Anda di halaman 1dari 21

TUGAS 1

LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN DASAR


“FILSAFAT PENDIDIKAN”

Tugas ini dibuat untuk melengkapi tugas individu


Mata kuliah Landasan Filosofi Pendidikan Dasar

Oleh :
Lora Syupriyanti
17124033

DOSEN PENGAMPU MATA KULIAH :


Prof. Dr. Neviyarni S, M.S
Dr. Hj. Irdamurni, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
i
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................ i


MIND MAP ................................................................................................. ii
1. PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN DASAR .................................... 1
2. KAJIAN ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI
PENDIDIKAN DASAR ......................................................................... 5
a. ONTOLOGI ................................................................................. 5
b. EPISTEMOLOGI ........................................................................ 6
c. AKSIOLOGI ................................................................................. 8
3. FILSAFAT PENDIDIKAN DASAR .................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 15
SOAL DAN JAWABAN .............................................................................. 16
YEL-YEL ...................................................................................................... 18

i
ii
PENJELASAN MIND MAPPING
FILSAFAT PENDIDIKAN

A. Pendidikan dan Pendidikan Dasar


1. Pengertian Pendidikan
Pendidikan merupakan bagian penting yang tak dapat dipisahkan dari
kehidupan manusia. Setiap manusia pasti berpendidikan, tergantung apakah
pendidikan yang diperolehnya itu diterima secara formal dan non formal. Pendidikan
berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat, dimana pendidikan menyumbang
bagi perkembangan pola pikir anggota masyarakat yang akan berpengaruh terhadap
kehidupan sosial masyarakat itu sendiri.
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan
sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui
pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan
orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang
memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat
dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah,
sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau
magang. Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan
berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir
seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca
kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum
kelahiran.
Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’
dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses
atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia)
menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: tuntutan di dalam hidup tumbuhnya
anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-
1
tingginya.Pendidikan adalah usaha sadar untuk meny iapkan peserta didik melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan
datang.
Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Para ahli mengemukakan definisi pendidikan (dalam Ihsan, 2010: 13) adalah
sebagai berikut :
 McLeod : “Pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk
memperoleh pengetahuan.”
 Tardif :“Pendidikan adalah seluruh tahapan pengembangan kemampuan-
kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir
seluruh pengalaman kehidupan.”
 Poerbakawatja dan Harahap : “Pendidikan ialah usaha secara sengaja dari
orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke
kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab
moril dari segala perbuatannya.”
 Henderson :“Pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan
perkembangan sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan
lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir.”
Berdasarkan pendapat di atas tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan
merupakan bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada
perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan mengembangkan potensi
diri untuk memiliki nilai-nilai keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.

Fungsi Pendidikan
Pendidikan bagi seseorang dapat difungsikan sebagai :
a. Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
b. Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi
kepentingan masyarakat.
2
c. Melestarikan kebudayaan.
d. Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.
2. Pengertian Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun
pertama masa sekolah anak-anak. Pendidikan dasar menjadi dasar bagi jenjang
pendidikan menengah. Periode pendidikan dasar ini adalah selama 6 tahun. Di akhir
masa pendidikan dasar, para siswa diharuskan mengikuti dan lulus dari Ujian
Nasional (UN). Kelulusan UN menjadi syarat untuk dapat melanjutkan pendidikannya
ke tingkat selanjutnya (SMP/MTs). Selain itu pendidikan dasar dapat juga diartikan
sebagai pendidikan rendah dengan menumbuhkan minat, kemampuan berpikir, olah
tubuh dan naluri.
Berdasarkan pasal 17 UU RI No. 20 tahun 2003 menerangkan bahwa: (1)
Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang
pendidikan menengah. (2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan
madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah
menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang
sederajat. (3) Ketentuan mengenai pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dan (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Penjelasan atas pasal 17 ayat (2) menyatakan bahwa “Pendidikan yang
sederajat dengan SD/MI adalah program seperti PaketB yang diselenggarakan pada
jalur pendidikan nonformal.
Dalam UU No. 2 tahun 1989, Pendidikan dasar diselenggarakan untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan
keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta
mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti
pendidikan menengah.
Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School atau Primary
School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah
dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Pelajar
sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia
7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6
tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.

3
Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak
diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri
(SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan
Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah kabupaten/kota. Sedangkan
Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang
standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit
pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.
Salah satu jenjang pendidikan bagian dari pendidikan dasar adalah sekolah
dasar. Sekolah dasar adalah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk
menyelenggarakan berbagai pendidikan dasar untuk meningkatkan atau
mengembangkan diri anak serta mempersiapkan anak untuk melanjutkan ke
tingkatan yang lebih tinggi. Umumnya, pendidikan yang diperoleh anak di sekolah
dasar adalah selama 6 tahun. Adapun fungsi sekolah dasar adalah :
a) Lembaga pendidikan pertama yang meletakkan dasar bagi pembinaan warga
negara sebagai manusia sosialis.
b) Peletak dasar bagi pembangunan kehidupan bangsa dengan menjadikan
sekolah dasar sebagai lembaga pendidikan yang lengkap, fungsional, dan ilmiah.
c) Lembaga pendidikan yang memberi dasar-dasar pengetahuan dan kecakapan,
dan memberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah.
Guru sekolah dasar sebagai operator pendidikan, memiliki tanggung
jawab dan peran yang besar dalam menentukan keberhasilan anak untuk
mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya dan menjadi manusia yang
seutuhnya. Di sinilah anak memperoleh berbagai bimbingan, pengajaran dan
latihan dasar untuk terus dikembangkan setelahnya. Bagaimanapun, mendidik
anak yang masih berada di tingkatan sekolah dasar berbeda dengan mendidik anak
yang sudah mencapai tingkatan di atasnya, sehingga memberikan tantangan
tersendiri bagi guru dalam menghadapi anak-anak didiknya.

4
B. Kajian Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi Pendidikan Dasar
1. Pengertian Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi
a. Ontologi
Secara terminologi, ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu on atau ontos
yang berarti “ada” dan logos yang berarti “ilmu”. Sedangkan secara terminologi
ontologi adalah ilmu tentang hakekat yang ada sebagai yang ada (The theory of
being qua being). Menurut istilah, ontologi ialah ilmu yang membahas tentang
hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk
jasmani/konkret maupun rohani/abstrak (Susanto, 2011:35).

Ontology adalah cabang filsafat yang membahas masalah obyek dari kajian
ilmu (termasuk ilmu pendidikan). Kajian ontology pendidikan merupakan
wilayah kajian filosofis yang tidak bisa dipisahkan dari masalah realitas
kehidupan di masyarakat. Kajian ontology dari pendidikan menyangkut aspek
tujuan pendidikan yang tidak terlepas dari masalah antropologi (manusinya),
tujuan hidupnya, perkembangannya, dan lingkungan kehidupannya di masa
sekarang dan yang akan datang (Suyitno: 2009).
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada
tahun 1636 M. untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat
metafisika. Dalam perkembangannya Christian Wollf membagi metafisika
menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum
dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika
umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang
paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika
khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi. Kosmologi
adalah cabang filsafat yang secara khhusus membicarakan tentang alam semesta.
Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang iwa
manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang secra khusus membicarakan tuhan.
Pandangan ontologi ini secara praktis akan menjadi masalah utama di
dalam pendidikan. Sebab, anak bergaul dengan dunia lingkungannya dan
mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Anak-anak, baik di
masyarakat maupun di sekolah selalu menghadapi realita, obyek pengalaman:
benda mati, benda hidup, sub-human dan human. Bagaimana asas-asas pandangan
5
religious tentang adanya makhluk-makhluk hidup yang terlahir dengan kematian,
bagaimana kehidupan dan kematian dapat dimengerti.Begitu pula realita semesta,
dan eksistensi manusia yang memiliki jasmani dan rohani.Dan bagaimana
eksistensi Tuhan Maha Pencipta.
Hubungan antara ontologi dengan pendidikan adalah Ontologi merupakan
analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Berisi mengenai hal-hal yang
bersifat empiris serta mempelajari mengenai apa yang ingin diketahui manusia
dan objek apa yang diteliti ilmu. Dasar ontologi pendidikan adalah objek materi
pendidikan ialah sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan. Jadi
hubungan ontologi dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar
dari fondasi ilmu dimana disitulah teletak undang-undang dasarnya dunia ilmu.
b. Epistemologi
Epistemologi secara etimologis berasal dari dua suku kata, yakni:
“epistem” (Yunani) yang berarti pengetahuan atau ilmu (pengetahuan) dan ‘logos’
yang berarti ‘disiplin’ atau teori. Dalam Kamus Webst er disebutkan bahwa
epistemologi merupakan “Teori ilmu pengetahuan (science) yang melakukan
investigasi mengenai asal-usul, dasar, metode, dan batas-batas ilmu pengetahuan.
Menurut Sidharta (2008:77), “Epistemologi adalah bagian filsafat yang
membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula
pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesalihan pengetahuan”. Persoalan
dalam epistemologi adalah bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?
Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh? Dan bagaimanakah validitas
pengetahuan itu dapat dinilai? Mengapa sesuatu disebut ilmu? Apa saja lintas
batas ilmu pengetahuan? dan, bagaimana prosedur untuk memperoleh
pengetahuan yang bersifat ilmiah? Pertanyaan-pertanyaan itu agaknya yang dapat
dijawab dari pengertian epistemologi yang sudah disebutkan. Kumpulan data tidak
memiliki arti apa-apa tanpa adanya proses dan prosedur yang memiliki standar
ilmiah.
Bagaimana guru menjawab pertanyaan-pertanyaan epistimologis yang
dihadapi akan memiliki implikasi yang signifikan terhadap kurikulum dan
pengajaran. Pertama, kita harus menentukan apa yang benar mengenai muatan
pembelajaran yang akan diajarkan, kemudian memutuskan alat atau media untuk
membawa pembelajaran kepada siswa. Sekalipun banyak pertanyaan-pertanyaan
6
epistimologis untuk mengetahui tentang dunia, menurut Sadullloh (2008: 86),ada
lima cara mengetahui yang merupakan kepentingan guru.
a. Mengetahui yang didasarkan otoritas.
Orang –orang yang memperoleh pengetahuan dari orang bijak, sastrawan,
penceramah, guru, administrator, buku, internet, yang merupakan sumber-
sumber otoritas bagi siswa.
b. Mengetahui yang didasarkan pada wahyu Tuhan
Sepanjang sejarah manusia, wahyu-wahyu Allah dalam Al-quran telah
menjadi sumber pengetahuan mengenai dunia.
c. Mengetahui yang didasarkan pada empirisme (pengalaman)
Istilah empiris merujuk pada pengetahuan yang diperoleh melalui indera.
Ketika sering menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik,
kita merujuk pada mode pengetahuan ini. Secara informal, data empiris
yang dikumpulkan mengarah ke prilaku keseharian.
d. Mengetahui yang didasarkan pada nalar
Di sekolah, para siswa belajar untuk menerapkan pemikiran rasinal dalam
mengerjakan tugas-tugas sepeerti memecahkan masalah, membedakan
fakta dan opini atau mempertahanakan argumen. Melalui metode nalar,
permasalahan diidentifikasi, data yang relevan dikumpulkan, suatu
hipotesis dirumuskan berdasarkan data ini dan hipotesis diuji secara
empiris.
e. Mengetahui yang didasarkan pada intuisi
Intuisi ditarik dari pengetahuan dan pengalaman awal dan memberi
pemahaman yang dekat terhadap situasi yang ada. Intuisi mempengaruhi
kita bahwa kita mengetahui sesuatu, namun kita tidak mengetahui
bagaimana kita mengetahui. Intuisi merupakan campuran dari insting,
emosi, dan imajinasi.
Bagi guru, tidak hanya mengetahui bagaimana siswa memperoleh
pengetahuan , melainkan juga bagaimana siswa belajar. Berkaitan dengan masalah
belajar, ahli pendidikan harus mengetahuinya agar dapat menentukan kurikulum
dan metode mengajar yang sesuai dengan pembelajaran yang diberikan.
Kegunaan memahami Epistimologi bagi pendidikan dasar dikemukakan
oleh Bernadib (dalam Sadullloh, 2008: 87),
7
Epistimologi diperlukan antara lain dalam hubungan dengan penyusunan
dasar kurikulum. Kurikulum yang lazimnya diartikan sebagai sarana untuk
mencapai tujuan pendidikan, dapat diumpamakan sebagai jalan raya yang
perlu dilewati oleh siswa atau murid dalam usahanya untuk mengenal dan
memahami pengetahuan. Agar mereka berhasil dalam mencapai tujuan
perlu diperkenalkan sedikit demi sedikit hakikat dari pengetahuan.

Epistimologi memberi sumbangan yang besar bagi pendidikan dasar dalam


menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak,
diajarkan di sekolah, dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan tersebut,
begitu juga bagimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.
c. Aksiologi
Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan
ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bias terpenuhi secara lebih cepat
dan lebih mudah. Dan merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa
peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu. Singkatnya ilmu merupakan
sarana untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Menurut
Surajiyo (2009:102), untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan aksiologi,
akan diuraikan beberapa definisi tentang aksiologi, diantaranya :
 Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan
logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”.
 Sedangkan arti aksiologi yang terdapat didalalam bukunya Jujun S.
Suriasumantri Filsafat Ilmu Sbuah Pengantar Populer bahwa aksiologi
diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari
pengetahuan yang diperoleh.
 Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral
conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus,
yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang
ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life ,yaitu kehidupan
social politik, yang akan melahirkan sosio-politik.
 Dalam Enyclopedia of philosophy dijelaskan, aksiologi disamakan dengan
Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value and Valuation: nilai,
digunakan sebagai katabenda abstrak, nilai sebagai katabenda konkret, dan
nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, member
nilai, dan dinilai.
8
Dari definisi-definisi mengenai aksiologi diatas, terlihat dengan jelas
bahwa permasalahan yang utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud
adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan
tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada
permasalahan etika dan estetika.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu
tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga nilai
kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya
meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malah menimbulkan
bencana. Dalam aksiologi ada dua penilaian yang umum digunakan yaitu:
a) Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan
sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilkau,
norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang
filsafat tertua. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan
mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
b) Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan
tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri
segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis
dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah
suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola
baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.

Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu


pengetahuan,menyelidiki hakikat nilai,serta berisi mengenai etika dan estetika.
Penerapan aksiologi dalam pendidikan misalnya saja adalah dengan adanya mata
pelajaran ilmu sosial dan kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimanakah
etika atau sikap yang baik itu,selain itu adalah mata pelajaran kesenian yang
mengajarkan mengenai estetika atau keindahan dari sebuah karya manusia. Dasar
Aksiologis Pendidikan adalah Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu
sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang

9
sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara
berada.

C. Filsafat Pendidikan Dasar


1. Filsafat Pendidikan
Menurut Bachtiar (2009:4), kata filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno,
philos artinya cinta dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Filsafat berarti
cinta yang mendalam terhadap kearifan atau kebijakan. Dan dapat pula diartikan
sebagai sikap atau pandangan seseorang yang memikirkan segala sesuatunya
secara mendalam dan melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan
segala hubungan. Sedangkan menurut Zelhendri (2014:39) filsafat pendidikan yaitu
ilmu yang membahas tentang masalah-masalah pendidikan secara mendalam dam
sistematis secara menyeluruh, baik yang mencakup asas dan tujuan maupun
mengenai masalah-masalah yang menyangkut dengan kurikulum, metode, alat, faktor
pendidikan dan mengintegrasikan semua ilmu pengetahuan yang menjadi dasar
perbiatan pendidikan. Jadi, filsafat memiliki karakteristik spekulatif, radikal,
sistematis, komprehensif, dan universal.
Zelhendri (2014:13) mengemukakan tentang hubungan antara filsafat
dengan pendidikan sangat penting sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu
sistem pendidikan. Bahkan John Dewey berpandangan bahwa filsafat merupakan
teori umum bagi pendidikan. Filsafat pendidikan adalah upaya mengembangkan
potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik, potensi cipta, rasa,
maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam
perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal.
Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis,
harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Menurut AlSyaibany,
filsafat pendidikan adalah pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah
dalam bidang pendidikan.
Filsafat pendidikan harus dapat menjawab empat pertanyaan pendidikan
secara menyeluruh, yaitu :
 Apakah pendidikan itu?
 Mengapa manusia harus melaksanakan pendidikan?
 Apakah yang seharusnya dicapai oleh pendidikan?

10
 Dengan cara bagaimana cita-cita pendidikan yang tersurat maupun yang
tersirat dapat dicapai?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut bergantung pada
pandangan hidup dan tujuan hidup manusia. Filsafat pendidikan tidak hanya terbatas
pada fakta faktual, tetapi harus sampai pada penyelesaian tuntas tentang baik dan
buruk, persyaratan hidup sempurna, serta bentuk kehidupan individual maupun sosial
yang baik dan sempurna. Jadi, peranan filsafat pendidikan merupakan sumber
pendorong adanya pendidikan dan menjadi jiwa juga sekaligus pedoman asasi
pendidikan.
Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, maka filsafat
pendidikan memiliki berbagai aliran atau mazhab, di antaranya :
a. Filsafat pendidikan idealisme
Idealisme berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang
sifatnya rohani atau intelegensi. Termasuk dalam paham idealisme adalah
spiritualisme, rasionalisme, dan supernaturalisme. Tentang teori pengetahuan,
idealisme mengemukakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak
pasti dan tidak lengkap karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka,
sifatnya maya yang menyimpang dari kenyataan sebenarnya. Selain itu, menurut
pandangan idealisme, nilai adalah absolut. Apa yang dikatakan baik, benar,
salah, cantik atau jelek secara fundamental tidak berubah, melainkan tetap
dan tidak diciptakan manusia. Idealisme memiliki tujuan pendidikan yang
pasti dan abadi, di mana tujuan itu berada di luar kehidupan manusia, yaitu
manusia yang mampu mencapai dunia cita, manusia yang mampu mencapai
dan menikmati kehidupan abadi yang berasal dari Tuhan.
b. Filsafat pendidikan realisme
Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan
hakikat yang asli dan abadi. Kneller membagi realisme menjadi dua :
a) Realisme rasional, memandang bahwa dunia materi adalah nyata dan berada di
luar pikiran yang mengamatinya, terdiri dari realisme klasik dan realisme
religius.
b) Realisme natural ilmiah, memandang bahwa dunia yang kita amati bukan
hasil kreasi akal manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya, dan

11
substansialitas, sebab akibat, serta aturan-aturan alam merupakan suatu
penampakan dari dunia itu sendiri.
c) Filsafat pendidikan materialisme
Materialisme berpandangan bahwa realisme adalah materi, bukan rohani,
spiritual, atau supernatural. Cabang materialisme yang banyak dijadikan
landasan berpikir adalah positivisme yang menganggap jika sesuatu itu
memang ada, maka adanya itu adalah jumlah yang dapat diamati dan
diukur. Oleh karena itu, positivisme hanya mempelajari yang berdasarkan
fakta atau data yang nyata.
d) Filsafat pendidikan pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak
bersikap mutlak, tidak doktriner, tetapi relatif atau tergantung pada
kemampuan manusia. Dalam pragmatisme, makna segala sesuatu dilihat
dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan, atau benar tidaknya
suatu ucapan, dalil, dan teori, semata-mata bergantung pada manusia dalam
bertindak. Menurut pragmatisme, pendidikan bukan merupakan proses
pembentukan dari luar dan juga bukan pemerkahan kekuatan laten
dengan sendirinya, melainkan proses reorganisasi dan rekonstruksi dari
pengalaman individu.
e) Filsafat pendidikan eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran yang menekankan pilihan kreatif,
subjektivitas pengalaman manusia, dan tindakan konkret dari keberadaan
manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas.
Menurut eksistensialisme, pengetahuan manusia tergantung pada
pemahamannya tentang realitas, interpretasinya terhadap realitas, dan
pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk
memperoleh pekerjaan, tetapi untuk alat pekembangan dan pemenuhan
diri secara pribadi.
f) Filsafat pendidikan progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak, sebagai reaksi
terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru atau
bahan pelajaran yang didasari oleh filosofi realisme religius dan
12
humanisme. Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum,
pengalaman bersifat dinamis dan temporal sehingga nilai pun terus
berkembang.
g) Filsafat pendidikan esensialisme
Esensialisme dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang
memprotes skeptisisme dan sinisme dari progresivisme terhadap nilai-nilai
yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Esensialisme berpendapat
bahwa pendidikan haruslah berasaskan nilai yang telah teruji keteguhan dan
kekuatannya sepanjang masa. Gerakan ini bertumpu pada mazhab idealisme
dan realisme.
h) Filsafat pendidikan perenialisme
Perenialisme adalah aliran yang berorientasi dari neo-thomisme dan
memandang bahwa nilai universal itu ada, pendidikan hendaknya
dijadikan suatu pencarian dan penanaman kebenaran nilai tersebut.
Berikut adalah beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap
pendidikan:
a) Plato : “Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham
adanya nafsu, kemauan, dan akal.”
b) Aristoteles : “Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian
pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya
c) Thomas Aquina : “Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan
yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata.”
9. Filsafat pendidikan rekonstruksionisme
2. Filsafat Pendidikan Dasar
Sesuai yang tercantum dalam UU RI No.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu yang dimaksud dengan pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan negara.
Usaha di sini berarti kegiatan atau perbuatan dengan mengerahkan tenaga,
pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Sadar adalah insyaf, yakin,
13
tahu, dan mengerti. Sedangkan terencana adalah menyusun sistem dengan
landasan tertentu untuk kemudian dilaksanakan. Perencanaan pendidikan secara
sengaja dan sungguh-sungguh ini tentunya dilakukan oleh insan pendidikan yang
mempunyai kewenangan dan tanggung jawab menyeluruh terhadap keberhasilan
pelaksanaan proses pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah dasar. Dan
penerapan filsafat pendidikan di dalamnya merupakan faktor yang ikut menentukan
dan membantu para pelaku pendidikan tersebut.
Filsafat sebagai teori umum pendidikan dapat diterapkan dalam
penentuan kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan dan peran guru atau
pendidik juga anak didiknya. Adanya berbagai mazhab dalam filsafat pendidikan
juga menyebabkan berbeda-bedanya kurikulum, metode, tujuan, serta kedudukan
guru dan siswa tersebut dalam struktur pendidikan. Semuanya tergantung pada
mazhab apa yang diterapkan atau dianut oleh para pelakunya. Hanya saja,
dalam hal ini mereka dituntut untuk memiliki kurikulum yang relevan dengan
pendidikan ideal, juga disesuaikan dengan perkembangan jaman dan menekankan
pada aspek kognitif, afektif, dan pertumbuhan yang normal.
Metode pendidikan juga harus mengandung nilai-nilai instrinsik dan
ekstrinsik yang sejalan dengan mata pelajaran dan secara fungsional dapat
direalisasikan dalam kehidupan. Selain itu, tujuan pendidikan tidak hanya terpaku
pada salah satu pihak semata, melainkan untuk seluruh pihak yang terlibat dalam
pendidikan. Kedudukan guru dan siswa harus benar-benar dimengerti oleh keduanya
sehingga dapat menjalankan peranannya masing-masing dengan baik

14
DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Amsal. 2009. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Pers.


Ihsan, Fuad. 2010. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rineka Cipta.
Kattsof, Louis. 2004. Pengantar filsafat. Ygyakarta: Tiara Wacana Yogja.
Sidharta, Arief. 2008. Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu itu. Bandung : Pustaka Sutra
Surajiyo. 2009. Filsafat Ilmu dan Pengembangannya di Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Susanto. 2011. Filsafat Ilmu: Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistimologis, dan
Aksionolgis. Jakarta: Bumi Aksara.
Suyitno. 2009. Landasan Filosofis Pendidikan. Bandung: UPI Press.

Zen, Zelhendri.2014. Filsafat Pendidikan.Padang : Sukabina Press

15
Pertanyaan Tentang Filsafat Pendidikan

1. Berbagai asumsi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan disebut …


a. Landasan pendidikan c. Studi Pendidikan
b. Praktek pendidikan d. Tujuan Pendidikan
2. Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
Negara. Penjabaran di atas adalah penjelasan dari .....
a. Pendidikan c. Pendidikan Dasar
b. Filsafat d. Aksiologi
3. Implikasi terhadap pendidikan, maka filsafat pendidikan menelaah tentang …
a. Aksiologi, Metafisika, dan Epistimologi
b. Aksiologi, Kosmologi, dan Ontology
c. Ontology, Metafisika, dan Aksiologi
d. Ontology, Epistimologi, dan Aksiologi
4. Dibawah ini pengertian filsafat pendidikan yang benar adalah …
a. Pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat sesuatu secara sistematis,
komprehensif, dan universal
b. Filsafat terapan yang menggunakan pola berpikir filsafat dalam meelaah obyek
tentang segala hal tentang pendidikan
c. Pengetahuan tentang hakikat realitas (kenyataan)
d. Pengetahuan tentang masalah obyek dari kajian ilmu (termasuk ilmu pendidikan)
5. Cabang filsafat yang membahas tentang masalah nilai guna pengetahuan adalah …
a. Aksiology
b. Epistimologi
c. Metafisika
d. Ontologi

16
Kunci Jawaban:
1. A. Landasan Pendidikan
2. A. Pendidikan
3. D. Ontology, Epistimologi, dan Aksiologi
4. B. Filsafat terapan yang menggunakan pola berpikir filsafat dalam meelaah obyek tentang
segala hal tentang pendidikan
5. A. Aksiology

17
Yel-yel Topik “Filsafat Pendidikan”

Nyanyikan sesuai dengan irama lagu”kalau kau senang hati”

Ayo semua kita belajar

Belajar tentang landasan filosofis

Pertemuan pertama filsafat pendidikan

Ada tiga materi yang kan kita plajari

Pertama pendidikan dan pendidikan dasar


Kedua filsafat pendidikan dasar
Ada juga ontology, epistimologi
dan aksiologi juga tidak ketinggalan

Ayo semua belajar dengan gembira


Ayo semua belajar dengan tersenyum
Agar bisa menjadi sorang mahasiswa
yang baik hati dan berbudi

18