Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

IMMUNO/SEROLOGI II
j

Pemeriksaan Malaria

Disusun Oleh :

KELAS 15 D

KELOMPOK II (dua)

Fitriah Rahmadani Nasra 153145453128

Darnisa 153145453126

Nurul Khotimah 153145453147

Irene Priskila Anthon 153145453131

Lisdayanti 153145453139

PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN


STIKES MEGA REZKY MAKASSAR
2017
LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM
IMMUNO/SEROLOGI II
j

Pemeriksaan Tuberculosis

Disusun Oleh :

KELAS 15 D

KELOMPOK II (dua)

Fitriah Rahmadani Nasra 153145453128

Darnisa 153145453126

Nurul Khotimah 153145453147

Irene Priskila Anthon 153145453131

Lisdayanti 153145453139

PROGRAM STUDI DIII ANALIS KESEHATAN


STIKES MEGA REZKY MAKASSAR
2017
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definifi Malaria

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria

(plasmodium) bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia yang

ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Penyakit ini mengancam

keluarga miskin dan dapat menjadi salah satu penyebab penurunan kehadiaran di

sekolah dan tempat kerja (WHO, 2010).

Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dari genus

plasmodium yang infektif ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina

dan dapat menyerang semua kelompok usia terutama kelompok resiko tinggi

(bayi, balita, dan ibu hamil) serta dapat menurunkan produktifitas kerja

(Kemenkes RI, 2009).

II.2 Jenis Malaria

Penyakit malaria pada manusia ada empat jenis dan masing-masing

disebabkan spesies parasit yang berbeda (Harijanto, 2012):

1. Malaria tertiana (paling ringan), yang disebabkan oleh Plasmodium

vivax

2. Malaria tropika, disebabkan oleh Plasmodium falciparum.

3. Malaria quartana yang disebabkan Plasmodium malariae.

4. Malaria ovale mirip malaria tertiana, malaria ini paling jarang

ditemukan, disebabkan oleh Plasmodium ovale.


Pada penderita penyakit malaria, penderita dapat dihinggapi lebih dari satu

plasmodium. Infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). Di

Indonesia paling banyak dua jenis parasit yakni campuran antara Plasmodium

vivax dengan Plasmodium falciparum.

II.3 Vektor

Nyamuk Anopheles di seluruh dunia terdapat kira-kira 2000 spesies,

sedangkan yang dapat menularkan malaria kira-kira 60 spesies. Di Indonesia,

menurut pengamatan terakhir ditemukan 80 spesies Anopheles, sedangkan yang

menjadi vektor malaria adalah 22 spesies dengan tempat perindukan yang

berbeda-beda. Di Jawa dan Bali An. sundaicus, An. aconitus, merupakan vektor

utama, sedangkan An. Subpictus dan An. Maculatus merupakan vektor sekunder.

Vektor yang pernah ditemukan di NTT adalah An. Sundiacus, An. Subpictus, dan

An. Barbirostis (Sorontou, 2014).

II.4 Siklus Hidup Plasmodium

Gambar 1: Siklus hidup plasmodium


Dalam daur hidupnya Plasmodium mempunyai dua hospes yaitu manusia

dan nyamuk. Siklus seksual yang membentuk sporozoit di dalam nyamuk sebagai

sporogoni dan siklus aseksual pada manusia yaitu skizogoni.

a. Siklus Seksual (sporogoni)

Siklus seksual terjadi dalam tubuh nyamuk. Gametosit yang masuk

ke dalam bersama darah, tidak dicerna bersama sel-sel darah lain. Dalam

waktu 12-24 jam setelah nyamuk menghisap darah, zigot berubah bentuk

menjadi seperti cacing pendek disebut ookinet yang dapat menembut

lapisan epitel dan membran basal dinding lambung. Didalam lambung

ookinet membesar menjadi ookista lalu didalam ookista dibentuk ribuan

sporozoit; dengan pecahnya ookista, sporozoit dilepaskan kedalam rongga

badan dan bergerak keseluruh jaringan nyamuk. Bila nyamuk sedang

menusuk manusia, sporozoit masuk kedalam darah dan jaringan dan

mulailah silkus eritrositik (Susana, 2010).

b. Siklus Aseksual (Skizogoni)

Sporozoit infeksius dari kelenjar ludah nyamuk Anopheles betina

dimasukkan dalam darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut.

Dalam waktu tiga puluh menit jasad tersebut memasuki parenkim hati dan

dimulai stadium eksoeritrositik. Didalam sel hati parasit tumbuh menjadi

skizon dan berkembang menjadi merozoit. Siklus eritrositik dimulai pada

waktu merozoit hati memasuki sel darah merah. Merazoit berubah bentuk

menjadi tropozoit tumbuh menjadi skizon muda yang kemidia matang

menjadi skizon matang dan membelah menjadi banyak merazoit.


Kemudian sel darah merah pecah dan merazoit, igmen dan residu keluar

serta masuk kedalam plasma darah. Parasit ada yang masuk dalam sel

darah merah lagi untuk mengulang siklus skizogoni. Beberapa merozoit

yang memasuki eritrosit tidak membentuk skizon, tetapi membentuk

gametosit yaitu stadium seksual (Susana, 2010).

II.5 Masa Inkubasi

Menurut Susana (2010), masa inkubasi adalah rentang waktu sejak

sporozoit masuk sampai timbulnya gejala klinis yang ditandai dengan demam.

Masa inkubasi bervariasi tergantung spesies plasmodium. Plasmodium falciparum

mempunyai masa hidup terpendek dibanding plasmodium yang lain. Masa

inkubasi keempat plasmodium dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1.1 Masa Inkubasi Malaria

Jenis plasmodium Masa Inkubasi

Plasmodium falciparum 9-12 (12) hari

Plasmodium Vivax 12-17 (15) hari

Plasmodium ovale 16-18 (17) hari

Plasmodium Malariae 18-40 (28) hari

II.6 Gejala Klinis

Keluhan dan tanda klinis, merupakan petunjuk yang penting dalam

diagnosa malaria. Gejala klinis ini dipengaruhi oleh jenis/ strain Plasmodium ,

imunitas tubuh dan jumlah parasit yang menginfeksi. Waktu mulai terjadinya

infeksi sampai timbulnya gejala klinis dikenal sebagai waktu inkubasi, sedangkan
waktu antara terjadinya infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah disebut

periode prepaten. Gejala pada anak biasanya disertai batuk (Harijanto 2012).

Menurut Gejala klasik malaria yang umum terdiri dari tiga stadium (trias

malaria), (Harijanto, 2012) yaitu:

1. Periode dingin. Mulai dari menggigil, kulit dingin dan kering,

penderita sering membungkus diri dengan selimut dan pada saat

menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi saling terantuk, pucat

sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini berlangsung 15

menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur.

2. Periode panas. Penderita berwajah merah, kulit panas dan kering, nadi

cepat dan panas badan tetap tinggi dapat mencapai 400C atau lebih,

respirasi meningkat, nyeri kepala, terkadang muntah-muntah, dan

syok. Periode ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai dua jam

atau lebih diikuti dengan keadaan berkeringat.

3. Periode berkeringat. Mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh,

sampai basah, temperatur turun, lelah, dan sering tertidur. Bila

penderita bangun akan merasa sehat dan dapat melaksanakan

pekerjaan seperti biasa.

II.7 Cara Penularan

Cara penularan penyakit malaria dapat di bedakan menjadi dua macam:

1. Penularan secara alamiah (natural infection). Penularan secara alamiah

terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang telah terinfeksi oleh

Plasmodium.
2. Penularan tidak alamiah (not natural infection)

a. Malaria bawaan (kongenital), disebabkan adanya kelainan pada sawar

plasenta sehingga tidak ada penghalang infeksi dari ibu kepada bayi

yang dikandungnya.

b. Penularan secara mekanik terjadi melalui transfusi darah melalui jarum

suntik. Penularan pada jarum suntik biasanya terjadi pada para

pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril.

c. Secara oral. Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung

(Plasmodium gallinasium), burung dara (Plasmodium relection) dan

monyet (Plasmodium knowlesi) yang akhir-akhir ini dilaporkan

menginfeksi manusia. Pada umumnya sumber infeksi malaria pada

manusia adalah manusia lain yang sakit malaria, baik dengan gejala

maupun tanpa gejala klinis (Harijanto, 2012).

II.9 Pencegahan

Menurut Depkes RI (1999) Pencegahan penyakit malaria secara garis

besar dapat dikelompokkan menjadi beberapa kegiatan :

1. Pencegahan terhadap parasit yaitu dengan pengobatan profilaksi atau

pengobatan pencegahan.

2. Orang yang akan bepergian kedaerah-daerah endemis malaria harus

minum obat anti malaria sekurang-kurangnya seminggu sebelum

keberangkatan sampai empat minggu setelah orang tersebut meninggalkan

daerah endemis malaria.


3. Wanita hamil yang akan bepergian kedaerah endemis malaria

diperingatkan tentang risiko yang mengancam kehamilannya. Sebelum

bepergian, ibu hamil disarankan untuk berkonsultasi ke klinik atau rumah

sakit dan mendapatkan obat anti malaria.

4. Bayi dan anak-anak berusia dibawah empat tahun dan hidup di daerah

endemis malaria harus mendapat obat anti malaria karena tingkat kematian

bayi/anak akibat infeksi malaria cukup tinggi.

II.10 Pemeriksaan Laboratorium

a) Pemeriksaan awal / skrining

1. Rapid Manual Test (RMT)

Metode ini mendeteksi antigen P. falciparum dengan

dipstick. Hasilnya diketahui dalam 10 menit, bisa mendeteksi

antigen spesifik P. falciparum histidine-rich protein 2/PfHRP-2

atau lactate dehydrogenase (White dkk, 2008).

Ada beberapa antigen malaria yang dapat digunakan

sebagai sasaran (target) pemeriksaan ini, yaitu: HRP-2, pLDH, dan

Plasmodium aldolase. HRP-2 adalah protein larut air yang

dihasilkan pada tahap aseksual dan gametosit Plasmodium

falciparum dan dikeluartekankan (diekspresikan) di membran sel

eritrosit. HRP-2 banyak dihasilkan oleh Plasmodium falciparum,

sehingga merupakan sasaran (target) antigen utama dalam

membuat uji diagnostik cepat malaria. pLDH adalah enzim


glikolitik di Plasmodium sp, yang dihasilkan pada tahap seksual

dan aseksual parasit (Piper dkk, 1996).

Gambar 2: Pemeriksaan malaria metode rapid test

dengan prinsip immunokrimatografi.

Ket: Garis C untuk kendali (kontrol), Pf garis untuk Plasmodium

falcifarum, Pv garis untuk Plasmodium vivax.

b) Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan mikroskopis, ditemukan bentuk aseksual parasit pada

hapusan darah tepi. (White dkk, 2008)

2. Kimia darah, pada malaria berat didapatkan hipoglikemia, asidosis

metabolik, anemia normositik, haemoglobinuria, hiperparasitemia,

hiperlaktatemia, gangguan renal, trombositopenia dan

hiperbilirubinemia (Wasnik dkk, 2012).


3. Quantitative buffy coat (QBC), prinsip dasar berdasarkan tes

fluoresensi, cepat tapi tidak dapat membedakan jenis plasmodium dan

hitung parasit (White dkk, 2008).

4. Polymerase Chain Reaction (PCR), pemeriksaan biomolekuler untuk

mendeteksi DNA spesifik parasit plasmodium dalam darah, sangat

efektif mendeteksi jenis plasmodium walaupun parasitemia rendah

(Lee dkk, 2009).

5. Cairan Liquor Cerebrospinal (LCS), Tekanan pembukaan pungsi

lumbal mendekati 160 mmCSF, warna jernih, sel < 10 lekosit/ml,

protein normal atau sedikit meningkat, kadar laktat meningkat, yaitu >

2,2 mmol (19,6 mg/dl) (Runtuwene, 2011).


BAB V

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan tuberculosis menggunakan

metode kaset. Uji Immuncromatografi-TB merupakan uji serologi untuk

mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Pemeriksaan tuberculosis

metode ini digunakan sebagai skrining awal dan deteksi dini terhadap penderita

dan pembawa serta membantu menegakan diagnosis infeksi penyakit tuberculosis.

Sampel yang seringkali digunakan pada metode ini adalah serum maupun

plasma. Namun pada percobaan kali ini sampel yang digunakan adalah sampel

serum. Serum merupakan cairan bening yang dipisahkan dari se-sel darah

menggunakan sentrifus tanpa fibrinogen. Kelebihan menggunakan sampel serum

adalah pada pemeriksaan tidak memerlukan bahan yang banyak (antikoagulan)

sedangkan kelemahannya, sampel memerlukan perhatian khusus karena mudah

rusak.

Adapun hal yang harus di perhatikan pada sampel serum yang di uji

diantaranya sampel serum yang diperoleh harus segera dilakukan pemeriksaan

sedangkan apabila pengujian tidak segera dilakukan, sampel serum harus disimpan

pada suhu 2-80C selama 3 hari atau di bawah suhu -200C untuk jangka waktu yang

lama dan apabila menggunakan sampel beku maka diperhatikan cara melarutkan

sampel dengan benar yaitu melarutkan sampel pada suhu ruang yang di putar

secara perlahan hingga larut dengan sempurna. Apabila terdapat pertikulat maka

sebelum pemeriksaan sampel di sentrifus terlebih dahulu untuk menghindari

gangguan pada hasil interpretasi. Berdasarkan kit monotest adapun sampel yang
termasuk di tolak pada pemeriksaan yaitu apabila sampel menunjukkan lipemia

berat, hemolisis atau kekeruhan.

WHO menetapkan Window Priods adalah masa dimana saat terinfeksi

hingga test dapat mendeteksi adanya perubahan antibodi. Lama dari window

periods tergantung dari kondisi tubuh seseorang. Pada awal terinfeksi

mycobacterium tuberculosis, sistem imun humoral akan mensintesis IgM terlebih

dahulu selama kurang lebih 4 – 6 minggu baru kemudian disusul mensintesis IgG.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil yang negatif

yang di tandai dengan timbulnya 1 garis pada area control (C). Dimana hal ini

telah sesuai dengan prinsip yang ada yaitu apabila spesimen sampel yang

digunakan (positif) mengandung antibidi IgG maka akan berikatan dengan antigen

TB recombinant konjugat pada nitroselulosa yang ada pada strip kemudian akan

membentuk kompleks IgG TB konjugat kompleks tersebut akan berikatan kembali

dengan antibody IgG anti- TB konjugat pada membran IgG sehingga

menimbulkan warna merah anggur. Yang menujukkan hasil positif IgG sedangkan

apabila specimen mengandung antibody IgM maka akan berikatan dengn antigen

TB rekombinan konjugat pada nitroselulosa yang terdapat pada strip. Kemudian

membentuk kompleks IgM TB konjugat. Kompleks tersebut akan berikartan

kembali dengan antibody anti -TB konjugat pada membrane IgM sehungga

menyebabkan timbur warna merah anggur menunjukkan hasil positif IgM.

Sedangakan antibodi IgG konjugat bebas berikatan dengan antibody anti-antibodi

pada membrane control sehingga menyebabkan timbulnya garis yang berwarna

merah anggur. Sedangkan area control (C) harus selalu berwarna untuk
mengetahui apakah volume sampel telah sesuai dan untuk mengetahui apakah

konjugat telah berfungsi dengan baik.

Pada umumnya nilai yang diperoleh pada pemeriksaan ini dapat

dipengaruhi oleh beberapa hal seperti Immunoglobulin G belum beredar di dalam

serum penderita. Saat antigen M.tuberculosis masuk dalam tubuh penderita, maka

sistem imunitas seluler (fagositosis dan limfosit T) lebih berperan dan tubuh butuh

beberapa minggu sebelum mengaktivasi sistem imunitas humoral. Sistem imun

humoral akan mensintesis IgM terlebih dahulu selama kurang lebih 4 – 6 minggu

baru kemudian disusul sintesis IgG. Maka kemungkinan tidak terdeteksinya IgG

di serum penderita disebabkan oleh pemeriksaan serum penderita dilakukan di

awal perjalanan penyakit TBC seblum IgG beredar dalam darah. Juga dapat

dipengaruhi oleh sistem pertahanan tubuh penderita yang rendah pada penderita

karena menderita penyakit seperti DM, HIV, usia lanjut, atau karena

menkonsumsi obat imunosupresi sehingga tubuh penderita tidak mampu

memproduksi Immunoglobulin G yang spesifik terhadap Mycobacterium

tuberculosis.

Apabila pemeriksaan skrining yang dilakukan memberikan hasil yang

positif maka akan dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk penegakkan diagnosis.

Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan seperti pemeriksaan polymerase Chain

Reaction (PCR) untuk memeriksa atau mendeteksi DNA, termasuk DNA

M.Tuberkulosis. Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk menegakkan

diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara benar dan sesuai

dengan standar internasional. ELISA teknik ini merupakan salah satu uji serologi
yang dapat mendeteksi respons humoral berupa proses antigen antibodi yang

terjadi. Peroksidase anti peroksidase (PAP) merupakan salah satu jenis uji yang

meneteksi reaksi serologi yang terjadi.

Adapun kelebihan dari uji ini adalah membutuhkan waktu cepat dalam

melihat hasilnya yaitu sekitar 5-20 menit. Sedangkan kekurangannya adalah

membutuhkan biaya mahal, dapat terjadi reaksi silang. Beberapa penelitian

memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang bervariasi. Variasi ini dapat

dipengaruhi oleh imunitas penderita, stadium penyakit, antigen yang digunakan,

serta metode pemeriksaan. sensitivitas pada penelitian ini bernilai rendah. Jadi bila

pemeriksaan ICT TB dilakukan pada penderita TB maka tidak semua akan

menunjukkan tes yang positif tergantung pada perjalanan penyakit dan penyakit

imunosupresi yang diderita pasien, ini berarti alat ini tidak bisa mendeteksi

penyakit TB paru dengan baik sehingga masih diperlukan pemeriksaan penunjang

lainnya untuk mendiagnosis penyakit TBC secara akurat. Walaupun uji ini mudah

dan cepat dilakukan, tetapi tidak cukup baik untuk digunakan sebagai uji

diagnostik rutin dikarenakan nilai sensitivitasnya yang rendah.

Adapun hal-hal yang dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan

interpretasi hasil pemeriksaan malaria yaitu pada metode rapid hanya dilaporkan

sebagai non reaktif atau reaktif tanpa mencantumkan nilai index, optical density,

atau cut-off sedangkan angka atau nilai hanya dilaporkan untuk pemeriksaan

malaria kuantitatif setelah dilakukan pemeriksaan konfirmasi.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan pada praktikum kali ini diantaranya

memperhatikan penggunaan APD (alat pelindung diri) mengingat sampel yang


digunakan berupa cairan tubuh yang dianggap infeksius (darah kapiler),

memperhatikan kondisi strip test yang digunakan baik itu tanggal kadaluarsa dan

juga penyimpanannya, apakah sudah sesuai dengan yang dianjurkan atau tidak.

Sebab, penyimpanan yang kurang baik dapat menyebabkan reagen yang

terkandung dalam strip test rusak/tidak berfungsi secara optimal. Strip test harus

disimpan pada suhu 2-30oC. Bungkusan (kantong foil) dari strip test juga

dipastikan tidak rusak sebelum digunakan, untuk menjamin kesterilan dan

khualitas dari strip test, kondisi sampel harus diperhatikan apakah sesuai dengan

ciri-ciri sampel yang layak digunakan sebagai sampel atau tidak hal ini apat dilihat

dengan memperhatikan ciri makroskopisnya, selanjutnya setelah sampel

diteteskan, hasil dibaca antara 10-15 menit. Dalam pembacaan jangan sampai

terlalu lama karena dapat menyebabkan hasil negatif maupun positif palsu.
BAB VI

KESIMPULAN

VI.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

pada serum yang digunakan didapatkan hasil negatif (-) yang ditandai dengan

adanya 1 garis yang timbul pada area control pada alat test.

VI.2 Saran

Pada saat akan melakukan pemeriksaan, sebaiknya benar-benar

memperhatikan hal-hal perlu diperhatikan seperti yang telah dijelaskan pada

pembahasan, karena hal tersebut sangat penting bagi keamanan diri dan hasil yang

diperoleh.
LAMPIRAN

Laporan kelompok 2 :

NAMA BAGIAN TUGAS

Darnisa Mengerjakan BAB 1

Fitriah Rahmadhani N Mengerjakan BAB II dan

BAB VI

Irene priskila anthon Mengerjakan BAB III

Nurul khotimah dan Mengerjakan BAB V BAB

lisdayanti IV
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, U,F, 2008. manejemen Penyakit Berbsis Wilayah. Jakarta: UIP press

Departemen Kesehatan RI. 1999. Entomologi Malaria. Direktiran P2B2. Dirjen

PPM&PLP. Depkes RI. Jakarta

Depkes, 2009. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia. Jakarta :

Kementrian Kesehatan Repuplik Indonesia.

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan lingkungan : Depkes

RI,(2008). Pedoman Penataklasanaan Kasus Malaria di Indonesia , Jakarta,

Depetemen Kesehatan Republik Indonsia.

Harijanto, PN, 2000, Gejala Klinik Malaria Dalam Malaria, Epidemiologi,

Patogenesis, Manifekstasi Klinis & Penanganan. Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta.

Harijanto, P.,N., 2009, Pengobatan Malaria Tanpa Komplikasi (Ringan) Dalam

Malaria dari Molekuler ke Klinis. Penerbit Buku Kedokteran EGC,

Jakarta, pp 145-155.

Kemenkes RI., 2009. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun. Jakarta.

Lee KS, Cox-Singh J, Singh B. 2014. Morphological Features And Differential

Counts Of Plasmodium Knowlesi Parasites In Naturally.

Munthe,2001. Malaria Selebral, Cermin dunia Kedokteran. Jakarta: EGC

Piper RC., DL. Vanderjagt., JJ. Holbrook and M. Makler., Malaria Lactate

Dehydrogenase : Target For Diagnosis And Drug Development. Ann.

Trop. Med. Parasitol, 1996, 90:443.


Runtuwene T. Clinical Aspect And Management Of Cerebral Malaria. Infeksi

Pada System Saraf. Kelompok Studi Neuro Infeksi. 2011. 103-117.

Sorontou Yohanna. 2014. Ilmu Malaria Klinik. Jakarta: ECG, pp: 7-115.

Susana, D. Dinamika Penularan Malaria. Universitas Indonesia, Jakarta:

Universitas. Indonesia. 2010.

Wasnik PN, et al. Study of Clinical Profile Of Falciparum Malaria In A Tertiary

Referral Centre In Central India. JAPI. 2012;60:33-6.

Widoyono, 2011. Penyakit Tropis: Epidemiologi , Penularan, Pencegahan dan

pembatasanya,EMS, Jakarta.

White NJ, Breman JG. Malaria In: Braunwald E., et al. Harrison’s Principles

of Internal Medicine. 17th Edition. New York: McGraw-Hill Inc. 2008.

p 1280-3.

World Health Organization,2010. Guidelines for Treatment of malaria., editing

World Health Organization Press, Genava, Switzerland.