Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Post Partum


1. Definisi
Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa
nifas (puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk
pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah
masa 6 minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali
ke keadaan normal sebelum hamil (Bobak, 2010).
Post partum adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,
plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
kandung seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha,
2009).
2. Masa Puerpureum
Nifas dibagi dalam 3 periode (Wulandari, R, 2011):
a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan, dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja
setelah 40 hari.
b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang
lamanya 6-8 minggu.
c. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, berbulan-
bulan atau tahunan.
3. Adaptasi Fisiologis Postpartum
Menurut Bowes (2003) dalam Soep (2009), yang mengutip pendapat
Pillitteri faktor perubahan fisiologis ibu pada periode postpartum meliputi
perubahan adaptasi fisik yang juga dapat mempengaruhi keadaan psikologis ibu,
yaitu:
a. Sistem kardiovaskuler
Tekanan darah bervariasi, mungkin lebih rendah pada respon
pemberian analgesi atau anastesi. Perubahan volume darah terjadi karena
kekurangan darah sekitar 300-400 ml selama melahirkan.
b. Sistem gastrointestinal
Defekasi secara normal lambat dalam minggu pertama karena adanya
perubahan mobilitas usus, kehilangan cairan dan adanya gangguan rasa
nyaman pada daerah perineum.

1
c. Suhu tubuh
Setelah melahirkan suhu menjadi 37,30C tetapi tidak melebihi 380C.
Setelah 12 jam pasca partum umumnya suhu tubuh kembali normal.
d. Sistem perkemihan
Pada 24 jam pertama buang air kecil kadang sulit, kemungkinan
terdapat spasme springter dan edema leher buli-buli, urin dalam jumlah
besar akan dihasilkan dalam waktu 12-36 jam post partum.
e. Sistem integument
Kloasma yang muncul pada masa hamil menghilang saat kehamilan
terakhir, sedangkan hiperpigmentasi pada aeorola mamae dan linea nigra
tidak menghilang.
f. Berat Badan
Pasca melahirkan berat badan menurun 4-5 kg tergantung dari berat
badan janin.
g. Perineum
Setelah melahirkan perineum menjadi kendur karena sebelumnya
teregang dari tekenan kepala bayi yang bergerak maju.
h. Perubahan pada Vagina
Selama tiga minggu vagina akan kembali seperti sebelum hamil dan
rugae dalam vagina berangsur-angsur muncul kembali.
i. Proses Involusi Vagina
Uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari kesepuluh tidak
teraba lagi dari luar. Seminggu sesudah plasenta lahir rahim 500 gram, dan
dua minggu post partum mencapai 50-60 gram.
j. Konstriksi
Setelah 1-2 jam post partum kontriksi intensitasnya tidak teratur dan
tidak terkoordinasi karena adanya kelemahan pada otot uterus
k. Sistem Endokrin
Kadar estrogen dan progresteron menurun secara mencolok setelah
plasenta keluar, kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pasca
partum.
l. Abdomen
Setelah hari pertama melahirkan abdomen akan menonjol dan
membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil.

Perubahan fisiologis pada masa post partum menurut Bobak, Lowdermik,


Jensen (2004) meliputi :

2
a. Involusi: Yaitu suatu proses fisiologi pulihnya kembali alat kandungan ke
keadaan sebelum hamil, terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih
kecil karena cytoplasmanya yang berlebihan dibuang.
1) Involusi uterus
Terjadi setelah placenta lahir, uterus akan mengeras karena kontraksi
dan reaksi pada otot-ototnya, dapat diamati dengan pemeriksaan
Tinggi Fundus Uteri:
a) Setelah placenta lahir hingga 12 jam pertama Tinggi FundusUteri
1 - 2 jari dibawah pusat.
b) Pada hari ke-6 tinggi Fundus Uteri normalnya berada di
pertengahan simphisis pubis dan pusat.
c) Pada hari ke-9 / 12 tinggi Fundus Uteri sudah tidak teraba.
2) Involusi tempat melekatnya placenta
Setelah placenta dilahirkan, tempat melekatnya placenta menjadi tidak
beraturan dan ditutupi oleh vaskuler yang kontraksi serta trombosis
pada endometrium terjadi pembentukan scar sebagai proses
penyembuhan luka. Proses penyembuhan luka pada endometrium ini
memungkinkan untuk implantasi dan pembentukan placenta pada
kehamilan yang akan datang.
b. Lochea
Yaitu kotoran yang keluar dari liang senggama dan terdiri dari jaringan-
jaringan mati dan lendir berasal dari rahim dan liang senggama. Menurut
pembagiannya sebagai berikut :
1) Lochea rubra
Berwarna merah, terdiri dari lendir dan darah, terdapat pada hari
kesatu dan kedua.
2) Lochea sanguinolenta
Berwarna coklat, terdiri dari cairan bercampur darah dan pada hari ke-
3 - 6 post partum.
3) Lochea serosa
Berwarna merah muda agak kekuningan, mengandung serum, selaput
lendir, leucocyt dan jaringan yang telah mati, pada hari ke-7 - 10.
4) Lochea alba
Berwarna putih / jernih, berisi leucocyt, sel epitel, mukosa serviks dan
bakteri atau kuman yang telah mati, pada hari ke-1 – 2 minggu setelah
melahirkan.

3
4. Adaptasi psikologis postpartum
Seiring dengan perubahan fisiologis yang cepat dan luas yang dialami
oleh wanita setelah melahirkan maka akan terjadi pula perubahan emosional
(psikologis) dengan membentuk suatu adaptasi yang cukup kompleks bagi ibu.
Meskipun ayah dan anggota keluarga lainnya tidak mengalami perubahan
tersebut, mereka juga harus menyesuaikan secara psikologis terhadap
kehadiran bayi baru lahir. Kesejahteraan psikologis ibu itu sendiri tergantung
pada besar kecilnya kebahagiaan pasangan (suami) dan anggota keluarga
lainnya dalam menanggapi kelahiran bayi baru.
Oleh karena itu, asuhan keperawatan yang diberikan harus membantu
status fisik dan psikologis setiap pasien dan status psikologis ayah dan anggota
keluarga lainnya untuk memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan
komprehensif.
Respon ayah pada masa sesudah ibu melahirkan tergantung
keterlibatannya selama proses persalinan, biasanya ayah akan merasa lelah,
ingin selalu dekat dengan istri dan anaknya, tetapi kadang-kadang terbentur
dengan peraturan rumah sakit. Kehadiran bayi baru lahir dalam keluarga
menimbulkan perubahan peran dan hubungan dalam keluarga tersebut,
misalnya, orang tua menjadi kakek/nenek, suami dan isteri harus saling
membagi perhatian. Bila banyak anggota keluarga yang membantu merawat
bayi, maka keadaan tidaklah sesulit dengan tidak ada yang membantu,
sementara ibu harus ikut aktif melibatkan diri dalam merawat bayi dan
membantu rumah tangga (Soep, 2009).

B. Konsep Sectio Caesarea


1. Definisi
Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan insisi pada
abdomen dan uterus (Joy, 2009).
Sectio Caesaria ialah tindakan untuk melahirkan janin dengan berat
badan diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang utuh (Gulardi
&Wiknjosastro, 2006).
Sectio caesaria adalah alternative dari kelahiran vagina bila keamanan
ibu dan janin terganggu ( Doengoes, 2001).
2. Epidemiologi
Menurut Depkes RI (2010) secara umum jumlah persalinan sectio
caesarea di rumah sakit pemerintah adalah sekitar 20–25% dari total persalinan,

4
sedangkan di rumah sakit swasta jumlahnya sangat tinggi, yaitu sekitar 30 – 80%
dari total persalinan.
3. Indikasi Sectio Caesarea
Indikasi medis dilakukannya operasi sectio caesaria ada dua faktor yang
mempengaruhi yaitu faktor janin dan faktor ibu.
a. Faktor dari janin meliputi sebagai berikut :
- bayi terlalu besar
- kelainan letak janin
1. Letak lintang
Bila terjadi kesempitan panggul, maka sectio caesarea adalah
jalan/cara yang terbaik dalam melahirkan janin dengan segala letak
lintang yang janinnya hidup dan besarnya biasa. Semua primigravida
dengan letak lintang harus ditolong dengan sectio caesarea walaupun
tidak ada perkiraan panggul sempit. Multipara dengan letak lintang
dapat lebih dulu ditolong dengan cara lain.
2. Letak belakang
Sectio caesarea disarankan atau dianjurkan pada letak belakang bila
panggul sempit, primigravida, janin besar dan berharga.
- ancaman gawat janin
- janin abnormal
- faktor plasenta
- kelainan tali pusat dan bayi kembar.
b. Faktor ibu
- Usia
- Jumlah anak yang dilahirkan
- Keadaan panggul
- Penghambat jalan lahir
- Kelainan kontraksi lahir
- Ketuban pecah dini (KPD)
- Partus Lama, Partus takmau maju
- Placenta Previa
- Ruptur uteri yang mengancam
- Pre eklampsia (Hutabalian, 2011).

4. Klasifikasi Sectio Caesarea


Ada dua jenis sayatan operasi yang dikenal yaitu :
a. Sayatan melintang

5
Sayatan pembedahan dilakukan dibagian bawah rahim (SBR).
Sayatan melintang dimulai dari ujung atau pinggir selangkangan (simphysisis)
di atas batas rambut kemaluan sepanjang sekitar 10-14 cm. keuntunganya
adalah parut pada rahim kuat sehingga cukup kecil resiko menderita rupture
uteri (robek rahim) di kemudian hari. Hal ini karna pada masa nifas, segmen
bawah rahim tidak banyak mengalami kontraksi sehingga luka operasi dapat
sembuh lebih sempurna.
b. Sayatan memanjang (bedah caesar klasik)
Meliputi sebuah pengirisan memanjang dibagian tengah yang
memberikan suatu ruang yang lebih besar untuk mengeluarkan bayi. Namun,
jenis ini kini jarang dilakukan karena jenis ini labil, rentan terhadap komplikasi
(Dewi Y, 2007).

Ada beberapa jenis operasi Sectio Caesaria yang terdiri dari:


a. Sectio caesaria abdominalis, ada dua macam yaitu sectio caesaria
transperitonealisasi dan sectio caesaria ekstraperitonealisasi.
Sectiocaesaria transperitonealisasi sendiri terdiri dari dua cara.
1. Sectiocaesaria klasik dengan insisi memanjang pada korpus uteri yang
mempunyai kelebihan mengeluarkan janin lebih cepat, tidak
mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik, dan sayatan bias
diperpanjang proksimal atau distal. Sedangkan kekurangan dari cara ini
adalah infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada
reperitonealisasi yang baik dan untuk persalinan berikutnya lebih sering
terjadi ruptura uteri spontan.
2. Sectio caesaria ismika atau profunda dengan insisi pada segmen bawah
rahim dengan kelebihan penjahitan luka lebih mudah, penutupan luka
dengan reperitonealisasi yang baik, perdarahan kurang dan kemungkinan
ruptura uteri spontan kurang/lebih kecil. Dan memiliki kekurangan luka
dapat melebar ke kiri, bawah dan kanan sehingga mengakibatkan
perdarahan yang banyak serta keluhan pada kandung kemih post
operatif tinggi. Sedangkan Sectio Caesaria ekstraperitonealisasi, yaitu
tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka
kavum abdominal.
b. Sectio caesaria vaginalis, menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria
dapat dilakukan dengan sayatan memanjang (longitudinal), sayatan
melintang (transversal) dan sayatan huruf T (T-incision).

6
5. Manifestasi Klinis SC
Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang lebih
koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan post
partum.Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001),antara lain :
a. Nyeri akibat ada luka pembedahan
b. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak
banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800ml
f. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidak
mampuan menghadapi situasi baru
g. Biasanya terpasang kateter urinarius
h. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah
j. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang
paham prosedur
l. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar
pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d. Urinalisis / kultur urine
e. Pemeriksaan elektrolit

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio
caesarea (Prawirohardjo, 2007), yaitu :
a. Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat.
b. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap
berkontraksi dengan kuat.
c. Pemberian analgetik dan antibiotik.
d. Periksa aliran darah uterus paling sedikit 30 ml/jam.
e. Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24
jam pertama setelah pembedahan.

7
f. Ambulasi satu hari setelah pembedahan klien dapat turun sebentar dari
tempat tidur dengan bantuan orang lain.
g. Perawatan luka : insisi diperiksa setiap hari, jahitan kulit (klip) diangkat pada
hari ke empat setelah pembedahan.
h. Pemeriksaan laboratorium : hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan
untuk memastikan perdarahan pasca operasi atau mengisyaratkan
hipovolemia.
8. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada sectio caesar adalah :
a. Infeksi puerperial : Kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas
dibagi menjadi :
- Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari.
- Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut
sedikit kembung.
- Peritonealis, sepsis dan usus paralitik.
b. Perdarahan: Perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan
cabang-cabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
c. Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencing, embolisme
paru yang sangat jarang terjadi.
d. Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan
berikutnya bisa terjadi ruptur uteri.
e. Yang sering terjadi pada ibu bayi yaitu kematian perinatal (Geri, 2009).

C. Konsep Hipertensi Dalam Kehamilan


1. Definisi
Hipertensi dalam pada kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat
kehamilan berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih
setelah 20 minggu usia kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif,
tekanan darah mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik 30
mmHg dan tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal (Junaidi, 2010).

2. Epidemiologi
Hipertensi pada kehamilan berperan besar dalam morbiditas dan mortalitas
maternal dan perinatal. Hipertensi diperkirakan menjadi komplikasi sekitar 7-10%
seluruh kehamilan. Dari seluruh ibu yang mengalami hipertensi selama hamil,
setengah sampai dua pertiganya didiagnosis mengalami preeklampsi atau
eklampsi (Bobak, 2005).

8
Di Indonesia, mortalitas dan morbiditas hipertensi pada kehamilan juga
masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh etiologi yang tidak jelas, dan juga
perawatan dalam persalinan masih ditangani petugas non medik serta sistem
rujukan yang belum sempurna. Hipertensi pada kehamilan dapat dipahami oleh
semua tenaga medik baik di pusat maupun di daerah (Prawirohardjo, 2013).
Angka kematian ibu (AKI) di Provinsi Lampung pada tahun 2012
berdasarkan laporan dari kabupaten terlihat kasus kematian ibu (kematian ibu
pada saat hamil, melahirkan, dan nifas) seluruhnya sebanyak 179 kasus dimana
kasus kematian ibu terbesar (59,78%) terjadi pada saat persalinan dan 70,95%
terjadi pada usia 20 – 34 tahun, dan kasus kematian ibu tertinggi berada di Kota
Bandar Lampung (Profil Kesehatan Lampung, 2012).

3. Klasifikasi
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan The
National High Blood Pressure Education Program Working Group on High
Blood Pressure in Pregnancy (NHBPEP) memberikan suatu klasifikasi
untuk mendiagnosa jenis hipertensi dalam kehamilan, (NHBPEP, 2000)
yaitu :

1. Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur


kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis
setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12
minggu pascapersalinan.

2. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu


kehamilan disertai dengan proteinuria. Eklampsia adalah preeklampsi
yang disertai dengan kejang-kejang dan/atau koma.

3. Preeklampsia pada hipertensi kronik (preeclampsia superimposed upon


chronic hypertension) adalah hipertensi kronik disertai tanda- tanda
preeklampsi atau hipertensi kronik disertai proteinuria.

4. Hipertensi gestasional adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan


tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan
pascapersalinan atau kematian dengan tanda-tanda preeklampsi tetapi
tanpa proteinuria (Prawirohardjo, 2013).

9
Perbedaan gambaran klinis antara hipertensi kronik, hipertensi
gestasional dan preeklampsia (Suyono S, 2009).

Gambaran Klinis Hipertensi Hipertensi Preeklamsi


Kronis Gestasional
Saat Munculnya Kehamilan Biasanya Kehamilan 20 minggu
Hipertensi <20 minggu trimester III
Derajat Ringan-berat Ringan Ringan Sampai berat
Hipertensi
Protein Uria Tidak ada Tidak Ada Biasanya ada

Serum Urat > 5,5 Jarang Tidak Ada Ada pada semua kasus
mg/dl
Hemokonsentrasi Tidak ada Tidak Ada Ada pada kasus preeklamsi berat
Trombsitopenia Tidak ada Tidak Ada Ada pada kasus preeklamsi berat
Disfungsi hati Tidak ada Tidak Ada Ada pada kasus preeklamsi berat

4. Faktor Resiko
Hipertensi dalam kehamilan merupakan gangguan multifaktorial. Beberapa faktor
risiko dari hipertensi dalam kehamilan adalah (Katsiki N et al., 2010):
1. Faktor maternal
1. Usia maternal
Usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20-30 tahun.
Komplikasi maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di
bawah 20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal
yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Dampak dari usia yang kurang, dapat
menimbulkan komplikasi selama kehamilan. Setiap remaja primigravida
mempunyai risiko yang lebih besar mengalami hipertensi dalam kehamilan
dan meningkat lagi saat usia diatas 35 tahun (Manuaba C, 2007)
2. Primigravida
Sekitar 85% hipertensi dalam kehamilan terjadi pada kehamilan pertama.
Jika ditinjau dari kejadian hipertensi dalam kehamilan, graviditas paling
aman adalah kehamilan kedua sampai ketiga (Katsiki N et al., 2010).
3. Riwayat keluarga
Terdapat peranan genetik pada hipertensi dalam kehamilan. Hal tersebut
dapat terjadi karena terdapat riwayat keluarga dengan hipertensi dalam
kehamilan (Muflihan FA, 2012).

10
4. Riwayat hipertensi
Riwayat hipertensi kronis yang dialami selama kehamilan dapat
meningkatkan risiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan, dimana
komplikasi tersebut dapat mengakibatkan superimpose preeclampsi dan
hipertensi kronis dalam kehamilan (Manuaba, 2007).
5. Tingginya indeks massa tubuh
Tingginya indeks massa tubuh merupakan masalah gizi karena kelebihan
kalori, kelebihan gula dan garam yang bisa menjadi faktor risiko terjadinya
berbagai jenis penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, hipertensi
dalam kehamilan, penyakit jantung koroner, reumatik dan berbagai jenis
keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan lain. Hal tersebut berkaitan
dengan adanya timbunan lemak berlebih dalam tubuh (Muflihan FA, 2012).
6. Gangguan ginjal
Penyakit ginjal seperti gagal ginjal akut yang diderita pada ibu hamil dapat
menyebabkan hipertensi dalam kehamilan. Hal tersebut berhubungan
dengan kerusakan glomerulus yang menimbulkan gangguan filtrasi dan
vasokonstriksi pembuluh darah (Muflihan FA, 2012).

2. Faktor kehamilan
Faktor kehamilan seperti molahilatidosa, hydrops fetalis dan kehamilan ganda
berhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan. Preeklampsi dan eklampsi
mempunyai risiko 3 kali lebih sering terjadi pada kehamilan ganda. Dari 105
kasus bayi kembar dua, didapatkan 28,6% kejadian preeklampsi dan satu
kasus kematian ibu karena eklampsi (Manuaba, 2007).

5. Manifestasi Klinis
Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyakit teoritis, sehingga terdapat
berbagai usulan mengenai pembagian kliniknya. Pembagian klinik hipertensi
dalam kehamilan adalah sebagai berikut (Manuaba, 2007):
1. Hipertensi dalam kehamilan sebagai komplikasi kehamilan
 Preeklampsi
Preeklampsi adalah suatu sindrom spesifik kehamilan berupa
berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel.
Diagnosis preeklampsi ditegakkan jika terjadi hipertensi disertai dengan
proteinuria dan atau edema yang terjadi akibat kehamilan setelah
minggu ke-20. Proteinuria didefinisikan sebagai terdapatnya 300 mg
atau lebih protein dalam urin 24 jam atau 30 mg/dl (+1 dipstik) secara
menetap pada sampel acak urin (Cunningham G, 2013). Preeklampsi

11
dibagi menjadi dua berdasarkan derajatnya
Ringan Berat
1. Hipertensi lebih dari sama 1. Hipertensi ≥ 160/110 mmHg
dengan 140/90mmHg
2. Protein Uria lebih dari 2. Proteinuria ≥ 500 mg/24 jam
300mg/24jm atau > +3 disptik
3. Oliguria kurang dari 500 ml/24
jam
4. Gangguan penglihatan dan
serebral
5. Edema paru dan sianosis
6. Nyeri epigastrium atau
kuadran kanan atas
7. Trombositopenia
8. Pertumbuhan janin terganggu

Proteinuria yang merupakan tanda diagnostic preeklampsi


dapat terjadi karena kerusakan glomerulus ginjal. Dalam keadaan
normal, proteoglikan dalam membran dasar glomerulus
menyebabkan muatan listrik negatif terhadap protein, sehingga hasil
akhir filtrat glomerulus adalah bebas protein. Pada penyakit ginjal
tertentu, muatan negatif proteoglikan menjadi hilang sehingga terjadi
nefropati dan proteinuria atau albuminuria. Salah satu dampak dari
disfungsi endotel yang ada pada preeklampsi adalah nefropati ginjal
karena peningkatan permeabilitas vaskular. Proses tersebut dapat
menjelaskan terjadinya proteinuria pada preeklampsi. Kadar kreatinin
plasma pada preeklampsi umumnya normal atau naik sedikit (1,0-
1,5mg/dl). Hal ini disebabkan karena preeklampsi menghambat
filtrasi, sedangkan kehamilan memacu filtrasi sehingga terjadi
kesimpangan (Guyton, 2007).

 Eklampsia

Eklampsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan


preeklampsia yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang
bersifat grand mal atau tonik-klonik generalisata dan mungkin timbul
sebelum, selama atau setelah persalinan. Eklampsia paling sering
terjadi pada trimester akhir dan menjadi sering mendekati aterm. Pada
umumnya kejang dimulai dari makin memburuknya preeklampsia dan

12
terjadinya gejala nyeri kepala daerah frontal, gangguan penglihatan,
mual, nyeri epigastrium dan hiperrefleksia. Konvulsi eklampsi dibagi
menjadi 4 tingkat, yaitu (Prawirohardjo, 2013) :

1. Tingkat awal atau aura

Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik. Mata penderita terbuka


tanpa melihat, kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan
kepala diputar ke kanan atau ke kiri.
2. Tingkat kejang tonik
Berlangsung kurang lebih 30 detik. Dalam tingkat ini seluruh otot
menjadi kaku, wajah kelihatan kaku, tangannya menggenggam dan
kaki membengkok ke dalam. Pernapasan berhenti, muka terlihat
sianotik dan lidah dapat tergigit.
3. Tingkat kejang klonik
Berlangsung antara 1-2 menit. Kejang tonik menghilang. Semua otot
berkontraksi secara berulang-ulang dalam tempo yang cepat. Mulut
membuka dan menutup sehingga lidah dapat tergigit disertai bola
mata menonjol. Dari mulut, keluar ludah yang berbusa, muka
menunjukkan kongesti dan sianotik. Penderita menjadi tak sadar.
Kejang klonik ini dapat terjadi demikian hebatnya, sehingga
penderita dapat terjatuh dari tempat tidurnya. Akhirnya kejang
berhenti dan penderita menarik napas secara mendengkur.
4. Tingkat koma
Lamanya ketidaksadaran tidak selalu sama. Secara perlahan-lahan
penderita menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa
sebelum itu timbul serangan baru yang berulang, sehingga penderita
tetap dalam koma. Selama serangan, tekanan darah meninggi, nadi
cepat dan suhu meningkat sampai 40 C.
5. Kejang pada eklampsi berkaitan dengan terjadinya edema serebri.
Secara teoritis terdapat dua penyebab terjadinya edema serebri fokal
yaitu adanya vasospasme dan dilatasi yang kuat. Teori vasospasme
menganggap bahwa over regulation serebrovaskuler akibat naiknya
tekanan darah menyebabkan vasospasme yang berlebihan yang
menyebabkan iskemia lokal. Akibat iskemia akan menimbulkan
gangguan metabolisme energi pada membran sel sehingga akan
terjadi kegagalan ATP-dependent Na/K pump yang akan
menyebabkan edema sitotoksik. Apabila proses ini terus berlanjut

13
maka dapat terjadi ruptur membran sel yang menimbulkan lesi infark
yang bersifat irreversible.
Teori force dilatation mengungkapkan bahwa akibat peningkatan
tekanan darah yang ekstrim pada eklampsi menimbulkan kegagalan
vasokonstriksi autoregulasi sehingga terjadi vasodilatasi yang
berlebihan dan peningkatan perfusi darah serebral yang
menyebabkan rusaknya barier otak dengan terbukanya tight junction
sel- sel endotel pembuluh darah. Keadaan ini akan menimbulkan
terjadinya edema vasogenik. Edema vasogenik ini mudah meluas
keseluruh sistem saraf pusat yang dapat menimbulkan kejang pada
eklampsi (Sudibjo P, 2010).

2. Hipertensi dalam kehamilan sebagai akibat dari hipertensi menahun


a. Hipertensi kronik
Hipertensi kronik dalam kehamilan adalah tekanan darah ≥140/90
mmHg yang didapatkan sebelum kehamilan atau sebelum umur
kehamilan 20 minggu dan hipertensi tidak menghilang setelah 12
minggu pasca persalinan. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi kronis
dibagi menjadi dua, yaitu hipertensi primer dan sekunder. Pada
hipertensi primer penyebabnya tidak diketahui secara pasti atau
idiopatik. Hipertensi jenis ini terjadi 90-95% dari semua kasus
hipertensi. Sedangkan pada hipertensi sekunder, penyebabnya
diketahui secara spesifik yang berhubungan dengan penyakit ginjal,
penyakit endokrin dan penyakit kardiovaskular (Manuaba, 2007).
b. Superimposed preeclampsia
Pada sebagian wanita, hipertensi kronik yang sudah ada sebelumnya
semakin memburuk setelah usia gestasi 24 minggu. Apabila disertai
proteinuria, diagnosisnya adalah superimpose preeklampsi pada
hipertensi kronik (superimposed preeclampsia). Preeklampsia pada
hipertensi kronik biasanya muncul pada usia kehamilan lebih dini
daripada preeklampsi murni, serta cenderung cukup parah dan pada
banyak kasus disertai dengan hambatan pertumbuhan janin (Manuaba,
2007).
3. Hipertensi gestasional
Hipertensi gestasional didapat pada wanita dengan tekanan darah ≥140/90
mmHg atau lebih untuk pertama kali selama kehamilan tetapi belum
mengalami proteinuria. Hipertensi gestasional disebut transien hipertensi

14
apabila tidak terjadi preeklampsi dan tekanan darah kembali normal dalam
12 minggu postpartum. Dalam klasifikasi ini, diagnosis akhir bahwa yang
bersangkutan tidak mengalami preeklampsi hanya dapat dibuat saat
postpartum. Namun perlu diketahui bahwa wanita dengan hipertensi
gestasional dapat memperlihatkan tanda-tanda lain yang berkaitan dengan
preeklampsi, misalnya nyeri kepala, nyeri epigastrium ata trombositopenia
yang akan mempengaruhi penatalaksanaan (Cunningham G, 2013).

6. Pemeriksaan Diagnosis
1. Anamnesis
Dilakukan anamnesis pada pasien/keluarganya mengenai adanya gejala,
penyakit terdahulu, penyakit keluarga dan gaya hidup sehari-hari. Gejala
dapat berupa nyeri kepala, gangguan visus, rasa panas dimuka, dispneu,
nyeri dada, mual muntah dan kejang. Penyakit terdahulu seperti hipertensi
dalam kehamilan, penyulit pada pemakaian kontrasepsi hormonal, dan
penyakit ginjal. Riwayat gaya hidup meliputi keadaan lingkungan sosial,
merokok dan minum alkohol (POGI, 2010).
2. Pemeriksaan Fisik
Evaluasi tekanan darah dilakukan dengan cara meminta pasien dalam posisi
duduk di kursi dengan punggung bersandar pada sandaran kursi, lengan
yang akan diukur tekanan darahnya, diletakkan setinggi jantung dan bila perlu
lengan diberi penyangga. Lengan atas harus dibebaskan dari baju yang
terlalu ketat melingkarinya. Pada wanita hamil bila tidak memungkinkan
duduk, dapat miring kearah kiri. Pasien dalam waktu 30 menit sebelumnya
tidak boleh minum kopi dan obat dan tidak minum obat-obat stimulant
adrenergik serta istirahat sedikitnya 5 menit sebelum dilakukan pengukuran
tekanan darah (POGI, 2010). Alat yang dipakai untuk mengukur tekanan
darah adalah sphygmomanometer. Letakkan manset atau bladder cuff di
tengah arteri brachialis pada lengan kanan, sisi bawah manset kurang lebih
2,5 cm diatas fosa antecubital. Manset harus melingkari sekurang- kurangnya
80% dari lingkaran lengan atas dan menutupi 2/3 lengan atas. Menentukan
tekanan sistolik palpasi dengan cara palpasi pada arteri radialis dekat
pergelangan tangan dengan dua jari sambil pompa cuff sampai denyut nadi
arteri radialis menghilang. Baca berapa nilai tekanan ini pada manometer,
kemudian buka kunci pompa. Selanjutnya untuk mengukur tekanan darah,
cuff dipompa secara cepat sampai melampaui 20-30 mmHg diatas tekanan
sistolik palpasi. Pompa dibuka untuk menurunkan mercury dengan kecepatan

15
2-3 mmHg/detik. Tentukan tekanan darah sistolik dengan terdengarnya suara
pertama (Korotkoff I) dan tekanan darah diastolik pada waktu hilangnya
denyut arteri brakhialis (POGI, 2010). Pengukuran tekanan darah dengan
posisi duduk sangat praktis, untuk skrining. Namun pengukuran tekanan
darah dengan posisi berbaring, lebih memberikan hasil yang bermakna,
khususnya untuk melihat hasil terapi. Pengukuran tekanan darah tersebut
dilakukan dalam dua kali atau lebih (POGI, 2010).

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang perlu dilakukan dalam kasus hipertensi sebagai komplikasi
kehamilan adalah proteinuria, untuk diagnosis dini preeklampsi yang
merupakan akibat dari hipertensi kehamilan. Pemeriksaan proteinuria dapat
dilakukan dengan dua metode, yaitu secara Esbach dan Dipstick. Pengukuran
secara Esbach, dikatakan proteinuria jika didapatkan protein ≥300 mg dari 24
jam jumlah urin. Nilai tersebut setara dengan kadar proteinuria ≥30 mg/dL (+1
dipstick) dari urin acak tengah yang tidak menunjukkan tanda- tanda infeksi
saluran kencing. Interpretasi hasil dari proteinuria dengan metode dipstick
adalah (POGI, 2010) :
+1 = 0,3 – 0,45 g/L
+2 = 0,45 – 1 g/L
+3 = 1 – 3 g/L
+4 = > 3 g/L.
Prevalensi kasus preeklampsi berat terjadi 95% pada hasil pemeriksaan +1
dipstick, 36% pada +2 dan +3 dipstick (Prasetyo R, 2006).

16
7. Penatalaksanaan
Penanganan umum, meliputi:
1. Perawatan selama kehamilan
Jika tekanan darah diastolik >110 mmHg, berikan obat antihipertensi sampai
tekanan darah diastolik diantara 90-100 mmHg. Obat pilihan antihipertensi
adalah hidralazin yang diberikan 5 mg IV pelan-pelan selama 5 menit sampai
tekanan darah turun. Jika hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan nifedipin 5
mg sublingual dan tambahkan 5 mg sublingual jika respon tidak membaik
setelah 10 menit. Selain itu labetolol juga dapat diberikan sebagai alternatif
hidralazin. Dosis labetolol adalah 10 mg, jika respon tidak baik setelah 10
menit, berikan lagi labetolol 20 mg.
Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar (16 gauge atau lebih). Ukur
keseimbangan cairan, jangan sampai overload. Auskultasi paru untuk
mencari tanda-tanda edema paru. Adanya krepitasi menunjukkan edema
paru, maka pemberian cairan dihentikan. Perlu kateterisasi urin untuk
pengeluaran volume dan proteinuria. Jika jumlah urin <30 ml per jam, infus
cairan dipertahankan sampai 1 jam dan pantau kemungkinan edema paru.
Observasi tanda-tanda vital ibu dan denyut jantung janin dilakukan setiap jam
(Prawirohardjo S, 2006).
Untuk hipertensi dalam kehamilan yang disertai kejang, dapat diberikan
Magnesium sulfat (MgSO4). MgSO4 merupakan obat pilihan untuk mencegah
dan menangani kejang pada preeklampsi dan eklampsi. Cara pemberian
MgSO4 pada preeklampsi dan eklampsi adalah (Prawihardjo S, 2006) :
a. Dosis awal
Berikan MgSO4 4 gram IV sebagai larutan 20% selama 5 menit. Diikuti
dengan MgSO4 (50%) 5 gr IM dengan 1 ml lignokain 2% (dalam semprit
yang sama). Pasien akan merasa agak panas saat pemberian MgSO4
b. Dosis pemeliharaan
MgSO4 (50%) 5 gr + 1 ml lignokain 2 % IM setiap 4 jam. Pemberian
tersebut dilanjutkan sampai 24 jam postpartum atau kejang terakhir.
Sebelum pemberian MgSO4, periksa frekuensi nafas minimal 16
kali/menit, refleks patella positif dan urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam
terakhir. Pemberian MgSO4 dihentikan jika frekuensi nafas <16
kali/menit, refleks patella negatif dan urin <30 ml/jam. Siapkan antidotum
glukonat dan ventilator jika terjadi henti nafas. Dosis glukonat adalah 2 gr
(20 ml dalam larutan 10%) IV secara perlahan sampai pernafasan
membaik

17
2. Perawatan persalinan
Pada preeklampsi berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam, sedang pada
eklampsi dalam 12 jam sejak gejala eklampsi timbul. Jika terdapat gawat
janin, atau persalinan tidak terjadi dalam 12 jam pada eklampsi, lakukan
seksio sesarea (Mustafa R et al., 2012).
3. Perawatan postpartum
Antikonvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum atau kejang terakhir.
Teruskan pemberian obat antihipertensi jika tekanan darah diastolik masih
>110 mmHg dan pemantauan urin (Mustafa R et al., 2012).

8. Pencegahan
Strategi yang dilakukan guna mencegah hipertensi dalam kehamilan meliputi
upaya nonfarmakologi dan farmakologi. Upaya nonfarmakologi meliputi edukasi,
deteksi prenatal dini dan manipulasi diet. Sedangkan upaya farmakologi
mencakup pemberian aspirin dosis rendah dan antioksidan (Cunningham G,
2013).
1. Penyuluhan untuk kehamilan berikutnya
Wanita yang mengalami hipertensi selama kehamilan harus dievaluasi pada
masa postpartum dini dan diberi penyuluhan mengenai kehamilan mendatang
serta risiko kardiovaskular mereka pada masa yang akan datang. Wanita yang
mengalami preeklampsi-eklampsia lebih rentan mengalami penyulit hipertensi
pada kehamilan berikutnya (James R dan Catherine N, 2004). Edukasi
mengenai beberapa faktor risiko yang memperberat kehamilan dan pemberian
antioksidan vitamin C pada wanita berisiko tinggi dapat menurunkan angka
morbiditas hipertensi dalam kehamilan (Cunningham G, 2013).
2. Deteksi pranatal dini
Selama kehamilan, waktu pemeriksaan pranatal dijadwalkan 1 kali saat
trimester pertama, 1 kali saat trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga.
Kunjungan dapat ditambah tergantung pada kondisi maternal. Dengan adanya
pemeriksaan secara rutin selama kehamilan dapat dilakukan deteksi dini
hipertensi dalam kehamilan. Wanita dengan hipertensi yang nyata
(≥140/90mmHg) sering dirawat inapkan selama 2 sampai 3 hari untuk
dievaluasi keparahan hipertensi kehamilannya yang baru muncul. Meskipun
pemilihan pemeriksaan laboratorium dan tindakan tambahan tergantung pada
sifat keluhan utama dan biasanya merupakan bagian rencana diagnostik,
pemeriksaan sel darah lengkap dengan asupan darah, urinalisis serta
golongan darah dan rhesus menjadi tiga tes dasar yang memberikan data

18
objektif untuk evaluasi sebenarnya pada setiap kedaruratan obstetri ginekologi.
Hal tersebut berlaku pada hipertensi dalam kehamilan, urinalisis menjadi
pemeriksaan utama yang dapat menegakkan diagnosis dini pada preeklampsi
(Cunningham G, 2013).
3. Manipulasi diet
Salah satu usaha awal yang ditujukan untuk mencegah hipertensi sebagai
penyulit kehamilan adalah pembatasan asupan garam. Diet tinggi kalsium dan
pemberian kapsul dengan kandungan minyak ikan dapat menyebabkan
penurunan bermakna tekanan darah serta mencegah hipertensi dalam
kehamilan (Cunningham G, 2013).

4. Aspirin dosis rendah


Penelitian pada tahun 1986, melaporkan bahwa pemberian aspirin 60 mg atau
placebo pada wanita primigravida mampu menurunkan kejadian preeklampsi.
Hal tersebut disebabkan karena supresi selektif sintesis tromboksan oleh
trombosit serta tidak terganggunya produksi prostasiklin (Cunningham G,
2013).
5. Antioksidan
Terapi antioksidan secara bermakna menurunkan aktivasi sel endotel dan
mengisyaratkan bahwa terapi semacam ini bermanfaat dalam pencegahan
hipertensi kehamilan, terutama preeklampsi. Antioksidan tersebut dapat berupa
vitamin C dan E (Cunningham G, 2013).

D. Makrosomia
1. Pengertian
Makrosomia adalah bayi yang lahir dengan berat badan lebih dari
4000 gram. Saat lahir, bayi yang besar masa kehamilan secara khas memiliki
wajah yang kerubi (seperti tomat atau cushingoid), badan montok, bengkak,
kemerahan, dan kulit bercorak (Bobak, 2005). Makrosomia juga sering disebut
dengan giant baby atau bayi raksasa. Kemunculan bayi-bayi seperti ini
disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, orangtuanya memang besar. Kedua,
faktor ibu hamil yang menderita diabetes milletus. Ketiga, faktor ibu yang
mengalami kelebihan berat badan pada saat hamil dan terakhir faktor ibu yang
mengalami kehamilan lewat waktu (Rukiyah, 2010).

2. Karakteristik Makrosomia
Saat lahir bayi makrosomia atau bayi besar memiliki karakteristik yang khas, yaitu:
b. Mempunyai wajah berubi (menggembung), pletoris (wajah tomat)

19
c. Badan montok dan bengkak
d. Kulit kemerahan
e. Lemak tubuh banyak
f. Plasenta dan tali pusat lebih besar dari rata-rata ( Bobak,2004).

3. Etiologi
Penyebab bayi mengalami makrosomia adalah:
a. Diabetes mellitus (DM)
Diabetes mellitus mengakibatkan ibu melahirkan bayi besar (makrosomi)
dengan berat lahir mencapai 4000-5000 gram atau lebih. Namun bisa juga
sebaliknya, bayi lahir dengan berat lahir rendah, yakni dibawah 2000- 2500
gram. Dampak yang lebih parah yaitu mungkin janin meninggal dalam
kandungan karena mengalami keracunan. Kehamilan merupakan sesuatu
keadaan diabetogenik dengan resistensi insulin yang meningkat dan ambilan
glukosa perifer yang menurun akibat hormone plasenta yang memiliki aktifitas
anti- insulin. Dengan cara ini janin dapat menerima pasokan glokosa secara
kontiniu. Insidensinya 3-5% dari seluruh kehamilan.
Melalui difusi terfasilitasi dalam membrane plasenta, dimana sirkulasi janin
juga ikut terjadi komposisi sumber energy hormonal (menyebabkan
kemungkinan terjadi berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga
hiperinsulinemia hingga janin juga mengalami gangguan metabolic
(hipoglikemia, hipomagnesemia. Hipokalsemia, hiperbillirubinemia) dan
sebagainya. Seorang ibu dengan riwayat sakit gula, bila hamil harus
melakukan pemeriksaan laboratorium tentang kadar gula darah untuk
mencegah terjadinya komplikasi kematian bayi di dalam rahim. Pemeriksaan
kadar gula darah sebaiknya dilakukan saat usia kehamilan 24-28 minggu, bila
kadar gula darah tidak normal, nilai kadar gula harus diturunkan dalam batas
aman atau normal dengan menggunakan obat penurun gula darah tablet
tidak dibenarkan, sebab bisa membahayakan bayi.
b. Keturunan (orang tuanya besar)
Seorang ibu hamil gemuk berisiko 4 sampai 12 kali untuk melahirkan bayi
besar. Bayi besar dapat disebabkan berat badan ibu yang berlebihan baik
sebelum hamil (obesitas) maupun kenaikannya selama hamil lebih dari 15 kg.
Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal kebidanan dan kandungan
tersebut, peneliti melibatkan melibatkan partisipan lebih dari 40.000 wanita
Amerika dan bayinya. Setelah dianalisis, diperoleh data bahwa satu dari lima

20
wanita mengalami peningkatan bobot berlebih semasa hamil, yang
membuatnya berisiko dua kali lipat melahirkan bayi besar.
c. Multiparitas dengan riwayat makrosomia sebelumnya
Bila Ibu hamil punya riwayat melahirkan bayi makrosomia sebelumnya, maka
ia berisiko 5-10 kali lebih tinggi untuk kembali melahirkan bayi makrosomia
dibandingakn wanita yang belum pernah melahirkan bayi makrosomia karena
umumnya berat seorang bayi yang akan lahir berikutnya bertambah sekitar
80 sampai 120 gram. Bayi besar (bayi dengan berat badan lahir lebih dari
4000 gram) dan sering terjadi pada ibu yag telah sering melahirkan
(multipara) dibandingakan dengan kehamilan pertama (Rukiyah, 2010).
Menurut Bobak (2005) pola peningkatan berat pada ibu hamil yang
direkomendasikan mencapai 1 sampai 2 kg selama trimester pertama
kemudian 0,4 kg per minggu selama trimester kedua dan ketiga. Selama
trimester kedua, peningkatan terutama terjadi pada ibu, sedangkan pada
trimester ketiga, kebanyakan merupakan pertumbuhan janin. (William. 2001).

4. Faktor Resiko
a. Bayi dan ibu yang menderita diabetes sebelum hamil dan bayi dari ibu yang
menderita diabetes selama kehamilan.
b. Terjadinya obesitas pada ibu juga dapat menyebabkan kelahiran bayi besar
(bayi giant).
c. Pola makan ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga mempengaruhi
kelahiran bayi besar.

5. Manifestasi Klinis
a. Besar untuk usia gestasi
b. Riwayat intrauterus dari ibu diabetes dan polihidramnion
c. Pemantauan glukosa darah, kimia darah, analisa gas darah
d. Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht)

6. Pemeriksaan Diagnostik
- Pemeriksaan Hb dan Hematokrit
- Pemantauan glukosa darah, kimia darah, analisa gas darah

7. Penatalaksanaan Medis
Pemeriksaan klinik dan ultrasonografi yang seksama terhadap janin yang
sedang tumbuh, disertai dengan faktor-faktor yang diketahui merupakan
predisposisi terhadap makrosomia (bayi besar) memungkinkan dilakukannya
sejumlah kontrol terhadap pertumbuhan yang berlebihan. Pemantauan glukosa
21
darah ( Pada saat datang atau umur 3 jam, kemudian tiap 6 jam sampai 24 jam
atau bila kadar glukosa ≥ 45 gr% dua kali berturut-turut). Pemantauan elektrolit
Pemberian glukosa parenteral sesuai indikasi Bolus glukosa parenteral sesuai
indikasi Hidrokortison 5 mg/kg/hari IM dalam dua dosis bila pemberian glukosa
parenteral tidak efektif.

8. Komplikasi
Komplikasi- komplikasi yang ditimbulkan ketika terjadinya makrosomia adalah:
a. Komplikasi pada Ibu
1) Ibu mengalami robekan perineum
2) Persalinan dengan operasi caesar
3) Kehilangan darah dalam jumlah banyak saat persalinan
4) Ruptur uteri dan serviks
b. Komplikasi pada bayi
1) Bayi akan lahir dengan gangguan nafas dan kadangkala bayi lahir dengan
trauma tulang leher dan bahu.
2) Distosia atau macet pada bahu
3) Hipoglikemia, Istilah hipoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi
dibawah kadar rata-rata. Dikatakan hipoglikemia apabila kadar glukosa
darah kurang dari 30 mg/dl pada semua neonatus tanpa menilai masa
gestasi atau ada tidaknya gejala hipoglikemia. Umumnya hipoglikemia
terjadi pada neonatus usia 1-2 jam (Rudolph, 2006).

E. Polihidramnion
1. Pengertian Hidramnion
Hidramnion merupakan suatu keadaan dimana jumlah air ketuban jauh lebih
banyak dari normal biasanya lebih dari 2 liter, Volume air ketuban adalah
komponen penting skoring profil biofisikal Dalam keadaan normal, volume air
ketuban sekitar 500 – 1500 ml Polihidramnion : volume air ketuban > 2000 m
Sedangkan secara klinik adalah penumpukan cairan ketuban yang berlebihan
sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien. Sedangkan secara USG
jika Amniotic Fluid Index (AFI)> 20 atau lebih. Polihidramnion dapat terjadi jika
janin tidak menelan dan menyerap cairan ketuban dalam jumlah yang normal.
Yang sering kita jumpai adalah hidramnion yang ringan, dengan jumlah cairan 2-
3 liter. Yang berat dan akut jarang. Frekuensi hidramnion kronis adalah 0,5-1%.
Insiden dari kongenital anomali lebih sering kita dapati pada hidramnion yaitu
sebesar 17,7-29% (Widjanarko,2009).

22
Menurut (Varney,2006) Hidramnion sering terjadi bersamaan dengan :
a. Gemelli atau hamil ganda (12,5%),
b. Hidrops foetalis
c. Diabetes mellitus
d. Toksemia gravidarum
e. Cacat janin terutama pada anencephalus dan atresia esophagei
f. Eritroblastosis foetalis

2. Etiologi Hidramnion
Mekanisme terjadi hidramnion hanya sedikit yang kita ketahui. Secara teori
hidramnion terjadi karena :
a. Produksi air ketuban bertambah; yang diduga menghasilkan air ketuban
adalah epitel amnion, tetapi air ketuban juga dapat bertambah karena cairan
lain masuk kedalam ruangan amnion, misalnya air kencing anak atau cairan
otak pada anencephalus.
b. Pengaliran air ketuban terganggu; air ketuban yang telah dibuat dialirkan dan
diganti dengan yang baru. Salah satu jalan pengaliran adalah ditelan oleh
janin, diabsorbsi oleh usus dan dialirkan ke placenta akhirnya masuk kedalam
peredaran darah ibu. Jalan ini kurang terbuka kalau anak tidak menelan
seperti pada atresia esophogei, anencephalus atau tumor-tumor placenta.
Pada anencephalus dan spina bifida diduga bahwa hidramnion terjadi karena
transudasi cairan dari selaput otak dan selaput sum-sum tulang belakang.
Selain itu, anak anencephal tidak menelan dan pertukaran air terganggu
karena pusatnya kurang sempurna hingga anak ini kencing berlebihan.
c. Pada atresia oesophagei hidramnion terjadi karena anak tidak menelan. Pada
gemelli mungkin disebabkan karena salah satu janin pada kehamilan satu
telur jantungnya lebih kuat dan oleh karena itu juga menghasilkan banyak air
kencing. Mungkin juga karena luasnya amnion lebih besar pada kehamilan
kembar. Pada hidramnion sering ditemukan placenta besar (Gunawan,2007).

Menurut (Gunawan,2007) menjelaskan bahwa hidromnion terjadi karena:


1. Prduksi air kemih berlebih
2. Ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk,
yaitu hidrocefalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran
kencing congenital
3. Ada sumbatan/penyempitan pada janin sehingga dia tidak bisa menelan
air ketuban. Alhasil volume ketuban meningkat drastic

23
4. Kehamilan kembar, karena adanya dua janin yang menghasilkan air seni
5. Ada proses infeksi
6. Ada hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut sistem
syaraf pusat sehingga fungsi gerakan menelan mengalami kelumpuhan
7. Ibu hamil mengalami diabetes yang tidak terkontrol
8. Ketidak cocokan / inkompatibilitas rhesus

3. Manifestasi Klinis Hidramnion


Menurut (Prawirohardjo,2005) Hidramnion juga menimbulkan tanda :
a. Ukuran uterus lebih besar dibanding yang seharusnya,
b. Identifikasi janin dan bagian janin melalui pemeriksaan palpasi sulit di
lakukan,
c. Denyut jantung janin (DJJ sulit terdengar)
d. Balotemen janin jelas.
Gejala pada ibu hamil yang meliputi :
a. Dispnea (sesak napas) dan rasa tidak nyaman di perut karena tekanan pada
diafargma
b. Gangguan pencernaan karena konstipasi maupun obstipasi, edema karena
tekanan pada pembuluh darah vena karena pembesaran dari uterus, varises
dan hemoroid, (nyeri abdomen).
c. Kandungan cepat sekali membesar.
d. Pembesaran TFU disertai kesulitan dalam meraba bagian-bagian kecil janin

4. Klasifikasi Hidramnion
Menurut (Cunningham,2005) Berdasarkan waktu terjadinya hydramnion terbagi
2 yaitu:
a. Hidramnion akut / mendadak: dimana penambahan air ketuban terjadi
dalam waktu yg cepat, hanya dalam beberapa hari. Biasanya terjadi pada
kehamilan muda pada bulan ke 4 atau 5. Yang ini jarang terjadi.
Hidramnion akut biasanya akan menyebabkan persalinan sebelum usia
gestasi 28 minggu, atau gejala dapat menjadi demikian parah sehingga
harus dilakukan intervensi. Pada sebagian besar kasus hidramnion
kronik, tekanan cairan amnion tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan
pada kehamilan normal. Hidramnion akut cenderung muncul pada
kehamilan dini dibandingkan dengan bentuk kronik dan dapat dengan
cepat memperbesar uterus.
b. Hidramnion kronis (menahun) : penambahan air ketuban perlahan-lahan,
berangsur-angsur, Ini bentuk yang paling umun / sering terjadi. Ibu yang

24
bersangkutan mungkin mentoleransi distensi abdomen yang berlebihan
tanpa banya kmengalami rasa yang tidak nyaman. biasanya terjadi pada
kehamilan lanjut. Diagnosis pasti bisa didapatkan dari pemeriksaan
ultrasonografi (USG). Insidensi hidramnion adalah 1% dari semua
kehamilan.

5. Penatalaksanan Medis
Penanganan Hidramnion dibagi dalam tiga fase:
A. Waktu hamil
1. Hidromnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup diobservasi dan
berikan terapi simptomatis.
2. Pada hidromnion yang berat dengan keluhan-keluhan, harus dirawat
dirumah sakit untuk istirahat sempurna. Berikan diet rendah garam.
Obat-obatan yang dipakai adalah sedativa dan obat duresisi. Bila sesak
hebat sekali disertai sianosis dan perut tengah, lakukan pungsi
abdominal pada bawah umbilikus.
3. Dalam satu hari dikeluarkan 500 cc perjam sampai keluhan berkurang.
Jika cairan dikeluarkan dikhawatirkan terjadi his dan solutio placenta,
apalagi bila anak belum viable.
4. Komplikasi pungsi dapat berupa : Timbul his, Trauma pada janin,
5. Terkenanya rongga-rongga dalam perut oleh tusukan
6. Infeksi serta syok
7. Bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah, umpamanya janin
mengenai placenta, maka pungsi harus dihentikan.
B. Waktu bersalin
1. Bila tidak ada hal-hal yang mendesak, maka sikap kita menunggu.
2. Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka lakukan pungsi
transvaginal melalui serviks bila sudah ada pembukaan.
3. Dengan memakai jarum pungsi tusuklah ketuban pada beberapa
tempat, lalu air ketuban akan keluar pelan-pelan.
4. Bila sewaktu pemeriksaan dalam, ketuban tiba-tiba pecah, maka untuk
menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras, masukan tinju
kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban
keluar pelan-pelan. Maksud semua ini adalah supaya tidak terjadi
solutio placenta, syok karena tiba-tiba perut menjadi kosong atau
perdarahan post partum karena atonia uteri.
C. Post partum

25
1. Harus hati-hati akan terjadinya perdarahan post partum, jadi sebaiknya
lakukan pemeriksaan golongan dan transfusi darah serta sediakan obat
uterotonika.
2. Untuk berjaga-jaga pasanglah infus untuk pertolongan perdarahan post
partum.
3. Jika perdarahan banyak, dan keadaan ibu setelah partus lemah, maka
untuk menghindari infeksi berikan antibiotika yang cukup (Cunningham,
2005).
6. Komplikasi
Komplikasi hidramnion terjadi karena harus melakukan tindakan agar gejala
klinis dan keluhan pada ibu hamil berkurang. Tindakan ini meliputi:
- Persalinan premature,
- Malpresentasi janin,
- Abrupsio plasenta,
- Bila ketuban pecah dapat menimbulkan prolapsus bagian kecil dan
prolapsus fenikuli. komplikasi hidramnion pada posisi janin intra uterin
ditemukan kelainan letak janin.
- Saat persalinan dapat terjadi selusio plasenta,
- Perdarahan pasca partus, dan
- kelainan letak mungkin memerlukan tindakan operasi (Varney,2006).

F. Konsep Asuhan Keperawatan

Data subyektif
- Identitas / Biodata Pasien suami dan istri adalah nama, umur, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
- Alasan datang : Untuk mengetahui alasan pasien datang ke tempat
pelayanan kesehatan.
- Keluhan utama : Alasan wanita datang mengunjungi klinik / RB / RS / dan
diungkapkan dengan kata-kata sendiri.
- Riwayat kesehatan antara lain riwayat kesehatan dahulu, sekarang, dan
riwayat kesehatan keluarga, juga riwayat alergi dan pengobatan.
- Riwayat perkawinan
Dikaji untuk mengetahui berapa kali menikah, berapa usia pasien saat
menikah, usia pasangan pasien saat menikah, berapa lama pasien menikah
dan berapa jumlah anaknya.
- Riwayat obstetric

26
- Riwayat menstruasi
Untuk mengetahui tentang pertama kali pasien mendapatkan menstruasi
(menarce), siklus, lama menstruasi, banyak menstruasi, bentuk darah apakah
cair atau menggumpal, warna darah, dismenorea, flour albus dan untuk
mengetahui hari pertama menstruasi terakhir serta tanggal kelahiran dari
persalinan.
- Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Untuk mengetahui pada tanggal, bulan, tahun berapa anaknya lahir, tempat
persalinan, umur kehamilan, jenis persalinan, penolong persalinan, penyulit
dalam bersalinan, jenis kelahiran berat badan lahir, panjang badan lahir,
riwayat nifas yang lalu, keadaan anak sekarang, untuk mengetahui riwayat
yang lalu sehingga bisa menjadi acuan dalam pemberian asuhan.
- Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengetahui ibu hamil yang ke berapa, HPHT, HPL, berat badan
sebelum dan sekarang, periksa ANC sebelumnya dimana, berapa kali dan
keluhannya apa, suntik TT berapa kali, obat-obatan yang pernah dikonsumsi
apa saja, gerakan janin yang pertama pada usia kehamilan berapa bulan dan
gerakan sekarang kuat atau lemah, kebiasaan ibu dan keluarga yang
berpengaruh negatif terhadap kehamilannya.
- Riwayat KB
Untuk mengetahui sebelum ibu hamil pernah menggunakan alat kontrasepsi
atau tidak, berapa lama menggunakannya, alas an mengapa ibu
menggunakan alat kontrasesi tersebut, dan mengapa ibu menghentikan
pemakaian alat kontrasepsi tersebut.
- Pola kebutuhan sehari-hari meliputi pola nutrisi, pola eliminsi, pola aktivitas
pekerjaan, pola istirahat, personal hygiene, pola seksual.
- Psikososial spiritual meliputi tanggapan dan dukungan keluarga, pengambilan
keputusan dalam keluarga, ketaatan beribadah, lingkungan yang
bepengaruh.

Data Obyektif
- Pemeriksaan Umun
- Keadaan Umum (KU)
- Untuk menilai keadaan pasien pada saat itu secara umum.
- Kesadaran

27
- Untuk mengetahui tingkat kesadaran ibu apakah composmentis (Kesadaran
penuh dengan memberikan respon yang cukup terhadap stimulus yang
diberikan), somnolen (kesadaran yang mau tidur saja, dapat dibangunkan
dengan rasa nyeri tetapi tidur lagi), koma (tidak dapat bereaksi terhadap
stimulus yang diberikan atau rangsangan apapun, reflek pupil terhadap
cahaya tidak ada).
- Tanda-tanda Vital (TTV)
Pada pengukuran tanda-tanda vital yang diukur adalah tekanan darah, nadi,
respirasi, dan suhu.
- Berat Badan (BB)
Untuk mengetahui berat badan pasien dalam satuan kilogram (Buku Panduan
Praktik Klinik Kebidanan).
- Tinggi Badan (TB)
- Dikaji untuk mengetahui tinggi badan ibu dalam satuan sentimeter, menurut
Saminem
- LILA (Lingkar Lengan Atas)
Untuk mengetahui status gizi pasien.
Pemeriksaan fisik / Status Present adalah pemeriksaan kepala, muka, mata,
hidung, telinga, mulut, leher, ketiak, dada, abdomen, punggung, genetalia,
ektermitas atas dan bawah, anus.
- Pemeriksaan khusus obstetric
a. Inspeksi
Inspeksi adalah proses pengamatan dilakukan untuk mengetahui apakah
ada pembengkakan pada wajah dan ekstermitas, pada perut apakah ada
bekas operasi atau tidak.
b. Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan dengan indra peraba yaitu tangan, yang
berguna untuk memeriksa payudara apakah ada benjolan atau tidak,
pemeriksaan abdomen yaitu memeriksa Leopold I, II, III, dan IV.
c. Auskultasi
Denyut Jantung Janin (DJJ) yaitu salah satu tanda pasti hamil dan
kehidupan janin. DJJ mulai terdengar pada usia kehamilan 16 minggu.
Dengan dopler DJJ mulai terdengar usia kehamilan 12 minggu.
Normalnya denyut jantung janin (DJJ) yaitu 120-160x/menit.
d. Pemeriksaan penunjang

28
Mendukung diagnosa medis, kemungkinan komplikasi, dan penyakit yang
menyertai kehamilan, besalin dan nifas. Pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan penunjang lainnya : memeriksa hemoglobin, golongan
darah, rubella, VDRL / RPR dan HIV. Pemeriksaan HIV harus dilakukan
persetujuan ibu hamil.

Diagnosa Keperawatan
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anestesi
2) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan sekunder akibat pembedahan
3) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan perentanan tubuh
terhadap bakteri sekunder pembedahan
4) Risiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dalam
pembedahan, mual dan muntah
5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya insisi pembedahan dan nyeri
6) Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi
7) Ketidak efektifnya laktasi berhubungan dengan perpisahan dengan bayi
8) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
perawatan pasca persalinan SC

Intervensi Keperawatan
Fokus rencana keperawatan untuk diagnosa yang muncul pada pasien post SC
indikasi adalah:
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anestesi Tujuan :
Mempertahankan kepetanan jalan nafas.
Kriteria Hasil: Bunyi nafas bersih
Intervensi:
a. Awasi frekuensi pernafasan
b. Catat dan observasi adanya kesulitan bernafas bernafas
c. Tinggikan apek 30-45 derajat
d. Dorong batuk efektif dan nafas dalam
2) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitus
jaringan sekunder akibat pembedahan
Tujuan: Nyeri berkurang/hilang
Kriteria Hasil:
- Klien merasa nyeri berkurang /hilang
- Klien dapat istirahat dengan tenang
Intervensi

29
a. Kaji skala nyeri dan karakteristik alokasi karakteristik termasuk kualitasnya
frekuensi, kwalitasnya
b. Monitor tanda –tanda vital
c. Lakukan reposisi sesui petunjuk, misalnya semi fowler ,miring
d. Dorong penggunaan teknik relaksasi misal latihan nafas dalam
e. Ciptakan lingkungan nyaman dan tenang
f. Kolaborasi pemberian anal getik sesuai indikasi
3) Resiko tinggi infeksi b/d peningkatan parentanan tubuh terhadap bakteri sekunder
pembedahan
Tujuan: tidak terjadi infeksi
Kriteria Hasil:
- Tidak ada tanda- tanda infeksi (rubor, tulor, dolor, tumor, dan fungsiolaesa )
- Tanda- tanda fital normal terutama suhu (36-37 °C)
Intervensi
a. Monitor tanda-tanda vital
b. Kaji luka pada abdomen dan balutan
c. Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan pasien, teknik rawat luka
dengan anti septik
d. Catat /pantau kadar Hb dan Ht
e. Kolaborasi pemberian antibiotik
4) Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dalam
pembedahan
Tujuan: Tidak terjadi devisit volume cairan, meminimalkan devisit volume cairan
Kriteria hasil: Membran mukosa lembab, kulit tak kering Hb 12gr %
Intervensi:
a. Ukur dan catat pemasukan pengeluaran
b. Catat munculnya mual /muntah
c. Periksa pembalut , banyaknya pendaraan
d. Beri cairan infus sesuai program
5) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya insisi resmi pembedahan dan
nyeri
Tujuan: klien dapat meningkatkan dan melakukan aktivitas sesuai kemampuan
tanpa di sertai nyeri
Kriteria Hasil: Klien dapat mengidentivikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi
aktvitas
Intervensi:
a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas

30
b. Catat tipe anestesi yang di berikan pada saat intra partus pada waktu klien
sadar
c. Anjurkan klien untuk istirahat
d. Bantu dalam pemenuhan aktivitas sesuai kebutuhan
e. Tingkatkan aktivitas secara bertahap
6) Konstipasi berhubungan dengan imobilisai
Tujuan: Konstipasi tidak terjadi
KH: Klien dapat mengerti penyebab konstipasi klien dapat BAB dan tidak keras.
Intervensi:
a. Kaji pada klien apakah ada gangguan dalam BAB
b. Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang banyak mangandung serat
c. Anjurkan untuk minum yang banyak
d. Kolaborasi pemberian obat supositoria
7) Tidak efektifnya laktasi b/d perpisahan dengan bayi
Tujuan : Ibu dapat menyusui secara aktif
Kriteria hasil : Ibu dapat membuat suatu keputusan berdasarkan informasi
tentang metode menyusui bayi
Intervensi:
a. Kaji isapan bayi, jika ada lecet pada putting
b. Anjurkan tekhnik breast care dan menyusu yang efektif
c. Anjurkan pada klien untuk memberikan ASI eksklusif
d. Anjurkan bagaimana cara memeras, menangani, menyimpan dan
memberikan ASI yang benar
8) Kurang pengetahuan berhubunbgan dengan kurang informasi tentang perawatan
pasca persalinan
Tujuan: Klien dapat mengerti dan memahami cara perawatan post partum SC
Kriteria hasil: Klien dapat belajar dan menyerap informasi yang di berikan dapat
melakukan perawatan post portum,
Intervensi:
a. Kaji Kesiapan dan motivasi klien untuk belajar
b. Kaji keadaan fisik klien, Berikan informasi tentang perubahan fisiologis dan
psikologis yang normal
c. Diskusikan program latihan yang tepat, sesuai ketentuan, tekhnik perawatan
diri

31
Daftar Pustaka
Prawirohardjo,S. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka.
Sujiyatini, dkk.2009. Asuhan Patologi Kebidanan. Jakarta: Nuha Medika
Taufan. 2012. Patologi Kebidanan. Yogyakarta: Nuha Medika
Mochtar, R. 2009. Sinopsis Obstetri. Jakarta. EGC.
Nugroho. T. 2012. OBSGYN Obstetri dan Ginekologi Untuk Kebidanan dan Keperawatan,
Yogyakarta ; Nuha Medika.
Bobak. 2010. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta:EGC
Dewi Y., dkk. 2007. Operasi Caesar, Pengantar dari A sampai Z. EDSA. Mahkota.
Jakarta.
Depkes RI. 2010. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI
Geri dkk. 2009. Obstetri & Ginekologi Panduan Praktik- Ed.2 . Jakarta: EGC
Hutabalian, D. 2011. Pengaruh Umur Terhadap Persalinan Seksio.
Joy, S., 2009. Caesarean Delivery. Wake Forest University School of Medicine.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di
Fasilitas Kesehatan Dasar Dan Rujukan Pedoman Untuk Tenaga Kesehatan.
Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Manuaba dkk. 2009. Gawat Darurat Obstetri Ginekologi & Obstetri Ginekologi Sosial untuk
Bidan. Jakarta: EGC.
Maryunani, dkk, 2012. Asuhan Kegawat daruratan dan Penyulit pada Neonatus. Jakarta:
Trans Info Media
Morgan, Geri & Hamiton, Carole.(2009). Obstetri & Ginekologi Panduan Praktik. Jakarta:
ECG
Nugroho, Taufan. 2010. Obstetri. Jakarta: Nuha Medica
Prawirohardjo, S. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sarwono, Prawirohardjo. 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Saleha, Sitti. (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Penerbit Salemba
Soep. (2009). Pengaruh Intervensi Psikoedukasi Dalam Mengatasi Depresi Postpartum di
RSU Dr. Pirngadi Medan. Tesis keperawatan Universitas Sumatra Utara.
Wibowo, Noroyono; Irma Irwinda; Erwin Franduisty. 2016. Diagnosis Dan Tata Laksana Pre-
Eklamsia. Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Himpunan
Kedokteran Feto Maternal 2016.

32