Anda di halaman 1dari 54

KARAKTERISTIK RUPTURA PERINEUM DI RUMAH SAKIT

IBU DAN ANAK SITI FATIMAH MAKASSAR


TAHUN 2015

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan


Pembelajaran Semester IV Kebidanan
Akbid Syekh Yusuf Gowa

OLEH

NUR ANNISA
BD.1409.072

YAYASAN PENDIDKAN SANRE KARE BANGUN


AKADEMI KEBIDANAN SYEKH YUSUF GOWA
TAHUN 2015
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ruptura perineum merupakan suatu keadaan dimana

terputusnya kontinuitas jaringan yang terjadi pada hampir semua

persalinan pertama dan tidak jarang terjadinya infeksi dan

perdarahan sehingga mengakibatkan tingginya morbilitas dan

mortalitas ibu. (Wiknjosastro H, 1999).

Pada saat ini kematian ibu hamil dan ibu bersalin masih

tinggi khususnya di negara-negara berkembang. Di negara miskin

sekitar 25-50% kematian wanita subur disebabkan hal yang yang

berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Data yang riil tentang

AKI didunia masih sangat sulit diperoleh namun sejak tahun 1996,

WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal

akibat komplikasi kehamilan dan persalinan. Di Asia Selatan wanita

kemungkinan 1:18 meninggal akibat kehamilan dan persalinan

(Saifuddin, 2013).

Di Indonesia berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan

Indonesia (SDKI) pada tahun 2013 angka kematian ibu (AKI)

berkisar 307 per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2

orang ibu bersalin meninggal dunia. Penyebab kematian ibu 80%

1
karena perdarahan, infeksi 30,5%, partus lama dan lain-lain 175%

(http://www.depkes.go.id , diakses 15 April 2013).

Data yang diperoleh dari Profil Dinas Kesehatan Propinsi

Sulawesi Selatan, angka kematian ibu (AKI) tahun 2013 sebesar

130 per 100.000 kelahiran hidup dan mengalami penurunan pada

tahun 2014 yaitu sebesar 110 per 100.000 kelahiran hidup yang

disebabkan oleh perdarahan 60 orang (54,5%), infeksi 7 orang

(6,4%, toksenia 13 orang (11,82%) dan lain-lain 30 orang (27,3%)

(Profil Kesehatan, 2014). Pada tahun 2015, angka kematian

berkisar 291/100.000 kelahiran hidup. Dengan beberapa faktor

penyebabnya yaitu perdarahan 40-50%, preeklampsia dan

eklampsia 20-30%, infeksi jalan lahir 20-30% (http://www.

hidayatullah.com/indeks , diakses tanggal 17 April 2015).

Hasil Survei awal diperoleh dari Medical Record Rumah

Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar, jumlah ibu yang

melahirkan mulai periode Januari sampai Desember 2015 sebanyak

2.391 orang dan yang mengalami ruptura perineum sebanyak 1030

orang (43,07%).

Ada beberapa faktor yang dapat berhubungan dengan

ruptura perineum dalam persalinan diantara posisi tubuh, paritas,

janin besar, ekstraksi cunam/forcep dan cara meneran. (Mochtar,

1998).
Untuk mencegah timbulnya infeksi atau komplikasi lainnya

pada masa nifas utamanya dengan ruptura pada perineum dapat

dilakukan dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan antaraa

lain perawatan perineum secara intensif. (Saifuddin, 2012).

Berdasarkan masalah-masalah yang dikemukakan diatas

maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Distribusi Penderita

Ruptura Perineum yang selalu meningkat setiap tahunnya termasuk

di Rumah Sakit Siti Fatimah Makassar 2015.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dirumuskan

masalah penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimanakah karakteristik kejadian ruptura perineum menurut

besar janin ?

2. Bagaimanakah karakteristik kejadian ruptura perineum menurut

paritas ?

3. Bagaimanakah karakteristik kejadian ruptura perineum menurut

cara persalinan ekstraksi vakum ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran tentang kejadian ruptura

perienuem di RSIA Siti Fatimah Makassar tahun 2015.


2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran karakteristik penderita ruptura

perineum menurut besar janin.

b. Diketahuinya gambaran karakteristik penderita ruptura

perineum menurut paritas.

c. Diketahuinya gambaran karakteristik penderita ruptura

perineum menurut cara persalinan ekstraksi vakum.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi

dan memperkaya wawasan ilmu pengetahuan dan bahan acuan

bagi peneliti selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan

dan pelaksanaan program baik di Depkes maupun pihak RSIA

Siti Fatimah Makassar dalam menyusun perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi program upaya pencegahan ruptura

perineum.

3. Manfaat Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini merupakan sumber informasi bagi RSIA Siti

Fatimah Makassar dalam rangka percepatan penurunan angka

kejadian ruptura perineum.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Ruptura Perineum

1. Pengertian Ruptura Perineum Menurut Beberapa Sumber

a. Ruptura perineum adalah robekan yang terjadi pada

perineum pada saat persalinan (Mochtar R, 1998).

b. Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan

pertama, dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya.

Semua laserasi perineum, kecuali yang sangat super fisial

akan disertai perlukaan vagina bagian bawah dengan derajat

yang bervariasi. Robekan semacam itu dapat mencapai

kedalaman tertentu itu sehingga mengenai muskulus

sphinterani dan dapat meluas dalam dinding vagina dengan

berbagai kedalaman (Cunningham, dkk, 1995).

c. Robekan yang terjadi pada hampir semua persalinan pertama

dan juga persalinan lanjutan yang mengakibatkan

terputusnya kontinuitas jaringan pada perineum

(Winknjosastro, Hanifa, 1999).

d. Robekan jalan lahir yang terjadi secara spontan ataupun

karena episiotomi. Apabila tidak ditangani dengan baik bisa

mengakibatkan perdarahan, infeksi, jaringan parut, gangguan

5
dalam hubungan seksual dan dapat menyebabkan fistel

(Ibrahim S, 1997).

2. Penyebab Ruptura Perineum (Obstetri Fisiologi, 1983, hal. 293)

Yang dapat menyebabkan ruptura perineum adalah

a. Partus prestipitasus.

b. Kepala janin besar dan anak besar.

c. Pada Presentase defleksi (dahi, muka).

d. Pada paritas.

e. Pada letak sungsang.

f. Pimpinan persalinan yang salah.

g. Pada obstetri operatif pervaginam (ekstrasi

vakum, forcep, dan embriotomi.

3. Tingkatan Ruptura Perineum (Saifuddin, 2000, hal.462)

Robekan perineum di bagi atas 4 tingkatan

a. Tingkat I : Robekan terjadi hanya pada selaput lendir vagina

dengan atau tanpa mengenai kulit perineum.

b. Tingkat II : Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot

perineum transversalis, tetapi tidak mengenai otot spinterani.

c. Tingkat III : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot

spinterani.

d. Tingkat IV : Robekan mengenai perineum sampai dengan

otot spinterani dan mukosa rectum.


4. Tindakan Penjahitan Ruptura Perineum

a. Pada robekan perineum tingkat I tidak dilakukan tindakan

penjahitan tetapi hanya dibersihkan dan di kompres dengan

larutan bethadine.

b. Penjahitan robekan perineum tingkat II

1) Siapkan peralatan untuk melakukan penjahitan : wadah

DTT berisi sarung tangan, pemegang jarum, jarum jahit,

benang jahit kromik, atau catgut nomor 2/0 atau 3/0, kasa,

kapas steril pinset dan bethadine.

2) Atur posisi bokong ibu pada posisi litotomi di tepi tempat

tidur.

3) Pasang kain bersih dibawah bokong ibu.

4) Atur lampu sorot atau senter ke arah vulva/perineum ibu.

5) Pastikan lengan atau tangan tidak memakai perhiasan,

cuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir sampai

bersih kemudian keringkan.

6) Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

7) Bersihkan luka dengan kapas bethadine steril.

8) Telusuri dengan hati-hati dengan menggunakan satu jari

untuk secara jelas menentukan batas-batas luka, nilai

kedalaman luka dan lakukan jaringan mana yang terluka.


9) Dekatkan tepi laserasi untuk menentukan bagaimana cara

menjahitnya menjadi satu dengan mudah.

10) Buat jahitan pertama kurang lebih satu cm diatas ujung

laserasi di bagian dalam vagina setelah membuat tusukan

pertama, buat ikatan dan potong pendek benang yang

lebih pendek dari ikatan.

11) Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke

bawah ke arah cincin himen.

12) Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam

mukosa vagina lalu ke bawah cincin himen sampai jarum

ada di bawah laserasi, periksa bagian antara jarum di

perineum dan bagian atas laserasi, perhatikan seberapa

dekat jarum ke puncak luka.

13) Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka,

menggunakan jahitan jelujur hingga mencapai bagian

bawah laserasi. Pastikan bahwa jarak setiap jahitan sama

dan otot yang terluka telah di jahit.

14) Telah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan

teruskan penjahitan, menggunakan jahitan jelujur untuk

menutup lapisan subkutikuler. Jahitan ini akan menjadi

jahitan lapis kedua. Periksa lubang diatas jarum, jahitan

lapis kedua ini akan meninggalkan luka yang tetap


terbuka berukuran 0,5 cm atau kurang. Luka ini akan

menutup dengan sendirinya pada saat penyembuhan luka.

15) Tusukkan jarum dari robekan perineum ke dalam vagina.

16) Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina,

potong ujung benang dan sisakan sekitar 1,5 cm.

17) Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut untuk

memastikan bahwa tidak ada kasa atau peralatan yang

tertinggal di dalam.

18) Dengan lembut masukkan jari yang paling kecil ke dalam

anus, raba apakah ada jahitan pada rektum jika ada

jahitan yang teraba, ulangi pemeriksaan rektum pasca

persalinan.

c. Penjahitan robekan perineum tingkat III

1) Lakukan inspeksi vagina dan perineum untuk melihat

robekan.

2) Jika ada perdarahan yang terlihat menutupi luka

perineum, pasang tampon atau kasa ke dalam vagina.

3) Pasang jarum jahit pada pemegang jarum kemudian kunci

pemegang jarum.

4) Pasang benang jahit (kromik No.2/0) pada mata jarum.

5) Tentukan benang jelas batas luka robekan perineum.


6) Ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan,

di klem dengan menggunakan pean lurus.

7) Kemudian tautkan ujung otot sfingter ani dengan

melakukan 2-3 jahitan, catgut kromik no.2/0 sehingga

bertemu kembali.

8) Selanjutnya dilakukan jahitan lapis demi lapis seperti

melakukan jahitan pada robekan perineum tingkat II.

d. Penjahitan robekan perineum tingkat IV

1) Lakukan inspeksi vagina dan perineum untuk melihat

robekan.

2) Jika ada perdarahan yang terlihat menutupi luka perineum

pasang tampon atau kasa ke dalam vagina.

3) Pasang jarum jahit pada pemegang jarum kemudian kunci

pemegang jarum.

4) Pasang benang jahit (kromik no.2/0) pada mata jarum.

5) Tentukan dengan jelas batas luka robekan perineum.

6) Mula-mula dinding depan rektum yang robek di jahit

dengan jahitan jelujur menggunakan catgut kromik no.2/0.

7) Jahit fasia perirektal dengan menggunakan benang yang

sama, sehingga bertemu kembali.

8) Jahit fasia sekum rektovaginal dengan mengunakan

benang yang sama sehingga bertemu kembali.


9) Ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan

di klem dengan menggunakan pean lurus.

10) Kemudian tautkan ujung otot sfingter ani dengan

melakukan 2-3 jahian angka 8 catgut kromik no.2/0

sehingga bertemu kembali.

11) Selanjutnya dilakukan jahitan lapis demi lapis seperti

melakukan jahitan pada robekan perineum tingkat II.

Gambar 1. Jahitan mukosa Gambar 2. Jahitan Jelujur


Vagina

Gambar 3. Masukkan Jarum Gambar 4. Lanjutan jahitan jelujur


ke dalam perineum

Sumber: Buku Asuhan Persalinan Normal 2006, hal.L.12


5. Perawatan Perineum Pada Masa Nifas

Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptur atau

laserasi merupakan daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar

tetap bersih dan kering. Pengamatan dan perawatan khusus

diperlukan untuk menjamin agar daerah tersebut tidak terjadi

infeksi. Perawatan pada perineum antara lain (Farrer, 1999)

a. Lampu inframerah

Lampu inframerah dapat digunakan dua kali sehari

untuk membantu pengeringan dan kesembuhan luka

perineum. Ibu biasanya berbaring dalam posisi lateral kiri

(sims) lampu diletakkan dengan jarak 50 cm dan sinar

inframerah diarahkan pada perineum selama 10 menit, lampu

tersebut akan memberikan kehangatan serta pengurangan

rasa sakit.

b. Rasa pegal pada perineum

Perineum mungkin terasa pegal pada masa nifas

khususnya pada hari keenam ketika aliran darah ke daerah

tersebut mulai pulih kembali. Perawatannya yaitu :

1) Tindakan menjaga hygiene dengan vagina toilet dan

penggunaan lampu inframerah yang dapat membantu

meringankan rasa sakit serta bak rendam dengan air yang


dapat ditambah garam kadang-kadang digunakan untuk

memberikan rasa nyaman dan membantu kesembuhan.

2) Pemberian obat analgesik untuk merdakan nyeri.

3) Penggunaan bantal karet busa berbentuk cincin yang

keras akan mengurangi rasa sakit pada perineum.

c. Infeksi pada luka perineum

Kesembuhan akan berlangsung lebih lambat jika

terdapat infeksi pada perineum dapat disebabkan oleh

hambatan atau ketidakberhasilan penerap[an teknik asepti.

Terapi antibiotik dilakukan dan lampu inframerah digunakan

tiga kali sehari setelah dilakukan vagina toilet, oleskan

antiseptik untuk mengeringkan dapat dipakai setelah

penggunaan lampu inframerah.

d. Perineum yang membengkak

Kompres dengan kantong es yang kecil di sebelah

dalam bantalan perineum yang berguna untuk mengurangi

pembengkakan dan meringankan rasa sakit, kompres diganti

setiap 1 hingga 2 jam sekali.


e. Hematoma pada perineum dan vulva

Jika pembengkakan bertambah parah mungkin luka

jahitan harus di buka kembali untuk melancarkan aliran darah

serta menjahit pembuluh darah yang berdarah. Diberikan

juga obat-obat analegesi, bantal udara dan kompres es.

B. Tinjauan Tentang Variabel Yang Berhubungan Dengan Ruptura

Perineum

1. Besar Janin

Yang dikatakan anak besar adalah anak yang lebih berat

dari 4.000 gram. Menurut kepustakaan anak yang besar baru

dapat menimbulkan dystocia kalau beratnya melebihi 4.500

gram. Kesukaran yang ditimbulkan dalam persalinan adalah

besarnya kepala dan janin besar merupakan salah satu sebab

penting dari ruptur uteri dan ruptura perineum (Obstetri Patologi,

Padjajaran, Bandung).

2. Riwayat Paritas

Menurut kamus kedokteran, paritas adalah wanita

berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan.

Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan

pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya.

Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga


jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan

cepat. Sebaliknya kepala janin yang akan lahir jangan ditahan

terlampau kuat dan lama. Karena akan menyebabkan asfiksia

dan perdarahan dalam tengkorak janin, dan melemahkan otot-

otot dan fasia pada dasar panggul karena diregangkan terlalu

lama sehingga mempermudah terjadinya ruptura (Wiknjosastro,

1994, hal.665).

3. Cara Persalinan

Yang dimaksudkan pada cara persalinan yaitu ekstraksi

vacum. Ekstraksi vacum adalah suatu persalinan buatan dimana

janin dilahirkan dengan tarikan tenaga negatif (vakum) pada

kepalanya. Alat ini dinamakan ekstraktor vakum dan sangat

berguna melahirkan janin, akan tetapi berbahaya bagi ibu dan

janin apabila disalahgunakan. Kesalahan yang dibuat dalam hal

ini adalah diindahkannya syarat-syarat yang harus dipenuhi

sebelum dapat melakukan ekstraksi dengan vakum, kesalahan

dalam pemasangan dalam cara pemasangan dan ekstraksi.

(Wiknjosastro, 2000, hal.80).

Robekan pada serviks uteri bisa terjadi apabila pada

pembukaan belum lengkap dilakukan ekstraksi atau apabila

serviks terjepit antara cunam dan kepala janin. Robekan pada

dinding vagina, yang dapat menyangkut kandung kencing, bisa


terjadi apabila putaran kepala dengan cunam tidak dilakukan

dengan sempurna atau apabila kepala janin dipaksakan melalui

rintangan pada panggul (Saifuddin, 1994, hal.831).

Adapun indikasi, syarat, prosedur dan komplikasi pada

ekstraksi vakum menurut Wiknjosasto 2000, hal.82-87 adalah.

a. Indikasi

1) Ibu

a) Untuk memperpendek kala II misalnya penyakti jantung

dan penyakit paru-paru.

b) Waktu kala II yang memanjang.

2) Janin

Gawat janin.

b. Syarat

1) Janin harus dapat lahir pervaginam.

2) Pembukaan serviks 7 cm.

3) Penurunan kepala janin boleh pada Hogde II.

4) Janin hidup.

5) Ketuban sudah pecah.

6) Harus ada kontraksi rahim dan ada tenaga mengejan.


c. Prosedur

1) Ibu tidur dalam posisi lithotomi.

2) Pada dasarnya tidak diperlukan narkosis umum. Bila pada

pemasangan mangkuk, ibu mengeluh nyeri, dapat diberi

anastesi.

3) Setelah semua bagian-bagian ekstraktor vakum

terpasang, maka dipilih mangkuk yang sesuai dengan

pembukaan serviks lengkap biasanya dipakai mangkuk

nomor 5. Mangkuk dimasukkan ke dalam vagina dengan

posis miring dan dipasang pada bagian terendah kepala,

menjauhi ubun-ubun besar. Tonjolan pada mangkuk,

diletakkan sesuai dengan letak denominator.

4) Dilakukan penghisapan dengan pompa penghisap dengan

tenaga 0,2 kg /cm 2 dengan interval 2 menit. Tenaga vakum

yang diperlukan adalah 0,7 sampai 0,8 kg /cm 2 . ini

membutuhkan waktu kurang lebih 6 sampai 8 menit.

Dengan adanya tenaga negatif ini, maka pada mangkuk

akan terbentuk kaput suyksedaneum artifisialis.

5) Sebelum mulai melakukan traksi, dilakukan periksa dalam

ulang, apakah ada bagian-bagaian jalan lahir yang ikut

terjepit.
6) Bersamaan dengan timbulnya his, ibu disuruh mengejan,

dan mangkuk ditarik searah dengan arah sumbu panggul.

Pada waktu melakukan tarikan ini harus ada koordinasi

yang baik antara tangan kiri dan tangan kanan penolong.

7) Ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri menahan mangkuk,

sedang tangan kanan melakukan tarikan dengan

memegang pada pemegang. Maksud tangan kiri menahan

mangkuk adalah agar mangkuk selalu dalam posisi yang

benar dan bila sewaktu-waktu mangkuk lepas, maka

mangkuk tidak ada meloncat ke arah muka penolong.

8) Traksi dilakukan terus selama ada his dan harus

mengikuti putaran paksi dalam sampai akhirnya

suboksiput berada di bawah simfisis. Bila his berhenti,

maka traksi juga dihentikan.

9) Kepala janin dilahirkan dengan menarik mangkuk ke arah

atas, sehingga kepala janin melakukan gerakan defleksi

dengan suboksiput dan berturut-turut lahir bagian-bagian

kepala sebagaimana lazimnya. Pada waktu kepala

melakukan gerakan defleksi ini, maka tangan kiri

penolong segera menahan perineum setelah kepala lahir,

pentil dibuka udara masuk kedalam botol, tekanan negatif

menjadi hilang, dan mangkuk dilepas.


10) Bila diperlukan eposiotomi, maka dilakukan sebelum

pemasangan mangkuk atau pada waktu kepala membuka

vulva.

d. Komplikasi

1) Ibu : Perdarahan, trauma jalan lahir, infeksi.

2) Janin : Ekskoriasi kulit kepala, sefalhenatoma nekrosis

kulit kepala, yang dapat menimbulkan alopesia.


BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian

Ruptura perineum adalah robekan perineum yang terjadi

pada hampir semua pada persalinan pertama dan tidak jarang juga

pada persalinan berikutnya. Semua laserasi perineum kecuali yang

sangat super fisial akan disertai perlukaan vagina bagian bawah

dengan derajat yang bervariasi. Robekan semacam itu dapat

mencapai kedalaman tertentu sehingga mengenai muskulus

sphincter ani dan dapat meluas dalam dinding vagina dengan

berbagai kedalaman terjadi atau tidaknya ruptura perineum akan

diperberat akibat beberapa faktor antara lain besar janin, paritas

dan cara persalinan ekstraksi vakum.

Adapun masing-masing variabel penelitian akan diuraikan

secara sistematis sebagai berikut :

1. Ruptura Perineum

Ruptura perineum merupakan suatu keadaan dimana

terputusnya kontinuitas jaringan yang terjadi pada hampir semua

persalinan pertama dan tidak jarang terjadinya infeksi dan

perdarahan sehingga mengakibatkan tingginya morbilitas dan

mortalitas ibu.

2. Besar Janin

20
Besar janin merupakan salah satu penyebab dari ruptura

perineum di mana kepala melewati jalan lahir dengan adanya

peregangan dan tekanan yang terlalu kuat sehingga terjadi

robekan pada dinding vagina, mukosa dan kulit perineum.

3. Paritas

Menurut kamus kedokteran paritas adalah wanita

berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Dari penelitian

ini berarti ibu dengan paritas satu sangat berisiko untuk

terjadinya ruptura perineum dan tidak jarang juga terjadi

persalinan berikutnya, karena orang yang mengalami kehamilan

dan persalinan yang berulang-ulang menyebabkan otot-otot

perineum menjadi tipis dan lemah sehingga mudah terjadi

ruptura.

4. Cara Persalinan
Cara persalinan yang dimaksud yaitu ekstraksi vakum

dimana merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk

mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga

mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi. Oleh karena itu,

kerjasama dan kemampuan ibu untuk mengekspresikan bayinya,

merupakan faktor yang sangat penting dalam menghasilkan

akumulasi tenaga dorongan dengan tarikan ke arah yang sama.

Dengan tarikan dan tenaga dorongan yang terlalu kuat, tanpa

adanya sokongan pada perineum, maka hal tersebut. Sangat

berisiko untuk terjadinya ruptura perineum.


SKEMA KERANGKA KONSEP

Besar janin

Paritas

Cara Persalinan Ruptura perineum

Letak Janin

Jenis Persalijnan

Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

: Variabel independen

: Variabel dependen
B. Defenisi Operasional Variabel

1. Ruptura Perineum

Ruptura perineum dalam penelitian ini adalah jumlah

persalinan yang disebabkan oleh ruptura perineum dan dirawat

di RSIA Siti Fatimah Makassar periode tanggal 15 oktober 2015,

dikategorikan ke dalam :

a. Ruptura Perineum Tingkat I

b. Ruptura Perineum Tingkat II

c. Ruptura Perineum Tingkat III

d. Ruptura Perineum Tingkat IV

2. Besar Janin

Besar janin dalam penelitian ini adalah janin yang lahir

dengan berat badan antara 3400 gram sampai 4000 gram yang

dinyatakan dalam tahun sesuai yang tercantum dalam buku

partus pada rekam medik RSIA Siti Fatimah Makassar periode 1

Januari sampai 15 oktober 2015, dikategorikan ke dalam :

a. BBL > 3.400 gram

b. BBL < 3.400 gram


3. Paritas

Paritas dalam penelitian ini adalah jumlah persalinan

yang pernah mengalami ruptura perineum dan dirawat di RSIA

Siti Fatimah Makassar periode 1 Januari sampai 30 Desember

2015, baik dalam keadaan hidup atau mati sesuai yang

tercantum dalam status pasien dan buku register kebidanan

RSIA Siti Fatimah Makassar yang sesuai dengan GPA yang

dikategorikan ke dalam :

a. Paritas I

b. Paritas > 2

4. Cara Persalinan

Cara persalinan ekstrasi vakum dalam penelitian adalah,

jumlah persalinan yang disebabkan oleh ruptura perineum

dengan cara ekstraksi vakum dan pernah dialami oleh ibu yang

melahirkan di RSIA Siti Fatimah Makassar periode 1 Januari

sampai 30 Desember 2015, dikategorikan ke dalam :

a. Ekstraksi vakum.

b. Persalinan normal.

c. Persalinan bokong.
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode survey

dengan pendekatan deskriptif yang bermaksud untuk mendapatkan

gambaran tentang kejadian ruptura perineum di RSIA Siti Fatimah

Makassar. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

sekunder yaitu data yang diperoleh dari medical record RSIA Siti

Fatimah Makassar periode Januari sampai Desember 2015.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di RSIA Siti Fatimah Makassar

tahun 2015. Adapun tempat penelitian dapat digambarkan sebagai

berikut :

Secara umum lokasi RSIA Siti Fatimah terletak di Jalan

Gunung Merapi No.75 dengan luas area 2.381 m 2 dengan batas-

batas sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Gunung Merapi.

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Perumahan Penduduk.

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Sungai Pareman.

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Sungai Limboto.

C. Populasi dan Sampel

26
1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang

melahirkan dan dilayani di RSIA Siti Fatimah Makassar Periode

1 Januari sampai 30 Desember 2015.

2. Sampel

Sampel penelitian ini adalah jumlah seluruh ibu yang

mengalami ruptura perineum dan dilayani di RSIA Siti Fatimah

Makassar Periode 1 Januari sampai 30 Desember 2015 yang

ditarik secara total sampling sebesar 1030 (43,07%).

D. Metode Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini adalah data dikumpulkan dengan

cara melakukan observasi status terhadap status yang terpilih

sebagai sampel pada bagian rekam medik di RSIA Siti Fatimah

Makassar 2015.

E. Pengolahan dan Penyajian Data


1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan secara manual dengan

menggunakan kalkulator berdasarkan atas variabel yang diteliti.

2. Penyajian Data

Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel,

distribusi, frekuensi dengan presentase dan penjelasan tabel.

F. Analisa Data

Teknik analisis data menggunakan formulasi, distribusi,

frekuensi dengan rumus :

f
P  x 100
N

Keterangan :

P : Presentase yang dicari

f : Jumlah pengamatan (observasi)

N : Jumlah sampel
BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit

Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar dengan besar sampel yang

diobservasi adalah 1030 responden. Setelah dilakukan

pemeriksaan hasil observasi buku partus pada rekam medik

maupun pada saat dilakukan pengolahan data, ternyata ditemukan

kasus ruptura perineum dengan jumlah 1030 kasus dan semua

memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam analisis data.

Berdasarkan hasil analisa data yang telah dilakukan

ditemukan persalinan anak besar yang berisiko rendah sebanyak

250 orang (24,27%) berisiko tinggi sebanyak 427 orang (41,46%),

paritas I sebanyak 540 orang (52,43%), paritas > 2 sebanyak 490

orang (47,57%), cara persalinan normal sebanyak 920 orang

(89,32%), ekstraksi vakum sebanyak 43 orang (4,17%), bokong

sebanyak 67 orang (6,51%).

Selanjutnya hasil penelitian ini secara lengkap disajikan

dalam bentuk tabel sebagai berikut :


29
1. Ruptura perineum

Distribusi ruptura perineum di RSIA Siti Fatimah

Makassar tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1; Distribusi Ruptura Perineum


Di RSIA Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 2391 orang yang

melahirkan ditemukan sebagian besar mengalami persalinan

yang berisiko tinggi yaitu ruptura perineum tingkat II dengan

jumlah 734 (30,70%).

2. Berat Janin

Distribusi berat janin di RSIA Siti Fatimah Makassar

Tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut :


Tabel 2; Distribusi Berat Janin
Di RSIA Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 1030 orang yang diteliti

ditemukan sebagian besar berada pada kelompok berat janin

yang berisiko tinggi yaitu berat badan 3400 sampai 3700 gram

dengan jumlah 452 kasus (43,88%).

3. Paritas

Distribusi persalinan paritas di RSIA Siti Fatimah

Makassar tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut:


Tabel 3; Distribusi Paritas
Di RSIA Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 1030 kasus yang diteliti

ditemukan sebagian besar mengalami persalinan yang berisiko

tinggi yaitu pada paritas dengan jumlah 540 kasus (52,43%).

4. Cara persalinan

Distribusi persalinan di RSIA Siti Fatimah Makassar

Tahun 2015 dapat dilihat pada tabel 4 sebagai berikut:

Tabel 4; Distribusi Cara Persalinan


Di RSIA Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Tabel 4 menunjukkan bahwa dari 1030 kasus yang diteliti

ditemukan sebagian besar memiliki cara persalinan cara

persalinan normal yang berisiko tinggi dengan jumlah 920 kasus

(89,32%).

B. Pembahasan

Untuk mengetahui lebih lanjut pengumpulan data yang

diperoleh setelah dilakukan pengolahan, penyajian data, maka

akan dibahas sesuai dengan variabel yang diteliti sebagai berikut:


1. Gambaran Anak Besar Dengan Kejadian Ruptura Perineum.

Anak besar adalah anak yang lebih berat dari 4000 gram.

Kesukaran yang ditimbulkan dalam persalinan adalah besarnya

kepala atau besarnya bahu merupakan salah satu sebab penting

dari ruptura uteri dan ruptura perineum (Obstetri Patologi,

Padjajaran Bandung).

Untuk melihat gambaran kejadian ruptura perineum

menurut anak besar dapat dilihat pada tabel 2 dari 1030

responden yang mengalami ruptura perineum presentase yang

berisiko tinggi lebih besar (43,88%) di bandingkan dengan yang

berisiko rendah (14,37%).

2. Gambaran Paritas Dengan Kejadian Ruptura

Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan

pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya.

Robekan ini dapat dihindarkan atau dikurangi dengan menjaga

jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin dengan

cepat.

Untuk melihat gambaran kejadian ruptura perineum

menurut paritas dapat dilihat pada tabel 3 dari 1030 responden

yang mengalami ruptura perineum presentase yang berisiko


tinggi lebih besar (52,43%) dibanding dengan yang berisiko

rendah (47,57%).

3. Gambaran Dengan Kejadian Ruptura Perineum

Cara persalinan yang dimaksudkan dalam penelitian ini

yaitu cara persalinan normal, ekstraksi vakum dan persalinan

bokong.

Ekstraksi vakum adalah suatu persalinan buatan dimana

janin dilahirkan dengan tarikan tenaga negatif (vakum) pada

kepalanya. Robekan pada dinding vagina yang dapat

menyangkut kandung kencing bisa terjadi apabila putaran

kepala dengan cunam tidak dilakukan dengan sempurna atau

apabila kepala janin dipaksanakan melalui rintangan pada

panggul.

Untuk melihat gambaran kejadian ruptura perineum

menurut cara persalinan dapat dilihat pada tabel 4 dari 1030

responden yang mengalami ruptura perineum presentase yang

berisiko tinggi (89,382%) lebih besar dibanding dengan resiko

rendah (4,17%).
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil pengolahan analisa data tentang kejadian ruptura

perineum di RSIA Siti Fatimah Makassar 2015 maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Karakteristik penderita ruptura perineum menurut anak besar,

dimana presentase yang mengalami ruptura perineum yang

berisiko tinggi pada tingkat II (30,70%).

2. Karakteristik penderita ruptura perineum menurut anak besar,

dimana presentase yang mengalami ruptura perineum yang

berisiko tinggi pada berat badan 3400 sampai 3700 gram

(43,88%).

3. Karakteristik penderita ruptura perineum menurut paritas,

dimana presentase ruptura perineum lebih besar pada paritas

satu (52,43%).

4. Karakteristik penderita ruptura perineum menurut cara

persalinan, dimana presentase yang mengalami ruptura

perineum berisiko tinggi pada cara persalinan normal (89,32%).

B. Saran

36
1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang

menyebabkan ruptura perineum.

2. Perlu adanya registrasi lengkap pada rumah sakit dan dinas

kesehatan tentang ruptura perineum agar mempermudah

peneliti untuk pengambilan data berikutnya.

3. Perlunya bimbingan khusus pada tenaga kesehatan khususnya

bidan yang menolong persalinan menerapkan meningkatkan

teori yang telah didapatkan untuk mencegah terjadinya ruptura

perineum, perdarahan dan kematian ibu pada persalinan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2012, Setiap Jam, 2 Orang Ibu Bersalin Meninggal Dunia (on
line), (http://www.depkes.go.id ).

Cunningham, dkk., 1995, Obstetri Williams, Edisi 18, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta.

Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan., 2013, Data Sub Din


Kesehatan Ibu dan Anak, Makassar.
Elstar Offset., 1998, Obstetri Patologi, Bagian Obstetri dan Ginekologi,
Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Farrer, Heien., 1999, Perawatan Maternitas, Edisi 2, Penerbit Buku


Kedokteran, EGC, Jakarta.

Mochtar Rustam., 1998, Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi, Jilid


I, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Saifuddin A.B., 2011, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal


dan Neonatal, YBP-SP, Jakarta.

Saifuddin A.B., 2012, Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal


dan Neonatal, Edisi I, YBP-SP, Jakarta.

Wiknjosastro H., 1994, Ilmu Kebidanan, Edisi 2, YBP-SP, Jakarta.

Wiknjosastro H., 1999, Ilmu Kebidanan, Edisi 3, YBP-SP, Jakarta.

Wiknjosastro H., 2012, Ilmu Bedah Kebidanan, Edisi I, YBP-SP,


Jakarta.
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN WAKTU UJIAN

Dengan ini menyatakan :


Nama : NUR ANNISA
NIM : 1409.072
Jurusan : DIII Kebidanan

Setuju untuk melakukan ujian akhir Karya Tulis Ilmiah dengan juduL
”Karakteristik Kejadian Rupture Perineum Di Rumah Sakit Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makassar Periode Januari-Desember 2015;

Hari/ Tanggal : Senin 15 oktober 2015


Pukul : 08.15 Wita

Demikian surat persetujuan ini dibuat untuk dipergunakan


seperlunya.

Sungguminasa, 07 April 2016

Pembimbing I Pembimbing II

Rika Handatani SKM.M.Kes. Siti Maryam SKM.M.Kes.

Mengetahui
Direktur Program DIII Kebidanan

(Hj Kartini Mangkona,SKM, M.Kes)

ii

ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI

Karya Tulis Ilmiah ini telah diperiksa dan disahkan oleh Panitia Ujian Akhir
dan Tim Penguji Program DIII Kebidanan Syekh Yusuf Gowa yang
dilaksanakan pada tanggal 15 oktober 2015

Ketua : Rika Handayani SKM.M.Kes. (.......................................)

Sekretaris : Siti Maryam SKM.M.Kes. (.......................................)

Anggota : (.......................................)

(.......................................)

Panitia Ujian
Ketua Sekretaris

Rika Handayani SKM.M.Kes. Siti Maryam SKM.M.Kes.

Mengetahui
Direktur Program DIII Kebidanan

(Hj Kartini Mangkona,SKM, M.Kes)

KATA PENGANTAR
iii
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

karena atas segala rahmat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan

penulisan KTI ini dengan baik. Adapun penyusunan KTI ini merupakan salah

satu persyaratan dalam menyelesaikan pembelajaran pada semester IV

program kebidanan.

Penulis sadar sepenuhnya dengan segala keterbatasan dan

kelemahan penulis miliki maka tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya

membangun dari berbagai pihak untuk menyempurnakan hasil penelitian ini.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan

kepada Ibu Rika Handayani, SKM.,M.Kes, selaku Pembimbing I dan Ibu Siti

Maryam, SKM.,M.Kes, selaku pembimbing II sekaligus penasehat akademik

yang telah tulus ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam

memberikan bimbingan kepada penulis sampai selesainya hasil penelitian

ini. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak H. Abdul Haris,S.kep.M.Kes, selaku Pembina Yayasan Sanre

Kare Bangun Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa yang senantiasa

memberikan motivasi selama penulis menjalani pendidikan di Akademi

Kebidanan Syekh Yusuf Gowa.

2. Ibu Hj. Sarbina Haris, selaku ketua yayasan Akademi Kebidanan Syekh

Yusuf Gowa.
iv
3. Ibu Hj. Kartini Mangkona,SKM.M.Kes, selaku Direktur Program DIII

Kebidanan Akbid Syekh Yusuf Gowa.


4. Bapak/Ibu Dosen beserta seluruh Staf DIII Kebidanan Syekh Yusuf Gowa

yang telah memberikan bimbingan selama proses pendidikan.


5. Sahabat-sahabat dekat penulis yakni Mila, Neni, Sakina, Yanna,

Muslinah, dan seluruh rekan-rekan angkatan 2014 yang penulis tidak

dapat sebutkan namanya satu persatu, yang telah memotivasi dan

memberikan dukungan kepada penulis.

Karya tulis ilmiah ini kupersembahkan buat ayah Maisar dan Ibu Nur

Anna yang telah membersarkan, mengasuh, mendidik dan berkorban

dengan penuh kasih sayang, hanya terima kasih dan penghormatan yang

setinggi-tingginya yang dapat penulis kerjakan sesuai dengan harapan

beliau-beliau. Terima kasih kepada saudara-saudara tercinta Adinda

Muh.Aswan, Nur Amirah, atas dukungan moril yang telah diberikan.

Akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, penulis menyerahkan

segalanya, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis

berikutnya dan terutama bagi penulis sendiri.

v
Sungguminasa, 07 April 2016
Penulis

vi
Akbid syekh Yusuf Program
DIII Kebidanan
Karya Tulis Ilmiah
April 2016

ABSTRAK

Nur Annisa, “Karakteristik Kejadian Ruptura Perineum Di


Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar Tahun 2015.

6 Bab, 36 Halaman, 6 lampiran

Ruptura perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum


pada saat persalinan.
Data yang riil tentang AKI di dunia masih sangat sulit
diperoleh, namun tahun 1996, WHO memperkirakan lebih dari 585.000
ibu pertahunnya meningkat akibat komplikasi kehamilan dan
persalinan.
Untuk mengetahui karakteristik kejadian ruptura perineum di
RSIA Siti Fatimah Makassar Tahun 2015, jenis penelitian yang
digunakan adalah metode survey dengan pendekatan deskriptif.
Secara keseluruhan jumlah sampel sebanyak 1030 orang dari
2.391 ibu melahirkan periode 1 Januari sampai 30 Desember 2005.
hasil penelitian disimpulkan adanya karakteristik ruptura perineum
tingkat II (30,70%), anak besar (43,88%), paritas 52,43% dan cara
persalinan 89,32%.
Dengan demikian disarankan perlu diadakan penelitian lebih
lanjut tentang faktor-faktor yang menyebabkan ruptura perineum, perlu
adanya registrasi lengkap pada rumah sakit dan dinas kesehatan
tentang ruptura perineum agar mempermudah peneliti untuk
pengambilan data beriktunya.

Kata Kunci : Karakteristik Kejadian Ruptura Perineum


Daftar Pustaka : I2 (1994-2016)

vi

vi
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................i

LEMBAR PERSETUJUAN ........................................................................ii

LEMBAR PENGESAHAN .........................................................................iii

KATA PENGANTAR ..................................................................................iv

ABSTRAK .................................................................................................vi

DAFTAR ISI..............................................................................................vii

DAFTAR TABEL ........................................................................................ix

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................x

DAFTAR SINGKATAN ..............................................................................xi

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................1
B. Rumusan Masalah ............................................................3
C. Tujuan Penelitian ..............................................................3
1. Tujuan Umum ...............................................................3
2. Tujuan Khusus .............................................................3
D. Manfaat Penelitian ............................................................4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Umum Ruptura Perineum ..................................5
1. Pengertian Ruptura Perineum.................................5
2. Penyebab Ruptura Perineum ......................................6
3. Tingkatan Ruptura Perineum ..................................6
4. Tindakan Penjahitan Ruptura Perineum ...............7
5. Perawatan erineum Pada Masa Nifas ..............
12
B. Tinjauan Tentang Variabel Yang Berhubungan
Dengan Ruptura Perineum .........................................14

vii
BAB III. KERANGKA KONSEP
A. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian .........................20
B. Defenisi Operasional Variabel ....................................24

BAB IV. METODE PENELITIAN


A. Metode Penelitian ............................................................26
B. Lokasi Penelitian .............................................................26
C. Populasi dan Sampel ......................................................27
D. Metode Pengumpulan Data ............................................27
E. Pengolahan dan Penyajian Data .....................................27
F. Analisa Data 28

BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian ...............................................................29
B. Pembahasan ...................................................................32

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan .....................................................................35
B. Saran ..............................................................................36

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Distribusi Ruptura Perineum Di RSIA Siti Fatimah


Makassar Tahun 2012 ...............................................................25

2. Distribusi Besar Janin Di RSIA Siti Fatimah Makassar


Tahun 2012 .................................................................................26

3. Distribusi Paritas Di RSIA Siti Fatimah Makassar Tahun


2012 .............................................................................................26

4. Distribusi Cara Persalinan Di RSIA Siti Fatimah


Makassar Tahun 2012 ...............................................................27

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Kegiatan Konsultasi Pada Pembimbing

2. Surat Izin Penelitian Kepada RSIA Siti Fatimah


Makassar

3. Surat Keterangan Bebas Dinas

4. Master Tabel Hasil Penelitian

x
DAFTAR SINGKATAN

AKI : Angka Kematian Ibu.


Depkes : Departemen Kesehatan.
RSIA : Rumah Sakit Ibu dan Anak.
UIT : Universitas Indonesia Timur.
WHO : World Health Organization.

xi
BIODATA

A. Identitas

1. Nama Lengkap : NUR ANNISA

2. NIM : 1409.072

3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Tempat/ Tgl. Lahir : Sungguminasa, 16 - 10 -1997

5. Suku / Bangsa : Makassar / Indonesia

6. Agama : Islam

7. Alamat : Limbung

B. Riwayat Pendidikan

1. Tamat SD Negeri Mattoanging tahun 2008.

2. Tamat SMP Negeri 1 Bajeng Barat tahun 2011.

3. Tamat SMK Negeri 1 Limbung tahun 2014.

4. Tahun 20014 masuk di Akbid Syekh Yusuf Gowa Program Diploma III

Kebidanan dan sekarang dalam tahap penyelesaian akhir semester

IV.