Anda di halaman 1dari 11

PENILAIAN RISIKO KREDIT

Risiko Kredit didefinisikan sebagai risiko ketidakmampuan debitur atau counterparty melakukan pembayaran
kembali kepada bank (counterparty default). Jenis risiko ini merupakan risiko terbesar dalam sistem perbankan
Indonesia dan dapat menjadi penyebab utama bagi kegagalan bank.

Risiko kredit dapat bersumber dari aktivitas bank antara lain aktivitas penyaluran dana bank baik on-maupun
off-balance-sheet. Identifikasi sumber-sumber risiko kredit Bank dilakukan pada tahap Know Your Bank (KYB),
yaitu analisis mengenai kegiatan bisnis utama bank (key business lines) dan struktur neraca & laporan laba rugi
bank.

Beberapa komponen neraca dan transaksi rekening administratif yang dapat menjadi sumber risiko kredit bank
antara lain sebagai berikut:

 Kredit Yang Diberikan (dinilai berdasarkan jenis, sifat, penggunaan, segmentasi debitur, sektor
ekonomi dll)
 Surat Berharga
 PembiayaanNon Cash Loan(NCL)
 PenempatanInterbank (Interbank Call Money)
 Money Market Loan

Secara umum terdapat dua faktor penyebab terjadinya Risiko Kredit yaitu faktor eksternal dan faktor internal
yaitu :
Faktor Eksternal Bank, yaitu 1). Ketiadaan kemauan membayar (willingness to pay) ; terutama akibat masalah
karakter debitur/counterparty, dan dapat disebabkan oleh kelemahan Bank dalam melakukan identifikasi
kelayakan debitur/counterpartydan atau itikad tidak baik Bank dalam kegiatan penyaluran dana, dan 2).
Ketiadaan kemampuan membayar (ability to pay); a.l. disebabkan menurunnya kondisi usaha
debitur/counterparty baik akibat kesalahan pengelolaan (mismanagement) dan atau pengaruh faktor ekonomi
makro atau sektor industri tertentu.

Faktor Internal Bank, yaitu 1).Konsentrasi risiko kredit dalam Portofolio Asset, 2). kelemahan Sistem
Pengendalian dan proses Manajemen Risiko Kredit, 3). Itikad tidak baik Pengurus Bank (antara lain:
Kesengajaan mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam proses penilaian kelayakan kredit dan penyediaan dana
lainnya; Kerjasama/kolusi dengan debitur/counterparty).

Dalam konteks risiko kredit, risiko Inherent (risiko kredit inherent) didefinisikan sebagai risiko yang melekat
pada portofolio asset tanpa mempertimbangkan kecukupan manajemen risiko atau system pengendalian risiko
kredit. Adapun Sistem Pengendalian Risiko Kredit (Risk Control System/RCS) didefinisikan sebagai serangkaian
sistem yang dilakukan bank dalam rangka mengendalikan atau meminimalkan dampak negatif risiko kredit
terhadap kondisi dan kinerja keuangan Bank. RCS ini dapat menjadi “causes” yang berdampak atau tercermin
pada indikator-indikator keuangan lainnya.

(pembahasan lebih rinci mengenai risiko inherent dan RCS dapat dilihat di Penilaian ‘risk profile’ Bank).

Penilaian Risiko Kredit Inheren

Tinggi rendahnya Risiko kredit inherent dalam suatu aktivitas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain :

 Kompleksitas produk atau aktivitas yang dilakukan Bank


 Kerentanan (vulnerability) terhadap perubahan kondisi eksternal
 Jenis atau karakteristik counterparty Bank
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tahapan utama dalam proses penilaian risiko kredit inheren adalah
melakukan Identifikasi key business lines dan key supporting activities. Hasil penilaian ini selanjutnya menjadi
sumber dalam proses penilaian risiko kredit inheren secara bank-wide dan penetapan parameter eksposur
risiko kredit dan kinerja (aspek kuantitatif) risiko kredit.
Secara umum, penilaian eksposur dan kinerja risiko kredit diukur menggunakan parameter parameter Kualitas
Asset, Konsentrasi kredit, Pertumbuhan kredit, dan Kecukupan Agunan / Pencadangan.

Analisis rasio tersebut tidak dilakukan secara individual, melainkan suatu kesatuan dengan memperhatikan
faktor penyebab (root cause analysis), keterkaitan antar rasio (Linkage Analysis) dan dampak suatu rasio
terhadap rasio lain atau kinerja bank (impac tanalysis). Selain hal tersebut, penilaian rasio agar dilakukan
dengan memperhatikan benchmark umum pada industri / peer group.

Penilaian RCS Risiko Kredit

Perhitungan RCS untuk risiko kredit adalah mengacu kepada Pilar Basel II (terdiri dari 25 prinsip yang terbagi
dalam 4 prinsip utama). Sebagaimana disebutkan, di perbankan Indonesia Pilar 2 Basel II berpedoman kepada
PBI 5/8/PBI/2003 sebagaimana telah diubah dalam PBI No. 11/25/PBI/2009 Tentang Penerapan Manajemen
Risiko.

Berikut ini merupakan parameter penilaian RCS (Risk Control System) untuk risiko kredit berpedoman kepada
Basel II dan r

Hasil dari penilaian risiko kredit inherent dan RCS kredit selanjutnya akan menghasilkan net risk atau risiko
komposit untuk risiko kredit. Penilaian risiko kredit inheren dan RCS risiko kredit dapat menimbulkan beberapa
kemungkinan antara lain diilustrasikan : Risiko Inheren bank yang high dan penerapan RCS kredit yang strong
(kuat), akan menghasilkan Net Risk (komposit risiko) di moderate risk atau bahkan low risk.

PENILAIAN RISIKO PASAR

Risiko pasar adalah kerugian pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat
perubahan keseluruhan pada kondisi pasar. Risiko ini dapat bersumber dari trading-book maupun banking
book bank.

Risiko pasar dari trading book (Traded market risk) adalah risiko dari suatu kerugian nilai investasi akibat
aktivitas trading (melakukan pembelian dan penjualan instrumen keuangan secara terus menerus) di pasar
dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini timbul sebagai akibat dari tindakan bank yang secara
sengaja membuat suatu posisi yang berisiko dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dari posisi
risiko yang telah diambilnya. (high risk high return).

Berbeda dengan Traded market risk, risiko pada banking book merupakan konsekwensi alamiah akibat sifat
bisnis bank yang dilakukan dengan nasabahnya. Umumnya, bank mempunyai struktur dana yang sifatnya
jangka pendek / short funding karena kredit yang diberikan umumnya berjangka waktu lebih lama dari
simpanan dana nasabah. (lihat pula artikel risiko pasar).

Risiko pasar terdiri dari empat jenis yaitu :

Risiko Suku Bunga - Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) karena
perubahan suku bunga. Risiko Suku Bunga pada Banking Book merupakan bentuk risiko pasar paling dominan
di perbankan Indonesia yang meliputi repricing risk, yield curve risk, basis risk, options risk. Selain banking
book, Bank wajib pula mengelola risiko harga yang disebabkan oleh eksposur trading book (tanpa memandang
jenis risiko) karena unrealized Mark to Market (MTM) gain/loss berpengaruh secara langsung pada pendapatan
dan atau regulatory capital.

Risiko Nilai Tukar - Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan
nilai tukar valuta asing, termasuk perubahan harga emas dimana.

Risiko Ekuitas – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan
nilai ekuitas, dan mencakup seluruh posisi ekuitas pada kategori AFS (available for sale).

Risiko Komoditas – Risiko kerugian pada posisi keuangan (neraca dan rekening administratif) akibat perubahan
nilai komoditas. Risiko translasi nilai tukar atas seluruh posisi valas (aset dan kewajiban) pada neraca, baik
trading maupun banking book

Sebagaimana mana risiko kredit, penilaian risiko pasar juga dilakukan berdasarkan dua komponen yaitu risiko
pasar inherent dan kualitas sistem pengendalian (RCS – Risk Control System) yang menghasilkan net risk atau
risiko komposit.

Penilaian risiko pasar inherent terdiri dua faktor utama yaitu faktor kuantitatif dan kualitatif. Berikut ini contoh
parameter penilaian risiko pasar inheren :

Faktor Kualitatif :

Karakteristik risiko pasar :

- Jenis aktivitas trading, proprietary trading, market making, brokering

- Jenis instrumen trading : fixed income, derivatif, valas

- Nasabah utama : perusahaan besar, bank, dana pensiun, individual

Trend :

- Pertumbuhan aset yang diperdagangkan

- Pertumbuhan instrumen derivatif

- Pertumbuhan aset jangka panjang dengan suku bunga tetap.

PENILAIAN RISIKO LIQUIDITAS


Risiko Likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari
sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa
menganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Likuiditas sangat penting untuk menjaga kelangsungan usaha
bank. Oleh karena itu, bank harus memiliki manajemen risiko likuiditas bank yang baik.

September 2008 Basel Committee on Banking Supervision (BSBS) mempublikasikan Principles for Sound
Liquidity Risk Management and Supervision sebagai penyempurnaan dokumen tahun 2000 dengan beberapa
rekomendasi berikutyaitu:
• Penetapantoleransi risiko;
• Pemeliharaan tingkat likuiditas yang memadai termasuk melalui cushion berupa aset likuid
• Alokasi biaya, manfaat, dan risiko likuiditas terhadap seluruh aktivitas bisnis bank
• Identifikasi dan pengukuran risiko likuditas, termasuk risiko likuiditas kontinjensi;
• Penyusunan dan penggunaan skenario stress test pada kondisi krisis;
• Penyusunan contingency funding plan (CFP);
• Manajemen risiko likuiditas dan agunan intrahari;
• Pengungkapan publik untuk mendukung disiplin pasar.

Risiko likuiditas ini, dicakup dlm Pilar 2 Basel II, dimana otoritas tdk mewajibkan metode tertentu dlm
pengukuran, melainkan memberi ruang bagi bank untuk melakukan pengukuran sendiri dengan proses Internal
capital adequacy assessment Process (ICAAP). Dengan ICAAP bank harus menetapkan target permodalan yang
sesuai dengan profil risiko dan risk control environment dan untuk selanjutnya otoritas menilai ICAAP bank
secara individual dan kecukupan perhitungan modal bank.

Penting diingat, bahwa penerapan Pilar II harus dilandasi semangat bahwa penambahan modal bukanlah satu-
satunyanya pilihan untuk antisipasi risiko. Hal utama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas
manajemen risiko, yaitu antara lain melalui penetapan limit internal, pemeliharaan alat likuid yang cukup,
serta perbaikan internal control sebagaimana rekomendasi Basel di atas.

Identifikasi sumber risiko likuiditas bertujuan untuk mengetahui jumlah dan trend kebutuhan likuiditas serta
sumber pendanaannya. Sesuai diagram di atas, risiko likuiditas dapat bersumber dari dari dua hal yaitu
langsung dan tidak langsung. Sumber likuiditas langsung dapat bersumber dari al. volatilitas surat berharga
dan konsentrasi sumber dana yang tinggi pada sisi liabilities. Selain sumber risiko likuiditas langsung, terdapat
pula risiko lain yaitu risiko kredit, risiko pasar, dan risiko reputasi yang dapat menimbulkan risiko likuiditas
(Risiko Likuiditas sebagai 2nd order risk).

Dalam menilai risiko likuiditas inheren, indikator yang digunakan adalah komposisi aset, kewajiban, dan
transaksi rekening administratif; konsentrasi aset dan kewajiban; kerentanan pada kebutuhan pendanaan; dan
akses pada sumber-sumber pendanaan. Berikut ini beberapa contoh yang dapat dijadikan parameter penilaian
risiko inherent

Tabel : Contoh Parameter Risiko Likuiditas Inherent

No Indikator Keterangan
1. Komposisi a. Aset Likuid Primer dan Aset Likuid · Aset Likuid Primer adalah aset
Aset, Sekunder yang sangat likuid untuk
Kewajiban, dan Total Aset memenuhi kebutuhan likuiditas
Transaksi atas penarikan dana pihak
Rekening ketiga dan kewajiban jatuh
Administratif tempo.
· Aset Likuid Sekunder adalah
sejumlah aset likuid dengan
kualitas lebih rendah untuk
memenuhi kebutuhan likuiditas
atas penarikan dana pihak
ketiga dan kewajiban jatuh
tempo.
· Rasio dihitung per posisi
penilaian dengan
mempertimbangkan trend
b. Aset Likuid Primer dan Aset Likuid · Pendanaan jangka pendek
Sekunder adalah seluruh dana pihak
Pendanaan Jangka Pendek ketiga yang memiliki tidak
memiliki jatuh tempo dan/atau
dana pihak ketiga yang jatuh
tempo 1 tahun atau kurang.
c. Aset Likuid Primer dan Aset Likuid Pendanaan Non Inti adalah
Sekunder dana pihak ketiga yang
Pendanaan Non Inti menurut bank relatif tidak
stabil atau cenderung tidak
mengendap di bank baik dalam
situasi normal maupun krisis.
d. Pendanaan Non Inti Total pendanaan adalah
Total Pendanaan seluruh sumber dana yang
diperoleh oleh bank baik dana
pihak ketiga maupun pinjaman
yang diterima
e. Pendanaan Non Inti – (Total Aset likuid Aset Likuid adalah penjumlahan
Primer dan Sekunder) dari aset likuid primer dan asset
Total Aktiva Produktif – Aset Likuid likuid sekunder
2. Konsentrasi a. Konsentrasi asset Risiko Likuiditas akan muncul
aset dan apabila terdapat konsentrasi
kewajiban yang material di sisi aset
maupun kewajiban. Sebagi
contoh, di sisi Aset penanaman
dana terkonsentrasi pada aset
b. Konsentrasi kewajiban
non investment grade
mencerminkan tingkat risiko
likuiditas tinggi karena aset
tersebut tidak terjamin dapat
segera dijadikan kas pada saat
dibutuhkan (sulit dijual)
ataupun dapat memiliki nilai
yang lebih rendah (penurunan
nilai aset) pada saat dijual.
3. Kerentanan Kerentanan bank pada kebutuhan Indikator ini membantu menilai
pada pendanaan dan kemampuan bank untuk kebutuhan pendanaan bank
kebutuhan memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut. pada situasi normal maupun
pendanaan krisis dan kemampuan bank
untuk memenuhi kebutuhan
pendanaan tersebut, melalui
analisa laporan maturity profile,
cash flow projections, dan
stress test.
4. Akses pada Kemampuan bank memperoleh sumber- Indikator ini menilai
sumber- sumber pendanaan pada kondisi normal kemampuan untuk
sumber maupun krisis. memperoleh pendanaan antar
pendanaan bank maupun dari pasar
pendanaan merupakan sumber
likuiditas yang penting bagi
bank baik pada kondisi normal
maupun krisis, yang tercermin
dari: Reputasi bank peminjam,
kondisi credit lines, kinerja
akses kepada sumber-sumber
pendanaan dan Dukungan
Perusahaan Induk atau Intra
Group.
Peringkat risiko likuiditas merupakan kesimpulan akhir tingkat risiko likuiditas bank setelah
mempertimbangkan mitigasi yang dilakukan melalui penerapan manajemen risiko.

PENILAIAN RISIKO OPRERASIONAL

Risiko Operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan
manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Sesuai
definisi risiko operasional di atas, kategori penyebab risiko operasional dibedakan menjadi empat jenis yaitu
People, internal proses, system dan eksternal event.

Penyebab risiko operasional (people, internal process, system dan external event) dapat timbul oleh
(contributory factors) antara lain :

 Inadequate segretation of duties - tidak memadainya pemisahan tugas sehingga fungsi dual control
tidak berjalan
 Insufficient training – tidak memadainya training yang diberikan kepada petugas / pejabat bank
 Lack of management supervision - kelemahan supervisi dari manajemen bank

Kelemahan tersebut, yang pada akhirnya memicu kejadian risiko operasional yang berdasarkan type kategori
Basel II yaitu (yang konkretnya dapat dilihat pada artikel tipe kejadian Basel II menurut Basel II) :

 Kecurangan secara Internal (internal fraud) - Kerugian akibat tindakan dari tipe yang dimaksudkan
untuk penggelapan, ketidaksesuaian properti atau pelanggaran peraturan, hukum atau kebijakan
perusahaan, tidak termasuk pembedaan/diskriminasi, yang melibatkan paling tidak satu pihak
internal
 Kejahatan Eksternal (external fraud) - Kerugian akibat kegiatan yang termasuk penipuan,
penyalahgunaan properti atau pelanggaran hukum oleh pihak ketiga
 Praktek Ketenagakerjaan dan Keselamatan Tempat Kerja (employment practices & workplace
safety) - Kerugian yang timbul dari tindakan yang tidak konsisten dengan ketenagakerjaan, dari
pembayaran klaim kecelakan pegawai, atau dari kejadian pembedaan/diskriminasi
 Klien, Produk dan Praktek Bisnis (client, products & business practices) - Kerugian yang timbul akibat
kegagalan yang tidak sengaja atau lalai untuk memenuhi kewajiban profesional terhadap klien
tertentu (termasuk penjaminan dan persyaratan kesesuaian), atau akibat sifat atau rancangan suatu
produk
 Kerusakan Aset Fisik (damage to physical assets) - Kerugian yang timbul dari kerugian atau
kerusakan atas aset fisik akibat bencana alam atau kejadian lain
 Gangguan Bisnis dan Kegagalan Sistem (business disruption & system failures) - Kerugian yang
timbul akibat gangguan bisnis atau kegagalan sistem
 Eksekusi, Pengiriman dan Manajemen Proses (execution, delivery, process management) - Kerugian
akibat kegagalan proses transaksi atau manajemen proses, akibat hubungan dengan perdagangan
counterparties dan vendor

Adapun dampak yang ditimbulkan dari tipe kejadian risiko operasional terdiri dari dua yaitu monetary losses
(berdampak finansil secara langsung) dan non monetary impact yaitu kehilangan / penurunan kesempatan
bank memperoleh pendapatan.
Pemahaman terhadap penyebab, kejadian dan dampak risiko operasional - sebagaimana diagram di atas -
merupakan dasar dalam penilaian profil risiko operasional suatu bank yang mencakup penilaian risiko
operasional inherent dan kualitas penerapan manajemen risiko (risk control system atau risk governance) atas
risiko operasional.

Indikator yang dapat digunakan untuk menilai risiko operasional antara lain adalah karakteristik dan
kompleksitas bisnis bank; sumber daya manusia; teknologi informasi dan infrastruktur pendukung; fraud, baik
internal maupun eksternal; dan kejadian eksternal. Berikut ini beberapa indikator yang dapat digunakan untuk
mengukur risiko operasional inheren yaitu :

Tabel : Contoh Indikator Risiko Operasional Inherent

A INTERNAL PROCESS

1 Kompleksitas Produk & Volume Transaksi

a. Jumlah produk yang dikeluarkan

b. Besarnya volume transaksi

c. Kompleksitas Produk & Transaksi

2 Kompleksitas Produk & Volume Transaksi

a. Jumlah penyimpangan prosedur

b. Jumlah dispute antar unit kerja

c. White Space / Gray Area (Ketidak-jelasan wewenang & Tanggungjawab

d. Banyaknya perpindahan media informasi

e. Ketidakseimbangan beban kerja

f. Aktivitas yang tumpang tindih

g. Pendelegasian wewenang yang kurang

h. Span of Control (lemah)

i. Reporting Lines

j. Line of command (terlalu panjang)

B SYSTEM & INFRASTRUCTURE

1 Infrastruktur yang tidak memadai & kurangnya practical test

a. Tingkat pemenuhan standar infrastruktur


b. Standar pemenuhan kualitas, pemeliharaan dan perbaikan sarana

c. Practical Testing secara berkala atas peralatan

2 Kualitas Program IT & Software

a. Kesesuaian Bisnis bank dengan IT dan software yang dimiliki

b. Prgram pemeliharaan & sistem heldesk

3 Kualitas IT Security & Gangguan dalam Day to Day

a. Kualitas IT Security

b. Frekwensi gangguan dalam day to day

4 Outsourching

a. Dispute dengan vendor

b. Ketergantungan terhadap vendor tertentu

c. Proteksi data dan informasi

C EXTERNAL EVENT

1 Risiko karena external crime

a. Pencurian dan tindak pidana oleh Pihak ketiga

b. Ancaman Keamanan

c. Pengamanan sistem informasi

2 Risiko karena Natural Disaster

a. Kerusakan aset fisik karena bencana alam dan force majeure

b. Bencana alam dan kejadian lainnya

3 Risiko karena aksi teroris dan Politik

a. Kerugian bank akibat teror dan kerusuhan

b. Letak kantor kantor bank

D PEOPLE

1 Kesehatan & keselamatan kerja

2 Turnover karyawan yang tinggi

3 Internal Fraud

4 Pemogokan kerja

5 Praktek manajemen yang buruk

6 Kualitas pelatihan karyawan


7 Tingkat ketergantungan pada karyawan kunci

8 Rogue trader

Untuk penilaian kualitas penerapan manajemen risiko atau Risk Control System atau risk governance, tetap
berpedoman kepada empat prinsip utama sabagaimana dalam risiko yang lain (risiko kredit, risiko pasar, risiko
likuiditas dll).

Peringkat risiko operasional merupakan kesimpulan akhir tingkat risiko operasional bank setelah
mempertimbangkan mitigasi yang dilakukan melalui penerapan manajemen risiko. Untuk menentukan
peringkat tingkat risiko operasional, bank dapat mengacu pada matriks peringkat tingkat risiko di bawah ini.
Matriks ini memberikan arahan mengenai peringkat tingkat risiko yang dihasilkan oleh peringkat risiko inheren
dan kualitas penerapan manajemen risiko bank. Matriks ini tidak bersifat mandatory, sehingga bank dapat
menentukan sendiri peringkat tingkat risiko dengan menggunakan analisis yang komprehensif dan terstruktur
dan didukung dengan fakta-fakta yang relevan.

PENILAIAN RISIKO KEPATUHAN

Risiko kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan
peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.

Pada tahun 2005 BIS (Bank for International Settlements) mengeluarkan panduan tentang Compliance and
Compliance Function in Banks. BIS mendefinisikan risiko kepatuhan sebagai risiko hukum atau regulatory
sanctions, kerugian finansial yang material, atau kehilangan reputasi bank sebagai akibat dari kegagalan bank
mematuhi hukum, pengaturan, aturan, Standar operasional atau kode etik.

Pada prakteknya risiko kepatuhan melekat pada risiko bank yang terkait peraturan perundang-undangan dan
ketentuan lain yang berlaku, seperti risiko kredit (KPMM, Kualitas Aktiva Produktif, PPAP, BMPK) risiko lain
yang terkait

Dalam menilai risiko inheren atas risiko kepatuhan, indikator yang digunakan adalah jenis dan signifikansi
pelanggaran yang dilakukan, frekuensi pelanggaran yang dilakukan atau track record kepatuhan bank, perilaku
yang mendasari pelanggaran, dan pelanggaran terhadap ketentuan atas transaksi keuangan tertentu. Berikut
ini disajikan contoh parameter risiko kepatuhan inherent pada bank :

Tabel : Contoh Parameter Risiko Inheren atas Risiko kepatuhan

No Indikator Keterangan

1. Risiko Inheren

1. Jenis dan signifikansi


1. Jumlah sanksi denda kewajiban membayar yang Jenis dan signifikansi pelanggaran merupakan
pelanggaran yang dikenakan kepada bank dari otoritas jenis dari ketentuan yang dilanggar oleh bank
dilakukan yakni apakah ketentuan yang tergolong
2. Jenis pelanggaran atau ketidakpatuhan yang prudensial atau hanya merupakan pedoman.
Pada prinsipnya sanksi yang dikenakan juga
No Indikator Keterangan

dilakukan oleh bank berbeda terhadap bank atas pelanggaran yang


dilakukannya tersebut.

2. Frekuensi pelanggaran
1. Jenis dan Frekuensi pelanggaran yang sama yang Frekuensi lebih bersifat historical dengan melihat
yang dilakukan atau ditemukan setiap tahunnya dalam 3 tahun terakhir trend kepatuhan bank selama 3 tahun terakhir
track record periode penilaian untuk mengetahui jenis
kepatuhan bank 2. Signifikansi tindak lanjut bank atas temuan tersebut pelanggaran yang dilakukan apakah berulang
ataukah memang atas kesalahan tersebut tidak
dilakukan perbaikan signifikan oleh bank.

3. Pelanggaran terhadap Frekuensi Pelanggaran atas ketentuan pada Dalam hal ini contohnya adalah pelanggaran
ketentuan atas transaksi keuangan tertentu karena tidak sesuai terhadap kode etik bisnis, antara lain UCP, ISDA,
transaksi keuangan dengan kebiasaan yang berlaku (best practice). ICC, ataupun standar-standar lainnya yang
tertentu umumnya digunakan di dunia keuangan.

Sebagaimana risiko lainnya, penilaian Risk Control System / Risk Governance untuk risiko kepatuhan juga
mengacu kepada Pilar 2 Basel II sebagaimana diatur dalam PBI tentang penerapan Manajemen Risiko.

PENILAIAN RISIKO STRATEGIK

Risiko strategik adalah risiko akibat ketidaktepatan bank dalam mengambil keputusan dan/atau pelaksanaan
suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

Risiko Strategik tergolong sebagai risiko bisnis (bussiness risk) yang berbeda dengan jenis risiko keuangan
(financial risk) misalnya risiko pasar, atau risiko kredit. Kegagalan bank mengelola risiko strategik dapat
berdampak signifikan terhadap perubahan profil risiko lainnya. Sebagai contoh, bank yang menerapkan
strategi pertumbuhan DPK dengan pemberian suku bunga tinggi, berdampak signifikan pada perubahan profil
risiko likuiditas maupun risiko suku bunga.

Berdasarkan hal tersebut, maka risiko strategik / stratejik dapat timbul sebagai akibat kelemahan pada
tahapan perencanaan (strategy planning), implementasi (strategy implementation), evalusi (strategy
evaluation) dan analisa perubahan lingkungan (enviromental analysis). Uraian dari masing-masing tahapan
tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Tahapan Perencanaan :
Kesesuaian strategi bank dengan visi, misi, risk profile, risk appetite, risk tollerance dan risk bearing capacity.
Strategi bank tidak hati-hati atau sangat agresif dibsndingkan dengan ukuran dan kompleksitas bank
Tidak dilakukan pengkinian strategi sesuai dengan perubahan yang terjadi sehingga strategi menjadi tidak
efektif dan efisien
Bank terlalu yakin dengan pengalaman sebelumnya, sehingga tidak mau melakukan inovasi sehingga strategi
bank tidak flesibel
Bank lambat dalam merespon perubahan dalam kegiatan operasionalnya sehingga tidak mempertimbangkan
kebutuhan untuk melakukan perubahan strategi.

2. Tahap Implementasi :
• Implementasi bank tidak memadai karena tidak adanya dukungan operasional / fungsional (IT, SDM)
• Bank tidak memiliki SDM berpengalaman dalam mengimplementasi strateginya.
• Sumber daya untuk mengimplementasikan strategi tidak memadai, sehingga tidak memenuhi target yang
telah ditetapkan.
3.Tahap Evaluasi :
• Bank tidak memiliki sistem monitoring untuk mengevaluasi progree dari penetapan strategi bank.
Tahap Analisa Perubahan Bisnis
• Kelemahan bank memenuhi ekspektasi nasabah
• Kelemahan bank menyikapi persaingan

Berikut ini beberapa contoh parameter yang dapat digunakan dalam penilaian risiko inheren atas risiko
strategik yaitu :

No Indikator Keterangan

Risiko Inheren

1. Strategi Bisnis Bank Strategi-berisiko-rendah dan Strategi-berisiko- Strategi berisiko rendah merupakan strategi dimana
tinggi bank melakukan kegiatan usaha dalam pangsa pasar
dan nasabah yang telah dikenal sebelumnya

Strategi berisiko tinggi merupakan strategi dimana


bank berencana untuk masuk dalam area yang baru,
baik dalam bentuk masuk pangsa pasar baru,
menawarkan produk/jasa baru, atau menarik nasabah
baru.

Dalam menilai parameter ini, perlu dipahami bahwa


strategi baru tidak selalu berisiko tinggi dan sebaliknya
strategi lama belum tentu berisiko rendah.

2. Posisi Bisnis Bank Posisi Pangsa Pasar Bank di Industri Dalam hal ini dilihat kondisi atau posisi bank dan
dalam Pasar perbankan keunggulan kompetitif yang dimiliki terhadap
kompetitor, baik terhadap peer group maupun
industri perbankan secara keseluruhan.

3. Pencapaian Rencana Realisasi RBB dibandingkan dengan RBB Evaluasi realiasasi RBB bertujuan melihat efektivitas
Bisnis Bank (RBB) perencanaan strategi bisnis bank.