Anda di halaman 1dari 2

ANEMIA

No. : SOP/ /
Dokumen 35.07.103.102/2016
SOP No. Revisi :0
Tgl. Terbit : 22 Januari 2016 UPTD PUSKESMAS
Halaman :1/2 PUJON

KABUPATEN dr. Wiwit Wijayati


MALANG Nip.197501242006042015

1. Pengertian Prosedur penanganan penurunan kadar Hemoglobin yang


menyebabkan penurunan kadar oksigen yang didistribusikan ke
seluruh tubuh sehingga menimbulkan berbagai keluhan (sindrom
anemia).
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk Menangani
Anemia
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Pujon Nomor 440/ /KEP/
35.07.103.102/2015 Tentang Kebijakan Pelayanan klinis di unit
Puskesmas Pujon.
4. Referensi Buku Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer Edisi I tahun 2013
5. Prosedur 1. Anamnesa
2. Pemeriksaan fisik
3. Penegakan diagnosa: Penanganan Anemia
4. Tatalaksana
Atasi penyebab yang mendasarinya. Jika didapatkan kegawatan
(misal: anemia gravis atau distres pernafasan), pasien segera
dirujuk.
a. Pada anemia defisiensi besi:
 Anemia dikoreksi peroral: 3 – 4x sehari dengan besi
elemental 50 – 65 mg
o Sulfas ferrosus 3 x 1 tab (325 mg mengandung 65 mg
besi elemental, 195; 39).
o Ferrous fumarat 3 x 1 tab (325; 107 dan 195; 64).
o Ferrous glukonat 3 x 1 tab (325; 39).
 Pasien diinformasikan mengenai efek samping obat: mual,
muntah, heartburn, konstipasi, diare, BAB kehitaman.
 Jika tidak dapat mentoleransi koreksi peroral atau kondisi
akut maka dilakukan koreksi parenteral segera.
b. Pada anemia defisiensi asam folat dan defisiensi B12
ANEMIA
UPTD
No. : SOP/ / dr. Wiwit Wijayati
PUSKESMAS
Dokumen 35.07.103.102/2016 Nip. 197501242006042015
PUJON
SOP No. Revisi :0
Tgl. Terbit : 22 Januari 2016
Halaman :2/2

 Anemia dikoreksi peroral dengan:


o Vitamin B12 80 mikrogram (dalam multivitamin).
o Asam folat 500 – 1000 mikrogram (untuk ibu hamil 1
mg).
 Koreksi cepat (parenteral atau i.m) oleh dokter spesialis
c. Pemeriksaan Penunjang Lanjutan (bila diperlukan)
 Anemia defisiensi besi: ferritin serum, SI, TIBC
 Anemia hemolitik: bilirubin, LDH, tes fragilitas osmotik,
Acid Ham’s test, tes Coombs’
 Anemia megaloblastik: serum folat, serum cobalamin
 Thalassemia: elektroforesis hemoglobin
 Anemia aplastik atau keganasan: biopsi dan aspirasi
sumsum tulang
d. Konseling dan Edukasi
Prinsip konseling pada anemia adalah memberikan
pengertian kepada pasien dan keluarganya tentang
perjalanan penyakit dan tata laksananya, sehingga
meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam berobat serta
meningkatkan kualitas hidup pasien.
e. Kriteria rujukan
 Anemia berat dengan indikasi transfusi (Hb < 6 mg%).
 Untuk anemia karena penyebab yang tidak termasuk
kompetensi dokter layanan primer, dirujuk ke dokter
spesialis penyakit dalam.
6. Unit Terkait UGD, Rawat Jalan, Rawat Inap