Anda di halaman 1dari 2

Keputusan Menteri Kesehatan nomor : 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan

kesehatan lingkungan rumah sakit dijelaskan bahwa terhadap limbah padat medis dan non medis harus
dipisahkan dan setelah dipisahkan diangkut ke tempat penampungan

sementara (TPS) dan khusus untuk limbah padat medis dan B-3 lamanya penyimpanan

tidak lebih dari 90 (sembilan puluh) hari, dan kemudian limbah medis dan non medis

dimusnahkan, khusus untuk limbah medis dan B-3 pemusnahannya dapat dilakukan dengan cara atau
metode Insenerator atau cara lain yang harus mendapat izin dari

Instansi yang berwenang dalam pengelolaan lingkungan hidup, sementara limbah non

medis dapat langsung diangkut ke TPA.

- Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor : 111 tahun 2003, bahwa badan usaha yang

menghasilkan limbah merencanakan dan membangun Instalasi Pengelolaan Air Limbah

(IPAL) yang selanjutnya mengusulkan izin untuk penbuangan air limbah ke air atau

sumber air.

- Pasal 6 ayat (1) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor : 11 tahun….?? disebutkan

bahwa badan usaha harus merencanakan Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana

Pemantauan Lingkungan (RPL) yang dituangkan dalam Dokumen Lingkungan Hidup

berupa Amdal maupun UKL UPL.

- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor : 14 tahun 2010 disebutkan bahwa apabila

kegiatan yang sudah berjalan belum memiliki dokumen lingkungan maka pemilik/

pemrakarsa kegiatan wajib membuat dokumen pengelolaan lingkungan hidup (DPLH)

atau dokumen evaluasi lingkungan hidup (DELH).

Ada 3 (tiga) kali teguran tertulis sebelum terdakwa dijatuhkan ke tindak pidana yaitu :

1. Surat dari Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kota Langsa nomor :

352.a/660/2011 tanggal 13 Mei 2011 perihal Pengelolaan Limbah Medis;

2. Surat dari Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kota Langsa nomor :

661/659/2010 tanggal 3 Mei 2010 perihal Dokumen lingkungan;


3. Surat dari Sekretaris Daerah Kota Langsa nomor : 660/358/2011 tanggal 9 Pebruari

2011 perihal laporan pengukuran debit harian laju air dan hasil analisa laboratorium

limbah cair.

- Bila dari pihak terdakwa telah mendapat teguran terhadap pengelolaan

limbahnya, terdakwa tidak juga melakukan pengelolaan limbah sebagaimana yang diwajibkan oleh

Undang-Undang.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 103 Undang

Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Bahwa yang dimaksud dengan pasal 100 UU No. 32 Tahun 2009 adalah harus dikenakan sanksi
administrasi dulu. Pada butir ke 6 penjelasan UU ini menyatakan bahwa pemidanaan merupakan upaya
terakhir, kemudian menurut pasal 76 ayat (1) harus diberikan sanksi administratif kepada
penanggungjawab usaha/kegiatan, dan pada ayat (2) ada 4 sanksi administrative, yaitu :

1. Teguran tertulis,

2. Paksaan Pemerintah ;

3. Pembekuan izin lingkungan ; atau

4. Pencabutan izin lingkungan ;

baru dikenakan pidana setelah ada ijin lingkungan, kalau belum ada ijin lingkungan

tidak boleh dikenakan pasal ini ;

• Bahwa yang dimaksud dengan pasal 103 UU No. 32 Tahun 2009 adalah Itu bentuk perbuatan dan
harus dilihat pasal 116 UU No. 32 Tahun 2009, yaitu apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan
oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan kepada : a.
Badan Usaha, atau b. Orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang
bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut. Kalau direktur sudah melaksanakan
dengan baik dan penuh hati-hati, tidak memberi perintah untuk melakukan tindak pidana pidana maka
tidak bisa dikenakan pasal ini;

• Bahwa surat dari BLHKP kepada RSUD merupakan surat pembinaan karena RSUD tidak memiliki izin
lingkungan