Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM PROSES KIMIA

MATERI
REAKTOR IDEAL ALIRAN KONTINYU

HALAMAN JUDUL

Oleh:
Endah Budiarti NIM. 21030115120094
Muhammad Ibnul Baasith NIM. 21030115130202
Shanintya Dhivya Astrinia NIM. 21030115120061

LABORATORIUM PROSES KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM PROSES KIMIA

MATERI
REAKTOR IDEAL ALIRAN KONTINYU

HALAMAN JUDUL

Oleh:
Endah Budiarti NIM. 21030115120094
Muhammad Ibnul Baasith NIM. 21030115130202
Shanintya Dhivya Astrinia NIM. 21030115120061

LABORATORIUM PROSES KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan resmi praktikum berjudul Reaktor Ideal Aliran Kontinyu yang disusun
oleh:
Kelompok : 3 / Selasa
Anggota : Endah Budiarti NIM: 21030115120094
Muhammad Ibnul B. NIM: 21030115130202
Shanintya Dhivya A. NIM: 21030115120061
Telah disetujui oleh dosen pengampu materi Reaktor Ideal Aliran Kontinyu pada
hari :
tanggal :

Semarang, 12 November 2017


Mengetahui,
Dosen Pengampu, Asisten Pengampu,

Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng. Ph.D. Gabriella Ardhya Puspita


NIP.196711141993031001 NIM.21030115140154

ii
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

RINGKASAN

Reaktor tangki berpengaduk merupakan reaktor yang paling sering dijumpai


dalam industri kimia. Hal ini dikarenakan kemampuan operasinya yang dapat diatur
kapasitasnya. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan harga orde reaksi
penyabunan etil asetat dengan NaOH, menghitung harga konstanta reaksi (k)
penyabunan etil asetat dengan NaOH, mengetahui pengaruh volume terhadap konstanta
reaksi (k) penyabunan etil asetat dengan NaOH, dan membandingkan hasil percobaan
dengan perhitungan mode matematis reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran
kontinyu.
Untuk menetukan sifat reaksi apakah berjalan eksotermis atau endotermis maka
perlu membuktikan dengan menggunakan panas pembentukan standar (∆H°f) pada 1
atm dan 298 K dari reaktan dan produk. Apabila ∆H bernilai negatif maka reaksi yang
berlangsung adalah reaksi eksotermis yang menghasilkan panas, dan sebaliknya jika ∆H
bernilai positif maka reaksi berlangsung secara endotermis. Sedangkan untuk
menentukan sifat reaksi apakah berjalan searah atau bolak balik dapat diketahui dari
nilai konstanta keseimbangan reaksi. Jika harga konstanta keseimbangan besar, maka
reaksi berlangsung searah (irreversible). Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi
harga kosntanta, diantaranya frekuensi tumbukan, energi aktivasi, suhu, dan katalis.
Pada praktikum ini, bahan yang digunakan adalah NaOH, etil asetat, HCl,
indikator MO, dan aquadest. Sedangkan alat yang dipakai antara lain pipet, termometer,
reaktor batch, dan rangkaian alat reaktor aliran kontinyu. Mula-mula percobaan
dilakukan secara batch, dimulai dengan menyiapkan bahan, merangkai alat, lalu
mencampurkan bahan ke dalam tangki, dan mengambil sampel 7,5 ml tiap 1 menit, dan
dititrasi hingga 3 kali konstan. Setelah percobaan batch dilakukan pada semua variabel,
percobaan dilanjutkan dengan sistem kontinyu.
Dari hasil praktikum diketahui bahwa variabel 1 (volume etil asetat 500 ml);
variabel 2 (volume etil asetat 1000 ml) dan variabel 3 (volume etil asetat 1500 ml)
merupakan reaksi orde 2. Harga k masing-masing variabel yaitu 0,367 untuk variabel 1;
0,147 untuk variabel 2 dan 1,003 untuk variabel 3.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH
pada volume reaktan yang berbeda untuk konsentrasi yang sama merupakan reaksi orde
2; semakin besar volume reaktan pada konsentrasi yang sama, harga konstanta
kecepatan reaksinya akan semakin menurun, namun pada variabel 3 terjadi peningkatan
harga konstanta laju reaksi karena volume etil asetat lebih besar daripada volume NaOH
menyebabkan reaksi ke arah produk berlangsung semakin cepat.; pada variabel 1, Ca
percobaan memiliki nilai yang lebih besar dari Ca matematis; dan pada variabel 2 dan
3, Ca percobaan memiliki nilai yang lebih kecil dari Ca matematis. Saran untuk
praktikum ini ialah teliti dalam pengamatan TAT; mengatur debit input dan output saat
proses kontinyu harus seimbang; pembuatan larutan NaOH, etil asetat dan HCl harus
sesuai dan tepat; dan pengadukan tangki harus memiliki skala rotasi yang pasti.

iii
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

SUMMARY

Stirrer tank reactor is reactor that is always used in chemical industry. The purpose
of this experiment is to find the value of reaction order, calculate the value of reaction
rate constant (k) and know the effect of volume on reaction rate constant and compare
the result of experiment with mathematical model of saponification reaction of NaOH and
Ethyl Acetate.
To determine the characteristic of the reaction whether it is exotherm or endhoterm,
it needs to be proven with the value of ∆Hf at 298 K and 1 atm. When ∆Hf has negative
value so the reaction is exotherm reaction, and if ∆Hf has positive value so the reaction is
endotherm reaction. While to determine whether the reaction is reversible or irreversible
can be known from the reaction equilibrium constants. If the value is great, the reaction
is irreversible. Some of the factors that affect the value of K, including frequency of
collision, activation energy, temperature and catalyst.
In this experiment, materials used are NaOH, ethyl acetate, HCl, indicator of MO
and aquadest. While the tools used are eyedropper, thermometer, batch reactor and a
series of continue flow reactor tools. The experiment starting with preparing the
materials, stringing the tools, then mix the materials into a tank and take 7,5 ml of sample
each 1 minute. And then titrated up to 3 times constant. After the batch experiments done
for all variables, the experiment continued with a continuous system.
Based on the result of experiment, the reaction order of saponification reaction of
ethyl acetate by NaOH for variable 1 (volume of ethyl acetate = 500 ml), 2 (volume of
ethyl acetate = 1000 ml) and 3 (volume of ethyl acetate = 1500 ml) is 2 nd order. Reaction
rate constants (k) for each variable are 0,367 for variable 1; 0,147 for variable 2; and
1,003 for variable 3.
So, it can be concluded that saponification reaction of ethyl acetate by NaOH with
different volume of reactants for the same concentration causes the reaction rate constant
to decrease. But in variable 3, the value of its rate reaction constant increased. That
phenomena could happen because the volume of ethyl acetate was greater than the
volume of NaOH, causing the reaction equilibrium to shift to the product, so that the
reaction to product goes faster. In variable 1, the value of experimental Ca was smaller
than the mathematic Ca while for variable 2 and 3 exhibited the opposite. The suggestion
during this experiment is to be careful when observing the final titration point; set the
flow rate of input and output equally; make NaOH, ethyl acetate and HCl solution
appropriately; and the mixing in the tank should have fixed rotation scale.

iv
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

PRAKATA

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga dapat terselesaikan Laporan Resmi Praktikum Proses
Kimia ini dengan judul “Reaktor Ideal Aliran Kontinyu”. Laporan Praktikum
Proses Kimia ini merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diambil oleh
semua mahasiswa. Dalam penyusunan Laporan Resmi Praktikum Proses Kimia
ini diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan tahapan-tahapan praktikum
dengan proposal yang telah dibuat dan disetujui.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tuhan Yang Maha Esa,
2. Bapak Ir. Didi Dwi Anggoro, M.Eng. Ph.D. selaku penanggung
jawab Laboratorium Proses Kimia dan dosen pengampu materi
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu dalam Laboratorium Proses Kimia,
3. Fachmy Adji Pangestu selaku Koordinator Asisten Laboratorium
Proses Kimia Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro,
4. Gabriella Ardhya Puspita selaku asisten pengampu materi Reaktor
Ideal Aliran Kontinyu dalam Laboratorius Proses Kimia,
5. Seluruh Asisten Laboratorium Proses Kimia Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro,
6. Teman-teman dan pihak-pihak yang telah banyak membantu atas
terselesaikannya laporan praktikum ini.
Disadari adanya keterbatasan di dalam penyusunan laporan ini, diharapkan
kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dalam laporan ini. Diharapkan
laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.

Semarang, 12 November 2017

Penyusun

v
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................. ii
RINGKASAN .................................................................................................... iii
SUMMARY ....................................................................................................... iv
PRAKATA .......................................................................................................... v
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ x
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 1
1.3 Tujuan Percobaan .................................................................................. 2
1.4 Manfaat Percobaan ................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Reaktor Batch ........................................................................................ 3
2.2 Reaktor Ideal Aliran Kontinyu / Reaktor Alir Tangki Berpengaduk
(CSTR) .................................................................................................. 4
2.3 Tinjauan Termodinamika ....................................................................... 7
2.4 Tinjauan Kinetika .................................................................................. 8
2.5 Sifat Fisis dan Kimia Reagen ................................................................. 9
2.6 Menentukan Orde Reaksi ..................................................................... 10
2.7 Menghitung Harga Konstanta Reaksi Penyabunan (k) Etil Asetat dengan
NaOH .................................................................................................. 12
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1 Rancangan Praktikum .......................................................................... 14
3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan .......................................................... 15
3.3 Gambar Rangkaian Alat Percobaan ...................................................... 15
3.4 Respons Uji Hasil ................................................................................ 16
3.5 Prosedur Percobaan ............................................................................. 16

vi
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Penentuan Harga Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH . 18
4.2 Perhitungan Harga Konstanta Kecepatan Reaksi Penyabunan Etil Asetat
dengan NaOH ...................................................................................... 18
4.3 Pengaruh Variabel Volume Etil Asetat terhadap Konstanta Kecepatan
Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH ..................................... 20
4.4 Perbandingan Hasil Percobaan dengan Model Matematis..................... 21
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 24
5.2 Saran ................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 25

vii
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Penentuan harga orde reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH ..... 18
Tabel 4.2 Perhitungan harga konstanta kecepatan reaksi penyabunan etil asetat . 19

viii
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan nerasa massa suatu sistem ...................................................... 3


Gambar 2.2 Grafik trial reaksi orde 1 ................................................................. 11
Gambar 2.3 Grafik trial reaksi orde 2 (Cao = Cbo) ............................................. 11
Gambar 2.4 Grafik trial orde 2 (Cao ≠ Cbo) ....................................................... 11
Gambar 2.5 Grafik trial orde n ........................................................................... 12
Gambar 3.1 Alat utama proses batch .................................................................. 15
Gambar 3.2 Alat utama proses kontinyu............................................................. 16
Gambar 4.1 Harga k pada masing-masing variabel............................................. 20
Gambar 4.2 Perbandingan hasil percobaan dengan model matematis ................. 21
Gambar 4.3 Perbandingan hasil percobaan dengan model matematis ................. 22
Gambar 4.4 Perbandingan hasil percobaan dengan model matematis ................. 22

ix
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

DAFTAR LAMPIRAN

LAPORAN SEMENTARA ............................................................................. A-1


LEMBAR PERHITUNGAN ............................................................................ A-2
REFERENSI.................................................................................................... A-3

x
Laboratorium Proses Kimia 2017
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reaktor tangki berpengaduk merupakan reaktor yang paling sering
dijumpai dalam industri kimia. Pada industri berskala besar, reaktor alir tangki
berpengaduk lebih sering diaplikasikan karena kemampuan operasinya yang
dapat diatur kapasitasnya. Unjuk kerja reaktor alir berpengaduk perlu
dipelajari untuk mengetahui karakteristik aliran fluida, reaksi yang terjadi
secara optimasi pengoperasian reaktor.
Pengoperasian reaktor alir tangki berpengaduk meliputi tiga tahap yaitu
pengisian reaktor tinggi overflow, kondisi kontinyu dan kontinyu steady state.
Evaluasi variabel-variabel operasi sangat mudah dilakukan pada kondisi
steady state.
Pemodelan matematik diperlukan untuk mempermudah analisa
permasalahan yang timbul dalam pengoperasian reaktor alir tangki
berpengaduk. Model matematika yang diusulkan diuji keakuratannya dengan
membandingkan dengan data-data percobaan. Model matematika yang
diusulkan diselesaikan dengan cara analisis jika persamaan itu mudah
diselesaikan. Namun untuk reaksi yang kompleks akan diperoleh model
matematika yang kompleks juga. Penyelesaian numerik sangat dianjurkan
untuk memperoleh nilai k, tetapan transfer massa, dan orde reaksi yang
merupakan adjustable parameter.

1.2 Rumusan Masalah


Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi
berlangsung, baik itu reaksi kimia atau nuklir dan bukan secara fisika. Dalam
industri kimia, sering digunakan reaktor tangki berpengaduk karena
kemampuan operasinya yang dapat diatur kapasitasnya. Terdapat 3 proses
dalam pengoperasian reaktor, diantaranya proses batch, semi-batch dan
kontinyu. Pada praktikum ini dilakukan proses batch, dan semibatch, guna
untuk mengetahui harga orde reaksi, konstanta reaksi, variabel-variabel yang

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 2

berpengaruh terhadap konstanta reaksi, dan membandingkan perhitungan


model matematis penyabunan eitl asetat dengan NaOH.

1.3 Tujuan Percobaan


1. Menentukan harga orde reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH.
2. Menghitung harga konstanta reaksi (k) penyabunan etil asetat dengan
NaOH.
3. Mengetahui pengaruh volume etil asetat terhadap konstanta reaksi (k)
penyabunan etil asetat dengan NaOH.
4. Membandingkan hasil percobaan dengan perhitungan model matematis
reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran kontinyu.

1.4 Manfaat Percobaan


1. Mahasiswa dapat menentukan harga orde reaksi penyabunan etil asetat
dengan NaOH.
2. Mahasiswa dapat menghitung harga konstanta reaksi (k) penyabunan etil
asetat dengan NaOH.
3. Mahasiswa mampu mengetahui pengaruh volume etil asetat terhadap
konstanta reaksi (k) penyabunan etil asetat dengan NaOH.
4. Mahasiswa mampu membandingkan hasil percobaan dengan perhitungan
model matematis reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran kontinyu.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Reaktor Batch


Neraca bahan pada reaktor secara simultan

Gambar 2.1 Bagan nerasa massa suatu sistem


input = 0
output = 0
Reaktan yang bereaksi = (-rA)
Input = output + reaktan yang bereaksi + akumulasi
𝑑 𝑁𝐴
0 = 0 + 𝑣 −𝑟𝐴 + …(1)
𝑑𝑡

𝑑 𝑁𝐴𝑂 −(1−𝑋 𝐴 )
0 = 𝑉𝑖 −𝑟𝐴 + …(2)
𝑑𝑡
𝑁𝐴𝑂 𝑑𝑋 𝐴
0 = 𝑉𝑖 −𝑟𝐴 + …(3)
𝑑𝑡
𝑁𝐴𝑂
𝑑𝑡 = 𝑉𝑖 𝑑𝑋𝐴 …(4)
−𝑟 𝐴

𝑋 𝐴 𝑑𝑋 𝐴
𝑡 = 𝑁𝐴𝑂 0 𝑉𝑖 −𝑟 𝐴
…(5)

Pada volume konstan


CA = CAo (1-XA)
dCA = -CAo.dXA …(6)
Pers. (6) masuk ke pers. (5) diperoleh
𝑋 𝐴 𝑑𝑁 𝐴 𝐶𝐴 𝑑𝐶 𝐴
𝑡 = 𝐶𝐴𝑂 0 −𝑟 𝐴
=− 𝐶𝐴 0 −𝑟 𝐴
…(7)

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 4

2.2 Reaktor Ideal Aliran Kontinyu / Reaktor Alir Tangki Berpengaduk


(CSTR)
Tahapan yang terjadi pada reaktor CSTR ini terbagi dalam 3 tahap proses,
yaitu:
a. Tahap Pertama
Tahap pertama dimulai saat t = 0 sampai terjadi overflow
Dari hukum kekekalan massa
Akumulasi = input-output
𝑑𝑣
𝜌 𝑑𝑡 = 𝜌 𝐹𝑜 − 0 …(8)

dV = Fo.dt , pada t = 0 → V = 0
karena densitas laju alir dianggap konstan maka volumenya hanya
merupakan fungsi dari waktu.
V = Fo.T …(9)
Sedangkan dari neraca komponen:
Akumulasi = input – output – laju konsumsi karena reaksi
𝑑
𝑉. 𝐶 = 𝐹𝑜. 𝐶𝑜 − 0 − 𝑉(−𝑟𝐴) …(10)
𝑑𝑡

Dalam hal ini:


V = volume bahan dalam reaktor (l)
C = konsentrasi molar reaktan dalam reaktor (mol/l)
Fo = laju alir reaktan masuk (l/ menit)
Co = konsentrasi molar reaktan dalam feed (mol/l)
t = waktu reaksi (menit)
-rA = kecepatan reaksi (mol/menit)
Reaksi yang terjadi:
A+B→C+D
-rA= k CACB karena CA = Cb maka,
-rA= k CA2 =k C2 ...(11)
Pers. (11) → pers. (10)
𝑑
𝑉. 𝐶 = 𝐹𝑜. 𝐶𝑜 − V. k. 𝐶 2
𝑑𝑡
𝑑𝐶 𝑑𝑉
𝑉 𝑑𝑡 + 𝐶 = 𝐹𝑜. 𝐶𝑜 − V. k. 𝐶 2 ...(12)
𝑑𝑡

Pers. (9) → pers. (12)

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 5

𝑑𝐶
𝐹𝑜. 𝑡. 𝑑𝑡 + 𝐶. 𝐹𝑜 = 𝐹𝑜. 𝐶𝑜 − 𝐹. 𝑡. 𝑘. 𝐶 2 …(13)
𝑑𝐶 𝐶𝑜 𝐶
= − 𝑡 − 𝑘. 𝐶 2 𝐹 …(14)
𝑑𝑡 𝑡

Dengan menggunakan boundary condition pada t=0 , C = Co dan


substitusi U = exp [k∫𝐶𝑑𝑡] maka pers. (14) menjadi:
𝑑2 𝑈 𝑑𝑈
𝑡 2 𝑑 𝑡 2 + 𝑡 𝑑𝑡 − 𝑘. 𝑈. 𝐶𝑜. 𝑡 = 0 …(15)

Pers. (15) diubah menjadi fungsi Bessel dengan substitusi z = t 0,5 ,


menjadi:
𝑑2𝑉 𝑑𝑉
𝑧 2 𝑑 𝑡 2 + 𝑧 𝑑𝑡 − 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 2 . 𝑢 = 0 …(16)

Pers. (16) merupakan modifikasi pers. Bessel yang mempunyai bentuk


umum sebagai berikut:
𝑑2𝑦 𝑑𝑦
𝑥2 𝑑𝑡 2
+ 𝑥 𝑎 + 2𝑏𝑥 𝑟 𝑑𝑥
+ 𝑐 + 𝑑𝑥 2𝑠 − 𝑏 1 − 𝑎 − 𝑟 𝑥. 𝑟 + 𝑏2 . 𝑥 2 . 𝑟 . 𝑦 = 0

...(17)
Dari pers. (5) didapatkan:
a=1
r=0
1 1−𝑎 2
p= −𝑐 =0
s 2

b=0 s=0 p=0


𝑑
c=0 d = -4.k.Co = imajiner
𝑠

Sehingga penyelesaian pers. (16) adalah:


𝑈 = 𝐶1 . 𝑧𝑝 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 + 𝐶2 . 𝑧𝑝 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 …(18)
Pada t = 0, z = 0 → zp = ~
Sehingga Cz = 0
𝑈 = 𝐶1 . 𝑧𝑝 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧

𝑑
Karena p = 0 dan = imaginer
𝑠

Maka = 𝑈 = 𝐶1 . 𝑧𝑝 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧
𝑑𝑈 𝑑
= 𝑑𝑧 𝐶1 . 𝐼𝑜 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 …(19)
𝑑𝑡

Dari Sherwood halaman 178 pers. (5.83) didapatkan

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 6

𝑑𝑈
= 𝐶1 . 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 𝐼𝑜 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 …(20)
𝑑𝑡

Dari substitusi semula, diperoleh:


𝑑𝑈
= 2. 𝑘. 𝐶𝑧 . 𝐶1 . 𝐼𝑜 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 …(21)
𝑑𝑡

Maka pers. (14) dan (15) diperoleh:


𝐶1 . 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 𝐼𝑜 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧 = 𝑘. 𝐶. 𝐶1 . 𝐼𝑜 4. 𝑘. 𝐶𝑜. 𝑧
4.𝑘 .𝐶𝑜.𝑧 𝐼𝑜 4.𝑘 .𝐶𝑜.𝑧
𝐶= 𝑘 .𝐶2 .𝐶.𝐼𝑜 4.𝑘 .𝐶𝑜.𝑧

𝐶 .𝑇 2 𝑘 .𝐶𝑜.𝑇
𝐶 = 𝑘 0.𝑡.𝑇1 …(22)
𝑜 2 𝑘.𝐶𝑜.𝑇

b. Tahap Kedua
Pada tahap ini proses berjalan kontinyu, namun belum tercapai kondisi
steady state. Dapat dinyatakan dengan:
𝑑𝑉
C = f(t) dan V= konstan =0
𝑑𝑡

Dari neraca massa komponen diperoleh:


𝑑
𝑉. 𝐶 = 𝐹𝑜. 𝐶𝑜 − V. k. 𝐶 2 …(23)
𝑑𝑡
𝑑𝐶 𝑑𝑉
𝑉 𝑑𝑡 − 𝐶 = 𝐹𝑜. 𝐶𝑜 − 𝐹. 𝐶 − k. V. 𝐶 2 …(24)
𝑑𝑡

Apabila T = t – Ť waktu, menit


𝑉
Ť = 𝐹 konstanta waktu

Pers. (24) menjadi


𝑑𝐶 𝐶𝑜 𝐶
= − Ť k. 𝐶 2 …(25)
𝑑𝑡 Ť

Pada keadaan steady state C = Co


Penyelesaian partikular pers. (25) adalah C – Cs, dimana Cs adalah
konsentrasi pada keadaan steady.
Substitusikan C = Cs + 1/s
Pers. (25) berubah menjadi pers. diferensial orde 1 yang mana dapat
diselesaikan dengan metode faktor integrasi
1
𝐶 − 𝐶𝑜 = 𝐾 …(26)
𝐵.𝑠𝑥𝑝 𝐴𝑇 −
𝐴

C1 adalah konsentrasi awal tiap tahap kedua yaitu pada saat t = Ť yang
diperoleh dengan pengukuran konsentrasi contoh.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 7

c. Tahap Ketiga
Pada tahap ini proses berjalan dalam keadaan steady state dan akumulasi =
0
Dari neraca komponen, diperoleh:
F – Co = F.C + Vr …(27)
F – Co = F.C + V.k.Cs2 …(28)
Co = Cs + 𝑉𝐹 k. Cs2 …(29)
2
k. Ť. Cs + Cs – Co = 0 …(30)
Apabila k diketahui maka Cs dapat diprediksikan. Sebaliknya apabila Cs
diukur maka nilai k dapat dihitung. Pers. (30) merupakan persamaan
aljabar biasa dan dapat diselesaikan dengan mudah.

2.3 Tinjauan Termodinamika


Reaksi = CH3COOC2H5 + NaOH → CH3COONa + C2H5OH
Untuk menetukan sifat reaksi apakah berjalan eksotermis / endotermis
maka perlu membuktikan dengan menggunakan panas permbentukan standart
(ΔH°f) pada 1 atm dan 298 K dari reaktan dan produk.
ΔH298 = ΔHreaktan - ΔHproduk
Diketahui data sebagai berikut:
ΔH CH3COOC2H5 = -444.500 J/mol
ΔH NaOH = -425.609 J/mol
ΔH CH3COONa = -726.100 J/mol
ΔH C2H5OH = -235 J/mol
Sehingga,
ΔH reaksi = (ΔH CH3COONa + ΔH C2H5OH) – (ΔH CH3COOC2H5 +
ΔHNaOH )
= (-726.100 + -235.609) – (-444.500 - 425.609)
= -91600 J/mol
Karena ΔH bernilai negatif maka reaksi yang berlangsung adalah reaksi
eksotermis yang menghasilkan panas.
Reaksi = CH3COOC2H5 + NaOH → CH3COONa + C2H5OH

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 8

Untuk menentukan sifat reaksi apakah berjalan searah atau bolak balik
dapat diketahui dari nilai konstanta keseimbangan reaksi. Pada suhu kamar
diperoleh data:
ΔG CH3COOC2H5 = -328 000 J/mol
ΔG NaOH = -379 494 J/mol
ΔG CH3COONa = -631 200 J/mol
ΔG C2H5OH = -168 490 J/mol
Sehingga,
ΔG reaksi = ΔG produk - ΔG reaktan
= [ΔG CH3COONa + ΔG C2H5OH] – [ΔG
CH3COOC2H5 + ΔG NaOH]
= [-631 200 - 168 490] J/mol – [-328 000 -379 494]
J/mol
= -92196 J/mol
𝑑 ΔH
(ΔG/RT) =
𝑑𝑡 𝑅𝑇 2

ΔG = RT ln K
K pada standar 298° K = 𝑒(−Δ𝐺/𝑅𝑇)
Dari data di atas diperoleh nilai konstanta keseimbangan pada temperature 298
K adalah 4,179 x 1067. Pada temperature operasi, harga K dihitung dengan
persamaan:
𝐾 ΔH 1 1
ln(𝑘′) = − ( − 𝑇)
𝑅𝑇 2 𝑇

T = 27oC (suhu ruang) = 300 K


4,19.10−67 91091 1 1
ln ′
= − ( − )
k 1,987 298 300
k’ = 1.168 x 10-66
Karena harga konstanta keseimbangan kecil, maka reaksi berlangsung searah
(irreversible).

2.4 Tinjauan Kinetika


Ditinjau dari kinetika reaksi, kecepatan reaksi saponifikasi etil asetat
dengan NaOH akan makin besar dengan kenaikan suhu, adanya pengadukan

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 9

dan perbedaan konsentrasi. Hal ini dapat dijelaskan oleh persamaan Arrhenius
yaitu:
𝐸𝐴
𝑘 = 𝐴𝑒 −𝑅𝑇
Dengan:
k = konstanta laju reaksi
A = faktor frekuensi atau faktor pre-eksponensial
T = suhu
EA = Energi aktivasi
R = konstanta gas ideal
= 1,98 cal/gm-mol.oK
= 1,98 Btu/lb-mol.oR
= 82,06 cm3.atm/gm-mol.oK (Levenspiel, 1999)
Berdasarkan persamaan Arrhenius dapat dilihat bahwa konstanta laju reaksi
dipengaruhi oleh nilai faktor frekuensi tumbukan, suhu, dan energi aktivasi.

2.5 Sifat Fisis dan Kimia Reagen


1. NaOH

Sifat fisis:
- Berat Molekul = 40 gr/mol
- Titik didih = 134 °C
- Titik lebur = 318,4 °C
- Berat jenis = 2,130 gr/mol
o
- Kelarutan dalam 100 bagian air dingin 10 C = 42
- Kelarutan dalam 100 bagian air dingin 100 oC = 32
Sifat kimia:
- Dengan Pb(NO3)2 membentuk endapan Pb(OH) 2 yang larut dalam
reagen excess, merupakan basa kuat, mudah larut dalam air.
2. Etil Asetat
Sifat fisis:
- Berat jenis = 1,356 gr/mol
- Titik didih = 85 °C
- Berat molekul = 88 gr/mol

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 10

- Titik lebur = -111 °C


Sifat kimia:
- Bereaksi dengan Hg+ membentuk endapan Hg2Cl2 putih yang tidak
larut dalam air panas dan asam encer tetapi larut dalam ammonia encer
dan KCN tiosulfat, beraksi dengan Pb2+ membentuk PbCl2 putih,
mudah menguap apabila dipanaskan.
3. HCl

Sifat Fisika:
- Massa atom = 36,45
- Massa jenis = 3,21 gr/cm3
- Titik leleh = -101°C
- Energi ionisasi = 1250 kj/mol
- Kalor jenis = 0,115 kal/gr0C
- Pada suhu kamar, HCl berbentuk gas yang tak berwarna.
- Berbau tajam.
Sifat Kimia:
- HCl akan berasap tebal di udara lembab.
- Gasnya berwarna kuning kehijauan dan berbau merangsang.
- Dapat larut dalam alkali hidroksida, kloroform, dan eter.
- Merupakan oksidator kuat.
- Berafinitas besar sekali terhadap unsur-unsur lainnya, sehingga dapat
beracun bagi pernapasan.

2.6 Menentukan Orde Reaksi


Trial orde reaksi pada reaktor batch
1. Diberikan data waktu (t) dan Ca, Cao adalah Ca pada t=0.
2. Membuat data -ln(Ca/Cao) dan 1/Ca.
3. Pertama menebak “orde reaksi pertama” dengan membuat grafik -
ln(Ca/Cao) vs t, hasil grafik harus lurus.
A. Jika hasil grafik tidak lurus, maka menebak “orde reaksi kedua” dari
grafik antara 1/Ca vs t, hasil grafik harus lurus. (Apabila Cao = Cbo).

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 11

B. Jika hasil grafik tidak lurus, maka menebak “orde reaksi kedua” dari
grafik antara ln Cb/Ca vs t, hasil grafik harus lurus. (Apabila Cao =
Cbo).
Membentuk persamaan y = a + bx , a = intercept dan b = slope dari grafik
log t vs ln Cao.

Gambar 2.2 Grafik trial reaksi orde 1

Gambar 2.3 Grafik trial reaksi orde 2 (Cao = Cbo)

Gambar 2.4 Grafik trial orde 2 (Cao ≠ Cbo)

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 12

Gambar 2.5 Grafik trial orde n


(Levenspiel. O., 1999)

2.7 Menghitung Harga Konstanta Reaksi Penyabunan (k) Etil Asetat dengan
NaOH
Reaksi: NaOH + CH3COOC2H5 CH3COONa + C2H5OH
A+B C+D
Orde reaksi 2
Persamaan kecepatan reaksi:
dCa
−ra = − = 𝑘. 𝐶𝑎. 𝐶𝑏 dimana Ca = Cb
dt
dCa
− = 𝑘. 𝐶𝑎2
dt
dCa
− 𝐶𝑎 2 = k. dt
𝐶𝑎 dCa 𝑡
𝐶𝑎 0
− 𝐶𝑎 2 = 0
k. dt

1 𝐶𝐴
= 𝑘. 𝑡
𝐶𝑎 𝐶𝐴0
1 1
− 𝐶𝑎𝑜 = 𝑘. 𝑡
𝐶𝑎
1 1
+ 𝑘. 𝑡 =
𝐶𝑎 𝐶𝑎𝑜

y = mx + c
Harga k didapat dari least square. Dimana harga k merupakan nilai dari m.
(Levenspiel. O., 1970)
Orde reaksi 1
dCa
−ra = − = 𝑘. 𝐶𝑎
dt

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 13

𝐶𝑎 dCa 𝑡
𝐶𝑎 0
− = 0
k. dt
𝐶𝑎

𝐶𝐴
−𝑙𝑛 𝐶𝑎 = 𝑘. 𝑡
𝐶𝐴0
−(ln𝐶𝑎−ln𝐶𝑎0)=𝑘.𝑡
𝐶𝑎
−𝑙𝑛 𝐶𝑎𝑜 = 𝑘. 𝑡

y = mx

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 14

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Rancangan Praktikum


3.1.1 Skema Rancangan Percobaan

Membuat perhitungan reagen

Merangkai alat reaktor, secara


batch dan kontinyu

Percobaan secara batch

Mengambil sampel 7,5 ml


Volume titran setiap 1 menit, dititrasi
dengan HCl 0,05 N

Percobaan secara kontinyu

Mengambil sampel 7,5 ml


Volume titran setiap 1 menit, dititrasi
dengan HCl 0,05 N

Analisa data

3.1.2 Variabel Operasi


a. Variabel Tetap
 Konsentrasi NaOH 0,07 N
 Konsentrasi Etil Asetat 0,07 N
 Konsentrasi HCl 0,05 N
 Titran diambil 7,5 ml tiap 1 menit, hingga 3 kali konstan
 Pengadukan sedang
 Volume NaOH 1000 ml

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 15

b. Variabel berubah
Volume etil asetat = 500 ml (variabel 1), 1000 ml (variabel 2) dan
1500 ml (variabel 3)

3.2 Alat dan Bahan yang Digunakan


3.2.1 Bahan yang Digunakan
1. NaOH 0,07 N (@ 2,86 gr)
2. Etil asetat 0,07 N (3,46 ml; 6,93 ml dan 10,39 ml)
3. HCl 0,05 N (6,1 ml)
4. Indikator MO 3 tetes
5. Aquadest
3.2.2 Alat yang Digunakan
1. Pipet
2. Thermometer
3. Magnetic stirrer
4. Reaktor Batch
5. Gelas Ukur
6. Buret
7. Statif dan Klem
8. Erlenmeyer
9. Rangkaian alat reaktor aliran kontinyu

3.3 Gambar Rangkaian Alat Percobaan


3.3.1 Proses Batch

Gambar 3.1 Alat utama proses batch

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 16

Keterangan:
1. Reaktor Batch
2. Stirer
3. Statif
3.3.2 Proses Kontinyu

Gambar 3.2 Alat utama proses kontinyu

Keterangan:
1. Reaktor Kontinyu
2. Stirrer
3. Statif
4. Tangki Reaktor

3.4 Respons Uji Hasil


Konsentrasi NaOH sisa yang dapat diamati dengan konsentrasi titran HCl
sampai TAT.

3.5 Prosedur Percobaan


A. Percobaan Batch
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0,07 N, HCl 0,05 N, dan
NaOH 0,07 N.
2. Masukkan etil asetat 0,07 N dan NaOH 0,07 N dengan volume
NaOH 1000 ml dan etil asetat 500 ml.
3. Ambil sampel 7,5 ml tiap 1 menit, kemudian tambahkan indikator
MO 3 tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 17

merah orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang


digunakan 3 kali konstan.
4. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH
sisa).
5. Lakukan langkah 1 sampai 4 dengan variable yang berbeda.
B. Percobaan Kontinyu
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0,07 N, HCl 0,05 N, dan
NaOH 0,07 N.
2. Masukkan etil asetat dan NaOH ke dalam tangki umpan masing-
masing.
3. Pompa masing-masing reaktan ke dalam CSTR yang kosong dan
menjaga konstan laju alirnya serta mereaksikannya.
4. Ambil sampel 7,5 ml tiap 1 menit, kemudian tambahkan indikator
MO 3 tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna
merah orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang
digunakan 3 kali konstan.
5. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH
sisa).
6. Lakukan langkah 1 sampai 5 dengan variabel yang berbeda.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 18

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Penentuan Harga Orde Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH
Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan analisis penentuan harga orde
reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH sebagai berikut.
Tabel 4.1 Penentuan harga orde reaksi penyabunan etil asetat dengan
NaOH
R2
Variabel
Orde 1 Orde 2
V etil asetat total = 500 ml (variabel 1) 0,873 0,877
V etil asetat total = 1000 ml (variabel 2) 0,503 0,505
V etil asetat total = 1500 ml (variabel 3) 0,842 0,845

Dari tabel diatas, dapat diketahui harga orde reaksi penyabunan etil asetat
dengan NaOH pada variabel 1 adalah orde 2, pada variabel 2 adalah orde 2
dan pada variabel 3 adalah orde 2. Harga orde tersebut didapatkan dari hasil
trial grafik orde 1 dan 2. Pada kosentrasi etil asetat yang sama dengan NaOH,
grafik orde 1 merupakan hubungan antara sumbu x yakni t (menit) dan sumbu
𝐶𝑎
y yakni −ln𝐶𝑎𝑜 sedangkan grafik orde 2 merupakan hubungan antara sumbu x
1
yakni t (menit) dan sumbu y yakni 𝐶𝑎 .

Maka, setelah mem-plotting data tersebut menjadi grafik, didapat


persamaan garis linear dan nilai regresi linear dari grafik tersebut. Harga R2
yang lebih besar menunjukkan reaksi berlangsung pada orde tersebut.
Sehingga, dari tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel 1, 2 dan 3
merupakan reaksi orde 2.

4.2 Perhitungan Harga Konstanta Kecepatan Reaksi Penyabunan Etil Asetat


dengan NaOH
Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan analisis perhitungan harga
konstanta reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH sebagai berikut.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 19

Tabel 4.2 Perhitungan harga konstanta kecepatan reaksi penyabunan etil asetat
Variabel t (menit) Ca (N NaOH) k
1 (V etil asetat = 3,46 ml) 6 0,046 0,367
2 (V etil asetat = 6,93 ml) 2 0,042 0,147
3 (V etil asetat = 10,39 ml) 3 0,0267 1,003

Dari tabel diatas, dapat diketahui nilai k dari masing-masing variabel.


Perhitungan k berdasarkan persamaan garis linear. Pada kosentrasi etil asetat
yang sama dengan NaOH, grafik orde 1 merupakan hubungan antara sumbu x
𝐶𝑎
yakni t (menit) dan sumbu y yakni −ln sedangkan grafik orde 2 merupakan
𝐶𝑎𝑜
1
hubungan antara sumbu x yakni t (menit) dan sumbu y yakni 𝐶𝑎 .
Untuk mengetahui nilai k, dapat menggunakan persamaan garis y = mx+c.
Persamaan ini identik dengan persamaan laju reaksi:
dC
–rA = − dtA = k.CA.CB dimana CA = CB
dC
− dtA = k.CA2
dCA
− = k.dt
CA2
CA dCA t
-
CA0 CA2
= 0 k.dt

1 CA
= k.t
CA C
A0

1 1
− = k.t
CA CA0
1 1
= k.t +
CA CA0

y = mx + c
Harga k didapat dari least square, dimana harga k merupakan nilai dari m.
Sehingga dapat diketahui harga k dari masing-masing variabel. Harga k yang
semakin besar menunjukkan reaksi tersebut berjalan semakin cepat. Dilihat
dari harga k masing-masing variabel, maka yang memiliki nilai k terbesar
adalah variabel 3 dengan nilai k sebesar 1,003.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 20

4.3 Pengaruh Variabel Volume Etil Asetat terhadap Konstanta Kecepatan


Reaksi Penyabunan Etil Asetat dengan NaOH

1.2
Konstanta Laju Reaksi (k)

0.8

0.6

0.4 Harga k

0.2

0
Variabel 1 (v etil asetat = Variabel 2 (v etil asetat = 1 Variabel 3 (v etil asetat =
0,5 L) L) 1,5 L)
Volume Total Etil Asetat

Gambar 4.1 Harga k pada masing-masing variabel


Seperti yang telah diketahui pada Gambar 4.1, nilai k untuk variabel 1
adalah 0,367; untuk variabel 2 adalah 0,147 dan untuk variabel 3 adalah 1,003.
Reaksi ini mempunyai persamaan sebagai berikut.
NaOH + C2H5COOCH3  CH3COONa + C2H5OH
Pada pembahasan sebelumnya, didapatkan bahwa orde reaksi untuk reaksi
tersebut berdasarkan hasil percobaan adalah orde 2 dan bersifat elementer.
Untuk reaksi orde 2 dan bersifat elementer, laju reaksi dapat dinaikkan dengan
menambahkan salah satu atau kedua reaktan, hal ini bertujuan untk menggeser
reaksi ke arah produk (Levenspiel, 1999).
Pertambahan konsentrasi akan meningkatkan jumlah partikel dalam
larutan, akibatnya kontak antar partikel akan lebih mudah terjadi
menyebabkan reaksi lebih cepat menghasilkan produk dan menaikkan laju
reaksi (Chang, 2007). Namun, apabila dilakukan penambahan volume pada
konsentrasi tetap maka teori tersebut akan berlaku sebaliknya. Seiring
penambahan volume pada konsentrasi yang sama, maka kemungkinan
terjadinya tumbukan akan semakin kecil sehingga akan memperlambat
terjadinya reaksi (GCSE Science, 2017). Hal ini dapat terjadi karena volume
dan konsentrasi memiliki hubungan sebagai berikut.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 21

𝑚𝑜𝑙
C = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
𝑔𝑟 /𝐵𝑀
C = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
𝜌 ×𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
C = 𝐵𝑀 × 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

Sehingga dapat disimpulkan bahwa seiring penambahan volume etil asetat


pada konsentrasi tetap akan terjadi penurunan nilai konstanta kecepatan laju
reaksi (k). Namun pada variabel 3 terjadi kenaikan konstanta kecepatan laju
reaksi. Hal ini dapat terjadi karena volume etil asetat pada variabel 3 yang
lebih besar daripada volume NaOH. Reaksi akan bergeser ke arah produk
sehingga reaksi ke arah produk akan berjalan semakin cepat karena
meningkatnya nilai konstanta kecepatan reaksinya (Volland, 2005).

4.4 Perbandingan Hasil Percobaan dengan Model Matematis


Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan analisis perbandingan hasil
percobaan dengan model matematis sebagai berikut.
0.08

0.07

0.06

0.05
Ca (N)

0.04
Ca
0.03 Percobaan

Ca
0.02
Matematis
0.01

0
0 1 2 3 4 5
t (menit)

Gambar 4.2 Perbandingan hasil percobaan dengan model matematis pada


variabel 1

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 22

0.05
0.045
0.04
0.035
0.03
Ca (N)

0.025 Ca
0.02 Percobaan
0.015
Ca
0.01
Matematis
0.005
0
0 1 2 3 4 5 6
t (menit)

Gambar 4.3 Perbandingan hasil percobaan dengan model matematis pada


variabel 2

0.045
0.04
0.035
0.03
Ca (N)

0.025
0.02 Ca
Percobaan
0.015
Ca
0.01 Matematis
0.005
0
0 1 2 3 4 5
t (menit)

Gambar 4.4 Perbandingan hasil percobaan dengan model matematis pada


variabel 3

Pada gambar 4.2, dapat dilihat bahwa pada variabel 1, hasil Ca percobaan
lebih tinggi dari Ca matematis. Sedangkan pada gambar 4.3 dan 4.4, dapat
dilihat bahwa pada variabel 2 dan 3, hasil Ca matematis lebih tinggi dari Ca
percobaan. Hal ini dikarenakan Ca matematis yang diperoleh dari perhitungan
menggunakan metode Runge Kutta. Dipilih metode ini karena Runge Kutta

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 23

dianggap metode yang memberikan keakuratan tinggi. Perhitungan model


matematis ini tidak dipengaruhi oleh variabel-variabel percobaan seperti suhu,
pengadukan dan konsentrasi pereaktannya (Supriyanto, 2006). Sehingga
konsentrasi yang ditemukan dengan menggunakan model matematis
merupakan nilai konsentrasi ideal sedangkan konsentrasi yang diperoleh dari
percobaan dengan variabel konsentrasi merupakan konsentrasi yang
sebenarnya. Konsentrasi model matematis dihitung dari data hasil percobaan
yang kemudian diaplikasikan kedalam metode Runge Kutta. Hasil k1, k2, k3,
k4 yang diperoleh dari perhitungan metode Runge Kutta pada variabel 1
bernilai negatif, sehingga perhitungan model matematis memiliki nilai
konsentrasi yang lebih kecil dari pada hasil percobaan (Butcher, 2008).
Sedangkan hasil k1, k2, k3, k4 yang diperoleh dari perhitungan metode Runge
Kutta pada variabel 2 dan 3 bernilai positif, sehingga perhitungan model
matematis memiliki nilai konsentrasi yang lebih besar dari pada hasil
percobaan.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 24

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH pada konsentrasi reaktan
yang sama namun dengan volume yang berbeda merupakan reaksi orde 2.
2. Harga konstanta laju reaksi (k) masing-masing variabel adalah 0,367 untuk
variabel 1; 0,147 untuk variabel 2 dan 1,003 untuk variabel 3.
3. Semakin besar volume reaktan pada konsentrasi yang sama, harga
konstanta kecepatan reaksinya akan semakin menurun. Pada variabel 3
terjadi peningkatan harga konstanta laju reaksi karena volume etil asetat
lebih besar daripada volume NaOH menyebabkan reaksi ke arah produk
berlangsung semakin cepat.
4. Pada variabel 1, diperoleh nilai Ca percobaan yang lebih besar daripada Ca
model matematis. Sedangkan pada variabel 2 dan 3 diperoleh nilai Ca
matematis yang lebih besar daripada nilai Ca percobaan.

5.2 Saran
1. Teliti dalam pengamatan TAT.
2. Mengatur debit input dan output saat proses kontinyu harus seimbang.
3. Pembuatan larutan NaOH, etil asetat dan HCl harus sesuai dan tepat.
4. Pengadukan tangki harus memiliki skala rotasi yang pasti.

Laboratorium Proses Kimia 2017


Reaktor Ideal Aliran Kontinyu 25

DAFTAR PUSTAKA

Butcher, John C. 2008. Numerical Methods for Ordinary Differential Equations.


New York: John Wiley & Sons, ISBN 978-0-470-72335-7.
Chang, Raymond. 2007. Chemistry 9th Edition. New York: Mc Graw Hill.
GCSE Science. 2017. Rates of Reactions. Diakses dari
https://en.wikibooks.org/wiki/GCSE_Science/Rates_of_Reactions pada
tanggal 20 Oktober 2017.
Levenspiel, Octave. 1999. Chemical reaction Engineering 3rd ed, Mc. Graw Hill
Book Kogakusha Ltd, Tokyo.
Supriyanto. 2006. Runge-Kutta Orde Empat. Lab. Komputer, Departemen Fisika,
Universitas Indonesia, November 22, 2006.
Volland, Dr. Walt. 2005. Le Chatelier's Principle: What Happens to an
Equilibrium When Conditions Change. Diakses dari
http://www.800mainstreet.com/7/0007-008- le_chatelier.html pada
tanggal 20 Oktober 2017.

Laboratorium Proses Kimia 2017


LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM PROSES KIMIA

Materi:
Reaktor Ideal Aliran Kontinyu

Disusun oleh:
Kelompok 3 Selasa
Endah Budiarti 21030115120094
Muhammad Ibnul B. 21030115130202
Shanintya Dhivya A. 21030115120061

LABORATORIUM PROSES KIMIA


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017

A-1
I. Tujuan Percobaan
1. Menentukan harga orde reaksi penyabunan etil asetat dengan NaOH.
2. Menghitung harga konstanta reaksi (k) penyabunan etil asetat dengan
NaOH.
3. Mengetahui pengaruh volume etil asetat terhadap konstanta reaksi (k)
penyabunan etil asetat dengan NaOH.
4. Membandingkan hasil percobaan dengan perhitungan model matematis
reaksi penyabunan pada reaktor ideal aliran kontinyu.
II. Percobaan
2.1 Bahan yang Digunakan
1. NaOH 0,07 N (@ 2,86 gr)
2. Etil asetat 0,07 N (3,46 ml; 6,93 ml dan 10,39 ml)
3. HCl 0,05 N (6,1 ml)
4. Indikator MO 3 tetes
5. Aquadest
2.2 Alat yang Digunakan
1. Pipet
2. Thermometer
3. Magnetic stirer
4. Reaktor Batch
5. Gelas Ukur
6. Buret
7. Statif dan Klem
8. Erlenmeyer
9. Rangkaian alat reaktor aliran kontinyu

Rangkaian alat batch Rangkaian alat kontinyu

A-1
2.3 Cara kerja
A. Percobaan Batch
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0,07 N, HCl 0,05 N,
dan NaOH 0,07 N.
2. Masukkan etil asetat 0,07 N dan NaOH 0,07 N dengan volume
NaOH 1000 ml dan etil asetat 500 ml.
3. Ambil sampel 7,5 ml tiap 1 menit, kemudian tambahkan indikator
MO 3 tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna
merah orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang
digunakan 3 kali konstan.
4. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH
sisa).
5. Lakukan langkah 1 sampai 4 dengan variable yang berbeda.
B. Percobaan Kontinyu
1. Siapkan reagen yang dibutuhkan: etil asetat 0,07 N, HCl 0,05 N,
dan NaOH 0,07 N.
2. Masukkan etil asetat dan NaOH ke dalam tangki umpan masing-
masing.
3. Pompa masing-masing reaktan ke dalam CSTR yang kosong dan
menjaga konstan laju alirnya serta mereaksikannya.
4. Ambil sampel 7,5 ml tiap 1 menit, kemudian tambahkan indikator
MO 3 tetes ke dalam sampel dan titrasi dengan HCl sampai warna
merah orange. Titrasi dihentikan sampai volume titran yang
digunakan 3 kali konstan.
5. Dengan perhitungan dapat diperoleh nilai Ca (konsentrasi NaOH
sisa).
6. Lakukan langkah 1 sampai 5 dengan variabel yang berbeda.

A-1
2.4 Hasil Percobaan
a. Reaktor Batch
Var 1 Var 2 Var 3
t (menit) V HCl (ml) t (menit) V HCl (ml) t (menit) V HCl (ml)
0 7.7 0 6.4 0 4.5
1 8 1 6.5 1 4.5
2 7.5 2 6.3 2 4.2
3 7.5 3 6.3 3 4
4 7.3 4 6.3 4 4
5 7.3 5 4
6 6.9
7 6.9
8 6.9

b. Reaktor Kontinyu
Var 1 Var 2 Var 3
t (menit) V HCl (ml) t (menit) V HCl (ml) t (menit) V HCl (ml)
0 10 0 5.2 0 5
1 9.7 1 5.4 1 4.7
2 9.5 2 5.4 2 4.9
3 9.5 3 5 3 4.9
4 9.5 4 5 4 4.9
5 5

MENGETAHUI
PRAKTIKAN ASISTEN

Endah B.; M. Ibnul B.; Shanintya D. A. Gabriella Ardhya P.


NIM.21030115140154

A-1
LEMBAR PERHITUNGAN

1. Lembar Perhitungan Reagen


1.1 Kalibrasi Picnometer
ρ air = 1 gr/ml
m2−m1
ρ =
V
49,123 gr −22,77 gr
1 gr/ml = V

V = 26,35 ml
1.2 Densitas HCl
53,123 gr −22,77 gr
ρ HCl = 26,35 ml

ρ HCl = 1,23 gr/ml


1.3 Densitas etil asetat
46,42 gr −22,77 gr
ρ etil asetat =
26,35 ml

ρ etil asetat = 0,898 gr/ml


1.4 Kebutuhan HCL 0,05 N
ρ×V 1000
N = × × kadar × eq
BM Vtotal
1,23gr /ml × V 1000
0,05 N = × × 0,25 × 1
37,5 gr /mol 1000 ml

V = 6,1 ml
1.5 Kebutuhan NaOH 0,07 N
massa 1000
N = × × kadar × eq
BM Vtotal
massa 1000
0,07 N = 40 gr /mol × × 0,98 × 1
1000 ml

Massa = 2,86 gr
1.6 Kebutuhan etil asetat 0,07 N; volume total = 500 ml (Variabel 1)
ρ×V 1000
N = × × kadar × eq
BM Vtotal
0,898gr /ml × V 1000
0,07 N = × × 0,99 × 1
88 gr /mol 500 ml

V = 3,46 ml
1.7 Kebutuhan etil asetat 0,07 N; volume total = 1000 ml (Variabel 2)
ρ×V 1000
N = BM
× Vtotal
× kadar × eq

A-2
0,898gr /ml × V 1000
0,07 N = × × 0,99 × 1
88 gr /mol 1000 ml

V = 6,93 ml
1.8 Kebutuhan etil asetat 0,07 N; volume total = 1500 ml (Variabel 3)
ρ×V 1000
N = × × kadar × eq
BM Vtotal
0,898gr /ml × V 1000
0,07 N = × × 0,99 × 1
88 gr /mol 1500 ml

V = 10,39 ml

2. Lembar Perhitungan Hasil Percobaan


2.1 Percobaan Batch
Reaksi : NaOH + CH3COOC2H5 → CH3COONa + C2H5OH
A + B → C + D
Orde reaksi 2
Persamaan kecepatan reaksi:
dC
–rA = − dtA = k.CA.CB dimana CA = CB
dC
− dtA = k.CA2
dCA
− 2 = k.dt
CA
CA dCA t
-
CA0 CA 2 = 0
k.dt

1 CA
= k.t
CA C
A0

1 1
− = k.t
CA CA0
1 1
= k.t +
CA CA0

y = mx + c
Orde reaksi 1
dC
–rA = − dtA = k.CA
CA dCA t
-
CA0 CA 2 = 0
k.dt

CA
–ln CA CA0 = k.t

A-2
–(ln CA – ln CA0) = k.t
CA
– ln = k.t
CA0

y = mx
A. Variabel 1
N1 . V1 = N2 . V2
N1 (Cao) = 0,05 N (Konsentrasi HCl)
V1 = VHCl (Volume titran)
N2 (Ca) = Konsentrasi NaOH
V2 = 7,5 ml (Volume titrat)
VHCl Cao Ca
t (menit) −ln(Ca/Cao) 1/Ca
(ml) (NHCl) (NNaOH)
0 7.7 0.05 0.0513 -0.0263 19.4805
1 8 0.05 0.0533 -0.0645 18.7500
2 7.5 0.05 0.0500 0.0000 20.0000
3 7.5 0.05 0.0500 0.0000 20.0000
4 7.3 0.05 0.0487 0.0270 20.5479
5 7.3 0.05 0.0487 0.0270 20.5479
6 6.9 0.05 0.0460 0.0834 21.7391
7 6.9 0.05 0.0460 0.0834 21.7391
8 6.9 0.05 0.0460 0.0834 21.7391

 Orde Satu
0.12
0.1 y = 0.017x - 0.048
R² = 0.873
0.08
0.06
−ln(Ca/Cao)

0.04
0.02 −ln(Ca/Cao)
0
Linear
-0.02 0 2 4 6 8 10 (−ln(Ca/Cao))
-0.04
-0.06
-0.08
t (menit)

A-2
 Orde Dua
24
22
20 y = 0.367x + 19.03
18 R² = 0.877
16
14
1/Ca

12
1/Ca
10
8
6 Linear
(1/Ca)
4
2
0
0 2 4 6 8 10
t (menit)

Orde 1
y = 0,017x−0,048
R² = 0,873
Orde 2
y = 0,367x + 19,03
R² = 0,877
Orde terpilih adalah orde 2 karena untuk orde 2 regresinya lebih
mendekati 1.
Maka orde 2
1 1
= k.t +
CA CA0

y = mx + c
Sehingga nilai k = 0,367.
B. Variabel 2
N1 . V1 = N2 . V2
N1 (Cao) = 0,05 N (Konsentrasi HCl)
V1 = VHCl (Volume titran)
N2 (Ca) = Konsentrasi NaOH
V2 = 7,5 ml (Volume titrat)

A-2
VHCl Cao Ca
t (menit) −ln(Ca/Cao) 1/Ca
(ml) (NHCl) (NNaOH)
0 6.4 0.05 0.0427 0.1586 23.4375
1 6.5 0.05 0.0433 0.1431 23.0769
2 6.3 0.05 0.0420 0.1744 23.8095
3 6.3 0.05 0.0420 0.1744 23.8095
4 6.3 0.05 0.0420 0.1744 23.8095

 Orde Satu

0.2
0.18
0.16
y = 0.006x + 0.152
0.14
R² = 0.503
−ln(Ca/Cao)

0.12
0.1
−ln(Ca/Cao)
0.08
0.06
0.04 Linear
(−ln(Ca/Cao))
0.02
0
0 1 2 3 4 5
t (menit)

 Orde Dua
27
24
21 y = 0.147x + 23.29
18 R² = 0.505

15
1/Ca

12 1/Ca
9
6 Linear
(1/Ca)
3
0
0 1 2 3 4 5
t (menit)

A-2
Orde 1
y = 0,006x+0,152
R² = 0,503
Orde 2
y = 0,147x + 23,29
R² = 0,505
Orde terpilih adalah orde 2 karena untuk orde 2 regresinya lebih
mendekati 1.
Maka orde 2
1 1
= k.t +
CA CA0

y = mx + c
Sehingga nilai k = 0,147.
C. Variabel 3
N1 . V1 = N2 . V2
N1 (Cao) = 0,05 N (Konsentrasi HCl)
V1 = VHCl (Volume titran)
N2 (Ca) = Konsentrasi NaOH
V2 = 7,5 ml (Volume titrat)
VHCl Cao Ca
t (menit) −ln(Ca/Cao) 1/Ca
(ml) (NHCl) (NNaOH)
0 4.5 0.05 0.0300 0.5108 33.3333
1 4.5 0.05 0.0300 0.5108 33.3333
2 4.2 0.05 0.0280 0.5798 35.7143
3 4 0.05 0.0267 0.6286 37.5000
4 4 0.05 0.0267 0.6286 37.5000
5 4 0.05 0.0267 0.6286 37.5000

A-2
 Orde Satu
0.7
0.6
y = 0.028x + 0.510
0.5 R² = 0.842
−ln(Ca/Cao)

0.4
0.3 −ln(Ca/Cao)

0.2 Linear
(−ln(Ca/Cao))
0.1
0
0 1 2 3 4 5 6
t (menit)

 Orde Dua
45
40
35 y = 1.003x + 33.30
30 R² = 0.845

25
1/Ca

20 1/Ca
15
Linear
10 (1/Ca)
5
0
0 1 2 3 4 5 6
t (menit)

Orde 1
y = 0,028x+0,510
R² = 0,842
Orde 2
y = 1,003x + 33,30
R² = 0,845
Orde terpilih adalah orde 2 karena untuk orde 2 regresinya lebih
mendekati 1.
Maka orde 2
1 1
= k.t +
CA CA0

A-2
y = mx + c
Sehingga nilai k = 1,003.

2.2 Percobaan Kontinyu


Neraca massa total
input – output = akumulasi
dV
 Fo – 0 = 
dt
dV = Fo.dt
V = Fo.t ............(1)
Neraca massa komponen apabila Ca=Cb
Akumulasi = Input – Output – Laju konsumsi konversi
𝑑𝑉𝐶𝑎
= 𝐹𝑜. 𝐶𝑎𝑜 − 0 − 𝑉. 𝑘. 𝐶𝑎. 𝐶𝑏
𝑑𝑡
𝑑𝐶𝑎
𝐶𝑎. 𝐹𝑜 + 𝐹𝑜. 𝑡 = 𝐹𝑜. 𝐶𝑎𝑜 − 𝐹𝑜. 𝑡. 𝑘. 𝐶𝑎. 𝐶𝑏
𝑑𝑡
𝑑𝐶𝑎
𝐶𝑎 + 𝑡 = 𝐶𝑎𝑜 − 𝑡. 𝑘. 𝐶𝑎2 (2)
𝑑𝑡

Persamaan (1) dan (2) diselesaikan dengan orde 4


𝐶𝑎𝑜 − 𝐶𝑎
𝑘1 = − 𝑘𝐶𝑎2 ∆𝑡
𝑡
𝑘
𝐶𝑎𝑜 − 𝐶𝑎 + 21 𝑘1 2
𝑘2 = − 𝑘 𝐶𝑎 + ∆𝑡
𝑡+ℎ 2 2

𝑘
𝐶𝑎𝑜 − 𝐶𝑎 + 22 𝑘2 2
𝑘3 = − 𝑘 𝐶𝑎 + ∆𝑡
𝑡+ℎ 2 2

𝐶𝑎𝑜 − 𝐶𝑎 + 𝑘3 2
𝑘4 = − 𝑘 𝐶𝑎 + 𝑘3 ∆𝑡
𝑡+ℎ 2
1
ΔCa = 6 𝑘1 + 2𝑘2 + 2𝑘3 + 𝑘4

Ca model = Camodel sebelumnya + ΔCasebelumnya


Δt = 1 menit

A-2
A. Variabel 1
k = 0,367
Cao (NHCl) = 0,05
t VHCl Ca Ca
k1 k2 k3 k4 ∆Ca
(menit) (ml) (NNaOH) matematis

0 10 0.0667 0 0 0 0 0 0.0667
1 9.7 0.0647 -0.0162 -0.0056 -0.0093 -0.0047 -0.0084 0.0562
2 9.5 0.0633 -0.0081 -0.0050 -0.0057 -0.0043 -0.0056 0.0577
3 9.5 0.0633 -0.0059 -0.0043 -0.0046 -0.0038 -0.0046 0.0588
4 9.5 0.0633 -0.0048 -0.0038 -0.0039 -0.0034 -0.0039 0.0594

0.08

0.07

0.06

0.05
Ca (N)

0.04
Ca
0.03 Percobaan

Ca
0.02
Matematis
0.01

0
0 1 2 3 4 5
t (menit)

A-2
B. Variabel 2
k = 0,147
Cao (NHCl) = 0,05
t VHCl Ca Ca
k1 k2 k3 k4 ∆Ca
(menit) (ml) (NNaOH) matematis

0 5.2 0.0347 0 0 0 0 0 0.0347


1 5.4 0.0360 0.0138 0.0045 0.0076 0.0040 0.0070 0.0430
2 5.4 0.0360 0.0068 0.0040 0.0046 0.0035 0.0046 0.0406
3 5 0.0333 0.0054 0.0038 0.0040 0.0034 0.0041 0.0374
4 5 0.0333 0.0040 0.0031 0.0032 0.0028 0.0032 0.0366
5 5 0.0333 0.0032 0.0026 0.0026 0.0024 0.0027 0.0360

0.05
0.045
0.04
0.035
0.03
Ca (N)

0.025 Ca
0.02 Percobaan

0.015
Ca
0.01 Matematis
0.005
0
0 1 2 3 4 5 6
t (menit)

A-2
C. Variabel 3
k = 1,003
Cao (NHCl) = 0,05
t VHCl Ca Ca
k1 k2 k3 k4 ∆Ca
(menit) (ml) (NNaOH) matematis

0 5 0.0333 0 0 0 0 0 0.0333
1 4.7 0.0313 0.0177 0.0049 0.0097 0.0043 0.0085 0.0399
2 4.9 0.0327 0.0076 0.0041 0.0049 0.0036 0.0049 0.0375
3 4.9 0.0327 0.0047 0.0030 0.0033 0.0027 0.0034 0.0360
4 4.9 0.0327 0.0033 0.0023 0.0024 0.0021 0.0025 0.0351

0.045
0.04
0.035
0.03
Ca (N)

0.025
0.02 Ca
Percobaan
0.015
Ca
0.01 Matematis
0.005
0
0 1 2 3 4 5
t (menit)

A-2
REFERENSI

A-3
A-3
A-3
A-3
A-3
LEMBAR ASISTENSI

DIPERIKSA TTD
KETERANGAN
NO. TANGGAL
1 10 November 2017 P0: Perbaiki halaman
lampiran, margin dan
spacing; Perbaiki urutan
Bab 3, Lembar
Pengesahan, Prakata,
Daftar Isi dan Daftar
Lampiran

2 11 November 2017 P1: Perbaiki Prakata,


Bab 1, Bab 3

3 12 November 2017 ACC