Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Metodologi adalah persoalan penting dalam ilmu pengetahuan atau sains. Untuk
memperoleh pengetahuan yang sistematis, setiap peneliti bahkan ilmuwan membutuhkan
metodologi. Metodologi merupakan cara-cara yang ditetapkan dengan logika tertentu untuk
melihat realitas atau fenomena oleh para ilmuwan. Ada dua metodologi penelitian yang
pokok dalam ilmu-ilmu sosial yaitu pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Secara
epistemologis, kuantitatif adalah turunan dari positivisme. Positivisme merupakan sebuah
paham dalam ilmu pengetahuan dan filsafat yang berasumsi bahwa pengetahuan yang benar
adalah pengetahuan yang didasarkan pada fakta-fakta positif yang diperoleh melalui proses
penginderaan.

Pendekatan kuantitatif sangat menekankan pada objektivisme dan penggunaan alat


bantu statistik. Sementara pendekatan kualitatif menekankan pada subjektivisme. Pendekatan
kualitatif seperti yang diutarakan Bogdan dan Tylor adalah prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku yang dapat diamati dari
orang-orang (subjek) itu sendiri. Pendekatan ini langsung menunjukkan setting dan individu-
individu dalam setting itu secara keseluruhan, individu dalam batasan yang sangat holistic
(Furchan, 1992).

Sementara itu, ada penulis yang mengartikan tipe penelitian sebagai ‘desain’. Punch
(1998) misalnya, menggolongkan dalam desain penelitian kualitatif, studi kasus, etnografi
dan grounded theory. Denzin dan Lincoln (1994) tampaknya memahami tipe-tipe penelitian
dari sifat dan/atau pendekatan penelitian, misalnya dengan membagi tipe-tipe penelitian
dalam antara lain, studi kasus; etnografi dan observasi partisipatif; fenomenologi,
etnometodologi, praktek-praktek interpretif, metode biografi, dan penelitian klinis. Beberapa
buku lain tampaknya menggolongkan ‘tipe-tipe’ penelitian dari tujuan khususnya. Dalam hal
ini, metode-metode yang ada dapat dipakai dalam tipe tipe penelitian yang berbeda. Yang
dipentingkan adalah bahwa metode-metode yang dipilih akan membantu tercapainya tujuan
khusus dari penelitian.
BAB II

PEMBAHASAN

ETNOMETODOLOGI

A. Pengertian

Etnometodologi adalah salah satu cabang ilmu sosiologi yang mempelajari tentang
berbagai upaya, langkah, dan penerapan pengetahuan umum pada kelompok komunitas untuk
menghasilkan dan mengenali subjek, realitas, dan alur tindakan yang bisa dipahami bersama-
sama (Kuper, 2000).

Etnometodologi dikembangkan oleh Harold Garfinkel (1967) yang selama dua puluh
tahun melaksanakan penelitian di Harvard di bawah Talcott Parson. Talcott Parson memiliki
pengaruh yang sangat besar dalam pertumbuhan dan perkembangan sosiologi di Amerika
bahkan dunia. Sebagian besar melalui penelitian empiris di University of California. Oleh
karena itu, Garfinkel dapat dikatakan sebagai hasil pendidikan sosiologi tradisi Amerika.

Etnometodologi merupakan rumpun penelitian kualitatif yang beranjak dari


paradigma fenomenologi. Ciri utama dari etnometodologi adalah ciri “reflektif”nya, yang
berarti bahwa cara orang bertindak dan mengatur struktur sosialnya adalah sama dengan
prosedur memberikan nilai terhadap struktur tersebut.

Garfinkel berpendapat bahwa untuk mencapai tujuan memerlukan tindakan-tindakan


yang didasarkan pada pengetahuan atas realitas yang nyata. Garfinkel menyadari bahwa
realitas terbagi dan berubah-ubah secara dinamis. Oleh karena itu, ia mengkritik pandangan
Parson berkaitan dengan frame work tentang teori pengetahuan yang mendasari teori-teori
Parson. Menurut Garfinkel, Parson mengasumsikan bahwa pengetahuan yang akurat adalah
dunia eksternal yang didapatkan melalui penerapan aturan-aturan logika empiris. Sebaliknya,
Garfinkel dalam melakukan penelitiannya mendasarkan diri pada sosiologi fenomenologinya
Alfred Schutz yang mengamati bahwa setiap aktor melakukan pendekatan atas dunia sosial
dengan setumpuk ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, yang terdiri dari kontruksi dan
kategori-kategori pengetahuan umum yang berasal dari masyarakat.

Pemikiran Schutz yang diapresiasikan oleh Garfinkel adalah pemikiran yang


menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi
dunia sosial berdasarkan kekuatannya untuk melakukan interpretasi.

11
Garfinkel menyimpulkan bahwa pemahaman atas tindakan-tindakan dan realitas
tersebut mencakup pula suatu proses pengajuan alasan yang saling berkaitan baik sebagian
maupun keseluruhan. Menurut Mannhein (1952), ia mengistilahkan proses ini sebagai metode
penafsiran dokumenter, dalam proses ini, asumsi-asumsi dasar dan prosedur-prosedur
inferensial dipergunakan untuk menyusun keterkaitan antara seseorang aktor atau suatu
realitas dengan aspek-aspek konteks normatif maupun konteks dalam kehidupan nyata.

Garfinkel menunjukkan bahwa deskripsi atau pengkodean tindakan atas realitas


merupakan suatu hal yang pada dasarnya hanya dapat dikira-kira. Kekhususan berbagai objek
dan realitas tertentu tidak memiliki keterkaitan “satu sama lain”. Dengan demikian, proses
penyesuaian ini memerlukan serangkaian tindakan-tindakan penilaian yang diistilahkan
dengan “Praktik-praktik ad hoc”.

B. Inti Etnometodologi

Etnometodologi merupakan suatu studi empiris tentang bagaimana orang menanggapi


pengalaman dunia sosialnya sehari-hari. Etnometodologi mempelajari realitas sosial atas
interaksi yang berlangsung sehari-hari.

Garfinkel tiga hal kunci dasar etnometodologi, yaitu : 1) ada perbedaan antara
ungkapan yang objektif dengan yang diindikasikan 2) refleksitas berbagai tindakan praktis,
dan 3) kemampuan menganalisis tindakan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Bogdan dan Biklen (1982:37) pengertian etnometodologi tidaklah selalu


mengacu pada suatu model atau metode pengumpulan data pada saat peneliti melakukan
penelitian di lapangan, akan tetapi lebih merupakan arah kemana problematika penelitian itu
tertuju. Dengan demikian, etnometodologi mengacu pada suatu studi mengenai bagaimana
seseorang individu dalam suatu komunitas bertindak dan bertingkah laku serta berusaha
memahami kehidupan sehari-hari aktor yang diteliti.

Hal ini sejalan dengan ide Garfinkel yang mengatakan bahwa “I use term
‘ethnomethodology’ to refer to the investigation of the rational properties of indexical
expressions and other practical actions as contingent on going accomplishments of organized
artful practices of everyday live” (Garfinkel 1967:11, Dyson 2001:118). Dengan demikian,
etnometodologi mengisyaratkan upaya mendeskripsikan dan memahami masyarakat dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya bagaimana pola interaksi, cara berpikir, perasaan mereka,
dan cara bicara mereka.

12
Dalam etnometodologi kita mengenal istilah everyday life, common sense
understanding, practical accomplishments, dan routing grounds for social actions (Bogdan
dan Biklen 1982:37, Dyson 2001:120).

C. Contoh penggunaan etnometodologi

Metode etnometodologi pernah digunakan oleh Atkinson (1978) mengenai bunuh


diri dengan mengamati kejadian sehari-hari yang tercatat di kantor polisi melalui catatan-
catatan resmi yang terakumulasi dalam angka-angka statistik resmi.

Kritik terhadap etnometodologi yang gencar diperdebatkan adalah penggunaan


catatan-catatan resmi dari organisasi tertentu memiliki sifat membangun sekaligus
menghancurkan. Langkah itu sebagai langkah yang menghancurkan karena telah menentang
perlakuan sosiologi tradisional. Kesimpulan yang dihasilkan bersifat menghancurkan karena
statistik resmi bisa jadi sangat bersifat tempelan belaka dan tidak ada maknanya sama
sekali.

D. Perbedaan Fenomenologi dan Etnometodologi

Etnometodologi mengambil fenomenologi dan menggabungkannya dengan sosiologi


tradisional untuk menghasilkan suatu perspektif unik yang menekankan pada penelitian
empiris. Ahli etnometodologi cenderung menfokuskan pasa tindakan dan interaksi,
sedangkan ahli fenomenologi pada kesadaran dan budaya. Para etnometodologi cenderung
menekankan keabsahan para aktor, sedangkan fenomenologi meragukannya.

Pembahasan mengenai fenomenologi menurut Edmund Husserl dimulai dengan


pengertian sikap wajar (natural attitude), penggolongan (bracketing), suatu ilmu tentang
kesadaran (consciousness) dan kesengajaan (intentionality). Hal ini diperjelas dan dibahas
oleh Alfred Schutz lewat teorinya mengenai pembedaan dunia sehari-hari dengan ilmu,
maka dia membagi dasar dunia sosial ke dalam empat wilayah, yaitu masa depan
(folgewelt), masa lalu (forwelt), dunia sekitar (umwelt) dan dunia serta (mitwelt) (Ritzer,
1983).

Sementara itu, etnometodologi merupakan metodologi yang dipakai dalam membuat


laporan etnografi, yaitu model penelitian yang mempelajari kultural dan menyajikan
pandangan hidup subjek yang menjadi objek studi dengan landasan filsafat fenomenologi.
Mishler mengemukakan bahwa etnografi menggunakan metode kualitatif dan analisis
holistik, sedangkan Goetz dan LeCompte mengatakan bahwa model ini menggunakan data
empirik atau teori yang dikontruksi di lapangan.

13
E. Mengenal Lebih Jauh Etnometodologi Garfinkel

Etnometodologi telah menyebabkan suatu danpak yang berkelanjutan terhadap


kepekaan terhadap suatu ranah sosial. Etnometodologi menghasilkan dampak luas atas
spektrum ranah yang saling bersinggungan, seperti ranah linguistik (Levinson, 1983) dan
ranah kecerdasan buatan (Suchman, 1987) yang berkaitan dengan komunikasi, tindakan dan
pengajuan alasan praktis.

Penganut teori kritis dalam etnografi mencermati bahwa studi etnografi sudah terlalu
bersifat teoritis dan bersikap netral pada struktur sosial yang ada. Critical Ethnografy
mencermati bahwa struktur sosial, seperti sistem kelas, patriakhat, dan rasisme bertentangan
dengan humanisme (Muhadjir, 2000).

Upaya pokok Garfinkel difokuskan pada studi empirik terhadap keseharian,


aktivitas-aktivitas dan fenomena yang umum. Dia mencoba menjelaskan lewat tulisannya
“Studies in Ethnomethodology” bahwa :

1. Perbincangan keseharian secara umum memaparkan sesuatu yang lebih memiliki


makna daripada kata-kata itu sendiri,

2. Perbincangan itu merupakan praduga konteks makna yang umum

3. Pemahaman dari perbincangan tersebut mengandung suatu proses penafsiran terus


menerus secara Intersubjektif, dan

4. Dengan kejadian keseharian itu seseorang akan mendapatkan suatu pengertian atau
makna ucapan dari orang lain

Garfinkel juga berusaha menggambarkan secara empirik sampai sejauh mana model
sosiologis terhadap manusia dalam masyarakat yang telah memotret individu itu sebagai
boneka yang telah diputuskan. Sebab para sosiolog telah menggambarkan manusia itu
dengan cara yang tidak memadai, yakni tipe mereka itu sama dengan harapan-harapan yang
sudah dilakukan. Hal ini mengakibatkan kerancuan yang sering menghasilkan
kesalahpahaman tentang karakter atau kondisi tindakan manusia yang stabil. Manusia secara
sosiologis dianggap sebagai boneka sosiologis karena individu itu secara tak terelakkan
akan tunduk pada pola-pola budaya resmi dan yang sudah dilegitimasi, dia tidak memiliki
pilihan lain dan tidak memiliki akal sehat keseharian. Eksperimen Garfinkel mengkritik
pendapat ini dan menunjukkan dengan jelas bahwa dalam suatu area tertentu dari kehidupan
masyarakat terdapat perbedaan antara boneka dengan manusia riil dalam masyarakat.

14
Etnometodologi Garfinkel dengan tradisi humanistisnya menegaskan bahwa subject
matter sosiologi jauh berbeda dengan ilmu alam dan mempertanyakan setiap permunculan
yang dianggap sosiolog sebagai realitas. Seseorang yang secara objektif mempelajari dunia
sosial juga harus menyangsikan realitas dunia ini.

Realitas common sense dan eksistensi sehari-hari itu dapat disebut sebagai
kepentingan praktis kita dalam dunia sosial. Kepentingan praktis ini dilawankan dengan
kepentingan ilmiah. Pembahasan realitas common sense oleh Schutz ini memberi Garfinkel
suatu perspektif untuk melaksanakan studi etnometodologi yang lain. Etnometodologi
secara empiris telah mencoba menunjukkan observasi filosofis yang dilakukan oleh Schutz.

Solusi yang diusulkan oleh Garfinkel adalah suatu etnometodologi, penggunaan


rakyat atau metode manusia sendiri dalam sosiologi, sebagai pengganti bagi
empirismekuantitatif dab positivistik di satu sisi dan teori besar tentang struktur di sisi lain.
Garfinkel menggunakan istilah etnometodologi untuk mengacu pada investigasi sifat
rasional dari ekspensi indeksial dan tindakan praktis lain sebagai pencapaian berkelanjutan
bersama dari praktik kehidupan sehari-hari yang beraturan. Ia merinci lima kebijakan yang
harus diikuti etnometodologi :

1. Setiap dan semua setting sosial, baik yang sepele maupun yang penting selalu
terbuka bagi investigasi karena masing-masing merupakan pencapaian praktis dari
anggota-anggotanya. Hubungan sosial apapun tidak memiliki factity yang lebih
besar dari pada suatu pertemuan di ujung jalan yang biasa terjadi.

2. Presentasi argumen, demonstrasi, statistik, dan lain-lain merupakan pencapaian yang


bergantung pada susunan sosial yang menjadi tempat produksinya. Mereka
menggolongkan pembicaraan sebagai terjemahan bagian depan panggung yang
menutupi dan melindungi gangguan, masalah, dan kompromi. Etno dalam segala
situasi harus masuk ke dalam terjemahan-terjemahan ini.

3. Rasionalitas, objektivitas, efektivitas, konsistensi, dan lain-lain dari suatu aktivitas


tidak dapat dinilai berdasarkan standar yang diimpor dari situasi lain (misalnya ilmu,
sosiologi, dan logika formal), tetapi sebagai kesatuan akan situasi tempat terjadinya
aktivitas tersebut.

4. Suatu situasi dikatakan tertib sejauh partisipannya mampu saling memberikan


penilaian yang dapat dipahami tentang situasi tersebut kepada satu sama lain.

15
5. Semuabentuk penyelidikan terdiri dari praktik-praktik yang rinci dan teratur,
sehingga tidak ada perbedaan mendasar antara penilaian sosiologi dan penilaian
setiap hari (Waters, 1994:38-39, Santos, 2001)

Bagi etnometodolog yang bisa diamati langsung adalah upaya orang-orang untuk
menciptakan rasa umum tentang kenyataan sosial. Namun karena posisinya yang masih
samar, maka tak ada prinsip yang dirumuskan dengan baik yang menunjukkan bagaimana
komunitas para aktor secara aktif menegosiasikan citra umum tentang kenyataan.

Wujud salah tafsir itu menyatakan bahwa etnometodologi mewakili suayu korektif bagi
penteorian sosiologis masa kini. Hal ini menjadi asumsi bahwa etnometodologi busa
berfungsi untuk mengecek keandalan dan validitas pengamatan seorang penyelidik dengan
sekaligus memaparkan komunitas ilmiah yang menerima pengamatannya. Padahal
sebenarnya etnometodologi bukan suatu metode penelitian baru, ia tidak menjawab
pertanyaan seputar masalah masyarakat lewat teknik-teknik penelitian baru. Namun, ia
berkenaan dengan studi fenomena dengan menggunakan banyak strategi penelitian, meliputi
varian-varian metode pengamatan dan peserta pengamatan.

Etnometodologi membutuhkan suatu kumpulan asumsi metafisik alternatif tentang sifat


dunia sosial, yaitu :

1. Dalam segala situasi interaksi manusia berupaya membentuk munculnya konsensus


tentang featur dan setting interaksi

2. Featur terdiri dari sikap, pendapat, kepercayaan, dan kognisi lain tentang sifat
lingkungan sosial.

3. Manusia tselibat dalam praktik-praktik dan metode antarpribadi eksplisit dan implisit

4. Praktik dan metode itu dihasilkan dalam memasang dan membongkar “kumpulan
bahan yang didatangkan persepsi oleh manusia yang berinteraksi bahwa lingkungan
masa kini mempunyai struktur yang teratur dan bisa dipahami

5. Konsensus ini muncul juga merupakan refleksi dari pemenuhan tiap peserta terhadap
aturan dan prosedur untuk mengubah-ubah konsensus itu

6. Dalam tiap situasi interaksi, aturan itu tidak bisa digeneralisasikan pada lingkungan
lain.

7. Dengan mengganti aturan, para anggota dalam suatu lingkungan bisa saling
menawarkan munculnya suatu dunia di luar sana yang teratur dan berhubungan yang

16
memaksakan persepsi-persepsi dan tindakan-tindakan tertentu bukan pada bagian
mereka.

ETNOGRAFI

Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan, dengan tujuan utama


memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli. Oleh karena itu,
penelitian etnografi melibatkan aktivitas belajar mengenai dunia orang yang telah belajar
melihat, mendengar, berbicara, berpikir, dan bertindak dengan cara-cara yang berbeda. Untuk
menemukan prinsip-prinsip tersembunyi dari pandangan hidup yang lain, peneliti harus
menjadi murid. Inti etnografi adalah upaya memperlihatkan makna tindakan dari kejadian
yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna terekpresikan secara langsung
dalam bahasa, atau secara tidak langsung melalui kata dan perbuatan. Sistem makna
merupakan kebudayaan mereka, dan etnografi selalu mengimplementasikan teori
kebudayaan.

Etnografi secara harfiah berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis
oleh seorang antropolog atas hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau
sekian tahun. Penelitian antropologis untuk menghasilkan laporan tersebut begitu khas,
sehingga kemudian istilah etnografi juga digunakan untuk mengacu pada metode penelitian
untuk menghasilkan laporan tersebut. Spradley menganggap bahwa etnografi merupakan
satu jenis metode penelitian yang khas. Lebih lanjut dijelaskan bahwa etnografi, baik sebagai
laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian dapat dianggap sebagai dasar dan asal-
usul ilmu antropologi.

Brewer secara eksplisit memberikan definisi etnografi sebagai the “study of people in
naturally occuring getting or ‘fields’ by means of methods which capture their social
meanings and ordinary activities, involving the reseacher participating directly in the setting
if not also the activities, in order to collect data in a systematic manner but without meaning
being imposed on the externally”. Studi tentang masyarakat yang terjadi secara alami atau
‘bidang’ melalui metode yang menangkap makna sosial dan kegiatan biasa, yang melibatkan
peneliti secara langsung dalam penelitian jika tidak hanya kegiatan, dalam rangka
mengumpulkan data secara sistematis tapi tanpa makna yang dikenakan pada eksternal.

17
Jensen dan Jankowski menempatkan etnografi sebagai sebuah pendekatan. Etnografi tidak
dilihat sebagai alat untuk mengumpulkan data tetapi sebuah cara untuk mendekati data dalam
meneliti fenomena komunikasi.

Atkinson dan Hammersley mendefinisikan etnografi sebagai penulisan budaya, deskripsi


tertulis mengenai sebuah budaya berdasarkan temuan-temuan di lapangan. Istilah etnografi
itu sendiri banyak mengandung konstoversi dikalangan akademis, beberapa pakar
mendefinisikan etnografi sebagai sebuah paradigma filsafat yang menuntut peneliti pada
komitmen total, sedangkan para pakar lain menjelaskan bahwa istilah etnografi adalah sebuah
metode yang hanya akan digunakan jika memiliki relevansi dengan objek yang diteliti
(dengan tujuan peneliti). Ethnographic research should have a characteristic ‘funnel’
structure, being progressively focused over its course. Over time the research problem needs
to be developed, and may need to be transformed; and eventually its scope must be clarified
and delimited, and its internal structure explored. In this sense, it is frequently well into the
process of inquiry that one discovers what the research is really about; and not uncommonly
it turns out to be about something rather different from the initial foreshadowed problems.
Secara praktis, istilah etnografi biasanya mengacu pada bentuk-bentuk penelitian sosial
dengan sejumlah ciri khas sebagai berikut :

1. Lebih menekankan upaya eksplorasi terhadap hakekat/sifat dasar fenomena sosial


tertentu, bukan melakukan pengujian hipotesis atas fenomena tersebut.
2. Lebih suka bekerja dengan data tak terstruktur, atau dengan kata lain, data yang
belum dirumuskan dalam bentuk kode sebagai seperangkat katagori yang masih
menerima peluang bagi analisis tertent
3. Penelitian terhadap sejumlah kecil kasus, mungkin hanya satu kasus secara detail.
4. Menganalisis data yang meliputi intrepretasi makna dan fungsi berbagai tindakan
manusia secara eksplisit sebagai sebuah produk yang secara umum mengambil
bentuk-bentuk deskripsi dan penjelasan verbal tanpa harus terlalu banyak
memanfaatkan analisis kuantitatif dan statistik.

18
Asal Mula Etnografi

Awal etnografi berkaitan dengan asal usul ilmu antropologi. Pada abad ke-20, para ahli
antropologi berusaha membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari
masa awal kemuculan manusia di muka bumi sampai masa kini. Mereka semua, tidak pernah
terjun langsung melihat masyarakat primitif yang menjadi objek karangan mereka. Kerangka
evolusi yang dibangun itu dipandang tidak realistik dan tidak didukung bukti nyata. Sedikit-
sedikit mereka mulai sadar untuk melihat sendiri kelompok masyarakat yang menjadi objek
kajiannya, demi memperoleh teori yang lebih mantap. Inilah asal mula pemikiran tentang
perlunya kajian lapangan etnografi dalam antropologi.

Pada proses kemunculannya Etnografi (akhir abad ke-19). Etnografi mula-mula dilakukan
untuk membangun tingkat-tingkat perkembangan evolusi budaya manusia dari masa manusia
mulai muncul di permukaan bumi sampai ke masa terkini. Tak ubahnya analisis wacana,
mereka ilmuwan antropologi pada waktu itu melakukan kajian etnografi melalui tulisan-
tulisan dan referensi dari perpustakaan yang telah ada tanpa terjun ke lapangan. Namun, pada
akhir abad ke-19, legalitas penelitian semacam ini mulai dipertanyakan karena tidak ada fakta
yang mendukung interpretasi para peneliti. Akhirnya, muncul pemikiran baru bahwa seorang
antropolog harus melihat sendiri alias berada dalam kelompok masyarakat yang menjadi
obyek kajiannya.

Studi etnografi melibatkan serangkaian metodologi dan prosedur interpretasi yang


menempatkan peneliti sebagai instrument dengan observasi parsitipatif, observasi parsitipatif.
Jenis studi ini menuntut komitmen menyeluruh pada kerja-kerja pemahaman. Peneliti
etnografi menjadi bagian dari situasi yang diteliti untuk merasakan bagaimana perasaan
orang-orang dalam situasi tersebut, peneliti etnografi menyatu pada realitas orang-orang
secara sungguh-sungguh.

Etnografi Modern

Etnografi ini dipelopori oleh ahli antropologi sosial, A.R RadclifFee-Brown dan B.
Mallinowski pada dasawarsa 1915-1925 d Inggris. Ciri khusus kegiatan mereka, yaitu mereka
tidak teriak memandang penting hal-ihwal yang berhubungan dengan jarak kebudayaan status
kelompok masyarakat. Fokus utamanya adalah kehidupan masa kini yang sedang dijalani
oleh anggota masyarakat yaitu tentang viay of lifemasyarakat tersebut.

19
Etnografi Baru

Etnografi baru adalah suatu aliran etnografi yang mulai bei kembang sejak tahun 1960-an dan
mempunyai nama lain cognitive anthropology atau ethnoscience. Aliran ini memusatkan
usahanya untu menemukan bagaimana berbagai masyarakat mengorganisasikan budaya
mereka dalam pikiran mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan.

Etnografi Baru Ala Spradley

Dalam hal ini, Spradley masih mengikuti aliran antroplogi kognitif, namun secara lebih
khusus, Spradley mendefinisikan budaya sebagai sistem pengetahuan yang diperolah manusia
melalui proses belajar yang mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia sekeliling
mereka dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekeliling
mereka. Selain itu, Spradley juga tidak lagi menganggap antropologi sebagai satu ilmu
tentang“other cultures”,yaitu mengenai masyarakat kecil yang terisolasi dan hidup dengan
teknologi sederhana. Dia telah menjadi alat yang mendasar untuk memahami masyarakat
Spradley menggunakan metode panduan yang khas untui mempelajari etnografi (dengan jalan
mengerjakan dan melakukan sendiri; secara sistematis, terarah, dan efektif. Metode itu adalah
Developmem Research Sequenceatau “Alur Penelitian Maju Bertahap”. Metode ini memiliki
lima prinsip.

Pertama, teknik tunggal di mana peneliti dapat melakukan berbagai teknik penelitian secara
bersamaan dalam satu fase penelitian. Kedua, identifikasi tugas, yaitu peneliti harus
mengenali langkah- langkah pokok yang harus dilaluinya dalam menjalankan teknik tersebut
Ketiga,setiap langkah pokok tadi, sebaiknya dijalankan secara berurutan atau maju bertahap.
Keempat, penelitian orisinal maksudnya mempelajari cara untuk melakukan wawancara
etnografi dengan mempraktiklcannya dalam proyek penelitian sungguhan, bukan sekedar
untuk kepentingan latihan saja. Terakhir, prinsip problem-solvingyang membawa kita kepada
pandangan Spradley mengenai ilmu antropologi, yaitu ilmu yang mempunyai kegunaan
praktis dalam menyelesaikan masalah-m; salah kemanusiaan. Sehinggaseorangpeneliti yang
berhasil, menurut takaran etnograf! adalah juga seorang problem solver.

20
Manfaat Etnografi

Etnografi adalah suatu kebuaayaan yang mempelajari kebudayaan lain. Etnografi merupakan
suatu bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi, dan berbagai
macam deskripsi kebudayaan. Etnografi berulangkah bermakna untuk membangun suatu
pengertian yang sistemik mengenai semua kebudayaan manusia dan perspektif orang yang
telah mempelajari kebudayaan itu. Etnografi didasarkan pada asumsi bahwa pengetahuan dari
semua kebudayaan sangat tinggi nilainya. Asumsi ini

Beberapa Prinsip dalam Etnografi

Informan adalah manusia yang mempunyai masalah, keprihatinan, dan kepentingan. Nilai
yang dipegang oleh etnografer tidak selalu sejalan engan nilai yang dipegang oleh informan.
Beberapa prinsip etika yang didasarkan pada nilai-nilai yang mendasari.

1. Mempertimbangkan informan terlebih dahulu


2. Mengamankan hak-hak, kepentingan, dan sensitivitas informan bila penelitian
melibatkan
3. Menyampaikan tujuan penelitian
4. Melindungi privasi informan
5. Jangan mengeksploitasi informan
6. Memberikan laporan kepada informan

Wawancara Etnografi

Ketika kita mempelajari wawancara etnografi sebagai wawancara percakapan, maka kita
melihat bahwa banyak ciri yang sama dengan percakapan persahabatan. Dalam kenyataan,
seorang etnografer berpengalaman seringkali mengumpulkan banyak data melalui
pengamatan terlibat serta berbagai macam percakapan sambil lalu, percakapan persahabatan.
Mereka mungkin mewawancarai orang-orang tanpa kesadaran orang-orang itu, dengan cara
sekadar melakukan percakapan biasa, tetapi etnografer memasukkan beberapa pertanyaan
etnografis ke dalam pertanyaan itu. Tiga unsur etnografi yang paling penting ialah tujuan
yang eksplisit, penjelasan, dan pertanyaannya yang bersifat etnografi:

21
1. Tujuan yang eksplisit
2. Penjelasan etnografi
3. Pertanyaan etnografi
4. Membuat Catatan Etnografi

Langkah berikutnya dalam pendekatan “Alur Penelitian Maju Bertahap” adalah mulai
mengumpulkan catatan penelitian. Bahkan sebelum melakukan kontak dengan seorang
informan, etnografer akan mempunyai berbagai kesan, pengamatan, dan keputusan untuk
dicatat. Ketika melakukan penelitian pada suatu komunitas asing, maka dibutuhkan waktu
berminggu- minggu atau berbulan-bulan sebelum melakukan wawancara sistematis dengan
seorang informan. Ketika mempelajari suatu suasana budaya dalam masyarakat kita sendiri,
etnografi paling tidak sudah mempunyai suatu pilihan dan kemungkinan sudah menyaksikan
suatu budaya itu dan pencatatan kesan-kesan pertama ini akan terbukti mempunyai makna
penting nantinya. Yang pasti, kontak pertama dengan seorang informan pantas untuk
didokumentasikan. Dalam langkah ini, kami akan mempelajari sifat dasar suatu catatan
etnografi dan membahas beberapa langkah praktis untuk membuat catatan itu menjadi catatan
yang sangat bermanfaat dalam analisis dan penulisan. Bagian utama suatu catatan etnografi
terdiri atas catatan lapangan i tertulis, baik catatan hasil observasi, wawancara, rekaman,
buku harian, atau dokumen pribadi lainnya.

Membuat Analisis Domain

Dalam langkah terakhir, menyajikan beberapa prosedur analisis untuk melakukan pencarian
domain awal yang memfokuskan pada domain-domain yang merupakan nama-nama benda.
Pencarian awal ini hanya berperan untuk memperkenalkan etnografer pemula dalam
menemukan domain-domain penduduk asli. Sekarang, kita dapat bergerak ke arah prosedur
yang lebih sistematik yang disebut analisis domain yang akan mengarahkan pada penemuan
jenis-jenis domain yang lain. Jika seorang etnografer sementara telah mengidentifikasikan
beberapa domain dalam sebuah kebudayaan, maka ia perlu menguji dengan para
informannya. Pengujian ini dilakukan dengan cara menanyakan beberapa pertanyaan
struktural untuk memperkuat atau melemahkan domain-domain yang telah dihipotesiskan.

22
Langkah-langkah dalam Analisis Domain

1. Langkah satu: memilih satu hubungan semantik tunggal


2. Langkah dua: Mempersiapkan satu lembar kerja analisis domain
3. Langkah Tiga: Memilih satu sample dari statement informan

Analisis Komponen

Analisis komponen merupakan pencarian sistematik berbagai atribut (komponen makna)


yang berhubungan dengan simbol-simbol budaya. Apabila seorang etnografer menemukan
berbagai kontras di antara anggota sebuah kategori, maka kontras ini paling baik jika
dianggap sebagai atribut komponen makna suatu istilah. Kita dapat mengidentifikasikan satu
atribut sebagai elemen informasi apa saja yang berhubungan secara teratur dengan sebuah
simbol. Atribut selalu dihubungkan dengan istilah-istilah asli informan. Dalam menempatkan
sebuah istilah asli informan ke dalam sebuah domain dan taksonomi tertentu. Anda harus
mengisolasi satu hubungan semantik tunggal Dalam membuat analisis komponen, Anda akan
memfokuskan pada hubungan ganda (imultiple) antara sebuah istilah asli informan dengan
simbol-simbol lain. Bahkan ketika kita mengajukan pertanyaan struktural, kebanyakan
informan secara suka rela menyampaikan berbagai hubungan tambahan dan informasi
tambahan (atau atribut tambahan) mengenai berbagai istilah asli informan yang sedang kita
pelajari.

Ada dua cara yang dipakai para antropolog untuk melakukan analisis komponen berbagai
istilah asli informan. Pendekatan pertama telah membatasi dirinya untuk menemukan atribut-
atribut yang dikonseptualisasikan oleh informan. Tipe analisis komponen ini mencoba untuk
menemukan realitas psikologis dunia informan dan merupakan pendekatan yang dipakai
dalam buku ini. Pendekatan kedua membebaskan penggunaan konsep mereka sendiri tanpa
memperhatikan apakah analisis mereka merefleksikan atribut-atribut yang menonjol bagi
mereka yang mengetahui kebudayaan itu. Tipe analisis ini berupaya menemukan realitas
struktural yang tidak sejalan dengan persepsi informan.

23
Langkah-langkah Pembuatan Analisis Komponen

1. Langkah satu: memilih sebuah rangkaian kontras untuk analisis.


2. Kedua: menemukan semua kontras yang telah ditemukan sebelumnya.
3. Ketiga: mempersiapkan sebuah kertas kerja paradigma yang berisi sebuah paradigma
kosong yang diisi istilah-istilah asli informan beijudul “rangkaian kontras”.
4. Keempat: mengidentifikasi dimensi-dimensi kontras yang mempunyai nilai kembar.
5. Kelima: menggabungkan dimensi-dimensi kontras yang sangat terkait menjadi
dimensi kontras yang mempuyai nilai ganda.
6. Keenam: mempersiapkan pertanyaan kontras untuk memperolah atribut-atribut yang
hilang serta dimensi-dimensi kontras yang baru.
7. Ketujuh: melakukan sebuah wawancara untuk memperoleh data yang diperlukan.
8. kedelapan: mempersiapkan sebuah paradigma lengkap, yaitu dengan melengkapi
paradigma yang sebagian telah dianalisis sebelum wawancara itu..

24
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kemunculan metode etnometodologi sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap
pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional yang dianggapnya mengekang kebebasan
peneliti. Peneliti konvensional selalu dilengkapi asumsi, teori proposisi dan kategori yang
membuat peneliti tidak bebas di dalam memahami kenyataan sosial menurut situasi dimana
kenyataan sosial tersebut berlangsung. Etnometodologi ditujukan untuk meneliti aturan
interaksi sosial sehari-hari yang berdasarkan akal sehat, yaitu sesuatu yang biasanya diterima
begitu saja, asumsi asumsi yang berada di baliknya dan arti yang dimengerti bersama. Inti
dari etnometodologi adalah mengungkapkan dunia akal sehat dari kehidupan sehari-hari.
Penelitian etnografi juga merupakan kegiatan pengumpulan bahan keterangan atau
data yang dilakukan secara sistematik mengenai cara hidup serta berbagai aktivitas sosial dan
berbagai benda kebudayaan dari suatu masyarakat. Berbagai peristiwa dan kejadian unik dari
komunitas budaya akan menarik perhatian peneliti etnografi. Peneliti justru lebih banyak
belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya.
Itulah sebabnya pengamatan terlibat menjadi penting dalam aktivitas penelitian.

B. SARAN

Sesungguhnya adalah penting bagi peneliti untuk mempelajari bahasa setempat,


namun, telah menawarkan sebuah cara, yakni dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
etnografis. Sehingga menghasilkan sebuah deskripsi kebudayaan.
Dalam etnometodologi dan etnografi, bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek
kegramatikalannya, melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa
yang mereka ujarkan. Dengan kata lain, kajian bahasa dalam etnometodologi dan etnografi
lebih ditekankan pada komunikasi, bukan tata bahasa.

25