Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

PHLEBOTOMI
(PENGAMBILAN DARAH VENA MENGGUNAKAN
WINGNIDLE)

OLEH

NAMA : MELINA RAHMAN


NIM : 16 3145 353 100
KELAS :C

D.IV ANALIS KESEHATAN


STIKes Mega Resky Makassar
2016 / 2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Darah vena adalah darah yang berada di pembuluh darah vena, membawa
darah miskin akan oksigen menuju ke jantung. Pembuluh darah vena juga
berdinding tiga lapis seperti arteri, tetapi lapisan tengah berotot lebih tipis,
kurang kuat, lebih mudah kempes, dan kurang elastis dari pada arteri. Pada
umumnya semua pembuluh vena cukup besar dan letaknya superficial dapat
dipergunakan pengambilan darah. Tetapi pada prakteknya yang sering
digunakan adalah vena difosa cubiti. Pada anak kecil atau bayi darah dapat
diambil pada vena jugula ris externa, vena femoralis, bahkan dari sinus
sagitalis superior.
Pada orang tua, anak kecil, bayi, atau jika vena tidak bisa diandalkan
(kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk mengatasi hal ini mungkin bisa
digunakan jarum bersayap (winged needle).
Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum “kupu-kupu”
hampir sama dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas.
Perbedaannya adalah, antara jarum anterior dan posterior terdapat dua buah
sayap plastik pada pangkal jarum anterior dan selang yang menghubungkan
jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat mengenai vena, darah akan
kelihatan masuk pada selang (flash).

B. Tujuan Praktikum
1. Untuk mengetahui tata cara pengambilan darah vena menggunakan
wingnidle.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Wing needle adalah ujung spuit atau jarum yang digunakan untuk
pengambilan secara vakum. Needle ini bersifat mudah diganti sehingga
mudah dilepas dari spuit serta container vacuum. Penggantian needle
dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan besarnya vena yang akan diambil
atau untuk kenyamanan pasien yang menghendaki pengambilan dengan jarum
kecil.
Wing needle dilengkapi dengan saluran Fleksibel dan berfungsi
menghindarkan kerusakan pada sample karena guncangan selama prosedur
dilaksanakan. Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum “kupu-
kupu” hampir sama dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas.
Perbedaannya adalah, antara jarum anterior dan posterior terdapat dua buah
sayap plastik pada pangkal jarum anterior dan selang yang menghubungkan
jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat mengenai vena, darah akan
kelihatan masuk pada selang (flash).
B. Kegunaan
Karena wing needle memiliki ukuran jarum yang relatif kecil dan pendek,
maka kegunaan dari jarum ini pun khusus. Tidak setiap vena diambil dengan
wing needle.
Indikasinya adalah sebagai berikut :
1. Vena yang kecil pada anak-anak/bayi dan orang tua.
2. Penderita luka bakar yang cukup berat.
3. Untuk pengobatan IV (Intra Vena)
4. Pada seseoang yang memiliki vena tipis,rapuh atau diakses
5. Untuk meminimalkan nyeri ketika Insersi ideal pada Neonatus anak atau
lansia dengan vena yang rapuh dan tidak kuat.
C. lokasi
Penentuan posisi pengambilan sampel darah, terutama ditentukan oleh
jenis pemeriksaan yang akan dilakukan. Pertimbangan untuk sesedikit mungkin
menimbulkan trauma tentu tetap penting.
Pengambilan sampel darah pada bayi relatif lebih sulit, yang makin muda.
Perlu teknik tinggi dan pengalaman lapangan lama. Tempatnya sering harus
mencari-cari yang paling memungkinkan. Paling disukai tetap di siku-dalam,
tetapi bisa juga di kaki.
Beberapa ciri yang lebih mungkin ada hambatan pengambilan :
1. Anak gemuk,sehingga tidak mudah menentukan lokasi pembuluh darah
2. Anak dengan pembuluh darah kecil, biasanya anak perempuan lebih kecil
ukurannya, sehingga lebih sulit diambil.
3. Anak dengan pola posisi pembuluh darah yang berbeda. Meski ada pola
umum,ada pula yang polanya berbeda, sehingga phlebotomis harus mencari
lebih lama.
Sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil, bayi, atau jika
vena tidak bisa diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk
mengatasi hal ini mungkin bisa digunakan jarum bersayap (winged needle).
Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum “kupu-kupu” hampir
sama dengan jarum vakutainer. Perbedaannya adalah, antara jarum anterior dan
posterior terdapat dua buah sayap plastik pada pangkal jarum anterior dan selang
yang menghubungkan jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat
mengenai vena, darah akan kelihatan masuk pada selang (flash).
Pengambilan sampel pada anak disarankan dalam posisi duduk dengan
pangkuan orangtua sehingga orang tua dapat menahan dan mengendalikan anak
tersebut apabila lepas control dan berontak.
Untuk dewasa disarankan untuk duduk, diperbolehkan berbaring apabila takut
berlebihan yang menimbulkan pingsan.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
a. Alat
1. Tourniquet
2. Wing nidle
3. Handskun
b. Bahan
1. Alcohol 70%
2. Kapas bulatan
B. Prinsip Kerja
Melakukan penusukkan pada bagian ujung jari secara aseptis
untuk mendapatkan sempel darah perifer
C. Cara Kerja
1. Persiapkan alat-alat yang diperlukan : wing nidle, kapas alkohol
70%, tali pembendung (turniket).
2. Melepaskan bagian jarum yang berpelindung karet.
3. Melepaskan jarum spuit.
4. Memasang slang wingneedle pada ujung spuit dengan cara
memutar searah jarum jam hingga kencang.
5. Melakukan pengambilan darah seperti pada pengambilan darah
menggunakan spuit
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

B. Pembahasan
Pada praktikum kali ini, kelompok kami mengambil darah dari
vena madian cubital. Karena vena median cubital kami lumayan kentara dan
juga tidak ada luka. Pada percobaan ini kami menggunakan tourniquet untuk
membendung yang bertujuan untuk fiksasi, pengukuhan vena yang akan
diambil. Dan juga untuk menambah tekanan vena yang akan diambil, sehigga
mempermudah proses penyedotan darah.
Selain itu, kami melakukan hal pertama yaitu Melepaskan bagian
jarum yang berpelindung karet kemudian melepaskan juga jarum spuit karena
pada praktikum kali ini kami menggunakan spoit sebagai alat bantu dalam
menghisap darah. Setelah itu kami memasang slang wingneedle pada ujung
spuit dengan cara memutar searah jarum jam hingga kencang.
Maka setelah semuanya sudah dilakukan maka kita menusuk bagian
vena yang akan diambil darahnya, agar lebih mudah melihat vena pasien
maka kita menggunakan tourniquet. Setelah wingnidle dimasukkan kedalam
vena maka tunggu darah akan keluar sndirinya, setelah ada darah keuar aka
kita melepas tourniquet supaya tidak terjadi hemolysis dan sebagainya.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Darah vena adalah pembuluh darah yang datang menuju serambi jantung
yang bersifat elastic. Pada vena ini kita mengambil volume darah jauh
lebih besar dibandingkan kapiler
2. Darah vena ada 3 yaitu vena mediana cubital, Vena chepalica atau vena
basilica. Namun, tempat yang paling bagus mengambil darah adalah vena
mediana cubital karena vena ini jauh dari saraf besar.
3. Pengambilan darah menggunakan wingnidle rasanya tidak terlalu sakit
karena ukuran jarumnya lebih kecil dibandingkan menggunakan jarum
spoit
4. Sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil, bayi, atau jika vena tidak
bisa diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk mengatasi
hal ini mungkin bisa digunakan jarum bersayap (winged needle
B. Saran
Pada saat melakukan praktikum disarankan agar praktikan memakai
APD yang lengkap supaya tidak terinfeksi dengan darah pasien. Serta
memperhatikan hal-hal yang dapat menyebabkan kesalahan pada saat
melakukan phlebotomy.
DAFTAR PUSTAKA
Ulfa Karina M. 2016. Pengambilan Darah Kapiler dan Darah Vena. Semarang:
Universitas Muhammadiyah Semarang.
Ulti.Assyfa. 2015. Pengambilan Sampel Darah. Semarang: Universitas
Muhammadiyah Semarang.