Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Zakat merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal yang sangat penting di zaman
Nabi. Zakat sangat berpotensi menghilangkan konsentrasi kekayaan di kalangan elit
ekonomi tertentu. Tidak hanya itu, ia juga berpotensi meningkatkan produktivitas
masyarakat dan konsumsi total. Di bawah genggaman ekonomi neo-liberal seperti saat
ini, masyarakat muslim Indonesia seharusnya mampu mengoptimalkan pendayagunaan
zakat bagi kesejahteraan umum. Sayangnya, pengelolaan zakat masih menyisakan
beberapa kendala konseptual dan teknis. Salah satu akar persoalannya ada pada
formalitas zakat. Artinya, zakat hanya diangap sebagai kewajiban normatif, tanpa
memperhatikan efeknya bagi pemberdayaan ekonomi umat. Akibatnya, semangat
keadilan ekonomi dalam implementasi zakat menjadi hilang. Orientasi zakat tidak
diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, tapi lebih karena ia merupakan
kewajiban dari Tuhan. Bahkan, tidak sedikit muzakki yang mengeluarkan zakat disertai
maksud untuk menyucikan harta atau supaya hartanya bertambah (berkah). Ini artinya,
muzakki membayarkan zakat untuk kepentingan subyektivitasnya sendiri. Memang tidak
salah, tapi secara tidak langsung, substansi dari perintah zakat serta efeknya bagi
perekonomian masyarakat menjadi terabaikan.
Zakat memiliki fungsi sosial sebagai mekanisme mencapai keadilan sosial. Karena
fungsinya, porsi zakat sebesar 2,5 persen itu perlu dipertanyakan kembali. Ingatan kita
perlu disegarkan kembali bahwa zakat bukan sekadar kebaikan hati (karitas), tetapi
terutama merupakan kewajiban umat.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah definisi dari zakat ?
2. Bagaimana peranan dari zakat sebagai ibadah sosial ?
3. Apasaja tujuan dan manfaat dari zakat ?
4. Apasaja prinsip dari zakat ?

1.3 TUJUAN DAN MANFAAT


1. Untuk mengetahui pengertian dari zakat
2. Untuk mengetahui tujuan, manfaat serta peranan dari zakat
3. Untuk mengetahui prinsip dari zakat

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI ZAKAT

Zakat adalah ibadah yang memiliki dua dimensi, yaitu vertikal dan horizontal. Zakat
merupakan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah swt (Hablum-

1
minallah;vertikal), dan sebagai kewajiban kepada sesama manusia (Hablum-minannas;
horizontal). Oleh karena itu, pilar islam yang ketiga ini, sangatlah penting dalam
menyusun kehidupan yang humanis dan harmonis dalam masyarakat, serta berperan
sangat besar dalam kehidupan sosial. Zakat juga merupakan ibadah maliyah yang
mempunyai dimensi dan fungsi- fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah
swt, dan merupakan perwujudan solidaritas sosial. Zakat juga bukti pernyataan rasa
kemanusiaan dan keadilan, persaudaraan islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa
2. Sebagai penghubung antara golongan kaya dan golongan miskin. Zakat dapat
mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera, dimana hubungan seseorang dengan
yang lainya rukun, damai dan harmonis. Disamping itu, islam sangatlah menganjurkan
untuk saling mencintai, menjalin dan membina persaudaraan. Seperti hadits Rasulullah
SAW riwayat Imam Bukhori dari Anas Ra, bahwa Rasulullah bersabda :

ِ‫ب هلنهخفيهه نما ييهح ب‬


(‫ب لهننففهسهه )رواه البخارى‬ ِ‫لن ييفؤهمين اننحيديكفم نحتتىَّ ييهح ب‬

Artinya: “Tidak dikatakan / (tidak sempurna) iman seseorang sehingga ia mencintai


saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri .“(H.R Bukhari) 3.

Dari hadis diatas, jika kita kaitkan dengan peran zakat dalam kehidupan masyarakat maka
zakat tersebut akan berdampak terhadap jalinan persaudaraan antar individu yang kaya
dengan yang miskin. Seorang kaya yang beriman akan mencintai kaum yang lemah dan
memperhatikan mereka. Wujud dari mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya
sendiri adalah menjalin persaudaran tersebut. Melalui zakat tersebut, maka terjalinlah
keakraban dan persaudaraan yang erat, dan akan menunjang terwujudnya sistem
kemasyarakatan islam yang berdiri atas prinsip- prinsip ummatan wahidan (umat yang
bersatu).

2.2 PRINSIP ZAKAT


1. Prinsip keyakinan keagamaan, yaitu bahwa orang yang membayar zakat
merupakan salah satu manifestasi dari keyakinan agamanya.
2. Prinsip pemerataan dan keadilan; merupakan tujuan sosial zakat, yaitu membagi
kekayaan yang diberikan Allah lebih merata dan adil kepada manusia.
3. Prinsip produktivitas, yaitu menekankan bahwa zakat memang harus dibayar
karena milik tertentu telah menghasilkan produk tertentu setelah lewat jangka
waktu tertentu.
4. Prinsip nalar, yaitu sangat rasional bahwa zakat harta yang menghasilkan itu harus
dikeluarkan.
5. Prinsip kebebasan, yaitu bahwa zakat hanya dibayar oleh orang yang bebas atau
merdeka (hurr).
6. Prinsip etika dan kewajaran, yaitu zakat tidak dipungut secara semena-mena, tapi
melalui aturan yang disyariatkan.

2.3 TUJUAN ZAKAT

Para cendekiawan muslim banyak yang menerangkan tentang tujuan-tujuan zakat,


baik secara umum yang menyangkut tatanan ekonomi, sosial, dan kenegaraan maupun
1
secara khusus yang ditinjau dari tujuan-tujuan nash secara eksplisit.
a. Menyucikan harta dan jiwa muzaki.
b. Mengangkat derajat fakir miskin.
c. Membantu memecahkan masalah para gharimin, ibnusabil, dan mustahiq lainnya.
d. Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam dan manusia
pada umumnya.
e. Menghilangkan sifat kikir dan loba para pemilik harta.
f. Menghilangkan sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial) dari hati orang-orang
miskin.
g. Menjembatani jurang antara si kaya dengan si miskin di dalam masyarakat agar tidak
ada kesenjangan di antara keduanya.
h. Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang, terutama bagi yang
memiliki harta.
i. Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak
orang lain padanya.
j. Zakat merupakan manifestasi syukur atas Nikmat Allah.
k. Berakhlak dengan akhlak Allah.
l. Mengobati hati dari cinta dunia.
m. Mengembangkan kekayaan batin.
n. Mengembangkan dan memberkahkan harta.
o. Membebaskan si penerima (mustahiq) dari kebutuhan, sehingga dapat merasa hidup
tenteram dan dapat meningkatkan kekhusyukan ibadat kepada Allah SWT.
p. Sarana pemerataan pendapatan untuk mencapai keadilan sosial.
q. Tujuan yang meliputi bidang moral, sosial, dan ekonomi. Dalam bidang moral, zakat
mengikis ketamakan dan keserakahan hati si kaya. Sedangkan, dalam bidang sosial,
zakat berfungsi untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat. Dan di bidang
ekonomi, zakat mencegah penumpukan kekayaan di tangan sebagian kecil manusia dan
merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk perbendaharaan negara.

2.4 ZAKAT SEBAGAI IBADAH SOSIAL

Salah satu ciri ciri orang yang bertaqwa adalah menunaikan zakat bagi setiap
muslim yang telah memenuhi persyaratan sesuai tuntunan ajaran Islam. Dalam hierarki
rukun Islam, zakat menempati posisi ketiga setelah Shalat. Hal ini menunjukkan bahwa
zakat memiliki kedudukan yang amat penting dalam Agama Islam. Dalam Al Qur’an
disebutkan bahwa ada tiga perintah yang selalu diiringi oleh perintah lain yang tidak
dapat dipisahkan yaitu :

1. Taat kepada Allah SWT selalu diiringi dengan perintah untuk taat kepada
Rasulullah SAW.

2. Mendirikan shalat selalu diiringi dengan perintah untuk menunaikan zakat.

3. Syukur kepada Allah diiringi dengan berbakti kepada kedua orang tua.
1
Zakat sebagai salah satu ritual dalam Islam menyimpan beberapa dimensi yang
sangat kompleks yakni dimensi transenden yang berarti ibadah mahdloh (hablum
minallah) dan dimensi sosial sebagai upaya peningkatan kesejahteraan umat (hablum
minannas). Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an : “Ambillah zakat dari sebagian
harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan
mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa
bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(Q.S. At Taubah : 103)

Zakat mempunyai andil besar dalam menyebarkan keamanan dan kesentausaan di


dalam masyarakat yakni mencabut kedengkian dari jiwa fakir miskin dan mensucikan
hati orang-orang kaya dari kekikiran dan ketamakan harta(cinta yang berlebih-lebihan
kepada harta benda) serta menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan
memperkembangkan harta benda mereka. Konsep berbagi dengan sesama dalam syariat
Islam disebut zakat, infak, dan shodaqah. Selain membahagiakan mereka yang menjadi
penerima dari ibadah sosial ini, zakat bisa memberdayakan mereka yang dhuafa.
Kurangnya pemberdayaan ekonomi Umat Islam melalui pelaksanaan ibadah zakat
disebabkan dua (2) hal yaitu :

1. Belum adanya kesadaran umat Islam dalam berzakat.

2. Kurangnya pemahaman tentang jenis harta yang wajib zakat dan mekanisme
pembayaran.

Dua hal inilah yang menyebabkan pelaksanaan ibadah zakat menjadi tergantung
pada masing-masing individu yang pada gilirannya mempengaruhi perkembangan
institusi zakat yang seharusnya memegang peranan penting dalam pembudayaan ibadah
zakat secara kolektif agar dalam pelaksanaannya ini menjadi lebih efektif dan efisien.

Menurut Yusuf Qardhawi seorang Ulama dari Mesir, zakat adalah sistem keuangan
dan ekonomi umat Islam, yang sekaligus sistem sosial karena berusaha menyelamatkan
masyarakat dari berbagai kelemahan. Zakat juga bisa disebut sistem moral karena ia
bertujuan membersihkan jiwa dari kekikiran orang kaya dan menghilangkan jiwa hasud
atau dengki orang yang tidak punya (miskin dan dhuafa). Bila kita menunaikan zakat,
maka bisa disebut memiliki keimanan sekaligus menjalankan misi sosial agama Islam di
muka bumi. Banyak pendapat, baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim, yang
mengagumi indahnya konsepsi zakat sebagai pemecahan problematika sosial. Namun di
Indonesia sendiri tak terlihat buktinya. Seandainya seluruh umat Islam melaksanakan
ibadah sosial ini dengan baik, tentu tidak akan ditemukan lagi orang-orang yang
hidupnya sengsara. Akan tetapi kebanyakan telah melalaikan kewajiban ini, sehingga
nasib umat Islam sekarang ini lebih buruk dalam kehidupan ekonomi dan politiknya.

2.5 FUNGSI ZAKAT


1.Merupakan ibadah muzaki
2. Memenuhi kebutuhan mustahik
3. Membangun masyarakat

1
2.6 PERANAN ZAKAT
1.Modal untuk pembangunan masyarakat
2. Social justice
3. Social equilibrium
4. Social guarantee (jaminan sosial)
5. Social safety (pengaman sosial)
6. Social insurance (asuransi sosial)
7. Oase atau telaga
8. Islam adalah agama amal

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Zakat juga merupakan ibadah maliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi-
fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah swt, dan merupakan perwujudan
solidaritas sosial. Zakat juga bukti pernyataan rasa kemanusiaan dan keadilan,
persaudaraan islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa 2. Sebagai penghubung
antara golongan kaya dan golongan miskin. Zakat dapat mewujudkan tatanan
masyarakat yang sejahtera, dimana hubungan seseorang dengan yang lainya rukun,
damai dan harmonis.
Zakat mempunyai andil besar dalam menyebarkan keamanan dan kesentausaan di
dalam masyarakat yakni mencabut kedengkian dari jiwa fakir miskin dan mensucikan
hati orang-orang kaya dari kekikiran dan ketamakan harta(cinta yang berlebih-lebihan
kepada harta benda) serta menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan
memperkembangkan harta benda mereka. Konsep berbagi dengan sesama dalam syariat
Islam disebut zakat, infak, dan shodaqah. Selain membahagiakan mereka yang menjadi
penerima dari ibadah sosial ini, zakat bisa memberdayakan mereka yang dhuafa.

3.2 SARAN
Interpretasi baru terhadap zakat sangat penting, termasuk besar-kecilnya porsi
zakat. Kekayaan hendaknya mampu mendorong peningkatan martabat kemanusiaan,
dan menjadi cermin ketakwaan. Kita jangan merasa telah memenuhi kewajiban setelah
mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen itu terlalu formal.

1
DAFTAR PUSTAKA

https://ariesaziz.wordpress.com/2011/03/14/makalah-zakat/

Muthohar, Ahmad Mifdlol, Keberkahan Dalam Berzakat, Jakarta: Mibarda Publishing,


2011