Anda di halaman 1dari 19

PANCASILA SEBAGAI PARADIGMA DALAM MASYARAKAT,

BERBANGSA, DAN BERNEGARA

Disusun Oleh Kelompok 3

1. Erika Safitri
2. Oci Meysela
3. Yuli Syahfitri

Dosen Pembimbing : Tedi, S.Pd, SKM, MM

Mata Kuliah : Pancasila

Jurusan Analis Kesehatan

Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Palembang

Tahun 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena kami dapat menyelesaikan Makalah
ini. Penyusunan Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pancasila tentang
Pancasila Sebagai Paradigma Masyarakat, Berbangsa, dan Bernegara. Selain itu tujuan dari
penyusunan Makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang pengetahuan Pancasila
Sebagai Paradigma Masyarakat, Berbangsa, dan Bernegara.
Makalah ini diharapkan cukup untuk memberikan pengertian tentang dasar-dasar
pembelajaran Pancasila Sebagai Paradigma Masyarakat, Berbangsa, dan Bernegara.
walaupun tidak secara detail.
Akhirnya kami menyadari bahwa Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, dengan segala kerendahan hati, kami menerima kritik dan saran agar penyusunan
Makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih
dan semoga karya tulis ini bermanfaat bagi para pembaca.

Palembang, 8 Desember 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...........................................................................................................................1
Daftar isi.....................................................................................................................................2

BAB I: PEMBUKAAN
A. Latar Belakang Masalah...........................................................................................3
B. Rumusan Masalah ...................................................................................................4
C. Tujuan Masalah ......................................................................................................4

BAB II: PEMBAHASAN


A. Pengertian Paradigma ..........................................................................................................5
B. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan ......................................................................5
1.Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Iptek......................................................5
2.Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan IPOLEKSOSBUD HANKAM.............8
C. Pancasila sebagai Paradigma Reformasi ..........................................................................10
1.Gerakan reformasi...................................................................... ..............................10
2.Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Hukum......................................................11
3.Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Politik.......................................................11
4.Pancasila sebagai Paradigma Reformasi Ekonomi...................................................12
D. Aktualisasi Pancasila ...................................................... ..................................................12
E. Tridharma Perguruan Tinggi .............................................................................................13
F. Budaya Akademik ...................................................... .....................................................13
G. Kampus sebagai Moral Force Pengembangan Hukum dan HAM ....................................14

BAB III: PENUTUP


A. Kesimpulan .......................................................................................................................15
B. Saran.................................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................16
SOAL-SOAL................................................................................................................17

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pancasila merupakan dasar yang fundamental bagi Negara Indonesia. Kehidupan
NKRI ini tergantung kepada seberapa besar penghargaan warga Negara terhadap Pancasila,
baik dari segi pengkajian dan pegamalan Pancasila itu sendiri dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Sebagai tertib hukum tertinggi keberadaan Pancasila tidak dapat diganggu gugat,
karena merubah dan mengamandemen Pancasila sama halnya dengan membubarkan NKRI
yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Memang fakta sejarah membuktikan
berkali kali konstitusi Negara ini diubah-ubah, dimulai dengan keluarnya peraturan
pemerintah yang mengganti sistem presidensil dengan system parlementer, hingga
ditetapkannya konstitusi RIS yang RI merupakan salah satu Negara bagian saja dari Negara
Federal tersebut,sebagai akibat ditandatanganinya perjanjian KMB. Seiring bergulirnya
waktu konstitusi RIS pun akhirnya diubah. Dengan diadakannya pemilu 1955, yang salah
satu tujuannya adalah memilih anggota konstituante. Dewan Konstituante diberi mandat
untuk menyusun konstitusi baru bagi Negara, namun rencana pembentukan dasar Negara
baru itupun gagal, seiring dengan keluarnya dekrit presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan
kembali ke UUD 1945.Suatu pembuktian bahwa rakyat Indonesia membutuhkan Pancasila
untuk merekat persatuan diantara mereka.
Berbagai pelanggaran terhadap Pancasila muncul dalam kurun waktu setelah dekrit
presiden tersebut, dengan adanya istilah Nasakom, praktek penyalahgunaan wewenang, dan
tindakan komunisme yang jelas-jelas melanggar sila pertama dari Pancasila. Sekali lagi
Pancasila memperlihatkan kesaktiannya, dengan keluarnya SUPERSEMAR (Surat Perintah
Sebelas Maret) sebagai buntut dari aksi G30S/PKI.
Kekuasaan orde lama berakhir, dimulailah era baru yang dikenal dengan orde baru,
32 tahun orde baru berkuasa dengan berbagai prestasi yang telah terukir. Namun jauh dibalik
itu semua terdapat pemerkosaan dari makna sila sila Pancasila, yang ditafsirkan sendiri oleh
pihak penguasa, nilai nilai luhur Pancasila diselewengkan sedemikian rupa dengan dalil
menjunjung tinggi Pancasila, namun sebenarnya menginjak-injak nilai-nilai Pancasila.
Kebobrokan yang disimpan rapat akan terungkap juga dan menguap kepermukaan.
Mengakibatkan sebuah gerakan masa yang dilatarbelakangi oleh krisis berkepanjangan dan
praktek KKN.
Mahasiswa sebagai gerakan terdepan menuntut perubahan, memaksa penguasa
orde baru meletakkan jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998, sebuah gerakan reformasi
menuntut penyelenggaraan Negara yang sesuai dengan nilai Pancasila secara murni dan
konsekuen.

3
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa keberadaan Pancasila tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI ini.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Paradigma?
2. Bagaimana peran pancasila sebagai Paradigma Pembangunan dan Paradigma reformasi?
3. Apa itu Aktualisasi Pancasila, Tridharma Perguruan Tinggi dan Budaya Akademik?
4. Mengapa kampus dijadikan sebagai Moral Force Pembangunan Hukum dan HAM?

C. Tujuan Masalah
1. Dapat mengetahui dan memahami maksud dari Paradigma.
2. Dapat mengetahui dan memahami peran pancasila sebagai Paradigma Pembangunan dan
paradigm Reformasi.
3. Dapat mengetahui dan memahami apa itu Aktualisasi Pancasila, Tridharma Perguruan Tinggi
dan Budaya Akademik.
4. Dapat mengetahui dan memahami Mengapa kampus dijadikan sebagai Moral Force
Pembangunan Hukum dan HAM.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Paradigma
Istilah paradigma menurut kamus Bahasa Indonesia, yaitu (1) daftar dari semua
pembentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi kata tersebut,
(2) model dalam teori ilmu pengetahuan, (3) kerangka berfikir. Dalam konteks ini pengertian
paradigm adalah pengertian kedua dan ketiga, khususnya ketiga, yakni kerangka berfikir.
Secara terminologis tokoh yang mengembangkan istilah paradigma sebagai ilmu
pengetahuan terutama dalam kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan adalah Thomas S.
Khun. Pengertian paradigama adalah:
“suatu asumsi-asumsi dan asumsi-asumsi teoritis yang umum , sehingga merupakan sumber
hokum, metode, serta penerapan dalam ilmu pengetahuan yang menentukan sifat, cirri, serta
karakter ilmu pengetahuan itu sendiri (Kaelan, 2010)”.
Sifat ilmu pengetahuan yang dinamis menyebabkan semakin banyak hasil-hasil
penelitian, sehingga membuka kemungkinan ditemukan kelemahan-kelemahan pada teori-
teori yang digunakan. Dengan demikian para ilmuwan mengkaji kembali teori-teori dasar dari
ilmu itu sendiri. Contohnya dalam ilmu social manakala suatu teori didasarkan kepada hasil
penelitian ilmiah berdasarkan metode kuantitatif yang mengkaji manusia dan masyarakat
bedasarkan sifat-sifat parsial, terukur dan korelatif ternyata hasil daripada ilmu pengetahuan
itu secara epistemologis hanya mengkaji satu aspek saja dari objek ilmu pengetahuan, yaitu
manusia. Bedasarkan kajian paradigm ilmu pengetahuan social tersebut kemudian
dikembangkan metode baru, yaitu metode kualitatf.
Istilah ilmiah itu berkembang kepada bidang-bidang kehidupan lainnya, sehingga
menjadi terminology dari suatu pengembangan dan pembangunan yang mengandung
konotasi pengertian:
 Kerangka berfikir
 Sumber nilai, dan
 Orientasi arah.

B. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan


Paradigma pembangunan nasional mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam
segala aspek pembagunan nasional kita harus mendasarkan pada hakikat nilai-nilai sila-sila
Pancasila.
1. Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan Iptek
Pembangunan nasional adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan nasionalnya
sebagaimana dinyatakan dalam pembukaan UUD 1945. Pada hakikatnya Pancasila sebagai
paradigm pembangunan nasional mengandung arti bahwa segala aspek pembangunan harus
mencerminkan nilai-nilai Pacasila. Pembangunan nasional adalah untuk manusia Indonesia,

5
dimana manusia secara kodratnya memiliki kedudukan sebagai makhluk social. Manusia
tidak hanya mengejar kepentingan pribadi, tetapi juga memperhatikan kepentingan
masyarakat. Manusia tidak hanya mementingkan tercapainya kebutuhan material, tetapi juga
kebahagian spiritual. Manusia memiliki fungsi monodualistis tidak hanya mengejar
kepentingan dunia, tetapi mendapatkan kebahagiaan di akhirat kelak. Oleh karena itu,
pembangunan nasional hendaklah mewujudkan tujuan tersebut.
Pancasila memrupakan satu kesatuan dari sila-silanya harus merupakan sumber
nilai, kerangka berfikir serta asas moralitas bagi pembangunan iptek. Apabila kita melihat
sila-sila demi sila sebagai berikut:
a. Sila ketuhanan yang Maha Esa, mengimplementasikan ilmu pengetahuan, mencipta,
perimbangan antara rasional dengan irrasional, antara akal, rasa dan kehendak. Berdasarkan
sila pertama ini iptek tidak hanya memilikirkan apa yang ditemukan, dibuktikan, dan diciptak
menemukan, tetapi juga mempertimbangkan maksud dan akibatnya kepada kerugian dan
keuntungan manusia dan sekitarnya. Pengolahan diimbangi dengan pelestarian. Sila pertama
menempatkan manusia di alam semesta bukan sebagai sentral, melainkan sebagai bagian
yang sistematika dari alam yang diolahnya.
b. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, memberikan dasar-dasar moralitas bahwa
manusia dalam mengembangkan iptek haruslah secara beradab. Iptek adalah bagian dari
proses budaya manusia beradab dan bermoral. Oleh sebab itu, pembangunan iptek harus
berdasarkan kepada usaha-usaha mencapai kesejahteraan umat manusia, bukan menjadikan
manusia sebagai makhluk yang angkung dan sombong dari penggunaan iptek.
c. Sila Persatuan Indonesia, memberikan kesadaran kepanda bangsa Indonesia bahwa
nasionalisme bangsa Indonesia akibat dari sumbangan iptek, iptek persatuan dan kesatuan
bangsa dapat terwujud dan terpelihara, persaudaraan dan persahabatan antar daerah di
berbagai daerah terjalin karena tidak lepas dari factor kemajuan iptek. Oleh sebab itu, iptek
harus dapat dikembangkan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangadapi jiwa
sila dan selanjutnya dapat dikembangkan dalam hubungan manusia Indonesia dengan
masyarakat internasional.
d. Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Kikmah dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, prinsip
demokrasi sebagai jiwa sila keempat ini dapat mendasari pemikiran manusia secara bebas
untuk mengkaji dan mengembangkan iptek. Seorang ilmuan harus pula memiliki sikap
menghormati terhadap hasil pemikiran orang lain dan terbuka, dikritik dan dikaji ulang hasil
dari pemikirannya. Penemuan iptek yang telah teruji kebenerannya harus dapat
dipersembahkan kepada kepentingan rakyat banyak.
e. Sila Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, kemajuan iptek harus dapat menjaga
keseimbangan keadilan dalam kehidupan kemanusiaan, yaitu keseimbangan keadilan dalam
kehidupan kemausiaan, yaitu keseimbangan hubungan antara manusia dengan sesamanya,
hubungan antara manusia dengan Tuhan sebagai Penciptanya, hubungan manusia dengan
lingkungan dimana mereka berada.

6
Kedudukan Pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional harus
memperhatikan konsep berikut ini:
a. Pancasila harus menjadi kerangka kognitif dalam identifikasi diri sebagai bangsa. Pancasila
harus diletakkan sebagai kerangka berfikir yang objektif rasional dalam membangun
kepribadian bangsa. Oleh sebab itu perlu dikembangkan budaya ilmu pengetahuan dalam
memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
b. Pancasila sebagai landasan pembangunan nasional, perubahan yang terjadi dalam masyarakat
dan bangsa akibat dari pembangunan harus semakin menempatkan nilai-nilai Pancasila yang
dapat dirasakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
c. Pancasila merupakan arah pembangunan nasional, proses pembangunan nasional tidak
terlepas dari control nilai-nilai Pancasila. Oleh sebab itu, kemana arah pembangunan melalui
tahap-tahapnya tidak dapat dilepaskan dari usaha mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila,
sehingga pembangunan adalah pengamanan Pancasila.
d. Pancasila merupakan etos pembangunan nasional, mewujudkan visi bangsa Indonesia masa
depan diciptakan misi pengamalan Pancasila secara konsisten dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Konsistensi antara teori dan kenyataan dan ucapan
dengan tindakan, merupakan paradigm baru dalam menjadikan Pancasila sebagai etika
pembangunan nasional.
e. Pancasila sebagai moral pembangunan, sebutan ini mengandung maksud agar nilai-nilai
luhur Pancasila (norma-norma Pancasila yang tercantum dalam pembukan UUD 1945)
dijadikan tolak ukur dalam melaksanakan pembangunan nasional, baik dalam melaksanakan
pembangunan nasional, baik dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan, maupun dalam evaluasinya.
Dalam menghadapi era globalisasi kita harus melihat dua karakteristik masyarakat
untuk pembangunan bangsa (S. Budisantoso. 1998:42-43). Pertama, kemajemukan
masyarakat dan keanekaragaman budaya. Kedua, dinamika masyarakat dan keterbukaan
kebudayaan terhadap pembaharuan. Masyarakat majemuk Indonesia yang sedang mengalami
perkembangan yang amat pesat karena dampak pembangunan nasional maupun rangsangan
globalisasi, memerlukan pedoman bersama (common frame of reference) dalam menganggapi
tantangan demi keutuhan bangsa. Oleh sebab itu, pembangunan nasional harus dapat
memperhatikan prinsip-prinsip berikut ini:
1) Hormat terhadap keyakinan religious setiap orang,
2) Hormat terhadap martabat manusia sebagai pribadi atau subjek (manusia seutuhnya),
3) Kesatuan sebagai bangsa yang melayani segala bentuk sektarianisme. Ini berarti komitmen
kepada nilai kebersamaan seluruh bangsa dan komitmen moral untuk mempertahankan
eksistensi dan perkembangan seluruh bangsa Indonesia,
4) Nilai-nilai yang terkait dengan demokrasi konstitusional (persamaan politis, hak-hak asasi,
hak-hak, dan kewajiban kewarganegaraan),

7
5) Keadilan social yang mencakup persamaan (equality) dan pemerataan (equity).

2. Pancasila sebagai Paradigma Pengembangan Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial-


Budaya, Pertahanan dan Keamanan (Ipoleksosbudhankam)

a. Pengembangan Ideologi
Dalam pengembangan Pancasila sebagai ideology harus memandang sebagai
ideologi yang dinamis yang dapat menangkap tanda-tanda perkembangan dan perubahan
zaman. Untuk itu kita harus memperhatikan peranan dan kedudukan Pancasila dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti berikut ini:
1) Pancasila sebagai Ideologi Terbuka
Nilai-nilai dasar dalam ideology Pancasila dirumuskan dalam UUD 1945 untuk
memperjelas suatu tatanan kehidupan beragama, hokum, politik, ekonomi, social budaya,
hankam, dan sebagainya. Nilai dasar tidak berubah ddengan gampang, sedangkan penjabaran
nilai dasar kepada nilai operasional dapat berkembang secara kesepakatan bersama di MPR
yang disebut dengan amandemen dan GBHN. Nilai dasar tidak udah berubah karena
merupakan tolak ukur stabilitas dan dinamika, untuk Pasal 37 UUD 1945.
2) Wawasan Kebangsaan (Nasionalisme)
Konsep Negara (Staatsidee) bangsa Indonesia dapat kita rangkum dari pokok-pokok
pikiran yang terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945. Negara adalah keadaan kehidupan
berkelompok bangsa Indonesia, yang:
i. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan
ii. Didorong oleh keinginan luhur bangsa, untuk
iii. Berkehidupan yang bebas, dalam arti
iv. Merdeka, berdaulat, adil dan makmur
v. Bedasarkan Pancasila
Pancasila dijadikan platform kehidupan bersama bagi bangsa Indonesia yang
sangat majemuk agar tetap terikat erat sebagai bangsa bersatu.

b. Pengembangan Politik
Landasan: kekuasaan dan kedaulatan berada ditangan rakyat. Oleh sebab itu, perlu
menyempurnakan UUD 1945 sejalan dengan perkembangan kebutuhan bangsa, dinamika dan
tuntutan reformasi dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan bangsa, serta sesuai
dengan jiwa dan semangat Pembukaan UUD 1945. Meningkatkan peran MPR, DPR dan
lembaga tinggi Negara lainnya dengan menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab
yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas antara
lembaga eksekutif, legislative dan yudikatif.
Dalam usaha membangun kehidupan politik, maka beberapa unsur yang perlu
dikembangkan dan ditingkatkan adalah sebagai berikut :

8
1) Sistem politik nasional yang berkedaulatan rakyat, demokratis, dan terbuka
2) Kemandirian partai politik dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
3) Pendidikan politik kepada masyarakat untuk mengembangkan budaya politik yang
demokratis
4) Pemilihan umum yang berkualitas dengan partisipasi rakyat yang seluas-luasnya.

Tiga aspek demokrasi yang harus dikembangkan adalah sebagai berikut :


1) Demokrasi sebagai sistem pemerintahan
2) Demokrasi sebagai kebudayaan politik
3) Demokrasi sebagai struktur organisasi
Demokrasi sebagai siste pemerintahan hanya akan berhasil kalau didukung oleh
demokrasi sebagai budaya politik yang rasional objektif. Hak Asasi Manusia harus
dilaksanakan secara kontekstual sesuai dengan kebudayaan Indonesia yang tercermin dalam
kesetaraan dan keseimbanga peranan lembaga-lembaga demokrasi.

c. Pengembangan Ekonomi
Pengembangan dan peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) terdiri atas
beberapa criteria kualitas SDM yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
1) Memiliki kemampuan dasar untuk berkembang
2) Mampu menggunakan ilmu dan teknologi untuk mengolah sumber daya alam secara efektif ,
efesien, lestari dan berkesinambungan.
3) Memiliki etos professional; tanggung jawab atas pengembangan keahliannya, kejujuran
dalam pelaksanaan tugas, ketelitian pelayanan kepada masyarakat, penghargaan terhadap
waktu dan ketetapan waktu
Pencitaan kesejahterahan yang merata berakses pada sumber ekonomi, dunia kerja,
kesehatan dan informasi. Peningkatan kesejahteraan selalu dihadapkan kepada permasalahan,
bagaimana kita memadukan nilai-nilai ekonomis yang akan berkembang menjadi etos
ekonomis dengan nilai-nilai etis Pancasila.

d. Pengembangan Sosial-Budaya
Pancasila dapat menjadi kerangka referensi identifikasi diri kalau Pancasila
semakin credible, yaitu bahwa masyarakat mengalami secara nyata realisasi dari prinsip-
prinsip yang terkandung dalam Pancasila. Usaha yang dilakukan melalui cara-cara:
1) Dihormati martabatnya sebagai manusia,
2) Diperlakukan secara manusiawi,
3) Mengalami solideritas sebagai bangsa karena semakin hilangnya kesenjangan ekonomi dan
budaya,
4) Memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik, dan

9
5) Merasakan kesejahteraan yang layak sebagai manusia.

e. Pengembangan Hankam
Ketahanan nasional, pembangunan nasional tidak terlepas dari ketahanan nasional,
yaitu perwujudan cita-cita bangsa dalam tingkat ketahanan nasional yang terjabar sebagai
berikut :
1) Nilai-nilai fundamental yang menyangkut pribadi warga Negara, yaitu pengembangan
pribadi warga Negara, yaitu pengembangan pribadi dalam matra horizontal dan vertical,
pertumbuhan social ekonomi, keanekaragaman, dan persamaan derajat.
2) Nilai-nilai fundamental yang menyangkut sistem/struktur kehidupan masyarakat yaitu
pemerataan kesejahteraan, solideritas masyarakat, kemandirian, dan partisipasi seluruh
masyarakat.
3) Nilai-nilai fundamental yang menyangkut interaksi antaa pribadi-pribadi warga Negara dan
sistem/struktur kehidupan masyarakat, yaitu keadilan social, keamanan/stabilitas dan
keseimbangan lingkungan.

f. Pancasila sebagai paradigma pengembangan kehidupan beragama


Pancasila telah memberikan dasar dasar nilai yang fundamental bagi umat bangsa
Indonesia untuk hidup secara damai dalam kehidupan beragama di Negara Indonesia ini.
Manusia wajib untuk beribadah kepada tuhan dalam wilayah Negara dimana mereka hidup.

C. Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi


Reformasi adalah menata kehidupan bangsa dan Negara dalam suatu sistem
Negara di bawah nilai-nilai Pancasila, bukan menghancurkan dan membubarkan bangsa dan
Negara Indonesia.
1. Gerakan reformasi
Disebabkan oleh krisis berkepanjangan, serta praktek KKN
a. Gerakan reformasi dan ideology Pancasila
Syarat gerakan reformasi :
i. Dilakukan karena adanya suatu penyimpangan.
ii. Harus dengan suatu cita-cita yang jelas
iii. Dilakukan dengan berdasar suatu kerangka struktural tertentu.
iv. Dilakukan kearah dan keadaan yang lebih baik.
v. Dilakukan dengan suatu dasar moral dan etika sebagai manusia yang
berketuhanan yang Maha Esa, serta terjaminnya persatuann dan kesatuan bangsa.
b. Pancasila sebagai dasar cita cita reformasi
Dapat diuraikan sebagai berikut :
10
i. Reformasi yang sesuai sila pertama yaitu gerakan kearah perubahan harus mengarah
kepada suatu kondisi yang lebih baik bagi kehidupan manusia sebagai makhluk tuhan.
ii. Berdasarkan sila kedua, reformasi harus dilakukan dengan dasar-dasar nilai manusia yang
bermartabat.
iii. Berdasarkan sila ketiga, reformasi harus berdasarkan nilai persatuan, harus menjamin tetap
tegaknya NKRI
iv. Jiwa reformasi harus berakar pada asas kerakyatan
v. Visi reformasi harus jelas, yaitu terwujudya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

2. Pancasila sebagai paradigma reformasi hukum


Dapat diuraikan sebgai berikut :
1) Pancasila sebagi sumber nilai perubahan hukum
Reformasi hukum dewasa ini selain Pancasila sebagai paradigma pembaruan hukumnya, juga
diambilkan dari sumber norma dan sumber nilai, selama hal tersebut tidak bertentangan
dengan nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila.
2) Dasar yuridis reformasi hukum
Dasar yuridisnya adalah : Tap no.XX/MPRS/1966, yang menyatakan bahwa Pancasila
sebagai sumber hukum di Indonesia, yang berarti sebagai sumber produk serta proses
penegakan hukum di Indonesia.
3) Pancasila sebagai paradigma reformasi pelaksanaan hukum
Pelaksanaan hukum harus berdasarkan pada suatu nilai sebagai landasan operasionalnya.
Reformasi pada dasarnya untuk mengembalikan hakikat dan fungsi Negara pada tujuan
semula yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia.

3. Pancasila sebagai paradigma reformasi politik


Prinsip demokrasi dalam pancasila adalah bahwa kedaulatan tertinggi ada di
tangan rakyat. Rakyat adalah asal mula kekuasaan Negara, oleh karena itu paradigma ini
harus menjadi dasar dalam reformasi politik.
1) Reformasi atas sistem politik
Ditandai dengan adanya :
 Perubahan susunan keanggotaan MPR
 Perubahan susunan kenggotaan DPR,DPRD I, DPRD II.
 Reformasi partai politik
2) Reformasi atas kehidupan politik

11
Reformasi kehidupan politik juga dilakukan dengan meletakan cita-cita kehidupan
kenegaraan dan kebangsaan dalam suatu kesatuan waktu yaitu nilai masa lalu, masa kini dan
kehidupan masa datang.

4. Pancasila sebagai paradigma reformasi ekonomi


Langkah yang strategis dalam upaya melakukan reformasi yang berbasis pada
ekonomi kerakyatan yang berdasarkan nilai-nilai pancasila adalah sebagai berikut :

1) Keamanan pangan dan mengembalian kepercayaan, yaitu dilakukan dengan program“social


safety net” yang popular dengan program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Sementara untuk
mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah, maka pemerintah harus secara
konsisten menghapuskan KKN, serta mengadili bagi oknum pemerintah masa orde baru yang
melakukan pelanggaran. Hal ini akan memberikan kepercayaan dan kepastian usaha.
2) Program rehabilitasi dan pemulihan ekonomi. Upaya ini dilakukan dengan menciptakan
kondisi kepastian usaha. dan
3) Transformasi struktur, yaitu guna memperkuat ekonomi rakyat maka perlu diciptakan sistem
untuk mendorong percepatan perubahan structural.

D. Aktualisasi Pancasila
Aktualisasi pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu aktualisasi objektif
dan aktualisasi subjektif.
1. Aktualisasi Pancasila Objektif
Aktualisasi pancasila objektif yaitu aktualisasi pancasila dalam berbagai bidang
kehidupan kenegaraan yang meliputi kelembagaan Negara antara lain : legislatif, eksekutif,
maupun yudikatif. Selain itu juga meliputi bidang-bidang aktualisasi lainnya seperti politik,
ekonomi, hukum terutama dalam penjabaran ke dalam undang-undang, GBHN, pertahanan
keamanan, pendidikan maupun bidang kenegaraan lainnya.
2. Aktualisasi Pancasila Subjektif
Aktualisasi pancasila subjektif adalah aktualisasi pancasila pada setiap individu
terutama dalam aspek moral dalam kaitannya dengan hidup Negara dan masyarakat.
Aktualisasi yang subjektif tersebut tidak terkecuali baik warga Negara biasa, aparat
penyelenggara Negara, penguasa Negara, terutama kalangan elit politik dalam kegiatan
politik perlu mawas diri agar memiliki moral ketuhanan dan kemanusiaan sebagaimana
terkandung dalam pancasila.

12
E. Tridharma Perguruan Tinggi
Pendidikan tinggi sebagai institusi dalam masyarakat bukanlah merupakan menara
gading yang jauh dari kepentingan masyarakat melainkan senantiasa mengembangkan dan
mengabdi kepada masyarakat. Menurut PP No. 60 Tahun 1999, perguruan tinggi memiliki
tiga tugas pokok yang disebut Tridharma Perguruan Tinggi, yang meliputi :
1. Pendidikan tinggi
Lembaga pendidikan tinggi memiliki tugas melaksanakan pendidikan untuk
menyiapkan, membentuk dan menghasilkan sumber daya yang berkualitas. Tugas pendidikan
tinggi adalah :
1) Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan
akademik dan atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau
memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
2) Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta
mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan
memperkaya kebudayaan nasional. Oleh karena itu pendidikan tinggi haruslah menghasilkan
ilmuwan, intelektual serta pakar yang bermoral ketuhan yang mengabdi pada kemanusiaan.

2. Penelitian
Penelitian adalah suatu kegiatan telaah yang taat kaidah, bersifat objektif dalam
upaya untuk menemukan kebenaran dan atau menyelesaikan masalah dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, dan kesenian. Dalam suatu kegiatan penelitian seluruh unsur dalam
penelitian senantiasa mendasarkan pada suatu paradigma tertentu, baik permasalahan,
hipotesis, landasan teori maupun metode yang dikembangkannya. Intelektual yang
melakukan penelitian haruslah bermoral Ketuhanan dan kemanusiaan.

3. Pengabdian kepada masyarakat


Pasal 3 ayat (1) PP.60 Th. 1999 bahwa yang dimaksud dengan pengabdian kepada
masyarakat adalah suatu kegiatan yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dalam upaya
memberikan sumbangan demi kemajuan masyarakat. Realisasi pengabdian kepada
masyarakat dengan sendirinya disesuaikan dengan ciri khas, sifat serta karakteristik bidang
ilmu yang dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan.

F. Budaya Akademik
Warga Negara dari suatu perguruan tinggi adalah insan-insan yang memiliki
wawasan dan integritas ilmiah. Oleh karena itu masyarakat akademik harus senantiasa

13
mengembangkan budaya ilmiah yang merupakan esensi pokok dari aktivitas perguruan
tinggi. Terdapat sejumlah ciri masyarakat ilmiah sebagai budaya akademik sebagai berikut:
1) Kritis,
2) Kreatif,
3) Objektif,
4) Analitis,
5) Konstruktif,
6) Dinamis,
7) Dialogis,
8) Menerima kritik,
9) Menghargai prestasi ilmiah/akademik,
10) Bebas dari prasangka,
11) Menghargai waktu,
12) Memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah,
13) Berorientasi kemasa depan,
14) kesejawatan/kemitraan.

G. Kampus Sebagai Moral Force Pengembangan Hukum dan HAM


Sikap masyarakat kampus tidak boleh tercemar oleh kepentingan kepentigan
polotik penguasa sehingga benar-benar luhur dan mulia, dasar pijakan kebenaran masyarakat
kampus adalah kebenaran yang bersumber pada hati nurani serta sikap moral yang luhur yang
bersumber pada Ketuhanan dan kemanusiaan.
Dalam penegakan HAM mahasiswa sebagai kekuatan moral harus bersifat objektif
dan benar benar berdasarkan kebenaran moral demi harkat dan martabat manusia.

14
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1) Pancasila menjadi dasar atau paradigma kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara di Indonesia.
2) Setiap perubahan yang dilakukan di NKRI harus sesuai dengan nilai nilai yang
terkandung dalam sila sila Pancasila.
3) Mahasiswa sebagai manusia yang terpelajar harus terlepas dari intervensi politik
penguasa, dan harus bertindak sesuai dengan hati nurani yang selaras dengan nilai-nilai
Pancasila.

B. Saran
Berdasarkan hasil diskusi yang telah disimpulkan diatas, dalam upaya
meningkatkan mutu pendidikan perlu dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1) Kita sebagai warga Negara Indonesia harus turut ikut serta dalam pembangunan Negara
Republik Indonesia ini agar tercipta kedamaian yang sesuai dengan semboyan kita dari dulu
yaitu Bhineka Tunggal Ika.
2) Diharapkan kepada mahasiswa/i agar dapat mengetahui hakikat Pancasila sebagai
paradigma kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3) Paradigma pembangunan nasional mengandung suatu konsekuensi bahwa dalam segala
aspek pembagunan nasional kita harus mendasarkan pada hakikat nilai-nilai sila-sila
Pancasila.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. http://anakmudaberbagi.blogspot.co.id/2013/06/makalah-pancasila-sebagai-
paradigma.html
2. https://lppkb.wordpress.com/2011/12/28/buku-pancasila/
3. Kaelan, 2010, Pendidkan Pancasila, Paradigma Offset, Yogyakarta.
4. Undang Undang Dasar Republik Indonesia dan perubahannya
5. Soekarno, Di Bawah Bendera Refolusi
6. Pembelajaran Tata Negara SMA

16
SOAL-SOAL
1. Siapa secara terminologis tokoh yang mengembangkan istilah paradigma sebagai ilmu
pengetahuan terutama dalam kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan ..
a. Ir. Soekarno
b. Moh hatta
c. Thomas S. Khun
d. Jokowi
e. Bj habibie
2. Dibawah ini yang bukan merupakan Syarat gerakan reformasi adalah...
a. Dilakukan karena adanya suatu penyimpangan.
b. Harus dengan suatu cita-cita yang jelas
c. Dilakukan dengan berdasar suatu kerangka struktural tertentu
d. Dilakukan karena danya kepentingan pribadi
e. Dilakukan kearah dan keadaan yang lebih baik
3. Isi dari Dasar yuridisnya Tap no.XX/MPRS/1966 adalah..
a. Pancasilah sebagai sumber hukum di indonesia
b. Indonesia adalah negara hukum
c. Indonesia adalah negara kesatuan
d. Kemerdekaan indonesia
e. Ideologi bangsa
4. Prinsip demokrasi dalam pancasila adalah bahwa kedaulatan tertinggi ada di tangan...
a. Presiden
b. MPR
c. DPR
d. Rakyat
e. Bupati
5. Alkulturasi dalam pancsila dapat dibedakan dalam due macam yaitu...
a. Objektif dan subjektif
b. Primer dan sekunder
c. Individu dan kelompok
d. Primer dan tersier
e. Objektid dan sekunder
6. aktualisasi pancasila dalam berbagai bidang kehidupan kenegaraan yang meliputi
kelembagaan Negara, merupakan pengertian dari alkulturasi..
a. primer
b. sekunder
c. objektif
d. subjektif
e. kelompok
7. perguruan tinggi memiliki tiga tugas pokok yang disebut Tridharma Perguruan
Tinggi. Di bawah ini yang salah satu isi dari tridharma perguruan tinggi adalah...
a. pengabdian terhadap masyarakat
b. kebersamaan masyarat
c. moral
d. agama
e. etika

17
8. Terdapat sejumlah ciri masyarakat ilmiah sebagai budaya akademik sebagai berikut,
kecuali...
a. Kritis
b. Kreatif
c. Dialogis
d. Menerima kritik
e. Distributif
9. mengimplementasikan ilmu pengetahuan, mencipta, perimbangan antara rasional
dengan irrasional, antara akal, rasa dan kehendak, merupakan maksud dari pancasila
sila ke...
a. Sila ketuhanan yang Maha Esa
b. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
c. Sila Persatuan Indonesia
d. Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Kikmah dalam Permusyawaratan/
Perwakilan
e. Sila Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
10. Kedudukan pancasila sebagai paradigma pembangunan nasional harus memperhatikan
konsep berikut ini, kecuali...
a. Pancasila harus menjadi kerangka kognitif dalam identifikasi diri sebagai
bangsa
b. Pancasila sebagai landasan pembangunan nasional
c. Pancasila merupakan arah pembangunan nasional
d. Pancasila sebagai moral pembangunan
e. Pancasila sebagai dasar pembangunan

18