan anggota keluarga bagaimana membedakan antara serangan panic
dan gejala penyakit fisik
penurunan ansietas (NIC);
 sediakan informasi factual menyangkut diagnosis, terapi dan prognosis
 instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi
 jelaskan semua prosedur, termasuk sensasi yang biasanya dialami selama
prosedur

Aktivitas kolaboratif
penurunan ansietas (NIC); berikan obat untuk menurunkan ansietas jika perlu

25
Aktivitas lain
 pada saat ansietas berat, dampingi pasien, bicara dengan tenang, dan
berikan ketenangan serta rasa nyaman
 beri dorngan kepada pasien untuk mengungkapkan secara verbal pikiran
dan perasaan untuk mengeksternalisasikan ansietas
 bantu pasien untuk memfokuskan pada situasi saat ini, sebagai cara untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi
ansietas
 sediakan pengalihan melaui televise, radio, permainan serta terapi okupasi
untuk menurunkan ansietas dan memperluas fokus
 coba teknik seperti imajinasi bombing dan relaksasi progresif
 dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan iritasi, serta izinkan
pasien untuk menangis
 yakinkan kembali pasien melalui sentuhan, dan sikap empatik secara
verbal dan nonverbal secara bergantian
 sediakan lingkungan yang tenang dan batasi kontak dengan orang lain
 sarankan terapi alternative untuk mengurangi ansietas yang dapat diterima
oleh pasien
 singkirkan sumber-sumber ansietas jika memungkinkan
penurunan ansietas (NIC);
 gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
 nyatakan dengan jelas tentang harapan terhadap perilaku pasien
 damping pasien untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi rasa takut
 berikan pijatan punggung, pijatan leher jika perlu
 jaga peralatan perawatan jauh dari pandangan
 bantu pasien untuk mengidentifikasi situasi yang mencetuskan ansietas

Diagnosa 3 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakberdayaan


fisik
Tujuan dan kriteria hasil (NOC)

Setelah diberikan perawatan pasien akan menunjukkan:

26
 Mentoleransi aktivitas yang bisasa dilakukan, yang dibuktikan oleh
toleransi aktivitas, ketahanan, penghematan energy, kebugaran fisik,
energy psikomotorik, dan perawatan diri, ADL.
 Menunjukkan toleransi aktivitas, yang dibuktikan oleh indicator sebagai
berikut:
1 gangguan eksterm
2 berat
3 sedang
4 ringan
5 tidak ada gangguan
Indikator 1 2 3 4 5
Saturasi oksigen saat
beraktivitas
Frekuensi pernapasan saat
beraktivitas
Kemampuan untuk berbicara
saat beraktivitas fisik

Mendemonstrasikan penghematan energy, yang dibuktikan oleh indicator sebagai


berikut:
1 tidak pernah
2 jarang
3 kadang-kadang
4 sering
5 selalu
Indikator 1 2 3 4 5
Menyadari keterbatasan energy
Menyeimbangkan aktivitas dan
istirahat
Mengatur jadwal aktivitas untuk
menghemat energy

Intervensi keperawatan (NIC)

Pengkajian

27
 Kaji tingkat kemampuan pasien untuk berpindah dari tempat tidur, berdiri,
ambulasi, dan melakukan ADL
 Kaji respon emosi, sosial dan spiritual terhadap aktivitas
 Evaluasi motivasi dan keinginan pasien untuk meningkatkan aktivitas
Manajemen energy (NIC):
 Tentukan penyebab keletihan
 Pantau respon kardiorespiratori terhadap aktivitas
 Pantau respon oksigen pasien terhadap aktivitas
 Pantau respon nutrisi untuk memastikan sumber-sumber energy yang
adekuat
 Pantau dan dokumentasikan pola tidur pasien dan lamanya waktu tidur
dalam jam

Penyuluhan untuk pasien dan keluarga


 Instruksikan pada pasien dan keluarga untuk:
 Penggunaan teknik napas terkontrol selama aktivitas, jika perlu
 Mengenali tanda dan gejala intoleransi aktivitas, termasuk kondisi yang
perlu dilaporkan ke dokter
 Pentingnya nutrisi yang baik
 Penggunaan peralatan seperti oksigen saat aktivitas
 Penggunaan tehnik relaksasi selama aktivitas
 Dampak intoleransi aktivitas terhadap tanggung jawab peran dalam
keluarga
 Tindakan untuk menghemat energy
Manajemen energy (NIC):
 Ajarkan pada pasien dan orang terdekat tentang teknik perawatan diri yang
akan meminimakan konsumsi oksigen
 Ajarkan tentang pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk
mencegah kelelahan

Aktivitas kolaboratif

28
 Berikan pengobatan nyeri sebelum aktivitas, apabila nyeri merupakan
salah satu penyebab
 Kolaborasikan dengan ahli terapi okupasi, fisik atau rekreasi untuk
merencanakan dan memantau program aktivitas, jika perlu.
 Untuk pasien yang mengalami sakit jiwa, rujuk kelayanan kesehatan jiwa
dirumah
 Rujuk pasien kepelayanan kesehatan rumah untuk mendapatkan pelayanan
bantuan perawtan rumah, jika perlu
 Rujuk pasien keahli gizi untuk perencanaan diet
 Rujuk pasien kepusat rehabilitasi jantung jika keletihan berhubungan
dengan penyakit jantung

Aktivitas lain
 Hindari menjadwalkan pelaksanaan aktivitas perawatan selama periode
istirahat
 Bantu pasien untuk mengubah posisi secara berkala, jika perlu
 Pantau tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah aktivitas
 Rencanakan aktivitas bersama pasien secara terjadwal antar istirahat dan
latihan
Manajemen energy (NIC);
 Bantu pasien untuk mengidentifikasi pilihan aktivitas
 Rencanakan aktivitas pada periode saat pasien memiliki energy paling
banyak
 Bantu pasien untuk aktivitas fisik teratur
 Bantu rangsangan lingkungan untuk relaksasi
 Bantu pasien untuk melakukan pemantauan mandiri dengan membuat dan
menggunakan dokumentasi tertulis untuk mencatat asupan kalori dan
energy

Perawatan dirumah
 Evaluasi kondisi rumah yang dapat menyebabkan intoleransi aktivitas
 Kaji kebutuhan terhadap alat bantu, oksigen dan lain sebagainga dirumah

29
30
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan
darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai
sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg
saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah
yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan
jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama
gagal jantung kronis.
Gejala yang sering ditemukan adalah epistaksis, mudah marah, telinga
berdengung, rasa berat di tungkuk, sukar tidur, dan mata berkunang-kunang.
Apabila hipertensi tidak diketahui dan dirawat dapat mengakibatkan kematian
karena payah jantung, infark miokardium, stroke atau gagal ginjal.

3.2 Saran
Masyarakat ataupun penderita sebaiknya mengetahui hal-hal yang
berhubungan dengan hipertensi, sehingga bisa mencegah terjadi hipertensi
serta sebagai deteksi dini dan perawatan hipertensi dapat menurunkan jumlah
morbiditas dan mortalitas.

31
DAFTAR PUSTAKA

Adib, M. 2011. Pengetahuan Praktis Ragam Penyakit Mematikan. Jogjakarta :


Bukubiru
Stein, Jay H. 1998. Panduan Klinik Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : EGC
http://118.96.151.46/kgi/konten_kgi/smp/smp/biologi/klas_8/5_HIPERTENSI/mat
eri4.html
http://alin-maliando.blogspot.com/2009/01/patofisiologi.html
http://fkmutu.blogspot.com/2010/11/makalah-hipertensi.html
http://hesa-andessa.blogspot.com/2010/04/askep-hipertensi.html
http://kardiovs.blogspot.com/2010/05/keperawatan-
hipertensi.htmlhttp://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi
http://solusihipertensi.com/askep-hipertensi.html
http://www.infopenyakit.com/2008/01/penyakit-darah-tinggi-hipertensi.html
http://www.ningharmanto.com/2010/08/penyakit-darah-tinggi-tekanan-darah-
tinggi-hipertensi-darah-tinggi-herbal-untuk-darah-tinggi-herbal-hipertensi/
http://www.rsbk-batam.co.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=25
Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern. Buku Saku DIAGNOSIS
KEPERAWATAN Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria hasil NOC
Edisi 9. Alih Bahasa Ns. Esti Wahuningsih, S.Kep dan Ns. Dwi Widiarti,
S,Kep. EGC. Jakarta.

32