Anda di halaman 1dari 42

KLASIFIKASI TINGKAT KETERGANTUNGAN KLIEN (BERDASARKAN TEORI

OREM : SELF CARE)

No. KLASIFIKASI DAN KRITERIA YA TIDAK KET


I. MINIMAL CARE
1. Pasien bisa mandiri/hampir tidak memerlukan bantuan :
1. Mampu naik turun tempat tidur.
2. Mampu ambulasi dan berjalan sendiri.
3. Mampu makan dan minum sendiri.
4. Mampu mandi sendiri/mandi sebagian dengan bantuan.
5. Mampu membersihkan mulut ( sikat gigi sendiri ).
6. Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit
bantuan.
7. Mampu BAB dan BAK dengan sedikit bantuan.
2. Status psikologis stabil
3. Pasien dirawat untuk prosedur diagnostik.
4. Operasi ringan.
II. PARTIAL CARE
1. Pasien memerlukan bantuan perawat sebagian:
1. Membutuhkan bantuan 1 orang untuk naik-turun tempat
tidur.
2. Membutuhkan bantuan untuk ambulasi/berjalan.
3. Membutuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan.
4. Membutuhkan bantuan untuk makan ( disuap ).
5. Membutuhkan bantuan dalam membersihkan mulut.
6. Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan
berdandan.
7. Membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK ( tempat
tidur / kamar mandi ).
2. Pascaoperasi minor ( 24 jam ).
3. Melewati fase akut dari pascaoperasi mayor.
4. Fase awal dari penyembuhan.
5. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam.
6. Gangguan operasional ringan.
III. TOTAL CARE
1. Pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan
memerlukan waktu perawat yang lebih lama.
1. Membutuhkan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari
tempat tidur ke kereta dorong/kursi roda.
2. Membutuhkan latihan pasif.
3. Kebutuhan nutrisi dan cairan di penuhi melalui
intravena (infus) atau NG Tube (sonde).
4. Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut.
5. Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan
berdandan.
6. Dimandikan perawat / keluarga.
7. Dalam keadaan inkontinensia, pasien menggunakan
kateter.
2. Setelah 24 jam pascaoperasi mayor.
3. Pasien dalam keadaan tidak sadar.
4. Keadaan pasien tidak stabil.
5. Observasi TTV setiap kurang 2 jam.
6. Perawatan luka bakar.
7. Perawatan kolostomi.
8. Menggunakan alat bantu pernafasan.
9. Menggunakan WSD.
10. Irigasi kandung kemih secara terus menerus.
11. Menggunakan alat traksi ( skeletal traksi ).
12. Fraktur atau pasca operasi tulang belakang/leher.
13. Gangguan emosional berat, bingung disorientasi.

Faktor- faktor yang berhubungan dengan perubahan MAKP:

1. Kualitas pelayanan keperawatan

Setap upaya untuk meningkatkan pelayanan

 Untuk meningkatkan asuhan keperawatan kepada pasien/ konsumen


 Untuk menghasilkan keuntungan (pendapatan) institusi
 Untuk mempertahankan eksistensi institusi
 Untuk meningkatkan kepuasan kerja
 Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen/ pelanggan
 Untuk menjalankan kegiatan sesuai aturan/ standart

1. Standart praktek keperawatan

Menurut JCHO (Joint Commission on Accreditational Helath Care Organisastion terdapat 8


standart tentang asuhan keperawatan yang meliputi:

 Menghargai hak- hak pasien


 Penerimaan sewaktu pasien MRS
 Observasi keadaan pasien
 Pemenuhan kebutuhan nutrisi
 Asuhan pada tindakan non- operative dan administratif
 Asuhan pada tindakan olerasi dan prosedur invasif
 Pendidikan pada pasien dan keluarga
 Pemberian asuhan secara terus menerus dan berkesinambungan

1. 2. PENGHITUNGAN KEBUTUHAN TENAGA

1. Tingkat ketergantungan pasien

Tingkat ketergantungan klien di ruang kardiologi dinilai dengan menggunakan instrumen yang
dimodifikasi kelompok sesuai dengan keadaan klien kardiologi dengan acuan instrumen
penilaian tingkat keretgantungan klien dari Orem (total, partial, mandiri)

Tabel 1 Klasifikasi Tingkat Ketergantungan Pasien (berdasarkan teori Orem)

KLASIFIKASI DAN KRITERIA


MINIMAL CARE

1. Pasien bisa mandiri/ hampir tidak memerlukan bantuan


1. Mampu naik- turun tempat tidur
2. Mampu ambulasi dan berjalan sendiri
3. Mampu makan dan minum sendiri
4. Mampu mandi sendiri/ mandi sebagian dengan bantuan
5. Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
6. Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
7. Status psikologis stabil
8. Pasien dirawat untuk prosedur diagnostik
9. Operasi ringan

PARTIAL CARE

1. Pasien memerlukan bantuan perawat sebagian


1. Membutuhkan batuan 1 orang untuk naik- turun tempat tidur
2. Membutuhkan bantuan untuk ambulasi/ berjalan
3. Membutuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan
4. Membutuhkan bantuan untuk makan/ disuap
5. Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
6. Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan
7. Membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK (tempat tidur/ kamar mandi)
8. Post operasi minor 24 jam
9. Melewati fase akut dari post operasi mayor
10. Fase awal dari penyembuhan
11. Observasi tanda- tanda vital setiap 4 jam
12. Gangguan emosional ringan

TOTAL CARE

1. Pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu perawat yang
lebih lama
1. Membutuhkan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke kereta
dorong atau kursi roda
2. Membutuhkan latihan pasif
3. Kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui terapi intravena (infus) atau NG
tube (sonde)
4. Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
5. Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
6. Dimandikan perawat
7. Dalam keadaan inkontinensia
8. 24 jam post operasi mayor
9. Pasien tidak sadar
10. Keadaan pasien tidak stabil
11. Observasi TTV setip kurang dari jam
12. Perawatan luka bakar
13. Perawatan kolostomi
14. Menggunakan alat bantu nafas (ventilator)
15. Menggunakan WSD
16. Irigasi kandung secara terus menerus
17. Menggunakan alat traksi (skeletal traksi)
18. Fraktur dan atau pasca operasi tulang belakang/ leher
19. Gangguan emosional berat, bingung dna disorientasi
Faktor- faktor yang berhubungan dengan perubahan MAKP:

1. Kualitas pelayanan keperawatan

Setap upaya untuk meningkatkan pelayanan

 Untuk meningkatkan asuhan keperawatan kepada pasien/ konsumen


 Untuk menghasilkan keuntungan (pendapatan) institusi
 Untuk mempertahankan eksistensi institusi
 Untuk meningkatkan kepuasan kerja
 Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen/ pelanggan
 Untuk menjalankan kegiatan sesuai aturan/ standart

1. Standart praktek keperawatan

Menurut JCHO (Joint Commission on Accreditational Helath Care Organisastion terdapat 8


standart tentang asuhan keperawatan yang meliputi:

 Menghargai hak- hak pasien


 Penerimaan sewaktu pasien MRS
 Observasi keadaan pasien
 Pemenuhan kebutuhan nutrisi
 Asuhan pada tindakan non- operative dan administratif
 Asuhan pada tindakan olerasi dan prosedur invasif
 Pendidikan pada pasien dan keluarga
 Pemberian asuhan secara terus menerus dan berkesinambungan

1. 2. PENGHITUNGAN KEBUTUHAN TENAGA

1. Tingkat ketergantungan pasien

Tingkat ketergantungan klien di ruang kardiologi dinilai dengan menggunakan instrumen yang
dimodifikasi kelompok sesuai dengan keadaan klien kardiologi dengan acuan instrumen
penilaian tingkat keretgantungan klien dari Orem (total, partial, mandiri)

Tabel 1 Klasifikasi Tingkat Ketergantungan Pasien (berdasarkan teori Orem)


KLASIFIKASI DAN KRITERIA
MINIMAL CARE

1. Pasien bisa mandiri/ hampir tidak memerlukan bantuan


1. Mampu naik- turun tempat tidur
2. Mampu ambulasi dan berjalan sendiri
3. Mampu makan dan minum sendiri
4. Mampu mandi sendiri/ mandi sebagian dengan bantuan
5. Mampu membersihkan mulut (sikat gigi sendiri)
6. Mampu berpakaian dan berdandan dengan sedikit bantuan
7. Status psikologis stabil
8. Pasien dirawat untuk prosedur diagnostik
9. Operasi ringan

PARTIAL CARE

1. Pasien memerlukan bantuan perawat sebagian


1. Membutuhkan batuan 1 orang untuk naik- turun tempat tidur
2. Membutuhkan bantuan untuk ambulasi/ berjalan
3. Membutuhkan bantuan dalam menyiapkan makanan
4. Membutuhkan bantuan untuk makan/ disuap
5. Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
6. Membutuhkan bantuan untuk berpakaian dan berdandan
7. Membutuhkan bantuan untuk BAB dan BAK (tempat tidur/ kamar mandi)
8. Post operasi minor 24 jam
9. Melewati fase akut dari post operasi mayor
10. Fase awal dari penyembuhan
11. Observasi tanda- tanda vital setiap 4 jam
12. Gangguan emosional ringan

TOTAL CARE

1. Pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu perawat yang
lebih lama
1. Membutuhkan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi dari tempat tidur ke kereta
dorong atau kursi roda
2. Membutuhkan latihan pasif
3. Kebutuhan nutrisi dan cairan dipenuhi melalui terapi intravena (infus) atau NG
tube (sonde)
4. Membutuhkan bantuan untuk kebersihan mulut
5. Membutuhkan bantuan penuh untuk berpakaian dan berdandan
6. Dimandikan perawat
7. Dalam keadaan inkontinensia
8. 24 jam post operasi mayor
9. Pasien tidak sadar
10. Keadaan pasien tidak stabil
11. Observasi TTV setip kurang dari jam
12. Perawatan luka bakar
13. Perawatan kolostomi
14. Menggunakan alat bantu nafas (ventilator)
15. Menggunakan WSD
16. Irigasi kandung secara terus menerus
17. Menggunakan alat traksi (skeletal traksi)
18. Fraktur dan atau pasca operasi tulang belakang/ leher
19. Gangguan emosional berat, bingung dna disorientasi

ilmu keperawatan & kesehatan

Sabtu, 19 Juli 2014

Studi Kasus Analisa SWOT M1

STUDI KASUS
MANAJEMEN KEPERAWATAN

“ ANALISA SWOT M1 (MAN) “


Disusun Oleh :

1. Didik Fandrianto (10620349)


2. Gratia Yessiana L.K (10620355)
3. Pungky Apri U (10620371)
4. Rois (10620374)
5. Siti Arifah (10620375)
6. Wahyu Antoro (10620378)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN S1


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI

TAHUN 2014
KASUS
Suatu ruang rawat inap bedah mempunyai 24 perawat dengan latar belakang ners 2 orang, D3
keperawatan 10 orang, kemudian 14 perawat lulusan SPK, Kapasitas TT 40, BOR 70%. Saudara
ditunjuk oleh pimpinan RS untuk membuat perencanaan MAKP.
Jika saudara sebagai Karu rawat bedah, apa yang harus saudara lakukan dalam menghadapi situasi
tersebut? Lakukan pengelolaan dengan pengumpulan data, analisis SWOT, identifikasi masalah,
dan rencana strategis untuk kebutuhan tenaga yang diperlukan.

1. PENGKAJIAN- PENGUMPULAN DATA, ANALISA SWOT, DAN IDENTIFIKASI


MASALAH

1.1 Visi, Misi, dan Motto RSU


1.1.2 Visi RSUD Dr.Soetomo Surabaya
Menjadi rumah sakit yang terkemuka dalam pelayanan, pendidikan dan penelitian di
kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dengan ciri keluaran AIEEMMM, yaitu aman, informatif,
efektif, efisien, mutu, manusiawi dan memuaskan.
1.1.3 Misi RSUD Dr.Soetomo Surabaya
1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang prima, aman, informatif, efektif, efisien dan
manusiawi dengan tetap memperhatikan aspek sosial.
2. Menyelenggarakan pelayanan rujukan yang berfungsi sebagai pusat rujukan tertinggi dengan
menggunakan teknologi terkini.
3. Membangun sumber daya manusia (SDM) rumah sakit yang profesional, akuntabel, yang
berorientasi pada serta mempunyai integritas tinggi dalam memberikan pelayanan.
4. Melaksanakan proses pendidikan yang menunjang pelayanan kesehatan prima berdasarkan
standar nasional dan internasional.
5. Melaksanakan penelitian yang mengarah pada pengembangan ilmu dan teknologi di bidang
kedokteran dan dan pelayanan perumahsakitan.

1.1.4 Motto RSUD Dr.Soetomo Surabaya


Motto RSUD Dr.Soetomo adalah “Saya senantiasa mengutamakan kesehatan
penderita”.
1.1.5 Visi Instalasi Rawat Inap Bedah
Menjadi IRNA Bedah yang mampu dan handal dalam mendukung dan berperan aktif
pada pelayanan, pendidikan, dan penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo.
1.1.6 Misi Instalasi Rawat Inap Bedah
1. Meningkatkan komunikasi dan koordinasi baik secara horizontal (antara staf, pelaksana
program, dokter, perawat, dan pelaksana kesehatan yang ada di lingkungan IRNA Bedah dan
lintas sektoral) maupun secara vertikal (corporate dan pengendali program) dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penelitian.
2. Optimalisasi sarana yang ada sehingga efektif dan efisien
3. Membangun Sumber Daya Manusia IRNA Bedah yang profesional, akuntabel yang
berorientasi pada customer serta mempunyai integritas yang tinggi dalam memberikan pelayanan
dan tetap berpegang pada etika.
4. Mendukung dan berperan aktif pada pelaksanaan proses pendidikan yang menunjang
pelayanan kesehatan prima berdasarkan standar nasional dan internasional.
5. Mendukung dan berperan aktif pada pelaksanaan penelitian yang mengarah pada
pengembangan ilmu dan teknologi di bidang kedokteran dan pelayanan perumahsakitan.
1.1.7 Tujuan Khusus Unit Keperawatan: Ruang Bedah
1. Menciptakan keluaran kerja : Aman, Informatif, Efektif, Efisien, Mutu, dan Manusiawi
2. Melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang berbentuk pelayanan : bio, psiko, sosio,
spiritual pada kasus-kasus medis antara lain:
a. Bedah thorak kardiovaskular
b. Bedah kepala dan leher
c. Bedah tumor
d. Bedah perut
e. Bedah perkemihan
f. Bedah plastik
g. Bedah saraf
h. Bedah tulang
3. Menyiapkan pasien dan keluarga dalam menghadapi operasi
4. Mencegah komplikasi
5. Menjamin kecukupan nutrisi
6. Mencegah terjadinya infeksi nosokomial
7. Mengurangi morbiditas dan mortalitas
8. Menciptakan kerjasama yang baik antara petugas, pasien, dan keluarga
9. Memberikan rasa aman dan nyaman

1.2 Pengumpulan Data


Pengumpulan data ketenagaan yang didapat dianalisis menggunakan analisis SWOT
sehingga diperoleh beberapa rumusan masalah, kemudian dipilih satu sebagai prioritas masalah.
Tenaga dan Pasien (M1 - Man)
Analisis ketenagaan perawat mencakup jumlah tenaga keperawatan dan non
keperawatan. Ruang Bedah yang memiliki tenaga S1 Keperawatan dan ners 2 orang, jumlah
tenaga DIII Keperawatan sebanyak 10 orang, dan jumlah tenaga perawat lulusan SPK 14 orang.

1) Struktur Organisasi
Bagan 2.1 Bagan struktur organisasi Ruang IRNA Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Keterangan :
: Garis Komando : Garis Koordinasi

2) Tenaga Keperawatan
Tabel 2.1 Tenaga Keperawatan di Ruang IRNA Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya

No Nama Jeni Pendid Masa Pelatihan yang Jabatan


s ikan kerja pernah diikuti saat ini
1 Ny. A PNS D3 Kep 33 tahun Ka. Unit
2 Ny. B PNS D3 Kep 31 tahun WaKa Unit
3 Ny. C PNS D3 Kep 20 tahun Perawat
Pelaksana
4 Tn. D PNS D3 Kep 20 tahun Perawat
Pelaksana
5 Ny. E PNS D3 Kep 4 tahun Perawat
Pelaksana
6 Ny. F PNS D3 Kep 28 tahun Perawat
Pelaksana
7 Tn. G PNS D3 Kep 6 bulan Perawat
Pelaksana
8 Ny. H PNS D3 Kep 13 tahun Perawat
Pelaksana
9 Ny. I PNS D3 Kep 12 tahun Perawat
Pelaksana
10 Ny. J PNS D3 Kep 10 tahun Perawat
Pelaksana
11 Tn. K PNS S1 Kep 5 tahun Perawat
Pelaksana
12 Tn. L PNS S1 Kep 14 tahun Perawat
Pelaksana
13 Tn. M PNS SPK 28 tahun
Pek kes
14 PNS SPK 28 tahun
Ny. N Pek Kes
15 Ny. O PNS SPK 28 tahun
Pek Kes
16 Tn. P PNS SPK 17 tahun
Pek Kes
17 Tn. Q PNS SPK 17 tahun
Pek Kes
18 Tn . R PNS SPK 25 tahun
Pek Kes
19 Tn. S PNS SPK 24 tahun Pek Kes
20 Ny. T PNS SPK 32 tahun
PRT
21 PNS SPK 20 tahun
Ny. U PRT
22 PNS SPK 31 tahun
Ny. V TU
23 Ny. PNS SPK
W
24 PNS SPK
Ny. X
25 PNS SPK
Ny. Y
26 Ny. Z PNS SPK

Tenaga keperawatan yang ada belum memenuhi kualifikasi RSUD Dr. Soetomo, dimana
seluruh perawat IRNA Bedah belum mendapatkan atau belum teridentifikasi mendapatkan
pelatihan-pelatihan, dan untuk kualifikasi sebagai sebuah parameter peningkatan pelayanan
masih belum memadai, karena baru 2 orang yang mempunyai jenjang pendidikan S1
Keperawatan. Kemampuan dalam bidang keperawatan maupun kolaborasi dengan tenaga medis
lain, pada umunya perawat di Bedah mempunyai kemampuan yang bagus. Karena kolaborasi
yang terbangun dengan petugas medis lain sangat baik. Dari segi kedisiplinan, keinginan untuk
berubah, ketepatan dalam melaksanakan tindakan keperawatan sesuai standar sudah baik, tetapi
masih ada beberapa perawat yang datang terlambat saat dinas, begitu juga dengan waktu pulang,
ada yang pulang terlebih dahulu. Namun keinginan untuk berubah sudah ada. Kegiatan dalam
perawatan, seperti pemasangan infus dan mengambil darah, pemberian obat masih sering
perawat tidak menggunakan universal precaution.
3. Tenaga Non Keperawatan
Tabel 2.2 Tenaga Non Keperawatan di Ruang IRNA Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya
No Kualifikasi Jumlah Jenis
1 Tata Usaha (Medical record) 1 orang PNS
2 Pekarya Kesehatan 5 orang PNS
3 Pekarya RT 2 orang PNS
4 Cleaning Service 2 orang Out Sourcing
4. Tenaga Medis
Tabel 2.3 Tenaga Medis di Ruang IRNA Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya
No Kualifikasi Jumlah
1 Dokter PPDS Urologi * 1
2 Dokter PPDS Digestif * 1
3 Dokter PPDS Onkologi * 1
4 Dokter PPDS Plastik * 1
5 Dokter PPDS TKV * 1
6 Dokter PPDS Kepala Leher * 1
7 Dokter Jaga di Ruang UPI ** 1
Keterangan :
* Dokter yang bertanggung jawab setiap hari
** Dokter yang dihubungi untuk kasus darurat

5. Rencana Pengembangan staff tahun 2015


Tabel 2.4 Rencana Pengembangan staff tahun 2015 di Ruang IRNA Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya
No Materi Pelatihan Nama Perawat
Ny. A, Ny. B, Ny. C, Tn. D, Ny. E, Ny. F,
1. MAKP
Tn. G, Ny. H
2. Clinical educator Tn. G, Ny. I, Ny. J

3. PPORS Tn. M, Ny. K


Manajemen Keperawatan
4. Tn. G, Ny. L, Tn. N, Ny, Q, Ny. S, Ny. T

5. GKM Ny. R, Ny. A, Ny. B, Ny. C


6. K3RS Tn. G, Ny. L, Tn. N, Ny, Q, Ny. S
7. ECG Tn. M, Ny. K
8. AT Ny. R, Ny. A, Ny. B
Ny. A, Ny. B, Ny. C, Tn. D, Ny. E, Ny. F,
9. Audit Keperawatan
Tn. G, Ny. H
10. Transfusi Ny. A, Ny. B, Ny. C, Tn. D, Ny. E

12. Paliatif Tn. M, Ny. K

13. Rehab Medis Ny. C, Tn. D, Ny. E

14. Radiologi Tn. D, Ny. E

15. Flu Burung Tn. G, Ny. H

16. ATLS Tn. N, Ny, Q

17. LSH Ny. S, Ny. T

18. Laboratorium Ny. F, Tn. G

5. Persentase Kasus Terbanyak Di Ruang Bedah Bulan Mei 2015


Tabel 2.5 Persentase Kasus Terbanyak di Ruang IRNA Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Jumlah
No Klasifikasi Penyakit Persentase
UPI elektif Total
1 Digestif 9 3 12 23%
2 Onkologi 3 17 20 38,5%
3 Urologi 2 8 10 19,2%
4 TKV 4 - 4 7,7%
5 Kepala Leher 2 3 5 9,6%

6. Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan Tenaga Perawat


Kebutuhan tenaga perawat di Ruang IRNA Bedah dari hasil pengkajian adalah sebagai
berikut :
a. Tingkat Ketergantungan Pasien dan Kebutuhan tenaga keperawatan secara keseluruhan di
Ruang IRNA Bedah perhari tanggal 19 Mei 2014
Klasifikasi Jumlah Kebutuhan tenaga keperawatan
pasien pasien Pagi Sore Malam
Total care 8 8 x 0,36 = 2,88 8x 0,36 = 2,88 8 x 0,20 = 1,6
Partial care 10 10 x0,27= 2,7 10 x 0,15 = 1,5 10 x 0,10 = 1,0
Minimal care 10 10 x 0,17 = 1,7 10x 0,14= 1,4 10 x 0,07 = 0,7
Total 28 7,28 5,78 3,3

Total tenaga perawat :


Pagi : 7,28
Sore : 5,78
Malam : 3,3 +
Total : 16,36 orang 16 orang
Jumlah tenaga yang lepas dinas perhari :
=4,63orang

86 x 16
297
Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan untuk bertugas per hari: 4,63 + 16,36 + 1 = 21,99
Orang dibulatkan menjadi 22 orang
Ket: 4,63 dari jumlah tenaga yang lepas dinas
16,36 dari jumlah total tenaga perawat
1 dari perawat yang menjadi Kepala Ruangan
7. BOR Pasien
Berdasarkan hasil pengkajian 1 hari diatas
Gambaran umum jumlah tempat tidur di Ruang IRNA Bedah
Tanggal 19 mei 2014
No Shift Kelas II Kelas III BOR
1 Pagi 10 bed (2ksg) 30 bed( 10 ksg) 28/40 x100%= 70%
2 Sore 10 bed (2ksg) 30 bed( 10 ksg) 28/40 x100%= 70%
3 Malam 10 bed (2ksg) 30 bed( 10 ksg) 28/40 x100%= 70%

1.3 Analisis SWOT


Identifikasi Situasi Ruangan Berdasarkan Pendekatan Analisis SWOT
No. Analisa SWOT Bobot Rating Bobot X Rating
1 Sumber Daya Manusia (Man)
a. Internal Faktor (IFAS)
STRENGHT
1. Sudah diterapkan model MAKP 0,2 2 0,4 S-W
moduler atau MAKP primer 2,5-3,4
pemula 0,3 3 0,9 = - 0,9
2. Jenis ketenagaan :
- S 1 Kep : 2 orang
- D3 kep : 10 orang
- SPK : 14 orang
- Pekarya kesehatan : 5 orang
- PRT : 3 orang
- TU : 1 orang
- Cleaning Service: 2 orang 0,3 4 1,2
3.Masa kerja > 15 tahun sebanyak 5
orang, 5-15 tahun sebanyak 6
orang sedangkan < 5 tahun
sebanyak 4 orang. 1 2,5
TOTAL

WEAKNESS 0,4 4 1,6


1. Belum ada sistem
pengembangan staff berupa
pelatihan dan hampir semua
perawat belum mengikuti
pelatihan bedah maupun non 0,1 3 0,3
bedah 0,4 3 1,2
2. Adanya konflik peran perawat
3. Sebagian perawat belum 0,1 3 0,3
mengikuti pelatihan MAKP
4. Kurangnya kesejahteraan 1 3,4
perawat. O–T
TOTAL 2,7– 2,3
= 0,4
b. Ekternal Faktor (EFAS) 0.3 3 0,9
OPPORTUNITY
1. Adanya kesempatan
melanjutkan pendidikan ke jenjang 0,2 3 0,6
yang lebih tinggi
2. Adanya kebijakan pemerintah 0,3 4 1,2
tentang profesionalisasi perawat
3. Adanya program akreditasi RS
dari pemerintah dimana MAKP 1 2,7
merupakan salah satu penilaian
TOTAL 0,3 2 0,6
THREATENED
1. Ada tuntutan tinggi dari
masyarakat untuk pelayanan yang 0,15 2 0,3
lebih profesional
2. Makin tingginya kesadaran 0,15 2 0,3
masyarakat akan hukum
3. Makin tinggi kesadaran
masyarakat akan pentingnya 0,2 2 0,4
kesehatan
4. Persaingan antar RS yang 0,2 2 0,4
semakin kuat
5. Terbatasnya kuota tenaga
keperawatan yang melanjutkan 1 2,3
pendidikan tiap tahun
TOTAL
DIAGRAM LAYANG
ANALISIS SWOT PENGKAJIAN TANGGAL 19 Mei 2014
DI RUANG RAWAT INAP BEDAH RSU dr SOETOMO
Keterangan :
(M1) = Man
Setelah dilakukan analisis situasi dengan menggunakan pendekatan SWOT maka kelompok
dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Belum ada sistem pengembangan staff berupa pelatihan dan hampir semua perawat belum
mengikuti pelatihan bedah maupun non bedah
2.4 Identifikasi Masalah
Setelah dilakukan analisis situasi dengan menggunakan pendekatan SWOT maka
kelompok dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Belum ada sistem pengembangan staff berupa pelatihan dan hampir semua perawat belum
mengikuti pelatihan bedah maupun non bedah
2. Adanya konflik peran perawat
3. Sebagian perawat belum mengikuti pelatihan MAKP
4. Kurangnya kesejahteraan perawat
5. MAKP yang diterapkan merupakan MAKP model moduler atau MAKP primer pemula.
Sosialisasinya kepada anggota tim masih kurang
6. Jumlah sumber daya manusia yang memiliki jenjang pendidikan S1 masih kurang

2.5 Prioritas Masalah


Masalah Skor Analisis SWOT Prioritas
IFAS EFAS
Sumber daya manusia
1. Belum ada sistem 1,6 1
pengembangan staff berupa
pelatihan dan hampir semua
perawat belum mengikuti
pelatihan bedah maupun non
bedah
2. Sebagian perawat belum 1,2 2
mengikuti pelatihan MAKP
3. Ada tuntutan tinggi dari 0,6 3
masyarakat untuk pelayanan yang
lebih profesional
4. Persaingan antar RS yang 0,4 4
semakin kuat
5. Terbatasnya kuota tenaga 0,4 5
keperawatan yang melanjutkan
pendidikan tiap tahun
6. Adanya konflik peran perawat
7. Kurangnya kesejahteraan 0,3 6
perawat
8. Makin tingginya kesadaran 0,3 7
masyarakat akan hukum
9. Makin tinggi kesadaran 0,3 8
masyarakat akan pentingnya
kesehatan 0,3 9
Berdasarkan rumusan masalah diatas 3 masalah teratas : Belum ada sistem pengembangan
staff berupa pelatihan dan hampir semua perawat belum mengikuti pelatihan bedah maupun non
bedah, Sebagian perawat belum mengikuti pelatihan MAKP, dan Ada tuntutan tinggi dari
masyarakat untuk pelayanan yang lebih profesional. Maka kelompok mengangkat prioritas
masalah yang akan diselesaikan yaitu Ronde Keperawatan dengan alasan:
1) Belum ada sistem pengembangan staff berupa pelatihan dan hampir semua perawat belum
mengikuti pelatihan bedah maupun non bedah
2) Sebagian perawat belum mengikuti pelatihan MAKP

2. STRATEGI KEGIATAN
2.1 Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)
Setelah dilakukan analisis dengan metode SWOT maka kelompok manajemen
keperawatan di Ruang Bedah menerapkan Model Asuhan Keperawatan Profesional Primary
Nursing.
Model perawatan Primary Nursing merupakan salah satu Model Asuhan Keperawatan
Profesional dimana perawat bertanggung jawab penuh terhadap asuhan keperawatan yang
diberikan kepada pasien mulai dari pasien masuk sampai keluar Rumah Sakit. Model ini
mendorong kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat rencana asuhan keperawatan dan
pelaksanaan asuhan keperawatan selama pasien dirawat. Model ini ditandai dengan adanya
keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk
merencanakan, melakukan dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien di rawat. Konsep
dasar dan model ini adalah tanggung jawab dan tanggung gugat. Berikut sistem pemberian
asuhan keperawatan Primary Nursing.

Gambar : Diagram Sistem Asuhan Keperawatan "Primary Nursing"

Dalam penerapan MAKP model Primary Nursing terdapat beberapa kelebihan dan
kelemahan.
Kelebihan :
1. Bersifat kontinuitas dan komprehensif
2. Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan
pengembangan diri
3. Pasien merasa diperlakukan sewajarnya karena terpenuhinya kebutuhan secara individu
4. Tercapainya pelayanan kesehatan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan proteksi,
informasi dan advokasi (Gillies, 1989)
Kelemahan :
Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang
memadai dengan kriteria asertif, self direction, kemampuan pengambilan keputusan yang tepat,
menguasai keperawatan klinik, accountable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin
profesi.

Tugas Kepala Ruangan


A. Perencanaan
1. Menunjuk perawat primer (PP) dan mendeskripsikan tugasnya masing-masing
2. Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya
3. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien yang dibantu perawat primer
4. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktivitas dan tingkat
ketergantungan pasien dibantu oleh perawat primer
5. Merencanakan strategi pelaksanaan perawat
6. Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiolois, tindakan medis yang
dilakukan, program pengobatan, dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan
dilakukan terhadap klen
7. Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan
a. Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan
b. Membimbing penerapan proses keperawatan
c. Menilai asuhan keperawatan
d. Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah
e. Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang baru masuk
8. Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri
9. Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan
10. Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit
B. Pengorganisasian
1. Merumuskan metode penugasan yang digunakan
2. Merumuskan tujuan metode penugasan
3. Membuat rincian tugas perawat primer dan perawat ascociate secara jelas
4. Membuat rencana kendali kepala ruangan yang membawahi dua perawat primer dan perawat
primer yang membawahi dua perawat ascociate
5. Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses dinas, mengatur tenaga
yang ada setiap hari, dan lain-lain
6. Mengatur dan mengendalikan logistic ruangan
7. Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik
8. Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak ada di tempat kepala perawat primer
9. Mengetahui kondisi klien dan menilai tingkat kebutuhan pasien.
10. Mengambangkan kemampuan anggota
11. Menyelenggarakan konferensi
C. Pengarahan
1. Memberi pengarahan tentang penugasan kepada perawat primer
2. Memberikan pujian kepada perawat yang mengerjakan tugas dengan baik
3. Memberi motivasi dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap
4. Menginformamsikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan askep klien
5. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya
6. Meningkatkan kolaborasi
D. Pengawasan
1. Melalui komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat primer mengenai asuhan keperawatan
yang diberikan kepada klien
2. Melalui supervisi
a. Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri atau melalui lapora langsung secara
lisan dan memperbaiki/mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat ini
b. Pegawasan secara langsung, yaitu mengecek daftar hadir, membaca dan memeriksa rencana
keperawatan, serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan
(didokumentasikan), mendengar laporan dari perawat primer
3. Evaluasi
a. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang
telah disusun bersama
b. Audit keperawatan

Tugas Perawat Primer


1. Menerima klien dan mengkaji kebutuhan klien secara komprehensif
2. Membuat tujuan dan rencana keperawatan
3. Membuat rencana yang telah dibuat selama praktik
4. Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain
maupun perawat lain
5. Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai
6. Menerima dan menyesuaikan rencana
7. Melakukan rujukan kepada pekarya sosial dan kontak dengan lembaga soisal di masyarakat
8. Membuat jadwal perjanjian klinik
9. Mengadakan kunjungan rumah

Tugas Perawat Pelaksana (PP)


1. Memberikan pelayanan keperawatan secara langsung berdasarkan proses keperawatan dan
kasih sayang:
a. Menyusun rencana perawatan sesuai dengan masalah klien
b. Melaksanakan tindakan perawatan sesuai dengan rencana
c. Mengevaluasi tindakan perawatan yang telah diberikan
d. Mencatat atau melaporkan semua tindakan perawatan dan respon klien pada catatan perawatan
2. Melaksanakan program medis dengan penuh tanggung jawab
a. Pemberian obat
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Persiapan klien yang akan operasi
3. Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental, sosial dan spiritual
a. Memelihara kebersihan klien dan lingkungan
b. Mengurangi penderitaan klien dengan memberi rasa aman, nyaman dan ketenangan
c. Pendekatan dan komunikasi terapiutik
4. Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan keperawatan dan
pengobatan atau diagnosis
5. Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan kemampuannya
6. Memberikan pertolongan segera pada klien gawat atau sakaratul maut
7. Membantu kepala ruangan dalam penatalaksanakan ruangan secara admnistratif
a. Menyiapkan data klien baru, pulang atau meninggal
b. Sensus harian atau formulir
c. Rujukan harian atau formulir
8. Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada di ruangan menurut fungsinya supaya siap pakai
9. Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan keindahan ruangan
10. Melaksanakan tugas dinas pagi, sore, malam, atau hari libur secaa berganti sesuai jadwal tugas
11. Memberi penyuluhan kesehatan sehubungan dengan penyakitnya (PKMRS)
12. Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik secara lisan maupun tulisan
13. Membuat laporan harian klien

2.2 Penerapan Model Praktik Keperawatan Professional (MAKP)


a. Penanggung Jawab : Ny. L, S. Kep
Ny. A, S.Kep
b. Tujuan :
1. Diharapkan setelah melakukan praktik manajemen, perawat mampu menerapkan MAKP
primary nursing dengan benar sesuai dengan job discription.

2. Diharapkan setelah dilakukan praktik manajemen di Ruang Bedah perawat mampu


menerapkan MAKP primary nursing dengan benar.

3. Waktu : Minggu II – Minggu V


4. Rencana Strategi :
a. Mendiskusikan bentuk dan penerapan Model Asuhan Keperawatan Professional (MAKP) yang
dilaksanakan yaitu model Primary Nursing.
b. Merencanakan kebutuhan tenaga perawat.
c. Melakukan pembagian peran perawat.
d. Menentukan diskripsi tugas dan tanggung jawab perawat
e. Melakukan pembagian jadwal serta pembagian tenaga perawat
f. Menerapkan model MAKP yang direncanakan
5. Kriteria Evaluasi :
1. Struktur :
Menentukan penanggung jawab MAKP
Mendiskusikan bentuk dan penerapan MAKP yaitu primary nursing
Merencanakan kebutuhan tenaga perawat
Melakukan pembagian peran perawat
Menetukan diskripsi tugas dan tanggung jawab perawat.
Melakukan pembagian jadwal serta pembagian tenaga perawat.
2. Proses :
Menerapkan MAKP :
Tahap uji coba pada tanggal 2-7 Juni 2014
Tahap Aplikasi pada tanggal 9-30 Juni 2014
3. Hasil :
Perawat mampu menerapkan MAKP primary nursing sesuai dengan job discription

2.3 Plan Of Action / Rencana Tindakan


No Progra Data Tujuan Kegiatan Indikator Waktu Penanggung jawab
m keberhasi
lan
1 M1-Man1. Adanya Mening1. Saling 1. Terjalin Minggu Mahasiswa PSIK 8B
Kurangn konflik katkan bertukar kerjasama I-V
ya peran kualitas informasi yang baik
kualitas perawat perawat antar antara
dan (perawat sehingg perawat perawat
pengemb primer dan a diruangan ruangan
angan perawat mampu dalam dan
staff associated membe memberikan meningkat
masih ada rikan asuhan nya
kesamaan suhan keperawata kepuasan
tugas) kepera n pada pasien
2. Sebagian watan pasien di terhadap
perawat yang ruang pelayanan
belum bermut Bedah keperawat
pernah upada (khususnya an di
mengikuti pasien ruang kelas ruang
pelatihan II dan III) Bedah
MAKP 2. 2.
3. Jumlah Meningkatk Berkurang
perawat an nya beban
yang pengetahua kerja
memiliki n dan perawat
pendidikan pengalaman3. Perawat
terakhir perawat mengtahui
SPK dengan model
sebanyak 14 praktik MAKP
orang atau MAKP yang
lebih 3. seharusny
banyak daei Menambahk a ada
yang an kuota
lulusan D3 perawat
dan S1 yang
melanjutkan
pendidikan

 Beranda

Search

BKUL PENPROFIL

Welcome in B-KUL (Bahan Kuliah), enjoy the knowledge ^^

About
 Home
 Business »
 Downloads »
 Parent Category »
 Featured
 Health »
 Uncategorized

Fungsi Organisasi Keperawatan

09.24 Keperawatan Profesional No comments


FUNGSI ORGANISASI PROFESI (KEPERAWATAN)
Fungsi umum Organisasi Profesi

 Menentukan,mempertahankan dan meningkatkan standar


 Mempertahankan anggota untuk menggunakan akuntabilitas dlm melaksanakan
standar
 Mendidik masyarakat yang tidak ingin mengikuti standar
 Melindungi anggota profesi

Bidang pendidikan keperawatan

 Menetapkan standar pendidikan keperawatan

Pengembangan pelayanan keperawatan profesional tidak dapat dipisahkan dengan


pendidikan profesional keperawatan. Pendidikan keperawatan bukan lagi merupakan pendidikan
vokasional/ kejuruan akan tetapi bertujuan untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang
menguasai ilmu keperawatan yang siap dan mempu melaksanakan pelayanan / asuhan
keperawatan profesional kepada masyarakat.

Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan profesional


yang mampu mengadakan pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan / asuhan keperawatan, serta
penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan

 Mengembangkan pendidikan keperawatan berjenjang lanjut


Adanya tujuan ditetapkannya standar praktik keperawatan diatas merupakan faktor
penggerak perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi,
yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1962 yaitu dengan dibukanya Akademi Keperawatan
yang pertama di Jakarta. Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme
keperawatan.Dalam Lokakarya Keperawatan tahun 1983, telah dirumuskan dan disusun dasar-
dasar pengembangan Pendidikan Tinggi Keperawatan. Sebagai realisasinya disusun kurikulum
program pendidikan D-III Keperawatan, dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum
pendidikan Sarjana (S1) Keperawatan.

Bidang pelayanan keperawatan


Keperawatan sebagai suatu profesi, dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab
pengembanggannya harus mampu mandiri. Untuk itu memerlukan suatu wadah yang mempunyai
fungsi utama untuk menetapkan, mengatur serta mengendalikan berbagai hal yang berkaitan
dengan profesi seperti pengaturan hak dan batas kewenangan, standar praktek, standar
pendidikan, legislasi, kode etik profesi dan peraturan lain yang berkaitan dengan profesi
keperawatan. Maka organisasi profesi juga berfungsi:

a. Menetapkan standar profesi keperawatan

Adanya standar keperawatan menjadi dasar rasional dalam merencanakan keperawatan,


mencapai efisiensi organisasi, mengevaluasi membina dan upaya perbaikan, alat komunikasi dan
koordinasi asuhan keperawatan diseluruh system pelayanan kesehatan, menentukan kebutuhan
perawat dan pola utilitasnya.

Aspek-aspek penting mengapa standar keperawatan harus ditentukan : pertama


memebrikan arah kedua mencapai persetujuan sesuai harapan / ekspekstasi ketiga memantau dan
menilai hasil memnuhi standar, tidak memenuhi standar atau melampaui standar, dan keempat
merupakan petunjuk bagi organisasi/manajemen, profesi dan pasien dalam organisasi tatanan
pelayanan untuk memperoleh hasil optimal.

b. Memberikan izin praktik

Izin praktik keperawatan sampai tulisan ini dibuat masih tetap merupakan perjuangan
keperawatan.Bagi setiap profesi atau pekerjaan untuk mendapatkan hak izin praktik bagi
anggotanya, biasanya harus memenuhi tiga kriteria :
1. Ada kebutuhan untuk melindungi keamanan atau kesejahteraan
masyarakat.
2. Pekerjaan secara jelas merupakan area kerja yang tersendiri dan terpisah.
3. Ada suatu organisasi yang melaksanakan tanggung jawab proses pemberian
izin. (Kozier Erb, 1990).

Izin praktik keperawatan diperlukan oleh profesi dalam upaya meningkatkan dan
menjamin professional anggotanya. Bagi masyarakat izin praktik keperawatan merupakan
perangkat perlindungan bagi mereka untuk mendapat pelayanan dari perawat professional yang
benar-benar mampu dan mendapat pelayanan keperawatan dengan mutu tinggi.

c. Memberikan registrasi tenaga keperawatan

Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada badan resmi
baik milik pemerintah maupun non pemerintah. Praktik keperawatan sudah di atur dalam surat
keputusan Menteri Kesehatan No.1239 tentang registrasi dan praktik keperawatan yang
mengatur hak, kewajiban, dan kewajiban perawat, tindakan-tindjakan keperawatan yang dapat
dilakukan oleh perawat dalam menjalankan praktiknya, dan persyaratan praktik keperawatan dan
mekanisme pembinaan dan pengawasan. Sekarang rancangan undang-undang tentang praktik
keperawatan sudah di usulkan ke DPR untuk Mendapatkan pengesahan.

d. Menyusun dan memberlakukan kode etik keperawatan

Kode Etik Keperawatan berisi tentang tanggung jawab perawat terhadap tugas,klien, profesinya
sendiri,pemerintah, bangsa dan tanah air yang telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri
Kesehatan No.1239.

Bidang IPTEK

a. Merencanakan, melaksanakan dan mengawasai riset keperawatan

Riset keperawatan diperlukan dalam perkembangan metodologi dan asuhan keperawatan


yang dilakukan oleh anggota profesi itu sendiri untuk mencapai standar yang lebih baik. Pada
dasarnya ada tiga sumber informasi utama, untuk mengembangkan standar yaitu penelitian,
keputusan kelompok ahli/spesialis, observasi cara praktek keperawatan actual. Dalam organisasi
pelayanan keperawatan standar bersumber baik dari sumber eksternal maupun internal.

b. Merencanakan, melaksanakan dan mengawasi perkembangan IPTEK dalam


keperawatan

Pelayanan keperawatan adalah essensial bagi kehidupan dan kesejahteraan klien oleh
karena itu profesi keperawatan harus akontebel terhadap kualitas asuhan yang diberikan.
Pengembangan ilmu dan teknologi memungkinkan perawat untuk mendapatkan informasi yang
dibutuhkan dalam rangka menerapkan asuhan bagi klien dengan kebutuhan yang kompleks.
Untuk menjamin efektifitas asuhan keperawatan pada klien, harus tersedia criteria dalam area
praktek yang mengarahkan keperawatan mengambil keputusan dan melakukan intervensi
keperawatan secara aman.

Bidang kehidupan profesi

a. Membina, mengawasi organisasi profesi


b. Membina kerjasama dengan pemerintah, masyarakat, profesi lain dan antar
anggota

Perawat senantiasa berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada


pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada masyarakat.

c. Membina kerjasama dengan organisasi profesi sejenis dengan negara lain


d. Mengikuti peran perawat sebagai kolaborator.
e. Membina, mengupayakan dan mengawasi kesejahteraan anggota

11. MANFAAT ORGANISASI PROFESI


Profesi adalah suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan masyarakat dan bukan
untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu.
Profesi adalah pekerjaan yang memerlukan pendidikan yang lama dan menyangkut keterampilan
intelektual ( Webster, 1995 ).
Organisasi profesi merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang
menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk melaksanakan fungsi-
fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam kapasitas mereka sebagai individu.
Jadi menurut Breckon (1989) manfaat organisasi profesi mencakup 4 hal yaitu :
1. Mengembangkan dan memajukan profesi
Organisasi profesi yang beranggotakan warga profesi akan berusaha untuk
mengembangkan dan memajukan profesi yang mereka jalani. Apapun organisasi profesi yang
ada, para warga profesi pasti akan memperoleh manfaat dari kegiatan yang mereka laksanakan di
organisasi profesi yang telah mereka ikuti. Dengan adanya organisasi profesi, maka profesi yang
ada akan berkembang dan dengan adanya struktur organisasi yang tersusun rapi maka profesi
itupun bisa berkembang dan maju dengan cepat.

Contohnya saja organisasi profesi keperawatan. Seseorang yang berprofesi sebagai


perawat akan bergabung dengan organisasi profesi yang bergerak di bidang keperawatan. Dia
akan menjadi pengurus organisasi profesi, apakah akan menjadi anggota atau jabatan lainnya di
organisasi tersebut. Kumpulan dari perawat akan membentuk sebuah organisasi profesi yang
kuat sehingga profesi sebagai perawat bisa berkembang dan maju karena adanya kepengurusan
organisasi profesi.

2. Menertibkan dan memperluas ruang gerak profesi


Kepengurusan sebuah organisasi profesi bisa menertibkan tindakan yang diambil oleh
warga profesi. Dengan adanya kepengurusan yang baik dan tersusun rapi maka setiap tindakan
yang diambil oleh warga profesi bisa ditertibkan dan tindakan seorang warga profesi tidak akan
berbenturan dengan warga profesi lainnya. Organisasi profesi akan memperluas ruang gerak
profesi karena apabila orang –orang yang berprofesi sama tidak bergabung dan bekerja sendiri-
sendiri maka ruang gerak mereka akan terbatas karena tidak ada yang mengatur.

Misalnya organisasi profesi keperawatan, setiap anggota organisasi akan tertib dalam
melaksanakan tugasnya dan tidak akan bentrok dengan anggota yang lainnya karena tugas
mereka sudah diatur dengan kesepakatan yang sudah ada. Profesi keperawatan akan tertib
apabila para anggota menjalankan tugas sesuai dengan keahliannya. Organisasi profesi
keperawatan juga akan memperluas ruang gerak profesi keperawatan. Hal ini dikarenakan
organisasi ini terstruktur dan semua perawat di Indonesia bergabung ke dalam organisasi ini
sehingga ruang gerak profesi akan luas dan mereka juga bisa tukar informasi sehingga tidak ada
diantara perawat yang akan ketinggalan informasi.
3. Menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi
Organisasi profesi bertugas untuk menghimpun dan menyatukan pendapat warga profesi.
Para warga profesi mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat dan pengurus organisasi lah
yang akan menampung semua pendapat itu dan menghimpunnya sehingga terciptalah sebuah
kerjasama yang baik. Di organisasi profesilah pendapat warga profesi akan ditampung dan
disatukan. Warga profesi yang juga merupakan pengurus akan mengadakan sebuah rapat dan
mereka berhak untuk berpendapat dan dengan adanya perbedaan pendapat maka pengurus akan
bermusyawarah untuk menyatukan pendapat warga profesi.

Contohnya : organisasi profesi keperawatan yang ada akan menghimpun pendapat warga
profesi. Pengurus organisasi juga bertugas untuk menyatukan pendapat warga profesi.

4. Memberikan kesempatan pada semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif
dalam mengembangkan dan memajukan profesi
Organisasi profesi juga memberikan kesempatan kepada para warga profesi untuk
berkarya dan berperan aktif di dalam organisasi tersebut sesuai dengan kemampuannya. Para
warga berhak untuk berkarya dalam mengembangkan dan memajukan profesi yang mereka
tekuni.

Contohnya : organisasi profesi keperawatan memberikan kesempatan pada semua


anggota untuk berkarya dan berperan aktif. Misalnya anggota membentuk suatu kumpulan kecil
dan mereka bisa mengadakan suatu seminar atau rapat untuk membicarakan bagaimana jalannya
organisasi profesi ini ke depannya.

Pedoman Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Tahun 2017

Kategori : Akreditasi RS, Rumah Sakit

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi 1 Agustus Tahun 2017

Standar akreditasi untuk rumah sakit yang mulai diberlakukan pada Januari 2018 ini diberi nama
Standar
Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 dan disingkat menjadi SNARS Edisi 1 tahun 2017.

Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1, merupakan standar akreditasi baru
yang bersifat nasional dan diberlakukan secara nasional di Indonesia. Disebut dengan edisi
1, karena di Indonesia baru pertama kali ditetapkan standar nasional untuk akreditasi
rumah sakit. Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit edisi 1 berisi 16 bab. Dalam
Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 yang selanjutnya disebut SNARS Edisi 1
ini juga dijelaskan bagaimana proses penyusunan, penambahan bab penting pada SNARS
Edisi 1 ini, referensi dari setiap bab dan juga glosarium istilah-istilah penting, termasuk
juga kebijakan pelaksanaan akreditasi rumah sakit. Garis besar Standar Nasional
Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1 tahun 2017 berisi sebagai berikut :

Sasaran Keselamatan Pasien


Sasaran 1 : Mengidentifikasi Pasien Dengan Bena
Sasaran 2 : Meningkatkan Komunikasi Yang Efekti
Sasaran 3 : Meningkatkan Keamanan Obat-Obat Yang Harus Diwaspadai (High Alert
Medications)
Sasaran 4 : Memastikan Lokasi Pembedahan Yang Benar, Prosedur Yang Benar,
Pembedahan Pada Pasien Yang Benar
Sasaran 5 : Mengurangi Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Sasaran 6 : Mengurangi Risiko Cedera Pasien Akibat Terjatuh

Standar Pelayanan Berfokus Pasien


Bab 1. Akses Ke Rumah Sakit Dan Kontinuitas Pelayanan (ARK)
Bab 2. Hak Pasien Dan Keluarga (HPK)
Bab 3. Asesmen Pasien (AP)
Bab 4. Pelayanan Dan Asuhan Pasien (PAP)
Bab 5. Pelayanan Anestesi Dan Bedah (PAB)
Bab 6. Pelayanan Kefarmasian Dan Penggunaan Obat (PKPO)
Bab 7. Manajemen Komunikasi Dan Edukasi (MKE)

Standar Manajemen Rumah Sakit


Bab 1. Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien (PMKP)
Bab 2. Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI)
Bab 3. Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS)
Bab 4. Manajemen Fasilitas Dan Keselamatan (MFK)
Bab 5. Kompetensi Dan Kewenangan Staf (KKS)
Bab 6. Manajemen Informasi Dan Rekam Medis (MIRM)

Program Nasional
Sasaran I Penurunan Angka Kematian Ibu Dan Bayi Dan Peningkatan Kesehatan Ibu Dan
Bayi
Sasaran II Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS
Sasaran III Penurunan Angka Kesakitan Tuberkulosis
Sasaran IV Pengendalian Resistensi Antimikroba
Sasaran V Pelayanan Geriatri

Integrasi Pendidikan Kesehatan Dalam Pelayanan Rumah Sakit (IPKP)


Download : Pedoman Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Tahun 2017
Semoga bermanfangat

AKREDITASI JCI (Joint Commission International)

Kualitas rumah sakit tak hanya terlihat dari bangunan megah, dokter-dokter berpengalaman,
obat-obatan yang lengkap, dan peralatan medis yang serba canggih. Rumah sakit dituntut untuk
memberikan pelayanan kesehatan terbaik dan lebih terbuka pada masyarakat.

Namun, pertanyaannya, tolok ukur apa yang bisa dijadikan pegangan untuk menentukan bahwa
sebuah rumah sakit memiliki pelayanan terbaik? Mengingat hingga kini sebagian masyarakat
Indonesia lebih melirik rumah sakit di negara tetangga daripada rumah sakit di negeri sendiri.

Sebenarnya pemerintah telah menerapkan standar kualitas pelayanan rumah sakit dan
membaginya menjadi sejumlah golongan. Ada pula penghargaan semacam ISO untuk rumah
sakit. Namun, alangkah lebih baik jika kita mengikuti standar lain seperti JCI untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.

Joint Commission International (JCI) adalah divisi dari Joint Commission International, di
bawah The Joint Commission. Selama lebih dari 50 tahun, The Joint Commission dan
organisasinya telah mendedikasikan diri dalam peningkatan kualitas dan keselamatan kesehatan.
Misi JCI sendiri adalah meningkatkan kualitas kesehatan secara terus-menerus kepada
masyarakat, dengan bekerja sama dengan para stakeholder, mengevaluasi organisasi pelayanan
kesehatan, serta memberikan inspirasi dalam peningkatan penyediaan pelayanan yang aman,
efektif yang paling tinggi, dan bernilai mutunya.

Dari ribuan rumah sakit di Indonesia, baru beberapa rumah sakit yang berhasil mendapatkan
akreditasi dari JCI. Rumah sakit Premier Bintaro mendapatkan akreditasi JCI pada 15 Januari
2011 lalu dan merupakan rumah sakit pertama di Indonesia yang menggunakan standard terbaru
edisi 4 di tahun 2011 .RS Premier Bintaro berhasil kembali meraih Triennial atau Reakreditasi di
awal tahun 2014. Keberhasilan meraih penghargaan ini semakin menunjukkan kredibilitas RSPB
yang dikenal sebagai rumah sakit yang berorientasi pada kualitas dan keselamatan pasien yang
merupakan jiwa dari akreditasi tsb.

Dengan memenuhi syarat-syarat JCI ini, banyak manfaat yang didapatkan. Dokter menjadi lebih
komunikatif, dokumentasi dan ketepatan pasien sejak masuk dan berobat hingga keluar terdata,
pelayanan dan sarana-prasarana rumah sakit semakin baik dan terawat dan sebagainya.

Keberhasilan RS Premier Bintaro dalam meraih Akreditasi Internasional dari JCI ini merupakan
hasil kerja keras dari personil rumah sakit mulai dari Dokter, perawat dan staf non medis yang
memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan yang
bertaraf internasional. Pencapaian yang merupakan lompatan signifikan bagi RSPB ini tentunya
bukan akhir dari perjalanan menuju pelayanan berkualitas bertaraf Internasional tetapi sebagai
langkah awal dari upaya peningkatan kualitas pelayanan yang berkesinambungan.
Skip to content

Irum Khoirum

Akreditasi JCI
28 April 2013

Akreditasi Internasional Rumah Sakit

Rumah sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan haruslah memberikan pelayanan kepada
masyarakat dalam lingkup lokal maupun internasional. Berdasakan hal tersebut, beberapa dekade
terkahir ini munculah istilah akreditasi untuk menilai kualitas suatu organisasi termasuk rumah
sakit. Secara umum akreditasi berarti pengakuan oleh suatu jawatan tentang adanya wewenang
seseorang untuk melaksanakan atau menjalankan tugasnya.

Beberapa definisi lebih lanjut tentang akreditasi rumah sakit tingkat internasional dijelaskan oleh
beberapa lembaga, yaitu:

 Menurut Departemen Kesehatan

Akreditasi internasional rumah sakit adalah akreditasi yang diberikan oleh pemerintah dan/atau
Badan Akreditasi Rumah Sakit taraf Internasional yang bersifat Independen yang telah
memenuhi standar dan kriteria yang ditentukan.

 Menurut Joint Comission International

Akreditasi adalah proses penilaian organisasi pelayanan kesehatan dalam hal ini rumah sakit
utamanya rumah sakit non pemerintah, oleh lembaga akreditasi internasional berdasarkan standar
internasional yang telah ditetapkan. Akreditasi disusun untuk meningkatkan keamanan dan
kualitas pelayanan kesehatan. Akreditasi saat ini mendapat perhatian dari publik internasional
karena merupakan alat pengukuran dan evaluasi kualitas pelayanan dan manajemen rumah sakit
yang efektif.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akreditasi internasional rumah sakit
adalah proses penilaian organisasi kesehatan oleh lembaga akreditasi internasional berdasar
standar dan kriteria yang ditetapkan untuk meninngkatkan kualitas pelayanan dan perawatan
kesehatan.

Di Indonesia akreditasi rumah sakit baik tingkat nasional maupun internasional telah diatur oleh
pemerintah melalui Undang – Undang maupun peraturan tertulis lainnya, yaitu:

1. UU no. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit pasal 40

 ayat 1. Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan
akreditasi secara berkala menimal 3 (tiga) tahun sekali.
 ayat 2. Akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
suatu lembaga independen baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar
akreditasi yang berlaku.

1. Permenkes No. 659 tahun 2009 tentang rumah sakit kelas dunia

 SK Menkes No.436 tahun 1993 menyatakan berlakunya standar pelayanan rumah sakit
dan standar pelayanan medis.

Tujuan Akreditasi Internasional JCI

Tujuan dariakreditasi internasional JCI rumah sakit adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan
dan keselamatan pasien tanpa meningkatkan biaya. Akreditasi Rumah sakit JCI versi terbaru ini
sudah disosialisasikan oleh kemenkes RI. Beberapa hal yang harus dipelajari dan di mengerti
dalam menerapakan Akreditasi JCI untuk rumah sakit di Indonesia yaitu:

1. Daftar kebijakan Akreditasi JCI rumah sakit di indonesia


2. Buku Petunjuk Survey pelasanaan akreditasi JCI
3. Bimbingan akreditasi JCI rumah sakit di Indonesia
4. Buku Standar Akreditasi Rumah Sakit Terbaru- Versi JCI
5. Langkah penerapan dan persiapan Akreditasi Rumah Sakit Internasional Versi JCI
6. Kendala Persiapan Akreditasi Rumah Sakit akreditasi JCI rumah sakit di Indonesia
7. Tujuan Alasan Rumah Sakit Akreditasi Internasional JCI

JCI juga menawarkan sertifikasi program perawatan klinis, seperti program untuk perawatan
stroke, perawatan jantung, atau penggantian sendi. Program akreditasi JCI didasarkan pada
kerangka kerja standar internasional yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Semua akreditasi
JCI dan program sertifikasi bercirikan sebagai berikut:

1. Standar konsensus internasional, dikembangkan dan dikelola oleh sebuah badan


internasional, dan disetujui Dewan internasional, yang merupakan dasar program
akreditasi.
2. Filosofi yang mendasari standar didasarkan pada prinsip manajemen bermutu yang terus-
menerus diperbaik mutunya.
3. Proses akreditasi ini dirancang untuk mengakomodasi faktor hukum, agama, dan/atau
faktor budaya di sebuah negara tertentu.
Meski standar yang diterapkan bersifat seragam demi harapan tinggi untuk keselamatan dan
kualitas perawatan pasien, proses akreditasi juga mempertimbangkan sejauh mana kondisi khas
negara tertentu dapat memenuhi harapan tinggi tersebut.

1. Tim survei lapangan dan penentuan agenda survei akan bervariasi tergantung pada besar-
kecilnya organisasi pelayanan kesehatan dan jenis layanan yang diberikan. Sebagai
contoh, sebuah rumahsakit yang memiliki berbagai spesilis yang cukup banyak mungkin
memerlukan survei empat atau lima hari oleh dokter, perawat, dan administrator,
sementara rumah sakit dengan 50 tempat tidur dan spesialisasi di satu bidang mungkin
hanya memerlukan survei lebih pendek dengan tim yang lebih kecil.

Akreditasi JCI ini dirancang agar absah, dapat dipercaya, dan objektif. Berdasarkan analisis hasil
survei, keputusan akreditasi akhir dibuat oleh komite akreditasi internasional.

Langkah penerapan Akreditasi Rumah Sakit Internasional Versi JCI

Rumah sakit pelayanan kesehatan yang ingin diakreditasi oleh Joint Commission International
(JCI) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Persyaratan Umum untuk Survei yaitu Setiap rumah sakit pelayanan kesehatan dapat
mendaftar untuk diakreditasi JCI jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Rumah sakit tersebut saat ini beroperasi dengan izin sebagai rumah sakit penyedia
layanan kesehatan di negara yang bersangkutan.
2. Rumah sakit tersebut harus bersedia dan siap bertanggung jawab untuk meningkatkan
kualitas rawatan dan layanannya.
3. Rumah sakit tersebut menyediakan layanan yang ditentukan oleh standar JCI.

1. Maksud dan Tujuan Survei Akreditasi

Sebuah survei akreditasi menilai sejauh mana rumah sakit memenuhi standar dan pernyataan
tujuan standar JCI.

Survei mengevaluasi rumah sakit berdasarkan:

1. wawancara dengan staf dan pasien daninformasi lisan lainnya;


2. pengamatan setempat oleh pelaku survei mengenai proses perawatan pasien;
3. kebijakan, prosedur, pedoman praktik kiinis, dan dokumen lain yang disediakan rumah
sakit; dan
4. hasil penilaian diri sebagai bagian dari proses akreditasi. Proses survei di lokasi dan
penilaian diri secara berkelanjutan dapat membantu rumah sakit mengidentifikasi dan
memperbaiki masalah serta meningkatkan kualitas layanan dan jasanya. Di samping
mengevaluasi kepatuhannya terhadap standar dan maksud dan tujuan standar JCI serta
kepatuhannya terhadap Sasaran Internasional Keselamatan Pasien, pelaku survei juga
memberikan edukasi dalam rangka mendukung aktivitas perbaikan kualitas rumah sakit.
5. Ruang Lingkup Survei Akreditasi
Ruang lingkup survei JCI meliputi seluruh fungsi rumah sakit yang terkait dengan standar dan
seluruh penatalaksanaan perawatan pasien. Standar yang berlaku dipilih JCI dari buku pedoman
ini didasarkan pada lingkup layanan yang tersedia di rumah sakit yang mendaftar untuk disurvei.

Survei di lokasi akan mempertimbangkan faktor budaya dan/atau faktor hukum khas yang dapat
mempengaruhi atau menentukan keputusan terkait dengan penyediaan perawatan dan/atau
kebijakan dan prosedur rumah sakit.

1. Hasil Survei Akreditasi

Komite Akreditasi JCI membuat keputusan akreditasi berdasarkan temuan survei. Rumah sakit
dapat menerima salah satu dari dua keputusan akreditasi sebagai berikut Diakreditasi atau
Ditolak permohonan akreditasinya. Keputusan akreditasi ini didasarkan atas apakah rumah sakit
telah memenuhi amar keputusan atau tidak. Silakan mengacu pada Pedoman Proses Survei atau
mengakses peraturan di situs Web JCI untuk deskripsi amar keputusan.

Pemberian Akreditasi yaitu untuk memperoleh akreditasi, rumah sakit harus unjuk bukti bahwa
seluruh standar dipatuhi dan mencapai skor angka minimal standar sebagaimana tercantum
dalam amar keputusan. Rumah sakit yang Terakredirasi menerima Laporan Resmi Temuan
Survei dan sertifikat penghargaan. Laporan ini menunjukkan tingkat pemenuhan terhadap
standar JCI yang dicapai rumah sakit.

1. Masa Berlaku Akreditasi

Pemberian akreditasi ini berlakuselama tiga tahun kecuali dicabut JCI. Akreditasi ini berlaku
surut sejak hari pertama setelah JCIselesai melakukan survei di rumah sakit atau sejak survei
terfokus yang kemudian perlu dilakukan telah selesai.

Pada akhir siklus tiga tahun akreditasi rumah sakit harus dievaluasi ulanguntuk memenuhi
persyaratanpembaharuan pemberian akreditasi. Jika selama periode akreditasi, rumah sakit
mengalami perubahan struktur, kepemilikan, atau layanan, JCI harus diberitahu. JCI kemudian
akan menentukan perlu tidaknya menyurvei ulang rumah sakit dan/atau membuat keputusan
akreditasi baru.

Prasurvei

1. Cara Mengajukan Akreditasi

Sebuah rumah sakit yang ingin diakreditasi memulai proses itu dengan melengkapi dan
mengajukan aplikasi untuk survei. Dokumen ini memberi informasi penting tentang rumah sakit,
termasuk kepemilikan, demografi, jenis dan banyaknya layanan yang diberikan baik secara
langsung, berdasarkan kontrak maupun berdasarkan pengaturan lainnya.Aplikasi untuk survei:

1. mendeskripsikan rumahsakityang mencari akreditasi;


2. memuat seluruh catatan resmi dan laporan tentang lisensi, peraturan, atau badan
pemerintah lainnya yang relevan;
3. memberikan jugawewenang kepada JCI untuk mendapatkan setiap catatan dan laporan
tentang rumah sakit yang tidak dimiliki oleh rumah sakit tersebut, dan
4. ketika semuanya sudah lengkap dan disetujui baik oleh JCI maupun pemohon, disusunlah
persyaratan hubungan kerja antara rumah sakit dan JCI.