Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Poliomyelitis adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh


virus dan sering dikenal dengan nama flaccid paralysis acute (AFP).
Infeksi virus polio terjadi didalam saluran pencernaan yang menyebar ke
kelenjar limfe regional dan sebagian kecil menyebar ke sistem saraf
dengan predileksi pada sel anterior masa kelabu sumsum tulang belakang
dan inti motorik batang otak dan akibat kerusakan bagian susunan saraf
pusat tersebut akan terjadi kelumpuhan dan atrofi otot.1
Polio virus disebabkan oleh virus dengan genus enterovirus tipe 1,2
dan 3 dan semua tipe dapat menyebabkan kelumpuhan. Tipe 1 dapat
diisolasi dari hampir semua kasus kelumpuhan, tipe 3 lebih jarang
demikian pula tipe 2 sangat jarang. Tipe 1 paling sering menyebabkan
wabah. Sebagian besar kasus vaccine associated disebabkan oleh tipe 2
dan 3. Flaccid paralysis terjadi pada kurang dari 1% dari infeksi
poliovirus. Lebih dari 90% infeksi tanpa gejala atau dengan demam tidak
spesifik. Meningitis aseptik muncul pada sekitar 1% dari infeksi.
Penyakit polio dapat menyerang semua usia, namun kelompok
umur yang paling rentan adalah usia 1-5 tahun dari semua kasus polio.
Penelitian menyebutkan bahwa sekitar 33,3% dari kasus polio adalah
anak-anak dibawah usia 5 tahun. Infeksi golongan enterovirus lebih
banyak terjadi pada laki-laki dari pada wanita dengan perbandingan (2:1).
Resiko kelumpuhan meningkat pada usia yang lebih tinggi terutama bila
menyerang individu yang berusia lebih dari 15 tahun. WHO
memperkirakan adanya 140.000 kasus baru dari kelumpuhan yang
diakibatkan oleh poliomyelitis sejak tahun 1992 dengan jumlah
keseluruhan penderita anak yang mengalami kelumpuhan akibat infeksi ini
diperkirakan 10-20 juta anak. 2

BAB II

1
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit polio adalah penyakit kelumpuhan akut yang menular disebabkan
oleh virus polio. Predileksi virus polio pada sel kornu anterior medula spinalis,
inti motorik batang otak dan area motorik korteks otak, menyebabkan
kelumpuhan serta atropi otot. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan masuk ke
sistem saraf pusat yang mengakibatkan terjadinya kelemahan otot dan terkadang
menyebabkan kelumpuhan. Infeksi virus polio terjadi didalam saluran pencernaan
yang menyebar ke kelenjar limfe regional terjadi sebagian kecil penyebaranya ke
sistem saraf. Sistem saraf yang diserang adalah saraf motorik otak bagian grey
matter dan kadang-kadang menimbulkan kelumpuhan.1

2.2 Etiologi
Poliomielitis disebabkan oleh infeksi virus dari genus enterovirus yang
dikenl sebagai poliovirus (PV). Virus yang tergolong virus RNA ini biasanya
berada di traktus digestivus. PV hanya menginfeksi dan menyebabkan manifestasi
penyakit pada manusia. Strukturnya sederhana, tersusun oleh satu genom RNA
yang terbungkus protein yang disebut capsid. Selain melindungi materi genetic
dari virus tersebut, protein capsid memungkinkan PV untuk menyerang beberapa
jenis sel lain.
Ada 3 serotipe yang telah diidentifikasi yakni tipe 1 (PV1, Bruhilde), tipe
2 (PV2, Lansing) dan tipe 3 (PV3, Leon). Masing-masing memiliki protein capsid
yang sedikit berbeda. Ketiganya sangat virulen dan menyebabkan gejala yang
sama. Walaupun demikian PV1 adalah strain yang paling sering ditemukan, dan
paling sering menyebabkan kelumpuhan.
Suatu infeksi poliomyelitis dapat disebabkan satu atau lebih tipe tersebut,
yang dapat dibuktikan dengan 3 macam zat anti dalam serum penderita. Epidemi
yang luas dan ganas biasanya disebabkan oleh Tipe 1, Tipe 3 menyebabkan
epidemic ringan, sedang Tipe 2 menyebabkan epidemic sporadic.

2
Poliovirus menyebar dari Tractus Intestinal ke Sistem Saraf Pusat (SSP,
dimana mengakibatkan meningitis aseptic dan poliomyelitis. Poliovirus cukup
kuat dan bisa bertahan aktif selama beberapa hari dengan suhu kamar, dan bias
tersimpan dalam wujud beku -20oC. Poliovirus menjadi tidak aktif bila terkena
panas, formaldehid, klorin dan sinar ultraviolet. Virus ini juga tumbuh baik di
berbagai biakkan jaringan dan mengakibatkan efek sitopatik dengan cepat.
Virus ini dapat hidup dalam air untuk berbulan-bulan dan bertahun-tahun
dalam deep freeze. Dapat tahan terhadap banyak bahan kimia termasuk
sulfonamide, antibiotic (streptomisin, penisilin, kloromisetin), eter, fenol, dan
gliserin. Virus dapat dimusnahkan dengan cara pengeringan atau dengan
pemberian zat oksidator kuat seperti peroksida atau kalium permanganate.
Reservoir alamiah satu-satunya ialah manusia, walaupun virus juga terdapat pada
sampah atau lalat. Masa inkubasi biasanya antara 7-10 hari, tetapi kadang-kadang
terdapat kasus dengan inkubasi antara 3-35 hari.2

Gambar 1. Poliovirus
(diambil dari en.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis)

2.3 Epidemiologi
Infeksi virus polio terjadi di seluruh dunia, untuk Amerika Serikat
transmisi virus polio liar berhenti sekitar tahun 1979. Di Negara-negara Barat,
eliminasi polio global secara dramatis mengurangi transmisi virus polio liar di
seluruh dunia, kecuali beberapa Negara yang sampai saat ini masih ada transmisi

3
virus polio liar yaitu India, Timur Tengah dan Afrika. Reservoir virus polio liar
hanya pada manusia, yang sering ditularkan oleh pasien infeksi polio yang tanpa
gejala.
Goar (1955) dalam uraiannya tentang poliomyelitis di Negara berkembang
dengan sanitasi yang kurang baik berkesimpulan bahwa pada daerah-daerah
tersebut epidemic poliomyelitis ditemukan pada 90% anak bawah umur 5 tahun.
Ini disebabkan penduduk telah mendapatkan infeksi atau imunitas pada masa
anak, sehingga seperti juga halnya Indonesia penyakit ini jarang ditemui pada
dewasa. Selama tahun 1953-1957 di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM,
dari 21 penderita, 67% diantaranya berusia 1-5 tahun.3

2.4 Patofisiologi
Kerusakan saraf merupakan ciri khas poliomyelitis, virus berkembang biak
pertama kali didalam dinding faring atau saluran cerna bagian bawah, virus tahan
terhadap asam lambung, maka bisa mencapai saluran cerna bawah tanpa melalui
inaktivasi. Dari faring setelah bermultiplikasi, menyebar ke jaringan limfe dan
pembuluh darah. Virus dapat dideteksi pada nasofaring setelah 24 jam sampai 3-4
minggu.
Dalam keadaan ini timbul: 1. perkembangan virus, 2. tubuh bereaksi
membentuk antibody spesifik. Bila pembentukkan zat anti tubuh mencukupi dan
cepat maka virus dinetralisasikan, sehingga timbul gejala klinis yang ringan atau
tidak terdapat sama sekali dan timbul imunitas terhadap virus tersebut. Bila
proliferasi virus tersebut lebih cepat daripada pembentukkan zat anti, maka akan
timbul viremia dan gejala klinis.
Infeksi pada susunan saraf pusat terjadi akibat replikasi cepat virus ini.
Virus polio menempel dan berkembang biak pada sel usus yang mengandung
polioviruses receptor (PVR) dan telah berkoloni dalam waktu kurang dari 3 jam.
Sekali terjadi perlekatan antara virion dan replikator, pelepasan virion baru hanya
butuh 4-5 jam saja.
Virus yang bereplikasi secara local kemudian menyebar pada monosit dan
kelenjar limfe yang terkait. Perlekatan dan penetrasi bias dihambat oleh secretory
IgA local. Kejadian neuropati pada poliomyelitis merupakan akibat langsung dari
multiplikasi virus di jaringan patognomik, namun tidak semua saraf yang terkena

4
akan mati. Keadaan reversibilitas fungsi sebagian disebabkan karena sprouting
dan seolah kembali seperti sediakala dalam waktu 3-4 minggu setelah onset.,
Terdapat kelainan dan infiltrasi interstisiel sel glia.1

Gambar 3. Patogenesis Poliomielitis (diambil dari


http://www.medindia.net/patients/patientinfo/images/poliomyelitis.gif)

Daerah yang biasanya terkena lesi pada poliomyelitis ialah:


1. Medulla spinalis terutama kornu anterior
2. Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta
formation retikularis yang mengandung pusat vital
3. Serebelum terutama inti-inti pada vermis
4. Midbrain terutama masa kelabu, substantia nigra dan kadang-kadang
nucleus rubra
5. Talamus dan hipotalamus
6. Palidum
7. Korteks serebri, hanya daerah motorik

Gambaran patologik menunjukkan adanya reaksi peradangan pada system


retikuloendotelial, terutama jaringan limfe, kerusakan terjadi pada sel motor
neuron karena virus ini sangat neurotropik, tetapi tidak menyerang neuroglia,
myelin atau pembuluh darah besar. Terjadi juga peradangan pada sekitar sel yang

5
terinfeksi sehingga kerusakkan sel makin luas. Kerusakan pada sumsum tulang
belakang, terutama terjadi pada anterior horn cell, pada otak kerusakan terutama
terjadi pada sel motor neuron formasi retikuler dari pons dan medulla, nuclei
vestibules, serebellum, sedang lesi pada korteks hanya merusak daerah motor dan
premotor saja. Pada jenis bulber, lesi terutama mengenai medulla yang berisi
nuclei motorik dari saraf otak. Replikasi pada sel motor neuron di SSP akan
menyebabkan kerusakan permanen.
Secara mendasar, kerusakan saraf merupakan ciri khas pada poliomyelitis.
Virus berkembang di dalam dinding faring atau saluran cerna bagian bawah,
menyebar masuk ke dalam aliran darah dan kelenjar getah bening dan menembus
dan berkembang biak di jaringan saraf. Pada saat viremia pertama terdapat gejala
klinik yang tidak spesifik berupa minor illness. Invasi virus ke susunan saraf bias
hematogen atau melalui perjalanan saraf. Tapi yang lebih sering melalui
hematogen. Virus masuk ke susunan saraf melalui sawar darah otak (blood brain
barrier) dengan berbagai cara yaitu :

Transport pasif dengan cara piknositosis

Infeksi dari endotel kapiler

Dengan bantuan sel mononuclear yang mengadakan transmisi ke dalam
susunan saraf pusat.

Kemungkinan lain melalui saraf perifer, transport melalui akson atau
penyebaran melalui jaras olfaktorius.3,4

2.5 Manifestasi Klinis


Tanda-tanda klinis yang timbul akan sesuai dengan kerusakan anatomic
yang terjadi. Biasanya, masa inkubasin adalah 3-6 hari, dan kelumpuhan terjadi
dalam waktu 7-21 hari. Replikasi di motor neuron terutama terjadi di sumsum
tulang belakang yang menimbulkan kerusakan sel dan kelumpuhan serta atrofi
otot, sedang virus yang berkembang biak di batang otak akan menyebabkan
kelumpuhan bulbar dan kelumpuhan pernafasan.
Pada setiap anak yang datang dengan panas disertai dengan kesulitan
menekuk leher dan punggung, kekakuan otot yang diperjelas dengan tanda head
drop, tanda tripod saat duduk, tanda brudzinsky dan Kernique, harus dicurigai
adanya poliomyelitis.5,6

6
Infeksi virus polio pada manusia sangat bervariasi, dari gejala yang ringan
sampai terjadi paralysis. Infeksi virus polio dapat diklasifikasikan menjadi minor
illnesses (gejala ringan) dan major illnesses (gejala berat, baik paralitik, maupun
non-paralitik). Gejala lumpuh layuh (paralisis) yang dapat ditemukan pada anak,
gejalanya bervariasi antara lain :
a) Berjalan pincang atau tidak dapat berjalan
b) Tidak dapat meloncat menggunakan satu kaki
c) Tidak dapat berjongkok lalu berdiri lagi
d) Tidak dapat berjalan pada ujung jari atau tumit
e) Tidak dapat mengangkat kakinya saat ditempat tidur
f) Terasa lemas, tidak ada tahanan
g) Kaki mengecil (atrofi otot)

Gambar 4. Gejala klinis poliomyelitis


(http://www.medindia.net/patients/patientinfo/images/poliomyelitis.gif)

Minor Illnesses

7
1. Asimtomatis (silent infection)
Setelah masa inkubasi 7-10 hari, karena daya tahan tubuh maka tidak
terdapat gejala klinis sama sekali. Pada suatu epidemic diperkirakan
terdapat pada 90-95% penduduk dan menyebabkan imunitas terhadap
virus tersebut. Merupakan proporsi kasus terbanyak (72%).
2. Poliomielitis abortif
Diduga secara klinis hanya pada daerah yang terserang epidemic, terutama
yang diketahui kontak dengan penderita poliomyelitis yang jelas.
Diperkirakan terdapat 4-8% penduduk pada suatu epidemi. Timbul
mendadak, berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Biasanya
sekitar 2-10 hari. Gejala berupa infeksi virus, seperti malaise, anoreksia,
nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorok, konstipasi dan nyeri
abdomen. Diagnosis pasti hanya bias dengan menemukan virus di biakan
jaringan.
Diagnosis banding : influenza atau infeksi bakteri daerah nasofaring

Major Illnesses
1. Poliomielitis non-paralitik (Meningitis Aseptik Non-paralitik)
Gejala klinis sama dengan poliomyelitis abortif, hanya nyeri kepala,
nausea dan muntah lebih berat. Gejala-gejala ini timbul 1-2 hari, kadang-
kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam
atau masuk dalam fase kedua dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini
adalah adanya nyeri atau kaku otot belakang leher, tubuh dan tungkai
dengan hipertonia mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak,
ganglion spinal dan kolumna posterior. Bila anak berusaha duduk dari
posisi tidur, maka ia akan menekuk kedua lutut ke atas sedangkan kedua
tangan menunjang kebelakang pada tempat tidur (Tripod sign) dan terlihat
kekakuan otot spinal oleh spasme, Kaku kuduk terlihat secara pasif dengan
Kernig dan Brudzinsky yang positif. “Head drop” yaitu bila tubuh
penderita ditegakkan dengan menarik pada kedua ketiak sehingga
menyebabkan kepala terjatuh ke belakang. Refleks tendon biasanya tidak
berubah dan bila terdapat perubahan maka kemungkinan akan terdapat

8
poliomyelitis paralitik. Diagnosis Banding dengan meningitis serosa,
meningismus, tonsillitis akut yang berhubungan dengan adenitis servikalis.
2. Poliomielitis paralitik
Gejala yang terdapat pada poliomyelitis paralitik disertai kelemahan satu
atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis akut. Pada
bayi ditemukan paralysis vesika urinaria dan atonia usus.
Secara klinis dapat dibedakan beberapa bentuk sesuai dengan tingginya
lesi pada susunan saraf:
a. Bentuk spinal
Dengan gejala kelemahan/paralysis/paresis otot leher, abdomen, tubuh,
diafragma, toraks dan terbanyak ekstremitas bawah. Tersering otot
besar, pada tungkai bawah otot kuadriceps femoris, pada lengan otot
deltoideus. Sifat paralisis asimetris. Refleks tendon
mengurang/menghilang. Tidak terdapat gangguan sensibilitas.

Gambar 5. Letak motor neuron pada kornu anterior Medulla Spinalis


(diambil dari en.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis)

Diagnosis banding :

Pseudoparalisis non neurogen : tidak ada kaku kuduk, tidak ada
pleiositosis. Disebabkan oleh trauma/kontusio, demam
reumatik akut, osteomielitis.

Polyneuritis: gejala para plegi dengan gangguan sensibilitas,
dapat dengan paralysis palatum molle dan gangguan otot bola
mata.

Poliradikuloneuritis (Guillain Barre Sindrom): Biasanya
diawali demam, paralysis tidak akut tapi perlahan-lahan,
bilateral simetris, pada fase permulaan likuor serebrospinalis

9
GBS protein meningkat sedangkan Poliomielitis pleiositosis,
GBS biasa sembuh tanpa gejala sisa, GBS ada gangguan
sensorik

Miopatia (kelainan progresif dari otot-otot dengan paralysis
dan kelelahan disertai rasa nyeri).7,8

Gambar 6. Gambar penderita Poliomielitis


(diambil dari en.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis)

b. Bentuk bulbar
Terjadi akibat kerusakan motorneuron pada batang otak sehingga
terjadi insufisiensi pernafasan, kesulitan menelan, tersedak, kesulitan
makan, kelumpuhan pita suara dan kesulitan bicara. Saraf otak yang
terkena adalah saraf V, IX, X, XI dan kemudian VII. Sebagaimana
kelainan saraf lainnya, tidak dapat digantikan atau diperbaiki.
Perbaikan secara klinik terjadi akibat kerja neuron yang rusak akan
diambil oleh neuron yang berdekatan (sprouting) atau alih fungsi oleh
otot lain atau perbaikan sisa otot yang masih berfungsi.
Gangguan motorik satu atau lebih saraf otak dengan atau tanpa
gangguan pusat vital yakni pernafasan dan sirkulasi

10
Gambar 7. Lokasi dari region bulbar
(diambil dari en.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis)

c. Bentuk bulbospinal
Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulbar

d. Bentuk ensefalitik
Dapat disertai gejala delirium, kesadaran yang menurun, tremor dan
kadang-kadang kejang.1

2.6 Diagnosis
Diagnosis polio dibuat berdasarkan:
 Pemeriksaan virologik dengan cara membiakkan virus polio baik yang liar
maupun vaksin. Virus poliomyelitis dapat diisolasi dan dibiakkan secara
biakan jaringan dari apus tengorok, darah, likuor serebrospinalis dan feses.
 Pengamatan gejala dan perjalanan klinik.
Banyak sekali kasus yang menunjukkan gejala lumpuh layu yang termasuk
Acute Flaccid Paralysis. Bisa dilihat dari gejala-gejala klinis diatas. Cara
menegakkannya ialah dengan menambahkan pola neurologik yang khas
seperti kelumpuhan proksimal, unilateral, tidak ada gangguan sensori.
 Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan hantaran saraf dan elektromiografi dapat merujuk secara
lebih tepat kerusakan saraf secara anatomic. Cara ini akan dapat
mempermudah memisahkan polio dengan kelainan lain akibat
demielinisasi pada saraf tepi, sehingga boisa membedakan polio dengan
kerusakan motor neuron lainnya misalnya Sindrom Guillain-Barre.
Pemeriksaan lain seperti MRI dapat menunjukkan kerusakkan di daerah
kolumna anterior.

11
 Pemeriksaan Residual Paralisis
Dilakukan 60 hari setelah kelumpuhan, untuk mencari deficit neurologik.1

2.7 Pemeriksaan Penunjang


 Darah tepi perifer
Tidak ada pemeriksaan yang spesifik untuk diagnosis poliomielitis pada
gejala awal, sama seperti virus lainnya. Pemeriksaan darah perifer
mungkin dalam batas normal atau terjadi leukositosis pada fase akut
mayor illness yaitu 10.000-30.000/µl dengan predominan.
 Cairan Serebrospinal
Pada 90% kasus mayor illness, terjadi peningkatan jumlah sel bervariasi
20-300 sel/µl, pada umumnya dalam 72 jam pertama terjadi dominasi
PMN, selanjutnya dominasi limfosit dan sel menurun pada minggu ke 2
menjadi 10-15/µl. Terdapat penurunan kadar gula likuor dan peninggian
kadar protein 30-200 mg/dl pada minggu ke 2, dan kembali normal dalam
sebulan.
 Pemeriksaan Serologik
Diagnosis poliomielitis ditegakkan berdasarkan peninggian titer antibodi
4x atau lebih antara fase akut dan konvalesens, yaitu dengan cara
pemeriksaan uji netralisasi dan uji fiksasi komplemen. Karena
complement fixing antibody mempunyai waktu lebih pendek
dibandingkan dengan titer netralisasi, dan lebih kuat maka dapat
ditentukan adanya infeksi polio baru bila terdapat peninggian tes fiksasi
komplemen. Sangat membantu bila wabah disebabkan oleh type terntentu
atau oleh NPE yang lain.
 Isolasi Virus
Penderita mulai mengeluarkan virus ke dalam tinja saat sebelum fase
paralitik tejadi. Pada isolasifeses yang diambil 10 hari dari awitan gejala
neurogenik, 80-90% positif untuk virus polio; oleh karena ekskresi dari
faring dan cairan serebrospinal jarang menghasilkan virus. Hasil biakan
juga penting untuk menentukan jenis serotype virus dan mempengaruhi
cara vaksinasi.1

12
2.8 Terapi dan Pengobatan
Tidak ada obat untuk polio, hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Vaksin
polio, diberikan beberapa kali, hampir selalu melindungi anak-anak seumur hidup.
Imunisasi lengkap sangat mengurangi risiko terkena polio paralitik. Tidak ada
antivirus yang efektif melawan poliovirus. Terapi utamanya adalah suportif.2
Tujuan pengobatan adalah mengontrol gejala selagi infeksi berlangsung.
Dalam kasus-kasus tertentu, beberapa membutuhkan tindakan lifesaving ,
terutama bantuan nafas.
Berikut pengobatan non spesifik untuk setiap manifest klinis dari polio
1. Silent infection : istirahat
2. Poliomielitis abortif : istirahat 7 hari, bila tidak terdapat gejala apa-apa,
aktifitas dapat dimulai lagi. Sesudah 2 bulan dilakukan pemeriksaan lebih
teliti terhadap kemungkinan kelainan musculoskeletal.
3. Poliomielitis paralitik/non-paralitik : istirahat mutlak sedikitnya 2 minggu;
perlu pengawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralysis
pernafasan.
Pengobatan sesuai dengan gejalanya, meliputi :
a. fase akut
 Antibiotik untuk mencegah infeksi pada otot yang flaccid
 Analgetik untuk mengurangi nyeri kepala, myalgia, dan spasme
 Antipiretik untuk menurunkan suhu.
 Foot board, papan penahan pada telapak kaki, agar kaki terletak pada
sudut yang tetap terhadap tungkai
 Bila terjadi paralysis pernafasan seharusnya dirawat di unti perawatan
khusus karena penderita memerlukan bantuan pernafasan mekanis.
 Pada poliomyelitis tipe bulber kadang-kadang refleks menelan
terganggu dengan bahaya pneumonia aspirasi. Dalam hal ini kepala
anak diletakkan lebih rendah dan dimiringkan ke salah satu sisi.
b. fase post-akut

Kontraktur, atrofi dan atoni otot dikurangi dengan fisioterapi.
Tindakkan ini dilakukan setelah 2 minggu. Penatalaksanaan fisioterapi
yang dilakukan:

13
- Heating dengan menggunakan IRR ( infra red radiation )
- Exercise (active/passive) terutama pada ekskremitas yang mengalami
kelemahan atau kelumpuhan
- Breathing exercise jika diperlukan

Bila perlu pemakaian braces, bidai, hingga operasi ortopedik.6

2.9 Prognosis
Hasil akhir dari penyakit ini tergantung bentuknya dan letak lesinya. Jika
tidak mencapai korda spinalis dan otak, maka kesembuhan total sangat mungkin.
Keterlibatan otak dan korda spinalis bisa berakibat pada paralysis atau kematian
(biasanya dari kesulitan bernafas). Secara umum polio lebih sering mengakibatkan
disabilitas daripada kematian.
Pasien dengan polio abortif bisa sembuh sepenuhnya . Pada pasien dengan
polio non-paralitik atau aseptic meningitis, gejala bisa menetap selama 2-10 hari,
lalu sembuh total.
Pada bentuk paralitik bergantung pada bagian yang terkena. Pada kasus
polio spinal, sel saraf yang terinfeksi akan hancur sepenuhnya, paralysis akan
permanent. Sel yang tidak hancur tapi kehilangan fungsi sementara akan kembali
setelah 4-6 minggu setelah onset. 50% dari penderita polio spinal sembuh total,
25% dengan disabilitas ringan, 25% dengan disabilitas berat. Perbedaan residual
paralysis ini tergantung derajat viremia, dan imunitas pasien. Jarang polio spinal
yang bersifat fatal. Bentuk spinal dengan paralysis pernafasan dapat ditolong
dengan bantuan pernafasan mekanik. Tanpa bantuan ventilasi, kasus yang
melibatkan system pernafasan, menyebabkan kesulitan bernafas atau pneumonia
aspirasi. Keseluruhan, 5-10% pasien dengan polio paralysis meninggal akibat
paralysis otot pernafasan. Angka kematian bervariasi tergantung usia 2-5% pada
anak-anak, dan hingga 15-30% pada dewasa.
Tipe bulbar prognosisnya buruk, kematian biasanya karena kegagalan
fungsi pusat pernafasan atau infeksi sekunder jalan nafas. Polio bulbar sering
mengakibatkan kematian bila alat bantu nafas tidak tersedia. Dengan alat bantu
nafas angka kematian berkisar antara 25-50%. Bila ventilator tekanan positif
tersedia angka kematian bisa diturunkan hingga 15%.Otot-otot yang lumpuh dan

14
tidak pulih kembali menunjukkan paralysis tipe flasid dengan atonia, arefleksia,
dan degenerasi.
Komplikasi residual paralysis tersebut ialah kontraktur terutama sendi,
subluksasio bila otot yang terkena sekitar sendi, perubahan trofik oleh sirkulasi
yang kurang sempurna hingga mudah terjadi ulserasi. Pada keadaan ini diberikan
pengobatan secara ortopedik.6,7
Post Polio Syndrome (PPS)
Sekitar 25% individual yang pernah mengalami polio paralitik
mendapatkan gejala tambahan beberapa decade setelah sembuh dari infeksi akut,
merupakan bentuk manifestasi lambat (15-40 tahun) sejak infeksi akut. Gejala
utamanya kelemahan otot, kelelahan yang ekstrem, paralysis rekuren atau
paralysis baru, nyeri otot yang luar biasa. Kondisi ini disebut post polio syndrome
(PPS). Gejala PPS diduga akibat kegagalan pembentukan over-sized motor unit
pada tahap penyembuhan dari fase paralitiknya. Walau demikian bagaimana
patogenesisnya masih belum diketahui. Faktor yang meningkatkan resiko PPS
antara lain jangka waktu sejak infeksi akutnya, kerusakan residual permanent
setelah penyembuhan dari fase akut, dan kerja neuron yang berlebihan.3,4

2.10 Eradikasi Polio (ERAPO)


Eradikasi Polio
Setelah pada penelitian ditemukan bahwa host dari virus polio hanya manusia
sedangkan virus polio liar tidak bertahan lama di lingkungan. Selain itu telah
ditemukan vaksin yang poten dan telah menyebar luas pada pertengahan 1950
yang mengakibatkan penurunan drastic insidensi polio di negara-negara maju.
Dan dinyatakan juga bahwa OPV memiliki efek terhadap komunitas
(community effect). Maka menjadi memungkinkan untuk dilakukan eradikasi
terhadap penyakit ini. Sehingga usaha global untuk eradikasi polio dimulai
pada tahun 1988, dipimpin oleh World Health Organization, UNICEF, dan The
Rotary Foundation. Eradikasi dilakukan dengan cara.

1. Imunisasi rutin dengan cakupan diatas 90%


Cakupan imunisasi harus mencapai lebih dari 90% untuk kelompok anak
dibawah 1 tahun. WHO menganjurkan diberikan vaksin polio oral sebanyak 5

15
kali. Cakupan yang tinggi ini akan menekan angka kesakitan polio pada tingkat
yang rendah dan menyiapkan negara tersebut untuk fase eradikasi. Cakupan
tinggi juga harus berkesinambungan dan dipertahankan oleh negara yang telah
bebas polio sampai seluruh dunia bebas dari polio, agar negara tersebut dapat
bertahan terhadap virus liar yang berasal atau dibawa dari negara lain.

2. Pekan Imunisasi Nasional (PIN)


Imunisasi massal dapat dilakukan secara serentak pada semua anak dibawah 5
tahun dengan dua putaran imunisasi dengan selang waktu empat minggu.
Gerakan ini dilakukan pada saat transmisi polio paling rendah dan kekebalan
populasi ternyata lebih tinggi dari kekebalan populasi imunisasi rutin.

3. Surveilans Acute Flaccid Paralysis


Surveilans AFP atau lumpuh layuh akut eradikasi membutuhkan metode
surveilans yang sensitif dan mampu mendeteksi adanya kasus polio dimanapun
di dunia. Surveilans AFP bertujuan untuk mendeteksi virus polio liar dan
meningkatkan sistem pelacakan dan pelaporan nasional suatu negara. Kasus
polio tidak dapat dideteksi secara klinis saja, maka WHO menyarankan
laboratory based AFP surveilans untuk keperluan eradikasi. Surveilans ini
mencakup deteksi semua AFP dibawah usia 15 tahun dan kasus harus diteliti
secara klinik dan epidemiologik dengan cepat, sampel tinja dikumpulkan
secukupnya dengan selang waktu 24 jam dan dikirim dalam keadaan dingin ke
laboratorium. Virus yang ditemukan harus dibedakan apakah virus liar atau
virus vaksin. Minimal harus dilakukan pelacakan pada 1 kasus AFP setiap
tahun-nya untuk setiap 100.000 anak dibawah 15 tahun.

4. Mopping-up
Artinya tindakan vaksinasi massal terhadap anak dibawah usia 5 tahun didaerah
ditemukanya penderita polio tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya.
Tampaknya di era globalisasi dimana mobilitas penduduk antar negara sangat
tinggi dan cepat, muncul kesulitan untuk mengendalikan penyebaran virus ini.
Selain pencegahan dengan vaksinasi polio tentu harus disertai dengan

16
peningkatan sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Penggunaan jamban
keluarga, air bersih yang memenuhi persyaratan kesehatan serta memelihara
kebersihan makanan merupakan upaya pencegahan dan mengurangi resiko
penularan virus ini. Menjadi salah satu keprihatinan dunia bahwa kecacatan
yang ditimbulkan akibat infeksi virus ini menetap dan tidak bisa disembuhkan
atau tidak ada obat yang dapat menyembuhkan polio.6,7

2.11 Vaksin Polio


Vaksin OPV adalah adalah virus yang dilemahkan, yang bisa mengalami
mutasi sebelum dapat bereplikasi dalam usus dan diekskresi keluar. Meskipun
sangat jarang, selain mutasi bisa bersifat mutasi positif kearah virus yang lebih
lemah, namun bisa juga terjadi mutasi negative (back mutation) kembali kearah
neurogenik dan menimbulkan kerusakan di cornu anterior seperti infeksi virus
polio liar. Kenyataan ini memicu perlunya imunisasi dengan inactivated polio
virus (IPV).3
OPV lebih efektif dalam pemberantasan poliomyelitis dibandingkan virus
yang inaktivasi. Sesudah pemberian vaksin OPV, maka virus yang dilemahkan
tersebut akan bereplikasi di traktus gastrointestinalis bagian bawah. OPV dapat
menutup PVR sehingga virus lain tidak bisa menempel dan menyebabkan
kelumpuhan kelumpuhan. Kemampuan ini menekan transmisi virus pada saat
wabah. IPV sangat mampu mencegah kelumpuhan karena menghasilkan antibody
netralisasi yang tinggi, namun tidak mempunyai efek menekan transmisi.
a) Oral Polio Vaccine (OPV)
Vaksin ini dibuat dengan virus polio yang dilemahkan. Vaksin ini
digunakan secara rutin sejak bayi lahir dengan 2 tetes oral. Virus vaksin ini
kemudian menempatkan diri di bawah usus dan memacu pembentukkan antibody
baik dalam darah maupun epithelium usus, yang menghasilkan pertahanan local
terhadap virus polio liar yang dating masuk kemudian. Maka frekuensi ekskresi
polio virus liar di masyarakat bisa dikurangi. Vaksin bertahan dalam tinja hingga 6
minggu setelah pemberian.

17
Gambar 8 Pemberian Imunisasi OPV
(diambil dari en.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis)

Vaksin ini harus disimpan tertutup pada suhu 2-8oC. dapat disimpan beku
pada temperature <-20oC. Keputusan WHO, vaksin ini boleh digunakan multidose
dengan syarat :
a. tanggal kedaluwarsa tidak terlampaui
b. vaksin-vaksin disimpan dalam rantai dingin (2-8oC)
c. botol vaksin yang telah terbuka yang terpakai hari itu telah dibuang
oleh petugas Puskesmas.
Vaksin Polio oral diberikan pada bayi baru lahir sebagai dosis awal, sesuai PPI
dan ERAPO tahun 2000. Kemudian diteruskan dengan imunisasi dasar mulai
umur 2-3 bulan yang diberikan tiga dosis terpisah dengan interval 6-8 minggu.
Satu dosis sebanyak 2 tetes (0.1 ml) diberikan per oral pada umur 2-3 bulan dapat
diberikan bersama vaksin DPT dan Hib.
b) Inactivated Polio Vaccine (IPV)
Vaksin tipe ini berisi PV 1,2,3 yang dibiakkan pada sel-sel vero ginjal kera
dan diinaktivasi dengan formaldehid. Pada vaksin tersebut juga ada neomisin,
streptomisin dan polimiksin B. Vaksin harus disimpan pada suhu 2-8 oC dan tidak
boleh dibekukan. Dosis 0.5 ml dengan suntikkan subkutan dalam 3 kali berturut-
turut dengan jarak 2 bulan antara masing-masing dosis akan memberikan
imunitas jangka panjang (mucosal maupun humoral). Imunitas mucosal yang
ditimbulkan oleh IPV lebih rendah dibandingkan dengan yang ditimbulkan OPV.1,2
Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI)

18
Kasus poliomyelitis yang berkaitan dengan vaksin telah dilaporkan terjadi
pada resipien (VDPV=vaccine derived polio virus) atau kontak (VAPP=vaccine
associated polio paralytic). Diperkirakan terdapat satu kasus poliomyelitis
paralitik yang berkaitan dengan vaksin terjadi setiap 2.5 juta dosis OPV yang
diberikan. Risiko terjadi paling sering pada pemberian dosis pertama dibanding
dosis berikutnya. Risiko yang relative kecil pada poliomyelitis yang ditimbulkan
pemberian OPV ini tidak boleh diremehkan, namun tidak cukup untuk
mengadakan perubahan terhadap kebijakan imunisasi, karena vaksinasi tersebut
terbukti sangat berguna. Setelah vaksinasi, sebagian kecil resipien dapat
mengalami gejala pusing, diare ringan, nyeri otot.
Kejadian ikutan pasca janin belum pernah dilaporkan, namun OPV jangan
diberikan pada ibu hamil empat bulan pertama kecuali terdapat alasan mendesak
misalnya berpergian ke daerah endemis poliomyelitis.4,6

BAB III
KESIMPULAN

Poliomyelitis adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh


virus. Penyakit ini menyerang pusat saraf dan bisa menyebabkan paralysis total.
Bisa menyerang berbagai usia tapi lebih sering anak-anak. Virus masuk ke tubuh
lewat saluran pencernaan dan bermultiplikasi di usus. Lalu menyebar melalui
limfogen atau hematogen menuju system saraf pusat.

19
Gejala bervariasi dari asimtomatik (silent), sampai gejala nonspesifik
seperti demam, kelelahan, sakit kepala, muntah kaku kuduk, nyeri pada
ekstremitas. Cukup sering bermanifes hingga terjadi paralysis atau kelumpuhan.
Kelumpuhan bisa menjadi fatal jika terjadi pada komponen pernafasan yang
menyebabkan terjadinga gagal nafas.
Terapi pada poliomyelitis hingga kini belum ada. Yang bisa dilakukan
adalah penanganan suportif saja. Antara lain antibiotic, analgetik, antipiretik, bidai
atau braces, bantuan nafas mekanis (bila perlu). Nantinya mungkin memerlukan
tindakan tindakan fisioterapi ataupun bedah ortopedi.
Prognosis pada pasien penderita poliomyelitis dari segi angka hidup cukup
baik. Tetapi seringkali poliomyelitis mengakibatkan disabilitas atau keterbatasan.
Angka kematian cukup tinggi pada tipe bulbar, terutama jika menyerang pusat
pernafasan.
Karena belum adanya terapi, maka tindakan preventif sangat memegang
peranan dalam penenggulangan wabah polio. Yaitu penggunaan vaksin polio
untuk memberikan kekebalan pada manusia sebagai host. Vaksin itu sendiri terdiri
dari 2 macam yaitu Oral Attenuated Poliovirus Vaccine (OPV) yang berisi virus
hidup yang dilemahkan. Dan diberikan peroral, dan Inactivated Poliovirus Vaccine
(IPV) yang berisi virus polio yang di nonaktifkan dan diberikan injeksi.
Dengan menyebar luasnya vaksin polio ini maka masyarakat dunia dengan
dipimpin oleh WHO telah berhasil mewujudkan eradikasi global penyakit
poliomyelitis ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI. 2015. Buku Ajar Infeksi dan
Pediatri Tropis. Edisi Kedua, Jakarta.
2. Wikipedia the free Encyclopedia. Poliomyelitis. Last Updated : July, 23rd
2009. (available from : en.wikipedia.org/wiki/Poliomyelitis, cited on : Aug,
5th 2009)

20
3. Simoes, Eric A. F. Polioviruses. 2003. Dalam : Behrman, Kliegman, Arvin
(ed). Nelson Textbook of Pediatrics 17th edition. Elsevier Science. Philadelpia.
WHO
4. World Health Organization. The Disease and The Virus. Dalam : Global
Polio Eradication Initiative.
(available from : www.who.int/topics/poliomyelitis/en/, cited on : Aug, 5th
2009)
5. Estrada, Benjamin MD. Poliomyelitis : Treatment and Medication.
eMedicine. Last Updated : Aug, 15th 2007.
(available from : http://emedicine.medscape.com/article/967950-overview,
cited on : Aug, 5th 2009)
6. Wenner, Kenneth M. MD. Poliomyelitis. Medline Medical Encyclopedia.
Last Updated : January, 22nd 2008.
(available from : www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001402, cited on
: Aug, 5th 2009)
7. Wikipedia the free Encyclopedia. Polio Vaccine. Last Updated : July, 4th
2009. (available from : http://en.wikipedia.org/wiki/Polio_vaccine, cited on :
Aug, 5th 2009)

21