Anda di halaman 1dari 16

Makalah Wuchereria Bancrofti

Disusun oleh :

Virga Aliefiansyah Pradana (0415103038)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MAARIF HASYIM LATIF SIDOARJO
2016
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Filariasis (penyakit kaki gajah) atau juga dikenal dengan elephantiasis

adalah penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing

filaria yang ditularkan melalui gigitan berbagai spesies nyamuk. Di Indonesia,

vektor penular filariasis hingga saat ini telah diketahui ada 23 spesies nyamuk

dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes dan Armigeres. Filariasis dapat

menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, tangan, dan organ

kelamin.

Filariasis merupakan jenis penyakit reemerging desease, yaitu penyakit

yang dulunya sempat ada, kemudian tidak ada dan sekarang muncul kembali.

Kasus penderita filariasis khas ditemukan di wilayah dengan iklim sub tropis dan

tropis (Abercrombie et al, 1997) seperti di Indonesia. Filariasis pertama kali

ditemukan di Indonesia pada tahun 1877, setelah itu tidak muncul dan sekarang

belum diketahui bagaimana perkembangannya. Filariasis tersebar luas hampir di

seluruh Propinsi di Indonesia. Berdasarkan laporan dari hasil survei pada tahun

2000 yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 Puskesmas tersebar di 231

Kabupaten 26 Propinsi sebagai lokasi yang endemis, dengan jumlah kasus kronis

6233 orang.

Upaya pemberantasan filariasis tidak bisa dilakukan oleh pemerintah

semata. Masyarakat juga harus ikut memberantas penyakit ini secara aktif.

Dengan mengetahui mekanisme penyebaran filariasis dan upaya pencegahan,


pengobatan serta rehabilitasinya, diharapkan program Indonesia Sehat Tahun

2010 dapat terwujud salah satunya adalah terbebas dari endemi filariasis.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, dapat ditarik suatu rumusan masalah antara lain
sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan filariasis?

2. Bagaimana mekanisme terjadinya filariasis?

3. Bagaimana upaya pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi filariasis?


C. Tujuan
Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah mengacu pada rumusan
masalah di atas sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan filariasis.

2. Untuk mengetahui mekanisme terjadinya filariasis.

3. Untuk mengetahui upaya pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi filariasis.


D. Manfaat
Manfaat penyusunan makalah ini adalah agar masyarakat dapat
mengetahui segala sesuatu tentang filariasis, bagaimana mekanisme terjadinya
filariasis, dan bagaimana upaya pencegahan, pengobatan serta rehabilitasi
filariasis. Dengan demikian, diharapkan masyarakat ikut memberantas penyakit
ini secara aktif sehingga tidak menjadi endemi di masyarakat.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Klasifikasi Cacing filaria (Wuchereria bancrofti)

Wuchereria bancrofti atau disebut juga Cacing Filaria adalah kelas dari

anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum

Nemathelminthes. Bentuk cacing ini gilig memanjang, seperti benang maka

disebut filarial. Cacing filaria penyebab penyakit kaki gajah berasal

dari genus wuchereria dan brugia. Di Indonesia cacing yang dikenal sebagai

penyebab penyakit tersebut adalah wuchereria bancrofti, brugia

malayi, dan brugia timori.

Klasifikasi ilmiah

Kingdom: Animalia

Classis: Secernentea

Ordo: Spirurida

Upordo: Spirurina

Family: Onchocercidae

Genus: Wuchereria

Species: Wuchereria bancrofti


Ciri-ciri cacing Filaria

1. Cacing dewasa (makrofilaria), bentuknya seperti benang berwarna putih

kekuningan. Sedangkan larva cacing filaria (mikrofilaria) berbentuk seperti

benang berwarna putih susu.

2. Makrofilaria yang betina memiliki panjang kurang lebih 65 – 100 mm, ekornya

berujung tumpul, untuk makrofilarial yang jantan memiliki panjang kurang lebih

40 mm, ekor melingkar. Sedangkan mikrofilaria berukuran panjang kurang lebih

250 mikron, bersarung pucat.

3. Tempat hidup Makrofilaria jantan dan betina di saluran limfe dan kelenjar limfe.

Sedangkan pada malam hari mikrofilaria terdapat di dalam pembuluh darah tepi,

dan pada siang hari mikrofilaria terdapat di kapiler alat-alat dalam, misalnya:

paru-paru, jantung, dan hati

B. Daur Hidup Cacing Filaria ( Wuchereria bancrofti)

Siklus hidup cacing Filaria terjadi melalui dua tahap, yaitu:

1. Tahap pertama, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh nyamuk sebagai

vector yang masa pertumbuhannya kurang lebih 2 minggu.

2. Tahap kedua, perkembangan cacing Filaria dalam tubuh manusia (hospes)

kurang lebih 7 bulan.


Siklus hidup cacing filaria dapat terjadi dalam tubuh nyamuk apabila

nyamuk tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang terserang

filariasis, sehingga mikrofilaria yang terdapat ditubuh penderita ikut terhisap

kedalam tubuh nyamuk. Mikrofilaria tersebut masuk kedalam paskan

pembungkus pada tubuh nyamuk, kemudian menembus dinding lambung dan

bersarang diantara otot-otot dada (toraks). Bentuk mikrofilaria menyerupai sosis

yang disebut larva stadium I. Dalam waktu kurang lebih satu minggu larva ini

berganti kulit, tumbuh menjadi lebih gemuk dan panjang yang disebut larva

stadium II. Pada hari ke sepuluh dan seterusnya larva berganti kulit untuk kedua

kalinya, sehingga tumbuh menjadi lebih panjang dan kurus, ini adalah larva

stadium III. Gerak larva stadium III ini sangat aktif, sehingga larva mulai

bermigrasi mula-mula ke rongga perut (abdomen) kemudian pindah ke kepala

dan alat tusuk nyamuk.

Apabila nyamuk yang mengandung mikrofilaria ini menggigit manusia.

Maka mikrofilaria yang sudah berbentuk larva infektif (larva stadium III) secara

aktif ikut masuk kedalam tubuh manusia (hospes). Bersama-sama dengan aliran

darah dalam tubuh manusia, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke

pembuluh limfe. Didalam pembuluh limfe larva mengalami dua kali pergantian

kulit dan tumbuh menjadi cacing dewasa yang sering disebut larva stadium IV

dan larva stadium V. Cacing filaria yang sudah dewasa bertempat di pembuluh

limfe, sehingga akan menyumbat pembuluh limfe dan akan terjadi

pembengkakan. Siklus hidup pada tubuh nyamuk terjadi apabila nyamuk

tersebut menggigit dan menghisap darah orang yang terkena filariasais,

sehingga mikrofilaria yang terdapat di tubuh penderita ikut terhisap ke dalam

tubuh nyamuk. Cacing yang diisap nyamuk tidak begitu saja dipindahkan, tetapi
sebelumnya tumbuh di dalam tubuh nyamuk. Makhluk mini itu berkembang

dalam otot nyamuk. Sekitar 3 minggu, pada stadium 3, larva mulai bergerak aktif

dan berpindah ke alat tusuk nyamuk.Nyamuk pembawa mikrofilaria itu lalu

gentayangan menggigit manusia dan ”memindahkan” larva infektif tersebut.

Bersama aliran darah, larva keluar dari pembuluh kapiler dan masuk ke

pembuluh limfe.

Uniknya, cacing terdeteksi dalam darah tepi pada malam hari,

sedangkan pada siang hari dia berada didalam kapiler alat-alat dalam seperti

pada paru-paru, jantung dan hati, selebihnya bersembunyi di organ dalam

tubuh.Pemeriksaan darah ada-tidaknya cacing biasa dilakukan malam

hari. Setelah dewasa (Makrofilaria) cacing menyumbat pembuluh limfe dan

menghalangi cairan limfe sehingga terjadi pembengkakan. Selain di kaki,

pembengkakan bisa terjadi di tangan, payudara, atau buah zakar. Ketika

menyumbat pembuluh limfe di selangkangan, misalnya, cairan limfe dari bawah

tubuh tidak bisa mengalir sehingga kaki membesar. Dapat terjadi penyumbatan

di ketiak, mengakibatkan pembesaran tangan.

Pada saat dewasa (Makrofilaria) inilah, cacing ini menghasilkan telur

kemudian akan menetas menjadi anak cacing berukuran kecil yang disebut

mikrofilaria. Selanjutnya, mikrofilaria beredar di dalam darah. Larva ini dapat

berpindah ke peredaran darah kecil di bawah kulit. Jika pada waktu itu ada

nyamuk yang menggigit, maka larva tersebut dapat menembus dinding usus

nyamuk lalu masuk ke dalam otot dada nyamuk, kemudian setelah mengalami

pertumbuhan, larva ini akan masuk ke alat penusuk. Jika nyamuk itu menggigit

orang, maka orang itu akan tertular penyakit ini.


C. Prinsip patologis penyakit filariasis

Filariasis adalah penyakit menular ( Penyakit Kaki Gajah ) yang

disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.

bermula dari inflamasi saluran limfe akibat dilalui cacing filaria dewasa

(makrofilaria). Cacing dewasa yang tak tahu diri ini melalui saluran limfe aferen

atau sinus-sinus limfe sehingga menyebabkan dilatasi limfe pada tempat-tempat

yang dilaluinya. Dilatasi ini mengakibatkan banyaknya cairan plasma yang terisi

dari pembuluh darah yang menyebabkan penebalan pembuluh darah di

sekitarnya.

Akibat kerusakan pembuluh, akan terjadi infiltrasi sel-sel plasma,

esosinofil, serta makrofag di dalam dan sekitar pembuluh darah yang terinfeksi.

Nah, infiltrasi inilah yang menyebabkan terjadi proliferasi jaringan ikat dan

menyebabkan pembuluh limfe di sekelilingnya menjadi berkelok-kelok serta

menyebabkan rusaknya katup-katup di sepanjang pembuluh limfe tersebut.

Akibatnya, limfedema dan perubahan statis-kronis dengan edema pada kulit di

atas pembuluh tersebut menjadi tak terhindarkan lagi.

Jadi, jelaslah bahwa biang keladi edema pada filariasis ialah cacing

dewasa (Makrofilaria) yang merusak pembuluh limfe serta mekanisme inflamasi

dari tubuh penderita yang mengakibatkan proliferasi jaringan ikat di sekitar

pembuluh. Respon inflamasi ini juga diduga sebagai penyebab granuloma dan

proliferatif yang mengakibatkan obstruksi limfe secara total. Ketika cacing masih

hidup, pembuluh limfe akan tetap paten, namun ketika cacing sudah mati akan

terjadi reaksi yang memicu timbulnya granuloma dan fibrosis sekitar limfe.

Kemudian akan terjadi obstruksi limfe total karena karakteristik pembuluh limfe
bukanlah membentuk kolateral (seperti pembuluh darah), namun akan terjadi

malfungsi drainase limfe di daerah tersebut.

D. Gejala Klinik

Apabila seseorang terserang filariasis, maka gejala yang tampak antara lain:

1. Demam berulang-ulang selama 3 - 5 hari, demam dapat hilang bila si penderita

istirahat dan muncul lagi setelah si penderita bekerja berat.

2. Pembengkakan kelenjar limfe (tanpa ada luka) di daerah lipatan paha, ketiak

(lymphadenitis) yang tampak kemerahan. Diikuti dengan radang saluran kelenjar

limfe yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki atau pangkal

lengan ke arah ujung (Retrograde lymphangitis) yang dapat pecah dan

mengeluarkan nanah serta darah.

3. Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak

kemerahandan merasa panas (Early lymphodema). Sedangkan gejala klinis

filariasis kronis yaitu

E. Diagnosa penyakit Filariasis (Kaki gajah)

Bentuk menyimpang dari filariasis (eosinoffilia tropikal) ditandai oleh

hipereosinivilia, adanya microfilaria di jaringan tetapi tidak terdapat di dalam

darah, dan titer antibody antifilaria yang tinggi. Microfilaria mungkin ditemukan

di cairan limphatik. Tes serologi telah tersedia tetapi tidak dapat diandalkan

sepenuhnya. Diagnosa berdasarkan gejala klinis dan dipastikan dengan

pemeriksaan laboratorium:

1. Deteksi parasit yaitu menemukan microfilaria di dalam darah, cairan hirokel atau

cairan chyluria pada pemeriksaan sediaan darah tebal, teknik konsentrasi Knott

dan membran filtrasi.


2. Pengambilan darah dilakukan pada malam hari mengingat periodisitas

mikrofilarianya umumnya nokturna. Pada pemeriksaan histopatologi, kadang-

kadang potongan cacing dewasa dapat dijumpai pada saluran dan kelenjar

limpah dari jaringan yang di curigai sebagai tumor.

3. Diferensiasi spesies dan stadium filarial, yaitu dengan menggunakan pelacak

DNA yang spesies spesifik dan antibody monoclonal untuk mengidentifikasi larva

filarial dalam cairan tubuh dan dalam tubuh nyamuk vektor sehingga dapat

membedakan antara larva filarial yang menginfeksi manusia dengan yang

menginfeksi hewan. Penggunaannya masih terbatas pada penelitian dan survey.

F. Upaya Pencegahan, Pengobatan, dan Rehabilitasi Filariasis

1. Upaya Pencegahan Filariasis

Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan

nyamuk (mengurangi kontak dengan vektor) misalnya menggunakan kelambu

sewaktu tidur, menutup ventilasi dengan kasa nyamuk, menggunakan obat

nyamuk, mengoleskan kulit dengan obat anti nyamuk, menggunakan pakaian

panjang yang menutupi kulit, tidak memakai pakaian berwarna gelap karena

dapat menarik nyamuk, dan memberikan obat anti-filariasis (DEC dan

Albendazol) secara berkala pada kelompok beresiko tinggi terutama di daerah

endemis. Dari semua cara diatas, pencegahan yang paling efektif tentu saja

dengan memberantas nyamuk itu sendiri dengan cara 3M.

2. Upaya Pengobatan Filariasis

Pengobatan filariasis harus dilakukan secara masal dan pada daerah

endemis dengan menggunakan obat Diethyl Carbamazine Citrate (DEC). DEC

dapat membunuh mikrofilaria dan cacing dewasa pada pengobatan jangka


panjang. Hingga saat ini, DEC adalah satu-satunya obat yang efektif, aman, dan

relatif murah. Untuk filariasis akibatWuchereria bankrofti, dosis yang dianjurkan 6

mg/kg berat badan/hari selama 12 hari. Sedangkan untuk filariasis

akibatBrugia malayi dan Brugia timori, dosis yang dianjurkan 5 mg/kg berat

badan/hari selama 10 hari. Efek samping dari DEC ini adalah demam, menggigil,

sakit kepala, mual hingga muntah. Pada pengobatan filariasis yang disebabkan

oleh Brugiamalayi dan Brugia timori, efek samping yang ditimbulkan lebih berat.

Sehingga, untuk pengobatannya dianjurkan dalam dosis rendah, tetapi

pengobatan dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Pengobatan kombinasi

dapat juga dilakukan dengan dosis tunggal DEC dan Albendazol 400mg,

diberikan setiap tahun selama 5 tahun. Pengobatan kombinasi meningkatkan

efek filarisida DEC.

Obat lain yang juga dipakai adalah ivermektin. Ivermektin adalah

antibiotik semisintetik dari golongan makrolid yang mempunyai aktivitas luas

terhadap nematoda dan ektoparasit. Obat ini hanya membunuh mikrofilaria. Efek

samping yang ditimbulkan lebih ringan dibanding DEC. Terapi suportif berupa

pemijatan juga dapat dilakukan di samping pemberian DEC dan antibiotika,

khususnya pada kasus yang kronis. Pada kasus-kasus tertentu dapat juga

dilakukan pembedahan.

3. Upaya Rehabilitasi Filariasis

Penderita filariasis yang telah menjalani pengobatan dapat sembuh total. Namun,

kondisi mereka tidak bisa pulih seperti sebelumnya. Artinya, beberapa bagian

tubuh yang membesar tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Rehabilitasi

tubuh yang membesar tersebut dapat dilakukan dengan jalan operasi.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Berikut adalah kesimpulan dalam makalah ini:

1. Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam
sistem limfe dan ditularkan oleh nyamuk. Bersifat menahun dan menimbulkan
cacat menetap. Gejala klinis berupa demam berulang 3-5 hari, pembengkakan
kelenjar limfe, pembesaran tungkai, buah dada, dan skrotum. Dapat didiagnosis
dengan cara deteksi parasit dan pemeriksaan USG pada skrotum.
2. Mekanisme penularan yaitu ketika nyamuk yang mengandung larva infektif

menggigit manusia, maka terjadi infeksi mikrofilaria. Tahap selanjutnya di dalam

tubuh manusia, larva memasuki sistem limfe dan tumbuh menjadi cacing dewasa.

Kumpulan cacing filaria dewasa ini menjadi penyebab penyumbatan pembuluh

limfe. Akibatnya terjadi pembengkakan kelenjar limfe, tungkai, dan alat kelamin.

3. Pencegahan filariasis dapat dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk dan

melakukan 3M. Pengobatan menggunakan DEC dikombinasikan dengan

Albendazol dan Ivermektin selain dilakukan pemijatan dan pembedahan. Upaya

rehabilitasi dapat dilakukan dengan operasi.

B. Saran

Diharapkan pemerintah dan masyarakat lebih serius menangani kasus filariasis

karena penyakit ini dapat membuat penderitanya mengalami cacat fisik sehingga

akan menjadi beban keluarga, masyarakat dan Negara. Dengan penanganan

kasus filariasis ini pula, diharapkan Indonesia mampu mewujudkan program

Indonesia Sehat Tahun 2012


Diagnosa

Diagnosa filariasis didasarkan atas anamnesis yang berhubungan dengan nyamuk di daerah
endemik, disertai dengan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan darah pada waktu malam hari.

Biopsi kelenjar dilakukan bila mikrofilaria tidak ditemukan di dalam darah, hal tersebut
hanya dilakukan pada kelenjar limfe ekstrimitas, dan di sini mungkin akan ditemukan cacing
dewasa. Biopsi ini dapat pula menimbulkan gangguan drainase saluran limfe. Suntikan
intradermal dengan antigen filaria, reaksi ikatan komlemen, hemaglutinasi dan flokulasi
penting untuk diagnosis bila mikrofilaria tidak dapat ditemukan dalam darah.

Dengan pemeriksaan antigen filaria dapat ditemukan adanya antigen filarial di dalam darah
perifer, dengan atau tanpa mikrofilaria. Pemeriksaan ini sekarang dipertimbangkan sebagai
diagnosis yang paten infeksi filarial dan dipakai untuk memonitor efektivitas pengobatan.

Jika dicurigai filariasis limfatik, urine harus diperiksa secara macroskopis untuk menemukan
adanya chyluria. Pada pemeriksaan Immunoglobulin serum, kadar IgE serum yang meningkat
ditemukan pada pasien dengan penyakit filaria aktif.

Tes provokasi DEC bermanfaat untuk menemukan adanya mikrofilaria pada darah tepi yang
diambil pada waktu siang hari, dimana sebenarnya mikrofilaria bersifat nokturnal. Diberikan
DEC 2 mg/kgBB dan darah diambil 45-50 menit setelah pemberian obat.

Selain itu dapat pula dilakukan penghitungan jumlah mikrofilaria. Mikrofilaria dihitung
dengan mengambil 0,25 ml darah yang diencerkan dengan asetat 3% sampai menjadi 0,5 cc
dan dilihat dibawah mikroskop dengan menggunakan Sedgwick Refler counting Cell, dimana
didapatkan :

- Densitas tinggi : 50mf/ml darah

- Densitas rendah : 1-49mf/ml darah

- Densitas sangat rendah : 1-10 mf/ml darah

Pemeriksaan limfografi dengan gambaran adanya obstruksi, atresia atau dilatasi disertai
bentuk saluran yang berliku-liku dan adanya aliran balik ke kulit dapat membantu diagnosis
penyakit ini.
Diagnosa Banding

Infeksi bakteri, tromboflebitis atau trauma dapat mengacaukan Filarial Adeno limfadenitis
Akut, Tuberkolosis, Lepra, Sarkoidosis dan penyakit sistemik granulomatous lainnya
seringkali dikacaukan dengan filariasis

Pengobatan

 Perawatan umum :

- Istirahat di tempat tidur, pindah tempat ke daerah dingin akan mengurangi derajat
serangan akut.

- Antibiotik dapat diberikan untuk infeksi sekunder dan abses

- Pengikatan di daerah pembendungan akan mengurangi edema

 Pengobatan Spesifik

Penggunaan obat antifilarial pada penangan limfadenitis akut dan limfangitis masih
kontroversial. Tidak ada penelitian lebih lanjut yang menunjukkan pemberian
dietilkarbamazin (DEC), suatu derivat piperazin. Dietilkarbamazin (Hetrazan, Banoside,
Notezine, Filarizan) dapat berguna untuk terapi limfangitis akut. Dietilkarbamazin dapat
diberikan pada mikrofilaremik yang asimptomatik untuk mengurangi jumlah parasit di dalam
darah. Obat ini juga dapat membunuh cacing dewasa. Dosis pemberian dietilkarbamazin
ditingkatkan secara bertahap.

Anak-anak :

- 1 mg/KgBB P.O. dosis tunggal untuk hari I

- 1 mg/KgBB P.O. 3x/hari pada hari II

- 1-2 mg/KgBB P.O. 3x/hari pada hari III

- 6 mg/KgBB P.O. 3x/hari pada hari IV-XIV


Dewasa :

- 50 mg P.O. dosis tunggal hari I

- 50 mg P.O. 3x/hari pada hari II

- 100mg P.O. 3x/hari pada hari III

- 6 mg/KgBB P.O. 3x/hari pada hari IV-XIV

Pada penderita yang tidak ditemukan mikrofilaria di dalam darah diberikan dosis 6 mg/KgBB
3x/hari langsung pada hari I. Wuchereria bancrofti lebih sensitif daripada Brugia malayi pada
pemberian terapi dietilkarbamazin.

Efek samping seperti demam, nyeri kepala, mialgia, muntah, lemah dan asma, biasanya
disebabkan oleh karena destruksi mikrofilaria dan kadang-kadang oleh cacing dewasa,
terutama pada infeksi berat. Gejala ini berkembang dalam 2 hari pertama, kadang – kadang
dalam 12 jam setelah pemberian obat dan bertahan 3 – 4 hari. Pernah dilaporkan terjadinya
abses di scrotum dan sela paha setelah pengobatan, diperkirakan sebagai reaksi matinya
cacing. Dietilkarbamaasin tidak dianjurkan pada perempuan hamil.

Obat lain yang juga aktif terhadap mikrofilaria adalah ivermectin ( Mectizan ) dan
albendazol. Ivermectin hanya membunuh mikrofilaria, tetapi dapat di berikan dengan dosis
tunggal 400 g / kgBB. Bila ivermectin dosis tunggal digabung dengan DEC, menyebabkan
hilangnya mikrofilaria lebih cepat. Akhir – akhir ini diketahui bahwa albendazol 400 mg
dosis tunggal lebih efektif daripada ivermectin.

Dapat juga diberikan Furapyrimidone yang mempunyai efek yang sama dengan DEC dalam
hal mikrofilarisidal. Dosis yang dianjurkan untuk Brugia malayi adlah 15-20 mg/kgBB/hari
selama 6 hari. Sedangkan untuk Wuchereria banrofti 20 mg/kgBB/hari selama 7 hari. Efek
samping ringan hanya berupa iritasi gastrointestinal dan panas.

 Pengobatan Pembedahan

Pembedahan untuk melenyapkan elephantiasis skrotum, vulva dan mammae mudah


dilakukan dengan hasil yang memuaskan. Perbaikan tungkai yang membesar dengan
anastomosis antara saluran limfe yang letaknya dalam dengan yang perifer tidak terlalu
memuaskan.

Prognosis

Prognosis penyakit ini tergantung dari jumlah cacing dewasa dan mikrofilaria dalam tubuh
penderita, potensi cacing untuk berkembang biak, kesempatan untuk infeksi ulang dan
aktivitas RES.

Pada kasus-kasus dini dan sedang, prognosis baik terutama bila pasien pindah dari daerah
endemik. Pengawasan daerah endemik tersebut dapat dilakukan dengan pemberian obat, serta
pemberantasan vektornya. Pada kasus-kasus lanjut terutama dengan edema pada tungkai,
prognosis lebih buruk.

Pencegahan

WHO telah merencanakan eradikasi filariasis didunia pada 10 tahun mendatang. Pengobatan
masal pada populasi yang menderita filariasis dengan DEC atau pengulangan ivermectin
sekali pertahun, secara nyata mereduksi mikrofilaremia. Secara teoritis pengobatan sekali
setahun efektif bila diberikan minimal 5 tahun.

DEC tidak bersifat toksik oleh karena itu dapat ditambahkan ke dalam garam atau bahan
makanan lainnya. Keberhasilan tergantung dari kerja sama yang baik, sosioekonomi dan
kebiasaan. Dosis yang dianjurkan adalah 6 mg/kgBB/bulan selama 12 bulan. Sedangkan pada
penduduk yang idak kooperatif diberikan 6 mg/kgBB/minggu dengan total dosis 36
mg/kgBB.